Tuesday, August 28, 2012

The Brave One: A Story of a Fragile Vigilante

Setiap hari, kita sering menerima informasi tindak kejahatan terjadi di berbagai lokasi, baik dalam maupun luar negeri. Media cetak, elektronik, hingga dunia maya rajin mengabarkan warta kriminal, dari yang berskala kecil atau ringan seperti perampokan hingga yang berat seperti pembunuhan berantai. Kejahatan sepertinya tidak pernah berhenti menghantui kehidupan masyarakat. Bahkan sosiolog Emile Durkheim menegaskan kejahatan itu akan selalu ada, sebab orang yang berwatak jahat pun akan selalu ada. Menurut Durkheim, kejahatan diperlukan agar moralitas dan hukum dapat berkembang secara normal. Dalam menanggapi berita-berita itu, kita seringkali mengutuki pelaku kejahatannya dan berharap agar si pelaku mendapat hukuman yang seberat-beratnya sebagai balasan atas tindakan kejinya. Tetapi pernahkan terlintas dalam bayangan kita bahwa dalam beberapa kasus, ada kemungkinan bahwa pelaku kriminal yang pernah kita baca di koran, dengar di radio, atau tonton di televisi ternyata seseorang yang membawa misi yang benar? Bagaimana bila pelaku kejahatan tersebut adalah korban tindak kejahatan pula yang merasa harus menegakkan keadilan? Bila demikian, mungkin untuk sejenak kita dapat memahami mengapa ia melakukan kejahatan bukan? Film The Brave One (2007) membawa kita pada kondisi serupa, di mana seorang korban tindak kriminal terpaksa turun tangan membenahi kekacauan di kotanya tercinta.

Erica Bain (Jodie Foster) merasa hidupnya saat ini adalah yang terindah di dunia karena tidak lama lagi, ia akan melepas masa lajangnya dengan cinta dalam hidupnya, David Kirmani (Naveen Andrews). Meski hidup sebatang kara tanpa keluarga, ia merasa hidupnya lengkap dengan kehadiran David dan keluarganya, anjing peliharaannya, serta pekerjaan sebagai penyiar sebuah acara radio yang sangat dinikmatinya. Ia mencintai setiap hari yang dilaluinya, ia mencintai Kota New York, tempat di mana ia menghabiskan sebagian besar waktu dalam hidupnya. Namun, Erica tak pernah melupakan suatu sore saat ia dan David berkeliling taman mengajak anjingnya bermain. Sore itu, mereka dirampok dan dianiaya oleh sekelompok pemuda berandal. Ia tak pernah menyangka bahwa taman itu, taman yang hampir setiap hari dilihatnya, yang dikenal setiap lekuk jalannya, menjadi tempat terakhir kali ia melihat pria terkasihnya. David tewas mengenaskan dalam peristiwa itu. Erica sendiri harus menghabiskan beberapa minggu untuk memulihkan dirinya.

Erica tak mampu mengimbangi kesembuhan raga dengan mentalnya. Ia benar-benar tak dapat melupakan peristiwa tragis yang menimpa dirinya. Ia takut keluar rumah, takut berjalan sendirian, bahkan ia takut pada sinar matahari yang dulu sering disambutnya dengan semangat. Hari-hari makin terasa berat bagi Erica ketika akhirnya ia merasakan berada di posisi sebagai korban suatu kejahatan yang ditangani oleh polisi-polisi lemah, bodoh, dan lamban. Akhirnya, dengan keberanian yang dipaksakan, Erica memutuskan turun tangan mencari keadilan. Tetapi bukan sembarang keadilan yang dicarinya. Erica bukan hanya ingin mencari keadilan untuk dirinya sendiri, ia ingin setiap orang di kotanya tercinta, The Big Apple, mendapat keadilan juga. Ia ingin tak ada lagi orang-orang bejat berkeliaran bebas di jalanan menggentayangi masyarakat. Ya, perampokan itu telah mengubah Erica menjadi seseorang yang lain, seseorang yang gelisah dan merasakan letupan marah luar biasa ketika melihat orang lain yang tak bersalah dipermainkan oleh penjahat-penjahat dengan catatan kriminal menggunung. Inilah awal mula perjalan Erica sebagai vigilante, seperti yang diberitakan media massa.


Sepak terjangnya sebagai sosok misterius yang memburu para penjahat tidak dilakukan Erica dengan mudah. Ia harus bergulat dengan hatinya sendiri setiap menarik pelatuk pistolnya. Ada saat-saat di mana ia marah, kecewa, dan kesal dengan dirinya sendiri yang tak bisa menahan diri untuk tidak membunuh para penjahat. Tetapi di sisi lain, setiap peluru yang dilepaskan mempersembahkan Erica perasaan puas tersendiri, perasaan yang ia rindukan setelah kejadian pahit yang menimpanya. Pergulatan Erica dengan dirinya sendiri bertambah besar ketika ia menjalin persahabatan dengan Detective Mercer (Terrence Howard), yang merupakan detektif yang menangani kasus-kasus pembunuhan misterius yang dilakukan Erica. Berlawanan dengan Erica, Mercer adalah sosok idealis yang ingin segalanya diselesaikan sesuai dengan prosedur dan hukum yang berlaku sekalipun ada saat-saat di mana ia ingin menghabisi para pelaku kejahatan dengan tangannya sendiri. Bahkan Mercer bersedia tidak melakukan apapun bila memang tak ada cara yang legal, meski itu membuatnya merasa sangat sedih dan pilu. Persahabatannya dengan Mercer membuat Erica mempertanyakan kebenaran tindakannya selama ini, dan yang paling membuatnya resah, ia bertanya pada dirinya sendiri, sanggupkah ia menghentikan aksi main hakimnya sendiri? Pada akhirnya, Erica terkejut ketika Mercer memberinya sebuah kesempatan, sebuah dukungan pada dirinya.

Sepintas, kisah The Brave One mirip dengan cerita rakyat Robin Hood, pria yang merampok orang kaya demi orang miskin yang hidup dalam kesusahan. Tetapi pada dasarnya, The Brave One sama sekali berbeda dengan kisah kepahlawanan manapun. Bahkan, dapatkah kita mengklasifikasikan Erica, tokoh utama cerita ini sebagai pahlawan? Ternyata belum tentu, sebab pahlawan tidak melawan kejahatan atas nama balas dendam, pahlawan tidak memiliki keraguan dalam setiap tindakannya, dan lebih dari itu, pahlawan tahu mana yang benar dan mana yang salah. Coba bandingkan dengan Erica. Menahan keinginan hatinya sendiri untuk tidak membunuh saja ia tak mampu. Ia mempertanyakan keabsahan setiap tindakan yang dilakukannya. Erica hanya memiliki satu tujuan: menghentikan semua kejahatan, sebab ia mengerti bagaimana rasanya menjadi korban, bagaimana hidupnya berubah karena satu aksi kriminal.

