Tuesday, August 20, 2013

Flipped: A Chicken Is Born

Peter: Why do you have to spoil everything? We have fun, don't we? I taught you to fly and to fight. What more could there be?
Wendy: There is so much more.
Peter: What? What else is there?
Wendy: I don't know. I guess it becomes clearer when you grow up. 
Peter: Well, I will not grow up. You cannot make me!

Dengan wajah serius, Peter menolak mentah-mentah ajakan Wendy untuk hidup sebagai anak-anak biasa yang akan tumbuh besar suatu saat nanti. Kalimat terakhir yang diucapkan Peter seperti dalam petikan dialog Peter Pan (2003) di atas semakin mempertegas pendirian kokoh karakter Peter bahwa ia tidak ingin tumbuh dewasa. Keinginan Peter tersebut bahkan dapat dikatakan lebih dari sekedar pendirian, melainkan idealisme dan pemahaman yang mengakar dalam diri bocah yang dikenal hidup di Neverland itu bahwa menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Ketika melihat kenyataan bahwa dunia manusia dewasa tidak seindah manisnya hidup sebagai anak-anak, Peter memilih hidup abadi sebagai manusia hijau. Sebagai seseorang yang baru saja melewati fase transisi dari remaja menjadi dewasa, saya juga percaya bahwa tidak ada satu orang pun yang dapat memaksa orang lain untuk menjadi dewasa, karena sekali lagi: menjadi dewasa adalah pilihan. Menjadi dewasa memang bukan sesuatu yang mudah dilakukan, butuh proses agar diri kita benar-benar menjadi manusia dewasa seutuhnya yang sadar akan tanggung jawab dan konsekuensi dalam setiap tindakan. Bagi sebagian orang, proses pendewasaan terkadang menjadi suatu kenangan tersendiri yang sulit dilupakan, apalagi jika kenangan itu adalah kenangan hangat yang sedap jika diingat berulang kali, seperti yang dialami oleh Bryce dan Juli dalam Flipped (2010).

Secara komersial Flipped merupakan film yang kurang beruntung, sebab saat rilis perdana di Amerika Serikat publik tidak merespon dengan baik. Pihak studio Warner Bros. bahkan terus menyusutkan jumlah bioskop dan memindahkan lokasi penayangan untuk memasarkan film coming of age ini. Namun, mandeknya pretasi Flipped secara ekonomi bukan berarti film ini sangat buruk secara kualitas. Bagi sebagian orang (termasuk saya), Flipped adalah sebuah cult, sebuah mutiara terbuang di tengah tumpukan film-film berdana besar dengan teknologi efek khusus yang ternyata tidak selamanya bisa menjadi sebuah film yang dapat dikenang.

Flipped menceritakan romansa muda dua bocah yang tinggal berseberangan, Bryce Loski (Callan McAuliffe) dan Julianna “Juli” Baker (Madeline Carroll). Well, sebenarnya mereka tidak hanya sekedar tinggal berseberangan karena pada kenyataannya keluarga mereka juga memiliki nilai-nilai berseberangan satu sama lain. Keluarga Loski adalah keluarga yang mapan secara sosial dan ekonomi namun sayangnya sangat miskin dalam hal kerendahan dan ketulusan hati. Di sisi lain, keluarga Baker adalah keluarga sederhana yang penuh dengan kehangatan dan perjuangan hidup. Sejak pertama kali bertemu dengan Juli, Bryce sudah merasa jengkel terhadap sikap sok dewasa dan periang Juli. Meskipun sebenarnya Juli hanya menunjukkan sifat aslinya, namun Bryce tetap tidak senang terhadapnya. Saat keluarga Loski baru pindah, Bryce dan ayahnya Steven (James Edward) sudah saling mengerti untuk tidak dekat-dekat dengan gadis kecil yang saat itu dengan semangat menggebu berusaha membantu mengangkat barang-barang ke dalam rumah. Sementara itu, tidak peduli bagaimana Bryce bersikap dingin dan apatis terhadapnya, Juli adalah seorang gadis yang pantang menyerah. Di sekolah, sejak kelas dua SD Juli dikenal sebagai “istri” Bryce berkat antusiasme dan obsesinya terhadap pemuda yang menurutnya memiliki pandangan mata yang sangat menawan itu.

