Tuesday, December 17, 2013

Invictus: Captain of Many Souls

Pada tanggal 16 Oktober 1946, sepuluh anggota Nazi dieksekusi mati berdasarkan putusan pengadilan Nuremberg. Pengadilan yang diselenggarakan atas inisiatif Sekutu itu membuktikan bahwa mereka bersalah atas kejahatan genosida dan divonis hukum gantung. Putusan pengadilan tersebut disambut meriah oleh keluarga korban, sebagian besar penduduk Eropa yang pernah merasakan kejamnya masa pendudukan Nazi, pemerintah negara-negara Sekutu, dan seluruh umat manusia di dunia yang mendambakan keadilan. Pengadilan Nuremberg sendiri disebut-sebut sebagai tonggak sejarah dalam upaya penegakan hukum atas kejahatan kemanusiaan, sarana untuk melindungi harkat dan martabat manusia dari kekejaman manusia lainnya. Hampir setengah abad kemudian, sebuah bangsa yang telah lama terinjak-injak di bawah penindasan saudaranya sendiri sedang berada di persimpangan jalan untuk menentukan akankah mereka melakukan hal yang sama seperti Nuremberg untuk mendapatkan keadilan. Haruskah mereka menghukum semua saudara mereka yang dulu menindas mereka? Akhirnya mereka memilih rute yang berbeda. Mereka menempuh jalan yang mereka anggap lebih beradab. Daripada memikirkan hukuman untuk para penjahat, mereka lebih fokus pada penyembuhan para korban penindasan. Bagi mereka, cara penyembuhan itu adalah dengan mendapatkan rasa adil, dan rasa adil itu dapat tercapai dengan adanya pengakuan bersalah dari para penjahat. Dunia pun mengkritik kebijakan pasifis yang dipandang terlalu lembek dan tidak mencerminkan keadilan sama sekali. Tetapi bangsa itu tidak bergeming, tetap yakin pada pendekatan damai yang ditempuhnya. Bangsa itu adalah warga Afrika Selatan. Tidak heran mengapa mereka memilih pendekatan damai seperti itu, karena pemimpin demokrasi pertama mereka, Nelson Mandela pun mencerminkan hal serupa untuk menyatukan kembali Afrika Selatan yang terkoyak setelah runtuhnya apartheid. Jejak Mandela dalam upaya mempersatukan kembali bangsa di ujung benua Afrika itu dapat kita saksikan dalam Invictus (2009).

Invictus merupakan satu dari sekian banyak film yang mengangkat biografi Mandela. Masih mengambil tema perjuangan menyatukan kembali Afrika Selatan pasca-apartheid, film ini menyasar sisi lain jasa Mandela dalam memajukan prestasi tim nasional rugby. Presiden Afrika Selatan pertama yang dipilih secara demokratis itu tampaknya memang memiliki segudang cara untuk merestrukturisasi kehidupan sosial masyarakatnya, khususnya melalui pendekatan-pendekatan perdamaian. Sifatnya yang ramah, humoris, dan supel juga membuat pribadi Mandela disenangi banyak orang. Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa Mandela merupakan salah satu simbol Afrika Selatan. Namun seringkali sifat-sifat baik Mandela itu diangkat begitu tinggi hingga menempatkannya seperti orang suci. Dalam film pun hal serupa terjadi, dan Invictus ini adalah salah satunya.

Invictus mengambil latar setahun setelah Mandela (Morgan Freeman) disumpah menjadi Presiden Afrika Selatan. Saat itu Mandela memiliki tugas berat di awal pemerintahannya. Inflasi, kemiskinan, dan kemanan adalah beberapa isu utama yang harus segera dibenahi. Semua masalah itu harus ia selesaikan dalam kondisi masyarakat di negaranya yang masih terpecah. Bekas-bekas apartheid masih sangat terlihat jelas di mana-mana. Sekian lama apartheid membelenggu masyarakat Afrika Selatan, hitam dan putih masih dipisahkan garis begitu tebal di setiap aspek kehidupan. Aroma balas dendam pun tercium sangat menyengat. Euphoria yang melanda warga kulit hitam setelah pelantikan Mandela membuat mereka sangat berambisi melengserkan kulit putih dari berbagai jabatan, mulai dari pemerintahan hingga atlet. Untuk masalah yang terakhir ini, Mandela memiliki pengalaman unik. Sebagai penggemar (dan pemain amatir) rugby, ia tidak pernah sekalipun mendukung tim nasional Afrika Selatan, Springboks. Seperti semua warga kulit hitam lainnya, Mandela juga beranggapan bahwa mendukung Springboks berarti mendukung apartheid. Lagipula, rugby tidak pernah benar-benar menjadi olahraga favorit warga kulit hitam, karena bagi mereka sepak bola selalu menjadi primadona. Tapi itu dulu, ketika ia dipenjara di Pulau Robben selama 27 tahun, ketika ia belum menjadi orang nomor satu Afrika Selatan, ketika ego seorang kulit hitam yang tertindas masih menguasai dirinya. Kini, ketika ia terpilih menjadi presiden, ia berpikir bahwa inilah saatnya menggunakan olahraga sebagai alat pemersatu bangsa. Ia pun sekarang mendukung sepenuhnya Springboks, bahkan di kala mandeknya prestasi tim berseragam hijau-emas itu. Prihatin akan kondisi tersebut, Mandela pun memberikan suntikan motivasi pada Springboks melalui kapten mereka, Fran├žois Pienaar (Matt Damon). 

Sedari awal film dimulai, saya sudah merasa tidak nyaman dengan penekanan karakter Mandela yang serba dan terlalu arif. Bagian awal ini ibarat menyaksikan seorang ayah yang dikelilingi anak-anaknya yang nakal, yang selalu ingin tahu, dan yang selalu bimbang dan butuh nasihat. Semua akan-anak itu mendapatkan jawaban dan pembetulan perilaku dari ayahnya. Ayah itu adalah Mandela dan anak-anaknya antara lain warga kulit putih yang belum percaya dan hormat terhadapnya, sekretaris pribadinya Brenda Mazibuko (Adjoa Andoh), dan kepala pengawal pribadinya Jason Tshabalala (Tony Kgoroge). Bukan bermaksud untuk menodai citra Mandela, tetapi bagi saya akan jauh lebih indah bila sosok Mandela digambarkan sebagai pribadi yang membumi, dalam arti tidak hanya sekedar memperlihatkan ia sebagai sumber kebijaksanaan, inspirasi, bahkan hampir seperti penggambaran manusia sempurna seperti dalam buku-buku Deepak Chopra tetapi juga sebagai sosok yang memiliki krisis, permasalahan hidup, keraguan, atau sebutlah istilah-istilah lain yang dapat menunjukkan bahwa ia adalah manusia biasa. Tunggu dulu, bukankah dalam film ini juga ada adegan di mana Hendrick Booyens (Matt Stern), pengawal Mandela memprovokasinya dengan masalah keluarga dan ada pula Zindzi (Bonnie Henna), putri Mandela yang tampak kurang dekat dengan ayahnya? Ya, tetapi justru dua adegan itu tidak digunakan dengan optimal untuk memperlihatkan masalah pribadi yang dialami Mandela. Naskah yang ditulis Anthony Peckham berdasarkan buku John Carlin berjudul Playing the Enemy: Nelson Mandela and the Game that Made a Nation tidak pernah benar-benar memberikan ruang untuk mengeksplorasi sisi dalam sosok Mandela.

