Sabtu, 30 Juli 2011

Why Discrimination Still Exist?

It seems like a long journey for LGBT to get their equality rights, including in sports. Recently, Nigerian coach Eucharia Uche — that she’d kicked players off ther team “not because they were bad players, but because they were lesbians” — is at the heart of protest.FIFA reaction for this case is just going to talk with UChe and suggest her to express oneself neutrally.




More than 100 activists dressed as referees are expected to converge in front of the Frankfurt Football stadium on July 13 to urge FIFA to back up their discrimination policy, beginning with a full investigation into coach Uche. According to a press release, the group is asking for a suspension for Uche — a sanction that they say would be consistent with previous infractions by FIFA members including ones against Maradona and Zidane.

Despite some gains in anti-racism advocacy work in world football, FIFA’s been famously slow and ineffective in its response to complaints about homophobia. As a recent example, in early 2011 FIFA — along wth the UEFA — reconfirmed Vlatko Markovic for a fourth term as president of the Croatian Football Federation despite the fact that he told the press in late 2010 that “[a]s long as I’m president [of the Croatian Football Federation] there will be no gay players. Thank goodness only healthy people play football.”

Picture source: http://oblogdeeoblogda.wordpress.com/2011/07/11/groups-call-on-fifa-to-condemn-homophobia-on-%E2%80%9Cday-against-discrimination%E2%80%9D/

Kamis, 28 Juli 2011

Berawal dari Skandal Ditutup dengan Skandal

Dunia dikejutkan dengan aksi berani koran mingguan News of the World (NOW) yang melakukan penyadapan telepon secara ilegal terhadap beberapa tokoh terkenal di Inggris. NOW yang merupakan salah satu media terbesar di Inggris kini harus mengakhiri kiprah pewartaannya selama 168 tahun dengan penutupan pada Minggu 10 Juli lalu. Penutupan ini diumumkan oleh James Murdoch, Direktur News Internasional, kelompok usaha milik Rupert Murdoch yang menerbitkan News of the World pada 7 Juli 2011. Pada edisi terakhirnya, NOW mengangkat tajuk Thank You and Goodbye (Terima Kasih dan Selamat Tinggal).

Sebenarnya, kasus yang menghenyakkan dunia media ini telah terjadi cukup lama, selama masa pemerintahan Perdana Menteri Tony Blair, antara 2 Mei 1997 hingga 27 Juni 2007. Korban penyadapan NOW antara lain Milly Dowler, gadis pelajar korban pembunuhan yang telepon selularnya diretas dan beberapa bagian pesan suaranya dihapus sehingga orangtuanya berpikir anak mereka masih hidup. Selain itu, koran ini juga diduga melakukan penyadapan telepon milik para korban bom London 2005. Sejauh ini, belum terungkap apa motivasi NOW melakukan peretasan ini yang dianggap sebagai tindakan keji oleh Tony Blair.


Perlindungan Privasi Warga

Apa yang terjadi pada News of the World membuat Amerika Serikat dan Australia siaga satu dalam mengantisipasi tindakan serupa yang dilakukan oleh sayap media Rupert Murdoch yang juga mendominasi dua negara tersebut. Bahkan Autralia, negara asal Rupert Murdoch kini tengah mengambil ancang-ancang untuk melindungi privasi warganya. Di negeri Kanguru ini, sebelumnya telah ada UU yang memberi jaminan privasi terhadap setiap warga negara, namun UU tersebut tidak mengakomodasi penuntutan terhadap pihak-pihak tertentu yang melanggar batas privasi warga tersebut, sehingga wacana pembuatan payung hukum baru tentang privasi warga sedang hangat-hangatnya di sana.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Secara konstitusional, Pasal 28 G ayat (1) UUD 1945 menyatakan “Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaanya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.” Namun setelah saya mencari tahu lebih lanjut tentang UU yang mengatur hak privasi warga, saya tidak menemukannya. Selama ini, kebijakan pengaturan terhadap privasi dianggap tidak populer karena banyak institusi negasa seperti KPK dan Polri yang menggunakan penyadapan sebagai langkah memberantas korupasi yang diatur melalui peraturan internalnya. Padahal, sejatinya penyadapan itu harus dibuat dalam satu UU khusus, tidak bisa diatur hanya dengan peraturan internal. Selain itu, menurut saya sebenarnya meski hak privasi bukan kategori hak yang tak dapat dibatasi, namun pembatasan itu harus dilakukan oleh Undang-undang. Jadi bukan pada level Peraturan Pemerintah, atau peraturan lainnya di bawah Undang-undang.