Tetapi, fase remaja merupakan hal yang tidak terhindarkan dalam hidup setiap orang, termasuk Bryce dan Juli. Kini memasuki usia pubertas di SMP, hidup dua remaja bertetangga itu tidak lagi sesederhana saat kelas dua SD. Di tengah ketertarikan Juli kepada Bryce yang tampaknya tidak akan pernah berakhir, timbul berbagai variabel baru dalam hidup mereka: lingkaran pertemanan dengan segala persaingan di dalamnya, hubungan cinta yang kian berkembang semakin rumit, dan tentu saja keluarga! Ya, keluarga tampaknya menjadi isu sensitif dalam hubungan Bryce dan Juli karena dua keluarga mereka memang tidak akur, kecuali bagi Chet (John Mahoney) – kakek Bryce yang bersahabat dengan Juli karena ia menemukan kemiripan gadis cerdas itu dengan istrinya yang baru wafat. Semua perubahan kehidupan remaja tersebut turut mengubah peta hubungan pribadi Bryce dan Juli serta keluarga mereka. Pada fase inilah kisah dua remaja ini flipped. Berangkat dari filosofi yang diperkenalkan ayahnya Richard (Aidan Quinn) dan Chet, Juli mulai mempertanyakan perasaannya kepada Bryce. Bryce sendiri pada akhirnya mendapatkan dirinya berada pada suatu persimpangan jalan, di mana ia harus memilih menjadi dewasa dan berupaya mengejar ketertinggalannya selama ini, berusaha menggapai sesuatu yang selama ini dianggapnya tidak berharga.

Dari segi cerita, naskah yang diadaptasi Rob Reiner (Stand by Me, The Bucket List) dan Andrew Scheinman (Little Big League) dari novel remaja karangan Wendelin Van Draanen ini hanya mengandalkan cerita sederhana tentang cinta monyet dua remaja tanggung di awal era 1960-an. Ditambah lagi, dengan label PG (Parental Guidance) otomatis penonton tidak akan menemukan kata-kata kotor, kekerasan yang membangkitkan adrenalin, dan lelucon jorok yang biasa mengocok perut secara eksplisit. Sepintas saya sempat berpikir, siapa yang akan menonton film seperti ini mengingat derasnya arus film-film heroik serta komedi kasar dan vulgar yang cenderung sukses di pasaran? Tetapi kemudian saya sadar, justru di sinilah letak keunikan Flipped, sebuah film yang tidak biasa. 

Dalam Flipped, penonton disuguhkan dua karakter utama Bryce dan Juli yang pada awalnya terlihat memiliki hubungan tidak seimbang. Di antara keduanya, Juli digambarkan sebagai sosok yang lebih berani, agresif, tidak ingin terlihat rapuh, dan dewasa. Tanpa malu-malu Juli mengejar dan menunjukkan perasaannya pada Bryce sedari awal mereka berjumpa hingga beranjak remaja. Di sisi lain, Bryce adalah seorang anak yang sangat hati-hati dalam mengungkapkan perasaannya. Lihatlah bagaimana Bryce dengan susah payah berusaha setengah mati menghindari Juli dengan berbagai cara. Selanjutnya cerita mengalir layaknya nostalgia, di mana gadis yang dulu cerewet dan menyebalkan berubah menjadi pujaan hati, pemuda yang sangat dikagumi ternyata tidak lain adalah seorang brengsek yang tidak pantas mendapatkan cinta, serta bayangan bagaimana seandainya kita tidak bertindak bodoh di masa lalu. Tampak seperti sebuah kisah klasik yang lazim dialami oleh setiap orang bukan? Namun di balik kesederhanaan ceritanya, Flipped menyimpan sebuah kekuatan besar yang mungkin akan dirasakan oleh setiap penontonnya, yaitu bagaimana peristiwa-peristiwa yang diceritakan mampu memanggil kembali kenangan masa lalu. Flipped mampu membawa penontonnya merasakan kembali kelucuan, keindahan, dan kehangatan cinta pertama. Seirama dengan tagline "you never forget your first love" yang diusung film berdurasi 90 menit ini, Flipped memang berhasil membuat penonton ingin kembali menjadi “remaja ingusan” lagi.

