Tampilkan postingan dengan label 1990s. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1990s. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 November 2013

The Man in the Moon: Taste the Bittersweet of Love and Life

"I missed my chance with five, really liked four, truly loved two, regretted breaking up with one, and currently like one... I'm 14.5 years old, single, and my mind and body are exhausted. I don't think I'll ever love again..." Kalimat tersebut merupakan status yang tertulis pada laman akun Weibo, jejaring sosial populer buatan Cina milik seorang remaja. Status tersebut merupakan curahan hati sang remaja tentang hubungannya dengan seorang gadis berusia 12 tahun. Melihat kata-katanya yang begitu frustrasi menghadapi cinta layaknya orang dewasa, status yang diposkan sekitar bulan November 2012 itu langsung menimbulkan kehebohan penduduk internet negeri tirai bambu. Berbagai komentar pedas yang umumnya berasal dari orang dewasa dialamatkan pada remaja si empunya akun. Mereka mencemooh betapa konyolnya perilaku remaja saat ini, betapa terlalu cepat mereka memikirkan cinta di usia yang masih dini. Ya, saat ini Cina sedang menghadapi isu nasional terkait perkembangan anak. Anak-anak generasi Z, generasi yang mengenal teknologi internet dengan segala kecanggihannya sedari awal mereka lahir sekarang tidak ragu lagi mengungkapkan curahan hati mereka tentang cinta melalui internet. Para orang tua yang memiliki anak remaja kini merasa khawatir dan bingung dengan perkembangan sikap dan perilaku anak mereka yang terlalu cepat dewasa. Para orang tua tersebut merasa terganggu dengan keseriusan anak mereka menanggapi sebuah ketertarikan yang seharusnya hanya menjadi cinta monyet. Padahal, pada zaman dahulu cinta monyet merupakan tahapan perkembangan anak yang penting menuju kedewasaan. Orangtua di masa lalu cenderung memahami cinta masa remaja, terutama cinta pertama yang terkenal tak akan pernah bisa dilupakan itu. Mungkin para orangtua di negeri panda dapat belajar bagaimana menghadapi remaja yang sedang mengalami jatuh cinta dari Matthew dan Abigail dalam The Man in the Moon (1991).

Satu lagi kisah coming of age yang sangat indah telah saya tonton. Sejujurnya saya tidak pernah mendengar judul The Man in the Moon ini. Beruntung seorang kerabat dekat memperkenalkan film ini dan dengan baik hati bersedia meminjamkan koleksi DVD miliknya. Saya harus mengucapkan terima kasih padanya karena setelah menonton film ini, saya merasa mendapat kehormatan untuk mendapatkan sensasi dan pengalaman menyaksikan sebuah karya seni sempurna. Penulis naskah, sutradara, pemain, penata gambar, penata suara, dan seluruh kru film ini berhasil menuturkan sebuah cerita luar biasa tentang bagaimana manis dan getirnya kehidupan dilihat dari sudut pandang seorang gadis belia. Saya tidak ingin terkesan berlebihan, tetapi terus terang ada perasaan yang tidak dapat saya singkirkan ketika selesai menyaksikan film ini. Perasaan tersebut meliputi benak pikiran saya untuk waktu yang lama, sebuah perasaan yang lebih tepat dikatakan iba sekaligus simpati pada setiap remaja yang harus langsung berhadapan dengan kesedihan di awal perkenalannya dengan romantisme.

The Man in the Moon menuturkan sepotong kisah hidup gadis berusia 14 tahun bernama Dani (Reese Witherspoon). Sebagai seorang remaja, Dani memiliki rasa ingin tahu dan ketertarikan terhadap "urusan orang dewasa" yang dulu tidak pernah terpikirkan olehnya. Layaknya remaja lain, Dani juga mulai mencari sosok ideal yang dapat dijadikan contoh untuk ditiru. Bagi Dani, ia ingin menjadi seperti kakaknya Maureen (Emily Warfield) yang terkenal cantik, pandai, dan memikat banyak laki-laki. Di usianya yang ke-14 ini, Dani ingin diperlakukan seperti Maureen, seperti gadis dewasa bukan remaja ingusan seperti anggapan banyak orang terhadapnya selama ini. Selain itu, Dani juga penasaran dengan pengalaman asmara orangtua dan kakaknya. Hanya saja Dani belum memahami bahwa tidak jauh berbeda dengannya, Maureen pun kini tengah berada di persimpangan jalan dalam hidupnya. Maureen baru saja diterima sebuah perguruan tinggi di kota yang membuatnya harus pergi meninggalkan keluarga tercinta dan lingkungan pedesaan tempatnya tinggal jika ia memutuskan kuliah. Belum lagi masalah asmara yang membelit Maureen. Wajah manis dan tubuh molek yang menarik perhatian banyak laki-laki ternyata tidak menjamin Maureen mendapatkan pria idamannya. Kini, Maureen masih menanti cinta sejatinya. Hubungan Maureen dan Dani sebagai kakak-adik sangatlah erat. Mereka sering melakukan percakapan perempuan yang membahas masalah cinta, kegalauan, musik, dan hal-hal kecil lainnya. Tetapi, jika membicarakan kedewasaan tentu saja Dani belum siap menjadi dewasa dengan segala tanggung jawab yang harus dipikul. Sedangkan Maureen membutuhkan pengawasan ketika banyak pria mulai mendekatinya. Untuk itulah Matthew Trant (Sam Waterston) dan Abigail (Tess Harper) berusaha mendidik semua anak-anak mereka dengan tegas tetapi penuh kasih sayang. Kehidupan damai keluarga Trant mulai berputar seperti roller coaster ketika Dani dan Maureen merasakan ketertarikan pada Court Foster (Jason London) yang bersama dengan kedua adik dan ibunya Marie (Gail Strickland) kembali ke desa setelah ayahnya wafat. Bagi Dani, ketertarikannya pada Court ini merupakan fase awal pembelajarannya untuk mengenal lebih jauh manis getir kehidupan orang dewasa.

Naskah yang ditulis Jenny Wingfield mengalir dengan lembut bagaikan sungai tanpa riak dari awal hingga akhir cerita. Di bagian awal, naskah Wingfield memperkenalkan tokoh-tokoh dalam cerita melalui perilaku dan hubungan di antara tokoh tersebut. Dani digambarkan sebagai remaja periang yang sedang dalam masa-masa peralihan menuju kedewasaan. Naskah Wingfield secara halus ingin menyampaikan bahwa Dani adalah seorang anak perempuan yang dibiarkan tumbuh menjadi anak yang menyukai kebebasan. Itulah sebabnya Dani terlihat agak tomboy. Matthew dan Abigail tidak pernah melarang Dani untuk pergi berkeliaran di hutan  sekitar rumah mereka dan berenang di kolam milik keluarga Foster. Matthew dan Abigail juga tidak pernah mengatur cara berpenampilan Dani harus feminin seperti Maureen. Jika Matthew atau Abigail meminta Dani untuk sedikit memiliki rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan rumah tangga seperti mencuci baju dan memakai rok, hal itu lebih dikarenakan mereka ingin putrinya tetap mengikuti kebiasaan gadis-gadis di lingkungan mereka. Namun, selebihnya Dani adalah "anak lelaki" keluarga Trant yang dari dulu diharapkan muncul tetapi tidak kunjung pula datang.

Keinginan memiliki anak laki-laki terutama terlihat jelas dari perlakuan Matthew kepada Dani. Ketika Matthew membutuhkan pertolongan dalam mengerjakan sesuatu, Danilah yang diharapkan membantu, sementara Maureen hanya terlihat membantu Abigail mengurus pekerjaan rumah. Dani jugalah yang tampak sering dan terbiasa diajak Matthew pergi memancing. Bahkan dalam suatu adegan di mana Matthew kalut dan takut ketika Abigail yang tengah hamil terjatuh karena mencari Dani yang pergi ke kolam keluarga Foster di tengah malam, ia berani memecut putri keduanya itu dengan ikat pinggang, sebuah pemandangan yang membuat Maureen takut. Namun, pada akhirnya Matthew sadar bahwa Dani adalah anak perempuannya yang tak pantas diperlakukan kasar. Adegan di mana Dani mengaku ia tidak marah pada ayahnya karena ia mengerti rasa takut dan khawatir yang melanda sang ayah pada saat ibunya terjatuh sangat menyentuh siapapun yang melihatnya. Adegan tersebut menunjukkan naskah Wingfield kaya akan perasaan dan emosi yang tidak harus ditunjukkan secara eksplisit. Perasaan bersalah Matthew adalah bukti adanya perasaan dan emosi itu.

Meskipun begitu, bukan berarti naskah Wingfield dipenuhi dengan berbagai alur murahan yang sengaja dibuat untuk menimbulkan perasaan dan emosi tersebut. Sebaliknya, kehebatan naskah ini adalah tidak ada satupun dramatisasi berlebihan yang umum ditemukan dalam film-film lain. Beberapa alur yang memiliki risiko besar untuk dirusak karena telah terlalu banyak dramatisasinya dibuat begitu segar di sini. Misalnya dalam konflik antara Dani dan Maureen, penonton tidak akan menemukan Dani meledakkan emosi pada kakaknya, bahkan ketika ia merasa dikhianati secara diam-diam oleh dua orang terkasihnya. Tidak ada teriakkan amarah atau adu mulut. Naskah Wingfield justru memberi penonton efek yang lebih mendalam dari sekedar kata-kata penuh emosi, yaitu punggung dingin yang Dani berikan pada kakaknya. Dengan kecerdasannya, Wingfield memahami bahwa Dani belum sepenuhnya dewasa untuk menghadapi kenyataan pahit hidup sehingga ia mengalihkan bentuk amarah gadis itu menjadi semacam angan-angan seorang adik untuk tidak pernah berbicara pada kakaknya lagi, sebuah hal yang akan dianggap sangat sulit dilakukan oleh orang dewasa dalam ikatan keluarga. Begitu pula dalam alur di mana Dani menyadari bahwa tidak seharusnya ia memutuskan tali persaudaraan dengan Maureen. Dalam alur itu penonton tidak akan menyaksikan Dani dengan cucuran air matanya datang dan mengatakan isi hatinya secara terus terang kepada Maureen sebagaimana alur film cengeng lain. Alih-alih membuat alur seperti itu, Wingfield memanfaatkan kedekatan Matthew dengan Dani untuk "mengembalikan" putrinya itu ke jalan yang benar. Dengan alur demikian, penonton tidak akan merasakan proses pendewasaan Dani terlalu tiba-tiba dan terkesan dipaksakan. Melalui nasihat seorang ayah, sosok Dani dapat dipahami sebagai gadis muda yang telah mendapatkan pelajaran kecil dari kehidupan dengan bantuan orangtuanya.