Kondisi serupa juga dialami tokoh Pienaar. Kapten tim nasional rugby Afrika Selatan tersebut diceritakan sebagai anak yang dibesarkan dalam keluarga yang sangat rasis, pendukung apartheid, dan mencela Mandela habis-habisan ketika ia diangkat menjadi presiden. Namun apakah kita menemukan komentar pedas ayah Pienaar (Patrick Lyster) sebelum atau sesudah putranya diundang minum teh oleh presiden? Apakah kita menemukan kesan tinggi hati yang tersembunyi dalam diri sang ayah setelah putranya menuai kesuksesan besar? Jawabannya tidak. Well mungkin Peckham memang tidak tertarik mengeksplorasi pengaruh keluarga terhadap Pienaar, tetapi apakah ia juga tidak tertarik pada pemikiran dan pendapat atlet rugby itu sendiri? Lagi-lagi jawabannya juga tidak. Hal itu tercermin dari kosongnya karakter Pienaar. Ia hanya digambarkan sebagai alat yang digunakan untuk mendengar berbagai petuah (termasuk puisi Invictus karya pujangga William Ernest Henley) dan pengalaman Mandela, sebagai bukti kemuliaan hati, kejeniusan dan kesaktian sang presiden, dan tentu sebagai kapten dalam alur pertandingan final Piala Dunia. Di luar semua itu, Pienaar adalah sosok yang benar-benar misterius. Penonton tidak pernah tahu apa pendapat Pienaar terhadap runtuhnya apartheid, apa motivasinya memenangkan piala dunia, apakah ia percaya pada "ide gila" Mandela untuk menjadikan rugby sebagai alat pemersatu bangsa. Pienaar adalah karakter yang tidak bertransformasi. Berawal sebagai seorang apolitis, Pienaar malah berakhir sebagai penggemar Mandela tanpa sebab yang jelas. Mungkin bagi Peckham film ini adalah biografi Mandela, jika kita mau mengetahui lebih lanjut tentang Pienaar, pergilah ke toko buku dan cari biografinya!

Hal lain yang juga kurang saya suka adalah kadar klise dalam film ini yang dapat dibilang tinggi. Saya berani bertaruh jika ada poling yang menanyakan siapa pemenang Piala Dunia Rugby di akhir film ini pasti tidak ada yang meleset jawabannya. Setelah diperlihatkan serangkaian mentoring yang diberikan Mandela kepada Pienaar, siapa yang tidak bisa menebak akhir cerita film ini? Saya sadar Invictus adalah film biografi sejarah yang tidak mungkin mengubah peristiwa faktual yang telah terjadi, tetapi setidaknya bukankah jauh lebih menghibur bila peristiwa faktual tersebut didramatisasi sedemikian rupa dengan intrik-intrik kehidupan pribadi atau politik sebagai bumbunya? Tentu saja Anda bebas berpendapat, tetapi menurut saya Invictus adalah jenis biografi yang tersesat dan terjebak di tengah lapangan rugby. Ia bukanlah jenis biografi yang banyak berbicara tentang tokoh berpengaruh, melainkan film keluarga biasa bertema olahraga di mana pembuat film ini berharap para penonton akan tertular rasa tegang, semangat, dan pantang menyerah. Mereka berharap pemandangan klasik di mana berbagai kalangan masyarakat menonton satu pertandingan bersama-sama dan pada akhirnya saling berpelukan merayakan kemenangan tim kebanggan mereka menjadi sebuah tontonan megah yang mengharu biru. Hei, bukankah kita pernah merasakannya sewaktu menyaksikan Air Bud (1997)?

Tetapi bagi saya tidak ada yang lebih konyol dari alur "menakut-nakuti" Mandela. Film ini mungkin ingin menyampaikan bahwa pada awal pemerintahan Mandela kondisi masyarakat belum stabil, masih terdapat pergolakan yang menentang dirinya menjadi presiden sehingga keamanan presiden menjadi perhatian serius pemerintah. Namun apa yang tersaji di layar tidak lebih dari sekedar rasa paranoid para pengawal presiden dan kebodohan orang-orang yang entah apa maksudnya sengaja ingin menakuti Mandela. Tengok adegan di bagian awal ketika Mandela yang didampingi dua pengawalnya berlari pagi dan mereka siaga dan curiga tingkat I pada pengantar surat kabar. Ingin melihat yang lebih konyol lagi? Tenang, masih ada adegan saat pilot sebuah pesawat tanpa maksud yang jelas memantau stadion yang menjadi arena pertandingan final Piala Dunia Rugby. Digambarkan sangat mirip dengan teroris, pilot itu pada akhirnya malah hanya membuat sensasi dengan menerbangkan rendah pesawatnya di atas stadion dan puf, dia pun hilang terlupakan, menyisakan segudang keanehan di benak saya. What the heck is this for?

Saya justru lebih menikmati bagian di mana anak-anak nakal, ingin tahu, dan bimbang seperti saya sebut sebelumnya muncul di layar. Adegan-adegan yang memperlihatkan kekhawatiran sekaligus kebencian warga kulit putih terhadap pemerintahan Mandela disajikan cukup provokatif. Adegan di bagian awal film yang memperlihatkan rombongan kendaraan Mandela yang baru saja dibebaskan dari penjara sangat menarik perhatian. Penonton disajikan pemandangan kontras antara para atlet rugby yang tampak sangat sehat dan berotot penuh dengan asupan protein berlatih di lapangan rumput hijau luas bersama pelatih profesional mereka sementara di seberang mereka terhampar lapangan tandus berdebu tempat anak-anak kulit hitam berbadan ceking dan masa depan yang tidak jelas bermain bola dengan riang. Ketika rombongan Mandela melintas, anak-anak tersebut berlarian dan menyambutnya meriah sementara di seberang jalan justru ada satu atlet Springboks tidak tahu siapa yang lewat. Saat ia bertanya pada pelatihnya, ia mendapatkan jawaban kasar, "It is that terrorist, Mandela. They let him out. Remember this day, boys. This is the day our country went to the dogs". Adegan lain yang saya suka adalah saat Brenda meragukan tekad Mandela untuk menjadi rugby alat pemersatu bangsa. Saat itu, Brenda dengan kritis berupaya mengingatkan Mandela bahwa campur tangannya secara langsung dalam urusan olahraga akan mecerminkan kepemimpinan autokratik dan bahwa masih banyak hal lain yang jauh lebih penting diurus. Sata sangat senang ketika Brenda menantang Mandela dengan bertanya, "So this rugby is just political calculation", dan sang presiden pun membalas dengan sangat hati-hati, "It is a human calculation." Selain itu pergesekan di antara para pengawal Mandela juga cukup menarik disimak. Jason, kepala pengawal kepresidenan diceritakan sebagai pekerja yang sangat loyal dan berintegitas, tetapi ia diuji ketika atasannya sendiri meminta dirinya melupakan kekejaman warga kulit putih meski tampaknya ia memiliki masa lalu kelam yang sangat membekas dalam dirinya. "Forgiveness starts here too... Please Jason, try", ucap Mandela dengan kedalaman iba yang tak terperi.

