Friday, January 25, 2013

End of Watch: Menyimak Seluk Beluk Kehidupan Polisi

Salah satu masalah yang paling banyak ditemukan dalam berkarir adalah kepuasan kerja. Kepuasan kerja menjadi krusial karena akan menentukan bagaimana performa dari pekerja yang bersangkutan. Jika seorang pekerja mulai merasa tidak bahagia atas apa yang ia kerjakan, hasil pekerjaannya akan cenderung menurun. Lalu apa yang memengaruhi kepuasan kerja? Hasil dari studi dan penelitian yang telah banyak dilakukan, menunjukkan bahwa pekerjaan yang memberikan kepuasan adalah pekerjaan yang secara mentalitas memberi tantangan, memberikan apresiasi terhadap prestasi, kondisi kerjanya menunjang bagi pekerja untuk menunjukkan performa yang baik, serta adanya rekan kerja yang mendukung. Di samping itu, dilansir dari situs careercast.com, ada pula hasil penelitian yang menyebutkan bahwa pekerjaan yang memberikan kepuasan adalah pekerjaan yang dapat menolong orang lain. Nah, salah satu pekerjaan yang tampaknya dapat memberikan kepuasan dan kebahagiaan bagi pekerjanya adalah polisi. Jika ingin megetahui bagaimana polisi bekerja, apa suka dan duka yang mereka alami, serta apakah menjadi polisi dapat memberikan kebahagiaan , Anda dapat menyimak End of Watch (2012).

End of Watch akan menunjukkan kepada penonton sepak terjang Brian Taylor (Jake Gyllenhaal) dan Mike Zavala (Michael Peña), dua polisi yang menjadi rekan baik dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Brian dan Mike adalah tipe polisi yang selalu menjalani pekerjaan mereka dengan serius tapi santai. Mereka selalu berhasil melumpuhkan aksi-aksi kriminal harian yang seperti tak ada habisnya di Los Angeles, mulai dari pengedar narkoba, kepemilikan senjata api ilegal, hingga permusuhan antara kelompok kulit hitam dengan hispanik. Aksi pengejaran penjahat, tembak-menembak, serta pembekukan menjadi makanan sehari-hari mereka berdua. Rasa gentar juga tak pernah menghampiri mereka. Tetapi, pekerjaan berat itu dilalui Brian dan Mike dengan santai, selalu ada canda tawa di tengah mereka setiap ada kesempatan. Meski tampak santai, Brian dan Mike adalah dua polisi yang terlatih dan selalu waspada, sehingga tak heran mereka termasuk dalam anggota yang berprestasi di korps LAPD. Brian sendiri memiliki kebiasaan unik, yaitu selalu mendokumentasikan setiap kegiatannya dengan handy-cam dengan alasan ia sedang mempersiapkan sebuah proyek film. Melalui rekaman kamera Brian inilah End of Watch digambarkan, mulai dari investigasi hingga aksi dan ucapan konyol mereka yang penuh dengan kata-kata kotor.

Aksi kriminal utama yang ingin ditonjolkan dalam End of Watch adalah aktivitas kartel narkoba sebuah gang Meksiko yang bernama Curbside, sekaligus permusuhan mereka dengan kelompok kulit hitam. Curbside adalah kartel narkoba besar yang anggotanya masih berasal dari satu kerabat, dan setiap aksi mereka juga dijadikan pembelajaran bagi anggota baru gang tersebut. Curbside memiliki jaringan bisnis narkoba yang cukup besar serta telah melakukan berbagai tindak kejahatan berta lainnya seperti penyiksaan, pembunuhan, dan mutilasi. Brian dan Mike secara perlahan-lahan mulai menemukan tindakan kejahatan mereka dalam patroli mereka sehari-hari. Penemuan-penemuan itu mengundang rasa penasaran mereka berdua, khususnya Brian yang selalu berani melintasi garis batas wewenangnya. Hasilnya, mereka semakin membuka aktivitas bawah tanah Curbside dan hal itu membuat gang Meksiko tersebut meradang. Sebuah strategi jebakan pun mulai dipersiapkan Curbside untuk menghabisi Brian dan Mike.

Dari awal, adegan pembuka End of Watch juga dibuat menarik dengan narasi yang mengguggah tentang siapa dan bagaimana cara polisi bekerja. Narasi itu seperti meletakkan dan mengingatkan kembali pada setiap penonton bahwa polisi adalah orang-orang yang konsisten dan konsekuen dengan pekerjaan mereka dan bagaimana keterikatan antara satu polisi dengan polisi lain. Sebuah introduksi yang mennggambarkan keseluruhan isi film: dua karakter polisi yang tak pernah gentar dan persahabatan antara mereka.

Sutradara sekaligus penulis naskah David Ayer (Street Kings, Training Day) menyajikan cukup banyak plot sampingan dari awal hingga pertengahan film berdurasi 109 menit ini. Secara keseluruhan, plot sampingan itu tampaknya bertujuan untuk menunjukkan kehidupan pribadi dan sifat Brian dan Mike kepada penonton. Misalnya, adegan penyelamatan korban kebakaran yang menunjukkan bagaimana pekerjaan mereka penuh dengan risiko tetapi mereka berdua berani menghadapinya meski mendapat reaksi ketakutan akan kehilangan dari orang-orang terdekat mereka. Kisah cinta Brian dengan Janet (Anna Kendrick) juga dijadikan pentunjuk kuatnya hubungan persaudaraan Brian dan Mike hingga mereka berdua bersedia melindungi keluarga rekannya masing-masing. Plot-plot itu memang efektif, proporsional, dan tepat sasaran, membuat ritme End of Watch lebih dinamis. Plot-plot itu menjadi intermezzo di tengah tegangnya penyelidikan Brian dan Mike terhadap aksi kriminal Curbside.

Plot utama investigasi gang Curbside juga selalu berhasil membuat penonton penasaran temuan apa lagi yang akan Brian dan Mike dapatkan. Dengan pengambilan gambar bergaya dokumenter, Ayer semakin berhasil menciptakan ketegangan di setiap ruangan yang dimasuki Brian dan Mike, setiap pintu yang merekka jebol, dan tentu setiap temuan yang mereka dapatkan, mulai dari kepala manusia, lumuran darah, hingga wajah-wajah lesu orang-orang yang disekap. Di beberapa bagian, penonton akan merasa seperti sedang bermain video game. Tetapi yang paling seru bagi saya adalah pada 20 menit terakhir saat Brian dan Mike dijebak dan dibombardir tanpa ampun. Kilatan dan suara letusan senjata api ikut meneror penonton, menjadikan 20 menit terakhir itu highlight dari End of Watch, terutama bagi Anda yang menyukai pakem klasik dari film-film dengan tokoh utama polisi. Ayer dan sinematografer Roman Vasyanov sukses menyuguhkan tampilan premium aksi perlawanan sebuah gang penjahat yang menghabisi dua polisi dengan persaudaraan yang erat. Di tangan sutradara lain, End of Watch bisa saja menjadi film buddy cop standar yang basi. Tapi di bawah arahan Ayer dengan sentuhan mockumentary-nya, genre buddy cop itu justru menjadi lebih segar dan "naik kelas". End Watch membuktikan kepada penonton bahwa kisah petualangan dan persahabatan dua polisi masih bisa dieksplor lebih jauh, lebih dari sekedar racikan adegan tembak-menembak, komedi, atau adegan kekerasan.

Gyllenhaal dan Peña menampilkan performa prima mereka di sini. Mulai dari chemistry brotherhood yang terjalin antara mereka sangat dirasakan oleh penonton. Mereka berbicara dan tertawa lepas layaknya dua sahabat yang telah biasa bekerja bersama dan mengenal satu sama lain. Kesan bad boy juga menjadikan penampilan mereka berdua semakin jempolan, khususnya untuk Gyllenhaal. Gyllenhaal dan Peña juga mampu menghidupkan karakter Brian dan Mike menjadi polisi yang menjalankan misi mereka dengan teguh, to serve and to protect. Aktor-aktor pendukung lain seperti Anna Kendrick, America Fererra sebagai Orozco, Frank Grillo yang menjadi Sarge juga semakin memperkuat kualitas End of Watch. Tak diragukan lagi, End of Watch adalah salah satu film persahabatan polisi terbaik, 4 out of 5 stars. Bagaimana menurut Anda, ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:
Se7en (1995)

Director: David Fincher
Stars: Morgan Freeman, Brad Pitt, Kevin Spacey
Genre: Mystery, Thriller
Runtime: 127 minutes

The French Connection (1971)

Director: William Friedkin
Stars: Gene Hackman, Roy Scheider, Fernando Rey
Genre: Action, Thriller
Runtime: 104 minutes

Tuesday, January 22, 2013

50/50: Menghadapi Turbulensi Kehidupan

Sudah jatuh, tertimpa tangga. Mungkin itu adalah ungkapan yang cocok untuk menggambarkan kehidupan Adam Lerner (Joseph Gordon-Levitt), pemuda 27 tahun yang bekerja meliput letusan gunung berapi di sebuah stasiun radio. Di usianya yang begitu muda, ia harus menerima vonis sebuah kanker langka yang membahayakan nyawanya. Ironisnya, vonis kanker itu ibarat sinar matahari yang menerangi bumi setelah gelapnya malam karena Adam justru lebih bisa melihat secara nyata dan menyadari betapa mengerikan kehidupan yang selama ini ia jalani. Beragam masalah mulai muncul di saat yang tidak tepat mulai dari urusan asmara, orang tua, persahabatan, dan pekerjaan. Semua kehidupan pribadi Adam bercampur menjadi satu dalam 50/50 (2011).