Ini bukan pertama kali Jodie Foster berperan dalam karakter wanita pemberani. Dalam beberapa film sebelumnya, seperti The Silence of the Lambs (1991), Panic Room (2002), dan Flightplan (2005), Foster hampir secara "rutin" mengambil peran wanita heroik. Dalam The Brave One, menurut saya Foster masih tampil mirip dengan karakter dalam film-film sebelumnya itu. Satu scene paling menarik bagi saya adalah saat Foster sebagai Erica akan menembak salah satu perampok yang menewaskan kekasihnya dan Terrence Howard sebagai Mercer datang untuk mencegah Erica untuk melepaskan tembakan tersebut. Mercer mengatakan bahwa Erica tidak memiliki hak untuk main hakim sendiri, dan Foster dengan suara parau namun penuh dendam membara mengatakan "Yes, I do!" Suara Foster dalam adegan itu gemetar, serak, dan parau karena emosi yang meletup. Padahal, hampir di keseluruhan awal film Foster tidak pernah berteriak dan berbicara dengan suara jelas dan penuh intonasi, yang merupakan tuntutan seorang penyiar radio. Menurut saya, adegan itu merupakan sebuah penghayatan yang cerdas.

Di sisi lain, Howard sebagai lawan main Foster menurut saya tidak menunjukkan performa terbaiknya. Saya sangat bingung pada bagian akhir film saat Erica menembak Mercer, dan setelahnya Mercer terlihat masih segar bugar meski sempat berteriak kesakitan. Bahkan Mercer sempat memindahkan pistol, melekatkan sidik jari perampok yang telah tewas pada pistol itu, dan membebaskan anjing Erica. Semua itu dilakukan tanpa ekspresi atau suara kesakitan.

Sutradara peraih Oscar Neil Jordan (The Crying Game, The End of the Affair) cukup sukses mengemas cerita "usang" tentang balas dendam menjadi sesuatu yang berbeda. Penggunaan sosok wanita amatir yang bahkan belum pernah memegang pistol sebelumnya ternyata efektif memunculkan susana tegang dalam film ini, meskipun pada bagian awal film penonton akan banyak disuguhi narasi panjang yang dibawakan tokoh Erica dengan suara yang penuh intonasi. Jordan juga sangat paham dalam menaik-turunkan ritme film dengan menunjukkan hubungan Erica dan Mercer yang sama-sama terlibat dalam kasus pembunuhan. Tentu saja mereka berbeda misi, yang satu melakukan aksi kejahatan demi keadilan, yang satu berusaha membereskan kekacauan tersebut. Namun, ada kalanya mereka saling "memberi petunjuk" untuk menyelesaikan misi masing-masing pihak. Bila ada sesuatu yang terasa kurang, mungkin bagi saya adalah penggunaan pemain kulit hitam untuk komplotan perampok dalam film ini. Bagi saya, hal itu seharusnya dihindari agar tidak menimbulkan dugaan stereotype. Apakah salah menggunakan pemain kulit putih juga untuk karakter berandalan?

Dari segi sinematografi, hampir di sepanjang film penonton disuguhkan oleh pencahayaan yang remang-remang karena pasca-perampokan yang dialaminya, Erica dikisahkan amat depresi dan takut akan cahaya terang. Selain itu, pengambilan gambar Foster sebagai Erica cukup sering dilakukan secara close-up, sehingga penonton bisa melihat secara jelas bagaimana ekspresi Foster sebagai Erica. Menurut saya, kekuatan karakter Erica bukan pada mimik wajahnya. Foster lebih mahir memainkan gerakan, bahasa tubuh, dan suara dalam mengembangkan karakter Erica.

The Brave One bukan hanya menuturkan film yang menuturkan kisah seorang gadis pemberani yang membalas dendam kepada pnjahat yang telah menewaskan kekasihnya, tetapi juga menuturkan bagaimana seseorang bisa berubah menjadi pribadi yang sama sekali berbeda dari pribadi yang dulu ia miliki. Dalam film ini, kita bisa menyaksikan proses berubahnya Erica. Dalam diri Erica terdapat sesuatu yang asing, yang tak pernah menampakkan diri sebelumnya, sesuatu yang tak sanggup dibendung dirinya. Satu hal lagi, dalam film ini kita juga melihat betapa tipisnya garis pembatas antara yang benar dan yang salah. Salahkah Erica bila ia merasa benci dan marah terhadap setiap kriminialitas after all she's been going through? Tentu tidak bukan? Bahkan saya pribadi dapat memakluminya. Tetapi benarkan cara yang ditempuh Erica, dengan main hakim sendiri untuk memberantas kejahatan? Well, pada akhirnya itu semua menunjukkan bahwa manusia dapat berubah secara total demi memuaskan perasaannya. It's terrific, 3.5 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?

Wach this if you liked:

Sleepers (1996)

Director: Barry Levinson
Stars: Robert De Niro, Kevin Bacon, Brad Pitt
Genre: Drama, Thriller
Runtime: 147 minutes


Taken (2008)

Director: Pierre Morel
Stars: Liam Neeson, Maggie Grace, Famke Janssen
Genre: Action, Thriller
Runtime: 93 minutes


Friday, August 24, 2012

The Trip: Perjalanan Menjemput Cinta

Tahun 1960-an adalah awal pergerakan kaum homoseksual untuk menuntut hak asasi di Amerika. Berlanjut hingga 1970-an, kaum homoseksual menghadapi tahun-tahun yang berat sekaligus menantang. Berat karena pada masa ini, perlakuan diskriminatif terhadap gay dan lesbian merajalela dimana-mana. Banyak di antara mereka dipecat dari pekerjaannya dengan alasan kaum gay adalah kaum yang paling lemah secara politis. Mereka dapat dengan mudah diancam dan pada akhirnya merugikan entitas tempat mereka bekerja. Sebaik apapun prestasi mereka, orientasi seksual yang menurut masyarakat menyimpang tak bisa ditoleransi. Hal demikian juga menimpa prajurit-prajurit di ketentaraan. Politik don't ask don't tell diberlakukan, meninggalkan keheningan bagi gay yang bertugas dalam barisan pertahanan. Tindak kekerasan di jalan-jalan juga sangat sering dialami gay dan lesbian. Dapat ditebak, pelakunya adalah para homophobe. Banyak homoseks akhirnya memilih bunuh diri daripada harus menghadapi dunia yang sadis.