Pada akhirnya, penuturan cerita yang ditulis dan dicita-citakan oleh penulis naskah akan jatuh ke tangan sutradara. Seorang sutradara mungkin memiliki visi dan penafsiran yang berbeda terhadap naskah yang akan ia arahkan. Namun, dalam Invictus sutradara Clint Eastwood (Bird, White Hunter Black Heart) tampaknya berada dalam kepala yang sama dengan Peckham. Eastwood jelas sekali ingin menciptakan sebuah narasi yang tidak bertele-tele atau penuh kiasan mengenai kebesaran seorang Nelson Mandela. Dalam setiap adegan di sepanjang cerita, gaya penuturan transparan sangat mendominasi. Bahkan pada titik tertentu saya merasa Eastwood sangat gregetan ingin terang-terangan menggambarkan sosok Mandela sebagai pahlawan persatuan yang tidak malu-malu atau ragu berkata, "Hei para kulit putih, jangan takut karena kami warga kulit hitam masih bodoh, miskin, dan perlu pertolongan kalian. Ayolah, mari bangun negara ini bersama-sama!" Ia ingin Mandela muncul sebagai oase di tengah rasa takut yang melanda warga kulit putih dan penyejuk ambisi kulit hitam yang terlalu tinggi hingga dapat bersifat destruktif. Sayangnya sebagian besar dari penonton tentu sudah mengenal siapa Mandela, apa saja jasa-jasanya pada Afrika Selatan dan dunia, maupun sikapnya yang sangat pantas dijadikan inspirasi. Dalam medium film, yang penonton ingin lihat dan pahami adalah sisi lain seorang Mandela, dari mana dan bagaimana ia mendapatkan motivasi untuk melakukan apa yang ia lakukan, serta apakah Mandela menganggap dirinya sebagai pribadi yang berharga dan inspiratif?

Akibat penuturan cerita yang terlalu lurus ini, Invictus terasa kurang gres, kurang dramatis, kurang berdimensi, dan bagi seorang penonton kurang dekat atau personal. Invictus seperti sebuah film yang ingin memperkenalkan Mandela sebagai pahlawan dunia, manusia hebat, politikus berpengaruh, bukan sebagai seorang laki-laki pada umumnya yang dapat digunakan sebagai cermin pribadi atau motivator. Meski disesaki dengan dialog-dialog indah dan agak menggerakkan hati, namun Invictus akhirnya hanya menjadi sebuah tontonan yang menggambarkan sosok yang terlalu sempurna, terlalu tinggi kualitasnya, dan terlalu sulit dijadikan teladan. Penonton pun keluar dengan pujian kagum pada Mandela tanpa berniat atau berpikir mereka juga mampu berbuat baik. Di sini, Eastwood seakan merendahkan dan menciutkan nyali penonton, sama halnya dengan Peckham yang telah dengan kejam menganggap bodoh penonton dengan menyajikan akhir cerita yang sangat klise, seolah-olah tidak ada yang dapat menebak tipikal film berbuntut perayaan meriah seperti ini (Tuhan, tolonglah saya!).

Beruntung Freeman dan Damon adalah dua aktor berkualitas yang tidak mudah ternoda dengan segala carut-marut cerita klise. Baik Freeman dan Damon tampak berusaha keras menampilkan sosok Mandela dan Pienaar seotentik mungkin. Saya sangat suka mendengan dua aktor ini berbicara dengan aksen Afrika Selatan. Untuk Freeman sendiri, saya rasa semua orang sependapat bahwa ia adalah aktor yang paling tepat memerankan Mandela. Citra dan aura Freeman sebagai laki-laki ramah, menggugah, dan penuh kebijaksanaan sangat membantunya menonjolkan sosok Mandela. Sangat nyaman melihat Freeman sebagai Mandela berbicara dengan suara patah-patah, berjalan dengan santai tetapi penuh wibawa, dan sesekali melontarkan candaan kepada orang-orang di sekelilingnya. Berbicara tentang suara, saya sangat sangat sangat suka dengan kedalaman suara Freeman saat ia melantunkan baris-baris Invictus. Jika sebelumnya saya sebut film ini kurang dramatis, itu karena salah satu dari sedikit drama film ini hanya ada pada suara Freeman tersebut. Suara tersebut sangat mudah membuat orang terenyuh (tidak heran mengapa ia dipilih menjadi narator kampanye marriage equality karena suaranya yang "sangat manusiawi" ini). Sementara untuk Damon, saya tidak percaya melihat gempalnya otot yang memenuhi sekujur tubuhnya sebagai Pienaar. Padahal sebelumnya dalam The Informant! (2009) Damon harus diet ketat guna memerankan Mark Whitacre yang ramping.

Menutup tulisan ini, saya ingin mengekspresikan ketidakpercayaan saya bahwa Invictus lahir dari tangan seorang sutradara yang satu tahun sebelumnya mempersembahkan sebuah karya yang sangat intriguing, Changeling (2008). Saya tidak tahu entah ke mana semua kesempurnaan, naluri tajam, dan kreativitas Eastwood saat menangani proyek ini. Jika Anda ingin mendengar dialog-dialog indah yang penuh dengan hiasan kata-kata penggerak hati, Invictus adalah jawabannya. Tetapi saya justru sangat berharap Mandela sendiri tidak pernah menyaksikan film ini seumur hidupnya karena ia terlalu membumi untuk menonton gambaran dirinya yang terlalu sempurna dan suci. Mandela adalah sosok besar yang akan selalu dirindukan, because he is the captain of many souls. Namun bagi saya menonton biografinya dalam Invictus tidak akan meninggalkan kesan mendalam. It's unpleasant, 2.5 stars out of  5.