Di sisi lain, Mahkamah Konstitusi RI telah membuat keputusan mengenai intersepsi komunikasi yang dituangkan dalam putusan nomor 006/PUU-I/2003, putusan nomor 012-016-019/PUU-IV/2006 dan putusan nomor 5/PUU-VIII/ 2010 tertanggal 24 Februari 2011. Dalam putusan tersebut, dikatakan bahwa negara dapat melakukan pembatasan terhardap pelaksanaan hak-hak privasi dengan menggunakan UU sebagaimana diatur dalam pasal 28; ayat 2 UUD 1945.

Pada dasarnya menurut saya tidak adanya satu UU yang secara khusus mengatur tata cara penyadapan justru akan mengancam privasi warga. Pertanyaan besarnya adalah seadainya kasus seperti NOW ini terjadi di Indoensia, apa payung hukum yang dapat digunakan warga?

Pelajaran Berharga bagi Bisnis Media

Selain memunculkan wacana perlindungan privasi, kasus NOW juga memberikan kita semua hikmah yang dapat dipetik, khususnya bagi bisnis media. Pertama, bisnis media dan informasi adalah bisnis kepercayaan. Sekali saja media mewartakan informasi yang kepercayaannya diragukan, maka media tersebut tak layak dipertahankan. Kedua, informasi yang baik adalah informasi yang isinya benar (telah diverifikasi terlebih dahulu) dan yang tak kalah penting, didapatkan dengan cara yang benar pula. Ini adalah tantangan berat bagi jurnalis, karena informasi mengenai hal-hal yang bersifat negatif baik biasanya akan ditutup-tutupi. Tetapi ini bukan berarti kita bisa seenaknya melanggar batas-batas privasi orang lain. Ketiga, ketika menjual informasi, kredibilitas penyedia informasi tersebut adalah segala-galanya. Maka tak ada kesempatan kedua bagi seorang jurnalis yang melakukan kesalahan.

Kini, biarlah Murdoch menelan pil pahit atas tindakan yang dilakukan salah satu jaringan bisnis medianya. Mungkin ia akan merenungkan bahwa ketika ia memulai bisnis ini medianya memfokuskan liputan pada seks, skandal, dan peristiwa yang terkait dengan kisah-kisah kemanusiaan, ia tersadar bahwa melalui skandal pulalah salah satu medianya terjeremabab ke lubang hitam.

Ada yang punya komentar?

Referensi: kompas.com, mediaindonesia.com.
Sumber gambar: http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2011/07/13/belajar-dari-kematian-news-of-the-world/

Selasa, 26 Juli 2011

Seminar Perpajakan


Tema seminar dalam Taxplore 2 2011 adalah “SIGNIFIKANSI PERBANKAN SYARIAH DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI NASIONAL”. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dan masyarakat umum serta dapat memberikan pemahaman bagaimana perlakuan perpajakan di bidang syariah dan apa saja upaya pemerintah dalam memberikan regulasi dan insentif di sektor ini untuk menstimulus perkembangan bisnis syariah.

Tujuan Kegiatan
Ø Memberikan pemahaman kepada peserta tentang prinsip-prinsip muamalah Islam serta aplikasinya dalam produk bank syariah.
Ø Memberikan pemahaman kepada peserta dalam pengembangan produk bank syariah dalam hal penghimpunan dana, penyaluran dana, dan produk berupa jasa.
Ø Memberikan pemahaman kepada peserta mengenai aspek perpajakan yang terkait dengan operasional dan kegiatan usaha perbankan syariah.
Ø Memberikan pengetahuan kepada peserta apa saja langkah-langkah pemerintah ke depan dalam menstimulus perkembangan bisnis perbankan syariah yang berdampak pada peningkatan penerimaan sektor riil Negara.