Situasi seperti ini menantang mereka yang vokal dan peduli terhadap hak kaum minoritas seperti gay dan lesbian untuk menuntut kesetaraan di masyarakat. Pada dekade 1960-an hingga 1970-an, suhu politik Amerika meningkat, menyebabkan lebih banyak orang yang melek politik demi membela hak mereka, termasuk kaum gay. Pada masa ini pula, telah terungkap rahasia umum bahwa Partai Republik adalah sarang bagi mereka pengikut fanatik nilai-nilai ortodoks, sedangkan Partai Demokrat lebih bersifat liberal dan terbuka. Akibatnya, terjadi persaingan sengit antara pendukung Partai Republik dan Partai Demokrat. Namun, apa jadinya bila dua pendukung masing-masing partai tersebut saling jatuh cinta? Film The Trip (2002) mengisahkannya untuk Anda.

The Trip menjadi bagian dari jalur film bertema gay, yang menurut saya cukup unik. Keunikan itu disebabkan perpaduan unsur politik dan romansa yang diusung film ini. Dikisahkan dengan latar tahun 1973, Alan Oakley (Larry Sullivan) adalah seorang jurnalis dan penulis muda yang berbakat. Ia lulus dari universitas ternama, menjadi jurnalis sebuah surat kabar besar, dan memiliki seorang kekasih bodoh, Beverly (Sirena Irwin). Namun, di balik kehidupannya yang tampak tentram itu, Alan menyimpan satu rahasia: ia gay dan belum berani membuka diri terhadap orientasi seksualnya. Saking tertutup dan tak mau mengakui identitasnya itu, Alan bahkan menulis sebuah buku yang memaparkan sisi negatif kaum gay. Proyek Alan tersebut didukung oleh rekannya yang seorang pengacara, Peter Baxter (Ray Baker) yang juga seorang gay yang menutup diri.

Episode Alan yang menutup diri harus berakhir ketika ia bertemu Tommy Ballenger (Steve Braun), seorang aktivis kaum gay yang ternyata sangat ia kagumi. Tommy adalah pemuda cerdas, humoris, dan sangat perhatian dengan hak asasi untuk kaum gay. Meski pada awalnya Alan menyangkal perasannya untuk Tommy, ia tak sanggup untuk tidak mengungkapkan cintanya pada Tommy. Mereka pun menjadi pasangan bahagia selama 4 tahun. Sadar bahwa kekasihnya adalah seorang aktivis pembela gay, ia membatalkan penerbitan buku yang telah rampung ditulisnya dan mengatakan pada Peter untuk jangan pernah mengungkitnya lagi. Namun, bencana datang ketika perusahaan penerbit yang dulu membuat kontrak penerbitan dua buku dengan Alan tiba-tiba menerbitkan buku pertamanya yang berjudul The Straight Truth tanpa memberitahu Alan terlebih dahulu. Beruntung, penerbit itu tidak menampilkan nama Alan di bukunya.

Atas dasar cinta tak berbalas, Peter kemudian mengungkap identitas penulis buku The Straight Truth pada publik. Tommy yang belakangan mengetahui bahwa penulis buku yang menampar kaum gay itu adalah Alan, merasa sangat kecewa dan dikhianati. Ia memutuskan berpisah dengan Alan dan pergi ke Meksiko. Di sisi lain, Alan yang frustrasi ditinggal Tommy menemukan kehangatan kasih sayang pada Peter di saat orang-orang yang dikasihinya menjauhi dirinya. Alan dan Peter pun menjadi pasangan selama beberapa tahun sebelum akhirnya Alan mengetahui bahwa Peter adalah biang keladi kehancuran hidupnya. Didukung oleh ibu dan mantan kekasihnya, Alan pergi menjemput Tommy ke Meksiko, menjemput cinta dalam hidupnya. Sesampainya di sana, Alan menjumpai Tommy yang kini sekarat didera AIDS (dalam film ini tidak disebutkan secara eksplisit penyakit yang diderita Tommy, namun saya berasumsi bahwa ia menderita AIDS) dan mereka pun memulai perjalanan pulang ke Texas.

Perjalanan itu menjadi nostalgia bagi pasangan ini untuk mengenang masa-masa kebersamaan mereka. Sepanjang perjalanan, mereka melakukan berbagai aksi konyol, merampok karena terpaksa, bahkan mereka berbincang mengenai buku yang ditulis Alan. Tommy meminta agar lain kali Alan menulis buku dari hatinya, bukan hanya dari kepalanya. Kata-kata itu terus diingat oleh Alan. Namun, perjalanan tetaplah perjalanan, ia dimulai ketika berangkat dan berakhir ketika tiba di tempat tujuan. Bagi Alan dan Tommy, perjalanan dimulai ketika mereka bertemu kembali setelah sekian lama berpisah, memiliki kesempatan untuk mengenang kebersamaan mereka, dan berakhir saat Tommy meninggal dunia. Kisah hidupnya ini menginspirasi Alan untuk menulis buku keduanya yang penuh inspirasi dan cinta, serta ditulis dari lubuk hatinya terdalam persis seperti saran Tommy, berjudul The Trip.


Jika Anda pernah menonton film-film dengan tema homoseksual lainnya - yang menurut saya banyak di antaranya adalah sampah - maka dalam The Trip Anda menemukan sesuatu yang berbeda. Di beberapa bagian film, untuk mendukung penggambaran Tommy sebagai aktivis gay, film arahan sutradara Miles Swain ini dilengkapi dengan beberapa cuplikan video nyata perjuangan kaum gay mulai dari pidato simpatik Harvey Milk hingga momen terkenal saat politisi anti-gay Anita Bryant menerima "kejutan" pie-nya. Selain itu, persinggungan pada isu diskriminasi juga diangkat dengan baik di mana pada salah satu scene digambarkan pesawat yang tidak mau mengangkut Tommy yang sedang sakit. Tindakan diksriminatif seperti itu memang benar-benar terjadi pada tahun 1980-an, awal ditemukannya AIDS, yang dulu dikenal sebagai "gay cancer".