Watch this if you liked:

The Blind Side (2009)

Director: John Lee Hancock
Stars: Quinton Aaron, Sandra Bullock, Tim McGraw
Genre: Biography, Drama, Sport
Runtime: 129 minutes











Goodbye Bafana (2007)

Director: Billie August
Stars: Joseph Fiennes, Dennis Haysbert, Diane Kruger
Genre: Biography, Drama, History
Runtime: 118 minutes











Thursday, December 12, 2013

Paperman: The World Was Built for Two

Dalam hidup ini, kita sering dihadapkan pada dua hal yang saling bertentangan. Tidak jarang untuk dapat terus melanjutkan hidup kita harus memilih satu di antara dua hal bertentangan tersebut. Dari sudut pandang ekstrim, inti dari sistem kerja hidup adalah menentukan pilihan. Bahkan sejak zaman dahulu kala telah lahir ilmu ekonomi, ilmu yang khusus mempelajari perilaku manusia dalam menentukan pilihannya. Menentukan pilihan tidak selalu mudah dilakukan karena kita harus terlebih dahulu menimbang kebaikan dan keburukan masing-masing pilihan. Terkadang karena perbedaan antara pilihan-pilihan tersebut sangat mencolok kita dapat langsung berani mengambil keputusan. Namun tentu saja hidup ini tidak hanya diwarnai dengan hitam dan putih, masih banyak warna-warna lain yang berdiri di antara dua warna tersebut. Begitu pula dengan pilihan, terkadang kita dihadapkan pada kondisi harus memilih pilihan yang sama-sama memiliki kelebihan dan keburukan yang imbang. Dalam kondisi demikian, "memilih" tidak hanya ditafsirkan secara harfiah memihak pada satu pilihan dan mengenyampingkan yang lain, karena selalu ada pilihan untuk mengombinasikan pilihan-pilihan tersebut. Terkadang mengombinasikan dua hal merupakan jawaban yang paling tepat, dan Disney telah membuktikannya ketika memproduksi Paperman (2012).

Paperman merupakan film animasi pendek yang khusus dibuat untuk melengkapi rilisan baru film Disney, Wreck-It Ralph (2012). Film pendek ini mendapatkan banyak pujian karena teknik produksinya yang dapat dikatakan baru dan revolusioner, yaitu menggabungkan gambar dua dimensi buatan tangan dengan grafis tiga dimensi yang dibuat dengan komputer (computer generated). Respon publik pada film pendek ini sangat menggembirakan, bahkan banyak orang mengaku pergi ke bioskop bukan untuk menonton film panjangnya, melainkan demi menyaksikan film pendek ini. Disney memang pernah membuat paket rilisan film panjang dan pendek tiga belas tahun lalu, yaitu The Rescuers Down Under (1990) yang diberi bonus film pendek The Prince and The Pauper (1990), tetapi respon publik tidak sedahsyat Paperman. 

Dituturkan dengan gaya pantomim, Paperman mengisahkan pengalaman seorang pria - dalam kredit disebut sebagai George - untuk mendapatkan cinta dalam hidupnya. George adalah seorang pekerja di kota besar yang tampak kurang bahagia dengan hidupnya. Pada suatu hari yang berangin sambil memegang setumpuk kertas kerja, George menunggu kereta di stasiun untuk pergi ke kantor. Namun tanpa diduga hari itu adalah hari spesial baginya karena ia bertemu seorang wanita - dalam kredit disebut sebagai Meg - yang sangat memikat hatinya. Oh bukan, lebih tepat jika dikatakan wanita itu menimbulkan kesan mendalam dan rasa penasaran yang amat sangat pada diri George setelah bercak bibir merah Meg menempel di selembar kertas kerjanya yang tertiup angin ke wajah cantiknya. Sayangnya sebelum George sempat mengekspresikan perasaannya terhadap becak merah itu Meg sudah keburu pergi melangkahkan kakinya ke dalam kereta yang tidak lama kemudian meninggalkan stasiun. George pun kembali pada hidupnya yang hampa, tetapi tidak sampai ia melihat Meg lagi tepat di seberang gedung kantornya. Untuk menarik perhatian Meg, George membuat satu, dua, tiga ... ratusan pesawat kertas yang hanya berujung pada kegagalan. Namun alangkah terkejut George ketika ratusan pesawat kertas itu membantunya dengan cara yang tak pernah ia kira akan terjadi untuk menemukan sesuatu yang hilang dalam hidupnya.

Film pendek ini sangat membekas dalam diri saya untuk waktu yang lama setelah selesai menontonnya. John Kahrs - sang sutradara - telah menyajikan satu gambaran yang sangat tepat tentang kehampaan hidup masyarakat perkotaan. Meski dari gambar stasiun di mana George dan Meg bertemu penonton dapat menangkap bahwa cerita ini berlatar sekitar tahun '50-an, namun kehidupan masyarakat perkotaan belum banyak berubah hingga masa kini. Masyarakat perkotaan adalah sekumpulan orang yang terjebak dalam rutinitas tak berujung, memerangkap mereka menjadi kumpulan orang-orang dengan karakter individualis, dan pada akhirnya mereka harus mengaku dan menyerah pada diri masing-masing bahwa mereka bukanlah siapa-siapa melainkan manusia-manusia yang menjalani kehidupan hampa. Ya, kehidupan masyarakat perkotaan bersifat abadi dan akan selalu berwajah sama. Ia adalah tipe kehidupan yang tidak dapat disandingkan dengan waktu.
 
Lihatlah bagaimana anak muda generasi masa kini digambarkan. Hampir semua anak muda saat ini terjangkit virus bernama internet semenjak usia dini. Internet adalah medium paling digandrungi untuk mengekspresikan pendapat dan kreativitas. Namun tidak jarang internet pula yang semakin menumpulkan kemampuan bergaul secara di kehidupan sosial nyata. Jangan heran jika terkadang kita punya teman yang sangat terbuka di dunia maya tetapi ternyata ia pasif dalam lingkaran sosialnya. Memang tidak semua anak muda zaman sekarang seperti itu karena sebagian dari mereka dapat memanfaatkan internet untuk mencari peluang, relasi, dan koneksi yang lebih luas. Tetapi percayalah bahwa tidak sedikit anak muda yang menjadi pecandu internet. Mereka lebih memilih berselancar di internet dibanding berinteraksi dengan keluarga atau teman "nyata". Bagi mereka, internet adalah segalanya. Mereka senang dengan berbagai jejaring sosial yang dapat menampung curahan hati dan menarik perhatian orang, mereka senang mempermalukan diri mereka di situs-situs pengunggah video agar dapat tenar secepat merebus mie instan, dan mereka tidak sadar telah menggeser posisi keluarga dan teman jauh ke belakang layar komputer dan alat canggih lainnya. Kemana pun anak muda sekarang pergi, mereka akan selalu terlihat sibuk dengan telepon pintar, tidak mempedulikan keadaan sekeliling mereka yang jauh lebih hidup. Tanpa alat-alat canggih tersebut, banyak anak muda yang merasa "mati gaya". Jika telepon pintar mereka tertinggal di rumah misalnya, mereka hanya akan berdiam diri, melamunkan hal-hal imajinatif dari kondisi sekeliling mereka yang terlihat asing. Akhirnya, mereka hanyalah sekumpulan orang dengan imajinasi berlebihan yang justru menimbulkan rasa kesepian. Di kota besar. Di tengah kerumunan begitu banyak orang sibuk. Di dalam angan-angan hidup bahagia. Ironis. Itulah cerminan masyarakat perkotaan dari dulu hingga sekarang.

