Tuesday, January 22, 2013

50/50: Menghadapi Turbulensi Kehidupan

Sudah jatuh, tertimpa tangga. Mungkin itu adalah ungkapan yang cocok untuk menggambarkan kehidupan Adam Lerner (Joseph Gordon-Levitt), pemuda 27 tahun yang bekerja meliput letusan gunung berapi di sebuah stasiun radio. Di usianya yang begitu muda, ia harus menerima vonis sebuah kanker langka yang membahayakan nyawanya. Ironisnya, vonis kanker itu ibarat sinar matahari yang menerangi bumi setelah gelapnya malam karena Adam justru lebih bisa melihat secara nyata dan menyadari betapa mengerikan kehidupan yang selama ini ia jalani. Beragam masalah mulai muncul di saat yang tidak tepat mulai dari urusan asmara, orang tua, persahabatan, dan pekerjaan. Semua kehidupan pribadi Adam bercampur menjadi satu dalam 50/50 (2011).

Melalui 50/50, penonton akan dibawa menelusuri kehidupan pribadi Adam saat ia menerima kenyataan pahit bahwa ia mengidap schwannoma neurofibrosarcoma, kanker langka di bagian tulang belakang akibat mutasi genetik yang jarang terjadi (btw no one’s ever give a sh*t about what kind of cancer it is hahaha). Ketika pertama kali mendengar vonis ini dari dokter, ia merasa limbung, tidak percaya bahwa dirinya mengidap penyakit yang sedemikian menkutkan: kanker! Wajar saja jika Adam tidak percaya ia mengidap kanker, karena dirinya memang orang yang sangat disiplin. Adam tidak merokok, minum alkohol, orang yang sangat resik, rajin berolahraga, taat peraturan, sopan (lho?), dan masih banyak lagi sifat yang jarang ditemukan pada pria-pria lain. Satu sifat yang mngkin sedikit ekstrim adalah ia tidak mau mengendarai mobil karena ia berpikir menyetir adalah salah satu penyebab kematian yang paling utama, hanya sedikit di bawah kanker. Akibatnya, ia harus menggantungkan diri pada orang lain untuk mengantarnya bepergian. Kadang ia meminta kekasihnya Rachael (Bryce Dallas Howard) untuk mengantarnya pergi, tetapi ia lebih sering meminta bantuan dari sahabatnya, Kyle (Seth Rogen). Meski Adam agak kurang suka dengan gaya hidup Kyle yang perhatiannya hanya selalu tertuju pada wanita, namun ia harus mengakui bahwa Kyle adalah teman yang cukup perhatian pada dirinya.

Lalu bagaimana Adam menjalani hari-harinya pasca-vonis dokter? Pada awalnya, seperti kebanyakan orang lain, di permukaan Adam terlihat bersikap tenang tetapi di dalam hati dan tubuhnya, ia merasa takut akan mati. Saat pertama kali bertemu Katherine (Anna Kendrick), terapis kanker yang sedang dalam masa percobaan, Adam mengatakan, “I can’t remember being so calm in a long time” padahal jelas-jelas ia merasa gelisah saat ia mengisap kuku jempolnya dan Katherine bisa merasakan kegelisahannya itu. Alhasil, awal-awal sesi terapi Adam bersama Katherine pun menjadi canggung karena mereka berdua melihat isu kanker ini dari sudut pandang berbeda. Adam bersikeras merasa baik-baik saja karena ia tidak ingin dikasihani orang lain dan merasa semakin tertekan sementara Katherine sebagai terapis tahu betul bagaimana perasaan pasien penderita kanker.

