Minggu, 14 November 2010

House of Sand and Fog: Jangan Keras Kepala!

Hari Sabtu kemarin, seperti biasa saya menantikan acara World Cinema di Metro TV. Kemarin, giliran film yang dibintangi Jennifer Connelly, House of Sand and Fog (2003) ditayangkan. Film ini menurut saya adalah jenis silent drama yang cerita tragisnya bisa membuat kita merasa sangat iba dengan tokoh-tokohnya (mungkin akan mengundang air mata bagi para wanita. Haha…). Rotten Tomatoes dan IMDb memberi film ini rating masing-masing 7.1/10 dan 7.8/10. Film yang diangkat dari novel laris karya Andre Dubus III ini berhasil dinominasikan untuk 3 gelar Oscar 2004 dalam kategori Best Actor (Ben Kingsley), Best Actress in a Supporting Role (Shohreh Aghdashloo), dan Best Music Original Score (James Horner). Tak heran saya pun semangat sekali ketika film ini ditayangkan di televisi. Film ini membuat saya merenungkan sifat manusia yang seringkali egois dank eras kepala, bahkan sampai merugikan dirinya sendiri dan orang lain.


House of Sand and Fog bercerita tentang Kathy Nicolo (Connelly), seorang wanita muda yang diwariskan sebuah rumah cantik sederhana di tepi laut oleh mendiang ayahnya. Rumah tersebut adalah tempat Kathy dan saudaranya dibesarkan, sebuah rumah hasil kerja keras sang ayah. Setelah ditinggal suaminya yang tak menginginkan kehadiran buah hati dalam penikahan mereka, Kathy mengalami depresi berat, sehingga ia tak memerhatikan urusan-urusan lain, termasuk pajak bisnis yang harus dibayarkannya selama beberapa bulan. Meski kasus tunggakan tersebut telah diselesaikan di pengadilan, namun ternyata rumah tersebut dinyatakan disita dan dilelang. Ia pun terpaksa tinggal di motel sementara waktu.


Massoud Amir Behrani (Ben Kingsley) adalah seorang mantan kolonel berpangkat tinggi yang menjadi imigran dari Iran. Ia, istrinya Nadereh (Shohreh Aghdashloo), dan kedua anaknya Esmail (Jonathan Ahdout) dan Soraya (Navi Rawat) meninggalkan Tanah Airnya karena konflik yang terjadi di sana. Sebagai keluarga imigran, Behrani khawatir akan kondisi perekonomiannya di negeri orang dan hal ini mendorongnya melakukan apapun untuk mempertahankan hidup diri dan keluarganya, termasuk hidup berpindah-pindah demi mendapatkan keuntungan dari penjualan propertinya. Suatu hari, Behrani yang telah mengumpulkan uang hasilnya bekerja sebagai pekerja bangunan melihat pengumuman lelang bungalow yang indah di surat kabar. Setelah melihat lokasinya, ia pun setuju membeli rumah tersebut dari pelelangan yang diselenggarakan pengadilan daerah. Rumah tersebut adalah rumah Kathy Nicolo, yang sedang diperjuangkan untuk direbut kembali. Kathy yang mendapat dorongan semangat dari Lester Burdon, seorang deputi polisi bertipikal simpatik yang ditugaskan menyita rumahnya, mulai bangkit untuk menempuh jalur hukum. Pengacara Connie Walsh (Frances Fisher) pun disewanya, namun cara ini tak menemui hasil karena sikap keras kepala Behrani yang tak ingin menjual kembali rumah tersebut kepada pengadilan daerah kecuali ia dibayar 4 kali lipat dari harga belinya. Berbagai pendekatan lain pun dilakukan Kathy, mulai dari berbicara langsung dengan Behrani, istrinya yang lemah lembut Nadereh, sampai pada ancaman deportasi yang dilancarkan olehnya dan Burdon. Namun semuanya mengalami kegagalan.

Di sini, konflik yang terjadi menggambarkan dilema yang dihadapi oleh masing-masing pihak yang berseteru. Behrani yang selalu diliputi perasaan cemas akan ekonomiya sehingga membuat ia haus akan keuntungan materil dan di sisi lain ada Kathy yang tak rela rumahnya yang penuh kenangan “dirampas”. Kedua tokoh ini sama-sama keras kepala dan egois, mementingkan diri mereka masing-masing.Hingga akhirnya, Kathy yang putus asa mencoba bunuh diri di depan rumah Behrani dan Burdon datang dengan menodongkan sepucuk pistol. Setelkah semalaman dikurung dalam kamar mandi, Behrani dan Burdon sepakat untuk menjual rumah tersebut kembali kepada pengadilan daerah. Namun, setelah sampai di pengadilan, Behrani dan anaknya Esmail berontak dan menyerang balik Burdon. Esmail menodongkan pistol kepada Burdon yang dibekuk Behrani. Situasi menengangkan tak terhindarkan. Para polisi yang leihat kejadian tersebut ikut mengangkat senjata dan akhirnya Esmail tertembak mati.

Setelah Behrani kehilangan anaknya yang dicintai, barulah ia sadar akan keegoisannya, akan keangkuhan dan ketamakannya. Ia pun depresi berat sampai akhirnya meracuni istrinya dan mengakhiri hidupnya dengan “indah” melalui jeratan plastik di ranjang. Sosok Kathy yang mulai merasa putus asa pun menjadi bimbang atas konflik yang dialaminya. Setelah mengenal keluarga Behrani yang memprihatinkan, ia ragu untuk meneruskan usahanya merebut kembali rumahnya. Ketika akhirnya ia mendapati Behrani dan Nadereh meninggal, rasa bersalah tak terhingga pun menghinggapi dirinya, Ia hanya bias berkubang denga derai air matanya, di antara dua tubuh tak bernyawa di sebuah ranjang cantik dalam rumah di tepi pantai. Sementara itu, nasib tragis juga dialami Burdon yang harus dihukum karena usahanya mengintimidasi keluarga Behrani. Kisah cintanya dengan Kathy pun tak pernah berlanjut.

Film ini membuat saya berpikir akan egoisme dan ketamakan manusia. Seringkali, manusia bersikap keras kepala demi kepentingan pribadinya. Anggota DPR yang keras kepala mengadakan studi banding keluar negeri misalnya, membuat hati rakyat tersakiti melihat uang mereka dihambur-hamburkan demi kepentingan mereka semata. Atau KBIH yang tak berizin yang keras kepala meberangkatkan jemaah haji nonkuota demi mengeruk keuntungan dari mereka, tak peduli jemaah tersebut nantinya luntang-lantung di tanah suci. Semuanya menggambarkan manusia yang telah menjadi homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. It's 4 out of 5 stars for me. Ada yang punya komentar?