Kehidupan perkotaan yang ironis karena banyak orang merasa kesepian di tengah keramaian itulah yang membuat Paperman terasa begitu dekat, personal, dan emosional bagi para penontonnya. Semua orang merasa terhubung, bahkan sebagian dari mereka ada yang seperti bercermin dengan sang tokoh utama. George, seorang pemuda kesepian yang tinggal di kota besar merasa ekspresinya kembali menyala hanya karena sebercak bekas lipstik. Ia pun berimajinasi apakah kehidupan sepinya itu akan berakhir dengan hadirnya wanita yang dengan bercak bibir merahnya saja sudah dapat membuatnya hidup kembali. Ketika Meg pergi secepat ia memasuki hati dan imajinasi George, pria itu merasa kosong dan sakit seperti baru saja dilambungkan tetapi kemudian dijatuhkan dari ketinggian secara tiba-tiba.

Seakan merasa belum puas jika hanya menggambarkan kehidupan masyarakat kota, Kahrs semakin menusuk penonton tepat di jantung dengan ide cerita tentang kemauan dan perjuangan. Dalam Paperman, George memiliki keberanian menerabas segala rintangan untuk mendapatkan Meg, melawan mereka yang berupaya menghalangi niatnya, bahkan mempertaruhkan apa yang ia miliki. Padahal ia sendiri belum kenal siapa Meg sebenarnya, belum mengetahui seperti apa wanita itu dalam kesehariannya, dan apakah ia menyukai George sedalam yang ia rasakan. Ia tidak tahu apakah perjuangannya itu akan berhasil. Bahkan jika Meg mau berkenalan dengannya, George juga tidak tahu apakah hubungan mereka akan terus berlanjut dan berjalan lancar seperti impiannya. Ia hanya mengikuti hati dan intuisinya yang berkata,"Ya! Dialah gadis yang selama ini kucari!" Ia hanya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kedua yang datang padanya ketika melihat Meg di seberang jalan. George merasa bahwa Meg adalah belahan jiwanya, pelengkap dirinya, obat mujarab bagi kehidupannya yang hampa. Singkatnya, George tahu bahwa the world was built for two, dunia ini diciptakan berpasang-pasangan dan ia tengah dalam upaya mencari salah satunya. Dari keberanian George tersebut, Kahrs ingin membangkitkan semangat juang dan kemauan yang sejatinya dimiliki setiap orang, bahkan yang kesepian sekalipun. Kahrs mengajak penonton untuk berani menggali dan mencari letak dua potensi itu dalam diri masing-masing. Sekalipun kita sama sekali tidak tahu apakah usaha kita akan berbuah manis, yang terpenting adalah jangan pernah membuang kesempatan karena ia sangat sulit ditemukan. Hasil adalah akibat dari proses, dan proses itu termasuk keberanian mengambil kesempatan. Jadi ini semua bukan perkara hasil, tetapi bagaimana memanfaatkan kesempatan dengan baik.

Membicarakan Paperman belum lengkap jika tidak membahas aspek visualisasinya yang menawan. Saat menyaksikan film ini saya merasa sangat nyaman menyaksikan gerakan-gerakan yang dilakukan setiap objek yang tampak di layar, baik itu berupa makhluk hidup maupun benda mati. Saya bukan ahli desain grafis, tetapi entah mengapa saya tahu ada sesuatu yang berbeda dari tampilan film pendek ini, sesuatu yang tidak pernah saya lihat sebelumnya dalam film-film animasi lain. Ternyata rahasia dari tampilan memukau Paperman ada pada teknik pembuatan animasi yang baru saja ditemukan oleh Kahrs, yaitu menggabungkan animasi dua dimensi dengan tiga dimensi. Pantas saja saya merasa nyaman melihat gerakan objek-objek di layar, karena film pendek ini menyuguhkan dua sensasi berbeda di saat yang bersamaan. Gambar tubuh George dan Meg dibuat langsung dengan tangan-angan imajinatif dan kreatif para animator. Untuk itu tidak heran jika saat menonton film pendek ini kita dapat merasakan ekspresi yang hidup dari stiap garis-garis dan bentuk-bentuk tubuh dan gerakannya. Gambar dua dimensi tersebut menghadirkan desain indah yang terkesan sangat organik, maksud saya gambar menjadi begitu hidup, lentur, dan tampak alami. Di saat yang sama, penonton juga dapat merasakan kemegahan pemandangan tiga dimensi yang dibuat dengan CG. Pemandangan tersebut terlihat sangat stabil, imajinatif berkat bentuk tiga dimensinya, dan entah mengapa terlihat sangat kokoh. Bagi saya menyaksikan hibridasi teknik pembuatan animasi tersebut di layar merupakan suatu kehormatan untuk mencicipi hasil kreativitas para animator sekaligus mendapatkan pengalaman visual yang sangat membekas di benak. Satu lagi yang paling menonjol terlihat dari film pendek ini adalah warna hitam-putih dengan sedikit sentuhan merah di sepanjang cerita. Warna hitam dan putih tersebut tidak hanya sukses menghadirkan nuansa klasik dan retro dari latar cerita ini, tetapi juga berhasil mewujudkan metafora perasaan terkurung, keterasingan, kesepian, dan kehampaan hidup George di kota besar.

Paperman adalah sebuah persembahan Disney yang sangat menarik. Bukan hanya karena ia telah memberikan secercah harapan baru pada masa depan animasi dua dimensi (seperti kita tahu rumah produksi yang melahirkan Mickey Mouse ini terakhir kali merilis animasi dua dimensi pada The Princess and The Frog (2009)), tetapi juga karena keberhasilannya menemukan kembali makna pilihan hidup, bahwa terkadang menggabungkan dua unsur berlawanan adalah hal yang pantas dicoba. Dengan durasi hanya sekitar 6 menit 30 detik, Paperman telah memperlihatkan pada penonton bahwa kesempatan adalah barang langka yang harus diperjuangkan, tidak peduli bagaimanapun hasil akhirnya. George pun telah membuktikan hal itu. Mungkin alur dan akhir cerita film pendek ini sepintas terlihat klise (dan saya tidak bisa mengatakan tidak), tetapi setidaknya ia mengusung pemahaman yang kita semua sepakati, bahwa tidak ada yang dapat melawan takdir. Saat ia datang menghampiri manusia, maka terjadilah ketentuan takdir itu, seberapapun kita pesimis terhadapnya. Well, terkadang sajian nikmat yang penuh makna tidak harus selalu berasal dari karya seni berdurasi dua-tiga jam. Terkadang 6 menit 30 detik sudah dapat membuat hati kita tersenyum selama berhari-hari. It's great, 5 of 5 stars. Ada yang punya komentar?