Selain mampu membangkitkan kenangan cinta pertama pada penonton, kekuatan naskah Flipped bagi saya juga terletak pada bagaimana Bryce menemukan titik balik untuk memperbaiki hubungannya dengan Juli. Oh, bukan! Titik itu akan lebih tepat disebut sebagai titik balik kehidupan Bryce, karena selain berhasil memperbaiki hubungannya dengan Juli, Bryce juga mampu keluar dari sempitnya cangkang di mana ia hidup selama ini. Cangkang tersebut telah mengungkung cara berpikir Bryce menjadi sempit, selalu ragu dan rapuh dalam mengekspresikan pendapat dan keinginannya. Cangkang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah sifat sang ayah, Steven yang selalu membawanya ke arah yang sesat. Ingatkah Anda pada bagaimana Steven dengan nyinyir menghina Richard yang senang melukis pemandangan? Saat itu dari jendela rumahnya Steven berkata, ”Oh, there he is! The bricklayer who thinks he’s a painter.” Dan masihkah Anda ingat pada scene saat Steven menghina Daniel (Kevin Weisman), adik Richard yang memiliki keterbelakangan dengan berkata, ”Either way, it’s not our fault that their family has some chromosomal abnormality.” Masih dengan pelaku yang sama, ingatlah kembali bagaimana Steven menghina Mark (Michael Bolten) dan Matt (Shane Harper), dua kakak Juli yang memilih menunda kuliah demi mencari karier di dunia musik. Saat itu, Steven berkata pada istrinya Patsy (Rebecca De Mornay), “Don’t be so naive, Patsy. Do you know how expensive it is to record a demo? They’re probably stealing hubcaps, for chrissake.

Bagi saya, sangat menarik melihat bagaimana pada awalnya semua pandangan Steven yang merendahkan keluarga Baker ditelan mentah-mentah oleh Bryce. Putar kembali ingatan Anda ketika Steven menyuruh Bryce menyingkirkan telur-telur pemberian Juli dari meja makan mereka. Bagi Bryce, daripada harus mengembalikan dan berhadapan secara langsung dengan Juli seperti saran bodoh ayahnya, Bryce memilih mematuhi perintah Steven dengan caranya sendiri: menutupi secara total “kebobrokan sosial” keluarganya (baca: Steven) dengan membuang semua telur itu sembunyi-sembunyi. Tidak ada white lie yang manis di dengar, permintaan maaf dengan senyum tulus, apalagi kejujuran yang memang akan terasa getir. Tidak, tidak ada satu pun di antara hal itu yang dilakukan Bryce karena ia lebih memilih menutupi semuanya, S-E-M-U-A-N-Y-A. Pada akhirnya, hal itulah yang membuat Juli berpendapat bahwa Bryce adalah seorang pengecut. Tetapi, benarkah demikian?