Topik bahasan yang dijadikan fokus pembahasan dalam seminar ini adalah:

Materi sistem syariah dan prinsip-prinsipnya secara meyeluruh
Materi perbankan syariah dari sudut pandang perekonomian Indonesia
Materi perbankan syariah dari sudut pandang perpajakan

Bentuk Kegiatan
Ø Kegaiatan berbentuk seminar sehari.

Narasumber

Direktur Bank Syariah Mandiri
Kepala Kebijakan Fiskal Kementrian Keuangan
Akademisi / Professional
Moderator Seminar: Wisamodro Jati, S.Sos, M. Int.Tax, Praktisi Perpajakan, Ernst & Young

Peserta dan Biaya
Mahasiswa dan masyarakat umum.
Investasi: Mahasiswa D3-S1 : Rp.35.000,00
Mahasiswa S2, S3 dan umum: Rp.50.000,00.
(Seluruh peserta akan mendapatkan Sertifikat, seminar kit, snack, dan makan siang)

Pelaksanaan

Hari/Tanggal: Sabtu, 8 Oktober 2011
Tempat: AJB FISIP UI



LOMBA DESAIN POSTER TAXPLORE 2 2011


Ketentuan Lomba:


1. Lomba ini diselenggarakan oleh KOSTAF FISIP-UI.
2. Lomba ini terbuka untuk mahasiswa dan umum dengan biaya pendaftaran Rp. 50.000,-
3. Poster yang akan dilombakan harus sesuai dengan ketentuan format dan akan dinilai sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan panitia.
4. Poster dibuat dalam bentuk digital dan dikirimkan ke email yang akan diberitahukan oleh panitia.
5. Pengiriman poster disertakan dengan Curriculum Vitae peserta.
6. Akan diambil 5 finalis poster terbaik yang akan diumumkan pada saat hari H acara Taxplore untuk mempresentasikan poster masing-masing dan akan dipilih juara terbaik dan juara favorit.
7. Finalis yang meraih juara terbaik akan mendapatkan hadiah sebesar Rp. 1.500.000,- dan juara favorit akan mendapatkan hadiah sebesar Rp. 1.000.000,-
8. Peserta yang terpilih menjadi finalis akan dikonfirmasi secara resmi oleh KOSTAF FISIP-UI melalui email dan via telepon.

Ketentuan Poster


1. Lomba desain poster ini bertemakan “Peningkatan Kesadaran Membayar Pajak”
2. Poster yang dibuat merupakan karya sendiri, belum pernah dilombakan, ataupun dipublikasikan.
3. Poster yang dibuat tidak boleh menyinggung unsur Suku, Agama, Ras (SARA)
4. Poster dibuat dalam bentuk digital dengan ketentuan harus berupa file jadi (jpeg) dan mentah (psd & dsb) - Resolusi yang digunakan 300 dpi - Ukuran poster untuk digital tidak lebih dari 20 Mb.
5. Poster yang dibuat harus disertai dengan penjelasan konsep atau ide dari desain poster tersebut.


Penilaian Poster:


1. Kriteria penilaian:
§ Orisinalitas karya.
§ Kesesuaian tema dengan unsur teknis.
§ Kedalaman eksplorasi tema serta komunikatif dalam menyampaikan pesan.
§ Inovasi serta sisi artistik penyajian visual.
2. Penilaian bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat.
3. Pelaksana dan penyelenggara berhak untuk mendiskualifikasi setiap materi lomba yang diikutsertakan, sebelum, selama, dan sesudah penjurian dilakukan apabila materi yang diikutsertakan tidak memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.



Ketentuan Essay Taxplore 2 2011


Peraturan Lomba Essay Taxplore II 2011

Essay merupakan media seleksi peserta Taxplore II 2011 yang dapat diikuti oleh universitas-universitas seluruh Jawa, Bali, dan Lampung. Ketentuan-ketentuan terkait lomba Essay adalah sebagai berikut:

I. Ketentuan Lomba Penulisan Essay

1. Essay yang disertakan dalam lomba merupakan karya asli, bukan jiplakan/plagiat, dan belum pernah diikutsertakan dalam acara apapun, juga belum pernah memenangkan lomba-lomba setipe lainnya (dibuktikan dengan surat pernyataan orisinalitas tulisan).
2. Surat pernyataan orisinalitas tulisan dibuat sesuai format yang telah ditetapkan (terlampir) dan ditandatangani oleh anggota tim.
3. Essay merupakan karya tim yang terdiri dari 3 orang (tidak boleh lebih/kurang).
4. Essay harus merujuk pada tema Taxplore II 2011 “Indonesia yang Lebih Baik dengan Pajak” dan tagline acara “Explore More to Aim Better Taxation” dengan mengangkat isu spesifik tertentu terkait pajak.
Misalnya: Ketidakpatuhan Wajib Pajak membayar pajak setelah Kasus Gayus diberitakan dan bagaimana solusinya. Atau, peluang insentif pajak di kalangan perbankan syariah yang akan dapat mendukung perkembangan perekonomian Indonesia.
5. Essay dilarang menyinggung SARA.
6. Essay akan didiskualifikasi jika didapati melanggar ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh panitia.

II. Format Penulisan Essay

1. Essay diketik dengan format kertas A4, dengan margin:
left : 4 cm,
right : 3 cm,
top : 3 cm,
bottom : 3 cm.
2. Panjang essay antara 4-5 halaman, tidak termasuk daftar pustaka.
3. Font Times New Roman, 12pt, spasi 1,5, rata kanan-kiri/justify, format orientation portrait.
4. Essay terdiri dari pendahuluan/pengantar, isi, dan penutup/kesimpulan, dengan jumlah paragraf disesuaikan kebutuhan tim.
5. Judul ditulis bold dengan format rata tengah/center.
6. Dipojok kanan atas ditulis “Essay Taxplore II 2011”, contact person yang dapat dihubungi terdiri dari email dan nomor telpon/hape, dan data tim, mencakup: nama anggota tim 1,2,3, nama jurusan, fakultas, dan instansi (universitas).
7. Essay disertai nomor halaman pada header (kanan atas) dan tulisan “Essay Taxplore II 2011” pada footer (kanan bawah).
8. Data-data yang dicantumkan dalam essay harus diserta running note/foot note dengan format standar dan dicantumkan pula pada daftar pustaka.
9. Contoh format penulisan essay terlampir.

III. Sistematika Penilaian Essay

1. Essay akan dinilai oleh 3 juri yang telah ditetapkan panitia, dengan kriteria: pemilihan judul dan isu/topik yang diangkat, kreativitas isi, kedalaman pembahasan, dan sumber data.
2. Penilaian ditentukan berdasarkan skala 0-100.
3. Dari setiap region wilayah yang ditentukan oleh panitia, akan ditetapkan kuota jumlah tim perwakilan yang lolos seleksi Taxplore II 2011 yang dipilih berdasarkan penilaian essay terbaik.

IV. Ketentuan Pengiriman Essay

1. Essay diketik dan dikirim ke email essay.taxplore2011@yahoo.com paling lambat tanggal 8 September 2011 23:59.
2. Subject email: Essay Taxplore II 2011/Instansi (Universitas)/Nama Anggota 1,2,3
Contoh: Essay Taxplore II 2011/Universitas Indonesia/Anang Hermansyah, Krisdayanti, Raul Lemoz.
3. Essay di-convert dalam bentuk pdf, beserta surat pernyataan orisinalitas (disatukan dalam pdf yang sama dengan essay) dan scan bukti transfer uang pendaftaran.

V. Ketentuan Lanjutan

1. Panitia akan menetapkan 12 essay terbaik yang akan diumumkan pada tanggal 23 September 2011.
2. Keduabelas tim dengan essay terbaik wajib mengikuti rangkaian acara Taxplore II 2011 selanjutnya di Kampus FISIP, Universitas Indonesia.
3. Keduabelas tim dengan essay terbaik wajib mengirimkan essay kedua dengan tema “______________________________________________” ke email essay.taxplore2011@yahoo.com paling lambat tanggal 29 September 2011 (ketentuan dan format penulisan seperti dijelaskan di atas).
4. Essay kedua akan dinilai oleh tim juri dengan sistematikan penilaian seperti dijelaskan di atas.
5. Jumlah nilai yang diperoleh pada essay kedua merupakan nilai tambah yang akan digabung dengan jumlah nilai rangkaian lomba Taxplore II 2011 lainnya (Lomba Cerdas Cermat).