Sunday, December 8, 2013

Running Scared: Dazing and Confusing Heroic Story

Sabtu pekan lalu menjadi awan mendung bagi industri perfilman Amerika dan pecinta film di seluruh dunia. Hari Sabtu itu, aktor Paul Walker dikabarkan tewas dalam sebuah kecelakaan mobil tunggal. Paul yang dikenal melalui perannya sebagai Brian O'Conner dalam franchise "Fast and Furious" menjadi penumpang mobil Porsche yang dikendarai temannya setelah menghadiri acara penghimpunan dana untuk amal yang diselenggarakan sebuah organisasi non-profit. Diduga karena kecepatan mobil yang terlalu tinggi, mobil tersebut hilang kendali, menabrak tiang telegraf dan sebuah pohon, hingga menyebabkan mobil itu terbakar dalam waktu seketika. Peristiwa tersebut sangat tragis mengingat seri ketujuh film balapan yang dibintanginya masih dalam proses syuting. Setelah berita tewasnya Paul dikonfirmasi secara resmi oleh agensinya, nasib film tersebut pun dapat dipastikan tidak jelas. Sebagai seorang penikmat film, saya turut berduka atas kabar yang begitu tiba-tiba ini. Paul adalah aktor yang terbilang masih muda. Ia tewas dalam usia 40 tahun, usia di mana banyak orang mengatakan life begins at 40. Untuk mengenang dan menghormati Paul beserta karya-karyanya, saya menyempatkan diri untuk memilih satu film dari deretan filmografi aktor tampan ini, dan terpilihlah Running Scared (2006).

Dilihat dari posternya, semua orang langsung mengerti bahwa film ini mengandung kekerasan dosis tinggi, melibatkan adegan tembak-menembak, dan pertumpahan darah. Namun yang tidak dapat ditebak dari poster tersebut adalah film ini tidak hanya menceritakan satu alur sederhana mengenai kekerasan apapun yang orang kira akan terjadi karena di sini pembuat film sengaja menawarkan menu gado-gado yang sarat akan sub-alur. Sub-alur tersebut tidak selalu berjalan berdampingan, terkadang mereka saling bertabrakan, menindih satu sama lain, bahkan hingga menutupi alur utamanya yang ternyata kurang begitu penting. Semua tokoh dalam film (bahkan yang terlihat paling tidak meyakinkan sekalipun) menyimpan suatu energi berbahaya yang dapat meledak suatu saat, membuat tokoh-tokoh di sekitarnya terhenyak.

Running Scared menyeret penonton mengikuti perjalanan sehari semalam Joey Gazelle (Paul Walker), seorang anggota kelas rendah mafia berklan Italia. Perjalanan itu tidak akan terjadi jika saja transaksi pembelian narkoba oleh mafia Italia tersebut berjalan lancar. Sayangnya kenyataan berbicara lain ketika seorang polisi korup bernama Detective Rydell (Chazz Palminteri) beserta anak buahnya menginterupsi dengan niat mencuri narkoba dan uang dalam transaksi tersebut. Joey, rekannya Sal (Michael Cudlitz), dan atasan mereka Tommy Perello (Johnny Messner) berhasil menumpas polisi-polisi tersebut. Berniat membersihkan diri dari kejadian itu, Tommy pun menugaskan Joey untuk melenyapkan pistol-pistol yang mereka gunakan untuk membunuh para polisi. Apa yang tidak diketahui Tommy adalah Joey terbiasa tidak menuruti perintahnya karena ia justru menyimpan pistol-pistol tersebut bersama tumpukan senjata lain yang terlihat seperti sudah sejak lama ia kumpulkan di rumahnya. Tetapi Joey bukan orang satu-satunya yang licik karena anaknya Nicky (Alex Neuberger) dan temannya Oleg Yugorski (Cameron Bright) sering bermain di ruang penyimpanan senjata tersebut, sesuatu yang sering Joey keluhkan pada istrinya, Tee (Vera Farmiga). Entah kebetulan atau bukan, Oleg yang tinggal bersebelahan dengan keluarga Gazelle adalah bocah merana yang sering disiksa oleh ayah tirinya Anzor (Karel Roden), seorang keponakan mafia berklan Rusia. Merasa tidak dapat menahan penyiksaan yang dialaminya, Oleg diam-diam mencuri sebuah pistol yang diberikan Tommy kepada Joey untuk menghabisi Anzor. Oleg pun lari bersama pistol tersebut. Di sinilah perjalanan Joey di mulai. Ia harus mencari Oleg agar mendapatkan kembali pistol yang dibawanya sebelum Tommy dan kepolisian mengetahui peristiwa tersebut. Perjalanan itu tidaklah mudah, karena baik Joey maupun Oleg sama-sama mengalami berbagai peristiwa mengerikan selama satu malam penuh.

Penulis naskah sekaligus sutradara Wayne Kramer (Crossing Over, The Cooler) tampak sangat jelas berambisi menciptakan dan menceritakan petualangan monumental Joey dan Oleg. Selama satu malam penuh, Joey dan Oleg menjumpai berbagai macam orang dan berusaha mencari cara tepat menghadapi orang-orang tersebut. Pergerakan dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya berjalan cepat dan selalu diiringi dengan gebyar festival sumpah serapah. Kecepatan itu tercermin dari adegan pembuka film di mana Joey menggendong Oleg ke mobil yang disambung dengan kilas balik 18 jam sebelumnya. Dalam adegan 18 jam sebelumnya itu, hanya terlihat Tommy dan penjual narkoba yang pada awalnya mengangguk setuju kemudian tiba-tiba gerombolan Detective Rydell datang menerobos. Penonton pun disajikan baku tembak, banjir darah, dan suara super-bising dengan kamera bergerak cepat dari satu sisi ke sisi lain, menangkap berbagai gambar mengerikan.