Melalui 50/50, penonton akan dibawa menelusuri kehidupan pribadi Adam saat ia menerima kenyataan pahit bahwa ia mengidap schwannoma neurofibrosarcoma, kanker langka di bagian tulang belakang akibat mutasi genetik yang jarang terjadi (btw no one’s ever give a sh*t about what kind of cancer it is hahaha). Ketika pertama kali mendengar vonis ini dari dokter, ia merasa limbung, tidak percaya bahwa dirinya mengidap penyakit yang sedemikian menkutkan: kanker! Wajar saja jika Adam tidak percaya ia mengidap kanker, karena dirinya memang orang yang sangat disiplin. Adam tidak merokok, minum alkohol, orang yang sangat resik, rajin berolahraga, taat peraturan, sopan (lho?), dan masih banyak lagi sifat yang jarang ditemukan pada pria-pria lain. Satu sifat yang mngkin sedikit ekstrim adalah ia tidak mau mengendarai mobil karena ia berpikir menyetir adalah salah satu penyebab kematian yang paling utama, hanya sedikit di bawah kanker. Akibatnya, ia harus menggantungkan diri pada orang lain untuk mengantarnya bepergian. Kadang ia meminta kekasihnya Rachael (Bryce Dallas Howard) untuk mengantarnya pergi, tetapi ia lebih sering meminta bantuan dari sahabatnya, Kyle (Seth Rogen). Meski Adam agak kurang suka dengan gaya hidup Kyle yang perhatiannya hanya selalu tertuju pada wanita, namun ia harus mengakui bahwa Kyle adalah teman yang cukup perhatian pada dirinya.

Lalu bagaimana Adam menjalani hari-harinya pasca-vonis dokter? Pada awalnya, seperti kebanyakan orang lain, di permukaan Adam terlihat bersikap tenang tetapi di dalam hati dan tubuhnya, ia merasa takut akan mati. Saat pertama kali bertemu Katherine (Anna Kendrick), terapis kanker yang sedang dalam masa percobaan, Adam mengatakan, “I can’t remember being so calm in a long time” padahal jelas-jelas ia merasa gelisah saat ia mengisap kuku jempolnya dan Katherine bisa merasakan kegelisahannya itu. Alhasil, awal-awal sesi terapi Adam bersama Katherine pun menjadi canggung karena mereka berdua melihat isu kanker ini dari sudut pandang berbeda. Adam bersikeras merasa baik-baik saja karena ia tidak ingin dikasihani orang lain dan merasa semakin tertekan sementara Katherine sebagai terapis tahu betul bagaimana perasaan pasien penderita kanker.

Perasaan takut Adam berganti menjadi marah ketika ia mengetahui bahwa penyakit yang ia derita dijadikan senjata bagi orang-orang terdekatnya untuk mencari untung. Kyle selalu menjadikan Adam sebagai alasan untuk bisa dekat dengan wanita, sementara Rachael lebih berani lagi. Hubungan Rachael dan Adam sebelum ada vonis kanker dari dokter yang bermasalah, membuatnya semakin serba salah. Ia tidak mungkin meninggalkan Adam di saat seperti ini, tetapi ia juga tidak bisa memberikan cintanya pada Adam lagi hingga ia selingkuh. Perbuatan belang Rachael ini diketahui Kyle yang memang tidak pernah suka dengannya dan melaporkan perselingkuhan itu pada Adam. Setelah memutuskan hubungan dengan Rachael, Adam justru melampiaskan amarahnya dengan mengikuti perkataan Kyle untuk bersenang-senang mencari wanita lain. Sadar bahwa itu tidak cocok dengan dirinya, Adam semakin tenggelam dalam perasaan takutnya apalagi ketika ia merasa hidupnya mulai hancur satu persatu: Mitch, sahabat yang biasa menjalani kemoterapi bersamanya meninggal; liputan gunung meletus yang ia tangani berlalu begitu saja, dan ia merasa Kyle adalah sahabat yang egois, selalu mencari untung dari keadaannya. Semua itu menjadi turbulensi dalam kehidupan Adam. Tapi ternyata masih ada cinta tersisa dalam hidup Adam, yaitu Katherine. Ia jatuh cinta pada terapis muda itu dan begitupun sebaliknya, jadi ketika ia menjalani operasi dengan kemungkinan selamat 50/50, ia lebih siap meski masih ada ketakutan yang begitu besar dalam dirinya.

Harus diakui bahwa cerita yang diangkat 50/50 memang agak cheesy jika melihat bagaimana film ini ditutup. Premis standar seseorang menemukan cinta sejati pada masa-masa tersulit pun dapat dengan mudah ditebak. Keunggulan cerita yang naskahnya ditulis Will Reiser ini terletak pada bagaimana sebuah masalah yaitu kanker berubah menjadi pelita dalam kehidupan seseorang yang memikul masalah tersebut. Banyak isu yang mencuat setelah Adam divonis kanker. Cinta semu Rachael pada Adam terkuak, kenyataan bahwa Kyle; sahabatnya ternyata bukanlah complete selfish jerk seperti yang ia kira, sebab loyalitas Kyle tidak diragukan lagi; Diane (Anjelica Huston) ternyata berada dalam posisi sulit saat suaminya menderita Alzheimer sementara anaknya tidak pernah memperhatikan dirinya; dan bahwa rekan-rekan kerja Adam tidak ada yang benar-benar peduli padanya. Selain itu, cerita yang diangkat dari pengalaman pribadi Reiser yang memang benar mengidap tumor seperti yang dikisahkan terjadi pada Adam ini tidak serta-merta mengarahkan alur cerita menjadi tear-jerker seperti dalam sinetron. Dengan protagonis pria yang yang mengidap kanker, Reiser mampu memperlihatkan sisi-sisi lain selain kesedihan dari sebuah kanker pada kehidupan Adam, seperti ketidaksempurnaannya dalam hubungan cinta.

Reiser juga memiliki senjata komedi yang sangat banyak dan efektif mengiundang senyum malu dan gelak tawa penonton di sepanjang cerita. Dialog dengan bumbu humor bertabur dari awal hingga akhir, dari mulai dari perkenalan Adam dengan Katherine, perkenalan Adam dengan Alan dan Mitch, petualangan Adam dan Kyle mencari gadis untuk ditiduri, dan masih banyak lagi. Penonton tidak akan kekurangan bahan tertawa saat menonton 50/50. Efektivitas humor yang digunakan sepanjang cerita juga ditunjang oleh kemampuan sutradara Jonathan Levine (The Wackness) dalam menyajikan keseluruhan rangkaian cerita dan karakter yang ada. Meski penutup cerita dibuat cheesy dengan happy ending, tetapi optimisme yang bercampur dengan ketakutan Adam ketika akan menjalani operasi membuat penutup cheesy tersebut sekaligus menjadi superb karena berhasil memperlihatkan dua sisi natural manusia yang saling berkaitan: keinginan untuk sembuh dan ketakutan akan mati. Selain itu, Levine juga terlihat ingin selalu membuat kisah 50/50 nyata dan tidak berlebihan, misalnya dalam adegan di mana Adam memotong habis rambutnya sebelum kemoterapi dimulai, Kyle berusaha mencegahnya dengan mengatakan bahwa ia tidak cocok dengan kepala botak. Reaksi Kyle itu menunjukkan bahwa tindakan histeris Adam konyol dan tidak perlu dilakukan, tidak perlu mendramatisiasi segala hal. Di sisi lain, tampaknya intensi 50/50 untuk menghadirkan comradery atau bromance seperti yang terlihat dari tagline "it takes a pair to beat the odds" tidak berhasil diangkat ke permukaan oleh Levine. Dari awal, karakter tunggal Adam seorang yang ditonjolkan tanpa melibatkan Kyle secara khusus membantu Adam mrnghadapi masalahnya, justru yang terjadi adalah Kyle sempat (selalu?) mengambil untung dari keadaan Adam. Dengan begitu, karakter Adam lebih established ketimbang Kyle dan tidak terasa unsur kebersamaan mereka.

Dari segi akting, salut harus saya ungkapkan pada Gordon-Levitt. Ia mampu memainkan karakter Adam menjadi pemuda resik dan sedikit canggung ketika bertemu wanita yang baru dikenalnya. Permainan mata menjadi salah satu senjata Gordon-Levitt yang patut dipuji karena melalui matanya, penonton tahu bagaimana perasaan Adam. Misalnya ketika Katherine menyentuh Adam pada saat terapi sedangkan Adam meraa heran dan merasa apa maksud sentuhan tersebut karena itu tidak ada gunanya. Hanya dengan tatapan mata, Gordon-Levitt berhasil mengungkapkan perasaan Adam itu. Chemistry yang terjalin antara Gordon-Levitt dengan Kendrick juga sangat mengena dan pas: perasaan canggung keduanya, rasa cinta yang diungkapkan malu-malu tanpa pernah benar-benar mengungkapkan kata “cinta”. Anjelica Huston juga dengan brilian mampu mengatasi keterbatasan karakternya menjadi lebih dalam dan membekas di hati penonton meski ia hanya tampil beberapa kali saja di layar. Sebagai istri dengan suami sakit yang tidak bisa diajak bicara dan anak yang juga sakit dan tidak mau diajak bicara, Huston berhasil membawakan peran Diane menjadi wanita yang tegar sekaligus rapuh, aktif sekaligus pasif, serta dominant but also ignorant. Sementara itu, naskah yang ditulis Reiser masih memberikan peran tipikal pada Seth Rogen, peran pria dengan mulut besar dan kotor dan perilaku serampangan yang biasa dimainkannya. Rogen plays in safe side here.

50/50 merupakan film yang mampu mengangkat tema kanker menjadi cerita yang hangat dan jauh dari penuh kesedihan, cerita yang mampu memperlihatkan sisi positif sebuah penyakit mematikan. Satu film yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Ngomong-ngomong tampaknya film ini juga akan disukai para feminis karena karakter Adam yang diciptakan tidak selalu lebih baik dibading wanita: ia sakit, dalam posisi tidak berdaya, tidak bisa menyetri sehingga harus selalu diantar-jemput, dan ia pun diselingkuhi hahaha. All ini all it’s sweet, 4 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:
Wit (2001)

Director: Mike Nichols
Stars: Emma Thompson, Christopher Lloyd, Eileen Atkins
Genre: Drama
Runtime: 99 minutes


Director: Roberto Benigni
Stars: Roberto Benigni, Nicoletta Braschi, Giorgio Cantarini
Genre: Drama, Comedy, Romance
Runtime: 116 minutes

Kebahagiaan memiliki keluarga hanya dirasakan sesaat oleh Guido ketika pada suatu hari pasukan Nazi menciduk ia dan anaknya, Giosué. Mereka dikirim ke kamp konsentrasi khusus Yahudi. Di sinilah kisah getir Guido dimulai. Sebagai seorang ayah, apa yang harus ia jelaskan pada anaknya yang masih kecil?

