Tuesday, April 16, 2013

Phenomenon: Gift v. Jinx

Kejutan atau surprise seringkali menjadi sesuatu yang didambakan banyak orang. Orang yang mendapatkan kejutan akan merasa kaget, terkejut, sekaligus tersanjung atas perbuatan orang yang memberikan kejutan. Perasaan-perasaan tersebut muncul sebagai reaksi dari pemaknaan yang diberikan oleh penerima kejutan pada pemberi kejutan. Pada umumnya, para penerima kejutan akan menganggap kejutan merupakan bentuk perhatian dan kasih sayang dari pemberi kejutan. Kejutan itu sendiri merupakan antitesis dari kemalangan, karena meski keduanya sama-sama relatif tidak dapat diprediksi, namun terdapat perbedaan makna yang sangat jauh. Kejutan merupakan satu hal yang sangat berkonotasi positif, di sisi lain citra negatif melekat erat pada kemalangan. Namun, bagaimana jika kita berada dalam suatu kondisi yang sangat sulit untuk membedakan antara kejutan dan kemalangan? Mungkin kita dapat bertanya bagaimana rasanya berada dalam keadaan demikian pada George Malley dalam Phenomenon (1996).

Phenomenon menceritakan sepenggal kehidupan George Malley (John Travolta), seorang pria sederhana yang tinggal di sebuah kota kecil di sekitar Califronia. Film dibuka dengan kebahagiaan George yang sedang berulang tahun. Hampir seluruh penduduk kota kecil itu mengenal George, sehingga banyak orang yang turut berbahagia di hari kelahirannya itu. Bahkan, kerabat-kerabatnya membuat suatu pesta di sebuah bar, khusus untuk momen membahagiakan tersebut. Meski hidup sederhana, namun George memang memiliki kekayaan berupa teman-teman yang sangat perhatian padanya. Sebut saja teman setianya Nate Pope (Forest Whitaker), Doc Brunder (Robert Duvall) seorang dokter kota yang menganggap George sebagai anaknya, dan Tito (Tony Genaro) bosnya yang selalu membuat George kelimpungan karena kebiasaannya berbahasa Spanyol.

Kebahagiaan George di hari jadinya terganggu sejenak dengan sebuah insiden saat ia melihat seberkas cahaya terang dari langit yang menghampiri dirinya dan membuatnya jatuh pingsaan sesaat. Setelah kejadian itu, Geroge berubah total seolah menjadi orang lain karena kebiasaan dan kemampuan intelektualnya yang tanpa diduga meningkat pesat bagaikan roket yang terbang ke angkasa. Kini, George terbiasa begadang melahap semua jenis buku, memiliki hobi baru melakukan eksperimen ilmiah, dan bahkan mampu memahami hal-hal yang sama sekali baru baginya. Satu hal lagi yang mengejutkan, George memiliki kemampuan telekinetik yang membuatnya dapat menggerakkan benda-benda di sekitarnya. Semua itu membuat George dianggap manusia sakti yang sangat unik, sebuah anggapan yang sama sekali tidak disukai George. Di luar semua perubahan signifikan itu, ada satu hal yang masih menjadikan George orang yang sama seperti sedia kala: cintanya pada Lace (Kyra Sedgwick). Meski begitu, Lace yang merupakan janda dua anak yang mencari nafkah dengan membuat kursi rotan itu tampaknya memiliki masa lalu yang kelam dalam urusan percintaan sehingga ia belum dapat menerima George di hatinya. Kehidupan George menjadi semakin rumit ketika dirinya merasa dikucilkan dari pergaulan warga setempat karena kemampuan intelektualnya yang berlebihan. Ia merasa sangat berbeda dan jauh dari standar kehidupan manusia normal seperti orang lain. Namun, akhirnya George mengetahui penyebab kehidupannya yang kacau. Bagi George, penyebab masalah dalam hidupnya itu merupakan sebuah kejutan besar, hahkan teralu mengejutkan bagi Lace yang mulai belajar mencintainya.



Bagi saya, kisah yang diungkapkan dalam Phenomenon sangat “klik” di hati karena film ini berani mengeksplorasi sisi imajinasi yang belum pernah diungkapkan sebelumnya. Saya harus mengakui penulis cerita Gerald Di Pego memiliki ruang kreativitas yang sangat luas. I mean, how on earth he got the idea to put together a cancer back-to-back with a gift?! God, that was brilliant! Ide mempersandingkan mukjizat yang datang secara mengejutkan (surprising gift) dengan kemalangan (jinx) itu sangatlah cerdas dan original. Dengan bumbu fiksi ilmiah dan romantisme, Di Pego sukses mengangkat cerita imajinatif ini menjadi satu kisah sensitif.

Sensitivitas kisah hasil kreasi Di Pego itu sendiri sebenarnya terletak pada resep lama para penulis naskah, yaitu perubahan karakter dari tokoh-tokoh yang ada. Dalam Phenomenon, perubahan karakter yang paling menarik disimak bukanlah saat George mendapatkan “durian runtuh” berupa kemampuan intelektual yang tinggi, melainkan saat ia merasa dirinya tidak lagi mendapatkan tempat di komunitas dan lingkungan ia tinggal. Ia merasa sangat aneh dan sangat takut pada tatapan dan pandangan mata orang-orang. Ia merasa dirinya sangat mencolok dan menyita perhatian orang-orang hingga ia berpikir ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Ada beberapa line yang menggambarkan kondisi demikian sangat mengena, yaitu saat George berkunjung ke rumah Nate dengan membawa dua kursi karya Lace. Saat itu, George berbicara banyak tentang bagaimana fotosintesis menjadi model dari teknologi dunia saat ini dan Nate sama sekali tak mampu mengikuti dan memahami sepatah kata pun yang dibicarakan George. Saat itu juga wajah George berubah menjadi heran dan ada sedikit rasa sedih dan menyesal tergambar di wajahnya. Kemudian keheningan menyeruak dan akhirnya George mengatakan, “I’m sorry. I can’t help it, Nate”. Nate pun membalas, “It’s ok”. Atau saat George mengajak Lace untuk menemaninya di acara kampus yang mengundangnya untuk wawancara seputar kemampuannya meramalkan gempa. Saat itu George berkata pada Lace, “I don’t know. You know since the orchard thing people are different now. I don’t like it. The funny is you probably the only one that’s mad at me for a good reason”.

Bayangkan bagaimana seseorang yang seharusnya bangga atas kemampuannya justru harus menyembunyikan kelebihannya itu karena tak ada seorang pun yang dapat mengapresiasinya. Maksud apresiasi saya di sini adalah rasa kagum dan bangga. George sama sekali tidak mendapatkan apresiasi itu, malahan yang ada adalah pandangan orang-orang yang terheran-heran dengan kemampuan George, tak ubahnya saat kaget menyaksikan pertunjukan sirkus yang mencengangkan. Hal ini menunjukkan adanya anomali di sekitar tempat tinggal George, dan anomali itu menimbulkan perubahan diri George dari semula begitu excited dengan segala kemampuannya menjadi malu atas semua itu. Di saat orang lain memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari kemampuan yang tiba-tiba dimilikinya, menjadi sombong, dan sok berkuasa, George Malley tidak bisa melakukan itu semua karena ia telah berubah menjadi George “freaking” Malley. Bagi saya, inilah sesungguhnya “fenomena” yang dimaksud dalam Phenomenon. Di samping perubahan karakter George, Di Pego juga mengimbanginya dengan perubahan karakter Lace sebagai love interest di sini. Karakter Lace yang awalnya keras menjadi lunak dan mengakui bahwa dirinya jatuh cinta pada seorang pria sederhana yang kini menjadi sorotan publik.

Di tangan sutradara Jon Turteltaub (While You Were Sleeping, Cool Runnings) , ide original Di Pego terealisasi dengan sempurna. Kesempurnaan itu tercipta berkat kemampuan Turteltaub dalam merangkai cerita menjadi satu kesatuan yang utuh. Sebenarnya jika diperhatikan secara seksama, film berdurasi 123 menit ini terdiri dari dua babak besar. Babak pertama ada di paruh pertama film yang mengisahkan bagaimana George mendapatkan kemampuan intelektualnya dan babak kedua terdapat di paruh terakhir dengan fokus untuk mengungkapkan bahwa George mengidap tumor berbahaya yang sangat misterius. Namun, dengan garapan Turteltaub, pembagian cerita menjadi dua bagian kontradiktif (kisah bahagia dan kisah sedih) menjadi tidak terlalu terlihat jelas dengn adanya gradasi cerita yang baik (saya tidak mengatakan bahwa dua babak kontradiktif yang tidak memiliki gradasi tidak bagus, karena terbukti ada beberapa film yang mampu memperlihatkan hasil yang memuaskan, seperti dalam Life is Beautiful (1993)). Di babak pertama, Turteltaub merangkai cerita George yang mendapatkan “mukjizat” berupa kecerdasan di atas rata-rata dengan beberapa sub-plot, seperti fiksi ilmiah, percintaan, bahkan political thriller. Sub-plot tersebut membuat penonton mampu mengikuti dan mencerna alur cerita dengan mudah dan terasa mengalir serta sederhana. Selain mampu menjalin cerita dengan baik, Turteltaub juga mampu memperhatikan detail cerita. Ia membuat detail tersebut dengan menciptakan adegan-adegan yang saling mendukung satu sama lain, misalnya saat George mencangkul lahan kebun di depan rumahnya dengan emosi setelah mengeluarkan unek-uneknya yang justru membuat orang-orang semakin takut padanya. Adegan itu sangat tepat untuk mendukung betapa George merasa muak, tidak hanya pada orang-orang di sekitarnya yang memperlakukannya berbeda, tetapi juga pada dirinya yang tidak mampu membuka mata dan hati orang lain untuk tidak takut dan menganggap dirinya aneh.