TAXPLORE II-2011



Setelah sukses dengan acara Taxplore sebelumnya, kini Kelompok Studi Administrasi Fiskal (KOSTAF) FISIP UI kembali mengadakan acara tersebut dengan nama Taxplore II-2011. Tema kegiatan Taxplore II-2011 kali ini adalah “Indonesia yang Lebih Baik dengan Pajak” dengan tagline “Explore More to Aim The Better Taxation” yang ditujukan untuk seluruh civitas academica perguruan tinggi se-Jawa, Lampung, Bali dan masyarakat umum. Adapun maksud dan tujuan Taxplore II-2011 adalah untuk mensosialisasikan pajak, menguji pemahaman di bidang perpajakan serta mengajak mahasiswa/i dan masyarakan umum untuk berperan serta dalam mensosisalisasikan pajak.
Acara Taxplore II-2011 ini akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 8 Oktober 2011 pukul 07.00 - selesai. Bertempat di lingkungan FISIP UI, Depok, Jawa Barat.


Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
Muhtar 08988118433
Dimas 08567149790

Jangan lupa kunjungi selalu http://taxplore2011.blogspot.com dan twitter kami, @taxplore22011 untuk mendapatkan update terkini seputar Taxplore II-2011!

Catatan Kewirausahaan Indonesia

Salah satu permasalahan bangsa yang sulit dipecahka nadalah tingginya angka pengangguran yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Data BPS pada tahun 2010 menunjukkan ada 8.32 juta pengangguran atau setara dengan 7.14 persen dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 237.8 juta orang. Dengan jumlah pengangguran sebesarini, masyarakatIndonesia tidak bisa terus menerus memegang prinsip sebagai pencari kerja,tetapi harus mulai berubah menjadi pemberikerja,sehingga kewirausahaan merupakan cara tepat mengurangi pengangguran dan kemiskinan.


Jumlah wirausaha di Indonesia masih sangat sedikit bila dibandingkan negara-negara lain. Data BPS menyebutkan pengusaha di Indonesia hanya 0,24% dari jumlah penduduk. Padahal idealnya sebuah negara minimal harus memiliki pengusaha 2%.Sebagai perbandingan, AS memiliki pengusaha 12%, Singapura 7%, Cina 10%, India 10% dan negara G-20 rata-rata 5% (Kompas.com). Dalam kondisi sepertiini, pemerintah, swasta, dan masyarakat perlu bersinergi untuk mendorong tumbuhnya jiwa kewirausahaan di masyarakat.Cara-cara proaktif yang dapat ditempuh untuk mendorong laju kewirausahaan nasional di antaranya meningkatkan kemampuan masyarakat (capacity building)dalam rangka pemberdayaan masyarakat, menghubungkan sektor ekonomi rakyat dengan lembaga-lembaga perbankan agar mendapatkan pelayanankeuangan, dan pemberdayaan pemasaran dalam bentuk promosi produksi melalui even-even pameran baik di tingkat lokal, provinsi, nasional, maupun internasional.

Menurut Kartasasmita (1996), pemberdayaan masyarakat secara praktis merupakan upaya pengerahan sumber daya untuk mengembangkan potensi ekonomi rakyat akan berakibat meningkatkan produktivitas rakyat dan mampu secara partisipatif menghasilkan dan menumbuhkan nilai tambah ekonomis. Dalam pemberdayaan masyarakat, kemandirian merupakan suatu hal penting yang perlu diperhatikan sehingga meningkatkan capacity building menjadi langkah tepat untuk memandirikan masyarakat. Pemerintah bisa menjalin kerja sama dengan swasta atau daerah untuk menyelenggarakan pendidikan nonformal yang mendidik pencari kerja menjadi wirausaha yang memberikan berbagai ilmu kewirausahaan seperti keterampilan manajerial, teknis, kewirausahaan lokal, dan yang tak kalah penting sikap, mental/kepribadian, dan polapikir wirausaha.

Kebijakan dalam program permodalan juga harus dapat memikat masyarakat untuk membuka usaha. Skema pembiayaan yang lunak dan tanpa jaminan perlu dirancang dan disosialisasikan agar masyarakat mau mengembangkan usaha secara mandiri, kreatif, dan inovatif. Selain itu, kerja sama antara mahasiswa/pelajar, pelaku bisnis, dan pemerintah penting dibangun untuk melancarkan kegiatan promosi/pemasaran produk kewirausahaan. Masyarakat secara aktif perlu mencari tahu agenda even/ajang lokal, nasional, dan internasional yang dapat dimanfaatkan dalam pemasaran.Di sini, akses ke dunia maya perlu dipastikan lancar karena belakangan ini selain digunakan untuk mencari informasi juga digunakan sebagai media pemasaran dalamdunia bisnis.

