Jumat, 01 April 2011

Pajak atas Pertamax dan Pertamax Plus

Bahan Bakar Minyak merupakan hal penting dalam perekonomian suatu negara. Harga minyak mentah dunia yang terus melonjak membuat banyak negara di dunia pusing tujuh keliling mengatur harga di dalam negeri, sebab bila dibiarkan bebas mengikuti harga dunia, maka harga BBM akan tidak stabil, dan tentu akan berdampak pada komoditas penting lainnya. Untuk itulah banyak negara yang menetapkan BBM subsidi dan BBM nonsubsidi, seperti yang diterapkan di Indonesia. Kekurangannya tentu adalah kas negara harus mampu menutupi beban subsidi BBM tersebut.

Sementara itu, harga BBM nonsubsidi tetap dibiarkan mengikuti harga minyak mentah di pasar dunia. Komponen yang membentuk harga BBM nonsubsidi kasarnya terdiri dari tiga komponen utama, yaitu: harga minyak mentah + margin industri + pajak bahan bakar. Pajak ini bervariasi, dan UK yang paling besar memungut pajak BBM ini. (Lihat gambar dibawah).


Di Indonesia, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dapat dipungut oleh daerah dengan tarif mulai 0% hingga maksimum 10%. Selain itu, masih terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai yang dikenakan pada BBM nonsubsidi, yatiu Pertamax dan Pertamax Plus sebesar 10%.


Pada 16 Maret lalu, PT Pertamina mengumumkan telah menaikkan harga Pertamax rata-rata Rp600 per literHarga bensin beroktan 92 itu naik setelah minyak dunia melambung jauh melewati US$100 per barel.Di Jakarta dan sekitarnya, harga Pertamax naik dari Rp8.100 menjadi Rp8.700 per liter. Sedangkan harga Pertamax Plus juga naik Rp600 menjadi Rp9.150 per liter.Harga Pertamax terendah terjadi Jakarta, sedangkan harga tertinggi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Harga Pertamax di kabupaten itu mencapai Rp11.050 per liter. Terakhir, Mulai hari ini, Jumat (1/4/2011) PT Pertamina (Persero) menurunkan harga pertamax sebesar Rp100 per liter. Dengan demikian, harga pertamax menjadi Rp8.600 per liter dari harga sebelumnya yang sebesar Rp8.700 per liter.

PT Pertamina telah meminta kepada pemerintah untuk menghapuskan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk pertamax dan pertamax plus, sehingga harganya bisa ditekan lebih murah. Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan mengatakan, mahalnya harga pertamax yang mencapai Rp 8.700/liter bakal menyebabkan munculnya kecenderungan konsumen kembali beralih ke premium, sementara kuota premium yang disediakan pemerintah diperkirakan tidak akan mencukupi bila peralihan itu terjadi.

Pengamat ekonomi Ahmad Erani Yustika mengatakan Pemerintah harus mengkaji penghapusan pajak dalam komponen bahan bakar agar perbedaan harga tersebut tidak terlalu jauh, sehingga masyarakat juga tetap bisa menggunakan pertamax dan bukan malah beralih kepada premium. “Harus segera dihitung. Jika kebanyakan masyarakat beralih ke premium, kira-kira seberapa besar lagi tambahan subsidi pada APBN yang akan dikeluarkan. Sebaliknya, jika PPn pertamax dihapus, berapa pendapatan negara dari pajak BBM tersebut yang akan hilang,” jelasnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) menilai, semakin besar perbedaan harga antara premium dengan pertamax maka potensi tekanan inflasi akan semakin besar. “Inflasi itu diukur dari gap antara perbedaaan premium dengan pertamax. Semakin besar perbedaannya, tentu orang akan beralih dari pertamax dan dampak inflasinya besar,” ungkap Kepala BPS Rusman Heriawan. Namun, untuk besaran potensi inflasi yang akan ditimbulkan, BPS belum melakukan perhitungan secara tepat. “Kita belum tahu seberapa jauh gap antara premium dan pertamax. Kalau pertamax lebih besar dari harga sekarang, itu akan menimbulkan inflasi besar,” kata Rusman.

Di lain pihak, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang PS Brojonegoro mengakui akan adanya potential lost jika memang pajak pertamax jadi dibebaskan.
Bambang menjelaskan, pihaknya membandingkan opsi mana yang lebih menguntungkan antara menghapuskan pajak tersebut dengan tetap mempertahankan kebijakan tersebut. Pasalnya jika pertamax turun maka pemakainya akan meningkat.
Bambang menyampaikan, harus ada benchmark agar tidak terjadi moral hazard jika memang pajak pertamax dibebaskan di pasaran.

Sumber:
http://www.indopos.co.id/index.php/component/content/article/66-indopos/8756-hapus-pajak-pertamax-cegah-premium-langka.html

http://ekonomi-migas.blogspot.com/2007/05/pajak-bbm.html

Senin, 28 Maret 2011

The Omen vs Joshua

The Omen (1976) dan Joshua (2007) adalah dua film yang sama-sama mengisahkan keberadaan seorang anak yang dibesarkan dalam sebuah keluarga dengan sifat dan perilaku yang aneh, eksentrik, bahkan jahat. Kedua film ini memang memiliki dua perbedaan mendasar. The Omen yang merupakan film trilogi produksi Twentieth Century-Fox berpangkal pada kisah dan kepercayaan bernuansa religius (especially Christianity) dan satanic, sedangkan Joshua, film produksi Fox Searchlight Pictures berfokus pada arena psychological thriller. Menurut saya, kedua film ini merupakan film yang sangat menarik ditonton, bagi pecinta thriller tentunya. Suguhan The Omen yang rumit (mungkin kita akan sering mengernyitkan kening karena ada beberapa kisah Kristen dan satanic di dalamnya yang tidak kita ketahui) membawa penonton mengikuti kejanggalan-kejanggalan yang ada pada Damien, si anak iblis dengan alur perlahan dan menegangkan. Sementara Joshua yang berplot relatif sederhana menyajikan konflik dengan cepat dan sistematis. IMDb dan Rotten Tomatoes masing-masing memberi The Omen rate 7.6/10 dan 82/100. Sedangkan Joshua diberi rate 5.9/10 dan 63/100.

Saya sendiri pertama kali menyaksikan The Omen di sebuah stasiun TV ketika saya masih kelas 4 SD. Saat itu tentu saya tidak mengerti benar maksud dan alur ceritanya, ditambah ada beberapa hal berbau agama yang tak saya paham. Meskipun begitu, film ini terus melekat di benak saya sebagai film yang paling mengerikan yang pernah saya tonton, bahkan melebihi Jurassic Park (1993). Well, secara keseluruhan, saya menyukai kedua film ini, sebab bagi saya menarik melihat anak-anak yang seharusnya masih polos ternyata mereka bisa juga memiliki sifat atau karakter yang agak "ekstrem". Dalam Joshua misalnya, kita bisa melihat bagaimana reaksi seorang anak kecil bila ia merasa tak ada orang yang mempedulikannya, ternyata bisa berbuah kebencian mendalam. Berikut cerita singkat kedua film tersebut (note: mengandung spoiler bagi yang belum menontonnya)

Alur kisah trilogi The Omen menceritakan jalan hidup Damien Thorn (Stephen Harvey) yang merupakan keturunan setan dan pengikut antikristus dari masa kecil, remaja, hingga dewasa. Damien adalah anak angkat Robert Thorn (Gregory Peck), seorang duta besar Amerika untuk Italia dan istrinya Katherine (Lee Remick). Katherine sendiri tidak mengetahui bahwa Damien bukanlah anak kandungnya, sebab setelah melahirkan, ternyata sang bayi langsung meninggal (stillbirth), tetapi kemudian atas tawaran seorang pendeta rumah sakit (Tommy Duggan), Robert mengadopsi bayi laki-laki yatim piatu yang lahir pada hari itu, 6 Juni dan jam yang sama dengan kelahiran anak kandungnya, pukul 6 pagi. Robert pun memutuskan untuk tak memberitahu Katherine akan tindakannya ini.

Ketika Robert ditugaskan untuk menjadi dubes di London, ia pun memboyong Damien dan Katherine bersamanya dan tinggal di sebuah mansion. Kehidupan berjalan normal hingga Damien merayakan ulang tahunnya yang kelima. Dalam pesta ulang tahun tersebut, pengasuh Damien (Holly Palance) tewas gantung diri di depan semua tamu undangan yang hadir. Nyonya Baylock (Billie Whitelaw) kemudian menjadi pengasuh baru di keluarga Thorn. Seorang pendeta, Father Brennan (Patrick Troughton) melihat adanya keanehan dari Nyonya Baylock, dan memperingatkan Robert bahwa pengasuh barunya berbahaya dan Damien adalah keturunan setan dan pengikut antikristus. Tak hanya itu, sang pendeta yang melihat kehamilan kedua Katherine juga memperingatkan bahwa setan tak akan membiarkan Katherine melahirkan anak keduanya. Tentu saja Robert sebagai ayah Damien tak memercayai ucapan pendeta itu. Tak lama setelah itu, Father Brennan tewas mengenaskan, terhunus logam tajam di puncak menara gereja. Surprisingly, apa yang dikatakan pendeta tersebut benar. Katherine terjatuh setelah didorong Damien dari lantai dua masion dan ia keguguran. Memang, di sepanjang film pertama The Omen, Damien belum menyadari bahwa ia adalah seorang keturunan iblis dan antikristus, sehingga wajar bila Robert tak menaruh curiga apapun kepada Damien.



Namun bagi Keith Jennings (David Warner), seorang fotografer yang mengikuti jejak kasus bunuh diri pengasuh pertama keluarga Thorn dan kematian Father Brennan, tewasnya kedua orang tersebut adalah hal yang janggal, sebab dalam foto-foto jasad yang ia rekam, terdapat banyak bayangan-bayangan aneh. Sementara itu, investigasinya menunjukkan Father Brennan memiliki tanda lahir berupa angka 666 di paha kirinya. Jennings pun kemudian membeberkan semua fakta ini pada Robert. Keduanya sangat bingung, terutama Robert yang mulai frustrasi. Mereka pun memutuskan pergi ke Italia, tempat Damien dilahirkan, untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun apa yang mereka temukan? Rumah sakit tersebut telah terbakar habis lima tahun lalu bersama seluruh catatan kelahiran yang disimpan. Beruntung, mereka masih dapat bertemu pendeta rumah sakit yang dulu menawarkan Robert untuk mengadopsi Damien. Pendeta itu memberitahu siapa sebenarnya ibu kandung Damien yang ternyata telah meninggal dan lokasi pemakamannya. Apa yang ditemukan Robert dan Jennings cukup mengejutkan, ternyata ibu Damien bukanlah manusia, melainkan seekor serigala. Sementara itu, Katherine yang terbaring di rumah sakit segera dikabari oleh Robert tentang hal ini dan meminta untuk segera menyusulnya ke Italia. Namun malang, ia didorong oleh Nyonya Baylock dari jendela rumah sakit hingga tewas. Robert yang mendengar berita kematian Katherine merasa hancur dan putus asa.

Meski begitu, Robert dan Jennings tetap melanjutkan misi mereka menyelesaikan masalah Damien. Kali ini mereka pergi ke Israel menemui Carl Bugenhagen (Leo McKern), seorang arkeolog yang konon mengetahui cara melawan antikristus. Bugenhagen menyarankan Robert untuk membunuh Damien dengan tujuh belati (daggers) Megiddo di tanah suci. Robert pun menentang keras saran tersebut dan melempar ketujuh belati Megiddo. Jennings bermaksud mengambil belati-belati tersebut dan meyakinkan Robert bahwa inilah satu-satunya jalan untuk menyingkirkan Damien, tapi kemalangan juga menimpa Jennings. Sebuah panel kaca jatuh dan membelah kepala Jennings. Robert merasa sangat terpukul. Ia segera pulang ke London.

Sesampainya di London, ia langsung mencari tanda 666 di kepala Damien, dan ternyata tanda itu ada, dan sekarang ia yakin bahwa Damien adalah antikristus. Tanpa ragu, Robert mengambil gunting dan berniat menusuk Damien. Namun, Nyonya Baylock datang dan melindungi Damien. Setelah bergulat beberapa saat, Robert berhasil menusuk Nyonya Baylock dengan sebuah pisau. Robert segera membawa Damien ke gereja terdekat dan berniat membunuhnya. Sayangnya, Robert membawa mobil di atas kecepatan hingga ia diikuti oleh polisi. Sesampainya di gereja, ketika polisi yang mengikutinya mengetahui bahwa Robert ingin membunuh anaknya sendiri, ia langsung ditembak dan tewas di tempat.