Perasaan takut Adam berganti menjadi marah ketika ia mengetahui bahwa penyakit yang ia derita dijadikan senjata bagi orang-orang terdekatnya untuk mencari untung. Kyle selalu menjadikan Adam sebagai alasan untuk bisa dekat dengan wanita, sementara Rachael lebih berani lagi. Hubungan Rachael dan Adam sebelum ada vonis kanker dari dokter yang bermasalah, membuatnya semakin serba salah. Ia tidak mungkin meninggalkan Adam di saat seperti ini, tetapi ia juga tidak bisa memberikan cintanya pada Adam lagi hingga ia selingkuh. Perbuatan belang Rachael ini diketahui Kyle yang memang tidak pernah suka dengannya dan melaporkan perselingkuhan itu pada Adam. Setelah memutuskan hubungan dengan Rachael, Adam justru melampiaskan amarahnya dengan mengikuti perkataan Kyle untuk bersenang-senang mencari wanita lain. Sadar bahwa itu tidak cocok dengan dirinya, Adam semakin tenggelam dalam perasaan takutnya apalagi ketika ia merasa hidupnya mulai hancur satu persatu: Mitch, sahabat yang biasa menjalani kemoterapi bersamanya meninggal; liputan gunung meletus yang ia tangani berlalu begitu saja, dan ia merasa Kyle adalah sahabat yang egois, selalu mencari untung dari keadaannya. Semua itu menjadi turbulensi dalam kehidupan Adam. Tapi ternyata masih ada cinta tersisa dalam hidup Adam, yaitu Katherine. Ia jatuh cinta pada terapis muda itu dan begitupun sebaliknya, jadi ketika ia menjalani operasi dengan kemungkinan selamat 50/50, ia lebih siap meski masih ada ketakutan yang begitu besar dalam dirinya.

Harus diakui bahwa cerita yang diangkat 50/50 memang agak cheesy jika melihat bagaimana film ini ditutup. Premis standar seseorang menemukan cinta sejati pada masa-masa tersulit pun dapat dengan mudah ditebak. Keunggulan cerita yang naskahnya ditulis Will Reiser ini terletak pada bagaimana sebuah masalah yaitu kanker berubah menjadi pelita dalam kehidupan seseorang yang memikul masalah tersebut. Banyak isu yang mencuat setelah Adam divonis kanker. Cinta semu Rachael pada Adam terkuak, kenyataan bahwa Kyle; sahabatnya ternyata bukanlah complete selfish jerk seperti yang ia kira, sebab loyalitas Kyle tidak diragukan lagi; Diane (Anjelica Huston) ternyata berada dalam posisi sulit saat suaminya menderita Alzheimer sementara anaknya tidak pernah memperhatikan dirinya; dan bahwa rekan-rekan kerja Adam tidak ada yang benar-benar peduli padanya. Selain itu, cerita yang diangkat dari pengalaman pribadi Reiser yang memang benar mengidap tumor seperti yang dikisahkan terjadi pada Adam ini tidak serta-merta mengarahkan alur cerita menjadi tear-jerker seperti dalam sinetron. Dengan protagonis pria yang yang mengidap kanker, Reiser mampu memperlihatkan sisi-sisi lain selain kesedihan dari sebuah kanker pada kehidupan Adam, seperti ketidaksempurnaannya dalam hubungan cinta.

Reiser juga memiliki senjata komedi yang sangat banyak dan efektif mengiundang senyum malu dan gelak tawa penonton di sepanjang cerita. Dialog dengan bumbu humor bertabur dari awal hingga akhir, dari mulai dari perkenalan Adam dengan Katherine, perkenalan Adam dengan Alan dan Mitch, petualangan Adam dan Kyle mencari gadis untuk ditiduri, dan masih banyak lagi. Penonton tidak akan kekurangan bahan tertawa saat menonton 50/50. Efektivitas humor yang digunakan sepanjang cerita juga ditunjang oleh kemampuan sutradara Jonathan Levine (The Wackness) dalam menyajikan keseluruhan rangkaian cerita dan karakter yang ada. Meski penutup cerita dibuat cheesy dengan happy ending, tetapi optimisme yang bercampur dengan ketakutan Adam ketika akan menjalani operasi membuat penutup cheesy tersebut sekaligus menjadi superb karena berhasil memperlihatkan dua sisi natural manusia yang saling berkaitan: keinginan untuk sembuh dan ketakutan akan mati. Selain itu, Levine juga terlihat ingin selalu membuat kisah 50/50 nyata dan tidak berlebihan, misalnya dalam adegan di mana Adam memotong habis rambutnya sebelum kemoterapi dimulai, Kyle berusaha mencegahnya dengan mengatakan bahwa ia tidak cocok dengan kepala botak. Reaksi Kyle itu menunjukkan bahwa tindakan histeris Adam konyol dan tidak perlu dilakukan, tidak perlu mendramatisiasi segala hal. Di sisi lain, tampaknya intensi 50/50 untuk menghadirkan comradery atau bromance seperti yang terlihat dari tagline "it takes a pair to beat the odds" tidak berhasil diangkat ke permukaan oleh Levine. Dari awal, karakter tunggal Adam seorang yang ditonjolkan tanpa melibatkan Kyle secara khusus membantu Adam mrnghadapi masalahnya, justru yang terjadi adalah Kyle sempat (selalu?) mengambil untung dari keadaan Adam. Dengan begitu, karakter Adam lebih established ketimbang Kyle dan tidak terasa unsur kebersamaan mereka.