Naskah Wingfield adalah satu potret utuh yang sempurna menangkap proses pendewasaan seorang remaja. Berbagai isu yang relevan dengan perkembangan remaja diangkat Wingfield di sini, mulai dari keluarga, tanggung jawab, kasih sayang platonik dan asmara, kejujuran, hingga pentingnya memaafkan kesalahan orang lain. The Man in the Moon berbicara banyak bagaimana mendidik anak-anak dalam sebuah keluarga. Setiap anggota keluarga memiliki tanggung jawab masing-masing yang harus dikerjakan dengan kesadaran diri sendiri. Sikap tegas orangtua merupakan kunci pendidikan anak dalam keluarga, tetapi jangan sampai sikap tersebut disalahartikan sebagai sifat kasar atau keras. Jauh dibalik sikap tegas itu, terdapat cinta dan kasih sayang orangtua kepada anaknya. Dalam film ini, sikap tegas Matthew kepada anak-anaknya khususnya Dani merupakan bentuk pembelajaran agar putrinya itu selalu berhati-hati dalam bertindak. Matthew tidak ingin hanya karena suatu hal (baca: cinta) yang sangat diinginkannya, Dani bertindak ceroboh yang pada akhirnya dapat membahayakan dirinya dan orang lain. Pada akhirnya, penonton dapat merasakan bahwa didikan Matthew itu berhasil saat Dani mampu melihat tindakan kasar ayahnya bukan dimaksudkan untuk menyakitinya, bukan pula untuk menunjukkan bahwa dirinyalah yang paling berkuasa dalam keluarga dan harus dihormati sebagaimana tatakrama "Yes, Sir - No, Sir" yang ia terapkan. Dalam adegan menyentuh seperti yang saya sebut di atas, penonton tahu bahwa Dani mulai melihat ayahnya sebagai seorang manusia biasa yang memiliki rasa takut dan tidak sepantasnya ia marah dengan tindakan orang yang tengah ketakutan, apalagi orang itu adalah ayahnya sendiri. Lebih jauh lagi, Dani juga paham bahwa hanya karena ia melihat Matthew ketakutan bukan berarti ia tidak dapat mengandalkan ayahnya itu untuk memberikan perlindungan. Adegan di mana Dani dengan panik meminta ayahnya menolong Court membuktikan kedewasaan Dani tersebut.

Sementara itu dalam mengeksplorasi kisah cinta remaja, The Man in the Moon tidak menggunakan rasa ingin tahu remaja terhadap seksualitas sebagai medianya, melainkan melalui sifat pantang meyerah seorang remaja demi merasakan sensasi cinta pertamanya. Hal itu menjadikan kisah cinta dalam film ini terasa sangat segar dan berbeda. Hubungan Dani dan Court yang pada awalnya terlihat mesra layaknya cinta remaja lainnya berubah menjadi gambaran pahit penolakan pihak laki-laki yang lebih dewasa kepada seorang gadis yang sama sekali belum pernah merasakan cinta dan sangat menantikannya. Satu hal yang menarik dari penolakan itu adalah Dani sama sekali tidak merasa ditolak oleh Court. Meskipun berulang kali rasa penasaran Dani untuk mendapatkan ciuman pertama ditanggapi dengan sikap Court yang berubah-ubah terhadapnya, hal itu tidak membuat Dani alergi mendekati pria idamannya itu. Bahkan, yang semakin membuat menarik adalah dengan segala ketegaran untuk mempertahankan harga dirinya Dani berkata ia sudah pernah dicium oleh banyak lelaki. Tanpa ragu, Dani juga mengaku ia mengerti dan tidak kecewa jika Court hanya ingin bersahabat dengannya.

Saya tidak dapat melupakan adegan di mana Court datang meminta maaf pada Dani dan dengan ekspresi marah yang disembunyikan, gadis itu berkata, "You don't have to be sorry!" dan "I already understand!" Padahal, sangat jelas Dani masih mengharapkan Court sebagai kekasih pertamanya karena pada hari-hari berikutnya ia masih saja mengajak Court berenang bersama, dengan embel-embel "persahabatan" tentunya. Akhirnya dengan mengeluarkan kepolosannya Dani berterus terang pada Court, "I want you to be the first boy I ever kiss". Ketegaran Dani juga ditunujukkan manakala Court ragu dengan perasaannya sendiri terhadap Dani hingga membuat ia terkesan memberikan sinyal yang salah. Ketika Court semakin bersikap kasar untuk mempertegas bahwa dirinya tidak tertarik pada Dani, gadis itu tidak pernah menyerah. Satu adegan yang menusuk memori saya adalah saat Dani mengungkapkan perasaannya dan Court membalas dengan berteriak, "Don't! Don't love me now. When things are so mixed up". Hari berikutnya Dani malah mendekati Court lagi dan justru ia yang meminta maaf. Semua itu menunjukkan betapa Dani ingin Court menjadi cinta pertamanya. Karena itu apapun yang dilakukan Dani - meski itu terlihat bodoh di mata orang dewasa - terlihat begitu wajar bagi seorang remaja yang belum melihat berbagai rasa dan rupa cinta. Menurut saya karakter Dani di sini bukanlah gadis yang hanya berpura-pura tegar. Ketika Court mengatakan bahwa ia hanya dapat menjadi seorang teman, Dani menerimanya dengan satu harapan: ia dapat mengenal pemuda itu lebih jauh lagi. Dalam sebuah adegan yang menjadi favorit saya, Dani bertanya pada Court, "I wanna know... your hopes". Pertanyaan itu seakan menunjukkan bahwa Dani telah siap seandainya hubungan dengan Court tidak dapat ditingkatkan ke arah yang ia harapkan. Seorang sahabat pun cukup, seorang sahabat dekat yang memiliki harapan indah, seindah impiannya tentang pria idamannya.

Satu hal yang mungkin dapat dipertanyakan dari naskah Wingfield adalah mengapa ia menggunakan tragedi sebagai klimaks sekaligus "mengatasi konflik" yang dialami remaja itu? Sebagai sebuah coming of age tidakkah akan menjadi lebih cocok jika remaja itu sendiri yang mengatasi konflik dengan keputusan dan aksi yang dibuatnya? Mengapa sang remaja harus pasrah kepada takdir yang membuatnya terkesan pasif dalam pencarian jati dirinya? Well, bagi saya pribadi pertanyaan-pertanyaan itu muncul seketika tetapi kemudian lenyap ketika merasakan efek dari tragedi yang menjadi resolusi tersebut ternyata tidak kalah powerful. Memang akan indah bila penonton diberi kesempatan untuk melihat keberanian Dani untuk megambil keputusan dan tindakan untuk mengatasi konflik yang ia hadapi, tetapi dengan tragedi pun tidak lantas membuat Dani terlihat kurang dewasa. Hubungan Dani dengan Maureen setelah tragedi itu justru menjadi titik balik sekaligus kesempatan baginya untuk mengambil keputusan dan tindakan besar dalam hidup, yaitu memaafkan seseorang atas sesuatu yang tampak mustahil diberi maaf.

Kesempurnaan The Man in the Moon semakin lengkap dengan arahan dari sutradara Robert Mulligan (To Kill a Mockingbird, Summer of '42), sineas yang telah berpengalaman menjadi arsitek film-film dengan tokoh utama gadis belia. Dalam film berdurasi 99 menit ini dengan elegan Mulligan menuturkan peralihan Dani dari remaja menjadi gadis dewasa. Mulligan memiliki cara cerdas bagaimana menggambarkan kepolosan Dani di awal cerita, yaitu dengan girl talk antara putri kedua Matthew tersebut dengan kakaknya, Maureen. Obrolan perempuan itu pun tidak dilakukan dengan cara yang biasa, melainkan dengan aktivitas yang biasa dilakukan dua orang kakak-beradik di desa, yaitu menyisir dan mengikat rambut. Dalam beberapa adegan, kegiatan menyisir dan mengikat rambut itu begitu intim hingga Dani mencurahkan isi hatinya pada Maureen. Dari kegiatan itu Dani bertanya banyak hal, mulai dari cara berciuman, rasa jatuh cinta yang amat sangat, hingga persaudaraan mereka. Girl talk tidak hanya digunakan di awal cerita untuk menggambarkan kepolosan Dani, tetapi juga merupakan sentuhan akhir yang diberikan Mulligan untuk menggambarkan bahwa Dani di akhir cerita bukanlah sosok yang sama seperti di awal cerita. Dani telah melihat dan merasakan bahwa hidup di dunia dengan segala sikap dewasanya tidaklah semudah dan sesempurna yang dibayangkan anak-anak. Meskipun telah bermetamorfosis menjadi gadis dewasa, pemahaman Dani terhadap dunia yag tidak selalu indah membuatnya berpikir ulang bahwa menjadi gadis kecil - seperti anggapan semua orang padanya - tidaklah terlalu buruk. Pemikiran itu terwujud dari percakapan antara Dani dan Maureen di adegan pamungkas. Dalam adegan itu, Dani berkata, "I wish I could still talk to the man in the moon. Don’t you?"

Saya terkesima dengan kemampuan Mulligan memanfaatkan latar tempat yang terbatas dalam film ini menjadi beberapa simbol dari siklus kehidupan yang penuh makna. Simbol pertama adalah pagar kayu rumah keluarga Trant. Pagar tersebut merupakan gerbang yang membuka jalan untuk Dani dalam menemukan kedewasaannya. Melalui pagar tersebut, setiap hari Dani pergi mencari kebebasan dengan melakukan kebiasaannya berenang di kolam keluarga Foster. Melalui pagar itu, Dani pulang ke rumah dengan wajah dan hati berser-seri tetapi di lain waktu dengan hati dan wajah sedih setelah bertemu Court. Melalui pagar itu pula Dani kembali ke rumah sebagai sosok gadis muda dengan hati dan pemikira dewasa. Tetapi bukan hanya Dani seorang yang memiliki kenangan dengan pagar tersebut. Sama halnya dengan Dani, Maureen pun memiliki kenangan pahit dan manis terhadap pagar rumahnya. Melalui pagar itu, Maureen merasakan pengalaman kencan terburuknya dengan Billy Sanders (Bentley Mitchum). Melalui pagar itu, Maureen pulang ke rumah dengan wajah dan hati riang setelah bertemu Court. Melalui pagar itu pula Maureen mendapatkan kabar buruk dari Matthew yang langsung membuatnya bertekuk lutut dalam tangisan. Apapun peristiwanya, sejak awal dan pertengahan cerita Mulligan selalu memberi perhatian pada pagar itu. Dalam beberapa adegan yang serupa, yaitu ketika Dani dan Maureen sama-sama pulang ke rumah dengan hati gembira setelah bertemu Court, kedua gadis itu selalu menoleh ke belakang. Entah apa yang mereka ingin lihat di belakang, namun tolehan itu selalu membuat pagar tersebut tertangkap kamera. Namun, dalam satu adegan Mulligan seakan ingin menghancurkan kenangan-kenangan tersebut ketika Matthew dengan cekatan mengemudikan truknya dan menerobos pagar rumahnya. Seketika itu pula robohlah harapan Dani dan Maureen mendapatkan cinta sejati yang mereka nantikan.