Film kedua The Omen, Damien: Omen II (1978) dibuka dengan munculnya kembali Bugenhagen yang berniat melanjutkan misi untuk menyingkirkan Damien. Ia meminta rekannya Michael Morgan (Ian Hendry) untuk mengirimkan kotak berisi tujuh belati Megiddo ke London. Meski telah dijelaskan bahwa Damien adalah seorang antikristus, namun Morgan tetap tak percaya dan akhirnya Bugenhagen mengajaknya ke Tembok Yigael, untuk menunjukkan lukisan para antikristus, termasuk lukisan wajah Damien. Setelah Morgan terkejut melihat lukisan itu dan memercayai kisah Bugenhagen, mereka berdua tewas terkubur hidup-hidup di terowongan menuju Tembok Yigael yang runtuh secara tiba-tiba.

Dalam Damien: Omen II, dikisahkan bahwa Damien yang kini berusia 12 tahun (Jonathan Scott-Taylor) diasuh oleh saudara Robert, (pamannya) Richard Thorn (William Holden), seorang pebisnis yang cukup terkemuka. Bersama dengan paman serta istrinya, Ann Thorn (Lee Grant) dan anak mereka Mark Thorn (Lucas Donat). Damien hidup cukup tenang. Mark dan Damien pun masuk akademi militer. Di akademi militer inilah ia bertemu Sergeant Neff (Lance Henriksen) komandannya yang mengetahui jati diri Damien sebagai antikristus. Sgt. Neff menunjukkan pada Damien kisah serigala yang merupakan antikristus di dalam Book of Revelation dan menemukan tanda 666 di kepala Damien. Damien pun kini mengerti siapa dirinya dan ia mengerti bahwa ia harus menyebarkan ajaran atikristus. Ia pun kemudian meninggalkan akademi militer. Kini, ia tak ragu menghabisi orang-orang yang berniat menghalangi niatnya tersebut. Mulai dari bibi Richard, Marion (Sylvia Sidney), teman Richard yang seorang jurnalis Joan Hart (Elizabeth Shephard), bahkan sepupunya Mark, yang selama ini telah menjadi teman dekatnya tewas dibunuh Damien dengan berbagai cara.



Selain itu, dalam karier bisnisnya, Richard mulai mengalami keanehan. Satu persatu pemilik tanah yang menolak penjualan tanah kepada perusahaan Richard (untuk dijadikan lokasi proyek agrikultur) tewas secara misterius. Rekan kerja Richard, David Pasarian mencoba memberitahu Richard beberapa hal tentang keanehan-keanehan tersebut. Namun, dapat diduga, Pasarian kemudian tewas dalam sebuah ledakan mesin yang berisi bahan kimia.

Di lain tempat, kotak tujuh belati Megiddo ditemukan oleh teman Richard, Dr. Charles Warren (Nicholas Pryor). Kotak itu juga berisi surat yang menjelaskan bahwa Damien adalah antikristus. Charles sedera menunjukkan kotak tersebut kepada Richard, namun seperti Robert dulu, Richard tak memercayai bahwa Damien adalah seroang antikristus. Setelah sempat berselisih dengan Charles, Richard akhirnya mau memenuhi undangan Charles pergi ke Tembok Yigael. Namun naas, kargo yang mereka tumpangi tertabrak sebuah lokomotif tanpa pengemudi. Richard sempat menghindar, namun Charles tewas seketika. Ann yang mengetahui hal ini merasa sangat ketakutan, terlebih setelah menyadari bahwa kematian anak mereka Mark adalah karena Damien. Ann membujuk Richard untuk segera membunuh Damien. Lagi-lagi, Richard tidak mau melakukannya, dan mereka pun bersitegang hingga akhirnya Ann menusuk Richard dengan belati Megiddo. Tanpa diduga, Damien mendengar percekcokan antara Ann dan Richard dan sangat marah dengan Ann yang bernafsu ingin membunuhnya. Damien mengutuk Ann hingga ia terbakar hidup-hidup.

Kisah berlanjut di film ketiga, The Final Conflict (1981) yang mengisahkan Damien Thorn dewasa (Sam Neill). Damien yang kini mewarisi kerajaan bisnis Richard tampil sebagai salah satu tokoh berpengaruh secara sosial. Dalam usahanya menyebarkan antikristus, ia memerintahkan semua anak laki-laki yang lahir pada tanggal 24 Maret harus dibunuh, karena ia yakin bahwa salah satu di antara anak-anak tersebut adalah Kristus, sebab bila Kristus dilahirkan kembali di dunia, maka kekuatannya akan berkurang. Namun, usahanya itu bukan tanpa aral, sebab ada tujuh pendeta yang selalu mengincar Damien, di mana masing-masing pendeta tersebut memegang belati Megiddo.



Dalam film ketiga ini juga diceritakan Damien jatuh cinta pada seorang jurnalis janda, Kate Reynolds (Lisa Harrow) yang memiliki seorang putra, Peter (Barnaby Holm). Damien dengan tangguh berhasil membunuh satu persatu pendeta yang mengejarnya, kecuali Father DeCarlo (Rossano Brazzi). Akhirnya, Damien "bertempur" dengan DeCarlo, dan dengan dibantu Kate (Kate-lah yang berhasil menusuk Damien), Damien akhirnya mati. Kristus digambarkan hadir menyerupai cahaya di langit dan dunia kembali damai. It's 5 out of 5 stars for me.

 



Berbeda dengan The Omen, Joshua merupakan film thriller psikologis yang berkisah tentang Joshua Cairn (Jakob Kogan), seorang anak aneh yang ingin menyingkirkan semua keluarganya, termasuk ayah dan ibunya yang sebenarnya sangat mencintai dirinya. Ya memang, harus diakui kasih sayang yang diberikan orang tuanya tidak terlalu cukup hingga Joshua tumbuh menjadi bocah yang selalu merasa kesepian. Ayahnya, Brad Cairn (Sam Rockwell) adalah seorang broker yang luar biasa sibuk, sementara ibunya Abby Cairn (Vera Farmiga) adalah wanita Yahudi mantan pecandu narkoba. Keterasingan Joshua bertambah ketika anak kedua Brad dan Abby, Lily lahir. Perhatian seluruh keluarga teralihkan pada si bayi mungil Lily. Meskipun begitu, neneknya Hazel (Celia Weston) dan pamannya (adik Abby) Ned Davidoff (Dallas Roberts) sangat menyayangi Joshua. Hazel dan Ned sering mengajak Joshua jalan-jalan dan membelikannya hadiah.