Di sisi lain, i'm not impressed enough saat Tommy meninggal dunia. Adegan tersebut hanya muncul sangat singkat, sehingga perasaan menyesal Alan yang telah mengabaikan Tommy, tak menjemputnya selama sekaian lama, tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan cintanya kembali tidak tereksplor dengan cukup. Rasa sedih yang mengharu-biru, yang seharusnya kental terasa pada adegan tersebut seolah lenyap. Hal ini berbeda jauh dari akhir kisah Brokeback Mountain yang sangat menusuk setiap penontonnya, berbekas hingga beberapa saat menonton film tersebut. Selain itu, film ini juga menambah daftar panjang akan asumsi bahwa film bertema homoseksual akan berakhir dengan adanya karakter yang mati, meninggalkan pertanyaan apakah film ini benar-benar bebas dari nilai heteronormativitas? All in all, it's good enough, 2.5 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?

Wach this if you liked:

Drôle de Félix (The Adventures of Felix) (2000)

Director: Olivier Ducastel, Jacques Martineau
Stars: Sami Bouajila, Patachou, Ariane Ascaride
Genre: Comedy, Drama, Romance
Runtime: 95 minutes


My Beautiful Laundrette (1985)

Director: Stephen Frears
Stars: Saeed Jaffrey, Roshan Seth, Daniel Day-Lewis
Genre: Comedy, Drama, Romance
Runtime: 97 minutes


Wednesday, August 22, 2012

The Lake House: Penantian yang Berakhir Indah

Menunggu adalah kata kerja yang tidak disukai oleh sebagian besar orang. Menunggu berarti ada pengorbanan waktu yang harus diluangkan sampai tibanya sesuatu yang dinantikan. Tak hanya soal waktu, selama masa menunggu itu pula, terkadang perasaan lelah, kesal, sedih, tak berdaya, dan bosan datang mendera. Sebagian orang yang sedang menunggu ada yang menyerah, sebagian lagi meneruskan pengharapan mereka sambil terus meyakinkan diri bahwa yang dinantikan akan segera datang. Daya tahan orang untuk menunggu memang berbeda-beda, tetapi satu hal yang pasti: menunggu itu ada batasnya, ada akhir yang mesti dilalui, entah itu akhir yang indah maupun yang menyedihkan.

Kisah penantian yang berakhir indah dapat Anda saksikan dalam salah satu drama romantis produksi Hollywood, The Lake House (2006). Pertama kali mendengar film ini dari sebuah acara resensi di TV, saya langsung tertarik dengan ceritanya yang menuturkan hubungan cinta pasangan yang berbeda dimensi waktu. Cerita ini sebenarnya merupakan adaptasi Hollywood dari film Korea berjudul Siworae (2000). The Lake House juga merupakan kolaborasi kedua aktor berdarah Hawaii Keanu Reeves dengan Sandra Bullock, setelah penampilan mereka yang mendapat banyak pujian dalam Speed (1994). Namun, dalam kolaborasi keduanya ini mereka tidak lagi berhadapan dengan bus terguling, kereta bawah tanah yang berjalan cepat, maupun hujan peluru, melainkan dalam kisah romantis yang menawan.

Kate Forster (Bullock), seorang dokter berdedikasi yang bekerja dengan waktu gila-gilaan terpukul ketika dirinya menyaksikan seorang pria tewas dalam sebuah kecelakaan meski ia telah mengerahkan semua kemampuannya untuk menolong pria nahas tersebut. Ia tak bisa membayangkan penantian keluarga pria tersebut di rumah dengan penuh harapan, yang tak pernah menyangka kejadian tragis akan menghampiri mereka. Melihat Kate tak bisa keluar dari bayangannya itu, Dr. Klyczynski (Shoreh Aghdashloo) menyarankan Kate untuk pergi menenangkan pikiran dan hatinya di suatu tempat, dan ia pun menyewa sebuah rumah kaca yang sangat indah di tepi danau yang berkilau.

Ketika Kate pindah ke apartemen, tanpa diduga rumah danau yang dulu begitu disukainya menjadi saksi pengalaman hidup dan cinta Kate yang diluar imajinasi siapapun: ia terhubung dengan seorang pria asing yang hidup dua tahun lalu dari waktu masa kini di mana Kate berada. Pria itu adalah Alex Wyler (Reeves), seorang arsitek handal yang memiliki hubungan kurang akur dengan ayahnya, yang juga seorang arsitek terkenal, Simon Wyler (Christopher Plummer). Meski memiliki masa lalu yang menyakitkan dengan ayahnya, Alex sebenarnya sangat menyayangi Simon dengan segenap hatinya. Simon sendiri adalah orang yang berada dibalik kesuksesan Alex sebagai arsitek.

Keraguan dan keengganan Alex terhadap ayahnya membuat hidupnya sedikit banyak "muram". Namun, keadaan itu akhirnya berubah setelah ia berkorespondensi dengan Kate lewat surat-menyurat (so classic, isn't it?). Dari surat-surat itulah mereka mengetahui bahwa Alex adalah putra Simon - pembuat rumah danau yang pernah ditinggali Kate dan bahwa mereka terpisah rentang waktu dua tahun. Kegiatan berbalas surat itu menjadi semakin indah dan sedikit lebih nyata ketika Alex berusaha hadir dan "menyusup" ke dalam kehidupan Kate dua tahun yang lalu. Di sini, jalan cerita kemudian mundur menuju saat di mana Kate memutuskan untuk menyewa rumah danau.

Sambil terus berkorespondensi di masa depan, masa lalu Kate sedikit demi sedikit berubah ketika ia sadar bahwa ia bertemu Alex, pria yang dua tahun dari masa lalunya itu akan terus menyuratinya. Ternyata, pertemuan mereka berdua menjadikan hubungan itu terus tumbuh menjadi romansa yang menyulitkan, sebab mereka berdua tampak tidak nyata. Mereka tidak bisa mengobrol secara langsung sambil memandangi wajah satu sama lain, tak bisa berjalan bersama, bahkan tak tahu akan menuju ke mana hubungan mereka itu. Itu semua membuat Kate tertekan, ia sangat mencintai Alex, ia punya perasaan mendalam untuknya, tetapi untuk apa semua itu bila mereka takkan pernah bisa bersatu? Akhirnya, Kate memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu dan mencoba menatap ke depan. Ia berusaha untuk menata kembali kisah cinta hambarnya dengan Morgan (Dylan Walsh), pria yang tak pernah disukainya.