Simbol kedua adalah kolam keluarga Forest. Kolam tersebut merupakan salah satu tempat penting bagi Dani dan Court. Di kolam itulah mereka pertama kali bertemu. Di kolam itu Dani akhirnya mendapatkan ciuman lelaki pertamanya. Di kolam itu Court bertemu sahabat pertamanya, sesuatu yang sulit ia cari dalam masa-masa adaptasinya hidup di desa. Di kolam itu pula Dani mendapatkan pemahaman bahwa bukan ialah satu-satunya orang yang teruka dengan tragedi yang terjadi. Dani mengerti semanis apapun kenangannya dengan Court, memusuhi Maureen tidak akan membawa Court kembali. Peristiwa yang terakhir itu bahkan memiliki makna yang lebih dalam lagi. Kecipak kaki Dani di kolam yang disinari teriknya matahari dan kenangannya bersama Court yang tiba-tiba datang menghantui pikirannya merupakan pertanda bahwa Dani akan segera pulih. Gadis itu akan baik-baik saja karena ia telah melakukan hal yang tepat: merenungkan perbuatannya itu. Setelah medapatkan nasihat dari Matthew, Dani kembali ke kolam tersebut dan terciptalah adegan kecipak kaki tadi, adegan di mana ia berpikir ulang apakah kehidupan hampa dan sedih seperti itu yang akan ia jalani selama sisa hidupnya yang masih jauh terbentang? Puji Tuhan ia menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan itu.

Aspek terpuji lain dari The Man in the Moon adalah sinematografi dan desain produksi yang dapat melebur dengan sempurna dengan jalan cerita. Warna merah keemasan yang mendominasi di sepanjang cerita benar-benar memberikan suasana hangat pedesaan wilayah Selatan Amerika. Teriknya musim panas juga membuat kehangatan itu semakin nyata. Desain produksi film ini juga sangat apik, mulai dari arsitektur rumah (gosh, they find a perfect house for this kind of movie), kostum, kendaraan, musik dan properti lainnya pas dengan era 50-an. Sinematografi dan desain produksi tersebut semakin menguatkan kesan hangat sebuah keluarga dan cocok dengan gambaran hidup warga desa. Saya sangat senang dengan kehidupan keluarga Trant yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Keluarga Trant tampak tinggal di sebuah komunitas yang bukan hanya tenang dan damai, melainkan juga agak terpencil. Bayangkan untuk membeli sekotak garam saja harus pergi ke kota dengan mengendarai mobil, begitu pula jarak rumah para tetangga yang cukup jauh di mana Dani harus berlarian terengah-engah untuk sampai di rumah Court.

Dari segi pemeran, saya rasa semua aktor memberikan penampilan optimal mereka. Mulai dari Waterston dan Harper yang sempurna menjadi orangtua. Kedua aktor tersebut berhasil memancarkan aura kasih sayang yang sangat kuat. Mereka sadar bahwa peran mereka bukanlah hanya sebatas peran pembantu yang sengaja dibuat hanya untuk meramaikan cerita. Lebih dari itu, mereka paham bahwa karakter Matthew dan Abigail harus terlihat meyakinkan sebagai orangtua yang mampu membesarkan gadis-gadis luar biasa seperti Maureen dan Dani. Terkait dengan karakter orangtua ini, salah satu adegan favorit saya adalah ketika Abigail dengan intuisinya menyambangi kamar Maureen yang ternyata sedang berduka lara. Dalam adegan itu Maureen menumpahkan kesedihannya pada Abigail yang dengan hati terbuka menenangkan putri sulungnya. Adegan tersebut memiliki makna yang dalam, bagaimana seorang ibu berusaha memberikan waktu pada anaknya untuk bersedih, tetapi sang ibu juga mengingatkan bahwa ada masa di mana tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesedihan itu selain tegar dan melanjutkan hidup. Selain Waterston dan Harper ada pula Strickland, London, dan Warfield yang bermain sangat baik di sini.

Namun, tidak dapat disangkal bahwa The Man in the Moon memberikan panggung utamanya pada Witherspoon. Dalam debut layar lebarnya ini, Witherspoon tampil memukau sebagai gadis tomboy yang sudut pandangnya terhadap hidup telah berubah seiring proses pendewasaan yang ia lalui. Witherspoon membuat penonton ikut merasakan jatuh bangun menjadi seorang remaja ketika menyaksikan hubungannya yang tidak jelas dengan Court. Witherspoon juga membuat penonton larut dalam keintiman persaudaraan antara Dani dan Maureen. Tidak ketinggalan, Witherspoon juga membuat penonton merasakan indahnya menjadi seorang anak dalam keluarga yang harmonis seperti keluarga Trant. Penonton tertawa ketika melihat Dani dengan konyol dan polos belajar teknik berciuman dari Maureen, sedih ketika ia harus menerima kenyataan pahit ditinggal Court, emosi ketika merasa dikhianati, dan tersenyum bangga ketika ia memaafkan Maureen. Singkat kata, Witherspoon sangat memengaruhi penonton untuk larut bersamanya menyaksikan hidup Dani dan keluarganya berlalu waktu demi waktu. Sungguh mencengangkan prestasi seorang Witherspoon muda yang awalnya mengikuti casting film ini hanya bermaksud mendapat peran sebagai figuran. Dengan kemampuan dan bakatnya ini, tidak heran ia menjadi salah satu bintang besar Hollywood.

Secara keseluruhan, The Man in the Moon adalah sebuah karya sempurna yang banyak bercerita tentang makna hidup. Film ini merupakan karya signifikan yang dapat dijadikan media pembelajaran bagi kita semua - kususnya remaja - bahwa hidup memang tidak semudah dan sesederhana yang dibayangkan anak-anak. Namun tidak ada alasan untuk takut menjalani hidup, karena dari kehidupan lah kualitas dan kemanusiaan seorang manusia dapat terasah. Terakhir, untuk menghormati Mulligan yang menolak karyanya ini disebut sebagai film coming of age, saya akan menarik kata-kata saya di atas yang mengatakan bahwa film ini bercerita tentang coming of age. Saya setuju dengan Mulligan yang berpendapat bahwa film ini berbicara tentang coming of life, di mana kehidupan sesungguhnya baru dimulai ketika kita benar-benar mengenal seperti apa wajah kehidupan dan mengetahui bagaimana cara menghadapi kehidupan itu. Sungguh disayangkan film ini menjadi karya terakhir Mulligan. Tapi setidaknya ia menutup karier panjangnya dengan sebuah persembahan yang dapat dikatakan klasik dan megah dalam segala kesederhanannya. Well done, Sir! It's 5 out of 5 stars. Ada komentar?



Watch this if you liked:

To Kill a Mockingbird (1962)

Director: Robert Mulligan
Stars: Gregory Peck, John Megna, Frank Overton
Genre: Crime, Drama, Mystery
Runtime: 129 minutes











Flipped (2010)


Director: Rob Reiner
Stars: Madeline Carroll, Callan McAuliffe, Rebecca De Mornay
Genre: Comedy, Drama, Romance
Runtime: 90 minutes

Memasuki usia pubertas di SMP, hidup dua remaja bertetangga, Bryce dan Juli tidak lagi sesederhana saat kelas dua SD. Di tengah ketertarikan Juli kepada Bryce yang tampaknya tidak akan pernah berakhir, timbul berbagai variabel baru dalam hidup mereka. Juli mulai mempertanyakan perasaannya kepada Bryce. Bryce sendiri pada akhirnya mendapatkan dirinya berada pada suatu persimpangan jalan, di mana ia harus memilih menjadi dewasa dan berupaya mengejar ketertinggalannya selama ini, berusaha menggapai sesuatu yang selama ini dianggapnya tidak berharga...









Selasa, 16 April 2013

Phenomenon: Gift v. Jinx

Kejutan atau surprise seringkali menjadi sesuatu yang didambakan banyak orang. Orang yang mendapatkan kejutan akan merasa kaget, terkejut, sekaligus tersanjung atas perbuatan orang yang memberikan kejutan. Perasaan-perasaan tersebut muncul sebagai reaksi dari pemaknaan yang diberikan oleh penerima kejutan pada pemberi kejutan. Pada umumnya, para penerima kejutan akan menganggap kejutan merupakan bentuk perhatian dan kasih sayang dari pemberi kejutan. Kejutan itu sendiri merupakan antitesis dari kemalangan, karena meski keduanya sama-sama relatif tidak dapat diprediksi, namun terdapat perbedaan makna yang sangat jauh. Kejutan merupakan satu hal yang sangat berkonotasi positif, di sisi lain citra negatif melekat erat pada kemalangan. Namun, bagaimana jika kita berada dalam suatu kondisi yang sangat sulit untuk membedakan antara kejutan dan kemalangan? Mungkin kita dapat bertanya bagaimana rasanya berada dalam keadaan demikian pada George Malley dalam Phenomenon (1996).

Phenomenon menceritakan sepenggal kehidupan George Malley (John Travolta), seorang pria sederhana yang tinggal di sebuah kota kecil di sekitar Califronia. Film dibuka dengan kebahagiaan George yang sedang berulang tahun. Hampir seluruh penduduk kota kecil itu mengenal George, sehingga banyak orang yang turut berbahagia di hari kelahirannya itu. Bahkan, kerabat-kerabatnya membuat suatu pesta di sebuah bar, khusus untuk momen membahagiakan tersebut. Meski hidup sederhana, namun George memang memiliki kekayaan berupa teman-teman yang sangat perhatian padanya. Sebut saja teman setianya Nate Pope (Forest Whitaker), Doc Brunder (Robert Duvall) seorang dokter kota yang menganggap George sebagai anaknya, dan Tito (Tony Genaro) bosnya yang selalu membuat George kelimpungan karena kebiasaannya berbahasa Spanyol.