Watch this if you liked:

Gran Torino (2008)
Director: Clint Eastwood
Stars: Clint Eastwood, Bee Vang, Christopher Carley
Genre: Drama
Runtime: 116 minutes

Good Will Hunting (1997)

Director: Gus Van Sant
Stars: Matt Damon, Robin Williams, Minnie Driver
Genre: Drama
Runtime: 126 minutes

Sebagai seorang yatim piatu yang diangkat oleh ayah ringan tangan, Will tumbuh menjadi pria yang tidak bisa dekat dengan orang lain, termasuk dalam urusan wanita. Absennya kasih sayang dalam kehidupan Will membentuknya menjadi pribadi tertutup, tidak percaya pada rasa cinta dan kasih sayang yang diberikan orang lain, dan tempramental. Namun, di luar semua itu, Will adalah pemuda yang jenius dalam bidang sains...

Kamis, 04 November 2010

Arsitektur Biologis Kontemporer

Beberapa tahun terakhir, isu pemanasan global menjadi masalah kritis yang semakin disadari oleh banyak manusia di muka bumi. Tidak seimbangnya ekosistem alam, gejala cuaca ekstrem yang semin sulit diprediksi, dan bencana alam dalam berbagai skala dan fenomena mulai menjadi pembahasan hangat di setiap negara. Para pemimpin bangsa di berbagai belahan dunia pun berkumpul untuk membahas masalah pemanasan global ini, sebab bumi ini adalah tempat tinggal manusia bersama, sehingga penyelesaiannya pun harus dilakukan bersama-sama. Selain itu, berbagai komunitas dan lembaga swadaya masyarakat yang peduli akan lingkungan menjamur di mana-mana. Mereka membuat gerakan sadar lingkungan.

Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup adalah dengan menciptakan bangunan yang ramah lingkungan, baik dari segi rancang bangun (desain) maupun material bangunannya . Saat ini bukan waktunya untuk berlomba-lomba membuat bangunan pencakar langit, tetapi lebih dari itu, kita juga perlu memikirkan bangunan yang ramah dengan alam lingkungan, sehingga tercipta keseimbangan alam yang harmonis.

Dalam arsitektur dikenal istilah arsitektur biologis, yaitu pengetahuan tentang hubungan integral antara manusia dan lingkungan hidup. Istilah arsitektur biologis diperkenalkan oleh beberapa ahli bangunan, antara lain Prof. Mag.arch, Peter Schmid, Rudolf Doernach dan Ir. Heinz Frick. Sebenarnya, arsitektur biologis bukan merupakan hal yang baru, sebab sejak ribuan tahun yang lalu nenek moyang kita telah menerapkan konsep dasar dari arsitektur biologis ini, yaitu dengan membangun rumah adat (tradisional) menggunakan bahan-bahan yang diambil dari alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan mempertimbangkan rancang bagun yang dapat tahan dengan segala macam ancaman alam, seperti hewan buas dan bencana seperti banjir, longsor, gempa, dan lain-lain. Rumah adat yang berbentuk rumah panggung adalah contoh dari arsitektur biologis masyarakat Indonesia zaman dahulu. Pada peristiwa gempa di Padang tahun lalu, rumah adat ini terbukti lebih kokoh dibanding dengan rumah atau bangunan lain, karena bobotnya yang ringan, terbuat dari bambu dan kayu.

Di era modern seperti sekarang, menggunakan arsitektur biologis bukan tidak mungkin, apalagi di saat kondisi bumi mengalami perubahan drastis yang disebabkan pemanasan global. Namun, tentu kita tidak harus membangun bangunan yang sama persis dengan rumah adat, karena kondisi lingkungan saat ini tidak lagi memungkinkan kita untuk membuatnya. Yang mungkin kita lakukan adalah dengan mencoba membuat rancang bangun rumah yang efisien akan sumber daya (seperti listrik) tanpa mengurangi kenyaman bagi penghuni rumah itu sendiri. Selain itu, pentingnya pendekatan ekologis seperti ramah lingkungan, ikut menjaga kelangsungan ekosistem, menggunakan energi yang efisien, memanfaatan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui secara efisien, menekanan penggunaan sumber daya alam yang dapat diperbarui dengan daur ulang dalam membangun lingkungan akan turut meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Hal ini menjadi konsep arsitektur biologis saat ini menjadi lebih kontemporer.

Para ahli bangunan dan desainer interior telah banyak memberikan saran dalam pembangunan rumah ramah lingkungan, misalnya pendapat Yeang, seorang ahli bangunan Cina yang menerapkan integrasi kondisi ekologi, yang dilalakukan dengan tiga cara, yaitu pertama, integrasi fisik dengan karakter fisik ekologi setempat, meliputi keadaan tanah, topografi, air tanah, vegetasi, iklim dan sebagainya. Kedua, integrasi sistim-sistim dengan proses alam, meliputi: cara penggunaan air, pengolahan dan pembuangan limbah cair, sistimpembuangan dari bangunan dan pelepasan panas dari bangunan dan sebagainya. Ketiga, integrasi penggunaan sumber daya yang mencakup penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan (Yeang, 2006).

Dewasa ini, mulai banyak rimah-rumah yang membuat panel tenaga surya untuk membantu memnuhi kebutuhan listrik di rumah, jadi tidak hanya bergantung pada sumber daya listrik pemerintah yang menggunakan bahan bakar yang tidak terbaharui. Selain itu, penanaman taman di atap (roof garden) dan membuat lubang resapan di halamn rumah juga membantu dalam mengurangi risiko polutan yang terserap dan bencana banjir. Hal yang juga penting untuk dilakukan adalah menggunakan barang-barang kayu (meubel) yang telah bersertifikat, sebagai tanda material pembuat meubel tersebut adalah bukan dari hasil pembalakan liar. Kita pun perlu meningkatkan kesaran masyarakat akan hal ini, sebab di negara-negara maju seperti Amerika, kesadaran untuk memakai bahan bangunan dan perabot yang legal telah digalakkan secara optimal.
Tujuan perancangan arsitektur melalui pendekatan arsitektur adalah upaya ikut menjaga keselarasan bangunan rancangan manusia dengan alam untuk jangka waktu yang panjang. Keselarasan ini tercapai melalui kaitan dan kesatuan antara kondisi alam, waktu, ruang dan kegiatan manusia yang menuntut perkembangan teknologi yang mempertimbangkan nilai-nilai ekologi, dan merupakan suatu upaya yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup.


Referensi
C., Wanda Widigdo dan I Ketut Canadarma. 2008. Pendekatan Ekologi pada Rancangan Arsitektur, sebagai Upaya Mengurangi Pemanasan Global. Makalah PDF diunduh dari http://fportfolio.petra.ac.id/user_files/82008/TEK%201%20Pendekatan%20ekologi%20wanda%20UKP.pdf
Frick, H. dan Tri Hesti Mulyani. 2006. Arsitektur Ekologis. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Sugianto, Agus. 2005. Ilmu Lingkungan: Sarana Menuju Masyarakat Berkelanjutan. Surabaya: Airlangga university Press.