Tetapi, rupanya ungkapan bila jodoh takkan ke mana berlaku untuk Kate dan Alex. Saat Kate dan Morgan berencana untuk merenovasi rumah baru, mereka berkonsultasi dengan perusahaan konstruksi milik Alex yang kini telah meninggal dalam sebuah kecelakaan. Pada titik inilah Kate menyadari bahwa pria yang pernah ditolongnya dalam sebuah kecelakaan dulu adalah Alex, dan ia pun berusaha mati-matian mengubah jalan hidupnya dan Alex. Ia meminta Alex untuk menunggu selama dua tahun, dan menemuinya di rumah danau. Usahanya itu berbuah manis saat mereka berdua dapat bertemu secara nyata, dalam dimensi waktu yang sama.

Pada saat menonton The Lake House, penonton akan diseret dalam rentetan waktu yang meloncat-loncat tanpa diberikan keterangan. Penonton "dipaksa" untuk mereka sendiri urutan kejadian dan memilah mana masa lalu dan mana masa kini Kate dalam film ini. Meski tidak serumit Memento (2000), namun bila tak cermat, penonton bisa salah mengartikan jalan ceritanya. Tetapi menurut saya, di situlah tantangan sekaligus poin plus dari The Lake House. Dari segi akting, chemistry antara Reeves dan Bullock nampaknya tak lekang oleh waktu. Mereka tetap cocok dipasangakn bersama dalam satu set seperti halnya dulu dalam Speed. Meski diarahkan oleh sutradara yang jarang memproduksi film Hollywood, Alejandro Agresti (Una Noche con Sabrina Love, Valentín) tetap sukses menggambarkan film dengan jalan cerita cukup rumit ini. Dua hal terakhir yang saya sukai dari film ini adalah rumah danau yang menjadi latar utama film ini memang sangat memukau serta lagu-lagu yang menjadi soundtrack juga sangat indah, seperti It's Too Late dari Carole King dan This Never Happened Before dari Paul McCartney. It's sweet, 3 out of 5 stars for me. Ada yang punya komentar?

Wach this if you liked:

Groundhog Days (1993)

Director: Harold Ramis
Stars: Bill Murray, Andie MacDowell, Chris Elliott
Genre: Comedy, Drama, Fantasy
Runtime: 101 minutes


Stranger Than Fiction (2006)

Director: Harold RamisMark Forster
Stars: Will Ferrell, Emma Thompson, Dustin Hoffman
Genre: Comedy, Drama, Fantasy
Runtime: 113 minutes


Friday, August 10, 2012

Dead Poets Society: Carpe Diem

Carpe Diem. Ungkapan latin tersebut tiba-tiba memenuhi isi kepala beberapa siswa di sebuah perguruan asrama khusus lelaki. Seorang pria unik, cerdas, inspirasional, sekaligus misterius baru saja memperkenalkan mereka dengan ungkapan Latin tersebut. Saking berpengaruhnya ungkapan tersebut, hari-hari mereka di perguruan tersebut tidak lagi terasa berat, meski banyak di antara mereka dituntut untuk belajar keras oleh orang tua mereka di Welton Academy, salah satu sekolah terbaik. Mereka menjadi orang yang penuh dengan visi, tahu apa yang mereka akan tuju, yang mereka senangi, dan bersemangat dalam meraihnya. Mereka tahu bahwa mereka bukanlah robot yang dapat diperintah ini-itu. Mereka punya kebebasan, setidaknya pada saat menghadiri kelas pria misterius ini.

Siapakah lelaki misterius ini? Ia tak lain adalah guru Bahasa Inggris baru mereka yang juga alumni dari sekolah yang sama. John Keating (Robbin Williams), begitulah namanya. Tapi ia tak mau siswanya memanggil dirinya Mr. Keating seperti para siswa memanggil guru-guru lain, panggilan yang begitu formal dan membosankan. Alih-alih, ia malah berkata, "If you're slightly more daring, call me O Captain, My Captain". Perkenalan yang impresif bukan? Lantas karena penasaran dengan sang guru baru, Neil Perry (Robert Sean Leonard), salah satu murid terbaik yang kagum pada keunikan Keating berburu buku tahunan angkatan gurunya itu. Ada satu hal yang menarik perhatian Neil dan membuatnya ingin berbagi dengan Todd Anderson (Ethan Hawke), Knox Overstreet (Josh Charles), Charlie Dalton (Gale Hansen), Richard Cameron (Dylan Kussman), Steven Meeks (Allelon Ruggiero), dan Gerard Pitts (James Waterston), sahabat-sahabat dekatnya. Hal menarik tersebut ialah bahwa Keating tertulis menjadi anggota dari sebuah perkumpulan bernama Dead Poets Society.

Itulah awal petualangan dari 7 sahabat sebuah sekolah dalam film Dead Poets Society (1989). Film arahan sutradara yang dinominasikan untuk 6 kali Oscar, Peter Weir (Witness, The Truman Show) ini memiliki tema sentral pendidikan, sebuah tema yang cukup umum. Tetapi tema umum tersebut tidak lantas membuat film ini memiliki jalan cerita pasaran. Piala Oscar dalam kategori Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen untuk Tom Schulman adalah buktinya. Puisi sebagai media pendidikan mungkin adalah kunci sukses film ini. Kita tahu bahwa selama ini puisi merupakan bagian dari seni sastra yang kini mulai ditinggalkan. Fungsi puisi sebagai penopang kehidupan batiniah manusia telah tergantikan dengan hal-hal lain yang lebih modern, berteknologi tinggi, dan bersifat praktis. Namun, pada dasarnya, menulis dan membaca puisi - seperti yang dikatakan karakter Keating di sini - diperlukan karena puisi menyajikan keindahan, romansa, cinta, dan kita hidup untuk meraih tiga hal tersebut. Selain itu, penggunaan sudut pandang dari tokoh pemuda yang digunakan Schulman dalam cerita ini sangat tepat, sebab pemuda adalah jiwa-jiwa yang reaktif, mereka senang mengeksplorasi kehidupan. Sekali seorang pemuda dihadapkan pada cara berpikir yang membuat mereka tergugah, maka mereka akan menjaga idealisme pikiran tersebut selamanya.