Kebahagiaan George di hari jadinya terganggu sejenak dengan sebuah insiden saat ia melihat seberkas cahaya terang dari langit yang menghampiri dirinya dan membuatnya jatuh pingsaan sesaat. Setelah kejadian itu, Geroge berubah total seolah menjadi orang lain karena kebiasaan dan kemampuan intelektualnya yang tanpa diduga meningkat pesat bagaikan roket yang terbang ke angkasa. Kini, George terbiasa begadang melahap semua jenis buku, memiliki hobi baru melakukan eksperimen ilmiah, dan bahkan mampu memahami hal-hal yang sama sekali baru baginya. Satu hal lagi yang mengejutkan, George memiliki kemampuan telekinetik yang membuatnya dapat menggerakkan benda-benda di sekitarnya. Semua itu membuat George dianggap manusia sakti yang sangat unik, sebuah anggapan yang sama sekali tidak disukai George. Di luar semua perubahan signifikan itu, ada satu hal yang masih menjadikan George orang yang sama seperti sedia kala: cintanya pada Lace (Kyra Sedgwick). Meski begitu, Lace yang merupakan janda dua anak yang mencari nafkah dengan membuat kursi rotan itu tampaknya memiliki masa lalu yang kelam dalam urusan percintaan sehingga ia belum dapat menerima George di hatinya. Kehidupan George menjadi semakin rumit ketika dirinya merasa dikucilkan dari pergaulan warga setempat karena kemampuan intelektualnya yang berlebihan. Ia merasa sangat berbeda dan jauh dari standar kehidupan manusia normal seperti orang lain. Namun, akhirnya George mengetahui penyebab kehidupannya yang kacau. Bagi George, penyebab masalah dalam hidupnya itu merupakan sebuah kejutan besar, hahkan teralu mengejutkan bagi Lace yang mulai belajar mencintainya.



Bagi saya, kisah yang diungkapkan dalam Phenomenon sangat “klik” di hati karena film ini berani mengeksplorasi sisi imajinasi yang belum pernah diungkapkan sebelumnya. Saya harus mengakui penulis cerita Gerald Di Pego memiliki ruang kreativitas yang sangat luas. I mean, how on earth he got the idea to put together a cancer back-to-back with a gift?! God, that was brilliant! Ide mempersandingkan mukjizat yang datang secara mengejutkan (surprising gift) dengan kemalangan (jinx) itu sangatlah cerdas dan original. Dengan bumbu fiksi ilmiah dan romantisme, Di Pego sukses mengangkat cerita imajinatif ini menjadi satu kisah sensitif.

Sensitivitas kisah hasil kreasi Di Pego itu sendiri sebenarnya terletak pada resep lama para penulis naskah, yaitu perubahan karakter dari tokoh-tokoh yang ada. Dalam Phenomenon, perubahan karakter yang paling menarik disimak bukanlah saat George mendapatkan “durian runtuh” berupa kemampuan intelektual yang tinggi, melainkan saat ia merasa dirinya tidak lagi mendapatkan tempat di komunitas dan lingkungan ia tinggal. Ia merasa sangat aneh dan sangat takut pada tatapan dan pandangan mata orang-orang. Ia merasa dirinya sangat mencolok dan menyita perhatian orang-orang hingga ia berpikir ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Ada beberapa line yang menggambarkan kondisi demikian sangat mengena, yaitu saat George berkunjung ke rumah Nate dengan membawa dua kursi karya Lace. Saat itu, George berbicara banyak tentang bagaimana fotosintesis menjadi model dari teknologi dunia saat ini dan Nate sama sekali tak mampu mengikuti dan memahami sepatah kata pun yang dibicarakan George. Saat itu juga wajah George berubah menjadi heran dan ada sedikit rasa sedih dan menyesal tergambar di wajahnya. Kemudian keheningan menyeruak dan akhirnya George mengatakan, “I’m sorry. I can’t help it, Nate”. Nate pun membalas, “It’s ok”. Atau saat George mengajak Lace untuk menemaninya di acara kampus yang mengundangnya untuk wawancara seputar kemampuannya meramalkan gempa. Saat itu George berkata pada Lace, “I don’t know. You know since the orchard thing people are different now. I don’t like it. The funny is you probably the only one that’s mad at me for a good reason”.

Bayangkan bagaimana seseorang yang seharusnya bangga atas kemampuannya justru harus menyembunyikan kelebihannya itu karena tak ada seorang pun yang dapat mengapresiasinya. Maksud apresiasi saya di sini adalah rasa kagum dan bangga. George sama sekali tidak mendapatkan apresiasi itu, malahan yang ada adalah pandangan orang-orang yang terheran-heran dengan kemampuan George, tak ubahnya saat kaget menyaksikan pertunjukan sirkus yang mencengangkan. Hal ini menunjukkan adanya anomali di sekitar tempat tinggal George, dan anomali itu menimbulkan perubahan diri George dari semula begitu excited dengan segala kemampuannya menjadi malu atas semua itu. Di saat orang lain memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari kemampuan yang tiba-tiba dimilikinya, menjadi sombong, dan sok berkuasa, George Malley tidak bisa melakukan itu semua karena ia telah berubah menjadi George “freaking” Malley. Bagi saya, inilah sesungguhnya “fenomena” yang dimaksud dalam Phenomenon. Di samping perubahan karakter George, Di Pego juga mengimbanginya dengan perubahan karakter Lace sebagai love interest di sini. Karakter Lace yang awalnya keras menjadi lunak dan mengakui bahwa dirinya jatuh cinta pada seorang pria sederhana yang kini menjadi sorotan publik.

Di tangan sutradara Jon Turteltaub (While You Were Sleeping, Cool Runnings) , ide original Di Pego terealisasi dengan sempurna. Kesempurnaan itu tercipta berkat kemampuan Turteltaub dalam merangkai cerita menjadi satu kesatuan yang utuh. Sebenarnya jika diperhatikan secara seksama, film berdurasi 123 menit ini terdiri dari dua babak besar. Babak pertama ada di paruh pertama film yang mengisahkan bagaimana George mendapatkan kemampuan intelektualnya dan babak kedua terdapat di paruh terakhir dengan fokus untuk mengungkapkan bahwa George mengidap tumor berbahaya yang sangat misterius. Namun, dengan garapan Turteltaub, pembagian cerita menjadi dua bagian kontradiktif (kisah bahagia dan kisah sedih) menjadi tidak terlalu terlihat jelas dengn adanya gradasi cerita yang baik (saya tidak mengatakan bahwa dua babak kontradiktif yang tidak memiliki gradasi tidak bagus, karena terbukti ada beberapa film yang mampu memperlihatkan hasil yang memuaskan, seperti dalam Life is Beautiful (1993)). Di babak pertama, Turteltaub merangkai cerita George yang mendapatkan “mukjizat” berupa kecerdasan di atas rata-rata dengan beberapa sub-plot, seperti fiksi ilmiah, percintaan, bahkan political thriller. Sub-plot tersebut membuat penonton mampu mengikuti dan mencerna alur cerita dengan mudah dan terasa mengalir serta sederhana. Selain mampu menjalin cerita dengan baik, Turteltaub juga mampu memperhatikan detail cerita. Ia membuat detail tersebut dengan menciptakan adegan-adegan yang saling mendukung satu sama lain, misalnya saat George mencangkul lahan kebun di depan rumahnya dengan emosi setelah mengeluarkan unek-uneknya yang justru membuat orang-orang semakin takut padanya. Adegan itu sangat tepat untuk mendukung betapa George merasa muak, tidak hanya pada orang-orang di sekitarnya yang memperlakukannya berbeda, tetapi juga pada dirinya yang tidak mampu membuka mata dan hati orang lain untuk tidak takut dan menganggap dirinya aneh.

Dari jajaran pemeran tokoh, sayangnya saya tidak bisa mengatakan semua pemeran memberikan performa terbaiknya. John Travolta misalnya, menurut saya penampilannya di sini kurang gres, dan bahkan sepanjang film saya merasa tidak nyaman karena bagi saya Travolta bukanlah orang yang tepat memerankan karakter George. Di sisi lain, Robert Duvall dan Kyra Sedgwick bagi saya tampil memukau. Sebagai karakter yang merindukan menjadi seorang ayah, Duvall nerhasil memancarkan ciri kebapakan dari karakter Doc Brunder. Cara-cara Doc memberikan nasihat, menyatakan kesedihannya saat George divonis tumor, dan bahkan saat mereka bergurau sangat mencerminkan hubungan ayah dan anak yang dekat. Ketika berbicara dengan George, Duvall sebagai Doc Brunder selalu menatap mata George dengan tatapan teduh dan berwibawa. Ketika George mendapatkan musibah, Doc Brunder seperti kehilangan separuh hidupnya dan itu berujung pada pembelaannya pada George di bar, yang merupakan salah satu adegan favorit saya. Sementara itu, Sedgewick adalah wanita yang sangat pas memerankan Lace yang berusaha sekuat tenaga untuk menipu dirinya sendiri bahwa ia tidak lagi membutuhkan cinta. Sedgewick berhasil membawakan karakter Lace menjadi wanita yang senantiasa penuh perhitungan, waspada, sekaligus wanita yang memiliki hati selembut sutra. Saya sangat suka adegan ketika Lace mendapati bahwa selama ini yang selalu memborong kursi buatannya adalah George, Sedgwick menampilkan wajah yang kecewa berat telah ditipu oleh orang yang mengaku menyukainya. Saat itu, Sedgwick menyatakan bahwa ia hanya butuh kejujuran dari George, dan ternuyata George tak bisa memberikannya. Sedgwick kemudian berjalan tegap, berbicara dengan tegas, dan pergi dengan truknya, sebuah eksekusi yang baik dari line-line dialog.

Sisi positif Phenomenon lainnya bagi saya adalah sinematografi dan tata musik yang pas. Sepanjang film, penonton akan dimanjakan dengan suasana kota kecil yang tenang, berpenduduk sedikit dan saling mengenal satu sama lain, rumah-rumah sederhana yang cantik dan berjarak jauh satu sama lain, dan tanah-tanah yang terlihat gersang. Warna yang mendominasi di sepanjang cerita adalah warna kunig keemasan yang semakin memnuat tampilan kota kecil itu eksotis. Sementara itu, acungan jempol perlu saya berikan untuk penataan musik. Penonton sangat dimanjakan dengan lagu-lagu indah di sepanjang cerita dan latar suara yang dapat dibedakan sesuai sub-plot yang ditampilkan (penonton dapat dengan mudah menebak latar suara apa yang mucul ketika George memamerkan kemampuan telekinetiknya, saat terjadi hal-hal yang didramatisir, dan lain-lain).

Secara keseluruhan, Phenomenon adalah paket menarik yang tidak akan saya lewatkan. Dengan ide cerita original, saya sangat mendapatkan pengalaman menonton yang sangat spesifik. Meski terdapat bagian-bagian cerita yang terkesan dipaksakan (seperti ketika FBI mendatangi rumah Lace untuk mencari George dan mereka mafhum begitu saja dengan perkataan Lace yang mencoba menyembunyikan George), namun itu tidak membuat Phenomenon cacat di mata saya. Malah, sepertinya saya tidak akan bosan jika menyaksikan film ini lagi dan lagi. 4 out of 5 stars for me. Ada yang punya komentar?