Bygrave (2004) mengatakan wirausaha adalah pencipta kekayaan melalui inovasi, pusat pertumbuhan pekerjaan dan ekonomi, dan pembagian kekayaan yang bergantung pada kerja keras dan pengambilan risiko, sehingga wirausaha diharapkan dapat memanfaatkan berbagai kesempatan yang ada untuk memulai menjadi wirausaha. Moratorium pengiriman TKI yang saat ini akan dilakukan misalnya, dapat menjadi momentum untuk mengembangkan kewirausahaan. Jangan sampai Indonesia yang memiliki sumber daya alam melimpah terbelakang dalam dunia usaha karena sumber daya manusianya tidak mampu bersaing dengan pengusaha asing, apalagi dalam konteks globalisasi seperti sekarang.


Senin, 18 Juli 2011

Book Review: Love in the Time of Cholera


My rating: 5 of 5 stars


Love in the Time of Cholera adalah salah satu roman terpopuler yang ditulis oleh pemenang nobel sastra asal Kolombia, Gabriel García Márquez. Dalam Love in the Time of Cholera, kita di bawa pada suatu kisah hidup Florentino Ariza, lelaki yang rela berkorban demi cinta sejati dalam hidupnya, Fermina Daza.



Diceritakan, Florentino Ariza adalah anak haram hasil hubungan ibunya, Transito Ariza dengan seorang pengusaha terkenal. Meski di awal hidup Florentino sang ayah membiayai hidupnya, ia tetap tidak diakui sebagai anak sah (ini pula yang meyebabkan Florentino tidak memakai nama akhir ayahnya, melainkan nama belakang keluarga ibunya), sehingga ia tinggal dalam kesederhanaan bersama Transito Ariza ketika ayahnya wafat. Beruntung, ia memiliki paman yang teramat menyayanginya seperti anak sendiri, Leon XII. Pada cerita-cerita berikutnya, Florentino tidak akan menjadi apa-apa jika bukan jasa dari sang paman ini.



Hidup di desa yang terkena wabah kolera saat masa kolonial Spanyol, Florentino Ariza kecil adalah anak pemalu dan penyendiri. Maka, ketika atasan tempat ia bekerja sebagai kurir menmintanya untuk menyampaikan telegram ke rumah Fermina Daza, ia hanya bisa termenung menatapi mata indah milik Fermina Daza yang didambanya. Pada suatu kesempatan, akhirnya Florentino berani menyampaikan surat cintanya, yang kemudian bersambung menjadi sebuah jalinan cinta yang memabukkan yang hanya bisa diekspresikan lewat surat karena ayah Fermina Daza, Lorenzo Daza tidak akan meyetujui mereka.



Ketika apada akhirnya cinta sembunyi-sembunyi yang dirajut Fermina dan Florentina terendus Lorenzo, ia segera memboyong putri semata wayangnya tersebut ke rumah kerabatnya yang jauh dan kembali belasan tahun kemudian. Selama itu, Florentino menunggu dengan sabar. Namun, alangkah mengejutkan bahwa ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, Florentino harus menelan penolakan dari Fermina Daza yang sebenarnya juga masih mencintainya.



Fermina menjalankan hidupnya dan menikah karena terpaksa dengan Dr. Juvenal Urbino yang berasal dari keluarga terpandang. Mereka menikah dalam ketidakharmonisan rumah tangga selama setengah abad hingga akhirnya kematian Dr. Juvenal Urbino memisahkan mereka. Yang membuat roman ini megah adalah kisah kesetiaan Florentino Ariza yang lagi-lagi bersedia menunggu selama setengah abad tersebut demi menjalankan hidup dengan wanita terkasihnya. Meski kali ia menunggu dengan kegetiran yang amat sangat dalam, dan ia bukanlah tipe yang benar-benar bersih dari pengkhianatan. Ia melanggar janjinya sendiri untuk menjaga keperjakaannya selama menunggu Fermina Daza dan bermain api cinta semu dengan banya wanita. Namun, kematian Dr. Juvenal Urbino akhirnya membawa berkah bagi dirinya dan ia berhasil menghabiskan sisa hidupnya dengan Fermina Daza.