Dead Poets Soeciety mengajak penonton untuk mengikuti kisah Neil, Todd, Knox, Dalton, Cameron, Meeks, dan Pitts dalam menghidupkan kembali sebuah perkumpulan penikmat puisi tertutup, Dead Poets Society. Perkumpulan itu merupakan sebuah wadah bagi mereka yang ingin menjadikan puisi sebagai media ekspresi dan kontemplasi. Tujuh orang sahabat itu menyadari bahwa puisi dapat mengubah hidup mereka. Puisi membuat mereka menjadi freethinkers. Jiwa mereka disesaki oleh semangat memuncak untuk mengejar dan meraih apa yang mereka inginkan, ambisi mereka. Neil bercita-cita menjadi seorang aktor, Todd yang pada awalnya memiliki masalah dengan percaya diri mulai berani tampil mengungkapkan gagasannya, bahkan Knox berani mendekati seorang gadis karena puisi.

Kini, bagi tujuh orang sahabat tersebut, Keating bukan hanya sekedar guru. Lebih dari itu, ia adalah seorang teladan, seseorang yang memberi inspirasi, motivator, bahkan ia telah menjadi pembimbing moral bagi mereka. Keating sering memberikan petuah-petuah penting, seperti melihat segala hal dengan cara yang berbeda, mencoba mencari sudut pandang lain meski terlihat salah atau bodoh, mengungkapkan dan menemukan ekspresi, jati diri, gagasan, pendapat, or in simplest way: vocalize the inside of them. Paksaan atau kebiasaan untuk hanya memikirkan apa yang dipikirkan oleh orang lain adalah sebuah perampokan intelektual, penghinaan terhadap intelegensi seseorang.

Namun, keberanian tujuh serangkai terganggu oleh serbuan berbagai pihak yang ortodoks, yang menginginkan sesuatu yang teratur, sesuatu yang lama, yang mereka klaim telah teruji kebenarannya. Para guru dan kepala sekolah menginginkan cara belajar-mengajar sesuai kurikulum yang terukur, para orang tua bersikeras memaksakan kehendak terhadap anak-anak mereka, merebut impian mereka, membunuh imajinasi, cita-cita, dan sudut pandang mereka. Hal tragis itu bahkan membuat Neil harus membayar mahal. Ia merelakan nyawanya untuk ditukar dengan idealisme freethinker dibanding harus menyerah pada ayah yang egois. Nasib malang tak pelak menimpa Keating yang dituduh menyebarkan ajaran untuk membangkang pada orang tua. Namun, para Dead Poets yakin bahwa kebebasan adalah satu-satunya cara untuk merealisasikan carpe diem, seize the day, to make their lives extraordinary sehingga mereka tak ingin melepas apa yang mereka dapat selama ini dari Keating, sang Kapten.

Bagi saya pribadi, menonton Dead Poets Society adalah sebuah pengalaman luar biasa. Ada semacam kegairahan membuncah dalam diri saya. Kegairahan yang mungkin selama ini tidak saya dapatkan di bangku sekolah seperti halnya para siswa Welton Academy sebelum kehadiran Keating. Melihat semangat pantang menyerah, idealisme, kebebasan yang digambarkan karakter Keating membuat saya merasa iri karena saya belum menemukan hal serupa dalam sistem pendidikan yang saya tempuh selama ini. Sosok Keating adalah sosok langka pada zaman sekarang. Guru yang tidak hanya sekadar pengajar, tidak sekedar mengoceh untuk menekankan sisi kognitif, guru yang secara total menenggelamkan dirinya untuk mengabdi, mentransfer ilmu, membimbing, mendidik, dan menyentuh moralitas serta imajinasi siswa. Menurut saya, Dead Poets Society adalah film timeless, ceritanya tak akan usang dimakan waktu sebab film ini dapat dijadikan bahan introspeksi bagi siapapun yang menuntut ilmu di muka bumi ini.

Kenikmatan film ini tak lain disokong oleh kualitas setiap aktor yang menurut saya, sangat baik. Robin Williams, seperti dalam kebanyakan filmya bermain impresif. Ia dapat menempatkan dirinya sebagai pendidik yang inspirasional tetapi tidak memaksakan kehendaknya. Ia mampu menunjukkan diri sebagai seorang guru yang menguasai perhatian kelas dengan materi pelajarannya, nasihatnya, bahkan lelucon dan suara kocaknya. Salut juga rasanya perlu saya utarakan pada Robert Sean Leonard dan Ethan Hawke. Performa Leonard sangat mengesankan. Ia berhasil menempatkan diri sebagai seorang remaja yang penuh rasa ingin tahu, ambisius, tetapi tertekan oleh intimidasi ayahnya. Saya sangat suka scene ketika Neil baru saja mendapatkan peran dalam sebuah drama. Dalam scene itu, Leonard sebagai Neil menunjukkan bagaimana perasaan seorang remaja ketika mendapatkan apa yang selama ini didambakan. Suara, gerakan, dan mimik wajah Leonard sangat natural. Sementara itu Hawke mampu membawakan karakter Todd yang bertransformasi dari remaja yang merendahkan dirinya sendiri menjadi seorang pelopor untuk membela apa yang dianggapnya benar. Adegan di akhir film benar-benar membuat bulu roma saya bergidik, sangat menyentuh. Oh ya, saya juga sangat menyukai permainan bagpipe di sepanjang film ini, membuat ceritanya semakin hidup.

Well, sayangnya Dead Poets Society tak beruntung dalam pertarungan mendapatkan predikat tertinggi dalam ajang Academy Award 1990, Best Picture. Pada tahun itu semua film yang masuk nominasi film terbaik memang dapat dikatakan monster. Dead Poets Society bersaing dengan Born on the 4th of July, Driving Miss Daisy, My Left Foot, Field of Dreams sebelum akhirnya Driving Miss Daisy diumumkan sebagai pemenang. Meski begitu, film ini akan terus menempel di hati bagi siapa saja yang menontonnya. For those who haven't seen this one, it's highly recommended. 5 out of 5 stars for me.

Wach this if you liked:

Freedom Writers (2007)

Director: Richard LaGravenese
Stars: Hilary Swank, Imelda Staunton, Patrick Dempsey
Genre: Biography, Drama
Runtime: 123 minutes


The Great Debaters (2007)

Director: Denzel Washington
Stars: Denzel Washington, Forest Whitaker, Kimberly Elise
Genre: Biography, Drama
Runtime: 126 minutes


Monday, August 6, 2012

Meet Joe Black: When Angel Falls in Love

Apa jadinya jika malaikat pencabut nyawa yang identik dengan segala hal berbau kematian, kesuraman, dan kegelapan ternyata berwujud pria tampan, misterius, dan bisa jatuh cinta juga? Tentu akan membingungkan bukan? Ya, tapi hal itu justru yang membuat Meet Joe Black (1998) lain dibanding film bergenre komedi romantis dan fantasi lainnya. Film yang merupakan adaptasi dari film berjudul Death Takes A Holiday (1934) ini menawarkan kisah asmara yang ganjil dan unik sekaligus menarik. Meski memiliki alur cerita yang cukup umum, namun perbedaan persona sosok malaikat yang digunakan dalam film ini membuatnya prominent di antara deretan drama romantis.

William "Bill" Parrish (Anthony Hopkins), seorang pria paruh baya yang sukses secara finansial maupun batin menjadi resah ketika ia semakin sering mendengar suara-suara tak berwujud yang berbicara padanya. Sebagai seorang konglomerat di bidang media massa, Bill tidak merasa kekurangan suatu apapun di usianya yang menjelang 65 tahun. Ia punya dua anak perempuan yang sama sukses dengan dirinya, Allison (Marcia Gay Harden) yang gemar dan ahli merancang pesta dan menikahi pria bodoh dan lugu Quince (Jeffrey Tambor), dan Susan (Claire Forlani) seorang dokter simpatik yang merupakan anak kesayangan Bill. Selain suara-suara misterius itu, ia tak punya masalah apapun.

Bill tak bisa berkata apa-apa ketika mengetahui bahwa suara-suara yang belakangan ini ia dengar adalah suara malaikat pencabut nyawa yang siap menjemputnya. Takut bukanlah kata yang cocok bagi Bill ketika bertemu dengan sang malaikat, ia malah bingung lantaran malaikat itu berwujud manusia, memberinya ekstra usia dengan alasan hidupnya yang inspiratif dan teladan, serta memintanya untuk menjadi pemandu bagi sang malaikat selama "liburannya" di bumi. Tentu saja pemberian dan penawaran malaikat itu bukanlah sesuatu yang dapat dinegosiasikan, sehingga Bill mau tak mau harus menerimanya.

Ketika malaikat berwujud manusia itu diperkenalkan sebagai Joe Black (Brad Pitt) - sebuah nama yang dipilih dengan susah payah - oleh Bill kepada keluarganya, Susan terkejut karena ternyata malaikat itu menggunakan raga seorang pria yang baru saja dikenal Susan, pria yang diam-diam ia kagumi. Perkenalan yang berlangsung kikuk itu mengawali petualangan Joe di bumi, tempat manusia dengan segala nafsu, ambisi, dan egosimenya hidup. Menurut saya, Joe digambarkan lebih mirip orang desa yang baru menjajal kehidupan mewah ketimbang malaikat yang ingin merasakan kehidupan manusia hahaha.

Seiring waktu berjalan, hari-hari terakhir Bill semakin kacau karena sebagai seseorang yang mengetahui sendiri ajalnya akan segera tiba, ia merasa perlu meninggalkan dunia ini sebagaimana ia mulai dulu, terutama masalah perusahaan medianya. Namun, hambatan muncul dari Drew (Jake Weber) yang berambisi untuk memecah-belah kerajaan bisnisnya. Bill juga semakin tertekan ketika melihat kedekatan antara Susan dan Joe. Sebagai putri kesayangan yang selalu dekat dengannya, Bill ingin Susan mendapat pria terbaik sebagai pendampingnya. Tetapi melihat Susan yang mencintai Joe, makhluk gaib berbeda dunia yang sebentar lagi akan pergi bersamanya membuat Bill tidak terima, ia tahu putrinya itu bisa terluka hatinya.

Joe sebagai malaikat pencabut nyawa yang tak pernah merasakan cinta pada makhluk lain menjadi semakin egois dan bernafsu. Ia ingin membawa Susan pula ke alam asalnya, meski belum saatnya Susan meninggalkan dunia fana. Film ini berhasil menyentuh sisi paling emosional ketika Bill dengan putus menjelaskan pada Joe yang berubah menjadi egois bahwa cinta berarti melakukan pengorbanan untuk orang yang dicintai. Maka, untuk pertama kali dalam sejarah eksistensinya, Joe sang Malaikat Pencabut Nyawa merasakan kehampaan, merasakan luapan emosi yang amat dalam ketika menyadari bahwa ia tak bisa bersama Susan.

Jika Anda pecinta drama romantis, film garapan sutradara Martin Brest ini harus ada dalam daftar film yang akan atau telah ditonton. Meski penonton tidak akan mendapat suatu cerita segar, setidaknya pemilihan karakter malaikat dapat membuat film ini lain daripada yang lain. Dari segi aktor dan aktris, Brad Pitt maenurut saya memang cocok memerankan peran Joe ini, dengan wajah tampan, muda, pirang, dan satu hal lagi: kapan lagi Anda bisa melihat Pitt bertopang dagu dengan manis jika bukan di film ini? Hahaha. Ditambah lagi, scoring dari sang maestro Hans Zimmer juga mengiringi cerita manis ini. It's sweet enough, 2.5 stars out of 5. Ada yang punya komentar?

Wach this if you liked:


Director: Alejandro Agresti
Stars: Keanu Reeves, Sandra Bullock, Christopher Plummer
Genre: Fantasy, Romance, Drama
Runtime: 99 minutes

Ketika Kate pindah ke apartemen, tanpa diduga rumah danau yang dulu begitu disukainya menjadi saksi pengalaman hidup dan cinta Kate yang diluar imajinasi siapapun: ia terhubung dengan seorang pria asing yang hidup dua tahun lalu dari waktu masa kini di mana Kate berada...

If Only (2004)

Director: Gil Junger
Stars: Jennifer Love Hewitt, Paul Nicholls, Tom Wilkinson
Genre: Fantasy, Comedy, Drama
Runtime: 92 minutes


Jerry Maguire: Love vs Loyalty

Apa yang Anda harapkan dari sebuah hubungan? Cinta, harta, tahta, teman hidup yang setia, seseorang yang melengkapi ketidaksempurnaan Anda, atau mungkin ada jawaban yang lain? Ya, jika dicermati ternyata sebuah hubungan dapat dibentuk lebih dari satu elemen, dan elemen-elemen itu sendiri dapat berubah komposisinya. Bisa saja dua orang yang pernah berteman kemudian setelah lama berpisah, mereka bertemu kembali dan saling jatuh cinta, mereka pun memutuskan untuk berkomitmen. Contoh lain, kita tentu sudah sering mendengar bahwa cinta dapat tumbuh dengan sendirinya. Sebuah hubungan dapat terjalin meski awalnya tanpa dilandasi perasaan apapun, alias hambar. Tetapi bisa saja hubungan yang demikian itu bertahan lama. Mungkin benar karena cinta sudah tumbuh atau mungkin karena waktu telah menggilas perasaan mereka, sehingga mereka terbiasa membangun hubungan tanpa landasan cinta. Bisa juga misalnya seseorang berkomitmen kepada pasangannya bukan karena ia ingin melakukannya, tetapi ia harus melakukannya. Kesimpulannya, jika dihadapkan pada masalah hati dan perasaan, manusia bisa jadi sangat kompleks dan dinamis.