Konflik dimulai ketika kehadiran Lily membuat semua orang hampir tidak memperhatikan Joshua. Joshua selalu menarik perhatian dengan berbagai cara, mulai dari muntah tiba-tiba, bermain piano dengan kacau ketika resital sekolah dan kemudian pingsan, atau dengan tiba-tiba memutuskan untuk menjadi seorang Kristen (Brad dan Abby yang berbeda keyakinan menganggap agama adalah pilihan bebas anak-anak mereka ketika dewasa nanti). Satu pertanyaan yang sering diajukan Joshua pada orang tuanya adalah "(Dad/Mam) Do you still love me?" Bahkan Joshua sempat berkata pada Brad bahwa ia tak harus mencintainya sebagai anak. Tentu Brad kebingungan dengan pertanyaan ini, dan menyatakan bahwa Joshua tetaplah anaknya dan tak mungkin ia tak menyayangi Joshua.



Kehidupan keluarga Cairn menjadi panas ketika tanpa sebab, Lily terus menerus menangis setiap hari, terutama di malam hari yang membuat psikologis Abby yang sedang belajar menjauhkan diri dari narkoba terganggu. Belum lagi ada tetangga keluarga Cairn yang sedang merenovasi apartemen lantai atas dengan suara bising. Abby selalu merepotkan Brad yang sibuk untuk pulang secepat mungkin.

Tingkah laku Joshua juga semakin aneh. Ia secara sungguh-sungguh mempraktikkan bagaimana jasad raja-raja Mesir dibalsem untuk menjadi mumi persis seperti yang diceritakan guru sejarahnya di sekolah. Ia melakukan eksperimen pembalseman tersebut dengan boneka, hamster peliharaannya, bahkan dengan semua binatang peliharaan kelasnya. Ia membunuh semua binatang itu dan menyiksanya dengan mengeluarkan isi perut serta mematahkan tulang hidung binatang-binatang itu. Ia semakin menjadi pendiam, kesenangannya (selain belajar tentunya, karena Joshua digambarkan sebagai bocah jenius, bahkan kepintarannya membuat ia seakan berusia beberapa tahun lebih dewasa) hanya memainkan lagu-lagu klasik dengan piano kasayangannya.

Suatu hari, Brad harus lembur di kantor dan Abby terpaksa harus menghadapi Lily yang terus menerus menangis. Setelah berhasil menidurkan Lily, Joshua tiba-tiba datang (di sepanjang film, Joshua sering muncul tiba-tiba mengagetkan karakter lainnya) dan mengungkapkan rasa sayangnya yang mendalam pada Abby, bahkan mengajak bermain petak umpet. Joshua segera bersembunyi ketika ibunya mulai menghitung. Abby mulai mencari ke setiap sudut apartemennya namun Joshua tak kunjung ditemukan. Abby yang mulai frustrasi kemudian mendapati pintu kamar Lily yang tadi ditutupnya rapat-rapat kini terbuka. Ketika ia melihat ke boks bayi, Lily tidak ada di tempat. Abby langsung panik dan menelepon Brad tentang hilangnya Lily. Dengan emosi, Abby juga terus berteriak memanggil Joshua yang belum juga muncul. Abby kemudian mencari Joshua dan Lily ke lantai atas apartemen yang sedang direnovasi. Tempat itu begitu gelap, Abby kemudian pingsan. Brad segera pulang dan mendapati Abby yang sedang pingsan. Lalu ke mana Lily dan Joshua? Ternyata mereka baik-baik saja di apartemen. Bahkan, Joshua sempat bertanya pada Abby mengapa ia tak mencari dirinya dalam permainan petak umpet tadi. Abby merasa begitu shocked dan tertekan, ia merasa Joshua mempermainkannya, ia pun berteriak-teriak memaki Joshua. Keadaan Abby semakin parah, ia butuh ketenangan, dan Brad serta Ned akhirnya memutuskan untuk membawa Abby ke panti rehabilitasi untuk sementara waktu.

Brad kemudian mengambil cuti untuk mengurus Joshua dan Lily. Ketika ia sedang melihat-lihat rekaman video pribadi koleksinya, ia terkejut menyaksikan bahwa selama ini yang membuat Lily terus menangis adalah Joshua yang mengganggu Lily di malam hari dengan cahaya camcorder. Saat itu Joshua sedang pergi ke museum bersama Hazel dan Lily, dan Brad langsung menyusul mereka. Sesampainya di museum, Brad melihat Joshua yang sedang berusaha menjatuhkan kereta dorong Lily dari atas tangga. Beruntung, Hazel sempat mengejarnya dan Joshua beralasan membawa pergi Lily karena Hazel lama sekali keluar dari kamar mandi. Dengan mata penuh amarah, Brad merebut kereta bayi Lily dari Joshua, dan ketika Brad memeriksa kondisi Lily, Hazel tewas didorong Joshua, namun saksi mata melihat Hazel terpeleset dari tangga. Sejak saat itu, Brad benar-benar curiga terhadap Joshua dan merasa Joshua mengidap suatu kelainan psikis. Ia menceritakan hal ini pada Ned, namun Ned tak memercayainya. Berbagai usaha memeriksa kesehatan jiwa Joshua dilakukan Brad, termasuk mendatangkan seorang psikiater. Namun, Joshua berhasil menipu psikiater itu dengan menunjukkan tanda-tanda penyiksaan orang tua terhadap dirinya. Di akhir cerita, Joshua berhasil membuat Brad mendekam di tahanan dengan memancing emosi Brad di muka umum untuk melakukan tindak kekerasan (pemukulan).

Jujur, saya merasa "tertipu" di awal dan hampir seluruh cerita bahwa film ini memang berkisah tentang Joshua yang tumbuh kekurangan kasih sayang, hingga ia berniat menghabisi keluarganya. Namun, di scene terakhir, saya menyadari bahwa tujuan Joshua menghabisi seluruh keluarganya adalah agar ia bisa hidup dengan paman Ned. Ned adalah orang yang selalu hadir dan menemani Joshua di kala ia merasa susah, sedih, dan kesepian. Ned adalah orang yang paling memahami Joshua. Ned adalah seorang gay. Secara implisit, Joshua juga menunjukkan tanda-tanda feminisme dirinya lewat dandanan flamboyan serta gaya rambut yang tidak biasa untuk laki-laki. Ada satu scene di mana Brad menanyakan ada apa dengan rambut Joshua, tapi Joshua tidak membalas pertanyaannya dan hanya merapikan tatanan rambutnya dengan gaya wanita. So, it's all about gay? Tidak juga, sebab pada dasarnya Joshua tetaplah seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya, terutama kedua orang tuanya. Namun sayang, Brad terlalu sibuk dan Abby masih harus bergulat dengan hasratnya pada pil-pil narkotika. Joshua sebagai seorang anak-anak tentu tidak memahami bagaimana keadaan kedua orang tuanya, yang ia tahu bahwa mereka seakan tak peduli dengan dirinya, dan hanya ada satu orang yang dapat membuat dirinya nyaman, yaitu paman Ned. Sam Rockwell dan Vera Farmiga bermain apik dalam film ini. Saya sangat suka ekspresi Vera Farmiga ketika kehilangan Lily dari boks bayi dan aksi Sam Rockwell ketika menghajar Joshua di taman.