Sunday, January 20, 2013

Artificial Intelligence: AI: A Wish from Steel Pinocchio

Dunia futuristik dengan segala kecanggihan teknologi, ilmu pengetahuan, dan perubahan peradabannya telah sering diangkat ke layar lebar. Pengembangan cerita dari masing-masing film berbeda, ada yang menekankan pada peranan IPTEK dalam kehidupan manusia seperti Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004), usaha ilmuwan dalam memecahkan ilmu pengetahuan seperti dalam Pi (1998), dan upaya menemukan senjata canggih seperti dalam The Fifth Element (1997). Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa tema kemanusiaan di tengah peradaban maju masih tetap menjadi komoditas primadona di pasar perfilman. Lagi pula, kemanusiaan memang harus dijaga manusia selama masih eksis di dunia ini tidak peduli pada seberapa drastis dunia telah berubah karena IPTEK, karena hanya dengan kemanusiaan manusia dapat dibedakan dengan makhluk hidup lain. Salah satu film yang mengetengahkan tema kemanusiaan dengan cara yang unik adalah Artificial Intelligence: AI (2001) atau yang dikenal dengan sebutan sederhana AI.

AI merupakan proyek yang digagas Stanley Kubrick (2001: A Space Odyssey, A Clockwork Orange) yang ingin masyarakat dunia terbuka pada segala perkembangan teknologi masa depan, khususnya dalam dunia robotik. Kubrick dikenal sebagai sutradara yang tidak pernah main-main dalam mempersiapkan filmnya karena ia selalu melakukan analisis dan riset mendalam sebelum mengeksekusi sebuah proyek. Kubrick sendiri memulai proses riset untuk AI dari tahun 1970an dan menunjuk Steven Spielberg (Minority Report, War of the World) untuk duduk di kursi produser. Proses riset dan persiapan AI sempat tertunda dengan proses penyelesaian film terakhirnya yang terkenal memakan waktu paling panjang, Eyes Wide Shut (1999). Selama proses persiapan ini, Kubrick bersikukuh untuk memulai proses produksi saat teknologi perfilman sudah dapat mengakomodasi desain visual yang sesuai dengan keinginannya. Desain visual Kubrick itu antara lain kota yang terendam air seteleh es dikutub mencair, kota metropolitan yang canggih dengan segala kerumitan teknologinya, hingga penampilan robotik untuk para aktornya dengan menggunakan teknik makeup khusus. Kubrick sempat putus asa mewujudkan idenya ini hingga ia sempat menyerahkan AI untuk disutradarai oleh Spielberg. Namun Spielberg tidak menerima tawaran itu hingga Kubrick tutup usia pada tahun 1999. Naskah AI diangkat dari cerita pendek Brian Aldiss yang berjudul Supertoys Last All Summer Long. Saat Kubrick masih menjadi sutradara AI, cerita pendek itu sebelumnya telah diadaptasi oleh Aldiss sendiri dengan bantuan Bob Shaw, Ian Watson, dan Sara Maitland untuk cerita filmnya. Jadi ketika Spielberg menggantikan posisi Kubrick ia hanya tinggal melengkapi dan mengumpulkan keseluruhan naskah yang telah ada.

AI berlatar dunia futuristik di mana global warming telah mengakibatkan sebagian besar sumber daya manusia untuk bertahan hidup semakin menipis. Saat itu, teknologi yang diciptakan manusia telah mencapai tahap yang tidak pernah dibayangkan sebelmunya, termasuk dalam hal robotik. Professor Hobby (William Hurt) pimpinan perusahaan manufaktur robot Cybertronics menggagas pembiatan robot anak yang memiliki cinta dan kasih sayang tulus dan tak bersyarat seperti halnya cinta anak pada ibunya. Belakangan, penonton akan mengetahui alas an mengapa Hobby begitu semangat dalam proyek ini. Satu spesimen dari generasi pertama robot anak yang bias mencintai ini telah siap digunakan, dan Henry Swinton (Sam Robards), salah satu karyawan Cybertronics memiliki kesemptan pertama untuk menjajalnya. Henry dan istrinya Monica (Frances O’Connor) memang tengah dirundung duka karena Martin (Jake Thomas), anak semata wayang mereka tengah diinkubasi karena satu penyakit langka. Henry kemudian mengambil kesemptan itu dan membawa pulang David (Haley Joel Osment), nama (atau bisa juga disebut merk sepertinya haha) robot anak itu ke rumah. Awalnya Monica takut sekaligus terkejut akan kemiripan David dengan manusia sungguhan. Namun, seiring dengan waktu setelah Monica mengaktifkan fitur kasih sayang David ditambah rasa keibuannya yang terbendung sejak Martin sakit perlahan-lahan menimbulkan kasih sayang yang semakin besar. Hubungan Monica dan David berubah dari canggung menjadi intim selayaknya ibu dan anak.

Kesembuhan dan kepulangan Martin secara tiba-tiba membuat kehadiran David dalam keluarga Swinton sediikit demi sedikit dilupakan, meski Monica masih sangat menyayanginya. Akhirnya karena suatu kejadian yang membahayakan Martin, Monica membuat keputusan nekat: membuang David. Kasih sayang dan cinta David pada Monica yang tak pernah luntur membuatnya berjuang untuk memulai perjalanan mencari Peri Biru yang dapat membuatnya menjadi manusia sesungguhnya seperti dalam kisah Pinocchio yang biasa diceritakan Monica sebelum ia tidur. Dengan menjadi manusia, David berharap Monica mau mencintai dirinya. Ditemani dengan Gigolo Joe (Jude Law), perjuangan David mencari Peri Biru semakin mendebarkan hingga ia menemukan suatu fakta bahwa ia takkan bisa bersama dengan Monica untuk selamanya.

Dari segi plot, AI sangat menarik diikuti dari awal hingga akhir. Pada bagian awal cerita, ada saat-saat di mana David digambarkan menjadi anak yang mulai menyulitkan dan menakutkan, ketika ia melakukan segala cara demi mendapat perhatian Monica dan bersaing dengan Martin. Pada saat itu, tensi cerita menjadi sedikit seperti thriller atau horror. Di lain waktu dan pada hampir keseluruhan cerita, David menjadi robot yang haus akan kasih sayang seorang ibu, hingga membuat siapapun yang menonton merasa iba pada dirinya. Pertemuan David dengan Joe yang membantunya berpetualang mencari petunjuk di mana Peri Biru berada menjadi pelengkap yang menarik sekaligus membuat cerita menjadi dinamis. Joe adalah karakter yang sepertinya memang diciptakan sebagai pelindung David. Ketika Joe sempat membuat ragu dan mematahkan semangat David dengan kata-kata menakutkannya (which is my favorite dialogue) bahwa Peri Biru hanyalah rekayasa manusia yang benci pada robot karena pada akhir zaman hanya robot yang dapat bertahan hidup, ia hanya bermaksud agar David tidak memaksakan kehendaknya yang dirasa mustahil terjadi. Tetapi ketika David mengatakan bahwa ia melihat Peri Biru dan ia akan pergi menemuinya, Joe mendukung keinginan David tersebut.

Ketika pertama kali mennyaksikan AI, saya terkejut dengan akhir ceritanya yang melenceng dari prediksi saya setelah memperhatikan tiga perempat jalinan ceritanya. Saya mengira film ini akan berakhir pada scene di mana David membeku di dasar air, putus asa memohon pada patung yang dikiranya Peri Biru untuk dijadikan manusia sungguhan. Saya mengira itu akan menjadi penutup AI karena sepanjang cerita David beradaa pada posisi yang tidak menguntungkan di tengah ketidakadilan dunia: ia di buang dari keluarga yang dulu membutuhkan sosok anak, ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana manusia mempelakukan robot-robot yang dianggap membahayakan saat ia berada di Flesh Fair, ia menerima kenyataan pahit bahwa dirinya tidaklah unik karena Professor Hobby telah memproduksi ratusan unit David lain padahal ia mengira keunikannya-lah yang membuat Monica menyanyangi dirinya. Jadi saya pikir menutup kisah dengan membiarkan David ditelan keputusasaannya memohon pada Peri Biru adalah satu kesimpluan yang paling memungkinkan. Tetapi ternyata saya meleset, karena cerita masih dilanjutkan hingga 2000 tahun kemudian di mana manusia telah musnah dan para robot atau yang dalam film ini disebut mechanical/Mecha telah berevolusi menjadi semacam alien. Mecha yang telah berevolusi tersebut membantu David pulang ke rumah dan bertemu Peri Biru (yang merupakan wujud Mecha yang berevolusi juga). Setelah bertemu Peri Biru pun keinginan David tidak terkabul begitu saja yang justru dapat menghancurkan kesempurnaan plot cerita.

Penutup AI didesain dengan perubahan begitu drastis dibandingkan awal filmnya yang menggambarkan optimisme dunia modern yang serba-bisa memenuhi segala impian menjadi kisah yang penuh akan harapan, kekecewaan, dan kehilangan, menandakan fantasi yang tidak biasa ditemui dalam dunia futuristik dan film sci-fi lainnya. Bahkan dengan penutup sentimental seperti ini, AI bagi sasya dapat pula digolongkan dalam fairy tale. Bagian penutup inilah yang akhirnya membuat saya jatuh cinta pada AI, tidak pernah bosan menontonnya berulang kali.

Selain alur cerita dengan konklusi unik, saya juga menyukai AI karena tokoh protagonisnya yang berwujud robot, bukan manusia. Kebanyakan film sci-fi memasang tokoh manusia sebagai tokoh protagonis sentral. Bahkan bila makhluk selain manusia menjadi pihak yang benar, biasanya sci-fi lain akan tetap memasang karakter “manusia baik” yang berkoalisi dengan makhluk bukan manusia tersebut untuk melawan “manusia jahat” seperti dalam Avatar (2009). Dengan protagonis yang berupa robot, penonton akan diajak untuk merenungi arti kemanusiaan (humanity) dari sudut pandang yang justru bukan dari tokoh manusia. Kondisi ini pada akhirnya menempatkan David, sang robot anak menjadi tokoh yang ironisnya paling manusiawi dibandingkan tokoh-tokoh lainnya dalam film ini.