Watch this if you liked:

Edward Scissorhands (1990)

Director: Tim Burton
Stars: Johnny Depp, Winona Ryder, Dianne Wiest
Genre: Fantasy, Drama, Romance
Runtime: 105 minutes













Chocolat (2000)

Director: Lasse Hallström
Stars: Johnny Depp, Alfred Molina, Juliette Binoche
Genre: Drama, Romance
Runtime: 121 minutes










Jumat, 15 Februari 2013

Gattaca: Where There's A Will, There's A Way

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Kesempurnaan manusia bisa dilihat dari banyak sisi, tetapi yang paling utama adalah akal pikiran dan hati nurani. Sayangnya, dua kesempurnaan manusia yang dianugerahi Tuhan itu terkadang kontradiktif dalam kehidupan. Manusia dengan akal pikirannya terus mengembangkan ilmu pengetahuan untuk memenuhi impian setiap orang: hidup bahagia, sehat selalu, panjang umur, bahkan bagi sebagian orang mungkin ada yang ingin menjadi abadi. Sepanjang sejarah umat manusia, usaha untuk meningkatkan kualitas hidup memang tidak pernah berhenti dilakukan. Berbagai penelitian telah menghasilkan temuan-temuan baru yang semakin mendekatkan manusia pada impian tersebut. Tetapi kenyataan yang sering terjadi adalah hati nurani manusia semakin tumpul seiring dengan semakin pesatnya peningkatan ilmu pengetahuan yang dikembangkan akal pikiran. Manusia lupa menggunakan hati nurani mereka manakala berhasil memecahkan suatu hal yang sebelumnya tak pernah terpikirkan dapat dilakukan. Bagi saya, tidak ada yang lebih buruk daripada hidup di dunia yang dipenuhi dengan manusia tanpa hati, seperti yang dapat dilihat dalam Gattaca (1997).

Dikisahkan secara naratif kilas balik, pada masa depan yang tidak terlalu jauh dunia telah berubah cukup drastis karena manusia telah mampu memodifikasi gen yang dapat melahirkan bayi-bayi sempurna tanpa cacat. Pada masa ini para ilmuwan tidak hanya sekedar mampu menentukan jenis kelamin bayi, tetapi juga menghilangkan potensi keburukan yang dibawa gen seperti penyakit, emosi dan kebiasaan yang sulit dikendalikan, bahkan meningkatkan IQ. Orang tua kini tidak meletakkan nasib anak mereka di tangan Tuhan, melainkan pada ahli genetik yang memainkan peranan sangat signifikan dalam komunitas masyarakat kala itu. Namun, ternyata masih ada sebagian kecil orang yang menginginkan anak yang lahir dan hidup secara alami tanpa campur tangan sains, salah satunya adalah Vincent (Ethan Hawke). Hasilnya, Vincent terlahir ke dunia ini dengan berbagai kekurangan, terutama kondisi jantungnya yang lemah. Marie (Jayne Brook), ibu Vincent yang awalnya sangat yakin dengan keputusannya melahirkan anak secara alami kini pesimis dengan masa depan putra pertamanya itu. Lebih parah lagi, Antonio (Elias Koteas) skeptis terhadap Vincent dan merasa lebih antusias dengan persiapan kelahiran putra keduanya yang kini menggunakan teknologi modifikasi gen. Kelak, Marie akan menyesali keputusannya melahirkan Vincent secara alami karena tanpa diduga secara perlahan muncul diksriminasi terhadap mereka yang lemah secara gen. Tetapi rupanya dengan segala keterbatasan yang ada pada dirinya, Vincent berusaha mati-matian mewujudkan cita-citanya menjadi astronot Gattaca, institusi antariksa swasta prestisius meski harus meninggalkan identitasnya sebagai Vincent untuk selama-lamanya.

Dilihat dari berbagai sisi, penulis naskah sekaligus sutradara Andrew Niccol (S1m0ne, In Time) menghasilkan cerita brilian sekaligus provokatif. Dari segi pengembangan cerita, saya rasa dunia ilmu pengetahuan yang dipersinggungkan dengan etika tidak akan pernah menjadi ide cerita basi karena dapat dikatakan bahwa ilmu adalah jantung kehidupan. Dengan ilmu, manusia dapat lebih mengembangkan potensi diri dan alam. Setiap kemajuan dunia selalu dimulai dari langkah kecil kemajuan ilmu pengetahuan. Masalahnya, apakah manusia yang terkenal dengan sifat tidak pernah puas dan dipenuhi kesombongan masih menyisakan sedikit ruang di hatinya untuk memikirkan etika? Dalam Gattaca, kemampuan ilmuwan dalam memodifikasi gen yang menghasilkan generasi manusia premium tidak diimbangi dengan penggunaan hati nurani yang justru sebenarnya sangat dibutuhkan dalam setiap tahap pekembangan zaman. Akibatnya timbul satu jenis diskriminasi ekstrim berdasarkan kesempurnaan gen (dalam film ini disebut genoism), sesuatu yang tidak pernah bisa saya bayangkan akan terjadi di dunia nyata. Bayangkan jika struktur masyarakat di dunia ini berubah. Stratifikasi sosial tidak lagi berdasarkan kemampuan ekonomi, tingkat pendidikan, bahkan kekuasaan politis sekalipun, melainkan dari gen, sesuatu yang akan terus menempel dalam setiap sel tubuh manusia. Sudah dapat ditebak bahwa chaos dalam masyarakat tidak akan terhidarkan. Dalam situasi ini, Gattaca mengajak penonton memikirkan kembali apakah usaha manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan semata-mata untuk menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling unggul? Apakah keunggulan yang dimiliki sebagian manusia dapat dijadikan alasan untuk menganggap rendah manusia lain yang tidak memiliki keunggulan itu? Semua itu membawa penonton sadar bahwa ilmu pengetahuan menghasilkan kebenaran relatif yang mungkin tidak akan ada habisnya jika terus dikembangkan, sedangkan hati nurani yang terwujud dalam etika dan tatanan nilai-nilai kemasyarakatan tidak akan pernah membawa kita pada chaos semacam genoism tersebut. Segala niat dan tujuan yang baik dari ilmu pengetahuan akan segera sirna ketika manusia mengesampingkan etika dan nilai-nilai kemasyarakatan (nilai sosial, budaya, agama). Meski jalan cerita terasa lambat, namun dengan ide cerita yang mampu berkembang sedemikian rupa hingga menyentuh hati nurani, Niccol sukses mengeksplorasi sisi-sisi kontroversial ilmu pengetahuan.

Selain pengembangan cerita, bagi saya Gattaca juga unggul dari materi cerita. Film berdurasi 106 menit ini memiliki dua sub-plot yang semakin memperkaya kisah Vincent dalam memperjuangkan cita-citanya dan menghadapi “kejamnya” dunia modern. Sub-plot yang pertama adalah pembunuhan Mission Director yang ternyata memberikan sedikit kejutan di bagian akhir film. Plot pembunuhan tersebut menjadi latar belakang keseluruhan cerita yang mampu membawa penonton melihat seluk-beluk pribadi Vincent. Selama masa investigasi kasus pembunuhan itu penonton dapat mengetahui bahwa Vincent tidak pernah berhenti berjuang mendapatkan apa yang ia inginkan. Pepatah lama where there’s a will there’s a way ternyata masih berlaku dalam dunia masa depan yang nyaris sempurna. Plot pembunuhan ini juga berhasil menghadirkan sensasi thriller, di mana penonton tidak diberikan banyak petunjuk mengenai siapa sebenarnya yang membunuh Mission Director. Vincent dengan sifat yang perfeksionis menjadikan gerak-geriknya selalu gelisah dan mencurigakan. Kecurigaan terhadap Vincent itulah yang menjadikan setiap investigasi polisi membawa ketegangan pada penonton. Salah satu ketegangan yang paling kentara ada dalam adegan ketika polisi menyambangi rumah Jerome Morrow (Jude Law).

Sub-plot yang kedua adalah percintaan Vincent dengan Irene (Uma Thurman). Untuk sub-plot yang satu ini sebenarnya saya merasa Niccol tidak cukup mengeksplorasi hubungan Vincent dan Irene sehingga bagi saya plot ini tidak memiliki implikasi signifikan terhadap keseluruhan cerita. Padahal karakter Irene sangat menarik. Irene adalah calon astronot underdog yang bahkan ia sendiri tahu bahwa peluangnya untuk pergi ke luar angkasa sangat kecil. Menghadapi segala kesempurnaan Vincent, saya mengharapkan ada rasa iri Irene pada Vincent meskipun ia sangat mencintai dan mengaguminya, ketimbang alur lurus yang datar-datar saja seperti yang diperlihatkan di sepanjang film. Porsi plot percintaan ini sebenarnya cukup banyak dan sayang jika hanya dihabiskan untuk kisah wanita yang kagum setengah mati pada pria yang terlihat sangat sempurna sekalipun pada akhirnya ia mengetahui sisi lain pria itu.

Keistimewaan naskah Niccol juga tidak hanya terletak pada pengembangan dan materi cerita, tetapi juga pada penciptaan karakter yang menurut saya cukup unik. Salah satu karakter yang paling saya suka dalam Gattaca adalah Jerome Morrow. Lewat karakter yang diperankan Jude Law ini, Niccol semakin mempertegas bahwa sekalipun manusia mampu memodifikasi gen untuk menghindari “kualitas buruk” seseorang, tidak berarti bahwa manusia dapat hidup bahagia begitu saja, karena manusia tidak akan mampu mengubah sifat-sifat dasarnya sendiri, yaitu tidak pernah puas dan memiliki hawa nafsu. Jerome Morrow adalah mantan perenang handal dengan gen kualitas prima, tetapi itu semua tidak ada artinya ketika ia merasa malu karena hanya menempati posisi kedua dalam sebuah kejuaraan. Merasa terhina dan putus asa, Jerome pun akhirnya memutuskan menghabisi nyawanya sendiri meski sialnya ia tak sepenuhnya berhasil. Sebagai esensi yang ingin disampaikan seperti yang tercermin dalam tagline there is no gene for the human spirit, karakter Jerome Morrow sangat merepresentasikan kalimat tersebut. Vincent yang tidak memiliki gen sempurna ternyata lebih sukses dengan menggunakan human spirit-nya ketimbang Jerome yang dalam tubuhnya menempel gen kualitas nomor satu tetapi dengan kelemahan jiwanya justru terpuruk dalam hidup.