Well, bersyukurlah Bryce karena masih ada sedikit kebaikan tersisa pada keluarga Loski yang terwujud dalam bentuk si tua Chet. Kakek kesepian itu memiliki kebijaksanaan dalam memandang segala hal. Chet memberikan banyak petuah pada Bryce mulai dari kejujuran, kerendahan hati, dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana Chet memberikan pencerahan pada Bryce lewat kata-katanya yang sangat manis. Ada dua pelajaran dari Chet yang sangat menyentuh bagi saya, yaitu tentang kejujuran dan melihat sesuatu lebih dekat. Pada pelajaran pertama, Chet mengungkapkan keresahan atas perlakuan Bryce pada Juli melalui kata-kata yang sulit dilupakan. Dengan raut kecewa tergambar di wajahnya, Chet bertutur, “Sometimes a little discomfort in the beginning, can save a lot of pain down the road”. Pada pelajaran kedua, sambil memandang sisa batang pohon sycamore kesayangan Juli yang telah ditebang Chet berkata pada Bryce, “She’s quite a girl. Some of us get dipped in flat, some in satin, some in gloss. But every once in a while you find someone who’s iridescent. And when  you do, nothing will ever compare.” Semua kebijaksanaan Chet itu memang merupakan panacea bagi jiwa Bryce yang terkontaminasi kedengkian dari ayahnya. Ibarat anak ayam, Bryce akhirnya keluar dari cangkang yang melingkupinya selama ini. If Juli knows how Bryce changes this way, I’m sure she’d say, “A chicken is born!” 

Penokohan yang unik juga menjadi kekuatan Flipped. Ide untuk menampilkan karakter utama remaja yang berada dalam tahap pencarian jati diri bisa jadi merupakan hal biasa yang diangkat menjadi film (in fact that’s the main character ingredients for coming of age movies, right?), namun gagasan untuk menampilkan bagaimana keluarga memiliki andil signifikan dalam pembentukan karakter seseorang merupakan suatu hal yang membuat Flipped bukanlah  film omong kosong. Fakta bahwa tidak ada keluarga yang sempurna dalam segala hal menjadi landasan yang bagus untuk mengangkat kisah pencarian jati diri remaja dengan orang tua dengan “cacat sosial” ke layar lebar. Keunikan penokohan Flipped juga terletak pada karakter Chet yang merupakan sumber dari segala kebajikan dalam keluarga Loski, bukan dari kepala keluarga inti mereka, Steven. Padahal sebelum keluarga Loski pindah ke lingkungan tinggal Juli, Chet hanyalah seorang kakek yang tinggal terpisah dari anak, menantu, dan cucunya. Hal itu berarti tanpa kehadiran Chet keluarga Loski akan selamanya tertutup awan kelabu bernama kesombongan.

Mengenai dua karakter utama film ini, yaitu Bryce dan Juli, keunikan penokohan mereka terletak pada perbedaan cara pandang keduanya terhadap satu sama lain. Di paruh pertama film, Bryce digambarkan sebagai sosok yang sedikit egois dengan hanya memikirkan bagaimana dirinya dapat lolos dari jeratan Juli. Bryce tidak pernah sekalipun memenuhi permintaan Juli untuk memanjat pohon sycamore dan menatap pemandangan indah dari dahannya, tidak berada di samping Juli untuk membelanya saat pohon besar itu akan ditebang, tidak pula mau mengenal Juli sedikit saja lebih dekat bahkan ketika  ia pertama mengetahui bahwa gadis itu masuk halaman depan sebuah koran. Dengan sudut pandang demikian, sangat tepat bila karakter Bryce diperkenalkan hanya berdasarkan pemikiran-pemikirannya saja. 

Di sisi lain, Juli digambarkan sebagai gadis periang yang mendambakan ciuman pertamanya sejak usia sangat dini (terlalu dini?). Juli yakin Bryce adalah pria yang dikirim Tuhan untuk ditakdirkan menjadi cinta pertamanya, maka ia berusaha sekuat tenaga mendapatkan Bryce betapapun dinginnya reaksi sang objek ciuman itu. Juli juga sangat perhatian pada sesamanya, bahkan seolah ia merasa bertanggung jawab untuk memberikan kebaikan pada orang-orang disekitarnya (coba ingat kembali mengapa Juli memberikan telur-telur gratis pada keluarga Loski dan mengapa ia menganggap pohon sycamore dekat rumahnya sangat berharga). Sistem kerja, berpikir, dan hidup Juli yang penuh dengan impian, imajinasi, dan perasaan membuat karakter Juli sangat tepat diperkenalkan melalui hal-hal kecil seperti hobi, perilaku unik, dan ide-ide gilanya. 