Jumat, 08 Oktober 2010

Asas Ease of Administration dalam Pemungutan Pajak

Asas Ease of Administration

Administrasi perpajakan berperan penting dalam sistem perpajakan di suatu negara. Sukses tidaknya pemerintah dalam pemungutan pajak tergantung pada efisiensi dan efektifitas pelaksanaan administrasi perpajakannya. Dalam pemungutan pajak, asas ease of administration sangat berhubungan dengan kepatuhan wajib pajak dalam membayar atau menyetorkan pajak terutangnya. Sistem administrasi perpajakan yang tidak efektif dan efisien akan menimbulkan kerugian-kerugaian yang membuat pemungutan pajak terasa semakin membebankan bagi wajib pajak. Hal ini tentu akan membuat wajib pajak semakin enggan untuk melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara. Laporan Bank Dunia menyatakan bahwa: “poor tax administration undermines the effectiveness of the desired tax structure and raises and distortion. A poor designed tax structure makes administration more difficult”.

Banyak tokoh pemikir yang telah merumuskan aspek-aspek dalam ease of administration, salah satu tokoh yang membahasnya secara komprehensif adalah Dr. Haula Rosdiana. Dalam buku Pengantar Perpajakan, Dr. Haula Rosdiana menggambarkan asas ease of administration dengan beberapa indikator sebagai berikut.


1. Asas Certainty

Asas certainty ini berhubungan dengan aspek hukum atau ketentuan perundang-undangan dalam sistem perpajakan. Pemungutan pajak harus ada kepastian hukum sehingga dapat dihindari tindakan sewenang-wenang dan tindakan kompromis antara wajib pajak dan petugas pajak.

Fritz Neumark mengungkapkan bahwa ketentuan-ketentuan dalam sistem perpajakan harus dapat dipahami (comprehensible), tidak boleh menimbulkan keragu-raguan atau penafsiran yang berbeda, tetapi harus menimbulkan kejelasan (must be unambiguous and certain), baik bagi wajib pajak maupun fiskus.

Mansury menjelaskan bahwa dalam asas certainty terdapat empat hal yang perlu diperhatikan, yaitu (i) harus pasti siapa yang dikenakan pajak (subyek), (ii) harus pasti apa yang menjadi dasar pemungutan pajak (obyek), (iii) harus pasti berapa jumlah yang dibayar (tarif), dan (iv) harus pasti bagaimana cara pembayarannya (prosedur).

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah sistem perpajakan Indonesia sudah memenuhi aspek certainty dalam administrasi perpajakan? Ternyata belum sepenuhnya. Masih banyak pasal-pasal dalam peraturan undang-undang perpajakan yang menimbulkan grey area. Dalam konteks perpajakan, grey area dapat bermakna:
• Keadaan atau transaksi yang sebenarnya terekspos pajak, akan tetapi tidak ada aturan yang mengaturnya;
• Ada aturannya tapi tidak jelas karena tidak lengkap, tidak implementatif, tidak informatif, memunculkan multi tafsir, berbeda antara aturan dan praktek dan sebagainya;
• Ada aturannya, akan tetapi jumlahnya lebih dari satu sehingga mengakibatkan terjadinya kesimpangsiuran peraturan, tarik-menarik, saling berkontradiksi dan sebagainya.

Grey area dalam perpajakan sering mengakibatkan munculnya perbedaan persepsi antara satu pihak dengan pihak lain (misalnya antara otoritas pajak dengan pembayar pajak, atau di antara pembayar pajak sendiri, atau bahkan di antara pihak di dalam otoritas pajak sendiri).

Dr. Haula Rosdiana dalam bukunya, Pengantar Perpajakan memberikan contoh pasal yang mengandung grey area, yaitu pasal 14 ayat (3). Pasal tersebut sangat bermasalah dengan abiguisme keterangan masa pajaknya. Selain itu, dalam forum-forum diskusi perpajakan, terdapat beberapa pasal yang dianggap menimbulkan grey area juga, yaitu:
1. Grey area dalam pajak penghasilan:
• Masalah taxability suatu penghasilan.
• Masalah deductibility pengeluaran (promosi, kupon makan, pajak daerah, sanksi, biaya penagihann, dan sebagainya).
• Harta menurut pajak vs aktiva menurut akuntansi, pengelompokkan harta aspek pajak atas goodwill
2. Grey area dalam PPN:
• Pengkreditan pajak masukan tanggung jawab renteng, kriteria barang merah
• Faktur Pajak dengan metode QQ, mencantumkan harga include PPN di Faktur Pajak
• Faktur Pajak ditulis tangan, stempel di FP, diskon/margin vs komisi/bonus, cash discount
• Membayar PPN membangun sendiri di luar lokasi bangunan
3. Grey area dalam KUP
• Pengurus WP badan belum ber-NPWP, aspek pajak atas WP pindah domisili
• Terlambat NPWP (termasuk ekspatriate) atau PKP, mengajukan keberatan tanpa membayar SKPKB
• Jatuh tempo penyetoran/pelaporan pajak di hari Sabtu
• Hak atas imbalan bunga bagi WP, banding atas kasus keberatan yang tidak memenuhi syarat formal
• NPWP WP orang pribadi yang sudah meninggal dunia, pengisian daftar harta bagi WP orang pribadi

Dalam hal terjadi ketidakpastian dalam peraturan perpajakan, maka diskusi-diskusi ahli perpajakan menjadi suatu hal yang dibutuhkan untuk memutuskan kepastian. Sebab, bila peraturan-peraturan tersebut dibiarkan begitu saja, maka akan ada pihak-pihak yang merasa dirugikan, dan pada akhirnya bermuara pada keengganan membayar pajak.


2. Asas convenience

Asas convenience brhubungan dengan pelayanan yang diberikan oleh fiskus kepada wajib pajak, baik berupa kemyamanan dan kemudahan prosedur hingga waktu pemungutan yang sesuai dengan kondisi wajib pajak. E. R. A. Seligman mengungkapkan bahwa prinsip convenience berhubungan dengan pernyataan tentang bagaimana pajak itu dibayar, kapan harus dibayarkan, kemana harus dibayarkan, dan dalam kondisi bagaimana pajak itu dibayarkan.

Di Indonesia, Direktorat Jenderal Pajak berusaha keras untuk menyediakan fasilitas-fasilitas yang dapat membuat wajib pajak merasa nyaman dalam menjalankan keajibannya. Langkah-langkah yang ditempuh Ditjen Pajak di antaranya dengan menyediakan drop box SPT di beberapa lokasi strategis, seperti pusat perbelanjaan dan perkantoran, sehingga wajib pajak tidak lagi perlu mengantre di kantor pelayanan pajak, dan menghemat biaya transportasi. Selain itu, pengembangan sistem administrasi berbasis daring (on line) juga membuat pekerjaan membayar atau menyetor pajak menjadi lebih mudah.

AC Nielsen, sebuah lembaga riset internasional mempublikasikan hasil kajiannya, mengenai tingkat kepuasan wajib pajak di beberapa negara untuk tahun 2005. Hasilnya, tingkat kepuasan wajib pajak KPP (Kantor pelayanan pajak) Besar mencapai 81, atau jauh di atas rata-rata survei Indonesia sebesar 75.
Angka ini masih lebih baik dari rata-rata survei untuk seluruh sektor dan sektor publik di beberapa negara, seperti Australia dengan kepuasan 66 dan 74, Hong Kong 75 dan 71, India 78 dan 78, Singapura 76 dan 76.