Dari jajaran pemeran karakter, Ethan Hawke bagi saya adalah orang yang tepat memerankan Vincent. Hawke sukses menggambarkan metamorfosis Vincent sebagai orang terbuang di awal cerita menjadi sosok pria flamboyan yang tahan banting, determined, dan inspiratif. Hawke juga mampu memperlihatkan sisi subtle dalam hubungan persahabatan Vincent dan Jerome Morrow dengan baik. Vincent menyimpan suatu kekaguman, menemukan kenyamanan persahabatan, sekaligus rasa penuh kasihan dan terima kasih yang tak terungkap pada Jerome tetapi dapat dilihat penonton baik dari tatapan, tingkah laku, maupun ucapan Vincent. Dalam adegan di mana Jerome mengaku bahwa kecacatannya bukan disebabkan kecelakaan dan ia bangga pada Vincent, tatapan Hawke yang tertegun sebagai Vincent menyiratkan simpati yang mendalam. Pemeran lain seperti Law dan Thurman juga memberikan performa bagus mereka di sini.

Nilai positif Gattaca juga dapat dilihat dari efek visual, sinematografi, makeup, scoring, dan desain produksi yang bagi saya sangat pas untuk sebuah sci-fi. Dari awal kredit pembuka saja, penonton sudah disuguhi efek visual berbagai objek tubuh yang berguguran, seperti kuku, rambut wajah, dan kulit mati. Objek-objek tersebut diperbesar, difokuskan dari latar belakangnya, dan bergerak secara lambat dengan suara berdebum layaknya benda berat yang jatuh.Saya sangat suka pembuka tersebut. Warna-warna yang dimunculkan dalam film yang merupakan debut penyutradaan Niccol ini didominasi oleh warna lembut, dan cahaya emas saat matahari senja menjadi ornamen utama di sepanjang film. Sementara dari sisi makeup, tampaknya Gattaca kembali pada gaya sci-fi klasik di mana tatanan rambut, riasan yang dapat menekankan ekspresi wajah yang kaku dan datar, serta busana klimis untuk menambah kesan futuristik. Michael Nyman juga mempersembahkan scoring yang mampu meningkatkan emosi dan ketegangan di seoanjang serita dengan klimaks nada tinggi di akhir cerita yang sangat mengena. Terakhir, saya sangat suka tampilan desain produksi Gattaca, mulai dari set lokasi yang menggunakan gedung nyata yang terkesan futuristik, properti seperti alat-alat untuk pemindaian gen, hingga suasana individualistis yang sangat kental terasa dalam gedung Gattaca.

Overall, Gattaca adalah sci-fi yang berani menyajikan cerita logis. Dari awal, ide untuk memodifikasi gen memang bukan mustahil dilakukan mengingat dunia tengah dilanda kemajuan di bidang IPTEK seperti cloning dan rangkaian pemindaian manusia juga menambah masuk akal ide tersebut. Gattaca menyajikan tontonan yang berbeda dari sci-fi masa kini yang dipenuhi serbuan makhluk luar angkasa, perang alien, senjata-senajata laser,atau adegan dengan efek visual yang menumpuk. Tetapi, tanpa itu semua ternyata sci-fi masih bisa dinikmati, bahkan dengan segala cerita logisnya. 4 out of 5 stars for me. Ada yang punya komentar?


Watch this if you liked:
Nineteen Eighty-Four (1984)

Director: Michael Radford
Stars: John Hurt, Richard Burton, Suzanna Hamilton
Genre: Sci-Fi, Drama, Romance
Runtime: 113 minutes











The Fountain (2006)

Director: Darren Aronofsky
Stars: Hugh Jackman, Rachel Weisz, Sean Patrick Thomas
Genre: Sci-Fi, Drama, Romance
Runtime: 96 minutes












Jumat, 11 Januari 2013

The Devil's Advocate: Membalas Kebaikan Hati Setan

Banyak orang bilang setan bisa berwujud apapun, bahkan hingga ke bentuk yang tak terduga, seperti manusia. Dengan wujud yang tak terduga itu, setan dapat memperdaya dan memanipulasi manusia. Tentunya, hanya orang-orang tertentu yang berhasil terkena bujuk rayu setan. Orang-orang itu memiliki beragam latar belakang, seperti tidak percaya adanya Tuhan, cinta dunia yang berlebihan, atau memiliki ambisi yang tak pernah tercapai sebelumnya sehingga mereka mau melakukan demi mendapatkan apa yang diambisikannya itu. Berbiara tentang setan memang tidak akan pernah ada habisnya, karena yang dibicarakan adalah sesuatu yang tidak tampak, sesuatu yang dapat memengaruhi alam bawah sadar dan perilaku manusia. Kisah mengenai setan yang memperdaya manusia telah sering di angkat ke layar lebar, salah satunya adalah The Devil’s Advocate (1997).

The Devil’s Advocate mengisahkan kehidupan Kevin Lomax (Keanu Reeves), seorang pengacara pemula yang hidup cukup sederhana di Florida. Kevin belum banyak menangani kasus-kasus besar, tetapi yang luar biasa adalah ia tak memiliki satupun catatan kekalahan sebelumnya, dan dalam diri Kevin tak pernah terbersit bayangan kekalahan sedikitpun. Kevin berambisi untuk selalu menang di pengadilan, mendapat pekerjaan dalam kasus-kasus besar, dan pastinya meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Dengan pendirian dan cita-cita setehg itu, Kevin membentuk pribadinya menjadi seorang perfeksionis.Kevin adalah putra seorang wanita penganut Katolik yang taat, Alice (Judith Ivey). Alice membesarkan Kevin seorang diri dan tak pernah menceritakan siapa ayah kandung Kevin sebenarnya. Kevin memiliki seorang istri bernama Mary Ann (Charlize Theron) yang juga seorang pekerja keras. Kevin dan Mary Ann sama-sama sibuk pada pekerjaan masing-masing hingga impian mereka untuk memiliki anak belum tercapai.

Keberuntungan menghampiri Kevin ketika suatu saat setelah memenangkan kasus pelecehan murid oleh gurunya di pengadilan, (he felt weird about the case, because at some point he pretty sure that his client is guilty but his mind won’t let him lose the case so he tried to distort the fact and voila, he won!) ia mendapatkan tawaran pekerjaan dari sebuah kantor pengacara di New York. Kantor itu memakai nama tiga orang partner, Milton-Chadwick-Waters yang meski belum pernah didengarnya ternyata merupakan sebuah kantor pengacara bonafide. Untuk tawaran pekerjaan memilih juri saja Kevin mendapatkan fasilitas dan pelayanan nomor satu sebagai imbalannya. Siapa yang tidak tergoda dengan tawaran sedemikian menggiurkan seperti itu? Akhirnya, meski Alice sempat ragu mendukung keputusannya, Kevin dan Mary Ann menerima tawaran itu dan pergi ke New York. Sesampainya di New York, semudah membalikkan telapak tangan Kevin membantu tim pengacara memilih juri yang akhinya memenangkan kasus yang diperkarakan. Melihat bakat dan kemampuan Kevin, John Milton (Al Pacino) langsung tertarik untuk merekrut Kevin dan memberinya satu kasus mudah yang disadari Kevin hanya sebagai tes dari Milton. Meskipun begitu, dengan sifat perfeksionisnya Kevin mempersiapkan pembelaan untuk kasus ini begitu matang dan tentunya lagi-lagi ia memenagkan kasus tersebut.

Kevin semakin mendapat simpati Milton dan ia pun menerima sebuah kasus pembunuhan tingkat tiga yang biasa ditangani oleh pengacara dengan jam terbang tinggi seperti Eddie Barzoon (Jeffrey Jones). Dalam waktu cukup singkat, Kevin menemukan musuh barunya, Eddie yang cemburu atas keberpihakkan Milton pada Kevin, terutama setelah Kevin memenangkan kasus pembunuhan itu dan diangkat menjadi partner. Kasus pembunuhan itu sendiri menyita habis seluruh perhatian, waktu, dan tenaga Kevin hingga ia membiarkan Mary Ann dalam kesepian. Hubungan mereka berdua menjadi semakin berjarak, Kevin mulai terdistraksi dengan pesona rekannya di kantor, Christabella Andreoli (Connie Nielsen), sementara Mary Ann sendiri semakin tidak nyaman dengan khidupan New York yang aneh, menakutkan, dan dikelilingi iblis. Mary Ann semakin hari semakin sering mengalami halusinasi, mimpi, dan mengucapkan kata-kata yang tak dimengerti Kevin sehingga membuatnya semakin stress di tengah pekerjaan beratnya menghadapi kasus pembunuhan. Milton sendiri telah mengingatkan Kevin akan tekanan yang ia harus hadapi bila menerima tawaran kerja darinya. Bahkan ketika melihat Kevin kewalahan mengurus kasus dan istrinya yang semakin sakit, Milton menyarankan Kevin untuk melepaskan kasus pembunuhan itu, dan pulang ke rumah mengurus istrinya. Tapi bagi Kevin yang menganggap berhenti di tengah jalan sama saja dengan kekalahan (and he doesn’t give a sh*t to lose), ide untuk meninggalkan kasus itu saja tak pernah ada dalam pikirannya. Akhirnya, meski untuk kali kedua ia ragu dengan kesaksian kliennya sendiri, Kevin mampu menyakinkan para juri dan memenangkan kasus tersebut.

Harga mahal harus dibayar Kevin untuk ambisi kemenangannya. Kondisi kejiawaan Mary Ann semakin memburuk bahkan Kevin menemukan istrinya itu penuh luka di sekujur tubuhnya dan memasukkannya ke rumah sakit jiwa agar Mary tidak melukai dirinya sendiri. Ada sesuatu yang diketahui Mary Ann tetapi ketika ia memberitahu suaminya, Kevin menganggap Mary Annmengucapkan hal-hal irasional yang tak dimengerti olehnya. Keadaan menjadi semakin janggal ketika semakin banyak orang-orang di sekitar Kevin menderita sementara ia sendiri terus meraup kemenangan demi kemenangan. Akhirnya, Alice mengungkapkan satu rahasia besar yang dapat menjelaskan semua keadaan ini, bahwa ayah Kevin adalah setan dan ia bermaksud mengendalikan kehidupan manusia melalui bantuan Kevin. Selama ini hidup Kevin dimudahkan oleh sang setan, kini setan itu berniat meminta imbalan. Mengetahui hal ini, Kevin mencoba berpikir lebih jernih mengesampingkan keinginan pribadinya, bersiap "membalas" kebaikan hati sang setan, dan segalanya pun berubah.

