Wednesday, November 28, 2012

Vozvrashchenie (The Return): Kembali Seperti Sediakala

Bertepatan dengan gelaran Europe on Screen yang sedang berlangsung dari tanggal 25 November hingga 1 Desember 2012, saya mencoba menepi dari arus lalu lintas film Hollywood yang begitu padat dengan kembali menonoton beberapa film Eropa yang belum saya ulas. Menonton film Eropa bagi saya bagaikan memasuki sebuah dunia lain yang berbeda dengan perfilman Hollywood. Bagi Anda pecinta film, pasti mengetahui bahwa sedikit banyak ada perbedaan yang cukup tajam antara produk sinema Eropa dengan Hollywood, terutama dari segi alur cerita. Perbedaan itu pada akhirnya akan berpengaruh pada pengalaman menonton yang berbeda pula. Well, berpindah sejenak untuk mengamati film Eropa untuk diri saya pribadi dapat memperkaya khazanah perfilman dunia, dan yang paling utama agar sudut pandang sebagai penikmat film tidak terpaku pada stereotype Hollywood.

Kali ini, film yang akan saya ulas adalah Возвращение/Vozvrashcheniye (judul internasional: The Return) (2003), sebuah film dari Negeri Beruang Merah, Rusia. The Return merupakan salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Saya ingat pertama kali menyaksikan film ini empat tahun lalu dan begitu memukau saya baik dari segi alur cerita, karakterisasi, maupun sinematografi. Ketika saya menonoton kembali film yang merupakan debut penyutradaraan Andrey Zvyagintsev ini, kesan memukau itu tidak pudar, malah saya merasa "pengalaman indah" yang dulu saya rasakan usai menonton film ini semakin bertambah, mempertegas bahwa The Return benar-benar merupakan sebuah mahakarya.

The Return mengisahkan kehidupan Andrey (Vladimir Garin) dan Ivan (Ivan Dobronravov), dua kakak-beradik yang tumbuh dalam keluarga yang tak pernah mengenal sosok seorang ayah. Selama ini, satu-satunya bukti yang menunjukkan bahwa mereka pernah memiliki ayah adalah dari sebuah foto usang yang memperlihatkan gambar mereka berdua sewaktu bayi dengan ayah dan ibu. Selebihnya, mereka tidak tahu sama sekali mengapa ayah mereka tidak tinggal bersama di rumah. Andrei dan Ivan hanya tinggal bersama ibu (Nataliya Vdovina) dan nenek (Galina Popova). Antara Andrey dan Ivan terjalin hubungan persaudaraan yang sangat erat. Secara keseluruhan, kehidupan Andrey dan Ivan berjalan normal seperti kehidupan anak-anak lain. Setidaknya, kondisi tersebut tetap bertahan hingga suatu hari ibu mereka mengabarkan bahwa ayah mereka ada di rumah.

Ayah Andrey dan Ivan (Konstantin Lavronenko) merupakan sosok pendiam namun memiliki wibawa dan disiplin yang luar biasa tegas dan kaku. Di mata Andrey dan Ivan, kombinasi pendiam, wibawa, dan disiplin ayah mereka menjadikannya seseorang yang misterius, tak tersentuh, dan terkesan otoriter. Penilaian Andrey dan Ivan memang tak lepas dari kebingungan yang terus menggerogoti pikiran dan hati mereka semenjak kedatangan sang ayah. Bayangkan, jika Anda bertemu dengan seseorang yang belum pernah Anda temui seumur hidup Anda, tetapi di sisi lain Anda harus menerima kenyataan bahwa ia adalah orang yang sangat dekat dengan Anda, tentu sedikit atau banyak akan muncul perasaan terguncang di benak, bukan? Perasaan terguncang Andrey dan Ivan menjadikan sikap mereka pada awal pertemuan dengan sang ayah menjadi kikuk.