3. Asas Efficeiency

Adam Smith mengungkapkan kaidah efficiency dimaksudkan supaya pemungutan pajak hendaknya dilaksanakan dengan sehemat-hematnya jangan sampai biaya-biaya memungut pajak menjadi lebih tinggi daripada ghasil pungutan pajaknya (Devano, et al, 2006: 63).

Dr. Haula Rosdiana menyatakan bahwa efisiensi dapat dilihat dari sisi fiskus dan wajib pajak. Secara keseluruhan pemungutan pajak dapat dikatakan efisien jika cost of taxation-nya rendah. Indikator cost of taxation adalah:
a. Compliance cost
b. Administrative cost
c. Deadweight efficiency loss from taxation
d. The Excess burden of tax evasion
e. Avoidance cost

Sanford membagi cost of taxation menjadi tiga yaitu sacrifice of income, distortion cost, dan running cost. Sacrifice of income merupakan pengorbanan wajib pajak untuk meyisihkan atau mengurangi penghasilan yang seharusnya bias digunakan untuk keperluan lain bila tidak ada pungutan pajak. Distortion cost berhubungan dengan dampak pemungutan pajak terhadap proses produksi suatu entitas bisnis. Hal ini menyangkut perubahan-perubahan dalam proses produksi dan faktor-faktor produksi karena adanya pajak tersebut. Sedangkan running cost adalah biaya-biaya ekstra yang harus dikeluarkan akibat adanya pemungutan pajak, dengan kata lain bila tidak ada pungutan pajak maka biaya-biaya tersebut tidak ada. Running cost mencakup administrative cost bagi pemerintah sebagai pemungut pajak, yang merupakan biaya operasional pemungutan pajak. Termasuk di antaranya adalah anggaran rutin pegawai pajak ATK, transportasi, air, telepon, listrik, dan lain-lain.

Selain itu running cost juga termasuk compliance cost yang harus dikeluarkan bagi masyarakat sebagai wajib pajak. Sanford kemudian membagi compliance cost menjadi tiga yakni direct money cost yang merupakan biaya dalam bentuk uang (jasa konsultan pajak, akuntan, transportasi, dan lain-lain), time cost yang merupakan waktu yang harus diluangkan oleh wajib pajak untuk mengurus proses pembayaran pajak (mengisi formulir, mengisi SPT mengajukan banding dan lain sebagainya), serta psychic cost yamg merupakan dampak emosional yang dirasakan wajib pajak ketika menjalankan proses pembayaran pajak.


Pentingnya Ease of Administration dalam Pemungutan Pajak



Seperti telah diungkapkan sebelumya, administrasi perpajakan berperan penting dalam sistem perpajakan di suatu negara. Ease of administration sangat berhubungan dengan kepatuhan wajib pajak dalam membayar atau menyetorkan pajak terutangnya. Sistem administrasi perpajakan yang tidak efektif dan efisien akan menimbulkan kerugian-kerugaian yang membuat pemungutan pajak terasa semakin membebankan bagi wajib pajak. Hal ini tentu akan membuat wajib pajak semakin enggan untuk melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara.

Penyimpangan dalam administrasi pajak berpotensi membawa pola hubungan yang menyimpang di antara aktor pajak, yakni aparat pajak dan wajib pajak (Irianto, 2009: 179). Administrasi pajak yang memiliki banyak kelemahan akan berpengaruh pada tidak optimalnya penerimaan negara.

Sistem administrasi pajak yang baik berkorelasi positif dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menunaikan kewajibannya sebagai wajib pajak. Sistem administrasi pajak perlu dikembangkan secara kontinyu agar dapat memotivasi wajib pajak. Penegmbangan tersebut akan menyebakan meningkatnya penerimaan pajak.

Selain itu, Edi Slamet Irianto dalam bukunya Pajak Negara dan Demokrasi: Konsep dan Implementasinya di Indonesia menyatakan bahwa pengorganisasian sistem perpajakan melalui administrasi yang baik membawa konsekuensi politik bagi membaiknya hubungan negara dan rakyat. Apabila administrasi memenuhi kriteria sosial sebagai kompensasi yang diterima rakyat, nilai kepatuhan wajib pajak akan lebih baik.

Di Indonesia sendiri, penerimaan perpajakan dari tahun ke tahun menunjukkan adanya peningkatan, begitu juga dengan jumlah wajib pajak yang terdaftar (yang dibuktikan dengan kepemilikan NPWAP juga semakin meningkat. Semoga hal ini juga menunjukkan adanya peningkatan sistem administrasi perpajakan.





Referensi


Devano, Sony dan Siti Kurnia Rahayu. 2006. Perpajakan: Konsep Teori dan Isu. Jakarta: Kencana Prenada Group.
Irianto, Edi Slamet. 2009. Pajak Negara dan Demokrasi: Konsep dan Implementasinya di Indonesia. Jakarta: Laksbang Mediatama.
Nurmantu, Safri. 2005. Pengantar Perpajakan. Jakarta: Granit.
Rosdiana, Haula. 2010. Pengantar Perpajakan. Depok: tanpa penerbit.

Http://depkeu.go.id
http://pajak.go.id


Sabtu, 18 September 2010

Public Administration: A Literature Review

Introduction

In the late 19th and early 20th century, the world has been shaken by great events, among others are World War II and the Cold War. After those shocking events, the world began to reform. Each country restore their state order. Notwithstanding that, the needs of people in each country increases. The state is in charge to take care of the problem. In situation like this, it takes a guide for the government to carry out its functions properly. One of the guidelines is the state administration/public administration.

1. Meaning of Public Administration

Public administration is the branch of administration science. Therefore, to understand the meaning of public administration, we first review what is administration. Etymologically, the word administration derived from the Latin words, ad (intensive) and ministrare (to serve, to take care). In simple language it means the management of affairs or to looking after people. Some thinkers have expressed their thoughts about the definition of administration. In my view, the clearest definition that describes what the administration is the definition given by Nigro. He stated that administration is the organization and use of men and materials to accomplish a purpose. However, from each definition given in “A Text Book of Public Administration”, all show that administration is consists of ‘getting the work done by others’, ‘use of materials/resources’, and ‘done to achieve common goals’. Since the administration made to achieve common goals, it is clear that man as a social animal can’t be separated from administration, and in my opinion every individual in the modern society totally linked with administration.

Similar to the definition of administration, some thinkers also gave their view on the meaning of public administration. In my view, the clearest definition that describes what the public administration is the definition given by Marshall E. Dimock. Highlighted from his view, he said that administration is law in action, it is the executive side of government. However, if we look closer, it can be found that the definition given by the thinkers divided into two senses, the wide and the narrow one. In the wider sense, it include all the activities of the government, regardless in the sphere of legislative, executive, or judicial. In the narrow sense, public administration is concerned with the activities of executive branch only. In my opinion, as it remarked before, to administer is to serve, and it means the administration tends to the action, not about policy making or the judiciary, so administration tends to be the executive.