Dari jajaran pemeran tokoh, sayangnya saya tidak bisa mengatakan semua pemeran memberikan performa terbaiknya. John Travolta misalnya, menurut saya penampilannya di sini kurang gres, dan bahkan sepanjang film saya merasa tidak nyaman karena bagi saya Travolta bukanlah orang yang tepat memerankan karakter George. Di sisi lain, Robert Duvall dan Kyra Sedgwick bagi saya tampil memukau. Sebagai karakter yang merindukan menjadi seorang ayah, Duvall nerhasil memancarkan ciri kebapakan dari karakter Doc Brunder. Cara-cara Doc memberikan nasihat, menyatakan kesedihannya saat George divonis tumor, dan bahkan saat mereka bergurau sangat mencerminkan hubungan ayah dan anak yang dekat. Ketika berbicara dengan George, Duvall sebagai Doc Brunder selalu menatap mata George dengan tatapan teduh dan berwibawa. Ketika George mendapatkan musibah, Doc Brunder seperti kehilangan separuh hidupnya dan itu berujung pada pembelaannya pada George di bar, yang merupakan salah satu adegan favorit saya. Sementara itu, Sedgewick adalah wanita yang sangat pas memerankan Lace yang berusaha sekuat tenaga untuk menipu dirinya sendiri bahwa ia tidak lagi membutuhkan cinta. Sedgewick berhasil membawakan karakter Lace menjadi wanita yang senantiasa penuh perhitungan, waspada, sekaligus wanita yang memiliki hati selembut sutra. Saya sangat suka adegan ketika Lace mendapati bahwa selama ini yang selalu memborong kursi buatannya adalah George, Sedgwick menampilkan wajah yang kecewa berat telah ditipu oleh orang yang mengaku menyukainya. Saat itu, Sedgwick menyatakan bahwa ia hanya butuh kejujuran dari George, dan ternuyata George tak bisa memberikannya. Sedgwick kemudian berjalan tegap, berbicara dengan tegas, dan pergi dengan truknya, sebuah eksekusi yang baik dari line-line dialog.

Sisi positif Phenomenon lainnya bagi saya adalah sinematografi dan tata musik yang pas. Sepanjang film, penonton akan dimanjakan dengan suasana kota kecil yang tenang, berpenduduk sedikit dan saling mengenal satu sama lain, rumah-rumah sederhana yang cantik dan berjarak jauh satu sama lain, dan tanah-tanah yang terlihat gersang. Warna yang mendominasi di sepanjang cerita adalah warna kunig keemasan yang semakin memnuat tampilan kota kecil itu eksotis. Sementara itu, acungan jempol perlu saya berikan untuk penataan musik. Penonton sangat dimanjakan dengan lagu-lagu indah di sepanjang cerita dan latar suara yang dapat dibedakan sesuai sub-plot yang ditampilkan (penonton dapat dengan mudah menebak latar suara apa yang mucul ketika George memamerkan kemampuan telekinetiknya, saat terjadi hal-hal yang didramatisir, dan lain-lain).

Secara keseluruhan, Phenomenon adalah paket menarik yang tidak akan saya lewatkan. Dengan ide cerita original, saya sangat mendapatkan pengalaman menonton yang sangat spesifik. Meski terdapat bagian-bagian cerita yang terkesan dipaksakan (seperti ketika FBI mendatangi rumah Lace untuk mencari George dan mereka mafhum begitu saja dengan perkataan Lace yang mencoba menyembunyikan George), namun itu tidak membuat Phenomenon cacat di mata saya. Malah, sepertinya saya tidak akan bosan jika menyaksikan film ini lagi dan lagi. 4 out of 5 stars for me. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:

Edward Scissorhands (1990)

Director: Tim Burton
Stars: Johnny Depp, Winona Ryder, Dianne Wiest
Genre: Fantasy, Drama, Romance
Runtime: 105 minutes













Chocolat (2000)

Director: Lasse Hallström
Stars: Johnny Depp, Alfred Molina, Juliette Binoche
Genre: Drama, Romance
Runtime: 121 minutes