Tuesday, July 31, 2012

Big: Too Big to Be True

Inilah karya yang berhasil membuat saya terobsesi terhadap dunia perfilman. Saya ingat, ketika itu saya umur 8 tahun, hari itu hari libur natal, dan semua anak kecil tahu, bahwa natal berarti akan ada serbuan film bagus di televisi, dan malam itu sebuah stasiun swasta menayangkan Big (1988). Film ini sangat sukses mengaduk-aduk hati saya. Penuh canda tawa di awal dan sepanjang film, romansa di tengahnya, dan menghadirkan nuansa haru biru pada penutupnya. It was a brilliant watching experience. Sejak saat itu, saya tertarik untuk terus mengeksplorasi dunia film.

Jika ada yang bertanya apa menjadikan Big istimewa bagi saya, saya akan menjawab bahwa setelah menonton film ini untuk pertama kalinya, saya tahu bahwa menjadi orang dewasa bukanlah hal yang menyenangkan. Saat itu saya pikir mungkin lebih baik kalau saya tetap menjadi anak-anak, tidak perlu bersaing dengan orang-orang licik (well, we have to admit there are bunch of spoiled brat though hahaha), tidak takut akan kesepian karena ada orang tua, keluarga, dan teman sepermainan yang menemani, tidak perlu pusing memikirkan hal-hal berat seperti uang, kekuasaan, atau bahkan cinta. All we have to do as a child is play, have fun, play, and have fun again! Tapi pada akhirnya, kita semua tahu bahwa tidak ada yang tidak berubah bukan? Di dunia ini satu-satunya hal yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Setiap orang akan tumbuh dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua, hingga akhirnya bertemu kematian. That's a natural process, we can do nothing to change that.

Ketika rilis tahun 1988, Big menjadi hit besar dan sukses di pasaran, meraup US$151,668,774 pada pemutarannya di seluruh dunia. Raupan dolar itu menempatkan film arahan sutradara Penny Marshall (Awakenings, Riding in Cars with Boys) ini pada urutan kedua dalam Box Office Opening Weekend. Tak hanya itu, dari segi kritik, film ini mendapat respon yang cukup positif. Pada ajang Academy Awards 1989, Big dinominasikan dalam dua kategori, Best Actor in a Leading Role untuk Tom Hanks dan Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen untuk Gary Ross dan Anne Spielberg.

***

Joshua "Josh" Baskin (David Moscow, Tom Hanks) adalah bocah 13 tahun yang sedang tumbuh menjadi remaja. Seperti anak-anak lain, ia ingin memiliki kekasih, menjadi hebat dalam segala hal, berbuat mesum, dan mencoba hal-hal yang baru. Meski begitu, sifat kekanak-kanakkan masih terlihat jelas dalam dirinya. Ia masih suka bermain video game dan melalaikan tugas-tugasnya, masih takut mendekati anak gadis, serta berbuat jahil bersama teman baiknya, Billy Kopecki (Jared Rushton). Tetapi dalam proses ini ia menemukan dirinya berada dalam posisi sulit, ia pikir menjadi anak kecil adalah suatu hal yang tak menguntungkan. Bahkan untuk naik roller coaster di sebuah festival malam pun ia masih tak diizinkan karena belum cukup tinggi.

Sedih dan kecewa dengan keterbatasan yang dimilikinya sebagai anak-anak, Josh mendatangi sebuah mesin permainan ajaib Zoltar Speaks dan mengucapkan permohonan yang selama ini didambakannya: menjadi pria dewasa. Tanpa disadari, permainan itu menjadi awal petualangan menakjubkan yang takkan dilupakan seumur hidupnya. Permohonan Josh terwujud dan kini ia harus merasakan manis getir menjadi orang dewasa. Pertengkaran dua orang dewasa, tindak kriminal, bisnis, pekerjaan, uang, cinta menjadi keseharian baru baginya.

Meski awalnya ia merasa kesepian dan tak tahu berbuat apa, tampaknya Dewi Fortuna selalu ada di samping Josh. Ia melamar pekerjaan di sebuah perusahaan mainan (kids stuff for sure), diterima, bahkan ia menduduki jabatan tinggi di kantornya yang membuat saingannya, Paul Davenport (John Heard) kesal setengah mati. Pemilik perusahaan itu, MacMillan (Robert Loggia) kagum betapa cemerlang dan luar biasanya ide-ide dan imajinasi Josh dalam menemukan mainan-mainan baru. Tak hanya itu, ia juga bertemu dengan Susan (Elizabeth Perkins), wanita yang membuatnya "jatuh hati" in his kid way. Sebaliknya, Susan memiliki perasaan yang begitu besar untuk Josh dan seringkali ia merasa sedih karena status hubungan mereka yang tak jelas. Namun, kini ia tahu bahwa tak satupun dari hal itu membuatnya senang menjadi dewasa. Sebagai anak-anak, tentu Josh merindukan kasih sayang keluarga, bersekolah, serta bermain dan berbuat jahil dengan teman-teman sebayanya. Ketika Susan mengetahui fakta bahwa Josh adalah bocah 13 tahun, dengan lapang dada ia melepas kepergian Josh, merelakannya kembali ke kehidupan anak-anaknya. Ia sadar bahwa Josh too big too be true, sempurna sekaligus aneh sebagai seorang pria dewasa. Senyuman Susan pada penutup film bagi saya menandakan bahwa ia akan tetap mencintai Josh, kali ini sebagai seorang anak.

Acungan jempol perlu saya berikan kepada Gary Ross dan Anne Spielberg yang telah menulis naskah film dengan alur yang begitu indah ini. Premis yang mereka ciptakan sangat cerdas, mengingatkan kita bahwa a kid is a kid, no matter how big his/her physical size, bahwa proses lebih penting ketimbang hasil. Seseorang yang senantiasa berproses dalam kehidupan akan mengerti bahwa menjadi dewasa memerlukan kesiapan, jika tidak kita hanya akan menjadi orang yang terjebak dalam tubuh besar tetapi masih bersifat anak-anak, dan sebagai orang dewasa, tidak ada yang lebih memalukan dari hal tersebut. Oleh karena itu, ungkapan be careful what you wish for sepertinya memang penting bagi kita semua.

Salut tentu saya utarakan pula pada Tom Hanks yang dengan sangat brilian membawakan karakter Josh dewasa namun fragile. Salah satu adegan favorit saya adalah pada saat Josh untuk pertama kalinya menginap sendiri di sebuah kamar sewaan kumuh. Dalam adegan tersebut, Hanks sangat piawai memainkan jiwa anak-anak ketika ketakutan menghadapi hal baru. Terakhir, saya harus mengucapkan terima kasih kepada Howard Shore atas scoring-nya yang sangat indah di sepanjang film, yang memperkuat jiwa cerita ini.

Meski begitu, saya rasa ada beberapa bagian di film ini yang dapat memperlemah karakter Josh, di antaranya pada saat Josh berciuman di bibir dengan Susan. Saya rasa jarang sekali ada anak usia 13 tahun yang tahu dan berani melakukan ciuman bibir dengan orang dewasa. Pada bagian lain, Josh juga diceritakan meyiapkan sebuah presentasi bisnis yang menurut saya terlalu serius, sementara biasanya anak-anak mudah terdistraksi ketika ditugasi beban berat. Namun, hal itu tidak membuat Big cacat di mata saya. Bagi saya menonton film berdurasi 104 menit ini seperti sedang membaca cerita dongeng. Indah dan menarik, tapi kita harus sadar bahwa itu sebuah alat agar kita mampu memetik hikmah di balik keindahannya tersebut. Big merupakan salah satu film paling memorable yang pernah saya tonton, kisahnya atak lekang oleh waktu. It's 5 out of 5 stars for me. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:


Director: Sydney Pollack
Stars: Dustin Hoffman, Jessica Lange, Teri Garr
Genre: Comedy, Drama, Romance
Runtime: 116 minutes

Michael bukan sembarang aktor. Ia pernah dipuji oleh New York Critics atas penampilannya. Karena itulah, Michael tidak pernah mau menerima arahan dari sutradara yang ia anggap tidak tahu cara berakting. Bagi Michael, lebih baik tidak mendapatkan pekerjaan daripada harus mencederai keindahan dan kesempurnaan seni peran yang sangat ia cintai. Tetapi bukan Michael Dorsey namanya jika ia menyerah. Dengan tekad bulat, ia berani menembus batas yang mungkin tidak setiap orang mau melakukannya...

The Terminal (2004)

Director: Steven Spielberg
Stars: Tom Hanks, Catherine Zeta-Jones, Stanley Tucci
Genre: Comedy, Drama, Romance
Runtime: 128 minutes

Friday, July 27, 2012

My Left Foot: String Up Your Life and Be Success!

"All of us who work in the world of film acting are still anxious when we're faced with real life drama, the drum rolls so to speak. There are no retakes tonight, there are no rehearsals to prepare that singular moment, when the envelope is opened. The name inside will certainly change one actor's life, as it changed mine last year. As a messenger, pure, and movie lover, I stand here tonight to tell you five nominees, the best news of all. You have moved me, moved The Academy, moved the people. Your performances took us somewhere we've never been, somewhere strange and familiar, and we are changed forever 'bout that glimpse, that moment, that intimacy, and that surrender all of the edge in celluloid." 
 
Kata-kata tersebut menjadi pengantar bagi Jodie Foster (The Accused, Silence of the Lambs) untuk mengumumkan nominasi sekaligus menasbihkan Daniel Day-Lewis sebagai best actor in a leading role dalam My Left Foot (1989) di ajang Academy Awards 1990. Malam itu menjadi malam indah bagi seluruh pemain dan kru My Left Foot, sebab selain mendapatkan oscar untuk kategori aktor terbaik, film ini juga memenangkan kategori aktris pembantu terbaik (best actress in a suporting role) untuk Brenda Fricker.

My Left Foot merupakan film drama biografi yang mengangkat kehidupan Christy Brown berdasarkan novel karangannya sendiri dengan judul yang sama. Bagi Anda yang belum tahu, Christy Brown adalah penulis, pelukis, dan pujangga Irlandia yang menjadi spesial sebab semua bakatnya itu ia kembangkan di tengah kondisi fisiknya yang terbatas akibat cerebral palsy yang dideritanya sejak lahir. Jujur, sebelum menonton film ini saya mengira film ini bercerita seputar penderitaan seseorang yang cacat dan kemudian menjadi sukses, sebuah premis yang telah cukup banyak dibuat dalam pita seluloid. Namun, perkiraan itu ternyata tidak sepenuhnya benar setelah saya selesai menonton. Film ini tidak menjual kepedihan orang cacat semata, namun lebih dari itu, film ini juga berbicara mengenai rasa haus akan cinta romantik dan perjuangan mendapatkan martabat sebagai manusia seutuhnya. Penonton seakan diajak untuk menyelami kehidupan manusia yang cacat secara fisik namun tak memiliki kekurangan apa pun dari segi mental, ia tetap manusia yang penuh perasaan, memiliki nafsu, dan ingin dihargai orang lain.

Christy Brown (Day-Lewis) dilahirkan dengan komplikasi masalah kesehatan yang menyebabkan disfungsi pada bagian tubuh kanannya. Keluarga Brown merupakan keluarga miskin yang memiliki cukup banyak anak. Paddy Brown (Ray McAnally), sang kepala keluarga hanyalah pekerja rendahan yang gemar mabuk dan agak tempramental. Ia mengabaikan kehadiran Christy pada awal kelahirannya karena malu memiliki anak cacat. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya ia juga memiliki kasih sayang pada Christy yang tak berani ia ungkapkan, bahkan hingga ia menemui ajalnya. Sebaliknya, Bridget (Fricket) istrinya, dengan sabar merawat dan membesarkan Christy, serta mendukung semua bakat dan minatnya, terutama melukis.

Seiring waktu berlalu, setiap manusia yang normal secara emosional dan psikologis tentu mengalami jatuh cinta atau sekadar nafsu birahi yang diakibatkan hormon-hormon pubertas. Hal itu pun juga dialami Christy. Namun, kondisi fisiknya yang berbeda membuat Christy senantiasa harus menanggung sakit hati akibat ditolak beberapa wanita. Kisah cinta Christy ini sendiri menjadi sebuah isu sensitif bagi ibunya yang terlalu menyayangi Christy, ia tak ingin anaknya menjadi bulan-bulanan para gadis tak tahu diri yang dapat membuat putranya terluka. Namun, tentu tak ada yang dapat menahan perasaan seseorang bukan? Penolakan demi penolakan para gadis terhadapnya membuat Christy berubah menjadi seperti ayahnya yang gemar minum-minuman keras. Ia tak dapat mengontrol emosinya. Ia kesal, marah, merasa dunia tak adil pada dirinya. Hanya kasih sayang, semangat, dan motivasi dari sang ibulah akhirnya Christy dapat bangkit dari keterpurukannya dan menuliskan riwayat hidupnya menjadi sebuah buku fenomenal dan membuatnya terkenal.

Film ini berhasil mengecoh saya dalam beberapa hal. Pertama, tak ada cerita mengenai penganiayaan (bullying) terhadap Christy yang berarti. Sebaliknya, anak-anak di lingkungan sekitar rumahnya kerap mengajak Christy bermain, bahkan ia tidak pernah dianggap sebagai anak bawang. Saat beranjak dewasa pun, Christy dihormati teman dan saudara-saudaranya. Kedua, Paddy sebagai ayah Christy ternyata memiliki semacam vulnerability tersendiri saat menghadapi Christy. Ia tidak pernah memukul, berteriak, atau menghina anak cacatnya. Sejatinya, ia berada posisi yang sukar. Ia menunjukkan ketidaksukaannya dengan cara "elegan": mengabaikan keberadaan Christy, sebuah hal yang sangat sulit dilakukan bagi seorang ayah. Terakhir, dalam film ini ternyata Christy bukanlah orang yang sempurna dalam segala hal. Terkadang ia tidak dapat menahan emosinya, egois, dan bahkan gemar mengucapkan kata-kata kotor.

Daniel Day-Lewis sangat sangat pantas mmenerima penghargaan atas performanya sebagai Christy. Saya tak dapat membayangkan betapa lama ia melatih kaki kirinya sampai dapat digunakan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Bagi saya sepertinya tak terkira rasa sakit yang harus dialaminya ketika ia menggunakan ibu jari dan telunjuk kaki kiri, punggung, dan (maaf) bokongnya untuk menjiwai keterbatasan fisik Christy. Pun dalam hal suara, Day-Lewis dengan meyakinkan membawakan karakter yang tidak dapat berbicara dengan jelas, hampir selalu menggumam, berdengung, serta bibir dan kepala yang tak bisa tegak. Salut juga saya sampaikan kepada Fricket. Sebagai ibu yang mecintai anaknya, bagaimanapun kondisinya, terlalu sayang hingga selalu cemas ketika putranya dekat dengan wanita. Ia takut anaknya yang sudah menderita harus mengetahui dan merasakan kejamnya dunia.

Secara keseluruhan, Jim Sheridan (In America, The Boxer) sebagai sutradara sukses membuat My Left Foot menjadi film yang tak biasa, tak membosankan, dan menggugah hati. Film ini sendiri berhasil menanamkan cakrawala baru bagi saya: bahwa setiap momen dalam kehidupan sesungguhnya akan merubah jalan hidup keseluruhan, hanya kemauan dan semangat pantang menyerah yang dapat merangakai momen-momen tersebut menjadi sebuah keberhasilan, seperti halnya hidup Christy Brown. It's 3.5 out of 5 stars for me. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:

A Beautiful Mind (2001)

Director: Ron Howard
Stars: Russell Crowe, Ed Harris, Jennifer Connelly
Genre: Drama, Biography
Runtime: 135 minutes

The Aviator (2004)

Director: Martin Scorsese
Stars: Leonardo DiCaprio, Cate Blanchett, Kate Beckinsale
Genre: Drama, Biography
Runtime: 170 minutes

Orphan: Another Evil Kid Story

Film thriller dengan tema anak-anak jahat sepertinya masih menjadi salah satu produksi favorit Hollywood. Sejak kesuksesan trilogi The Omen, anak-anak iblis atau anak-anak dengan gangguan kesehatan mental berkeliaran di layar perak. Orphan (2009) termasuk salah satu film yang mengangkat tema ini. Sayangnya, film yang juga diproduksi oleh Appian Way Production, rumah produksi milik Leonardo DiCaprio ini menurut saya hanyalah psychological thriller lainnya yang tidak mampu membuat kesegaran baru dalam genre ini.

Dikisahkan, pasangan suami-istri John (Peter Sarsgaard) dan Kate Coleman (Vera Farmiga) berencana mengadopsi seorang anak perempuan yang lebih besar untuk menemani anak perempuan mereka yang masih kecil, Max (Aryana Engineer). Max merupakan penderita tuna rungu sejak lahir, ia sangat menginginkan kehadiran saudara perempuan untuk menemaninya. Setelah mendatangi sebuah panti asuhan, John dan Kate jatuh hati melihat kedewasaan dan kesempurnaan Esther (Isabelle Fuhrman). Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengadopsi Esther tanpa ragu, bahkan setelah mendengar penjelasan dari kepala panti asuhan bahwa Esther telah mengalami berbagai hal yang cukup berat untuk anak seusianya. Keluarga yang mengadopsi Esther sebelumnya tewas dalam musibah kebakaran, dan Esther adalah satu-satunya korban selamat.

Kedatangan anggota keluarga baru Coleman rupanya tidak disambut begitu baik oleh semua orang. Daniel (Jimmy Bennett), anak pertama John dan Kate sama sekali tidak suka pada Esther yang dianggapnya sangat aneh, mulai dari cara berpakaian, berbicara, makan, bergaul, dan lain-lain. Tetapi hal serupa tidak terjadi dengan Max, sebab ia memang merindukan adanya saudara perempuan. Dalam waktu singkat, mereka menjalin hubungan yang sangat erat. Keganjilan demi keganjilan mulai berdatangan menghampiri keluarga Coleman, dan satu-satunya yang menyadari bahwa Esther terlibat di baliknya hanyalah Kate. Namun, tak ada yang mempercayainya, justru keluarga Coleman lainnya menuduh Kate telah kembali menjadi pecandu minuman alkohol dan menjadi stress. Memang, tokoh Kate disini digambarkan sebagai seorang ibu yang mengidap depresi akibat kematian seorang anak dalam kandungannya. Ia kemudian menjatuhkan hidupnya pada minuman keras. Namun itu semua telah berakhir, ia telah membuat tekad hidup baru bersama keluarganya saat ia memutuskan untuk mengadopsi anak.


Jalan cerita selanjutnya tentu Anda sudah bisa menebak, orang-orang di sekitar keluarga Coleman satu-persatu menjumpai nasib tragis, dan Kate yang berjuang sendirian untuk membuktikan bahwa Esther adalah dalang di balik semua itu justru terpuruk dan tak dipercaya. Hingga datang sebuah bukti yang mengungkap identitas sebenarnya Esther, alur cerita ini bisa dibilang membosankan dan penonton dapat menebak apa yang akan terjadi setelahnya. Sepanjang jalan cerita, Orphan seperti berusaha mati-matian menunjukkan bahwa ia bukanlah film thriller biasa. Beberapa kali, film besutan sutradara Jaume Collet-Serra (House of Wax, Unknown) ini mengecoh penonton dalam adegan-adegan yang lumrah dijumpai di film horror pasaran, seperti saat pintu kulkas ditutup, tidak ada siapapun dengan wajah pucat mengagetkan atau pada saat adegan dalam ruang gelap, dan tokoh yang sedang diburu berbalik menghadap ke belakang namun tak menemukan adanya penjahat yang menunggu untuk menghabisinya. Namun, usaha tersebut sepertinya sama besar dengan kegagalan Orphan untuk menyajikan cerita baru yang kreatif. Film ini sangat mirip dengan Joshua (2007), di mana Farmiga juga mengambil bagian di dalamnya, bahkan untuk peran yang sama persis (ibu yang mengalami depresi). Selain itu, poster dua film ini juga hampir sama, menampilkan wajah anak jahatnya dalam ukuran besar. Bedanya, kejahatan Joshua lebih bersifat psikis, sementara Esther benar-benar freak, ia mampu menghabisi nyawa orang dengan tangannya.


Penampilan Farmiga dalam film ini menurut saya tidak sebaik dalam Joshua. Farmiga tampak seperti seorang jagoan sejati dalam film-film laga tanpa menyadari bahwa karakter Kate sesungguhnya masih memiliki sisa-sisa depresi di dalam palung jiwanya. Performa medioker menurut saya juga dibawakan Sarsgaard, bahkan saya agak sedikit terganggu dengan gaya bicaranya yang terlalu santai dan intonasi suara yang datar di saat tensi sedang menegang. Fuhrman menjadi bintang dalam film ini, ia cukup baik menempatkan dirinya sebagai gadis cilik dengan mimik kaku dan tenang namun sewaktu-waktu dapat meledakkan teriakan yang penuh tekanan.

Bagi Anda yang belum menonton Orphan tetapi telah menonton beberapa psychological thriller sejenis sebelumnya, jangan mengharapkan Anda mendapatkan sensasi menonton "wow" atau ketegangan yang memicu adrenalin, sebab Anda pasti dapat menebak jalan ceritanya. This is just another evil kid story, no more no less. It's 2 out of 5 stars for me. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:


Director: George Ratliff
Stars: Sam Rockwell, Vera Farmiga, Jacob Kogan
Genre: Drama, Horror, Thriller
Runtime: 106 minutes

Joshua Cairn (Jakob Kogan), seorang anak aneh yang ingin menyingkirkan semua keluarganya, termasuk ayah dan ibunya yang sebenarnya sangat mencintai dirinya...


Director: Richard Donner
Stars: Gregory Peck, Lee Remick, Harvey Stephens
Genre: Horror, Mystery
Runtime: 111 minutes

Damien adalah anak angkat Robert Thorn (Gregory Peck), seorang duta besar Amerika untuk Italia dan istrinya Katherine (Lee Remick). Katherine sendiri tidak mengetahui bahwa Damien bukanlah anak kandungnya, sebab setelah melahirkan ternyata sang bayi langsung meninggal (stillbirth), tetapi kemudian atas tawaran seorang pendeta rumah sakit (Tommy Duggan), Robert mengadopsi bayi laki-laki yatim piatu yang lahir pada hari itu, 6 Juni dan jam yang sama dengan kelahiran anak kandungnya, pukul 6 pagi...

Tuesday, July 24, 2012

Book Review: The Road

My rating: 3 of 5 stars

Tak berawal dan tak pula berakhir, hanya kisah perjalanan seorang ayah dan bocah lelakinya di bumi hangus nan luas. Tak ada penjelasan ihwal bencana yang terjadi, tak pula dikisahkan bagaimana perjalanan itu berakhir, hanya semangat pantang menyerah yang berbekas setelah membaca buku ini. Tak ada nama orang, tak ada nama wilayah, hanya ada sepasang ayah-anak ini dan gerombolan manusia aneh, liar, dan kanibal lainnya yang saling menghindar satu sama lain. Tak ada bab, tak ada pembabakan, hanya ada untaian kalimat yang dijalin menjadi potongan-potongan paragraf pendek yang penuh dengan deskripsi latar. Demikianlah pengamatan saya terhadap The Road, karya penulis ternama Cormac McCarthy yang rilis tahun 2006. Buku ini diadaptasi ke layar lebar dengan judul yang sama pada tahun 2009, dibintangi Viggo Mortensen, Charlize Theron, dan Guy Pierce.

The Road merupakan novel post-apocalyptic yang mengisahkan perjalanan seorang ayah dan anak laki-lakinya yang masih kecil di belantara Amerika yang telah dibumihanguskan. Dalam novel yang meraih penghargaan Pulitzer Prize 2007 ini, seperti telah saya tulis di atas, tak dijelaskan begaimana dan mengapa Amerika dalam keadaan demikian. McCarthy seperti ingin menggali sisi psikologis manusia bila suatu hari nanti dunia ini mendekati akhir masa, di mana populasi manusia (dan mungkin hewan dan tumbuhan) telah menurun drastis akibat bencana, yang tersisa hanya beberapa kelompok kecil dan mereka saling berjuang melawan satu sama lain demi bertahan hidup. Dikisahkan, sang ayah sekarat, si anak pesakitan, tetapi keduanya tak mengenal lelah mencari sisa-sisa peradaban manusia yang mungkin masih ada. Mereka berjalan kaki melintasi ladang-ladang rusak, rumah tak berpenghuni, bukit, dan hutan-hutan yang telah dilalap api demi mencapai wilayah pesisir pantai. Mengapa pantai? Lagi-lagi McCarthy tak memberi penjelasan mengenai hal ini, ia seolah ingin mengisahkan bahwa dalam keadaan tak menentu atau terdesak, manusia tidak dapat menentukan arah dan tujuan hidupnya dengan pasti. Begitu pun dalam The Road, karakter sang ayah tak dapat memperkirakan apa yang akan mereka dapat ketika mereka mencapai wilayah pantai nanti, mungkin mereka hanya akan menemukan hal-hal yang sama dengan yang telah mereka alami di sepanjang perjalanan: lansekap yang telah hangus, orang-orang kanibal, dan mayat-mayat bergelimpangan di jalan dan sungai.

Perjalanan ayah dan anak ini sama sekali tidak bisa dibilang mudah karena mereka menghadapi berbagai ancaman, seperti musim dingin yang menggigit sementara persediaan makanan dan pakaian sangat terbatas, ditambah dengan ancaman pencurian perbekalan atau manusia kanibal yang semakin banyak jumlahnya dan bergentayangan di jalan-jalan. Suasana yang dihadirkan McCarthy begitu kelam, gelap, dan mencekam. Sering ayah dan anak ini digambarkan berpelukan erat untuk menghangatkan tubuh satu sama lain atau untuk menenangkan jiwa-jiwa mereka yang sangat lemah digilas rasa takut. Ketika akhirnya mereka tiba di wilayah pesisir, hanya kekecewaan yang menyambut, tetapi mereka tetap meneruskan perjalan mereka entah ke mana arahnya.

Membaca The Road bagi saya seperti sedang menelusuri jalan (the road) itu sendiri, sangat panjang, kadang berliku, tak tahu apa yang menghadang di depan hingga kita benar-benar mencapai titik depan itu, dan tentu saja, melelahkan. Tetapi McCarthy tidak merancang novel ini menjadi kisah cengeng yang biasa ditemui. Seperti telah saya sebut di atas, McCarthy justru membuat kisah ini menjadi indah dengan bekas-bekas semangat yang dapat dirasakan oleh pembaca. Ada yang punya komentar?

Saturday, July 21, 2012

Unite Against Gun Misusing

First of all, let me send my thoughts and prayers for the victim of Colorado mass shooting. May God help them through it all and hope the police could arrest the culprit as soon as possible. Frankly saying, I didn’t know what to say when I first learned a mass shooting occurred in a movie in Aurora, Colorado. I thought it’s just ridiculous, I mean what James Holmes –a man who suspected to be the culprit had in his mind when he shot dozens innocent people. We all just so tired with this kind of people, evil who exist and haunted the peace in the world. Why they do it to us? Are we can’t even feel safe in public places now?

Even though this tragedy happened in USA (and I’m an Indonesian), I feel so angry when this terrorism happened for another countless time. This is all about human’s life. We’ve had enough with guns misusing. I think this is the right time for us to limit the ownership of private guns and make a more conscientious law and regulations over gun trade. We can’t leave over some armed-psychopaths hanging around in the streets, we don’t want our family, friends, kids, or neighbors go outside and then got shot just like a deer in the forest.

All I want to say is if we care and if we’re a true human being (the one and only creature gifted mind), just stop using your gun to solve whatever your problem. And if we take a closer look, we can’t deny that this tragedy was happened because a more macro field, which is state also uses gun to get what it wants. Everlasting Middle East conflict just a simple instance. So let’s come together as human being, as citizen of the world to make a better place.

Saturday, July 14, 2012

Book Review: The Yearling

My rating: 3 of 5 stars

Bangsa Amerika dikenal sangat bangga dengan leluhur mereka (setidaknya begitulah kesan yang saya dapat setelah menonton beberapa film dokumenter sejarah). Ya, jika Anda bertanya pada mereka tentang hal ini, sedikit banyak Anda akan memperoleh jawaban bahwa leluhur mereka yang berasal dari Eropa telah membentuk karakter masayarakat modern Amerika sekarang yang bersifat kerja keras, pantang menyerah, pemberani, berbeda, rajin, dan sedikit pemberontak. Bagi saya pribadi, bangsa Amerika memang patut berbangga dengan karakter dan latar belakang sejarah mereka. Bayangkan, setelah sekian lama merasa terbuang di negeri-negeri feodal Eropa, segelintir orang berani mengarungi luasnya samudera dan datang ke daratan antah berantah yang sama sekali asing bagi masyarakat Eropa yang beradab. Tanah Amerika yang masih penuh dengan belantara, hewan liar, dan sekelompok penduduk pribumi Indian tidak lantas membuat mereka gentar untuk membangun sebuah peradaban dari awal, dari titik nol. Hasilnya tidak sia-sia, lihatlah negara adidaya yang sudah sangat kita kenal sekarang, Amerika Serikat (meski belakangan, negara ini terseok-seok menghadapi badai krisis ekonomi). Kehidupan penduduk awal dan pra-adidaya Amerika telah sering diangkat menjadi tema musik, drama, film, termasuk novel. Salah satu novel yang menggugah pengetahuan akan kehidupan tersebut adalah The Yearling.

The Yearling merupakan salah satu karya paling terkenal dari Marjorie Kinnan Rawlings yang terbit pada tahun 1938 dan dianugerahi Pulitzer Prize 1939. Rawlings memang dikenal sebagai penulis yang banyak mengangkat tema kehidupan desa dalam karya-karyanya. Jujur saja, sebelum saya memulai membaca isi novel The Yearling dan melihat sinopsis di belakang bukunya, saya langsung menebak bahwa Rawlings pastilah penduduk asli (native) pedesaan Amerika, tetapi saya salah besar. Rawlings sendiri merupakan wanita yang lahir dan dibesarkan di kota. Hanya melalui pengalaman dan pendekatannya dengan penduduk desa selama tinggal di kebun jeruk keluarganya, ia dapat menggambarkan kebiasaan masyarakat desa Amerika dengan luar biasa detail, untuk ukuran orang kota, dan terlebih lagi untuk ukuran seorang wanita. Karya Rawlings ini diangkat ke layar lebar pada tahun 1946 dengan judul yang sama, dibintangi Gregory Peck (To Kill a Mockingbird, The Omen) dan memenangkan 2 Oscar.

The Yearling bercerita tentang seorang bocah laki-laki (dalam bayangan saya tidak lebih dari 13 tahun) bernama Jody yang merupakan anak satu-satunya dan sangat disayangi oleh sepasang petani berpendidikan rendah bernama Ezra Forrester dan Ory (biasa dipanggil Pa dan Ma Forrester). Keluarga ini tinggal di daerah pedesaan Florida pada akhir tahun 1800-an. Sebelumnya, keluarga Forrester tinggal di kota, namun Ezra memutuskan untuk pindah dari kota dan memilih untuk membeli tanah luas tetapi gersang (tidak terlalu subur) demi mencari ketenangan hidup. Maka mulailah mereka hidup di lahan luas mereka itu dan mencukupi kebutuhan hidup dengan bertani dan beternak. Mereka bekerja keras setiap hari mengurus pertanian dan peternakan, hidup sangat sederhana, menghemat segala sesuatu, dan berprinsip untuk tidak membuang apapun selama masih bisa dimanfaatkan. Hewan liar dan cuaca tidak ramah ibarat bagian tak terpisahkan dalam hidup mereka.

Ada satu rahasia kunci keluarga Forrester. Sebenarnya, Jody bukanlah anak pertama dari pasangan ini, sebab jauh sebelum Jody lahir, Ezra dan Ory sering mengalami kenyataan pahit anak mereka meninggal sebelum tumbuh besar. Pengalaman ini ternyata berpengaruh pada cara Ezra dan Ory membesarkan Jody. Salah satu hal yang paling menarik di sini adalah di sepanjang cerita, pembaca akan diperlihatkan bagaimana cara Ezra dan Ory menyayangi anak semata wayangnya dengan cara yang sangat berbeda. Terkadang, pembaca mungkin akan tertawa dengan lucunya perlakuan Ezra atau Ory terhadap Jody, tapi di lain kesempatan pembaca mungkin akan merasa marah, kesal, atau bahkan menangis.

Sebagai anak tunggal yang tinggal di pedesaan, Jody merasa sangat kesepian. Tidak ada saudara kandung, ibunya tidak memperbolehkannya memelihara binatang, dan hanya memiliki satu teman sebaya yang cacat, sungguh mengenaskan, dan akhirnya meninggal dunia. Dalam kondisi ini, satu-satunya teman (selain teman cacatnya itu) yang paling dekat dengannya adalah ayahnya sendiri, Ezra. Jody selalu ingin mengikuti ke mana saja ayahnya pergi dan apa saja yang ayahnya lakukan, singkatnya Ezra menjadi sosok panutan bagi Jody. Mereka kerap melalui hari bersama, bahu-membahu menyelesaikan pekerjaan bertani, maupun berburu. Kesepian Jody berakhir ketika ia akhirnya memiliki hewan peliharaan berupa anak rusa jantan yang ia beri nama Flag. Jody dan Flag sama-sama tumbuh menjadi sepasang sahabat yang tak terpisahkan hingga suatu saat Jody dihadapkan pada sebuah peristiwa (yang melibatkan Flag) yang membuatnya untuk hidup dan bersikap dewasa.

Rawlings bagi saya adalah salah satu penulis yang memiliki kemampuan menyajikan pengideraan yang sangat lengkap dan detail dalam tulisannya. Pembaca seakan terbawa secara geografis maupun emosi ke dalam lokasi (setting) dan diri tokoh dalam cerita. Rawlings dapat dengan sempurna mendeskripsikan pemandangan alam, penampilan orang, cara kerja suatu benda, perilaku bianatang, dan lain-lainnya seakan kita melihatnya sendiri. Begitu juga dengan aroma makanan, kotoran hewan, harumnya bunga yang mengundang indera penciuman pembaca, rasa makanan yang mungkin akan membuat pembaca menyecap lidah, bunyi-bunyian yang sangat terasa dekat dengan telinga, serta hangatnya mantel wol seperti benar-benar dikenakan oleh pembaca. Jadi, ketika membaca novel ini kelima indera pembaca saya jamin akan sibuk menyerap informasi dan gambaran yang dipaparkan Rawlings.

Satu hal lagi yang saya salutkan dari Rawlings adalah sudut pandangnya ternyata luas sekali. Ia menceritakan kehidupan bocah desa laki-laki (saya ulangi laki-laki, bukan perempuan seperti jenis kelamin yang dimilikinya) dan hubungannya dengan kedua orangtua dan orang-orang di sekitarnya. Pasti tidak mudah membuat atau bahkan sekadar membayangkan kebiasaan dan perasaan lawan jenis kita secara menyeluruh dan detail bukan? Tetapi yang menakjubkan, Rawling berhasil melakukan hal tersebut.

Membaca The Yearling bagi saya merupakan pengalaman yang tak bisa dilupakan. Ketika sampai pada kalimat terakhir novel ini dan menutupnya, saya merasa seperti baru saja diajak keliling dalam sebuah tur, ya tur kehidupan seorang bocah yang pada akhirnya memetik banyak pelajaran dari kehidupan desanya. Ada yang punya komentar?

Wednesday, July 11, 2012

Book Review: Sashenka

My rating: 5 of 5 stars

Apa yang ada dibenak Anda ketika mendengar kata revolusi? Politik, perjuangan, pertumpahan darah, kudeta, kekuasaan? Mungkin itulah sebagian kata-kata yang terlintas dalam pikiran kita. Namun, jika Anda pernah membaca Sashenka, fiksi sejarah buah pena sejarawan berbakat Simon Montefiore (dikenal juga dengan nama lengkap Simon Sebag Montefiore untuk buku-buku nonfiksinya), mungkin Anda akan menambahkan kata cinta, intrik, dan pengorbanan dalam daftar makna revolusi tadi. Saya percaya, di balik semua peristiwa sejarah, ada kisah-kisah menarik yang tersimpan secara rapi, bahkan mungkin agak bersifat pribadi. Salah satunya, kisah Sashenka, seorang pejuang Bolshevik Rusia yang ditulis oleh Montefiore ini.

Ditulis dengan memadukan unsur kreatif pembuatan novel dan penelitian historiografi, Montefiore dengan cerdas menyajikan lembar demi lembar perjalanan hidup Sashenka. Novel ini dibagi menjadi tiga bagian. Pertama adalah kisah Sashenka yang berlatar St. Petersburg tahun 1916. Sashenka adalah putri pasangan pebisnis militer berdarah Yahudi, Samuil Zeitlin, dengan seorang wanita desa yang kemudian menjadi pesolek aristokrat, Ariadna. Pernikahan Zeitlin dan Ariadna terasa hambar dan hampir tidak ada cinta di dalamnya. Zeitlin sibuk menjadi penjilat keluarga Tsar. Memang, pada masa kekaisaran di Rusia, Yahudi menduduki strata sosial yang kurang menguntungkan, terbuang, dan tercela. Hanya mereka yang dianggap "bermanfaat" oleh Tsar saja yang dapat hidup sejahtera. Sementara itu, Ariadna memilih untuk menjadi kucing-kucing peliharaan bangsawan dan kerabat Tsar, termasuk Grigori Rasputin yang tampil sebagai cameo dalam novel ini. Hidup Ariadna hanya berkutat seputar kegiatan sosialita malam dan pemuasan nafsu para bangsawan semata, ia sama sekali tidak menyayangi Sashenka dan hanya menumpang hidup dan status sosial pada Zeitlin.

Ditengah keluarga tidak harmonis itu, Sashenka menjelma menjadi seorang gadis menawan, cerdas, dan memiliki hati yang jauh lebih bersih ketimbang kedua orang tuanya. Itu semua berkat jasa pengasuhnya, Lala, seorang wanita mandiri dari Inggris yang bernama asli Audrey Lewis. Montefiore menceritakan hubungan Sashenka dengan pengasuhnya ini sangat emosional, bahkan Lala dikatakan sebagai "ibu sejati" bagi Sashenka. Sifat Sashenka yang berbeda dari orang tuanya ini dijadikan kesempatan bagi Mendel Barmakid, yang tak lain adalah pamannya atau adik dari Ariadna, untuk dijadikan penjuang Bolshevik dan mendukung gerakan subversif untuk menggencarkan revolusi Rusia. Setelah mendapatkan berbagai bekal ilmu dan sedikit kemampuan fisik, Sashenka secara resmi menjadi kamerad Bolshevik dengan nama sandi Rubah Salju. Di tengah perjuangannya sebagai Bolshevik, ia ditugasi menjadi agen ganda untuk kepolisian Tsar dan terlibat affair dengan seorang polisi, Kapten Sagan.

Pada bagian kedua yang berlatar Moskow tahun 1939, diceritakan Sashenka telah hidup secara mapan sebagai seorang istri dari Vanya Palitsyn, anggota NKVD (polisi rahasia Uni Soviet pada era Stalin). Pada masa ini, Vanya dan Sashenka berhasil lolos dari masa-masa Great Terror, yang merupakan politik pembersihan partai komunis yang dilakukan Stalin. Vanya sendiri merupakan agen NKVD yang cakap dan disenangi Stalin, sedangkan Sashenka sukses menarik simpati sebagai wanita teladan Soviet dan membuat Stalin memiliki ketertarikan ke-bapak-an pada dirinya. Sashenka dan Vanya memiliki dua orang anak yang sangat mereka sayangi. Namun, akibat sebuah perselingkuhan Sashenka dengan seorang penulis amburadul bernama Benya Golden, seluruh hidup keluarga itu berubah 360 derajat. Secara dilematis dan tragis, keluarga itu tercerai berai dan hanya waktu yang dapat mempersatukan mereka kembali.

Pada bagian ketiga yang berlatar Kaukasus, Moskow, dan London pada tahun 1994, diceritakan Katinka Vinsky, seorang sejarawan jenius yang baru saja lulus, mendapatkan pekerjaan pertamanya yang unik dan menantang, namun penuh risiko. Ia ditugasi untuk melacak silsilah keluarga seoarang wanita kaya bernama Roza yang telah terpisah dari keluarga kandungnya. Sampai sini, Anda harus membaca sendiri bagaimana kelanjutan ceritanya, karena pada bagian inilah semuanya akan bermuara (dan bagian ini pula yang menjadi favorit saya).

Ketika membaca Sashenka bagian pertama, pembaca akan diajak mengenal dan merasakan secara mendetail bagaimana kehidupan bangsawan pada masa Tsar di Rusia. Montefiore secara apik menggambarkan para aristokrat Rusia yang sebagian besar bersifat selicik dan selicin ular serta jaringan korup yang melingkupinya. Pada bagian pertama pula, pembaca seolah dapat merasakan dan melihat sendiri bagaimana aktivitas kaum Bolshevik dan teori Marxis yang mereka agung-agungkan itu. Pada bagian pertama pula, pembaca seolah dapat merasakan dan melihat sendiri bagaimana aktivitas kaum Bolshevik dan teori Marxis yang mereka agung-agungkan itu. Selain itu, Montefiore juga mendeskripsikan bagaimana kehidupan para wanita pengasuh anak-anak keluarga kaya. Mereka adalah wanita-wanita besi dan berhati emas yang cakap dan pandai mengurus rumah tangga. Hal ini memang sesuai dengan kenyataan hidup pada masa itu. Selain dalam novel Sashenka, keberadaan para pengasuh wanita di Rusia juga dapat Anda baca dalam Anna Karenina (Leo Tolstoy).

Sedangkan pada bagian kedua, pembaca diajak untuk menyelami kehidupan rumah tangga Sashenka yang sangat tidak bahagia. Apa yang dulu dikutuk dan dijauhi Sashenka, yaitu kehidupan keluarganya yang berantakan, justru terjadi pada dirinya sendiri. Ia, seorang Bolshevik setia sejak usia 16 tahun terjerembab dalam kolam penistaan bernama perselingkuhan yang kemuidan menyeret anak-anak tercita serta suaminya ke dalam lubang hitam kepemimpinan Stalin. Saya pribadi merinding membaca bagian kedua ini dan membayangkan kerasnya kehidupan Uni Soviet era Stalin.

Akhirnya pada bagian ketiga, Montefiore sangat terlihat jelas menunjukkan keahliannya sebagai seorang sejarawan andal. Di sini, ia merefleksikan dirinya dalam tokoh Katinka Vinsky yang berjuang sangat keras untuk mengungkap sejarah keluarga kliennya. Pembaca akan mengikuti usaha Katinka untuk mengumpulkan arsip-arsip sejarah Uni Soviet, khususnya NKVD, dan menyusunnya menjadi penggalan-penggalan petunjuk. Dengan cermat, Montefiore membuat pembaca tidak bisa berhenti membuka lembar demi lembar bagian ini dan bahkan membuat pembaca ikut menyimpulkan atau menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Pada bagian tiga ini, Montefiore seperti ingin sedikit memacu adrenalin pembaca untuk mengikuti upaya Katinka, mulai dari meminta dokumen sejarah secara resmi hingga usaha penipuan yang berisiko dan politik uang yang kotor. Alhasil, di bagian pamungkas novel ini saya bukan seperti sedang membaca sebuah novel fiksi sejarah, melainkan mengikuti kisah mafia atau perampok seperti yang terdapat film Ocean Eleven.

Sashenka adalah tipe buku yang takkan pernah Anda sesali membaca (atau membelinya), sebab di dalamnya Anda akan menemukan kisah seorang wanita Rusia yang akan dikenang selalu, bukan hanya karena intrik cintanya, tetapi juga karena perannya sebagai seorang ibu...

Ada yang punya komentar?

Sunday, July 8, 2012

The Namesake: How to Come Out from an Overcoat

Setiap benda memiliki nama, termasuk manusia. Setiap benda (dan manusia) dikenal dengan nama mereka masing-masing. Setiap kali membutuhkan suatu benda atau seseorang, kita akan mengucapkan nama mereka, mengulangnya, bahkan hingga kita tidak menyadari berapa kali telah mengucapkan nama suatu benda atau seseorang sepanjang hidup ini (hanya orang yang benar-benar luar biasa yang sanggup menghitung ucapannya). Nama akan melekat pada setiap benda (dan manusia) hingga kita semua melupakan benda tersebut atau hingga ajal menjemput manusia si empunya nama (bahkan nama kita akan tetap terlihat di batu nisan suatu hari bukan?). Ya, nama begitu penting bagi kita semua. Namun, apakah setiap nama memiliki arti? Seorang sastrawan besar sekelas Shakespeare bahkan bertanya "what is a name?" (apalah arti sebuah nama?).



Jika Anda pernah menyaksikan The Namesake (2006), mungkin pertanyaan Shakespeare itu dapat terjawab. Dalam film besutan sutradara berpengalaman Mira Nair (Salaam Bombay!, Monsoon Wedding) ini kita ditunjukkan bagaimana seorang ayah memberikan nama kepada anaknya dari seorang tokoh terkenal dengan harapan ia dapat belajar dan meneladani tokoh tersebut. Ya, nama adalah harapan. Dengan nama yang baik, diharapkan si empunya nama mawas diri dalam perjalanan hidup. Menyandang sebuah nama ibarat mendapat sebuah amanah atau mengemban suatu misi yang perlu diselesaikan dan dipertanggungjawabkan. Mungkin agak sedikit berlebihan, tapi menurut saya tidak ada salahnya untuk mencari tahu makna sebuah nama, khususnya nama diri kita masing-masing. Mungkin sepanjang hidup kita ini, orang tua yang memberi kita nama selalu berpikir dalam benak mereka, akankah kita berperilaku sesuai dengan nama yang kita sandang?

Melalui The Namesake, penonton diajak untuk mengikuti perjalanan hidup seorang lelaki bernama Gogol (Kal Penn). Ia dilahirkan dalam sebuah generasi pertama keluarga imigran India di Amerika. Sama seperti remaja Amerika pada umumnya, Gogol tumbuh dengan sikap apatis terhadap latar belakang budayanya. Globalisasi dan akulturasi seolah menjadi Tuhan baru bagi Gogol dan jutaan remaja lainnya. Mereka mendengarkan musik berbahasa Inggris, menggunakan kata sapa "guys" untuk semua orang, dan memiliki hasrat untuk hidup sebebas mungkin dari kekangan tradisi dan keluarga. Cium dan nikmatilah aroma liberal di tanah kebebasan Amerika, mungkin begitu yang ada di benak Gogol dan Sonia (Sahira Nair), adik perempuannya yang memiliki sifat tak jauh beda dengan sang kakak.

Namun, akibat namanya yang tidak umum dan aneh (tapi terkenal), Gogol sering dijadikan bahan ejekan semasa sekolah. Ia tidak mengerti mengapa ayahnya, Ashoke Ganguli (Irrfan Khan) dan ibunya, Ashima (Tabu) melekatkan nama itu pada dirinya. Selama ini ia hanya tahu bahwa sastrawan Rusia Nikolai Gogol memang menjadi penulis favorit ayahnya. Tapi ia tak pernah memahami bahwa dari Nikolai Gogollah Ashoke menyematkan sebuah harapan pada diri anak lelakinya itu.

Sebagai seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga India berpendidikan, Ashoke, lelaki kurus kering yang tak pandai memikat hati wanita, memiliki sifat yang cukup toleran dengan perilaku anak-anaknya yang tak bisa dipahami oleh Ashima yang memegang teguh nilai-nilai luhur Bengali. Sifat toleran dan maklum Ashoke terbentuk dari pengalamannya sebagai generasi pertama dari keluarganya yang berani melintasi samudera dan menjalani kehidupan di negeri orang. Ia telah mengecap asam garam kehidupan Amerika. Ia menimba ilmu, bekerja, dan membesarkan anak-anaknya di Amerika. Tapi ia sendiri tidak berubah menjadi orang lain, ia tetap seorang Bengali dengan seperangkat nilai yang ditanamkan padanya. Ia bahkan kembali ke India dan menerima perjodohannya dengan Ashima. Beruntung, perjodohan itu bisa dibilang seperti kunci yang menemukan lubangnya, segalanya berjalan sukses dan bahagia. Bahkan bagi Ashima, Ashoke adalah cinta pertama dan terakhirnya.

Ashoke tidak mengikat Gogol dan Sonia pada budaya India secara ketat, mungkin karena ia ingin anak-anaknya menjadi manuisa-manusia modern, meski ia tetap tidak berharap kedua anknya itu menjadi kacang yang lupa kulitnya. Untuk itu, secara khusus ia memberi pesan kepada anak pertamanya Gogol, bahwa keluarga mereka ibarat sebuah kisah yang ditulis Nikolai Gogol, The Overcoat. Dalam cerita itu, tokoh utamanya yang bernama Akaky Akakievich Bashmachkin (terdengar aneh juga bukan?), seorang pegawai miskin dengan mantel compang-camping menjadi posesif terhadap mantel barunya yang terlihat mewah dibanding milik orang lain. Namun, rasa posesifnya itu berubah menjadi sifat negatif ketika mantel tersebut dirampok dan melakukan segala cara untuk mendapatkannya kembali. Ketika tak ada orang yang mau menolongya, ia menghina semua orang yang dimintai pertolongannya, bahkan setelah mati, arwahnya tak tenag hingga ia bergentayangan keliling kota mencuri mantel-mantel. Saking besarnya pengaruh cerita ini dalam kesusasteraan Rusia, Fyodor Dostoevsky pernah mengatakan “we all come out of Gogol’s ‘Overcoat’”. Pesan inilah yang disampaikan Ashoke kepada Gogol, bahwa memiliki hidup dan budaya baru tidak berarti harus menjadi posesif dengan kehidupan dan budaya itu, tidak berarti meninggalkan budaya lama yang dianggap ketinggalan zaman.

Sayangnya pesan Ashoke itu baru dipahami Gogol setelah kematian ayahnya, setelah lulus kuliah dari Yale University dan menjadi arsitek handal, setelah menyicipi hidup bebas dengan gadis pirang yang tak pernah disukai Ashima karena sikapnya yang terlalu Barat, Maxine (Jacinda Barrett). Meski begitu, bagi Gogol lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Ia memutus tali kasihnya bersama Maxine dan menikahi Moushumi Mazumdar (Zuleikha Robinson), gadis Bengali (seperti yang selalu diarapkan Ashima) yang sebenarnya memiliki sifat jauh lebih liberal ketimbang Gogol. Selain itu, ia juga mengikuti prosesi pemakaman ayahnya secara tradisional hingga tuntas dan memutuskan untuk tinggal dengan Ashima yang semasa kuliah selalu ia tinggal sendirian. Ketika pada akhirnya Gogol mengetahui perselingkuhan istrinya, ia merasa hancur. Ia pun menceriakan Moushumi, membantu Ashima bersiap pulang ke India, dan memutuskan untuk berkeliling dunia dengan buku Nikolai Gogol ditangannya, persis ketika Ashoke pulang ke India untuk menikahi Ashima.

Menonton The Namesake bagi saya seperti baru saja mendapat teguran untuk jangan pernah menganggap latar belakang budaya kita lebih rendah ketimbang modernisasi yang terus berputar saat ini, sebab suatu hari bisa saja kita tergilas oleh kuatnya arus modernisasi itu sendiri dan terhempas sebagai manusia tanpa identitas. Film yang diangkat dari novel buah pena peraih Pulitzer tahun 2000, Jhumpa Lahiri dengan judul yang sama ini menurut saya bisa saja menjadi sangat pretensius, namun dengan kejeniusan seorang Mira Nair yang membidani Salaam Bombay! (1988) hingga dinominasikan Oscar ini, The Namesake menjadi sebuah film untuk berkontemplasi tanpa terasa digurui. Cukup dengan sebuah quote dari Dosotoevsky, film ini sukses membuat penontonnya merekonstruksi ulang alam pikiran dan budayanya. Berpikir kembali dari mana asal kita sesungguhnya.

Saya perlu memberikan jempol khusus untuk Tabu yang dengan angat baik membawakan peran Ashima, seorang wanita India lugu yang memiliki prinsip teguh ketika menjadi seorang ibu. Ia membawakan karakter dengan meyakinkan, mengingat ini adalah film Amerika pertamanya setelah sebelumnya malang melintang di dunia perfilman India. Apresiasi juga saya sampaikan kepada Kal Penn yang cukup berhasil membawa diri sebagai remaja loser dan berubah menjadi pria tampan yang disukai gadis-gadis namun tetap menjadi seorang anak penurut dari keluarga India. All in all, it's 3.5 stars for me. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:

Precious (2009)

Director: Lee Daniels
Stars: Gabourey Sidibe, Mo'Nique, Paula Patton
Genre: Drama
Runtime: 110 minutes

Edge of Seventeen (1998)

Director: David Moreton
Stars: Chris Stafford, Tina Holmes, Andersen Gabrych
Genre: Drama, Comedy, Romance
Runtime: 99 minutes