Friday, August 3, 2012

La Vita è Bella (Life is Beautiful): Buatlah Orang Tertawa Sampai Mati

Peristiwa pahit tak harus melulu berbicara mengenai kepedihan, penderitaan, tangis, atau duka. Jika kita mau dan mampu, bisa saja peristiwa menyedihkan itu dibungkus canda tawa dan lelucon konyol agar mengurangi rasa pahit yang muncul. Memang tidak mudah, tetapi seperti itulah Roberto Benigni membuat sebuah kisah luar biasa dalam La Vita è Bella (Life is Beautiful) (1997). Bagi saya, film ini benar-benar jenius dalam mendampingkan dua hal kontradiktif, antara komedi dengan sejarah memilukan. Eksperimen tersebut ternyata membuahkan hasil yang sempurna, sebuah kisah tentang bagaimana humor dapat mengatasi masalah, bahkan prahara.

Film ini terbagi dalam dua babak. Pada babak pertama yang berlatar Italia pra-perang dunia II, dikisahkan Guido Orefice (Benigni) mengunjungi Eliseo (Giustino Durano), pamannya yang telah puluhan tahun menjadi kepala pelayan sebuah hotel mewah untuk membantunya menjadi pelayan di hotel tersebut. Guido adalah seorang Yahudi yang penuh dengan kekonyolan sekaligus berkharisma. Selama berada di kota sang paman, ia bertemu Dora (Nicoletta Braschi) seorang guru sekolah lokal yang cantik dan sedang dalam proses perjodohan dengan seorang birokrat. Sejak pertemuan pertamanya dengan Dora, ia langsung jatuh cinta dan berusaha untuk terus mendekatinya, tentu dengan berjuta lelucon yang dimilikinya.

Pada bagian pertama film ini, penonton seperti sedang menyaksikan aksi komedian legendaris Charlie Chaplin. Benigni yang juga duduk di kursi sutradara sangat mumpuni membawakan karakter Guido yang digambarkan selalu memiliki banyak ide, pandai merayu, dan pantang menyerah. Celotehan dan aksi konyol Guido terasa segar dan tak henti-hentinya mengocok perut penonton. Bahkan, dalam beberapa kesempatan Guido dapat menciptakan lelucon dari filsuf seperti Schopenhauer yang tentu saja menambah kekonyolan aksinya. Pada bagian ini pula penonton dapat melihat bagaimana gambaran Italia pra-perang dunia II, di mana pengaruh Nazi Jerman mulai terlihat dengan diagungkannya ras Arya serta poster-poster pemimpin fasis dan Nazi di dinding bangunan-bangunan kota. Memang, sepertinya Benigni ingin menyamarkan detil suasana demikian pada bagian pertama dan lebih memfokuskan penonton pada kelucuan Guido. Namun, pada dasarnya detil itu telah disiapkan dengan cermat dan menjadi berlawanan ketika penonton menyadari bahwa Guido yang seorang Yahudi masih sempat bertingkah laku konyol di tengah propaganda anti-Yahudi masa itu.

Bagian pertama tersebut menunjukkan bahwa hidup memang terasa indah bagi Guido. Berbagai masalah memang kerap muncul seperti perbedaan agama antara dirinya dengan Dora, perbedaan kelas sosian antara dirinya dan Dora, dan hubungan Guido dengan Dora yang tak pernah direstui ibu Dora. Namunm, dengan hati yang baik, kerja keras, dan pantang menyerah (plus tons of prayers if you're believer), Guido menunjukkan pada kita bahwa manusia dapat meraih apapun yang diinginkannya. Kehidupan Guido menjadi tampak semakin sempurna berkat antusiasmenya yang tak berbatas, optimisme yang menginspirasi orang lain, dan menikmati hari-hari dalam kehidupan bahagianya.

Babak kedua dimulai ketika Guido berhasil meminang Dora menjadi istrinya dan mereka memiliki seorang anak yang lucu dan cerdas, Giosué (Giorgio Cantarini). Kebahagiaan keluarga hanya dirasakan sebentar oleh Guido hingga pada suatu hari pasukan Nazi menciduk dirinya dan Giosué dan mengirim mereka ke kamp konsentrasi khusus Yahudi. Di sinilah kisah getir Guido dimulai. Sebagai seorang ayah, apa yang harus dijelaskannya pada anaknya yang masih kecil? Giosué masih terlalu hijau untuk mengetahui bahwa dunia ini kejam, licik, berbahaya, bahkan manusia dapat menyerang satu sama lain demi kepentingan sepihak. Ia masih terlalu dini untuk mengetahui bahwa tak semua orang memiliki sifat sama seperti ayahnya yang lucu dan baik hati.

Beruntunglah ide konyol Guido tak hilang dalam keadaan gawat tersebut. Dengan pahit dan sedih yang disembunyikan rapat-rapat di balik relung jiwanya, Guido menciptakan sebuah cerita tentang permainan menarik pada Giosué, dan berkata bahwa mereka harus berjuang hingga menjadi pemenang. Kerja paksa, teriakan, kamar gas, tembakan menjadi akrab di telinga Guido, namun ia tak rela anaknya juga ikut merasakan hal demikian, maka ia selalu mengajarkan Giosué untuk bersembunyi. Keselamatan anak dan istrinya selalu menjadi motivasi bagi Guido untuk tidak putus asa dan berhenti berusaha mencari cara melarikan diri dari kamp konsentrasi. Cerita palsu yang ia kisahkan pun, merupakan pelarian hati dan pikirannya agar tetap semnagat menjalani kehidupan, karena masih ada anak dan istrinya yang menunggu diselamatkan.

Pada bagian kedua, penonton akan mendapati dirinya trenyuh melihat perjuangan dan pengorbanan Guido untuk menyelamatkan anaknya. Bahkan di sini mungkin penonton tidak lagi dapat tertawa mendengar lelucon Guido, melainkan mentikkan air mata, sebab di balik semua humor itu terdapat perasaan takut dan kerapuhan seorang ayah untuk melindungi anaknya. Namun, dengan kelucuan itulah akhirnya Giosué dapat mengenang pengorbanan ayahnya. Penonton pun dapat mengambil hikmah bahwa dalam situasi apa pun, melindungi orang terkasih adalah sesuatu yang menyenangkan. Guido contohnya, ia tetap bisa membuat orang lain tertawa bahkan hingga akhir hayatnya. Melakukan segala upaya demi orang-orang yang kita cintai akan membahagiakan jiwa, bahkan jika kita mengetahui apa akibatnya. It's 5 out of 5 stars for me. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:

The English Patient (1996)

Director: Anthony Minghella
Stars: Ralph Fiennes, Juliette Binoche, Willem Dafoe
Genre: Drama, Romance, War
Runtime: 162 minutes

Schindler's List (1993)

Director: Steven Spielberg
Stars: Liam Neeson, Ralph Fiennes, Ben Kingsley
Genre: Biography, Drama, History
Runtime: 195 minutes

1 comment:

  1. tertawa sedih di waktu bersamaan nonton film ini, Roberto Benigni emang juara

    ReplyDelete