Public administration is the systematic execution of the will of the people which has been discovered, formulated, and expressed in the form of laws by the legislature, so public administration is distinguished from the political one. However, in my opinion, it is not necessarily, because the implementation of public administration depends on the existing political system in the country concerned. Public administration could provide good service to the people when its political system is stable, which means there aren't any friction with the administrator’s/bureaucracy’s political interests. Therefore, the political system should be able to regulate the relationship between the three state institutions (legislative, executive, and judicial). However, basically we can not separate administration with politics, because both are closely intertwined as an integral part of the governmental process. So, I think the best way is either administration or politics have to specialize in their respective functions. Politicians deal with policy making, while administrators are dealing with policy executing.

2. Nature of Public Administration

There are two divergent views regarding the nature of public administration, they are integral view and managerial view. Each view hold by some thinkers. Integral view, hold by LD White and Dimock, stated that public adimistration is a sum-total of all the activities undertaken in pursuit of and in fulfilment of public policy whereas the managerial view, hold by Luther Gullick, Simon, Smithburg, and Thompson, stated that public administration concern to the work of only persons who are engaged in the performance of managerial function in an organization.

From those views, I prefer to agree that admisitration can be perceived as a process, as it is said by Dimock and Koening. It I all the steps taken between the time an enforcement agency assumes jurisdiction and the last break is placed. So, we can understand that administration is a series of sustainable activities, and the core is the goods and services that produced or tendered.

3. Scope of Public Administration

Several writers have defined the scope of public adminstration in varying terms and lengths, but a more comprehensive account of the scope of public administration has been given by Walker, which divide it into two parts, they are administration theory and applied admnistration which consists of political, legislative, financial, defensive, educational, social, economic, foreign, imperial, and local. But it should be emphasized that the scope of public administration varies with the people’s conception of good life, which will increase along with the times. So that the scope of public administration will continue to spread widely. So that the rigid formula of the scope of public administration as given by Luther Gullick with his POSDCoRB, deemed no longer relevant, because public administration is the science that will continue to grow following the development of the state itself.

4. Public and Private Administration

There are basic differences between public and private administration, among aothers are:
a. Political direction
Private administration is not subjected to political direction save in times of the gravest emergency, because its objectives do not depend upon political decisions. The administrator under the public administration has to carry out the orders which he gets from the political executive with no option of his own.
b. Profit motive
Public administration is conducted with the motive service while the motive of the private administration is profit-making.
c. Service and cost
Public administration only such amount of money is raised by taxation, therefore we can fund that generally, government has deficit budget, while in private administration there is an attempt to exact as such money from the public as possible, so usually they have surplus budget.

If we take a look closer, then we’ll find that basically, all the differences between private and public administration exist because there are different intersest and capacity between them. Private sector may not meet all the needs of society because there will be market failure or they do not have enough resources, particularly the state-controlled resources. So does the public sector may not meet all the needs of society because of the budgeting problem, entrepreneurship, or about to give the private chance to do their business. In my view, the differences between private and public administration should be used as a chance to work together developing the state.

Conclusion

1. Man, as social animal can’t be separate with administration things, because man has a lot of needs, and administration act as a tool to met all those needs.
2. The term public administration is restricted to the organization and operations of the executive branch only.
3. Politics and public administration ar two interrelated things. Politics dealing with policy making and public admnistration dealing with policy executing.
4. Nature of public administration is depend upon the context in which it is used.
5. The scope of public administration will continue to change dynamically, following the development of the state itself.
6. Though both private and public administration conduct according to the same principles, there are basic differences between them, because basically, they have different interests and capacity.

Sources:

A text Book of Public Administration
Ekologi Administrasi Negara

Rabu, 25 Agustus 2010

Indonesia’s Democracy: Seeking Activists’ Protector

Democratic life is mandate of the proclamation of independence of the Republic of Indonesia. The main goal to be achieved is a fair and prosperous society. However, in essence democracy is not just a tool, but also part of the goal itself. Susilo Bambang Yudhoyono gave his point of view about democracy. He stated that a democratic country has five characteristics, i.e. the existence of civil society, political society, economic society, the rule of law, and the well-functioned state apparatus. Now, I want to focus on the role of civil society in the development of democracy in Indonesia, especially the freedom of non-governmental organizations (NGOs).

As a democratic country, Indonesia has a legal basis to give the people freedom to establish unions and associations, that is article 28 of the 1945 constitution. The implication of this regulation is the existence of free public sphere in the middle of society. Free public sphere means a region where people as citizen have full access on every public activity. Citizens have rights to be involved and understand policies taken by the government. They also could convey their disagreement. Therefore, they could build NGOs which represent their concern about something, like corruption, education, children, women, environment, culture, etc. But the freedom of NGOs spotted with a number of attempts to injure NGO’s activists, such as violence, abuse, slander, etc. So in this situation, I think we need to prevent any kind of attempts to silent NGOs.

In the political system, NGO can be categorized as one of the society’s political infrastructure, that is pressure group. The pressure group has power to force the government or incumbent elite to fulfill their aspirations. Therefore, NGO has bottom-up orientation. There are many NGOs in Indonesia such as ICW, Sahabat Anak, Prakarsa Rakyat, Transparency International, and so on. Indeed, since the reforms, NGO in Indonesia have grown rapidly in terms of quantity. Currently, Indonesia has approximately thirteen thousand NGOs. All the NGOs became the basis of civil society power. The fact show us that indirectly, number of NGO in Indonesia also represent our socio-politic maturity. Government with all its limitation, can’t reach into all the needs and interests of the people. The presence of NGO became important in building social networks and became the media that intermediary the public interests and the authorities’.

Along with the large number of NGO in Indonesia and its progress, there are more parties who want to restrict their movement. Report from Imparsial NGO mentioned that from 2005 – 2009 there are 138 cases of violence, 46 cases of persecutions, 29 cases of arbitrary arrest, followed with other cases, i.e. intimidation, threat of violence, terror, criminalization, properties demolition, properties despoliation, kidnapping, and assassination. Usually, the purpose of commit the crime are: as a form of threat to the perpetrators of human rights defenders, try to limit the work of activists who are critical , or to create demoralization of human rights defenders to be afraid of power. The recent cases are the violence done to Tama Satrya Langkun, ICW’s investigation division researcher, and the Molotov bombing to Koran Tempo’s office.

Seeing these circumstances, we have to take action to force this problem. NGO activists are assets of our democracy. They have noble task to fight against any wickedness in this nation. The are pro democracy activists. So, they need to be protected.

Solutions about this problem are: the national commission of human rights should open special desk to handle the violence upon the activists. Thus, the cases can be easily coordinated. We have to make activists protection act. Besides that, NGOs should coordinating with police to protect their activists.

If we just remain doing nothing, then it means we are contributing to injure the freedom and peace in society, and of course, it also injure the democracy in Indonesia.


Source: Kontan Online, detik.com, Listyarti, Retno. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan untuk Kelas X. Jakrta: Esis.