Kolaborasi antara Kubrick dengan Spielberg dalam AI mau tidak mau akan mengundang penonton (termasuk saya) untuk menebak mana bagian yang digagas Kubrick dan mana milik Spielberg. Tentu saja sebagian besar orang (lagi-lagi, termasuk saya) akan mengira bahwa paruh pertama film yang penuh dengan efek visual mengagumkan dan latar dunia modern nan canggih adalah bagian Kubrick yang dikenal lekat dengan pendekatan kritis akan teknologi, sedangkan paruh akhir film khususnyas epilog ditangani Spielberg yang dikenal sentimental (tengoklah bagaimana ia mendandani Schindler’s List (1993), Saving Private Ryan (1998), Amistad (1997), dan masih banyak lagi). Tetapi tenryata yang terjadi adalah sebaliknya karena Spielberg mengaku bahwa apa yang dikira orang adalah bagian Kubrick adalah hasil kerjanya dan sebaliknya apa yang dikira orang ia kerjakan adalah bagian Kubrick.

Membicarakan sci-fi tentu tidak lengkap tanpa membahas bumbu utama film jenis ini, efek visual. Keptusan Kubrick untuk tidak memulai proses produksi sebelum teknologi perfilman siap menangani efek visual canggih taernyata sangat tepat, karena sepbagaimana penonton bisa lihat sendiri hasil green computer animation yang menakjubkan dan makeup yang mampu membuat tampilan Jude Law layaknya Astroboy. Perhatikan juga robot-robot cacat dengan berbagai bagian tubuh yang hancur dan tak lengkap yang digambarkan secara nyata. Ada robot wanita yang tidak memiliki rahang, robot yang tidak memiliki tangan kemudian menyambungkan tangan dari robot lain, helikopter, mobil, kapal selam futuristik, Rouge City, semuanya melengkapi dan menguatkan kesan high tech.

Hal lain yang tak kalah penting dalam membentuk kesempurnaan AI adalah akting Osment yang sangat brilian. Di sepanjang film, Osment memberikan penampilan primanya dalam memerankan David, robot kecil yang mendambakan kasih sayang ibu dan berjuang dengan gigih mendapatkannya. Osment sangat berhasil mencitrakan David sebagai robot yang kepolosannya tak kalah dibandingkan anak kecil biasa. Cara Osment yang berbicara dengan perlahan dan wajah memelas membuat penampilannya memukau. Saya begitu heran sekaligus sedih ketika Osment tidak masuk nominasi Oscar sebagai Best Actor, padahal bagi saya ia sangat pantas mendapatkan apresiasi seperti itu.

Secara keseluruhan , AI merupakan salah satu sci-fi yang paling memorable bagi saya. Bagi Anda pecinta sci-fi, film ini tidak boleh dilewatkan begitu saja. AI bagi saya adalah jenis film yang tak akan lekang oleh waktu, semakin terlihat sempurna ketika ia semakin banyak ditonton, hingga berulang kali. Wonderful performance from the actors, wonderful story, wonderful visual effects, and wonderful insights so it's 4.5 out of 5 stars for me. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:
Children of Men (2006)

Director: Alfonso Cuarón
Stars: Julianne Moore, Clive Owen, Chiwetel Ejiofor
Genre: Drama, Adventure, Sci-Fi
Runtime: 109 minutes

Never Let Me Go (2010)

Director: Mark Romanek
Stars: Keira Knightley, Carey Mulligan and Andrew Garfield
Genre: Drama, Fantasy, Romance
Runtime: 103 minutes

Friday, January 18, 2013

Deliverance: When Survival is a Game

Kalimat “What Did Happen in Cahulawassee River?” yang terpampang bersama dengan gambar seorang pria dengan wajah tegang dan seorang pria yang tengah membidik dengan tombak dalam sebuah sampul DVD membuat saya penasaran dengan Deliverance (1972), sebuah film adventure thriller besutan sutradara John Boorman (Hope and Glory, The General). Berbagai pertanyaan langsung menyeruak dalam benak saya: siapa dua orang yang tergambar dalam poster itu, apa yang mereka alami di tempat yang disebut Cahulawassee River, dan tentunya bagaimana mereka menghadapi kejadian di Cahulawassee River tersebut. Film yang diadaptasi James Dickey dari novelnya sendiri dengan judul yang sama ini bagi saya merupakan film dengan multilayered story, di mana terdapat pesan-pesan yang diselipkan pada banyak bagian cerita.

Deliverance berkisah mengenai perjalanan liburan empat orang pebisnis dari kota, yaitu Lewis (Burt Reynolds), Ed (Jon Voight), Bobby (Ned Beatty), dan Drew (Ronny Cox). Liburan empat orang kota ini bukan liburan biasa, sebab mereka adalah orang-orang kota yang memilih untuk tidak bermain golf di lapangan eksklusif dengan caddy-caddy cantik seperti orang kota lain, mereka memilih untuk berpetualang ke daerah pedalaman mencari sungai bernama Cahulawassee River. Cahulawassee River sendiri diceritakan merupakan ekosistem alami yang terancam punah sebagai akibat aktivitas pertambangan di daerah itu yang semakin menggila. Ide mengunjungi sungai tersebut berasal dari Lewis, pria dengan jiwa petualang dan sangat peduli pada lingkungan alami, dan antiteknologi, sebuah pandangan yang membuat Lewis dianggap extremist oleh kawan-kawannya. Dengan mengendarai dua mobil yang beriringan, mereka berempat tiba di sebuah pemukiman terpencil. Mereka bermaksud untuk menitipkan mobil pada penduduk setempat untuk kemudian menghabiskan beberapa hari mengarungi jeram dengan kano.

Saat Lewis dan kawan-kawan tiba di pemukiman terpencil tersebut, penonton dapat melihat kejanggalan yang langsung terasa di daerah itu. Tempat itu begitu sepi, hanya ada orang tua dan anak-anak. Anak-anak yang diperlihatkan juga mengalami kecacatan, sebuah kondisi yang membuat penonton bertanya-tanya dalam hati apakah semua anak-anak di daerah itu cacat (akibat aktivitas penambangan?). Lebih janggal lagi, hampir semua orang yang ditemui Lewis dan kawan-kawan heran dengan maksud dan tujuan mereka berempat untuk berkano di Cahulawassee River. Namun, setelah berhasil bernegosiasi dengan seorag penduduk setempat, Lewis dan kawan-kawan diantar (baca: mencari sendiri) lokasi sungai yang disebut-sebut memiliki keindahan yang menakjubkan itu. Di Cahulawassee River, mereka berkemah dan menjelajah jeram dengan kano yang memacu adrenalin. Namun, suatu kejadian di tepi sungai itu membuat perjalanan liburan mereka hancur berantakan. Sebuah kejadian yang tak hanya menunjukkan pada kita seberapa kuat manusia menghadapi alam, tetapi juga bagaimana manusia menyelamatkan diridari cengkeraman sifat buruk sesama manusia.

Dari awal hingga akhir cerita, Boorman sukses mempertahankan tingkat ketegangan yang membuat penonton terus menggeser posisi duduknya dari depan ke belakang, memandang dan membayangkan dengan ngeri apa yang akan terjadi selanjutnya. Salah satu scene yang paling saya suka adalah saat Ed dan Bobby ditawan oleh dua orang aneh dan mengalami kejadian yang tak akan mereka lupakan. Scene tersebut secara perlahan-lahan berubah dari obrolan biasa di antara keempat orang yang bertemu di tepi sungai, kemudian penonton akan mengira Ed dan Bobby akan dirampok atau langsung dibunuh, kemudian saya sempat berpikir bahwa dua orang asing itu adalah kanibal, tetapi tidak pernah berpikir bahwa dua orang itu hanyalah orang-orang mesum yang keji. Suara yang keluar dari mulut Bobby ketika ia mengalami pelecehan seksual juga menimbulkan efek ngeri, sedih, dan kasihan secara sekaligus, ditambah pengambailan gambar dari sudut kamera yang membuat penonton seperti menjadi saksi dari ganasnya sifat manusia serta memperlihatkan keadaan Ed yang pasrah sekaligus pilu melihat kondisi Bobby. Tidak hanya kata-kata, pengaturan gerak tokoh-tokoh dalam scene itu juga sangat tepat dan menambah ketegangan penonton. Bobby yang diperintahkan terus menguik (menirukan suara babi) terus melakukan perlawanan-perlawanan kecil hingga akhirnya ia kehabisan tenaga dan mengikuti semua perintah dari pria yang tidak berperikemanusiaan. Bobby berusaha melarikan diri ke dalam hutan yang menanjak, tetapi dengan mudah ditarik oleh sang penjahat, aksi si penjahat yang menaiki dan mendorong bokong Bobby, ekspresi muka Bobby, semua itu memperlihatkan perjuangan dan perlawanan yang efek emosi dan lelahnya sampai ke penonton. Dengan iringan petikan banjo yang terdengar aneh di sepanjang cerita, Boorman menyajikan tampilan cerita yang dapat membuat penonton bertanya dalam hati, "What the hell is actually happened?"

Aspek lain yang patut dipuji dari Deliverance adalah perkembangan karakter tokoh-tokohnya. Lewis muncul pertama kali di layar dengan langsung membawa kesan seorang pria macho, pria yang tahu segala hal, waspada, banyak akal, pemberani, dan suka tantangan dan mengagumi alam liar, serta kurang suka dengan perkembangan teknologi yang membuat manusia lemah. Ed terkesan lebih lunak. Ia adalah tipe pria yang cermat menghadapi segala hal, selalu memiliki pertimbangan bijaksana. Drew adalah pria pecinta musik yang sangat senang bertemu orang lain yang memiliki minat yang sama, patuh pada peraturan, dan cenderung tidak ingin mengambil keputusan yang nekat. Sementara itu, Bobby adalah tipe pria yang sangat kota, terbiasa dengan segala fasilitas dan teknologi yang ada, dan sedikit penakut. Namun seiring dengan bejalannya cerita, penonton akan menemukan bahwa Lewis yang terlihat paling kuat ternyata tak berdaya menahan rasa sakit ketika kano mereka terbalik, sehingga ia sangat bergantung pada Ed. Sementara Ed sebailknya, dengan segala kecermatannya, ia berubah menjadi pria yang paling diandalkan, berjuang mati-matian tanpa kenal lelah, dan memikirkan alibi apa yang akan mereka katakan pada polisi sesampainya di pemukiman. Bobby sendiri di pertengahan dan akhir cerita terlihat menjadi lebih mandiri, berani berkonspirasi dengan teman-temannya untuk megelabui polisi, sebuah tindakan yang terlihat tidak mungkin dilakukan oleh sosok Bobby sebelum kejadian di Cahulawassee River.