Dari segi akting, salut harus saya ungkapkan pada Gordon-Levitt. Ia mampu memainkan karakter Adam menjadi pemuda resik dan sedikit canggung ketika bertemu wanita yang baru dikenalnya. Permainan mata menjadi salah satu senjata Gordon-Levitt yang patut dipuji karena melalui matanya, penonton tahu bagaimana perasaan Adam. Misalnya ketika Katherine menyentuh Adam pada saat terapi sedangkan Adam meraa heran dan merasa apa maksud sentuhan tersebut karena itu tidak ada gunanya. Hanya dengan tatapan mata, Gordon-Levitt berhasil mengungkapkan perasaan Adam itu. Chemistry yang terjalin antara Gordon-Levitt dengan Kendrick juga sangat mengena dan pas: perasaan canggung keduanya, rasa cinta yang diungkapkan malu-malu tanpa pernah benar-benar mengungkapkan kata “cinta”. Anjelica Huston juga dengan brilian mampu mengatasi keterbatasan karakternya menjadi lebih dalam dan membekas di hati penonton meski ia hanya tampil beberapa kali saja di layar. Sebagai istri dengan suami sakit yang tidak bisa diajak bicara dan anak yang juga sakit dan tidak mau diajak bicara, Huston berhasil membawakan peran Diane menjadi wanita yang tegar sekaligus rapuh, aktif sekaligus pasif, serta dominant but also ignorant. Sementara itu, naskah yang ditulis Reiser masih memberikan peran tipikal pada Seth Rogen, peran pria dengan mulut besar dan kotor dan perilaku serampangan yang biasa dimainkannya. Rogen plays in safe side here.

50/50 merupakan film yang mampu mengangkat tema kanker menjadi cerita yang hangat dan jauh dari penuh kesedihan, cerita yang mampu memperlihatkan sisi positif sebuah penyakit mematikan. Satu film yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Ngomong-ngomong tampaknya film ini juga akan disukai para feminis karena karakter Adam yang diciptakan tidak selalu lebih baik dibading wanita: ia sakit, dalam posisi tidak berdaya, tidak bisa menyetri sehingga harus selalu diantar-jemput, dan ia pun diselingkuhi hahaha. All ini all it’s sweet, 4 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:
Wit (2001)

Director: Mike Nichols
Stars: Emma Thompson, Christopher Lloyd, Eileen Atkins
Genre: Drama
Runtime: 99 minutes


Director: Roberto Benigni
Stars: Roberto Benigni, Nicoletta Braschi, Giorgio Cantarini
Genre: Drama, Comedy, Romance
Runtime: 116 minutes

Kebahagiaan memiliki keluarga hanya dirasakan sesaat oleh Guido ketika pada suatu hari pasukan Nazi menciduk ia dan anaknya, Giosué. Mereka dikirim ke kamp konsentrasi khusus Yahudi. Di sinilah kisah getir Guido dimulai. Sebagai seorang ayah, apa yang harus ia jelaskan pada anaknya yang masih kecil?

No comments:

Post a Comment