Minggu, 08 Agustus 2010

Transformasi Siswa menjadi Mahasiswa

Pada hari Jumat, 6 Agustus lalu, mahasiswa baru Universitas Imdonesia tahun 2010 mendapatkan kuliah umum dengan pembicara Prof. Rhenald Kasali. Bertempat di Balairung UI, kuliah umum tersebut diwarnai dengan semangat mahasiswa baru dalam menyimak materi yang disampaikan, yaitu seputar menjadi mahasiswa. Prof. Rhenald Kasali yang merupakan staf pengajar di FE UI menyampaikan materi dengan atraktif dan mengena, karena disajikan dengan penggunaan media cuplikan film, video inspiratif, kisah, serta memorable quote dari berbagai tokoh.

Menjadi mahasiswa berarti kita harus siap menjadi agent of change. Mahasiswa harus pandai dalam mengintegrasikan kemampuan intelektual dengan kepekaannya terhadap lingkungan, karena pada hakikatnya menjadi mahasiswa adalah persiapan untuk mengabdi pada masyarakat. Oleh karena itu, masa-masa menjadi mahasiswa janganlah disia-siakan, harus diisi dengan kegiatan belajar maupun berorganisasi.

Di kampus, seorang mahasiswa harus mengubah cara belajarnya dari yang biasa diterapkan di sekolah menengah menjadi cara belajar mahasiswa yang sesungguhnya, yaitu dengan mempersiapkan diri sebelum masuk kelas, aktif dalam pelajaran, dan memberikan masukan-masukan membangun kepada dosen. Persiapan yang matang akan menjadi bekal dalam mencapai kesuksesan.

Seorang mahasiswa juga harus bisa memanfaatkan kekurangan/kelemahan dirinya menjadi pemicu semangat untuk sukses, mahasiswa harus kreatif. Banyak contoh yang diberikan Prof. Rhenald tentang kesuksesan mahasiswa, salah satunya adalah kisah tentang pendiri perusahaan taksi terbesar di Indonesia Blue Bird, Purnomo Sutono, yang tak lain adalah alumnus FK UI. Purnomo awalnya bekerja sebagai supir angkot dan kernet bus. Namun, berkat usaha dan kerja keras pantang meyerahnya mebuat ia berhasil mendirikan Blue Bird.

Intinya, mari berusaha menjadi mahasiswa yang baik dan berguna, karena kita bukan siswa biasa lagi. Bukankah begitu?

Jumat, 23 Juli 2010

Kerikil Tajam dan Yang Teraniaya dan Yang Terlupakan

Hari ini, 23 Juli, telah ditetapkan sebagai Hari Anak Nasional (HAN) sejak tahun 1986 silam. Pada tahun 2010 ini, peringatan HAN bertemakan "ANAK INDONESIA BELAJAR UNTUK MASA DEPAN" dengan subtema "KAMI ANAK INDONESIA, JUJUR, BERAKHLAK MULIA, SEHAT, CERDAS DAN BERPRESTASI".

Tema yang dipilih oleh Kemendiknas menurut saya memang sangat tepat ditengah gunjang-ganjing masalah moral bangsa yang menerpa negeri ini. Kasus video asusila yang melibatkan public figure telah menyeret anak-anak di bawah umur ke dalam kasus-kasus di luar dugaan, seperti maraknya pemerkosaan, ramainya aktivitas pengunduhan materi porno di kalangan pelajar, hingga pergaulan bebas yang benar-benar tidak merefleksikan adat ketimuran Indonesia.

Suatu kali, saya pernah menonton suatu acara di stasuin TV lokal yang mewawancarai remaja tentang pentingnya virginitas di kalangan wanita, dan yang mengejutkan adalah mereka menjawab dengan setengah hati dengan mengatakan virginitas itu penting-nggak penting. Sungguh sebuah jawaban yang menvcerminkan perubahan pergaulan masa kini. Saya jadi ingin tahu, sebenarnya secara statistic, berapa remaj Indoneisa yang belum melakukan hubungan seksual, bukan yang sudah melakukan hubungan seksual!

Kembali pada HAN, menurut saya yang paling perlu diberi perhatian utama adalah anak-anak jalanan, karena sering saya menemui anak-anak di jalan yang memiliki mind set yang salah tentang anak-anak. Banyak di antara mereka bilang bahwa mereka tidak butuh sekolah, hanya butuh sesuap nasi dan nafkah untuk bertahan hidup. Nah, kalau sudah begitu siapa yang mau bertanggung jawab dari banyaknya kemiskinan dan penganggurang yang ada di Indonesia, lha wong banyak anak-anaknya yang di jalan dan emoh sekolah...! Itu menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia begitu banyak menghadapi kerikil tajam, dan menjadikannya "Yang Teraniaya dan Yang Terlupakan".

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah masalah akses pendidikan dan kesehatan yang masih kerap kali diskriminatif, terutama pada anak-anak yang berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah.

Telah menjadi suatu pekerjaan besar bagi kita semua, bangsa Indonesia, terutama para orang tua dan perumus kebijakan untuk menciptakan suatu asupan moral yang penting bagi putra-putri bangsa. Pendidikan moral perlu ditanamkan kepada anak sejak kecil, dan diperlukan dukungan dari kebijakan yang mengaturnya. Dengan begitu, cita-cita anak Indonesia yang jujur, berakhlak mulia, sehat, cerdas dan berprestasi akan terwujud. Kita semua perlu mengasah diri agar nurani kita tidak tumpul dalam memerhatikan anak bangsa. Mari bersinergi melindungi anak Indonesia !

Ada yang punya komentar?

Kamis, 22 Juli 2010

Inspiration Chamber, How 'Bout Ya?

Di manakah biasanya Anda mendapatkan inspirasi? Mungkin ada yang menjawab di mana saja, tapi pasti ada juga yang menjawab di tempat tertentu yang entah bagaimana, tempat itu bisa mendatangkan inspirasi baginya.

Saya misalnya, paling sering dihinggapi inspirasi di kamar saya ketika sendirian (sebenarnya ditemani alunan musik dari pemutar MP3). Well, ini sebenarnya terjadi tanpa sengaja. Beberapa waktu lalu, lampu neon di kamar saya mendadak mati, tidak bisa dinyalakan. Akhirnya, karena sudah malam dan tidak memungkinkan pergi ke luar untuk membeli lampu baru, saya minta dipasangkan lampu pijar biasa di kamar untuk sementara, karena saat itu saya sedang mengerjakan setumpuk tugas. Lebih tepatnya sedang bengong mencari inspirasi untuk tugas saya. Ketika lampu pijar terpasang, jelas suasana penerangan kamar berubah menjadi temaram. Tapi, justru di saat ruangan kamar menjadi remang-remang seperti itu, saya kemudaian mendapat begitu banyak ide yang megalir begitu saja. Saya bisa bilang kejadian matinya neon kamar itu menjadi sebuah kesialan yang menguntungkan. Sampai sekarang saya malah jadi sering mengganti lampu kamar saya dengan lampu pijar untuk mendatangkan mbah keramat yang bernama inspirasi itu.