Film Joshua ditutup dengan permainan piano indah Joshua yang menyanyikan lagu tema film ini, The Fly yang diciptakan Dave Matthews. It's 3 out of 5 stars for me.

When I pull the wings off of the fly
The fly never wonders why I did it
When I pull the wings off of the fly
The fly never wonders why I did
You know they didn't ever
Have to love me
No, no, no... 

 







Watch these if you liked:


Director: Jaume Collet-Serra
Stars: Vera Farmiga, Peter Sarsgaard, Isabelle Fuhrman
Genre: Mystery, Thriller
Runtime: 123 minutes

Keganjilan demi keganjilan mulai berdatangan menghampiri keluarga Coleman, dan satu-satunya yang menyadari bahwa Esther terlibat di baliknya hanyalah Kate...

Identity (2003)

Director: James Mangold
Stars: John Cusack, Ray Liotta, Alfred Molina
Genre: Mystery, Thriller
Runtime: 90 minutes

Sabtu, 26 Maret 2011

Mempertanyakan Revolusi Makanan Cepat Saji

Selama ini, makanan cepat saji selalu menjadi “dewa penolong” bagi orang-orang yang sibuk dan tak sempat membuat makanan sendiri atau sekadar menunggu makanan yang dimasak dengan cara konvensinal di rumah makan atau restoran. Makanan cepat saji menurut saya membawa keuntungan di tiga sisi: waktu penyajiannya yang singkat, rasa yang lumayan enak, dan harga yang pas di kantong. Masalahnya, keburukan yang muncul dari makanan cepat saji lebih banyakdari manfaat tersebut.

Saya baru saja menonton Oprah yang disiarkan Metro TV hari ini. Acara tersebut membahas sebuag film documenter berjudul Food Inc. yang mengundang kontroversial di masyarakat Amerika. Kalangan pebisnis makanan cepat saji mengklaim film dokumenter itu berat sebelah dalam menyampaikan informasi mengenai fakta-fakta seputar makanan cepat saji. Dalam film itu diperlihatkan dan dikupas bagaimana industri peternakan Amerika (khususnya ternak ayam) telah berubah drastis dari usaha peternakan yang dijalankan masyarakat Amerika di tahun 1930-an. Banyak ayam-ayam yang tumbuh besar karena suntikan antibiotik dan hormon, sehingga ternak-ternak tersebut terlihat sangat subur dan tentunya menguntungkan secara ekonomis. Meski begitu, tak banyak peternak di Amerika yang mau menceritakan hal ini kepada publik. Terbukti, ketika proses pembuatan film itu berlangsung, hanya ada satu peternak ayam yang bersedia peternakannya diekspos. Sang peternak mengatakan bahwa sebagian besar peternakan Amerika sekarang memang menggunakan cara instan untuk membesarkan ternak-ternak mereka. Ayam-ayam ternak menjadi berukuran sangat besar, bahkan mereka tak mampu berjalan layaknya ayam normal, karena selalu terjatuh akibat tak bisa menopang beban tubuh mereka sendiri.



Talkshow Oprah mengundang Michael Pollan, seorang jurnalis yang telah sukses menulis empat buku bestseller tentang makanan. Ia mengatakan bahwa dengan hadirnya film Food Inc. tersebut seharusnya kita menjadi sadar untuk lebih memikirkan dari mana saja asal makanan yang kita konsumsi setiap hari selama ini? Apakah makanan yang masuk ke dalam tubuh kita adalah benar-benar makanan? Makanan yang layak dikonsumsi? Atau sekadar makanan yang membuat perut kita merasa kenyang saja?



Menurut saya, sebagai makhluk omnivora manusia memang harus sangat berhati-hati terhadap apa yang dimakannya, sebab bila kita mengonsumsi sembarang makanan tentu akan berakibat buruk bagi kesehatan. Kini saatnya untuk mempertimbangkan apakah makanan cepat saji tergolong “real food” – istilah yang dipakai Pollan untuk makanan yang sehat – atau bukan. Menurut Pollan, sekarang adalah ssat yang vtepat untuk beralih dari makanan tak sehat ke makanan sehat. Hal ini dapat dilakukan sedikit demi sedikit. Misalnya, kita menghindari sebisa mungkin makanan olahan yang tak jelas cara pembuatannya. Pollan mengatakan lebih baik memasak makanan sendiri disbanding memakan junk food. Selain itu, kita juga perlu membiasakan diri membeli prodik-produk makanan segar, mentah, atau organik.

Masalahnya, harga produk makanan mentah yang segar atau organik tentu lebih mahal disbanding bila kita langsung membeli makanan olahan. Hal ini tentu menjadikan beban kita semakin besar. Apalagi untuk masyarakat Amerika yang terbiasa mengonsumsi 100 koligram daging dalam setahun per orang, tentu ini kan menjadi pilihan sulit. Pollan menjelaskan bahwa mahalnya harga makanan segar di Amerika dikarenakan subsidi pemerintah telah bergeser dari sebelumya untuk peternak dan petani menjadi untuk pengusaha cepat saji. Setiap tahun, Pollan mengatakan ada US$56 juta dolar untuk pengusaha makanan cepat saji.



Akhirnya, masalah makanan cepat saji yang dibahas Oprah tadi membuat saya mempertanyakan revolusi makanan cepat saji yang ada saat ini. Banyak pengusaha makanan cepat saji yang hanya memikirkan aliran uang yang akan mereka terima dan tidak mempedulikan kesehatan konsumen. Bagi mereka, pengembangan jaringan usaha/bisnis makanan milikinya jauh lebih penting dipikirkan daripada menguirusi “rengekan” konsumen. Mungkin itulah esensi judul film dokumenter Food Inc. Seperti Pollan bilang, Amerika memnag telah sangat sukses merevolusi bisnis kuliner dengan menghadirkan makanan cepat saji dengan memanfaatkan teknologi pengolahan makanan yang dapat menekan biaya produksi dan akhirnya dapat menekan harga jual makanan, namun tentu di balik setiap kelebihan pasti ada kekurangan, yaitu masalah kesehatan makanan cepat saji tersebut.