Dalam novel ini, latar kemiskinan dan penjajahan di kawasan Amerika Latin sangat kental terasa. Dengan lihai, Márquez meracik cerita para tokoh-tokohnya dengan berbagai jenis karakter, tidak ada tokoh yang benar-benar baik dan benar-benar jahat, semuanya persis seperti panggung kehidupan. Love in the Time of Cholre benar-benar sebuah roman yang menggugah dan tak akan bisa dilupakan.



Love in the Time of Cholera telah difilmkan dengan bitang utama Javier Bardem sebagai Florentino Ariza. Sayangnya, versi filmnya ini dinilai oleh banyak kritikus sebagai "film terburuk yang diangkat dari novel terindah di dunia...". Namun, setidaknya Shakira masih dinominasikan untuk Best Original Theme Song untuk film ini di ajang Golden Globe 2007.



View all my reviews



Rabu, 06 Juli 2011

Book Review: To Kill a Mockingbird


My rating: 5 of 5 stars


To Kill a Mockingbird adalah sebuah mahakarya Harper Lee yang telah diangkat ke layar lebar di tahun 1962. Saya sendiri pun mengetahui versi filmnya terlebih dahulu dibanding bukunya, dan ketika membaca novel ini tak heran mengapa filmnya diganjar Best Writing, Screenplay Based on Material from Another Medium di ajang Academy Awards 1963.

Novel ini ditulis dari sudut pandang seorang gadis kecil berumur 8 tahun bernama Scout Finch, putri Atticus Finch, pengacara terkemuka di kotanya. Dengan konflik isu rasial yang sangat kental di Amerika, Scout membawa kisah ini menjadi ringan dan penuh kepolosan. Pembaca akan merasakan bagaimana keluarga Finch yang berkulit putih secara nyata membela seorang pekerja rendahan berkulit hitam bernama Tom Robinson yang terjerat kasus hukum. Akibatnya, keluarga Finch harus menanggung kritik, ancaman, bahkan teror dari warga kulit putih lain yang ironisnya adalah orang-orang yang menghormati keluarga Finch sebelum kasus Tom muncul. Di sinilah kesabaran dan ketulusan keluarga Finch diuji, dan pembaca dapat merasakan dengan gamblang bagaimana situasi sosial yang penuh dengan diskriminasi saat itu di Amerika.

Pembaca juga akan menyelami carut-marut dunia hukum Amerika di masa rasialisme berlangsung, di mana para juri (The Juror) yang semuanya warga kulit putih berusaha mati-matian menjatuhkan terdakwa kulit hitam tanpa peduli bersalah atau tidaknya terdakwa kulit hitam tersebut. Atmosfer diskriminasi juga dengan cakap diciptakan oleh Harper Lee ketika ia menggunakan sapaan Sir untuk kulit putih dan Boy untuk kulit hitam (berapapun usianya) seperti yang memang benar-benar terjadi pada masa lalu.

Menggunakan keahliannya sebagai pengacara, Harper Lee sukses membawa alur kisah ini menjadi menyenangkan, bahkan drama persidangan di pengadilan dapat dilukiskannya dengan sangat jelas. Bagaimana bukti-bukti dan analisis dipaparkan, perdebatan dalam ruang sidang, dan emosi serta perasaan setiap tokoh yang terlibat dalam drama persidangan tersebut diatur dengan sedemikian logis dan nyata.

Di samping beberapa humor yang jenaka dan polos yang bertaburan dalam dialog tokoh-tokohnya, novel ini sarat akan nilai sosial, moral, bahkan religius yang dapat dipetik pembaca. Satu hal lain yang menarik adalah di akhir cerita, pembaca akan dapat menyimpulkan atri dari judul novel ini, To Kill a Mockingbird, lewat sebuah kalimat sederhana yang diucapkan Scout Finch.







