Wednesday, August 1, 2012

A Time to Kill: Seek the Truth with Our Hearts

Drama persidangan merupakan genre terfavorit saya. Genre ini menepis anggapan bahwa film yang berlatar minimalis kalah menarik di banding misalnya, film-film petualangan yang dipenuhi dengan beragam latar menakjubkan. Bagi saya, sebuah persidangan akan menjadi sangat menarik bila dalam kasus yang diperkarakan berkembang isu-isu yang dapat menembus batas ruang sidang itu sendiri. Selain itu, yang membuat drama persidangan menjadi menarik adalah banyaknya aspek yang dapat kita eksplorasi, seperti karakter orang-orang yang terlibat dalam sidang, bagaimana mereka menyusun strategi untuk memenangkan perkara, bagaimana kasus yang mereka hadapi memengaruhi kehidupan pribadi, bagaimana pemeriksaan saksi-saksi, ketegangan yang dihadirkan dalam ruang sidang, dan lain sebagainya. Jadi, menurut saya drama persidangan adalah salah satu genre film paling berbobot, meski sering dibuat dengan latar monoton.

Salah satu drama persidangan yang paling memorable bagi saya dalah A Time to Kill (1996). Film ini merupakan adaptasi novel dengan judul yang sama, buah pena John Grisham, seorang penulis yang juga merupakan pengacara profesional. Bagi saya, yang membuat A Time to Kill menarik adalah isu rasial Amerika yang dikembangkan dalam alur ceritanya. Setiap kasus hukum tentu diperkarakan dalam sebuah sidang demi mencari kebenaran dan keadilan, namun bagaimana bila kasus tersebut mengancam struktur sosial sebuah masyarakat? Di satu sisi pasti kita semua setuju bahwa siapapun yang melakukan tindak kejahatan berdasarkan peraturan yang berlaku perlu dijatuhi hukuman. Tetapi rupanya wajah hukum tidak seabsolut itu, ada sisi lain di mana hukum dapat ditegakkan, yaitu dengan menggunakan hati nurani para penegak keadilan. Premis seperti itulah yang dikisahkan dalam A Time to Kill.

Carl Lee Hailey (Samuel L. Jackson), seorang kulit hitam sangat terpukul ketika mengetahui gadis kecilnya, Tonya (Rae'Ven Larrymore Kelly) yang masih berusia 10 tahun diperkosa, dianiaya, dan menjadi korban percobaan pembunuhan oleh dua warga kulit putih rasis. Sebagai ayah, hatinya hancur berkeping-keping melihat anaknya sekarat dengan rahim rusak dan tubuh penuh darah. Perasaan marah luar biasa berkecamuk dalam diri Carl Lee dan berujung pada aksinya menembak dua pemerkosa Tonya hingga mereka tewas. Kini kasus hukum menjadi berubah haluan, menjadi kasus pemidanaan Carl Lee ke muka pengadilan. Kasus ini pun mulai mencuri perhatian media massa.

Dengan bermodalkan pengharapan simpati daripada upah besar, Carl Lee menyewa Jake Tyler Brigance (Matthew McConaughey) sebagai kuasa hukumnya. Sedari awal Jake mengetahui kasus pemerkosaan Tonya, ia langsung terbakar dalam kecamuk emosi, hatinya sebagai seorang ayah dari gadis kecil juga ikut merasakan penderitaan dan perasaan marah Carl Lee. Diperkuat dengan Ellen Roark (Sandra Bullock), seorang mahasiswi hukum yang jenius dan ambisius dan Harry Rex Vonner (Oliver Platt), pengacara spesialis perceraian sekaligus sahabat karib, Jake berusaha agar timnya ini mampu mengalahkan jaksa penuntut Rufus Buckley (Kevin Spacey) yang terkenal licik dan haus akan publisitas.