Andrey dan Ivan yang masih terkejut akan kehadiran yang sangat tiba-tiba dari ayah yang tak pernah mereka kenal sebelumnya mulai belajar memahami sosok sang ayah melalui sebuah perjalanan liburan. Selama perjalanan itulah, hubungan ayah, Andrey, dan Ivan digambarkan secara perlahan. Seiring berjalannya waktu, Andrey yang memang terbiasa menjadi penurut dan penjilat mulai mendekatkan diri dengan sang ayah. Berbanding terbalik 360 derajat dari sikap Andrey, Ivan yang keras hati tetap menjaga jarak dan menaruh curiga terhadap ayahnya.

Perjalanan liburan dengan sang ayah ternyata dirasakan Ivan sangat mengecewakan. Alih-alih dibawa ke tempat pemancingan yang menjadi favorit Andrey dan Ivan, sang ayah malah membawa mereka ke sebuah pulau yang sangat asing, jauh, dan terpencil. Ditambah lagi, Ivan sangat benci sikap dingin, otoriter, dan kesunyian ayahnya. Karena itulah sepanjang pejalanan, sedapat mungkin Ivan berusaha menunjukkan rasa tidak senangnya dengan hampir tidak mematuhi semua perintah sang ayah, kecuali jika benar-benar dipaksa. Meskipun begitu, ayah mereka bukanlah tipe orang yang mudah dilawan. Selama sepekan, Andrey, Ivan, dan ayah mereka melakukan perjalanan bersama dan mengalami berbagai macam hal. Perjalanan itu ditutup dengan kejadian yang tak akan pernah dapat dilupakan, bahkan hingga mereka kembali.

Sepintas, menonton The Return seperti menyaksikan sebuah cerita yang penuh dengan lubang yang membingungkan dan tak diketahui seperti apa penutupnya. Satu hal yang pasti, Zvyagintsev sebagai sutradara ingin menunjukkan bahwa ada sesuatu di balik misteri kedatangan tiba-tiba sang ayah. Namun, Zvyagintsev yang juga ambil bagian dalam penulisan naskah dengan sangat elegan tidak memberikan penjelasan gamblang atau mengungkapkan petunjuk murahan yang membuat penonton mudah menebak jalan cerita film ini.

Alur cerita The Return dibuat agak lambat di awal. Zvyagintsev seperti ingin memaku penonton untuk terus fokus ke layar, bersama-sama dengan Andrey dan Ivan berspekulasi mengenai siapakah sebenarnya jati diri sang ayah, seperti apa masa lalunya, dan apakah ia memiliki maksud jahat terhadap kedua anaknya. Penonton akan berusaha keras merangkai jalinan petunjuk yang terdapat di sepanjang perjalanan tiga tokoh utama dalam film ini, mulai dari kebiasaan menelepon sang ayah yang misterius, karung yang dipanggul (tubuh manusia?), hingga peti yang digali di pulau.

Jika ingin berdiskusi sejenak, apakah ayah Andrey dan Ivan sosok yang jahat? Bagi saya tidak, dengan melihat tingkah laku sang ayah, saya justru menagkap bahwa ia hanyalah sosok ayah seperti ayah lainnya yang ingin dekat dengan kedua putranya. Ia sangat menyayangi mereka, meski ia tidak mampu menjelaskan ketidakhadirannya selama ini. Ia terlalu takut kehilangan kedua buah hatinya. Bila melihat adegan transaksi di pelabuhan, saya memang curiga ia memiliki pekerjaan yang tidak biasa, bahkan cenderung mencurigakan. Mungkin karena pekerjaanya irulah ia tidak berani mengungkapkan kisah hidupnya kepada dua anaknya. Namun,  setelah lama mengamati dan merenungkan jalan cerita film ini, saya justru juga menemukan pertanyaan yang akan sama sekali membuat The Return menjadi film yang lebih complicated: apakah kemunculan tia-tiba sang ayah merupakan khayalan atau imajinasi Andrey dan Ivan semata? Pertanyaan ini timbul secara tiba-tiba ketika di bagian akhir ketika saya melihat Ivan menemukan sebuah foto yang mirip dengan foto usang miliknya, hanya saja kali ini tak ada potret ayahnya di sana. Selain itu, setelah dicermati lebih jauh, judul The Return pun mengandung ambiguitas, tidak hanya berarti kepulangan sang ayah secara tiba-tiba, tetapi juga kembalinya Andrey dan Ivan dari perjalanan imajinatif mereka, dan kehidupan pun berjalan seperti sediakala? Well, apa pun itu,  teknik penulisan naskah Zvyagintsev ini sangat efektif untuk menjaga tensi dan ritme film mengingat penonton ditempatkan pada posisi yang sama dengan karakter Andrey dan Ivan, dua karakter yang melalui mata mereka, menceritakan kisah di film ini. Bagi saya ambiguitas cerita membuat The Return menjadi sebuah film yang tak akan lepas dari pikiran bahkan lama setelah kredit terakhir dumunculkan di layar.

