Rabu, 06 Juli 2011

Book Review: Toto-chan


My rating: 5 of 5 stars


Saya pertama kali membaca buku Totto-Chan ketika duduk di kelas VIII SMP. Dari awal, saya mengira bahwa cerita-cerita Totto-Chan ini hanyalah cerita biasa tentang anak kecil yang nakal namun cerdas dan lincah. Namun, sesampainya di lembar akhir buku ini, saya merasakan ada hal luar bisa di balik semua kisah anak-anak Totto-Chan, yang sebenarnya menceritakan masa anak-anak penulis buku ini, Tetsuko Kuroyanagi.

Dengan latar belakang Perang Dunia II (Perang Pasifik/Asia Timur Raya), Totto-Chan yang polos menjalani kehidupan di sekolahnya yang sama sekali unik dan berbeda dari sekolah-sekolah yang ada di Jepang pada saat itu. Sekolah itu bernama Tomoe Gakuen dan didirikan, dikelola, serta dipimpin oleh Kepala Sekolah Sosaku Kobayashi. Kobayashilah yang menjadi sumber inspirasi bagi Tetsuko Kuroyanagi untuk menerbitkan sekaligus mempersembahkan untuknya buku ini.

Kepala Sekolah Kobayashi adalah seorang pendidik sejati yang memiliki pengalaman mengajar luar biasa banyak dan telah melakukan studi banding ke Eropa, dan menerapkan beberapa hal positif dari apa yang dipelajarinya di sana dalam sistem penididikan Tomoe Gakuen. Ia berani mendobrak sistem dan ideologi pendidikan konvensional yang diterapkan saat itu, karena ia yakin sekolah adalah tempat untuk mencetak generasi penerus bangsa, yang butuh lebih dari sekedar pengajaran akademis.

Kepala Sekolah Kobayashi tidak ingin sekolah menjadi institusi yang otoriter, sebaliknya dengan penuh kasih sayang, ia sangat menghargai murid-muridnya sebagai manusia seutuhnya dengan keperluan aktualisasi diri. Ia meng-encourage murid-murid cacat, mengajarkan menghargai sesama manusia, dan memegang prinsip bahwa setiap orang dapat mengeluarakn pendapat dan bertindak dengan bebas namun bertanggng jawab. Semua pelajaran moral tersebut dituturkan dalam bagian-bagian kecil dan singkat sehingga pembaca tidak akan merasa bosan.

Di akhir cerita, pembaca akan mendapati betapa tragisnya nasib yang harus dialami sekolah Tomoe Gakuen. Namun, hingga saat ini para alumni sekolah ini senantiasa melaksanalkan reuni dan menjadi orang-orang sukses dengan budi pekerti luhur. Di Jepang, buku ini adalah buku pegangan wajib bagi guru-guru di sekolah.

Saya pun sangat merekomendasikan buku ini bagi stakeholders pendidikan Indonesia agar kita dapat melihat esensi dari pendidikan itu sendiri. Dengan penuh harapan, kita semua pasti bisa menciptakan sistem pendidikan yang lebih baik dari sekarang yang mengutamakan aspek kognitif saja dan terkesan mengesampingkan aspek moral/budi pekerti yang justru menjadi dasar pijakan bagi setiap manusia yang ingin sukses.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar