Friday, February 10, 2012

Book Review: Gli Amori Difficuli





Cinta. Satu kata yang sangat luas maknanya. Cinta dapat dideskripsikan dengan berbagai bentuk atau cara. Ketika membicarakan cinta, kita tidak melulu terpaku pada logika, tetapi perasaan, naluri, dan hasrat juga berperan di dalamnya dan membentuk "sistem" interaksi sosial antara manusia yang satu dengan yang lainnya atau dengan lingkungan sekitarnya. Cinta memang kosmik dan epik, membaca kisah cinta pun menjadi sesuatu yang tak lekang waktu karena selalu ada sisi lain dari sekeping kata cinta. Sisi-sisi dari sebuah cinta inilah yang termuat dalam Gli Amori Difficuli (Difficult Loves), salah satu karya Italo Calvino. Calvino sendiri adalah salah satu sastrawan Italia yang paling berpengaruh pada abad 20.

Gli Amori Difficuli merupakan kumpulan sebelas cerita pendek dan dua cerita panjang yang ditulis Calvino antara 1948-1957 dan berlatar Italia pada sekitar era fasisme. Awal ketertarikan saya membaca (dan membeli) buku ini adalah kurangnya pengetahuan dan referensi saya terhadap karya penulis Italia, karena sebelumnya bacaan saya hampir selalu penulis Inggris atau Amerika. Kalaupun ada yang lain seperti The Famished Road karya Ben Okri (Nigeria), novel itu ditulis (sebelum saya membaca terjemhannya) dalam bahasa Inggris atau karya sastra non-bahasa Inggris yang paling mudah ditemui seperti Leo Tolstoy (Rusia). Istimewanya, saya langsung menemukan perbedaan mencolok gaya bertutur Calvino dengan penulis-penulis lain. Ia kerap membuat satu paragraf yang sangat panjang dengan pendeskripsian yang agak bertele-tele. Calvino sangat memerhatikan detil latar pada ceritanya. Jujur saja, ada beberapa cerita dalam buku ini yang tidak saya pahami akhir kisahnya.

Cerita pendek dalam Gli Amori Difficuli ini antara lain Petualangan Seorang Serdadu, Petualangan Seorang Pelancong, Petualangan Sepasang Suami Istri, Petualangan Seorang Pria Berkacamata, Petualangan Seorang Pembaca, Petualangan Seorang Penyair. Dua cerita panjang yang termuat dalam buku ini adalah Kabut Asap dan Terjun ke Real Estate. Semua cerita dalam buku ini menurut saya memiliki keunikan masing-masing dalam bicara tentang cinta. Misalnya dalam Petualangan Seorang Pembaca yang menjadi salah satu favorit saya, mengisahkan seorang pria kutu buku yang justru merasa bingung di saat ia bertemu wanita yang disukainya. Kebingungan itu disebabkan cintanya terbagi antara wanita yang ditemuinya dengan buku yang sedang dibacanya. Saya tak pernah tahu apakah ada tipe manusia macam ini, yang sangat mencintai buku sampai-sampai ia tetap tak mau melepaskan bacaan dari pikirannya bahkan saat ia tengah bercinta.

Kisah lain yang juga menjadi favorit saya adalah Kabut Asap yang bertutur tentang kemunafikkan petinggi-petinggi pmerintah suatu kota dan para pengusaha dalam mengatasi polusi yang terjadi di kota itu akibat semakin berkembangnya industri modern yang merusak alam. Dikisahkan dari sudut pandang seorang editor pelaksana suatu majalah lingkungan, Kabut Asap menjadi bacaan fiksi kritis yang membuka mata bahwa ada banyak pihak yang bermain dalam kehidupan kita. Kecintaan terhadap pekerjaannya membuat si editor pelaksana kemudian menyisipkan beberapa pesan tersirat dalam tulisan-tulisannya meski harus beradu pendapat dengan atasannya yang juga seorang pengusaha yang munafik.

Satu lagi cerita yang juga tak kalah menarik dan unik, dan yang paling saya sukai adalah Petualangan Sepasang Suami Istri. Ceritanya sederhana dan terinspirasi dari kehidupan nyata yang dapat kita temui dalam keseharian. Sepasang suami istri yang masing-masing bekerja dalam waktu yang berbeda. Sang suami harus bekerja pada malam hari dan baru pulang saat fajar menyingsing sementara si istri berangkat kerja dari pagi, tak lama setelah kepulangan suaminya dan pulang larut malam ketika suaminya bersiap berangkat kerja. Apa yang terjadi kemudian adalah kisah kerinduan yang melanda si suami maupun sitri ketika pasangannya bekerja. Sang istri selalu merasa kesepian di saat ia pergi ke peraduan di malam hari, tak ada pria tercinta di sampingnya yang menemani lelap mimpinya. Begitu pun sang suami yang beristirahat tidur pada pagi hari hanya dapat menemukan bekas-bekas kehangatan di sisi ranjang yang ditiduri istrinya. Ia pun memilih untuk berbaring di sisi tersebut untuk meredam kerinduannya. Namun setiap mereka terbangun, mereka tahu bahwa yang akan temui adalah kesepian, kesepian, dan kesepian.

Italo Calvino memberikan saya cakrawala baru dalam khasanah sastra Italia pada umumnya dan dunia pada khususnya. Cerpen-cerpen yang mengangkat tema kehidupan manusia sehari-hari dituturkan dengan teliti membuat pembacanya menyadari hal-hal yang selama ini dianggap sepele dalam kegiatan sehari-hari. Ternyata hal-hal itu di tangan seorang Calvino dapat menjadi sebuah kisah unik yang sulit terlupakan. Calvino sangat lihai memainkan imajinasinya sehingga membuat cerita percintaan jauh dari kesan biasa dan membosankan. Petualangan Sepasang Suami Istri menjadi cerita yang paling terngiang-ngiang di kepala saya setelah selesai membaca Gli Amori Difficuli. Dari cerita ini saya teringat sebuah lagu berjudul Dreaming with a Broken Heart yang diciptakan dan dibawakan oleh John Mayer. Lagu ini sangat cocok sebagai pengiring cerita Petualangan Sepasang Suami Istri, dan semakin menancapkannya di dalam pikiran saya. Lirik lagu ini benar-benar mengena untuk sepasang manusia yang saling mencinta dan merindukan, dan membuat saya memutar lagu ini terus dan terus setelah membaca Gli Amori Difficuli...

When you're dreaming with a broken heart
The waking up is the hardest part
You roll outta bed and down on your knees
And for the moment you can hardly breathe
Wondering was she really here?
Is she standing in my room?
No she's not, 'cause she's gone, gone, gone, gone, gone....

When you're dreaming with a broken heart
The giving up is the hardest part
She takes you in with your crying eyes
Then all at once you have to say goodbye
Wondering could you stay my love?
Will you wake up by my side?
No she can't, 'cause she's gone, gone, gone, gone, gone....

Oooooooooohhhhhhhhh

Now do i have to fall asleep with roses in my hand
Do i have to fall asleep with roses in my hand?
Do i have to fall asleep with roses in my hand?
Do i have to fall asleep with roses in my hand?
Baby won't you get them if i did?
No you won't, 'cause you're gone, gone, gone, gone, gone....

When you're dreaming with a broken heart
The waking up is the hardest part


Ada yang punya komentar?

No comments:

Post a Comment