Book Review: Pride and Prejudice


My rating: 4 of 5 stars


Jane Austen dikenal sebagai penulis roman-roman klasik khas dengan latar utama kehidupan Inggris yang ketat dengan norma sosial dan religius di abad 19. Salah satu karya terbaiknya adalah Pride and Prejudice, yang diklaim oleh banyak penikmat sastra sebagai kisah roman terpopuler sepanjang masa. Predikat ini memang tak salah, sebab ketika membaca Pride and Prejudice, kita dibawa ke dalam suatu kisah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari seperti nilai-nilai sosial sekaligus mempelajari beragam karakter manusia. Jane Austen sangat mahir dalam menggambarkan sifat-sifat manusia. Kesopanan, ketamakan, kepura-puraan, egoisme, atau kemunafikan, semua itu memang sifat-sifat yang mungkin kita jumpai pada ornag-orang di sekeliling kita. Pride and Prejudice pun mengandung banyak pesan moral berharga yang dapat dipetik para pembaca. Dengan alur yang cukup sederhana, Pride and Prejudice berhasil membuat banyak pembaca tidak melepaskan bukunya hingga lembar akhir.






Book Review: Toto-chan


My rating: 5 of 5 stars


Saya pertama kali membaca buku Totto-Chan ketika duduk di kelas VIII SMP. Dari awal, saya mengira bahwa cerita-cerita Totto-Chan ini hanyalah cerita biasa tentang anak kecil yang nakal namun cerdas dan lincah. Namun, sesampainya di lembar akhir buku ini, saya merasakan ada hal luar bisa di balik semua kisah anak-anak Totto-Chan, yang sebenarnya menceritakan masa anak-anak penulis buku ini, Tetsuko Kuroyanagi.

Dengan latar belakang Perang Dunia II (Perang Pasifik/Asia Timur Raya), Totto-Chan yang polos menjalani kehidupan di sekolahnya yang sama sekali unik dan berbeda dari sekolah-sekolah yang ada di Jepang pada saat itu. Sekolah itu bernama Tomoe Gakuen dan didirikan, dikelola, serta dipimpin oleh Kepala Sekolah Sosaku Kobayashi. Kobayashilah yang menjadi sumber inspirasi bagi Tetsuko Kuroyanagi untuk menerbitkan sekaligus mempersembahkan untuknya buku ini.

Kepala Sekolah Kobayashi adalah seorang pendidik sejati yang memiliki pengalaman mengajar luar biasa banyak dan telah melakukan studi banding ke Eropa, dan menerapkan beberapa hal positif dari apa yang dipelajarinya di sana dalam sistem penididikan Tomoe Gakuen. Ia berani mendobrak sistem dan ideologi pendidikan konvensional yang diterapkan saat itu, karena ia yakin sekolah adalah tempat untuk mencetak generasi penerus bangsa, yang butuh lebih dari sekedar pengajaran akademis.

Kepala Sekolah Kobayashi tidak ingin sekolah menjadi institusi yang otoriter, sebaliknya dengan penuh kasih sayang, ia sangat menghargai murid-muridnya sebagai manusia seutuhnya dengan keperluan aktualisasi diri. Ia meng-encourage murid-murid cacat, mengajarkan menghargai sesama manusia, dan memegang prinsip bahwa setiap orang dapat mengeluarakn pendapat dan bertindak dengan bebas namun bertanggng jawab. Semua pelajaran moral tersebut dituturkan dalam bagian-bagian kecil dan singkat sehingga pembaca tidak akan merasa bosan.

Di akhir cerita, pembaca akan mendapati betapa tragisnya nasib yang harus dialami sekolah Tomoe Gakuen. Namun, hingga saat ini para alumni sekolah ini senantiasa melaksanalkan reuni dan menjadi orang-orang sukses dengan budi pekerti luhur. Di Jepang, buku ini adalah buku pegangan wajib bagi guru-guru di sekolah.

Saya pun sangat merekomendasikan buku ini bagi stakeholders pendidikan Indonesia agar kita dapat melihat esensi dari pendidikan itu sendiri. Dengan penuh harapan, kita semua pasti bisa menciptakan sistem pendidikan yang lebih baik dari sekarang yang mengutamakan aspek kognitif saja dan terkesan mengesampingkan aspek moral/budi pekerti yang justru menjadi dasar pijakan bagi setiap manusia yang ingin sukses.