Dari segi sinematografi, film ini menawarkan pemandangan alam sungai yang menakjubkan. Film yang berlokasi syuting di Chattooga River, daerah pegunungan Appalachian ini juga memperlihatkan bagaimana kegiatan eksploitasi penambangan berdampak begitu mengerikan pada bumi. Ada satu scene yang memperlihatkan peledakan lokasi tambang dengan asap mengepul yang begitu dahsyat. Tebing, hutan, jeram-jeram sungai yang ekstrim juga selalu mengiringi perjalanan Lewis dan kawan-kawan. Sementara itu dari departemen akting salut saya sampaikan pada Beatty yang melakukan debutnya di sini dengan brilian. Sebagai Bobby, ia sangat berhasil memainkan karakter orang kota yang sengsara menghadapi kejamnya alam dan manusia lain, dan berhasil survive. Sementara aktor-aktor lain sangat terampil dalam mengayuh dayung dalam banyak adegan arung jeram. Saya membayangkan berapa lama mereka berlatih berkano untuk menguasai medan syuting yang menantang. Ekspresi lelah dan gembira yang terpancar dari empat aktor ini ketika menaklukan tantangan alam tersebut sangat terasa nyata hingga penonton seakan-akan ikut mendayung kano dan mengamati keindahan sungai.

Film berdurasi 110 menit ini menyelipkan begitu banyak pesan dan simbol di tataran filosofis pada hampir seluruh bagian cerita, misalnya petualangan arung jeram, adegan Ed yang memanjat tebing, dan Lewis yang menderita akibat kano yang terbalik menunjukkan betapa manusia belum sepenuhnya mampu menaklukan alam tanpa bantuan mesin, senajata, dan teknologi lainnya. Di sisi lain, kemunculan dua orang penjahat dan orang-orang yang mencari keuntungan pribadi dengan mengeksploitasi alam juga membuat manusia mempertanyakan nurani sesama manusia lain yang justru dapat menjadi ancaman yang lebih berbahaya dari segala ancaman-ancaman lain. Begitu pula halnya dengan pemikiran bahwa manusia adalah makhluk terkuat di bumi, menyatakan bahwa survival hanyalah sebuah permainan yang akan selalu dimenangkan manusia akan tergoyahkan di film ini. Salah satu scene yang memiliki simbol signifikan dalam film ini adalah ketika Drew berkolaborasi dengan seorang bocah albino pemain banjo cilik. Scene tersebut menunjukkan persatuan antara orang kota dan pedalaman yang ternyata dapat berbaur dengan mudah hanya dengan petikan alat musik sederhana, tidak ada yang lebih superior di antara mereka. Dalam cerita berikutnya, keempat tokoh dalam cerita ini begitu kaget ketika mereka menemukan bahwa dalam keadaan tertentu ternyata orang-orang pedalaman memiliki sifat-sifat jahat yang sama kejamnya dengan orang-orang kota yang serakah. All in all, it’s terrific 3.5 stars out of 5. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:

Director: Sean Penn
Stars: Emile Hirsch, Vince Vaughn, Catherine Keener
Genre: Drama, Adventure, Biography
Runtime: 148 minutes

Dengan segala keberanian dan ketangguhan dirinya, Christopher McCandless rela meninggalkan semua urusan duniawi untuk kemudian berkelana mengarungi kehidupan liar dan merasakan hidup bersama alam. McCandless dikenal sebagai pemuda cerdas yang idealis. Perjalanannya menapaki alam yang cadas dimotivasi oleh pandangan dan prinsip hidupnya yang membenci segala bentuk penindasan, kemunafikan, dan keserakahan...

White Water Summer (1987)

Director: Jeff Bleckner
Stars: Kevin Bacon, Sean Astin, Jonathan Ward
Genre: Drama, Adventure
Runtime: 90 minutes

Friday, January 11, 2013

The Devil's Advocate: Membalas Kebaikan Hati Setan

Banyak orang bilang setan bisa berwujud apapun, bahkan hingga ke bentuk yang tak terduga, seperti manusia. Dengan wujud yang tak terduga itu, setan dapat memperdaya dan memanipulasi manusia. Tentunya, hanya orang-orang tertentu yang berhasil terkena bujuk rayu setan. Orang-orang itu memiliki beragam latar belakang, seperti tidak percaya adanya Tuhan, cinta dunia yang berlebihan, atau memiliki ambisi yang tak pernah tercapai sebelumnya sehingga mereka mau melakukan demi mendapatkan apa yang diambisikannya itu. Berbiara tentang setan memang tidak akan pernah ada habisnya, karena yang dibicarakan adalah sesuatu yang tidak tampak, sesuatu yang dapat memengaruhi alam bawah sadar dan perilaku manusia. Kisah mengenai setan yang memperdaya manusia telah sering di angkat ke layar lebar, salah satunya adalah The Devil’s Advocate (1997).

The Devil’s Advocate mengisahkan kehidupan Kevin Lomax (Keanu Reeves), seorang pengacara pemula yang hidup cukup sederhana di Florida. Kevin belum banyak menangani kasus-kasus besar, tetapi yang luar biasa adalah ia tak memiliki satupun catatan kekalahan sebelumnya, dan dalam diri Kevin tak pernah terbersit bayangan kekalahan sedikitpun. Kevin berambisi untuk selalu menang di pengadilan, mendapat pekerjaan dalam kasus-kasus besar, dan pastinya meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Dengan pendirian dan cita-cita setehg itu, Kevin membentuk pribadinya menjadi seorang perfeksionis.Kevin adalah putra seorang wanita penganut Katolik yang taat, Alice (Judith Ivey). Alice membesarkan Kevin seorang diri dan tak pernah menceritakan siapa ayah kandung Kevin sebenarnya. Kevin memiliki seorang istri bernama Mary Ann (Charlize Theron) yang juga seorang pekerja keras. Kevin dan Mary Ann sama-sama sibuk pada pekerjaan masing-masing hingga impian mereka untuk memiliki anak belum tercapai.

Keberuntungan menghampiri Kevin ketika suatu saat setelah memenangkan kasus pelecehan murid oleh gurunya di pengadilan, (he felt weird about the case, because at some point he pretty sure that his client is guilty but his mind won’t let him lose the case so he tried to distort the fact and voila, he won!) ia mendapatkan tawaran pekerjaan dari sebuah kantor pengacara di New York. Kantor itu memakai nama tiga orang partner, Milton-Chadwick-Waters yang meski belum pernah didengarnya ternyata merupakan sebuah kantor pengacara bonafide. Untuk tawaran pekerjaan memilih juri saja Kevin mendapatkan fasilitas dan pelayanan nomor satu sebagai imbalannya. Siapa yang tidak tergoda dengan tawaran sedemikian menggiurkan seperti itu? Akhirnya, meski Alice sempat ragu mendukung keputusannya, Kevin dan Mary Ann menerima tawaran itu dan pergi ke New York. Sesampainya di New York, semudah membalikkan telapak tangan Kevin membantu tim pengacara memilih juri yang akhinya memenangkan kasus yang diperkarakan. Melihat bakat dan kemampuan Kevin, John Milton (Al Pacino) langsung tertarik untuk merekrut Kevin dan memberinya satu kasus mudah yang disadari Kevin hanya sebagai tes dari Milton. Meskipun begitu, dengan sifat perfeksionisnya Kevin mempersiapkan pembelaan untuk kasus ini begitu matang dan tentunya lagi-lagi ia memenagkan kasus tersebut.

Kevin semakin mendapat simpati Milton dan ia pun menerima sebuah kasus pembunuhan tingkat tiga yang biasa ditangani oleh pengacara dengan jam terbang tinggi seperti Eddie Barzoon (Jeffrey Jones). Dalam waktu cukup singkat, Kevin menemukan musuh barunya, Eddie yang cemburu atas keberpihakkan Milton pada Kevin, terutama setelah Kevin memenangkan kasus pembunuhan itu dan diangkat menjadi partner. Kasus pembunuhan itu sendiri menyita habis seluruh perhatian, waktu, dan tenaga Kevin hingga ia membiarkan Mary Ann dalam kesepian. Hubungan mereka berdua menjadi semakin berjarak, Kevin mulai terdistraksi dengan pesona rekannya di kantor, Christabella Andreoli (Connie Nielsen), sementara Mary Ann sendiri semakin tidak nyaman dengan khidupan New York yang aneh, menakutkan, dan dikelilingi iblis. Mary Ann semakin hari semakin sering mengalami halusinasi, mimpi, dan mengucapkan kata-kata yang tak dimengerti Kevin sehingga membuatnya semakin stress di tengah pekerjaan beratnya menghadapi kasus pembunuhan. Milton sendiri telah mengingatkan Kevin akan tekanan yang ia harus hadapi bila menerima tawaran kerja darinya. Bahkan ketika melihat Kevin kewalahan mengurus kasus dan istrinya yang semakin sakit, Milton menyarankan Kevin untuk melepaskan kasus pembunuhan itu, dan pulang ke rumah mengurus istrinya. Tapi bagi Kevin yang menganggap berhenti di tengah jalan sama saja dengan kekalahan (and he doesn’t give a sh*t to lose), ide untuk meninggalkan kasus itu saja tak pernah ada dalam pikirannya. Akhirnya, meski untuk kali kedua ia ragu dengan kesaksian kliennya sendiri, Kevin mampu menyakinkan para juri dan memenangkan kasus tersebut.