Ketegangan disambung dengan adegan saat Joey berusaha mengambil poyektil peluru hasil tembakan Oleg, saat bocah keturunan Rusia itu kabur dan bertemu tinawisma mengerikan, menodong mucikari kasar bernama Lester (David Warshofsky), menolong pelacur bernama Divina (Idialis DeLeon), diculik dua pasangan pedofilia, hingga menyaksikan "pertandingan" hoki berdarah bersama Joey. Semua persitiwa itu sambung-menyambung dan bermunculan bahkan sebelum penonton sempat mencerna satu peristiwa yang tersaji di layar. Berbagai tokoh pendukung secara tiba-tiba muncul dalam benak tokoh utama sebelum wajah atau nama mereka tampil atau disebutkan. Ingatlah bagaimana Joey mengetahui siapa pencuri pistol yang disimpan Nicky dan Oleg di toilet sebuah restoran. Adegan tersebut membuai penonton dengan aura keputusasaan Joey saat ia berulang kali berkata "You just fucking killed me, kid!", tetapi sesaat kemudian dengan begitu cepat penonton mendapatkan pria itu dengan cerdas mengendap ke ruang manajer restoran, mencari identitas seorang pria.

Akan tetapi tidak dapat dipungkiri perjalanan monumental Joey dan Oleg dalam film ini terkesan sangat rumit dan memusingkan. Kerumitan itu tidak lain karena Kramer memaksa ingin menggabung dan mencampur aduk semua hal dalam menuturkan pengalaman dua tokoh tersebut tanpa mempedulikan koherensi alur cerita utamanya. Ingatlah bagaimana Kramer sangat ingin menguatkan ketegangan cerita dengan memasukkan unsur penculikan Oleg oleh dua pasangan pedofilia. Meski penonton merasakan sensasi tegang menyaksikan aksi Tee menyelamatkan Oleg, namun penculikan tersebut tidak memiliki hubungan dengan alur pencarian pistol yang menjadi inti utama film berdurasi 122 menit ini. Kesan yang justru timbul dari penculikan tersebut adalah Kramer hanya ingin menggambarkan pada penonton (yang seharusnya sudah sangat mengerti) bahwa di luar sana banyak iblis pemangsa anak-anak berkeliaran di mana-mana. Bersama-sama adegan tembak-menembak, umpatan, dan pukulan yang bertaburan di sepanjang film ini, penculikan tersebut seolah bagian dari ritual Kramer dalam mengagungkan kekerasan. Hal yang sama juga terjadi pada adegan di mana Tommy menembak Sal yang ternyata berkhianat. Ayolah Kramer, mengapa Anda sangat patuh mengikuti pakem film-film mafia di mana pengkhianatan menjadi konfilk yang haram dilewatkan? Jangan lupakan pula Lester sang mucikari yang tiba-tiba muncul lagi di bagian akhir setelah pada pertengahan cerita Kramer memotong alur yang melibatkan tokoh tersebut secara tanggung. Ibarat tokoh kartun Tom dan Jerry yang tidak pernah mati meski tertimpa apapun, Lester menjadi karakter komik yang efektif, tetapi sekali lagi, apa hubungannya dengan alur utama cerita?

Seakan tidak cukup dengan alur cerita yang tidak koheren, penonton juga dipaksa mencerna keseluruhan latar belakang konflik yang terjadi pada menit-menit akhir film dalam adegan di arena hoki es. Dengan dialog dan aksi tokoh-tokohnya yang cepat, saya jamin banyak penonton yang tidak sepenuhnya memahami keterkaitan antara mafia Rusia, mafia Italia, pistol yang selama ini dicari, Joey, Oleg, Anzor, Rydell, dan FBI. Bagi yang dapat memahaminya pun pasti akan dongkol bukan main karena merasa ketegangan dan "rasa lelah" menyaksikan aksi Joey dan Oleg ternyata sia-sia. Mereka telah berani mempertaruhkan nyawa untuk sesuatu yang sebenarnya tidak penting. Lucunya, seakan tahu bagian akhir film ini dipenuhi berbagai plot twists yang bertumpuk-tumpuk, Kramer merangkum isi film ini dalam animasi pendek di bagian kredit yang cukup menarik. Pada akhirnya, Kramer terkesan hanya ingin memberikan "hiburan yang melelahkan" kepada penonton karena cerita ini ditutup dengan akhir yang sangat menjual: jagoan menumpas habis semua penjahat, ia selamat dan hidup bahagia selamanya, tanpa mempedulikan penonton yang selama dua jam menyaksikan dirinya kalang kabut ke sana kemari hanya untuk mendapatkan penutup cerita dari negeri dongeng.

Meski demikian, satu hal yang saya salut dari naskah Kramer adalah kemahirannya dalam memberikan ruang yang cukup pada tokoh-tokoh pendukung untuk bereksplorasi dengan fondasi karakter mereka. Eksplorasi tersebut menghasilkan penampilan memikat yang meninggalkan kesan dalam pada penonton. Tokoh-tokoh pendukung tersebut memiliki panggung tersendiri yang cukup luas, panggung yang membuat posisi mereka lebih dari sekedar pemeran pendukung. Tokoh-tokoh pendukung yang diberikan panggung luas itu antara lain Anzor dan Tee. Pada awal perkenalan dengan Anzor, penonton diberikan gambaran menyedihkan tentang seorang pria Rusia yang terkurung dalam kekecewaannya pada John Wayne. Adegan film The Cowboys (1972) yang menayangkan Duke tertembak mati membuat Anzor terpukul dan terkejut, menghancurkan imajinasinya sebagai bocah Rusia yang hanya mendapatkan versi 10 menit film tersebut tanpa menduga pahlawannya akan tewas seperti pria lemah. Kramer menggunakan gaya Tarantino untuk mengekspresikan betapa depresi Anzor ketika ia berbagi kesedihannya pada Oleg. Digabung dengan rasa takut Oleg berada di dekat ayah monsternya itu, adegan tersebut sangat memorable. Ketika Mila (Ivana Milicevic) menceritakan jasa Anzor yang sangat besar baginya, penonton mendapatkan sebuah ironi yang sngat mencekam dari hidup pria tersebut. Anzor adalah pria baik hati yang terbuang dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan terhadap orang-orang yang ia tolong karena kebaikannya.

Hal yang sama juga diberikan pada tokoh Tee. Sebagai istri seorang anggota mafia, saya cukup heran mengapa Tee selalu berusaha tampil sebagai "ibu normal" dalam keluarganya. Padahal tanpa perlu menjadi ibu macam itu penonton sudah sadar bahwa Joey tidak dapat lagi menahan kebiasaannya mengucapkan kata-kata kotor di hadapan Nicky. Keheranan tersebut kemudian sirna ketika dengan semangat dan kekuatan yang tidak kalah dari suaminya, Tee menunjukkan aksi kepahlwanan dalam menumpas kejahatan penculikan anak. Saat itu juga saya sadar bahwa Tee pun tidak bisa menahan nalurinya untuk berani bertindak, bahkan keberanian itu ia akui telah menjadi kebiasaan semenjak ia menikahi Joey. "I hav turned my back on a lot of things since we've been married. My eyes are wide open on this one!", sembur Tee ketika Joey kesal terhadap aksi istrinya itu yang ia anggap sok pahlawan.