Kini, pilihan ada di tangan kita semua, apakah akan terus mengonsumsi makanan cepat saji yang murah dan tentu cepat atau memilih untuk beralih ke makanan organik yang lebih sehat, namun lebih mahal? Semoga kita memilih pilihan yang tepat di antara kedua pilihan sulit ini. Ada yang punya komentar?


Senin, 14 Maret 2011

Ramai-ramai “Buang Uang Haram”

Gelombang protes massa yang menyebabkan krisis politik di negara-negara Timur Tengah ternyata membuat beberapa artis kondang merasa bersalah. Apa pasal? Ternyata ada beberapa artis-artis terkenal, khususnya penyanyi yang pernah tampil dalam acara-acara yang diadakan para diktator negara-negara Timur Tengah. Seperti diberitakan Harian Seputar Indonesia 9 Maret 20011, seorang mantan penari klub malam Libya bernama Dafinka Mircheva menguraikan bagaimana kehidupan mewah nan boros Kolonel Khadafi dan anak-anaknya. Mircheva menuturkan secara panjang lebar kepada Daily Mail bagaimana keluarga sang colonel dapat mendatangkan musisi-musisi papan atas dunia semudah membalik telapak tangan. Mircheva yang pernah memiliki hubungan dengan salah satu putra Khadafi, Saadi Khadafi mengatakan bahwa uang tidak menjadi masalah untuk mendatangkan artis-artis tersebut.

Lantas siapa saja yang pernah pentas di negeri pengekspor minyak ini? Miracheva berujar bahwa Saadi pernah mendatangkan grup musik wanita Pussycat Dolls pada acara ulang tahunnya. Pussycat Dolls menerima pembayaran sebesar 500.000 poudsterling atau sekitar 7 miliar rupiah! Pesta ulang tahun Saadi tersebut digelar di sebuah vila mewah begaya Arab di Prancis Selatan yang memang sengaja disewa untuk hajatan tersebut. Tamu-tamu dalam pesta tersebut kemudian disuguhkan hidangan-hidangan mewah dan berkelas seperti sampanye kelas satu, caviar, cokelat, dan cerutu sembari menikmati Pussycat Dolls menembangkan lagu-lagu mereka di tepi kolam renang. PussycatDolls sendiri memang merupakan grup musik yang paling disukai Saadi.


Selain Pussycat Dolls, musisi Kanada Nelly Furtado pun pernah menerima tawaran untuk tampil sebagai pengisi acara yang diadakan keluarga Khadafi di sebuah hotel bintang lima di Italia. Atas penampilannya, Nelly Furtado menerima bayaran sekitar US$ 1 juta (sekitar 9 miliar rupiah). Padahal, dalam acara tersebut Nelly hanya bernyanyi selama 45 menit saja! Ketika kemelut politik TimurTengah menjalar ke Libya, Nelly segera mengakui penampilannya untuk keluarga Khadafi tersebut. Lewat akun twitternya, Nelly menyatakan akan menyumbangkan uang bayaran yang diterimanya.


Pengakuan lain juga dating dari artis-artis lain seperti Usher, Mariah Carey, dan Beyonce Knowles. Tiga penyanyi ini pernah tampil mengisi acara malam tahun baru 2009 lalu di Nikki Beach St. Barts, Karibia. Kali ini, putra Khadafi yang lain sang empunya hajat, yaitu Muttasim Khadafi. Kehidpuan mewah begelimang harta dan kekuasaan memang telah menjadi hal biasa bagi anak-anak Khadafi. Contohnya, Saadi pernah menghabiskan 170 juta poundsterling per tahun hanya untuk kepentingan tersier seperti jet pribadi, hotel bintang lima, supercar, perhiasan, dan pakaian-pakaian mewah. Tampaknya, perkataan Lord Acton yang terkenal, power tends to currupt memang telah mendarah daging dalam keluarga dan pemerintahan Khadafi. Adayang punya komentar?








Minggu, 06 Februari 2011

Ketika Hollywood Hijrah

Sebentar lagi, beberapa hajatan festival film di Prancis akan digelar. Ada dua festival film bergensi yang akan digelar tahun ini. Pertama, France’s Cesar Awards yang akan digelar pada 25 Februari mendatang dan kedua tentu ada Cannes Film Festival. France’s Cesar Awards bisa dibilang sebagai ajang Oscarnya perfilman Prancis, sementara Cannes Film Festival yang tahun ini memasuki gelaran ke 64 merupakan salah satu kiblat pengahrgaan dunia film dunia.

Namun, yang membuat dua ajang penghargaan film tersebut berbeda tahun ini adalah adanya dominasi aktor dan aktris Hollywood yang terlibat sebagai juri. Di jajaran tim penilai France’s Cesar Awards misalnya, bertengger nama Jodie Foster, sementara dalam Cannes Film Festival ada aktor kawakan Robert DeNiro.
DeNiro menjadi orang Amerika ketiga dalam empat tahun terakhir yang memimpin tim juri Cannes Fil Festival setelah pada 2010 sutradara Tim Burton dan aktor Sean Penn pada 2008 menduduki posisi serupa. Panitia penyelenggara Cannes Film Festival mengatakan bahwa alasan dipilihnya DeNiro sebagai ketua tim juri adalah sebagai penghormatan pada aktor 67 tahun tersebut yang dianggap sebagai aktor senior berpengalaman serta partisipasinya sebagai salah satu pemrakarsa Tribeca Film Festival Sepuluh tahun lalu.

Adapun Foster didaulat sebagai juri France’s Cesar Awards karena ia merupakan bintang Amerika yang dibesarkan di Prancis, paham akan budaya Prancis termasuk dunia perfilmannya, dan pernah menjadi membintangi beberapa film Prancis. Film-film tersebut di antaranya adalah Moi, Fleur Bleue, The Blood of Others, serta A Very Long Engagement.

Ya, semoga saja proses penilaian dalam kedua aang festival tersebut berlangsung lancar, objektif, dan tidak “memaksakan” cita rasa original film Prancis ke dalam perspektif Hollywood yang semakin memengaruhi industri perfilman dunia.

Minggu, 14 November 2010

House of Sand and Fog: Jangan Keras Kepala!

Hari Sabtu kemarin, seperti biasa saya menantikan acara World Cinema di Metro TV. Kemarin, giliran film yang dibintangi Jennifer Connelly, House of Sand and Fog (2003) ditayangkan. Film ini menurut saya adalah jenis silent drama yang cerita tragisnya bisa membuat kita merasa sangat iba dengan tokoh-tokohnya (mungkin akan mengundang air mata bagi para wanita. Haha…). Rotten Tomatoes dan IMDb memberi film ini rating masing-masing 7.1/10 dan 7.8/10. Film yang diangkat dari novel laris karya Andre Dubus III ini berhasil dinominasikan untuk 3 gelar Oscar 2004 dalam kategori Best Actor (Ben Kingsley), Best Actress in a Supporting Role (Shohreh Aghdashloo), dan Best Music Original Score (James Horner). Tak heran saya pun semangat sekali ketika film ini ditayangkan di televisi. Film ini membuat saya merenungkan sifat manusia yang seringkali egois dank eras kepala, bahkan sampai merugikan dirinya sendiri dan orang lain.