Harga mahal harus dibayar Kevin untuk ambisi kemenangannya. Kondisi kejiawaan Mary Ann semakin memburuk bahkan Kevin menemukan istrinya itu penuh luka di sekujur tubuhnya dan memasukkannya ke rumah sakit jiwa agar Mary tidak melukai dirinya sendiri. Ada sesuatu yang diketahui Mary Ann tetapi ketika ia memberitahu suaminya, Kevin menganggap Mary Annmengucapkan hal-hal irasional yang tak dimengerti olehnya. Keadaan menjadi semakin janggal ketika semakin banyak orang-orang di sekitar Kevin menderita sementara ia sendiri terus meraup kemenangan demi kemenangan. Akhirnya, Alice mengungkapkan satu rahasia besar yang dapat menjelaskan semua keadaan ini, bahwa ayah Kevin adalah setan dan ia bermaksud mengendalikan kehidupan manusia melalui bantuan Kevin. Selama ini hidup Kevin dimudahkan oleh sang setan, kini setan itu berniat meminta imbalan. Mengetahui hal ini, Kevin mencoba berpikir lebih jernih mengesampingkan keinginan pribadinya, bersiap "membalas" kebaikan hati sang setan, dan segalanya pun berubah.

Menyimak dari segi ide cerita, hubungan antara manusia dengan setan bukanlah sesuatu yang baru. Plot The Devil’s Advocate yang naskahnya diangkat dari novel dengan judul yang sama buah pena Andrew Neiderman ini cukup sederhana dan karakter-karakternya sanga mudah ditebak. Penonton akan dengan cepat menemukan siapa sebenarnya Kevin, Mary Ann, dan Milton serta dapat mengetahui dengan pasti siapa yang jahat (dalam hal ini siapa sang setan sebenarnya), siapa yang menjadi korban, trik apa yang dilakukan setan untuk memperdaya korbannya. Meski begitu, cerita dalam film ini memiliki twist yang menurut saya cukup sulit diperkirakan. Tetapi secara keseluruhan tidak ada yang spesial dari alur ceritanya. Karena karakter danalur cerita lurus yang dapat dengan mudah diprediksi, ketegangan dalam menonton The Devil’s Advocate hanya tersisa pada tampilan-tampilan menyeramkan seperti halnya ilm horror lain, misalnya adegan saat Mary Ann menemukan bayi yang sedang bermain dengan ovarium dirinya, wajah-wajah setan yang berkedok para wanita, atau luka-luka di tubuh Mary Ann. Selebihnya, cerita The Devil’s Advocate dapat dikatakan basi.

Aspek yang dapat dikatakan cukup menarik dalam film berdurasi 144 menit ini adalah penyutradaraan Taylor Hackford (Ray, Bound by Honor) yang fokus pada detail. Bekerja sama dengan production designer Bruno Robeo dan sinematografer sekaligus director of photography Andrzej Bartkowiak, Hackford menyajikan gambar-gambar yang cukup menyeramkan. Misalnya setting dari ruang kantor dan tempat tinggal Milton yang minimal perabotan tetapi penuh dengan simbol misterius, seperti pahatan yang menyerupai wajah orang, pintu otomatis, dan api dalam ruangan yang tak pernah padam. Api itu menimbulkan efek warna merah di wajah orang, contohnya dalam adegan akhir ketika Milton menyatakan keinginan sesungguhnya pada Kevin., wajah Milton menjadi semerah api, persis gambaran umum mengenai setan. Selain itu, untuk menggambarkan kejanggalan-kejanggalan yang diabaikan Kevin seiring waktu berlalu, Hackford dan kawan-kawan sering mengambil gambar awan yang berarak dan lalu lintas yang dicepatkan. Sementara untuk efek dramatis, slow motion digunakan, seperti dalam adegan detik-detik sebelum Eddie Barzoon menemui ajalnya saat sedang lari pagi. Sementara Milton berbicara panjang lebar mengenai keburukan Eddie, gerakan lari Eddie semakin melambat.

Dari segi peran, Al Pacino yang sangat khas dengan kemampuan bersikap santai, natural, bijak dan di saat bersamaan gerak mata yang menyelidik, senyum yang misterius, serta kata-kata yang tak dimengerti menjadikan penampilannya menonjol dalam film ini. Warna suara dan tawa Al Pacino memang sangat memerankan tokoh manipulative seperti Milton. Charlize Theron bagi saya juga menunjukkan penampilan berkualitasnya sebagai wanita depresif, putus asa, dan tak berdaya dengan lingkar mata yang selalu merah, air mata yang berlinang, dan sikap fragile yang ia tunjukkan membuat karakter Mary Anna menjadi sangat dikasihani. Sebagai informasi, Theron juga berani tampil tanpa sehelai benang pun dalam adegan ini dan memperlihatkan setiap centi tubuhnya dengan pengambilan gambar tampak depan. Film ini sendiri memang penuh dengan adegan-adegan dewasa dan darah.

Secara keseluruhan, The Devil’s Advocate memberikan tontonan yang menjemukan di mana penonton dapat menebak satu langkah di depan alur cerita selanjutnya, efek suara dan dialog yang pretensius, dan mendengar Keanu Reeves berteriak-teriak hamper di setiap ruang sidang yang membuat perannya agak sedikit berlebihan. Ceritanya sendiri tidak seseram film horror lain seperti Insidious (2010) atau The Exorcist (1973). Lagipula jika dipikir-pikir lagi, setan dalam film ini bisa dibilang baik hati, memperingatkan manusia terlebih dahulu sebelum benar-benar jatuh ke dalam lingkaran setan hihihi. It’s not thrill enough, 2.5 stars out of 5. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:
Rosemary's Baby (1968)

Director: Roman Polanski
Stars: Mia Farrow, John Cassavetes, Ruth Gordon
Genre: Drama, Horror, Mystery
Runtime: 136 minutes

Don't Look Now (1973)

Director: Nicolas Roeg
Stars: Julie Christie, Donald Sutherland, Hilary Mason
Genre: Drama, Horror, Mystery
Runtime: 110 minutes

Thursday, January 10, 2013

The Usual Suspects: You've Been Fooled!

"The greatest trick the devil ever pulled was convincing the world he didn't exist . And like that, poof. He's gone”.

Dengan mengutip Charles Baudelaire, Roger “Verbal” Kint (Kevin Spacey) mendeskripsikan penjahat paling ditakuti, Keyser Soze. Tak ada yang tahu apakah Keyser Soze tokoh nyata atau bukan, tetapi yang jelas semua orang takut padanya. Verbal Kint sendiri mengaku ia percaya Tuhan, tetapi satu-satunya hal yang ia takuti adalah Keyser Soze. Verbal memberikan analogi yang begitu unik dan membekas di hati dan kepala penonton bahkan hingga kredit akhir dalam The Usual Suspects (1995) berakhir ditayangkan.

Diawali adegan yang memperlihatkan siluet seseorang membakar dan menembak seorang laki-laki, pembuka tersebut memberikan stimulus kuat pada penonton. Pertanyaan langsung timbul di kepala setiap orang: siapa siluet misterius itu, siapa laki-laki yang ditembaknya, dan mengapa ia ditembak. Berikutnya, penonton diberikan gambaran yang lebih luas bahwa adegan tersebut terjadi di dek sebuah kapal yang masih bersandar di pelabuhan dan diduga kejadian tersebut berkaitan dengan transaksi jual beli narkoba. Laki-laki yang ditembak itu bernama Dean Keaton (Gabriel Byrne). Dua orang dari dua instansi berbeda secara terpisah mengusut kasus ini, yaitu Dave Kujan (Chazz Palminteri) dari Kepabeanan AS dan Jack Baer (Giancarlo Esposito) dari FBI. Cerita selanjutnya mengetengahkan upaya mereka berdua dalam menginterogasi dua korban selamat dari kebakaran dan penembakan di kapal itu, yaitu Roger “Verbal” Kint (Kevin Spacey) dan Arkosh Kovash (Morgan Hunter). Verbal Kint ditangani Kujan sementara Arkosh Kovash diinterogasi Baer di rumah sakit karena pria Hungaria itu menderita luka berat.

Dengan kondisi tubuh mengalami luka bakar hebat, Arkosh Kovash menyebut-nyebut nama Keyser Soze, seseorang yang diduga menjadi dalang kejadian di kapal. Baer kemudian meminta Kovash memberikan detail ciri-ciri fisik Keyser Soze sehingga dapat dibuatkan sketsa wajah. Di dunia kriminal sendiri, nama Keyser Soze ibarat sebuah mitos yang mampu menakut-nakuti penjahat-penjahat kelas teri, namun tak ada seorang pun yang tahu kebenaran mitos tersebut.

Di tempat terpisah, Verbal Kint yang telah memberikan kesaksian yang kurang meyakinkan dipaksa oleh Kujan memberikan keterangan sebenarnya mengenai apa yang terjadi dia atas kapal itu dan siapa yang terlibat. Dengan sedikit ragu (tidak, arogan lebih tepatnya karena Verbal memiliki posisi tawar lebih tinggi daripada Kujan setelah ia menerima imunitas atas kasus di kapal itu), Verbal menceritakan ihwal kejadian di atas kebakaran dan penembakan di kapal. Cerita Verbal berawal dari bertemunya lima penjahat yang ditahan bersamaan atas tuduhan pembajakan sebuah kendaraan. Lima orang itu adalah Keaton, Michael McManus (Stephen Baldwin), Fred Fenster (Benicio Del Toro), Todd Hockney (Kevin Pollak), dan Verbal sendiri. Meksi akhirnya polisi tidak mendapatkan cukup bukti untuk menahan mereka berlima, namun penangkapan dan penahanan mereka selama semalam membuahkan kesepakatan kerja sama untuk melakukan tindak kriminal. Setelah berhasil merampok dari bisnis polisi-polisi korup New York, mereka mendapat tawaran pekerjaan lain yang ternyata sebah jebakan yang dirancang oleh seorang pengacara bernama Kobayashi (Pete Postlethwaite) agar mereka berlima mau menerima pekerjaan dari bosnya, Keyser Soze. Pekerjaan itu bukanlah sesuatu yang dapat dinegosiasikan, sebab mereka memang harus menyelesaikan pekerjaan tersebut. Bila berhasil, mereka akan mendapatkan imbalan, tetapi mereka tidak boleh menolak atau kabur dari pekerjaan tersebut, sebab Keyser Soze adalah orang berkuasa yang mengetahui seluk-beluk kehidupan mereka berlima dan dapat melakukan apa saja yang membuat mereka patuh pada perintahnya. Perintah Keyser Soze tersebut semakin terbukti tidak main-main ketika Fenster yang mencoba melarikan diri tewas dibunuh Kobayashi. Tetapi itu tidak mematahkan semangat empat penjahat yang tersisa ini untuk melarikan diri dari jeratan Kobayashi yang mereka duga adalah Keyser Soze. Namun, usaha mereka itu hanya menemukan ancaman yang lain dari Kobayashi, sehingga dengan berat hati mereka menerima pekerjaan itu dengan segala risikonya.