Hal lain yang menjadi nilai tambah bagi Running Scared adalah segi visualnya yang menawan. Kramer seolah mengerti bahwa film adalah medium dengan unsur visual yang kuat sehingga tampilan gambar perlu mendapat perhatian khusus. Berbagai efek visual ditempatkan pada tempat yang pas, misanya adegan gerak lambat saat peluru dari rumah Oleg menghantam dinding kediaman Joey dan gaya penceritaan kilas balik pada pembuka film, dan double flashbacks ketika Joey memahami apa yang terjadi di rumah Oleg, dan lompat ke masa depan di adegan paling akhir. Dua adegan tembak-menembak juga disajikan sangat megah di awal dan akhir film, di mana kamera menangkap banyak sudut gambar untuk memperlihatkan masing-masing orang yang terlibat bahu tembak tersebut. Selain itu Kramer juga tidak takut menggunakan elemen grafis untuk menghadirkan nuansa kejam. Genangan dan muncratan darah dapat ditemukan di sepanjang film, melengkapi kekerasan verbal dan emosional yang dapat penonton tangkap dari awal cerita.

Dari departemen akting, di luar dugaan Paul Walker mampu mengeluarkan penampilan impresif di sini. Emosi, gerak, suara, dan ekspresi Walker sangat tepat menggambarkan sosok Joey yang cukup tempramental tetapi memiliki kemampuan luar biasa dalam mengambil tindakan di bawah tekanan. Walker tahu persis bahwa Joey adalah tipa orang yang dapat bersikap tabah, lihai berkelit, mampu berpikir jernih dalam ketakutan, namun pada satu titik meledakkan rasa panik. Dalam balutan aksen New Jersey yang kasar dan menghentak, Walker telah menghadirkan pria nyata bernama Joey di hadapan penonton. Salah satu adegan favorit saya adalah adegan di toilet seperti saya sebutkan di atas. Dalam adegan itu Walker sebagai Joey tanpa sadar membentak dan menekan Nicky, berteriak padanya dan dengan jujur mengungkapkan ketakutannya dalam nada putus asa. Selain Walker, Cameron Bright juga memberikan penampilan apik. Sebagai anak yang mengalami trauma setelah sekian lama disiksa ayah tiri, Bright memancarkan aura marah sekaligus takut yang terasa sangat kuat. Tatapan mata Bright sebagai Oleg saat ia menodongkan pistol ke arah kakek tirinya Ivan (John Noble) sangat tajam dan dalam. Tatapan mata itu seolah ingin menunjukkan bahwa ia bukanlah anak kecil lemah yang dapat ditindas, ia adalah pemberani yang tidak takut membela haknya bahkan jika harus menarik pelatuk pistol untuk kedua kalinya. Dalam adegan itu Bright kembali memberikan penampilan menakutkannya seperti dalam Birth (2004). Namun di balik amarahnya, penonton dapat merasakan ketakutan dan kepolosan Oleg yang tidak berbeda dari anak-anak seusianya. Adegan di dalam mobil saat Joey menanyakan apa musik favorit Oleg dan adegan saat Oleg membuntuti Divina sangat jelas menunjukkan bahwa bocah itu butuh kasih sayang dan pertolongan.

Terakhir, Running Scared tidak akan lengkap tanpa kehadiran Vera Farmiga. Sebagai Tee, Farmiga memberikan penampilan memukau melalui aura sensual, pemberani, sekaligus penyayang keluarga. Saya rasa tidak ada yang dapat membantah sedikit adegan seks di bagian pembuka film terasa sangat panas dan membuai, dan itu semua berkat bahasa tubuh dan tentu saja tubuh Farmiga itu sendiri yang terlihat sangat menikmati service dari Joey. Namun tentu saja adegan dinamit Farmiga adalah saat ia menyelamatkan Oleg dari dua predator anak-anak, Dez (Bruce Altman) dan Edele (Elizabeth Mitchell). Dalam adegan itu, Farmiga sebagai Tee sempat merasa frustrasi ketika melihat begitu banyak kejanggalan dan teka-teki yang disimpan Dez dan Edele. Namun dengan emosi dan keberanian yang ia paksa keluarkan dari dirinya, Tee seolah ingin menunjukkan jangan bermain-main dengan istri seorang Joey. Teriakan, rasa terkejut, takut, amarah yang luar biasa memuncak, semua itu tercampur baur dalam ekspresi, suara, dan gerak tubuh Farmiga. Dari penampilannya di sini, saya merasakan sensasi melihat jagoan wanita yang tengah beraksi yang berarti tidak pernah berhenti memberi dukungan padanya untuk menghabisi lawan-lawannya. Akhirnya, Tee menjadi satu-satunya tokoh yang melukai orang lain karena alasan yang benar, dengan cara elegan, dan mengeluarkan paling sedikit tenaga.

Ibarat makanan, Running Scared adalah sajian menggoda yang aroma lezatnya sudah tercium sebelum matang. Begitu pula ide Kramer menciptakan film yang fokus pada aksi tokoh-tokohnya karena dimotivasi sesuatu tidak dapat dikatakan buruk (meskipun bukan lagi ide segar). Hal itu terbukti dari rangkaian cerita di mana Kramer cukup berhasil memperlihatkan penderitaan bertubi-tubi dan beban yang dirasakan tokoh Joey di sepanjang cerita. Akan tetapi, Kramer menggunakan terlalu banyak saus dalam sajiannya ini, banyak sub-alur yang sengaja ditempelkan untuk merayakan kesengsaraan tokoh Joey. Akhirnya saus itu mengubah rasa nikmat makanan yang dibuat Kramer, menjadikan film ini tampak terlalu ambisius padahal bahan-bahan yang digunakan adalah barang mewah berupa penampilan para pemeran, gaya cerita, dan visualisasi yang jempolan. It's 3 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:

The Boondock Saints (1999)

Director: Troy Duffy
Stars: Willem Dafoe, Sean Patrick Flanery, Norman Reedus
Genre: Action, Crime, Thriller
Runtime: 108 minutes











Collateral (2004)

Director: Michael Mann
Stars: Tom Cruise, Jamie Foxx, Jada Pinkett Smith
Genre: Crime, Drama, Thriller
Runtime: 120 minutes

Seorang pembunuh bayaran bernama Vincent dipekerjakan oleh Felix, mafia narkotika yang menghadapi ancaman tuntutan kriminal. Pekerjaannya kali ini tidak bisa dianggap enteng, karena Vincent harus membunuh lima orang dalam satu malam saja. Malam itu ternyata juga bukan malam biasa bagi Max, supir taksi yang telah 12 tahun berada di belakang kemudi dengan impian membuka bisnis limusin, sebab karena kesalahan kecil, ia menjadi saksi dari “bisnis” Vincent ketika sesosok mayat terjun bebas dari sebuah apartemen tepat di atas taksinya..