Dipimpin oleh hakim Omar Noose (Patrick McGoohan) yang sempat disuap oleh Rufus agar persidangan tetap dilakukan di Canton, tempat terjadinya perkara, persidangan demi persidangan pun dijalani Car Lee beserta tim kuasa hukumnya. Selama itu pula, kasus yang semakin menyedot perhatian massa ini menyulut datangnya kembali gelombang rasisme setelah beberapa waktu terpendam. Ku Klux Klan mulai ambil bagian dalam masalah ini dan meneror keluarga Jake yang dianggap berkhianat pada sesama kulit putih. Di satu titik, Jake mulai merasa kasus ini merenggut hidupnya, tenaganya, keluarganya, uangnya, waktunya, keselamatan keluarganya, dan terlalu berat serta membahayakan baginya. Jake benar-benar berada dalam posisi sulit. Ia bahkan sempat menyarankan Carl Lee untuk mengaku bersalah dan menerima hukuman penjara seumur hidup. Ia putus asa membela seorang negro yang jelas-jelas menjadi kaum marginal, yang barangkali hanya memiliki kesempatan menang satu banding satu juta dalam peradilan itu. Namun, dengan mengejutkan Carl Lee secara terus terang berkata bahwa alasannya menyewa Jake adalah justru karena Jake seorang kulit putih, ia dapat membuka mata hati para juri yang semuanya juga berkulit putih. Dengan memosisikan dirinya sebagai sesama kulit putihlah ia bisa mengubah pandangan orang-orang yang diskriminatif. Di sinilah titik bailk Jake. Ditambah lagi, guru sekaligus sahabatnya, Lucien Wilbanks (Donald Sutherland) selalu mengingatkannya bahwa ia tak bisa mundur begitu saja. Menjadi pengacara adalah pekerjaan yang terhormat, mencari keadilan bagi semua orang, dan itu harus diperjuangkan hingga tetes darah terakhir.

Terseok-seok setelah istrinya marah karena kasus ini begitu menyita perhatian, Jake tetap melanjutkan pembelaannya terhadap Carl Lee. Dibumbui dengan romantisme yang terjalin antara dirinya dan Roark, Jake mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk membuat pernyataan akhir yang sangat menentukan dalam persidangan. Pada akhirnya, semangatnya sebagai seorang ayahlah yang mendorong Jake kembali optimis.

Sutradara Joel Schumacher (Phone Booth, The Number 23) sangat sukses merancang penutup film ini, di mana Jake bermonolog ketika mengutarakan pandangan akhirnya dalam ruang sidang. Semua orang dalam ruang itu tertegun dan tegugah dengan setiap kata yang keluar dari mulut Jake, dan membuat saya merinding meresapi kalimat demi kalimatnya. McConaughey sangat baik membawakan perannya sebagai pengacara yang lelah, pasrah, sekaligus optimis. Ia berbicara dengan mata berkaca-kaca, suara begetar, helaan napas panjang yang dapat membuat setiap orang terenyak. Ada beberapa kailmat yang benar-benar membuatnya indah untuk dikanang bagi saya:

"What is it in us that seeks the truth? Is it our minds? Or is it our hearts? I set out to prove a black man could receive a fair trial in the South, that we're all equal in the eyes of the law. That's not the truth. Because the eyes of the law are human eyes, yours, and mine and until we can see each other as equals, justice is never going to be evenhanded. It will remain nothing more than a reflection of our own prejudices. So until that day, we have a duty under God to seek the truth not with our eyes and not with our minds where fear and hate turn commonality into prejudice, but with our hearts where we don't know better..."

A time to Kill mengingatkan saya bahwa hukum itu perlu dicari, karena ia terkadang tersembunyi, jauh dari kemampuan kita sebagai manusia untuk melihatnya. Oleh karena itu kebenaran dan keadilan tidak bisa ditegakkan dengan akal pikiran dan segunung peraturan hukum semata. Hati nurani manusia perlu digunakan untuk mencapai hukum yang setara bagi semua orang, and when that law is settled, then we result nothing but a wondeful world. Melihat Hollywood yang telah sering mengangkat legal thriller ke dalam film, saya sangat mengharapkan Indonesia juga bisa melakukan hal yang sama, mengingat hukum di negara kita ini sering kali masih carut marut. Membela yang salah, menghukum yang kecil, membebaskan yang berbuat tindak kejahatan besar. Jadi, mungkin ini saatnya industri film Indonesia mulai merintis upaya untuk membantu suksesnya sistem hukum negeri ini. It's brilliant, 4 out of 5 stars for me. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:


Director: Jonathan Demme
Stars: Tom Hanks, Denzel Washington, Roberta Maxwell
Genre: Drama
Runtime: 125 minutes

Tanpa diduga, para atasan mengetahui seksualitas Andrew dan AIDS yang sedang dideritanya. Mereka pun merancang promosi jabatan sebagai jebakan untuk memecatnya dari kantor. Andrew yang tak terima perlakuan diskriminatif ini segera memutuskan untuk menuntut kantornya atas dasar diskriminasi...

A Few Good Men (1992)

Director: Rob Reiner
Stars: Tom Cruise, Jack Nicholson, Demi Moore
Genre: Drama
Runtime: 138 minutes

No comments:

Post a Comment