House of Sand and Fog bercerita tentang Kathy Nicolo (Connelly), seorang wanita muda yang diwariskan sebuah rumah cantik sederhana di tepi laut oleh mendiang ayahnya. Rumah tersebut adalah tempat Kathy dan saudaranya dibesarkan, sebuah rumah hasil kerja keras sang ayah. Setelah ditinggal suaminya yang tak menginginkan kehadiran buah hati dalam penikahan mereka, Kathy mengalami depresi berat, sehingga ia tak memerhatikan urusan-urusan lain, termasuk pajak bisnis yang harus dibayarkannya selama beberapa bulan. Meski kasus tunggakan tersebut telah diselesaikan di pengadilan, namun ternyata rumah tersebut dinyatakan disita dan dilelang. Ia pun terpaksa tinggal di motel sementara waktu.


Massoud Amir Behrani (Ben Kingsley) adalah seorang mantan kolonel berpangkat tinggi yang menjadi imigran dari Iran. Ia, istrinya Nadereh (Shohreh Aghdashloo), dan kedua anaknya Esmail (Jonathan Ahdout) dan Soraya (Navi Rawat) meninggalkan Tanah Airnya karena konflik yang terjadi di sana. Sebagai keluarga imigran, Behrani khawatir akan kondisi perekonomiannya di negeri orang dan hal ini mendorongnya melakukan apapun untuk mempertahankan hidup diri dan keluarganya, termasuk hidup berpindah-pindah demi mendapatkan keuntungan dari penjualan propertinya. Suatu hari, Behrani yang telah mengumpulkan uang hasilnya bekerja sebagai pekerja bangunan melihat pengumuman lelang bungalow yang indah di surat kabar. Setelah melihat lokasinya, ia pun setuju membeli rumah tersebut dari pelelangan yang diselenggarakan pengadilan daerah. Rumah tersebut adalah rumah Kathy Nicolo, yang sedang diperjuangkan untuk direbut kembali. Kathy yang mendapat dorongan semangat dari Lester Burdon, seorang deputi polisi bertipikal simpatik yang ditugaskan menyita rumahnya, mulai bangkit untuk menempuh jalur hukum. Pengacara Connie Walsh (Frances Fisher) pun disewanya, namun cara ini tak menemui hasil karena sikap keras kepala Behrani yang tak ingin menjual kembali rumah tersebut kepada pengadilan daerah kecuali ia dibayar 4 kali lipat dari harga belinya. Berbagai pendekatan lain pun dilakukan Kathy, mulai dari berbicara langsung dengan Behrani, istrinya yang lemah lembut Nadereh, sampai pada ancaman deportasi yang dilancarkan olehnya dan Burdon. Namun semuanya mengalami kegagalan.

Di sini, konflik yang terjadi menggambarkan dilema yang dihadapi oleh masing-masing pihak yang berseteru. Behrani yang selalu diliputi perasaan cemas akan ekonomiya sehingga membuat ia haus akan keuntungan materil dan di sisi lain ada Kathy yang tak rela rumahnya yang penuh kenangan “dirampas”. Kedua tokoh ini sama-sama keras kepala dan egois, mementingkan diri mereka masing-masing.Hingga akhirnya, Kathy yang putus asa mencoba bunuh diri di depan rumah Behrani dan Burdon datang dengan menodongkan sepucuk pistol. Setelkah semalaman dikurung dalam kamar mandi, Behrani dan Burdon sepakat untuk menjual rumah tersebut kembali kepada pengadilan daerah. Namun, setelah sampai di pengadilan, Behrani dan anaknya Esmail berontak dan menyerang balik Burdon. Esmail menodongkan pistol kepada Burdon yang dibekuk Behrani. Situasi menengangkan tak terhindarkan. Para polisi yang leihat kejadian tersebut ikut mengangkat senjata dan akhirnya Esmail tertembak mati.

Setelah Behrani kehilangan anaknya yang dicintai, barulah ia sadar akan keegoisannya, akan keangkuhan dan ketamakannya. Ia pun depresi berat sampai akhirnya meracuni istrinya dan mengakhiri hidupnya dengan “indah” melalui jeratan plastik di ranjang. Sosok Kathy yang mulai merasa putus asa pun menjadi bimbang atas konflik yang dialaminya. Setelah mengenal keluarga Behrani yang memprihatinkan, ia ragu untuk meneruskan usahanya merebut kembali rumahnya. Ketika akhirnya ia mendapati Behrani dan Nadereh meninggal, rasa bersalah tak terhingga pun menghinggapi dirinya, Ia hanya bias berkubang denga derai air matanya, di antara dua tubuh tak bernyawa di sebuah ranjang cantik dalam rumah di tepi pantai. Sementara itu, nasib tragis juga dialami Burdon yang harus dihukum karena usahanya mengintimidasi keluarga Behrani. Kisah cintanya dengan Kathy pun tak pernah berlanjut.

Film ini membuat saya berpikir akan egoisme dan ketamakan manusia. Seringkali, manusia bersikap keras kepala demi kepentingan pribadinya. Anggota DPR yang keras kepala mengadakan studi banding keluar negeri misalnya, membuat hati rakyat tersakiti melihat uang mereka dihambur-hamburkan demi kepentingan mereka semata. Atau KBIH yang tak berizin yang keras kepala meberangkatkan jemaah haji nonkuota demi mengeruk keuntungan dari mereka, tak peduli jemaah tersebut nantinya luntang-lantung di tanah suci. Semuanya menggambarkan manusia yang telah menjadi homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. It's 4 out of 5 stars for me. Ada yang punya komentar?






Watch this if you liked:

Gran Torino (2008)
Director: Clint Eastwood
Stars: Clint Eastwood, Bee Vang, Christopher Carley
Genre: Drama
Runtime: 116 minutes

Good Will Hunting (1997)

Director: Gus Van Sant
Stars: Matt Damon, Robin Williams, Minnie Driver
Genre: Drama
Runtime: 126 minutes

Sebagai seorang yatim piatu yang diangkat oleh ayah ringan tangan, Will tumbuh menjadi pria yang tidak bisa dekat dengan orang lain, termasuk dalam urusan wanita. Absennya kasih sayang dalam kehidupan Will membentuknya menjadi pribadi tertutup, tidak percaya pada rasa cinta dan kasih sayang yang diberikan orang lain, dan tempramental. Namun, di luar semua itu, Will adalah pemuda yang jenius dalam bidang sains...

Kamis, 04 November 2010

Arsitektur Biologis Kontemporer

Beberapa tahun terakhir, isu pemanasan global menjadi masalah kritis yang semakin disadari oleh banyak manusia di muka bumi. Tidak seimbangnya ekosistem alam, gejala cuaca ekstrem yang semin sulit diprediksi, dan bencana alam dalam berbagai skala dan fenomena mulai menjadi pembahasan hangat di setiap negara. Para pemimpin bangsa di berbagai belahan dunia pun berkumpul untuk membahas masalah pemanasan global ini, sebab bumi ini adalah tempat tinggal manusia bersama, sehingga penyelesaiannya pun harus dilakukan bersama-sama. Selain itu, berbagai komunitas dan lembaga swadaya masyarakat yang peduli akan lingkungan menjamur di mana-mana. Mereka membuat gerakan sadar lingkungan.

Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup adalah dengan menciptakan bangunan yang ramah lingkungan, baik dari segi rancang bangun (desain) maupun material bangunannya . Saat ini bukan waktunya untuk berlomba-lomba membuat bangunan pencakar langit, tetapi lebih dari itu, kita juga perlu memikirkan bangunan yang ramah dengan alam lingkungan, sehingga tercipta keseimbangan alam yang harmonis.

Dalam arsitektur dikenal istilah arsitektur biologis, yaitu pengetahuan tentang hubungan integral antara manusia dan lingkungan hidup. Istilah arsitektur biologis diperkenalkan oleh beberapa ahli bangunan, antara lain Prof. Mag.arch, Peter Schmid, Rudolf Doernach dan Ir. Heinz Frick. Sebenarnya, arsitektur biologis bukan merupakan hal yang baru, sebab sejak ribuan tahun yang lalu nenek moyang kita telah menerapkan konsep dasar dari arsitektur biologis ini, yaitu dengan membangun rumah adat (tradisional) menggunakan bahan-bahan yang diambil dari alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan mempertimbangkan rancang bagun yang dapat tahan dengan segala macam ancaman alam, seperti hewan buas dan bencana seperti banjir, longsor, gempa, dan lain-lain. Rumah adat yang berbentuk rumah panggung adalah contoh dari arsitektur biologis masyarakat Indonesia zaman dahulu. Pada peristiwa gempa di Padang tahun lalu, rumah adat ini terbukti lebih kokoh dibanding dengan rumah atau bangunan lain, karena bobotnya yang ringan, terbuat dari bambu dan kayu.

Di era modern seperti sekarang, menggunakan arsitektur biologis bukan tidak mungkin, apalagi di saat kondisi bumi mengalami perubahan drastis yang disebabkan pemanasan global. Namun, tentu kita tidak harus membangun bangunan yang sama persis dengan rumah adat, karena kondisi lingkungan saat ini tidak lagi memungkinkan kita untuk membuatnya. Yang mungkin kita lakukan adalah dengan mencoba membuat rancang bangun rumah yang efisien akan sumber daya (seperti listrik) tanpa mengurangi kenyaman bagi penghuni rumah itu sendiri. Selain itu, pentingnya pendekatan ekologis seperti ramah lingkungan, ikut menjaga kelangsungan ekosistem, menggunakan energi yang efisien, memanfaatan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui secara efisien, menekanan penggunaan sumber daya alam yang dapat diperbarui dengan daur ulang dalam membangun lingkungan akan turut meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Hal ini menjadi konsep arsitektur biologis saat ini menjadi lebih kontemporer.

Para ahli bangunan dan desainer interior telah banyak memberikan saran dalam pembangunan rumah ramah lingkungan, misalnya pendapat Yeang, seorang ahli bangunan Cina yang menerapkan integrasi kondisi ekologi, yang dilalakukan dengan tiga cara, yaitu pertama, integrasi fisik dengan karakter fisik ekologi setempat, meliputi keadaan tanah, topografi, air tanah, vegetasi, iklim dan sebagainya. Kedua, integrasi sistim-sistim dengan proses alam, meliputi: cara penggunaan air, pengolahan dan pembuangan limbah cair, sistimpembuangan dari bangunan dan pelepasan panas dari bangunan dan sebagainya. Ketiga, integrasi penggunaan sumber daya yang mencakup penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan (Yeang, 2006).

Dewasa ini, mulai banyak rimah-rumah yang membuat panel tenaga surya untuk membantu memnuhi kebutuhan listrik di rumah, jadi tidak hanya bergantung pada sumber daya listrik pemerintah yang menggunakan bahan bakar yang tidak terbaharui. Selain itu, penanaman taman di atap (roof garden) dan membuat lubang resapan di halamn rumah juga membantu dalam mengurangi risiko polutan yang terserap dan bencana banjir. Hal yang juga penting untuk dilakukan adalah menggunakan barang-barang kayu (meubel) yang telah bersertifikat, sebagai tanda material pembuat meubel tersebut adalah bukan dari hasil pembalakan liar. Kita pun perlu meningkatkan kesaran masyarakat akan hal ini, sebab di negara-negara maju seperti Amerika, kesadaran untuk memakai bahan bangunan dan perabot yang legal telah digalakkan secara optimal.
Tujuan perancangan arsitektur melalui pendekatan arsitektur adalah upaya ikut menjaga keselarasan bangunan rancangan manusia dengan alam untuk jangka waktu yang panjang. Keselarasan ini tercapai melalui kaitan dan kesatuan antara kondisi alam, waktu, ruang dan kegiatan manusia yang menuntut perkembangan teknologi yang mempertimbangkan nilai-nilai ekologi, dan merupakan suatu upaya yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup.


Referensi
C., Wanda Widigdo dan I Ketut Canadarma. 2008. Pendekatan Ekologi pada Rancangan Arsitektur, sebagai Upaya Mengurangi Pemanasan Global. Makalah PDF diunduh dari http://fportfolio.petra.ac.id/user_files/82008/TEK%201%20Pendekatan%20ekologi%20wanda%20UKP.pdf
Frick, H. dan Tri Hesti Mulyani. 2006. Arsitektur Ekologis. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Sugianto, Agus. 2005. Ilmu Lingkungan: Sarana Menuju Masyarakat Berkelanjutan. Surabaya: Airlangga university Press.