Pekerjaan Verbal, Keaton, McManus, dan Hockney sebenarnya cukup sederhana: menggagalkan transaksi jual-beli narkoba dari gang Argentina pesaing Keyser Soze yang juga memiliki lahan bisnis narkotika. Transaksi itu akan dilakukan di atas sebuah kapal. Mereka berempat pun mengatur strategi: Hockney menangani perampokan uang yang akan digunakan dalam transaksi itu, Keaton dan McManus membantai anggota gang penjual dan pembeli narkoba, serta Verbal diberi tugas oleh Keaton untuk berjaga-jaga dan membawa uang transaksi itu ke Edie Finneran (Suzy Amis), kekasih Keaton yang merupakan seorang pengacara bila sesuatu terjadi pada Keaton dan yang lainnya. Nyawa demi nyawa tercabut di ujung senapan Keaton dan McManus, tetapi mereka berdua tak juga menemukan narkoba yang dimaksud Keyser Sozan. Sementara itu McManus dan Hockney tewas secara misterius dan seseorang yang tak dikenali wajahnya menembak seorang anggota gang Argentina, Keaton, dan akhirnya membakar kapal tersebut. Setelah mendengar penjelasan Verbal, Kujan menduga kuat bahwa Keaton adalah Keyser Sozan mengingat kelicikan yang pernah ia buat sebelumnya, berpura-pura mati padahal hanya melarikan diri beberapa saat untuk menghindari tuntutan atas aksi kriminalnya. Terkejut, Verbal pun meninggalkan kantor polisi itu dan Kujan merasa yakin akan kesimpulannya meski akhirnya ia menemukan sebuah fakta mengejutkan yang tak pernah ia kira sebelumnya.

The Usual Suspects menggambarkan cara kerja dunia manusia. Di dunia manusia yang penuh dengan ketidaksempurnaan, berlaku satu hukum umum: tidak semua orang jahat mau mengakui perbuatannya. Bahkan sebuah lelucon yang sering kita dengar, jika semua penjahat mengaku maka penjara akan penuh, ternyata ada benarnya juga, sebab hingga kini badan-badan penegak hukum tetap berdiri kokoh menagani kasus-kasus kejahatan di seluruh dunia. Jika semua orang di dunia ini bersedia mengakui kejahatannya dengan sukarela, maka badan-badan tersebut tidak akan pernah eksis. Semua itu karena manusia memiliki dua sisi kehidupan, ada yang hitam maupun putih, ada yang baik maupun jahat, just like yin and yang. Sifat-sifat itu saling melengkapi dan menyeimbangkan satu sama lain. Orang yang baik akan selalu menjadi musuh bagi orang jahat dan sebaliknya. Jika menggunakan kacamata struktural fungsional, seseorang bisa dinilai baik kalau ada indikator perbuatan buruk. Jadi, kejahatan itu sebenarnya memiliki manfaat tersendiri. Namun, seiring dengan waktu, penjahat dan tindak kejahatannya semakin pintar mengelabui aparat penegak hukum sehingga acapkali penanganan sebuah tindak kejahatan menjadi rumit.

Dalam The Usual Suspects, tokoh penjahat tidak hanya sekedar mengelabui penegak hukum, tetapi lebih dari itu ia mampu meyakinkan bahwa penjahat sang penjahat tidak pernah ada dan hanya mitos belaka. Hanya penjahat jenius yang mampu melakukannya, dan Keyser Soze merupakan karakter yang berhasil digambarkan demikian. Dengan cerdas, penulis naskah Christopher McQuarrie menciptakan karakter Keyser Soze yang tersembunyi di pelupuk mata. Ia “hanya muncul” di akhir cerita meski sebenarnya kunci seluruh jalinan cerita itu sendiri ada ditangannya. Dengan gaya penceritaan naratif kilas balik, penonton dijamin tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk lengah sedikitpun sebab setiap keping cerita Verbal saling menyambung dengan cerita berikutnya, membuat pengalaman menonton film berdurasi 106 menit menjadi terasa film terpendek yang pernah Anda tonton. Alur cerita yang dikisahkan Verbal seakan tanpa henti, bergerak dengan cepat, saling mendukung antara satu kisah ke kisah lain: mulai dari awal pertemuan lima penjahat yang ternyata memang direncanakan oleh sang iblis Keyser Soze, “mitos” seputar Keyser Soze, perjalanan kriminal lima orang penjahat itu dalam menjalankan perintah Keyser Soze, adegan tembak-menembak di akhir-akhir film, hingga twist paling memorable yang menguak siapa sebenarnya Keyser Soze.

McQuarrie pada dasarnya juga tidak menempatkan penonton pada posisi yang tidak mengetahui apa-apa, karena sebenarnya ia dan sutradara Bryan Singer (Valkyrie, X-Men) tidak memberikan banyak detail yang membingungkan. Sepanjang film, cerita yang diungkapkan Verbal dapat diikuti sepenuhnya oleh penonton tanpa menemukan banyak pertanyaan. Hanya saja bagi saya (dan mungkin Anda penggemar genre crime dan thriller) prinsip untuk jangan memercayai siapapun tetap berlaku, terutama bagi tokoh yang menjadi satu-satunya orang yang selamat dari suatu kejadian besar sangat patut dipertanyakan. Di sinilah menurut saya kejeniusan dua sineas yang melakukan kolaborasi kedua di Valkyrie itu, mereka mampu meracik dan menampilkan cerita mengenai tokoh misterius tetapi sebenarnya penonton sudah memiliki bayangan dan tebakan sendiri dalam alam pikirannya siapa sebenarnya Keyser Soze. Dugaan atau tebakan itu pada awalnya terkesan tidak cukup kuat dan memerlukan bukti-bukti lain untuk lebih meyakinkan, sehingga penonton tetap “diseret” untuk mendengarkan kisah Verbal yang sangat interaktif. Terkadang dugaan penonton akan sedikit goyah atau malah menghilang sama sekali dan pasrah menunggu akhir cerita.

Dari segi penyutradaraan, Singer sangat sukses memaku penonton di kursinya dengan tensi cerita yang tak pernah turun sepanjang film. Fast-paced dialogue-and-storytelling menjadi ramuan andalan Singer dalam menciptakan ketegangan dan penasaran pada penonton. Suasana ketika Verbal membeberkan ceritanya (saya tidak menyebutnya kesaksian karena Kuja tidak memiliki wewenang resmi untuk menginterogasi Verbal) begitu intensif. Setelah Verbal menyelesaikan satu potong ceritanya, Kujan selalu memberikan respon, baik berupa pertanyaan balik, rasa tidak percaya, kagum, kaget, atau sekedar senyuman. Terkadang Kujan langsung memotong cerita Verbal jika ia merasa perlu mengonfrontasi dengan pengetahuan yang dimilikinya. Singer mampu menampilkan percakapan dua orang dalam satu ruang kantor yang dibilang monoton dan kecil ini menjadi penuh dengan warna, terkadang Kujan membentak dan berteriak pada Verbal, di waktu lain Kujan terhanyut dalam cerita Verbal, terkadang Verbal menujukkan sikap arogannya.

Dalam hal sinematografi, Singer dikenal sebagai sutradara stylistic yang senang bereksperimen dengan permainan warna dan penentuan latar. Dalam The Usual Suspects, Singer memilih warna-warna gelap dalam sebagian besar aksi kriminal lima penjahat yang diceritakan Verbal. Warna-warna gelap itu dapat langsung dilihat penonton dari adegan awal di kapal, penangkapan lima penjahat, penahanan lima penjahat, pembunuhan Fenster di pantai, kantor di mana Verbal menceritakan kisahnya, dan masih banyak lagi. Sementara itu dari segi pengambilan gambar Singer hampir selalu menggerakkan kamera untuk menyorot keseluruhan situasi dalam satu adegan, seolah ia ingin menempatkan penonton hanya senagai saksi dari peristiwa yang terjadi, bukan sebagai karakter yang ikut berperan dalam peristiwa itu. Sebagai contoh, ketika lima penjahat itu melancarkan serangan dalam transaksi jual-beli (yang mereka kira) perhiasan, kamera secara bergantian menyorot Verbal yang menodongkan senjata dan penjual perhiasan yang terancam pucuk pistol Verbal. Pergerakan kamera itu cepat dan dapat dirasakan jelas oleh penonton. Dalam literatur, karakter Keyser Soze yang merupakan antihero tersembunyi, perkembangan plot cerita yang menguak siapa sebenarnya Keyser Soze, serta permainan warna-warna gelap sering disebut film noirs. Para akademisi perfilman sendiri sebenarnya tidak menemukan definisi seragam mengenai apa itu film noirs, termasuk apakan film noirs itu genre atau bukan, tetapi The Usual Suspects ini memiliki ciri spesifik yang mirip dengan film-film bertema kriminal tahun 1970-an yang dianggap senagai film noirs.