Zvyagintsev juga memasukkan cukup banyak simbol di pertengahan film, terutama dari teknik pengambilan gambar. Simbol-simbol tersebut memiliki makna tersendiri yang dapat diinterpretasikan secara bebas oleh penonton. Misalnya Zvyagintsev seringkali mengambil gambar objek diam yang ditinggalkan oleh objek yang bergerak seperti tikungan jalan yang dilalui oleh mobil yang ditumpangi tiga karakter utama film ini. Tikungan jalan itu diperlihatkan dalam waktu yang cukup lama setelah mobil tersebut melintas. Saya menginterpretasikan Zvyagintsev ingin menujukkan makna kepergian. Seperti halnya mobil yang melintas menjauhi tikungan jalan yang tetap berada di tempatnya dan tak berubah sedikit pun, kepergian ayah Andrey dan Ivan dulu tidak meninggalkan bekas yang berarti. Andrey, Ivan, ibu, dan neneknya tetap hidup dan tinggal bersama. Mereka bahkan seakan-akan lupa bahwa dulu mereka memiliki satu anggota keluarga yang kemudian pergi dan tak pernah disangka akan kembali.

Di sepanjang film berdurasi 105 menit ini, hanya ada tiga karakter yang mendominasi seluruh jalan cerita: Andrey, Ivan, dan ayah mereka. Salah satu keunikan film ini adalah semua tokoh dewasa yang muncul tidak diketahui namanya. Bahkan, memang hanya ada dua nama yang disebut di keseluruhan film ini: Andrey dan Ivan. Perwatakan tiga karakter tersebut tidak digambarkan melalui dialog panjang lebar, melainkan melalui tindakan dan subtle nuances yang dtimbulkan dari hubungan ketiga karakter tersebut. Contohnya, sifat keras kepala Ivan digambarkan pada scene awal di mana ia takut untuk melompat ke laut dari ketinggian namun ia tidak mau turun melalui tangga dan dicap sebagai pengecut. Ia tetap bertahan di atas papan loncat dalam waktu yang sangat lama, bahkan hingga ibunya menjemput.

Sementara karakter ayah yang dominatif dan otoriter dalam film ini digambarkan melalui kalimat-kalimat dialog singkat yang diucapkannya serta tindakannya yang misterius dan tiba-tiba. Sang ayah seringkali memberikan perintah kepada Andrey dan Ivan tanpa memberitahu maksud perintahnya tersebut. Padahal bila dicermati, banyak di antara perintah sang ayah diberikan demi kebaikan Andrey dan Ivan. Selama perjalanan itu, Andrey dan Ivan juga berkali-kali dihadapkan pada perintah ayah mereka untuk melakukan kegiatan fisik yang cukup berat, seperti mendayung di tengah cuaca yang tak bersahabat ketika mesin perahu yang digunakan untuk menyeberang ke pulau rusak dan mendorong mobil yang mengalami selip ban. Bagi saya pribadi, karakter ayah lebih dapat dicermati melalui pandangan matanya. Sebagai contoh, ada satu scene di mana Ivan dan ayahnya sedang menunggu di dalam mobil sementara Andrey pergi mencari informasi lokasi restoran terdekat. Dalam scene itu, ada seorang wanita lewat di samping mobil mereka, dan sang ayah menatap lekat-lekat bokong dan punggung wanita tersebut melalui kaca spion samping dan depan. Scene itu sangat menunjukkan bahwa sebenarnya sang ayah memiliki karakter yang sangat bisa ditebak, just such an open book.

Kesempurnaan film ini didukung pula oleh kualitas dari penampilan aktor-aktornya. Saya memberikan kredit tertinggi untuk Dobronravov yang sangat berhasil memperlihatkan performa seorang anak yang memiliki luapan kemarahan luar biasa di dalam dirinya. Emosi yang ditujukkan Dobronravov merupakan emosi khas anak-anak yang sangat kentara, tak bisa ditutupi. He is cleverly and fully captures the helpless anger of a child. Dobronravov dapat membawakan karakter Ivan menjadi karakter yang menonjol.

Sementara itu Garin, meski tidak sebaik Dobronravov mampu membawakan karakter Andrey yang kelelahan karena melakukan berbagai kegiatan fisik dengan meyakinkan. Saya menduga, beberapa adegan yang melibatkan kegiatan fisik yang cukup berat seperti menyeret, menarik, mendorong, dan memanggul benar-benar dilakukan dengan barang bawaan yang berat dan Zvyagintsev menunggu sesaat untuk mengambil gambar adegan tersebut hingga sang aktor memperlihatkan kondisi lelah sungguhan. Dengan begitu, ekspresi dan gerak tubuh yang dihasilkan menjadi sangat meyakinkan. Sayang sekali bakat Garin tidak sempat diasah lagi di film lain mengingat beberapa hari sebelum perilisan internasional The Return, ia tewas tenggelam di danau yang tragisnya dipakai untuk pengambilan gambar film ini.

Terakhir, Lavronenko yang merupakan mantan tentara Soviet berhasil membawakan sosok ayah yang dingin, misterius, dan pendiam. Gaya bicaranya yang sering memerintah dengan singkat dan tegas seperti telah terlatih berkat pengalamannya sebagai tentara. Penampilan fisik Lavronenko yang besar dan tegap juga mendukung karakter ayah yang serba bisa dan dapat diandalkan.

Dari segi sinematografi, Zvyagintsev dengan cerdas menampilkan kesan suram, gelap, dan misterius di sepanjang film dengan penggunaan warna-warna gelap, yang didominasi abu-abu dan biru tua. Kesan redup juga ditampilkan melalui hujan yang sering turun dengan deras dan meminimalisasi efek cahaya matahari, menimbulkan visualisasi langit yang tak pernah cerah. Selain itu, di berbagai adegan Zvyagintsev juga mengambil gambar siluet atau bayangan tokoh dari kejauhan. Hanya di beberapa adegan saja Zvyagintsev menampilkan latar pemandangan (landscape) Rusia yang luas dan menakjubkan. Danau, laut, pantai, hutan, padang rumput, semua terlihat indah dan kontras dengan suasana yang dihadirkan cerita film ini.

Secara keseluruhan, saya tak ragu berpendapat bahwa seharusnya film ini tidak hanya berhenti hingga nominasi Best Foreign Language Film Golden Globe 2004 saja, tetapi juga sangat pantas menjadi nominator Best Foreign Language Film dalam ajang penghargaan film tertinggi sejagad, Oscar. Bahkan bagi saya yang tidak sepenuhnya dapat memecahkan teka-teki The Return, film ini tetap menjadi sebuah kepingan berharga yang sulit dilewatkan. Bagi Anda yang belum pernah menonton film ini, saya sangat merekomendasikannya. Sebuah debut jenius dari sutradara Andrey Zvyagintsev. It's outstanding, 5 out of 5 stars from me. Ada yang punya komentar?

Wach this if you liked:

Mulholland Drive (2001)

Director: David Lynch
Stars: Naomi Watts, Laura Harring, Justin Theroux
Genre: Drama, Mystery, Thriller
Runtime: 147 minutes


Donnie Darko (2001)

Director: Richard Kelly
Stars: Jake Gyllenhaal, Jena Malone and Mary McDonnell
Genre: Drama, Mystery, Sci-Fi
Runtime: 113 minutes






No comments:

Post a Comment