Selain kamar, tempat yang juga sering menjadi sumber inspirasi saya adalah kamar mandi. Tapi kalau untuk kamar mandi ini biasanya tempat yang paling sering mengingatkan saya pada hal-hal yang sebelumnya saya lupa dan sedang mencarinya. Ketika sampai di kamar mandi, sering saya langsung ingat kembali hal yang saya lupakan itu. Akhirnya kamar mandi rumah saya selain menjadi arena berkarir (baca: nyanyi nggak jelas di kamar mandi) juga sering menjadi tempat bertapa saya ketika saya lupa akan sesuatu.

Sebenarnya mungkin saya hanya tersugesti saja dengan hal-hal di atas, karena kita tahu bahwa menemukan inspirasi itu tak perlu menunggu lampu kamar mati atau ketika kita buang hajat di kamar mandi bukan? Semangat dan mitivasi kerja yang tinggi seharusnya menjadi titik temu antara inspirasi dengan diri kita.

Bagaimana dengan Anda, apakah Anda juga memiliki tempat tersendiri untuk menemukan inspirasi Anda?

Rabu, 21 Juli 2010

Ikutan Yuk!

Dalam rangka 7 tahun Mahkamah Konstitusi RI pada 13 Agustus 2010, Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI menyelenggarakan Lomba Foto dan Karya Tulis

Lomba Karya Tulis 7 Tahun Mahkamah Konstitusi

Ketentuan Lomba
1. Peserta lomba adalah mahasiswa Perguruan Tinggi Strata Satu (S-1) atau yang sederajat dan dibuktikan dengan menyertakan Kartu Mahasiswa yang masih berlaku.

2. Karya tulis harus karya asli (bukan terjemahan) dan belum pernah diikutsertakan dalam lomba sejenis.

3. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

4. Naskah harus sesuai dengan tema dan tidak menyinggung masalah SARA.

5. Tema karya tulis adalah "Peran Mahkamah Konstitusi dalam Proses Demokratisasi Indonesia" , dengan subtema sebagai berikut.
a. Peran Mahkamah Konstitusi dalam mewujudkan pemilihan umum yang jujur dan adil;
b. Peran Mahkamah Konstitusi dalam konsolidasi demokrasi di Indonesia;
c. Kedudukan Putusan Mahkamah Konstitusi sebagai negative legislator;
d. Kekuatan dan pelaksanaan Putusan Mahkamah Konstitusi dalam sistem hukum nasional;
e. Peran Mahkamah Konstitusi dalam penguatan hak asasi manusia dan hak konstitusi manusia
f. Menggagas constitutional complaint di Indonesia.

6. Setiap peserta wajib memilih salah satu dari subtema yang telah ditentukan.

7. Karya tulis yang mengikuti kaidah penilisan ilmiah serta mencantumkan catatan kaki dan daftar kepustakaan akan memiliki nilai tambah

8. Menyerahkan karya tulis asli dengan jumlah halaman antara 20-30 halaman kertas A4, dua spasi, huruf Times New Roman ukuran font 12.

9. Semua naskah karya tulis dikirimkan melalui pos dalam amplop tertutup kepada:

Panitia Lomba Karya Tulis 7 Tahun MK
Humas Mahkamah Konstitusi RI
Jl. Medan Merdeka Barat No. 7 Jakarta Pusat 10110
Telp. (021) 23529000 ext. 18216
Email: karyatulis@mahkamahkonstitusi.go.id
Cantumkan pada pojok kiri atas amplop "LOMBA KARYA TULIS 7 TAHUN MK"

10. Naskah harus sudah diterima Panitia Lomba paling lambat pada Selasa, 3 Agustus 2010 (cap pos)

11. Hasil karya pemenang dan psereta yang dianggap layak akan dimuat pada Jurnal Konstitusi

12. Informasi lebih rinci dapat dilihat pada www.mahkamahkonstitusi.go.id.

13. Pajak hadiah ditanggung oleh masing-masing pemenang.

14. Hadiah
a. Juara I : Rp7.500.000,-
b. Juara II : Rp6.500.000,-
c. Juara III : Rp5.000.000,-

Masing-masing juara mendapat piagam dan buku terbitan Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MKRI

Lomba Foto Jurnalistik 7 Tahun Mahkamah Konstitusi

Ketentuan Lomba

1. Obyek foto adalah Mahkamah Konstitusi dan obyek lain yang berkaitan dengan Mahkamah Konstitusi atau kewenangan Mahkamah Konstitusi.

2. Foto yang dilombakan adalah foto yang telah dimuat di media cetak (koran atau majalah) periode Juni 2009 s.d. Juni 2010.

3. Peserta lomba wajib menyerahkan hasil karya yang dicetak ukuran 10R di atas kertas foto tanpa alas karton atau bingkai serta soft copy dalam bentuk CD (sisi panjang foto minimum 3000 piksel dengan resolusi 300 dpi) yang dimasukkan dalam amplop tertutup , dengan menyertakan:
- Biodata singkat (nama, tempat tanggal lahir, alamat lengkap, e-mail, dan nomor telepon yang dapat dihubungi
- Keterangan singkat tentang foto berupa nama media, tanggal dan halaman pemuatan, serta caption foto (jika ada)
- Fotokopi kartu pers

Alamat pengiriman:
PANITIA LOMBA FOTO 7 TAHUN MK

Media Center Mahkamah Konstitusi RI
Jl. Medan Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat 10110
Tel. (021) 23529000 ext. 1812, Fax. (021) 386387
e-mail: pers@mahkamahkonstitusi.go.id
Cantumkan pada pojok kiri atas amplop "LOMBA FOTO JURNALISTIK 7 TAHUN MK"


4. Setiap peserta diperbolehkan mengirimkan lebih dari 1 (satu) foto.

5. Karya peserta harus sudah diterima Panitia Lomba selambatnya Selasa, 3 Agustus 2010.

6. Nama pemenang akan diumumkan di media cetak nasional dan website www.mahkamahkonstitusi.go.id.

7. Penyerahan hadiah dilakukan pada hari peringatan Hari Ulang Tahun ke-7 Mahkamah Konstitusi.

8. Mahkamah Konstitusi memiliki hak publikasi foto peserta untuk kepentingan kegiatan pameran dan sosialisasi Mahkamah Konstitusi lainnya dengan mencantumkan sumber foto (hak cipta tetap pada fotografer).