Dari departemen akting, sulit membayangkan bila tokoh Verbal digantikan dengan pemain lain selain Kevin Spacey. Spacey mampu membawakan tokoh Verbal dengan brilian menjadi karakter yang fragile, jinak, patut dikasihani, di balik sifat dingin yang menjadi watak sesungguhnya. Gaya bercerita Spacey ketika memerankan Verbal juga sangat ekspresif, hal itu terlihat jelas ketika ia mengutip Charles Baudelaire yang pada akhirnya akan terus melekat di benak penonton. Anugerah Oscar untuk Spacey sebagai Best Actor in a Supporting Role sangat pantas diberikan. Selain Spacey, film yang disesaki dengan ensemble cast ini sangat menarik disimak, mulai dari Baldwin, pemeran McManus yang tempramental; Byrne, pemeran Keaton sang ketua dari lima penjahat (ia selalu tampak paling serius, bijaksana, penuh perhitungan, dan agak sulit ditebak pemikirannya); Pollak, pemeran Hockney yang ahli membajak, hingga akting Benicio del Toro yang meski terbilang minor sebagai Fenster, ia tetap dapat membawakan karakternya prominent karena gaya bicara lucu Spanglish-nya yang amburadul dan bahkan hampir tak bisa dimengerti. Penampilan Postlethwaite juga tak kalah hebatnya. Karakter Kobayashi nampaknya memang dijadikan pengecoh bagi penonton dalam menebak siapa sebenarnya Keyser Soze, dan untuk tujuan ini, Postlethwaite sangat berhasil karena sikap dingin, tidak ekspresif, sekaligus punya banyak akal dan cara membuatnya tampak seperti orang yang benar-benar memiliki kekuasaan. Jangan lupakan pula performa Palminteri yang mampu mengisi ruang kantor yang sempit dan monoton dengan intensitas interogasi yang naik dan turun, selalu berhasil menstimulasi penonton.

Bagi saya, The Usual Suspects tak diragukan lagi merupakan one of the best crime dramas ever made. Saya tidak peduli pada banyaknya orang yang mengatakan bahwa film ini sampah karena seluruh ceritanya terkesan tidak berguna karena intinya ada pada twist atau pada komentar Roger Ebert yang mengatakan bahwa seharusnya plot lebih diarahkan pada perkembangan karakter lima penjahat, saya tetap akan memberikan film ini 5 dari 5 bintang. Ada yang pnya komentar?

Watch this if you liked:
Reservoir Dogs (1992)

Director: Quentin Trantino
Stars: Harvey Keitel, Tim Roth, Michael Madsen
Genre: Thriller
Runtime: 99 minutes

To Catch a Thief (1955)

Director: Alfred Hitchcock
Stars: Cary Grant, Grace Kelly, Jessie Royce Landis
Genre: Mystery, Romance
Runtime: 106 minutes

Friday, January 4, 2013

Extreme Measures: Perjuangan Menegakkan Moral

Ketika seseorang memiliki keinginan yang sangat kuat dalam dirinya, satu pertanyaan klasik akan selalu muncul: seberapa jauh ia akan berkorban demi mendapatkan keinginan tersebut? Ada sebagian orang yang bersedia melakukan apapun demi apa yang telah dicita-citakannya, tetapi sebagian lagi memilih untuk menakar terlebih dahulu konsekuensi apa yang akan ia dapatkan dari segala perbuatannya demi mencapai keinginan tersebut. Setiap orang memilih hak menentukan pilihan hidup, termasuk ketika ia memiliki keinginan. Tetapi masalahnya adalah bagaimana jika usaha untuk mendapatkan keinginan itu terbentur dengan etika, norma, dan hak orang lain? Anda bisa melihatnya dalam Extreme Measures (1996).

Dalam Extreme Measures, Anda akan berjumpa dengan karakter Dr. Lawrence Myrick (Gene Hackman), seorang neurologis berprestasi, dikenal luas oleh kalangan dokter, dan memiliki keluarga yang menghormati dirinya. Kehidupan Myrick semakin terlihat sempurna dengan niat mulianya untuk membantu orang-orang yang menderita kelumpuhan karena kerusakan tulang belakang. Niat mulia Dr. Myrick itu ternyata bukan hanya sekedar niat kemanusiaan semata, tetapi juga merupakan ambisi terbesar dalam hidupnya, sebuah impian yang tidak ada yang bisa tidak diwujudkan. Maka, selama bertahun-tahun ia memimpian sebuah penelitian. Ia membenarkan segala cara untuk meraih impiannya itu, termasuk menjadikan para tunawisma sebagai kelinci percobaan penelitiannya. Ia mengorbankan dan mempertaruhkan hidupnya dalam penelitian ini.

Sebagai lawan dari Dr. Myrick, Anda juga akan bertemu dengan Dr. Guy Luthan (Hugh Grant), seorang dokter muda dengan dedikasi tinggi dan pekerja keras. Ia bekerja 90 jam perminggu di rumah sakit yang tak pernah berhenti kebanjiran korban-korban yang memerlukan pertolongan darurat. Hidup Guy tampaknya memang didedikasikan untuk dunia medis, sampai-sampai di tengah kesibukannya itu ia masih sempat mengejar impiannya untuk mendapatkan beasiswa dari universitas. Dalam Extreme Measures, Dr. Guy merupakan tokoh protagonis yang berusaha menghentikan niat mulia yang dilakukan pada jalan yang salah Dr. Myrick.

Cerita berawal ketika pada suatu malam Guy diminta bantuan untuk menangani seorang pasien gawat darurat yang memiliki gejala sangat aneh: detak jantung yang berubah-ubah secara drastis, kejang-kejang, terlihat sangat syok. Pasien itu juga menggunakan gelang rumah sakit yang tak dikenal dan menyebutkan sesuatu yang dikira Guy semacam obat yang sama sekali belum pernah didengarnya. Pasien yang sempat mengaku bernama Claude Minkins itu akhirnya meninggal. Guy yang penasaran dengan pengalaman medis yang sangat aneh itu pun penasaran dan berusaha mencari tahu siapa Claude Minkins, obat apa yang ia ucapkan, dan dari rumah sakit mana ia berasal.

Bagi saya, pembuka film ini cukup baik dan berhasil menstimulasi penonton untuk tetap duduk di tempat dan menunggu kelanjutan jalan ceritanya. Namun, ternyata tensi itu tidak mampu dijaga dengan jalan cerita yang sangat mudah ditebak. Ketika penonton menemukan bahwa Dr. Myrick adalah dalang dari semua kejanggalan itu, tak banyak yang diharapkan dari film berdurasi 118 menit ini. Mungkin sisi menarik yang masih tersisa dan dapat doeksplor lebih jauh adalah menyaksikan bagaimana kehidupan Guy terguncang dan terseret dalam arus ambisi seorang dokter maniak. Guy tak pernah menyangka bahwa niatnya untuk menguak kebobrokan moral seorang dokter ternama justru menyudutkannya menjadi pihak yang serba salah. Niat baiknya itu telah menyebabkan Guy dipecat dari rumah sakit tempatnya bekerja, dijebak dalam kasus kriminal, dan nyawanya terancam setiap saat.

Dengan bermodalkan plot klise dalam genre thriller, penulis naskah Tony Gilroy mengadaptasi novel Michael Palmer dengan judul yang sama menjadi cerita yang miskin akan ketegangan dan teka-teki. Padahal, ide cerita tentang seorang dokter yang menggunakan manusia sebagai objek penelitian sangat potensial, kontroversial, provokatif, dan sangat layak dikembangkan hingga ke level yang dapat menahan nafas setiap penontonnya. Cerita yang tidak dikembangkan dengan baik ini mempersulit sutradara Michael Apted (Coal Miner’s Daughter, Gorillas in the Mist) untuk berkreasi dalam menyajikan rangkaian peritiwa yang menjalin cerita. Tidak ada momen-momen yang dapat mengejutkan penonton, tidak ada adegan yang menimbukan pertanyaan di benak penonton, dan tidak ada akhir cerita yang mengecoh penonton (meski harus diakui dialog antara Dr. Myrick dan Guy di akhir cerita memang thoughtful dan memorable). Semuanya dituturkan (baca: dibocorkan) dengan lugas dan jelas.

Adegan-adegan yang seharusnya dapat meningkatkan tensi cerita justru digambarkan dengan singkat dan hambar, misalnya scene saat Guy mendatangi kelompok underground tunawisma. Sebagai orang luar, seharusnya Guy tidak dengan semudah itu mendapat kepercayaan dari kelompok tersebut, apalagi mengingat bahwa tunawisma adalah orang-orang yang biasa hidup di lingkungan keras jalanan yang tidak mudah menaruh kepercayaan pada orang lain. Hal yang sama juga terjadi dalam scene di mana Jodie (Sarah Jessica Parker) mengaku bahwa ia membantu pelarian Guy, Dr. Myrick seakan pasrah mengetahui ada orang lain yang ingin mengacaukan impiannya. Sbegai karakter yang gigih sejak awal kemunculannya, sikap pasrah itu menimbulkan kecacatan. Apted juga tidak mengoptimalkan karakter-karakter yang seharusnya dapat dilibatkan lebih jauh, seperti Detective Bill Nunn dan tentu saja Jodie.

Dari departemen akting, melihat nama Hugh Grant dalam jajaran casting film thriller rasanya merupakan kesempatan yang cukup langka mengingat ia lebih dikenal sebagai aktor yang memiliki lebih banyak jam terbang di genre drama dan komedi. Namun, sebagai dokter muda yang terperangkap dalam rencana tak bermoral dari sesame dokter, Grant menunjukkan performa yang tak bisa dianggap buruk. Ia mampu menunjukkan karakter yang pantang menyerah demi menegakkan moral meski tertekan dengan permasalahan yang dihadapinya.

Bagi Anda penggemar genre thriller, melewatkan Extreme Measures tidak akan membuat Anda rugi, sebab tidak ada pengalaman spesifik jika Anda menontonnya. Sebuah sajian yang dapat dengan mudah dikesampingkan, 2 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:
Mississippi Burning (1988)

Director: Alan Parker
Stars: Gene Hackman, Willem Dafoe, Frances McDormand
Genre: Drama, Mystery, Thriller
Runtime: 128 minutes


Director: Joel Schumacher
Stars: Matthew McConaughey, Sandra Bullock, Samuel L. Jackson
Genre: Drama, Thriller
Runtime: 149 minutes

Kasus penembakan yang ditangani Jake semakin menyedot perhatian massa dan menyulut datangnya kembali gelombang rasisme setelah beberapa waktu terpendam. Ku Klux Klan mulai ambil bagian dalam masalah ini dan meneror keluarga Jake yang dianggap berkhianat pada sesama kulit putih. Di satu titik, Jake mulai merasa kasus ini merenggut hidupnya, tenaganya, keluarganya, uangnya, waktunya, keselamatan keluarganya, dan terlalu berat serta membahayakan baginya. Jake benar-benar berada dalam posisi sulit...