Keunikan penokohan Bryce dan Juli menimbulkan daya tarik lain dari Flipped, yaitu format bercerita yang menggunakan sudut pandang dua remaja tersebut secara bergantian. Uniknya, Flipped tidak patuh pada pakem perfilman di mana biasanya sudut pandang pertama cenderung bersifat lebih bias dari kenyataan dan disanggah dengan sudut pandang kedua yang umumnya lebih mendekati kebenaran. Dalam Flipped, sudut pandang pertama diceritakan oleh Bryce yang karena karakternya cenderung bersifat egois dan tidak memiliki ilusi-ilusi tertentu menjadi lebih objektif dan realistis. Sedangkan sudut pandang kedua yang berasal dari Juli justru penuh dengan berbagai warna emosi dan angan-angan yang menjadikannya lebih subjektif.

Dari segi penyutradaan, Rob Reiner sangat pantas diberikan acungan jempol atas karyanya ini. Seperti karya pentingnya yang terdahulu, Stand By Me (1986), Reiner sekali lagi menunjukkan tajinya di area coming of age. Sama-sama berlatar waktu di akhir 1950 hingga awal 1960-an, Reiner mengulang sukses Stand By Me (secara kualitas) berkat kemampuannya memahami generasi era tersebut. Peralihan dekade 1950 ke 1960 merupakan akhir dari generasi remaja polos yang masih mematuhi nilai-nilai keluarga, sosial, dan agama dengan cukup ketat. Memasuki akhir 1960 hingga seterusnya, kita tahu bahwa masyarakat Amerika mengalami suatu transformasi sosial di berbagai aspek kehidupan yang membentuk suatu identitas budaya baru. Di dunia politik muncul perdebatan mengenai perang Vietnam, secara sosial muncul generasi baby boomers yang dengan bebas mengekspresikan pendapat, gaya hidup, dan keinginan mereka secara luas, dan secara religius agama tidak lagi dipandang sebagai suatu wadah efektif bagi kehidupan pribadi dan sosial. 

Karakter Bryce dan Juli sangat cocok dengan generasi polos tersebut. Pribadi dua remaja itu digambarkan sangat dekat dengan keluarga mereka masing-masing, tidak menentang perintah orang tua (bukan berarti tidak ada perbedaan pendapat), dan jauh dari pornografi dan hal-hal berbau seks (ingat ketika Bryce menganggap jijik tudingan kakaknya Lynetta (Cody Horn) padanya tentang majalah Playboy?). Reiner tahu betul bahwa pada masa itu semangat dan optimisme romantik sangat kental pada kehidupan masyarakat Amerika, mulai dari platonic love hingga true romantic love. Satu hal lagi yang menunjukkan Reiner adalah sutradara yang perhatian pada detail, yaitu susunan musik latar yang dimainkan di sepanjang film diatur berdasarkan tahun rilisnya (that’s a wow when I found out).

Di departemen akting, semua aktor dan aktris menunjukkan penampilan prima. Dalam keluarga Loski, Callan McAuliffe berhasil menyuntikkan pesona menawan di balik sifat awalnya yang penuh kegamangan dan kemudian menunjukkan kesungguhan, ketulusan hati, serta introspeksi diri saat ia mulai flipped. James Edward sebagai Steven juga mampu membuat karakternya terlihat super-brengsek hingga membuat penonton mengerutkan kening, menyunggingkan senyum sinis, dan berkata “what the hell he was saying?” Rebecca de Mornay dan Cody Horn yang masing-masing berperan sebagai ibu dan kakak Bryce secara efektif berhasil memainkan peran “katalis semu” dalam keluarga mereka, sebab meski keduanya sama-sama memiliki perbedaan pendapat dengan Steven namun tidak satupun di antara keduanya yang berhasil menggugah Bryce untuk mengubah pandangannya terhadap keluarga Baker. Terakhir, tentu saja keluarga Loski tidak akan berarti tanpa Chet yang diperankan dengan sangat baik oleh John Mahoney. Tanpa perlu banyak penjelasan, petuah-petuah dari Chet yang saya sebutkan sebelumnya disampaikan oleh Mahoney dengan rasa kasih sayang yang tergambar jelas. Meski terkesan sangat kolot dan menggurui (hey, it’s 60s by the way) namun kata-kata manis yang terkadang bermakna konotatif membuat setiap perkataan Chet tidak terlalu pretensius.

Sementara itu, di keluarga Baker tentu saja Madeline Carroll sebagai Juli menjadi bintang yang bersinar terang. Carroll mempu memancarkan sifat-sifat kedewasaan pada gadis muda yang diperankannya. Carroll berhasil membuat Juli sebagai seorang gadis yang sadar diri ketika ia menemukan bahwa pemuda impiannya ternyata tidak sesempurna yang ia pikir. Gerak tubuh Carroll sangat pas ketika mencerminkan Juli yang berusaha mematikan perasaannya kepada Bryce. Ada satu scene favorit saya yang menggambarkan kecanggungan dan perasaan Juli yang mulai berubah, yaitu ketika ia sedang menyiram rumput halaman rumahnya dan Byce datang menghampiri. Saat itu, sambil memegang selang air Carroll dengan agak canggung dan malas menanggapi permintaan maaf Bryce dan kemudian menyatakan keherannya mengapa Bryce tidak berkata jujur padanya. Scene itu kemudian ditutup dengan Juli memperlihatkan pandangan “just go away at once!” saat menatap tanah membelakangi Bryce. Selain Juli, pemeran pendukung di keluarga Baker yaitu Aidan Quinn Penelope Ann Miller yang masing-masing berperan sebagai Richard dan Trina, ayah dan ibu Juli mampu memperlihatkan gambaran keluarga Baker secara lebih jelas, bahwa keluarga mereka bukanlah keluarga sederhana tetapi sempurna seperti yang terlihat dari luar. Dalam sebuah scene emosional, yaitu adegan di ruang makan keluarga Baker ketika Juli menyampaikan gagasannya untuk memulai proyek pembenahan halaman rumah, Richard dan Trina beradu pendapat dengan diiringi kesunyian anak-anaknya. Quinn dengan berapi-api sangat sukses menciptakan emosi dan mimik tersinggung di wajah Richard saat Trina mengatakan bahwa suaminya itu lebih memilih Daniel daripada anak-anaknya sendiri. Sebelum Richard menggebrak meja yang membuat Juli berteriak, saya merinding mendengar sepasang suami-istri yang terlihat sangat akur saling membentak satu sama lain. Well done!

Simply put, bagi saya pribadi Flipped bagaikan menu spesial dari restoran favorit yang akan membuat pengunjung ingin datang untuk kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya. Tidak banyak film dengan karakter utama anak-anak dapat memberikan insights yang begitu berharga yang tidak hanya ditujukan pada anak-anak saja, tetapi juga orang dewasa yang terkadang sulit menerima pelajaran dari orang lain, apalagi melalui film dengan karakter utama anak-anak. Bagi Anda yang memiliki buah hati, Flipped merupakan film yang sangat tepat ditonton pada akhir pekan bersama seluruh keluarga dan nikmatilah kehangatan yang sulit dilepaskan seusainya. This is real good, 4.5 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:


Y Tu Mamá También (2001)

Director: Alfonso Cuarón
Stars: Maribel Verdú, Gael García Bernal, Diego Luna
Genre: Drama
Runtime: 106 minutes


Dazed and Confused (1993)

Director: Richard Linklater
Stars: Jason London, Rory Cochrane, Wiley Wiggins
Genre: Comedy, Drama
Runtime: 102 minutes