Menyimak dari segi ide cerita, hubungan antara manusia dengan setan bukanlah sesuatu yang baru. Plot The Devil’s Advocate yang naskahnya diangkat dari novel dengan judul yang sama buah pena Andrew Neiderman ini cukup sederhana dan karakter-karakternya sanga mudah ditebak. Penonton akan dengan cepat menemukan siapa sebenarnya Kevin, Mary Ann, dan Milton serta dapat mengetahui dengan pasti siapa yang jahat (dalam hal ini siapa sang setan sebenarnya), siapa yang menjadi korban, trik apa yang dilakukan setan untuk memperdaya korbannya. Meski begitu, cerita dalam film ini memiliki twist yang menurut saya cukup sulit diperkirakan. Tetapi secara keseluruhan tidak ada yang spesial dari alur ceritanya. Karena karakter danalur cerita lurus yang dapat dengan mudah diprediksi, ketegangan dalam menonton The Devil’s Advocate hanya tersisa pada tampilan-tampilan menyeramkan seperti halnya ilm horror lain, misalnya adegan saat Mary Ann menemukan bayi yang sedang bermain dengan ovarium dirinya, wajah-wajah setan yang berkedok para wanita, atau luka-luka di tubuh Mary Ann. Selebihnya, cerita The Devil’s Advocate dapat dikatakan basi.

Aspek yang dapat dikatakan cukup menarik dalam film berdurasi 144 menit ini adalah penyutradaraan Taylor Hackford (Ray, Bound by Honor) yang fokus pada detail. Bekerja sama dengan production designer Bruno Robeo dan sinematografer sekaligus director of photography Andrzej Bartkowiak, Hackford menyajikan gambar-gambar yang cukup menyeramkan. Misalnya setting dari ruang kantor dan tempat tinggal Milton yang minimal perabotan tetapi penuh dengan simbol misterius, seperti pahatan yang menyerupai wajah orang, pintu otomatis, dan api dalam ruangan yang tak pernah padam. Api itu menimbulkan efek warna merah di wajah orang, contohnya dalam adegan akhir ketika Milton menyatakan keinginan sesungguhnya pada Kevin., wajah Milton menjadi semerah api, persis gambaran umum mengenai setan. Selain itu, untuk menggambarkan kejanggalan-kejanggalan yang diabaikan Kevin seiring waktu berlalu, Hackford dan kawan-kawan sering mengambil gambar awan yang berarak dan lalu lintas yang dicepatkan. Sementara untuk efek dramatis, slow motion digunakan, seperti dalam adegan detik-detik sebelum Eddie Barzoon menemui ajalnya saat sedang lari pagi. Sementara Milton berbicara panjang lebar mengenai keburukan Eddie, gerakan lari Eddie semakin melambat.

Dari segi peran, Al Pacino yang sangat khas dengan kemampuan bersikap santai, natural, bijak dan di saat bersamaan gerak mata yang menyelidik, senyum yang misterius, serta kata-kata yang tak dimengerti menjadikan penampilannya menonjol dalam film ini. Warna suara dan tawa Al Pacino memang sangat memerankan tokoh manipulative seperti Milton. Charlize Theron bagi saya juga menunjukkan penampilan berkualitasnya sebagai wanita depresif, putus asa, dan tak berdaya dengan lingkar mata yang selalu merah, air mata yang berlinang, dan sikap fragile yang ia tunjukkan membuat karakter Mary Anna menjadi sangat dikasihani. Sebagai informasi, Theron juga berani tampil tanpa sehelai benang pun dalam adegan ini dan memperlihatkan setiap centi tubuhnya dengan pengambilan gambar tampak depan. Film ini sendiri memang penuh dengan adegan-adegan dewasa dan darah.

Secara keseluruhan, The Devil’s Advocate memberikan tontonan yang menjemukan di mana penonton dapat menebak satu langkah di depan alur cerita selanjutnya, efek suara dan dialog yang pretensius, dan mendengar Keanu Reeves berteriak-teriak hamper di setiap ruang sidang yang membuat perannya agak sedikit berlebihan. Ceritanya sendiri tidak seseram film horror lain seperti Insidious (2010) atau The Exorcist (1973). Lagipula jika dipikir-pikir lagi, setan dalam film ini bisa dibilang baik hati, memperingatkan manusia terlebih dahulu sebelum benar-benar jatuh ke dalam lingkaran setan hihihi. It’s not thrill enough, 2.5 stars out of 5. Ada yang punya komentar?


Watch this if you liked:
Rosemary's Baby (1968)

Director: Roman Polanski
Stars: Mia Farrow, John Cassavetes, Ruth Gordon
Genre: Drama, Horror, Mystery
Runtime: 136 minutes

Don't Look Now (1973)

Director: Nicolas Roeg
Stars: Julie Christie, Donald Sutherland, Hilary Mason
Genre: Drama, Horror, Mystery
Runtime: 110 minutes

Kamis, 10 Januari 2013

The Usual Suspects: You've Been Fooled!

"The greatest trick the devil ever pulled was convincing the world he didn't exist . And like that, poof. He's gone”.

Dengan mengutip Charles Baudelaire, Roger “Verbal” Kint (Kevin Spacey) mendeskripsikan penjahat paling ditakuti, Keyser Soze. Tak ada yang tahu apakah Keyser Soze tokoh nyata atau bukan, tetapi yang jelas semua orang takut padanya. Verbal Kint sendiri mengaku ia percaya Tuhan, tetapi satu-satunya hal yang ia takuti adalah Keyser Soze. Verbal memberikan analogi yang begitu unik dan membekas di hati dan kepala penonton bahkan hingga kredit akhir dalam The Usual Suspects (1995) berakhir ditayangkan.

Diawali adegan yang memperlihatkan siluet seseorang membakar dan menembak seorang laki-laki, pembuka tersebut memberikan stimulus kuat pada penonton. Pertanyaan langsung timbul di kepala setiap orang: siapa siluet misterius itu, siapa laki-laki yang ditembaknya, dan mengapa ia ditembak. Berikutnya, penonton diberikan gambaran yang lebih luas bahwa adegan tersebut terjadi di dek sebuah kapal yang masih bersandar di pelabuhan dan diduga kejadian tersebut berkaitan dengan transaksi jual beli narkoba. Laki-laki yang ditembak itu bernama Dean Keaton (Gabriel Byrne). Dua orang dari dua instansi berbeda secara terpisah mengusut kasus ini, yaitu Dave Kujan (Chazz Palminteri) dari Kepabeanan AS dan Jack Baer (Giancarlo Esposito) dari FBI. Cerita selanjutnya mengetengahkan upaya mereka berdua dalam menginterogasi dua korban selamat dari kebakaran dan penembakan di kapal itu, yaitu Roger “Verbal” Kint (Kevin Spacey) dan Arkosh Kovash (Morgan Hunter). Verbal Kint ditangani Kujan sementara Arkosh Kovash diinterogasi Baer di rumah sakit karena pria Hungaria itu menderita luka berat.

Dengan kondisi tubuh mengalami luka bakar hebat, Arkosh Kovash menyebut-nyebut nama Keyser Soze, seseorang yang diduga menjadi dalang kejadian di kapal. Baer kemudian meminta Kovash memberikan detail ciri-ciri fisik Keyser Soze sehingga dapat dibuatkan sketsa wajah. Di dunia kriminal sendiri, nama Keyser Soze ibarat sebuah mitos yang mampu menakut-nakuti penjahat-penjahat kelas teri, namun tak ada seorang pun yang tahu kebenaran mitos tersebut.

Di tempat terpisah, Verbal Kint yang telah memberikan kesaksian yang kurang meyakinkan dipaksa oleh Kujan memberikan keterangan sebenarnya mengenai apa yang terjadi dia atas kapal itu dan siapa yang terlibat. Dengan sedikit ragu (tidak, arogan lebih tepatnya karena Verbal memiliki posisi tawar lebih tinggi daripada Kujan setelah ia menerima imunitas atas kasus di kapal itu), Verbal menceritakan ihwal kejadian di atas kebakaran dan penembakan di kapal. Cerita Verbal berawal dari bertemunya lima penjahat yang ditahan bersamaan atas tuduhan pembajakan sebuah kendaraan. Lima orang itu adalah Keaton, Michael McManus (Stephen Baldwin), Fred Fenster (Benicio Del Toro), Todd Hockney (Kevin Pollak), dan Verbal sendiri. Meksi akhirnya polisi tidak mendapatkan cukup bukti untuk menahan mereka berlima, namun penangkapan dan penahanan mereka selama semalam membuahkan kesepakatan kerja sama untuk melakukan tindak kriminal. Setelah berhasil merampok dari bisnis polisi-polisi korup New York, mereka mendapat tawaran pekerjaan lain yang ternyata sebah jebakan yang dirancang oleh seorang pengacara bernama Kobayashi (Pete Postlethwaite) agar mereka berlima mau menerima pekerjaan dari bosnya, Keyser Soze. Pekerjaan itu bukanlah sesuatu yang dapat dinegosiasikan, sebab mereka memang harus menyelesaikan pekerjaan tersebut. Bila berhasil, mereka akan mendapatkan imbalan, tetapi mereka tidak boleh menolak atau kabur dari pekerjaan tersebut, sebab Keyser Soze adalah orang berkuasa yang mengetahui seluk-beluk kehidupan mereka berlima dan dapat melakukan apa saja yang membuat mereka patuh pada perintahnya. Perintah Keyser Soze tersebut semakin terbukti tidak main-main ketika Fenster yang mencoba melarikan diri tewas dibunuh Kobayashi. Tetapi itu tidak mematahkan semangat empat penjahat yang tersisa ini untuk melarikan diri dari jeratan Kobayashi yang mereka duga adalah Keyser Soze. Namun, usaha mereka itu hanya menemukan ancaman yang lain dari Kobayashi, sehingga dengan berat hati mereka menerima pekerjaan itu dengan segala risikonya.

Pekerjaan Verbal, Keaton, McManus, dan Hockney sebenarnya cukup sederhana: menggagalkan transaksi jual-beli narkoba dari gang Argentina pesaing Keyser Soze yang juga memiliki lahan bisnis narkotika. Transaksi itu akan dilakukan di atas sebuah kapal. Mereka berempat pun mengatur strategi: Hockney menangani perampokan uang yang akan digunakan dalam transaksi itu, Keaton dan McManus membantai anggota gang penjual dan pembeli narkoba, serta Verbal diberi tugas oleh Keaton untuk berjaga-jaga dan membawa uang transaksi itu ke Edie Finneran (Suzy Amis), kekasih Keaton yang merupakan seorang pengacara bila sesuatu terjadi pada Keaton dan yang lainnya. Nyawa demi nyawa tercabut di ujung senapan Keaton dan McManus, tetapi mereka berdua tak juga menemukan narkoba yang dimaksud Keyser Sozan. Sementara itu McManus dan Hockney tewas secara misterius dan seseorang yang tak dikenali wajahnya menembak seorang anggota gang Argentina, Keaton, dan akhirnya membakar kapal tersebut. Setelah mendengar penjelasan Verbal, Kujan menduga kuat bahwa Keaton adalah Keyser Sozan mengingat kelicikan yang pernah ia buat sebelumnya, berpura-pura mati padahal hanya melarikan diri beberapa saat untuk menghindari tuntutan atas aksi kriminalnya. Terkejut, Verbal pun meninggalkan kantor polisi itu dan Kujan merasa yakin akan kesimpulannya meski akhirnya ia menemukan sebuah fakta mengejutkan yang tak pernah ia kira sebelumnya.