Kehidupan percintaan yang dinamis itulah yang menjadi tema Jerry Maguire (1996). Dikisahkan, Jerry Maguire (Tom Cruise) adalah seorang agen atlet yang sukses, pandai bernegosiasi, menguasai bisnis hingga ke sisi kelamnya, punya banyak teman, dan didambakan para wanita. Banyak olahragawan yang telah sukses ditangannya, baik secara profesional, maupun karena permainan kotor. Namun, belakangan ia menyadari bahwa semakin lama semakin banyak atletnya yang bermasalah, bermain tanpa hati, memilihnya menjadi agen hanya karena ia terkenal sebagai mesin pengerek dolar. Hal itu membuatnya merinding, benci pada dirinya sendiri yang telah terjerembab dalam dunia yang mendewakan kesuksesan luar semata.

Kebencian atas apa yang dilakukannya selama ini dituangkan Jerry dalam sebuah memo inspiratif sekaligus kontroversial bagi kantornya. Dalam memo itu, Jerry menuliskan bahwa satu-satunya cara agar bisnis seperti ini mendapatkan sukses sesungguhnya yaitu setiap agen tidak boleh menangani terlalu banyak atlet, yang terpenting adalah hubungan personal antara sang agen dengan kliennya. Jika itu terpenuhi, maka segalanya akan menjadi lancar. Tentu saja, sebaliknya bagi perusahaan yang terpenting adalah mesin uang seperti yang selama ini dijalankannya, tak peduli pada prestasi maupun segudang masalah yang diakibatkan atlet itu. Memo itu akhirnya berujung sial bagi Jerry, ia dipecat dari kantornya, dan parahnya lagi yang memecatnya adalah bekas bawahannya sendiri, Bob Sugar (Jay Mohr).

Nasib sial belum berhenti sampai situ. Jerry kalah telak dalam memperebutkan kembali atlet-atlet yang pernah ditanganinya. Hampir semua atlet memilih Bob Sugar dan hanya Rod Tidwell (Cuba Gooding, Jr.), seorang atlet football, yang setia pada Jerry. Angka satu sepertinya masih menjadi teman setia Jerry di saat-saat terpuruknya. Selain hanya mendapat satu atlet, ia juga hanya mendapat satu orang karyawan untuk memulai bisnisnya yang baru, dan ia adalah Dorothy Boyd (Renée Zellweger). Dorothy, seorang janda beranak satu memang mengidolakan Jerry sedari awal, dan semakin menyukainya ketika Jerry jujur terhadap dirinya sendiri lewat memonya.

Bekerja siang-malam tanpa dibayar untuk mendapatkan kontrak bagus bagi Rod, Jerry yang sempat tertekan karena diputuskan cinta oleh kekasihnya menemukan drinya pada ambang kegagalan. Ia sempat putus asa, namun selalu ada Dorothy di sisinya yang selalu membantu, memberikan motivasi, dan menghiburnya. Akhirnya, atas nama kesetiaan, Jerry menikahi Dorothy dan menjadi ayah bagi Ray, putra semata wayang Dorothy sekaligus penggemar kecil Jerry. Jerry menyukai Dorothy sebagai rekan kerja, sebagai teman bercinta, tapi ia tidak memiliki hati untuknya. Ia bersedia menghabiskan sisa hidupnya dengan Dorothy, tapi ia tidak bisa memberinya cinta, sebuah hubungan yang tentu absurd sekaligus menyakitkan bagi siapapun.

Hubungan Jerry dan istrinya bertambah buruk ketika Dorothy memutuskan berpisah dengannya, bahkan ia meminta maaf bahwa selama ini ia telah memaksakan cintanya pada Jerry, which is very touchy, and I love the scene. Namun, semua itu sirna ketika bisnis kecil yang mereka rintis bersama menuai keberhasilan, dan Jerry menyadari bahwa ia tak punya orang lain untuk berbagi kebahagiaan itu selain dengan Dorothy, sosok yang telah memberikan kasih padanya secara tulus, meski tak berbalas. Di titik ini, ia merasa hampa, dan ia menemukan pelengkapnya, pengisi kehampaannya, dan cinta sejatinya pada Dorothy.

Karakter Jerry yang dibawakan Tom Cruise dengan apik merupakan karakter yang fragile. Sebagai pria yang pernah sukses, ia terkejut ketika terpuruk, tetapi beruntungnya, ia punya seseorang seperti Dorothy. Pada akhirnya, kehadiran Dorothy juga membuat Jerry mendewasakan dirinya, after he struggles with his own mind. Salah satu yang unik dari film yang merupakan kolaborasi perdana sutradara Cameron Crowe (Vanilla Sky, Almost Famous) dengan Tom Cruise ini adalah banyaknya quote bagus dan cerdas, mulai seputar cinta, motivasi hidup, hingga bisnis. Selain itu, Film yang mendapatkan Oscar dalam kategori best actor in a supporting role untuk Cuba Gooding, Jr. dan dinominasikan sebagai best picture ini tidak hanya menawarkan cerita romantis saja, di dalamnya juga ada pelajaran berharga untuk mengenal diri sendiri. Contohnya, karakter Jerry yang menemukan dirinya sebagai seorang agen yang hanya mendewakan uang, dan kemudian ia menyadari hal ini dan memutuskan untuk berubah, meski perubahan ke arah yang lebih baik itu terkadang menemukan jalan yang berliku. Selain itu, Jerry juga menyadari bahwa setiap kesetiaan berarti limpahan cinta, dan tak ada cinta yang lebih tulus dari kesetiaan. It's awesome, 4 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?

Wach this if you liked:

The Illusionist (2006)

Director: Neil Burger
Stars: Edward Norton, Jessica Biel, Paul Giamatti
Genre: Drama, Mystery, Romance
Runtime: 110 minutes










Open Your Eyes (1997)

Director: Alejandro Amenábar
Stars: Eduardo Noriega, Penélope Cruz

Genre: Drama, Mystery, Romance
Runtime: 117 minutes