The Usual Suspects menggambarkan cara kerja dunia manusia. Di dunia manusia yang penuh dengan ketidaksempurnaan, berlaku satu hukum umum: tidak semua orang jahat mau mengakui perbuatannya. Bahkan sebuah lelucon yang sering kita dengar, jika semua penjahat mengaku maka penjara akan penuh, ternyata ada benarnya juga, sebab hingga kini badan-badan penegak hukum tetap berdiri kokoh menagani kasus-kasus kejahatan di seluruh dunia. Jika semua orang di dunia ini bersedia mengakui kejahatannya dengan sukarela, maka badan-badan tersebut tidak akan pernah eksis. Semua itu karena manusia memiliki dua sisi kehidupan, ada yang hitam maupun putih, ada yang baik maupun jahat, just like yin and yang. Sifat-sifat itu saling melengkapi dan menyeimbangkan satu sama lain. Orang yang baik akan selalu menjadi musuh bagi orang jahat dan sebaliknya. Jika menggunakan kacamata struktural fungsional, seseorang bisa dinilai baik kalau ada indikator perbuatan buruk. Jadi, kejahatan itu sebenarnya memiliki manfaat tersendiri. Namun, seiring dengan waktu, penjahat dan tindak kejahatannya semakin pintar mengelabui aparat penegak hukum sehingga acapkali penanganan sebuah tindak kejahatan menjadi rumit.

Dalam The Usual Suspects, tokoh penjahat tidak hanya sekedar mengelabui penegak hukum, tetapi lebih dari itu ia mampu meyakinkan bahwa penjahat sang penjahat tidak pernah ada dan hanya mitos belaka. Hanya penjahat jenius yang mampu melakukannya, dan Keyser Soze merupakan karakter yang berhasil digambarkan demikian. Dengan cerdas, penulis naskah Christopher McQuarrie menciptakan karakter Keyser Soze yang tersembunyi di pelupuk mata. Ia “hanya muncul” di akhir cerita meski sebenarnya kunci seluruh jalinan cerita itu sendiri ada ditangannya. Dengan gaya penceritaan naratif kilas balik, penonton dijamin tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk lengah sedikitpun sebab setiap keping cerita Verbal saling menyambung dengan cerita berikutnya, membuat pengalaman menonton film berdurasi 106 menit menjadi terasa film terpendek yang pernah Anda tonton. Alur cerita yang dikisahkan Verbal seakan tanpa henti, bergerak dengan cepat, saling mendukung antara satu kisah ke kisah lain: mulai dari awal pertemuan lima penjahat yang ternyata memang direncanakan oleh sang iblis Keyser Soze, “mitos” seputar Keyser Soze, perjalanan kriminal lima orang penjahat itu dalam menjalankan perintah Keyser Soze, adegan tembak-menembak di akhir-akhir film, hingga twist paling memorable yang menguak siapa sebenarnya Keyser Soze.

McQuarrie pada dasarnya juga tidak menempatkan penonton pada posisi yang tidak mengetahui apa-apa, karena sebenarnya ia dan sutradara Bryan Singer (Valkyrie, X-Men) tidak memberikan banyak detail yang membingungkan. Sepanjang film, cerita yang diungkapkan Verbal dapat diikuti sepenuhnya oleh penonton tanpa menemukan banyak pertanyaan. Hanya saja bagi saya (dan mungkin Anda penggemar genre crime dan thriller) prinsip untuk jangan memercayai siapapun tetap berlaku, terutama bagi tokoh yang menjadi satu-satunya orang yang selamat dari suatu kejadian besar sangat patut dipertanyakan. Di sinilah menurut saya kejeniusan dua sineas yang melakukan kolaborasi kedua di Valkyrie itu, mereka mampu meracik dan menampilkan cerita mengenai tokoh misterius tetapi sebenarnya penonton sudah memiliki bayangan dan tebakan sendiri dalam alam pikirannya siapa sebenarnya Keyser Soze. Dugaan atau tebakan itu pada awalnya terkesan tidak cukup kuat dan memerlukan bukti-bukti lain untuk lebih meyakinkan, sehingga penonton tetap “diseret” untuk mendengarkan kisah Verbal yang sangat interaktif. Terkadang dugaan penonton akan sedikit goyah atau malah menghilang sama sekali dan pasrah menunggu akhir cerita.

Dari segi penyutradaraan, Singer sangat sukses memaku penonton di kursinya dengan tensi cerita yang tak pernah turun sepanjang film. Fast-paced dialogue-and-storytelling menjadi ramuan andalan Singer dalam menciptakan ketegangan dan penasaran pada penonton. Suasana ketika Verbal membeberkan ceritanya (saya tidak menyebutnya kesaksian karena Kuja tidak memiliki wewenang resmi untuk menginterogasi Verbal) begitu intensif. Setelah Verbal menyelesaikan satu potong ceritanya, Kujan selalu memberikan respon, baik berupa pertanyaan balik, rasa tidak percaya, kagum, kaget, atau sekedar senyuman. Terkadang Kujan langsung memotong cerita Verbal jika ia merasa perlu mengonfrontasi dengan pengetahuan yang dimilikinya. Singer mampu menampilkan percakapan dua orang dalam satu ruang kantor yang dibilang monoton dan kecil ini menjadi penuh dengan warna, terkadang Kujan membentak dan berteriak pada Verbal, di waktu lain Kujan terhanyut dalam cerita Verbal, terkadang Verbal menujukkan sikap arogannya.

Dalam hal sinematografi, Singer dikenal sebagai sutradara stylistic yang senang bereksperimen dengan permainan warna dan penentuan latar. Dalam The Usual Suspects, Singer memilih warna-warna gelap dalam sebagian besar aksi kriminal lima penjahat yang diceritakan Verbal. Warna-warna gelap itu dapat langsung dilihat penonton dari adegan awal di kapal, penangkapan lima penjahat, penahanan lima penjahat, pembunuhan Fenster di pantai, kantor di mana Verbal menceritakan kisahnya, dan masih banyak lagi. Sementara itu dari segi pengambilan gambar Singer hampir selalu menggerakkan kamera untuk menyorot keseluruhan situasi dalam satu adegan, seolah ia ingin menempatkan penonton hanya senagai saksi dari peristiwa yang terjadi, bukan sebagai karakter yang ikut berperan dalam peristiwa itu. Sebagai contoh, ketika lima penjahat itu melancarkan serangan dalam transaksi jual-beli (yang mereka kira) perhiasan, kamera secara bergantian menyorot Verbal yang menodongkan senjata dan penjual perhiasan yang terancam pucuk pistol Verbal. Pergerakan kamera itu cepat dan dapat dirasakan jelas oleh penonton. Dalam literatur, karakter Keyser Soze yang merupakan antihero tersembunyi, perkembangan plot cerita yang menguak siapa sebenarnya Keyser Soze, serta permainan warna-warna gelap sering disebut film noirs. Para akademisi perfilman sendiri sebenarnya tidak menemukan definisi seragam mengenai apa itu film noirs, termasuk apakan film noirs itu genre atau bukan, tetapi The Usual Suspects ini memiliki ciri spesifik yang mirip dengan film-film bertema kriminal tahun 1970-an yang dianggap senagai film noirs.

Dari departemen akting, sulit membayangkan bila tokoh Verbal digantikan dengan pemain lain selain Kevin Spacey. Spacey mampu membawakan tokoh Verbal dengan brilian menjadi karakter yang fragile, jinak, patut dikasihani, di balik sifat dingin yang menjadi watak sesungguhnya. Gaya bercerita Spacey ketika memerankan Verbal juga sangat ekspresif, hal itu terlihat jelas ketika ia mengutip Charles Baudelaire yang pada akhirnya akan terus melekat di benak penonton. Anugerah Oscar untuk Spacey sebagai Best Actor in a Supporting Role sangat pantas diberikan. Selain Spacey, film yang disesaki dengan ensemble cast ini sangat menarik disimak, mulai dari Baldwin, pemeran McManus yang tempramental; Byrne, pemeran Keaton sang ketua dari lima penjahat (ia selalu tampak paling serius, bijaksana, penuh perhitungan, dan agak sulit ditebak pemikirannya); Pollak, pemeran Hockney yang ahli membajak, hingga akting Benicio del Toro yang meski terbilang minor sebagai Fenster, ia tetap dapat membawakan karakternya prominent karena gaya bicara lucu Spanglish-nya yang amburadul dan bahkan hampir tak bisa dimengerti. Penampilan Postlethwaite juga tak kalah hebatnya. Karakter Kobayashi nampaknya memang dijadikan pengecoh bagi penonton dalam menebak siapa sebenarnya Keyser Soze, dan untuk tujuan ini, Postlethwaite sangat berhasil karena sikap dingin, tidak ekspresif, sekaligus punya banyak akal dan cara membuatnya tampak seperti orang yang benar-benar memiliki kekuasaan. Jangan lupakan pula performa Palminteri yang mampu mengisi ruang kantor yang sempit dan monoton dengan intensitas interogasi yang naik dan turun, selalu berhasil menstimulasi penonton.

Bagi saya, The Usual Suspects tak diragukan lagi merupakan one of the best crime dramas ever made. Saya tidak peduli pada banyaknya orang yang mengatakan bahwa film ini sampah karena seluruh ceritanya terkesan tidak berguna karena intinya ada pada twist atau pada komentar Roger Ebert yang mengatakan bahwa seharusnya plot lebih diarahkan pada perkembangan karakter lima penjahat, saya tetap akan memberikan film ini 5 dari 5 bintang. Ada yang pnya komentar?


Watch this if you liked:
Reservoir Dogs (1992)

Director: Quentin Trantino
Stars: Harvey Keitel, Tim Roth, Michael Madsen
Genre: Thriller
Runtime: 99 minutes

To Catch a Thief (1955)

Director: Alfred Hitchcock
Stars: Cary Grant, Grace Kelly, Jessie Royce Landis
Genre: Mystery, Romance
Runtime: 106 minutes