9. Panitia tidak mengembalikan foto yang telah dikirimkan dan dilombakan.

10. Juri terdiri atas praktisi fotografijurnalistik, fotografer profesional, serta Mahkamah Konstitusi.

11. Pajak hadiah ditanggung oleh masing-masing pemenang.

12. Untuk informasi lebih lengkap dapat mengunjungi www.mahkamahkonstitusi.go.id.

13. Hadiah
a. Juara I : Rp7.500.000,-
b. Juara II : Rp6.500.000,-
c. Juara III : Rp5.000.000,-

Masing-masing juara mendapat trofi dan piagam

Sumber: www.mahkamahkonstitusi.go.id


Kamis, 01 Juli 2010

Mendelik Togel

Sebagai sebuah unsanctioned institution, perjudian merupakan lembaga sosial yang kehadirannya ditolak oleh masyarakat, namun masyarakat itu sendiri tidak memiliki kemampuan dalam menghilangkannya, melainkan hanya sebatas meminimalisirnya saja. Perjudian di Indonesia memiliki catatan sejarah yang panjang, mulai sejak zaman penjajahan Belanda hingga perjudian masa kini yang memiliki sistem lebih modern. Tengok http://misc.feedfury.com/content/19459303-dari-porkas-sampai-sdsb.html untuk melihat sejarah perjudian untuk lebih jelasnya.

Perjudian pada umumnya tumbuh dan berkembang secara tidak terencana. Judi toto gelap (togel) misalnya, timbul secara berangsur-angsur yang diawali tahun 1986 dengan munculnya Tanda Sumbangan Sosial Sumbangan Berhadiah (TSSB) dan Porkas, yang merupakan tebak-tebakan dalam pertandingan olahraga. Baik TSSB maupun Porkas termasuk kategori toto resmi yang dilegalisir pemerintah lewat Yayasan Dana Bakti Kesejahteraan Sosial (YDBKS). Keduanya kemudian ditutup pada 25 november 1993 setelah terjadi demostrasi besar-besaran masyarakat dan mahasiswa di gedung DPR RI Jakarta. Setelah itu, muncul berbagai ragam permainan tebak angka yang tak berizin atau biasa disebut toto gelap (togel). Sejak saat itulah perang melawan togel digenderangkan, namun tak bisa benar-benar ditumpas, sama halnya dengan prostitusi.

Eksistensi togel yang kuat meski telah ada upaya untuk memberantasnya menandakan bahwa togel memiliki daya tahan, bahkan tetap berkembang di masyarakat. Perkembangan togel menembus segala batas kelas sosial, bahkan tingkat ekonomi. Tak jarang ditemukan penjudi togel berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas.

Sebenarnya, ada banyak penyebab terseretnya seseorang ke arena meja judi. Yang paling umum adalahingin cepat kaya tanpa terlalu banyak kerja keras. Bagi kalangan menengah atas, motif berjudi togel dapat berupa hobi, tambah kekayaan, mengisi waktu luang, dan sebagainya. Bagi kalangan menengah bawah, sebagian besar motifnya adalah faktor struktural, yaitu ingin mengubah nasib secara instan menjadi orang kaya. Di kalangan ini, terbentuk pola pikir bahwa mereka sudah bekerja keras banting tulang, tapi tak kunjung ada perbaikan. Selain itu, berkembangnya judi togel juga karena aparatur yang berwenang hanya bertindak sebagai "anastesi", alias obat penahan rasa sakit. Maksudnya, setelah ditangkap, tak jarang penjudi togel kemudian diperkenalkan dengan permainan birokrasi yang busuk, suap sana-suap sini, keluarlah sang togelman dan kembali menjadi pengedar kupon togel.

Dalam konteks yang lebih luas (secara makro), maraknya togel di masayarakat (khusunya kalangan ekonomi bawah) adalah sebuah cermin dari gagalnya para politisi dalam membangun image positif di hadapan masyarakat. Banyak di antara mereka yang tidak menghargai kerja keras dan disiplin untuk meraih kesuksesan dengan menjadi aktor politik yang ingin kaya dan memiliki kekuasaan namun miskin prestasi. Para politisi tersebut secara tidak langsung telah menjadi contoh yang tidak baik bagi masyarakat. Kultur kerja keras dan disiplin tidak lagi banyak berlaku di masyarakat.

Maka dari itu, perjudian togel adalah satu hal yang perli kita perangi bersama. Ada banyak cara melakukannya, mulai dari diri sendiri dengan menumbuhkan etos kerja yang tinggi hingga dengan memknai UU no. 7 Tahun 1994 tentang Perjudian.

Semoga kita berhasil.

Ada yang punya komentar?

Menyoal Bubar-Membubarkan Ormas

Akhir-akhir ini, wacana pembubaran Front Pembela Islam/FPI, sebuah ormas bernapaskan Islam, kembali bertiup kencang. Berawal dari peristiwa pembubaran paksa acara sosialisasi mengenai hak masya­rakat atas pengobatan gratis dan RUU Badan Penyelenggara Ja­minan Sosial (BPJS) yang digelar Komisi IX DPR RI di Pakis, Banyuwangi, Jawa Timur oleh sekelompok orang dengan menggunakan berbagai atribut FPI, masalah ini terus bergulir hingga akhirnya, muncul wacana pembubaran FPI. Turut serta dalam acara itu adalah Ketua Komisi IX DPR RI, Ribka Tjiptaning serta dua anggotanya, Rieke Dyah Pita­loka dan Nur Suhud. Massa yang datang menuduh Ribka cs telah me­nye­bar­kan ideologi komunis ke masya­rakat. Anggapan itu muncul karena di antara peserta sosialisasi ada bekas tapol/napol PKI dan keluarganya.

Ketua FPI Banyuwangi, Aman Faturahman, mengatakan bahwa kegiatan sosialisasi kesehatan gratis dari Komisi IX hanya sebagai kedok, karena mereka ingin menumbuhkan semangat komunisme lagi. (http://www.antaranews.com/berita/1277385567/fpi-bubarkan-sosialisasi-kesehatan-komisi-ix-dpr)


Salah satu tokoh yang vokal menyuarakan pembubaran FPI adalah Ulil Abshar Abdalla, fungsionaris Partai Demokrat. Dalam acara Apa Kabar Indonesia TV One, Ulil mentakan banhwa FPI telah berulang kali melakukan aksi kekerasan, sehingga aksi-aksi FPI telah terpola secara sistematis. Ulil juga mengatakan bahwa meski FPI telah berulang kali diperingatkan oleh beberapa tokoh/ormas Islam lain seperti MUI, PKS, dan Muhammadiyah, FPI tetap "bandel" dan terus melakukan aksi kekerasan.

Talk show yang diwarnai dengan balas-balasan wacana pembubaran masing-masing organisasi ini semakin seru ketika Kabid Nahi Munkar DPP FPI, Munarman balas menjawab bahwa selama ini banyak pihak yang berusaha memfitnah dan membubarkan FPI. Ia mengungkapkan bahwa peristiwa yabfterjadi di Banyuwangi itu bukan disebabkan FPI secara organisasi, karena FPI Banyuwangi telah dibekukan sejak dua bulan lau untuk masa pembinaan. Yang terjadi di sana adalah orang-orang yang berpenampilan menyerupai anggota FPI dan membawa atribut organisasi. Well, menurut saya, itu adalah orang-orang FPI Banyuwangi sendiri, yang meski organisasinya sedang dibekukan, tetap melaksanakan aksi pembubaran sepihak.



Munarman menyatakan banhwa FPI bukanlah organisasi kekerasan, dan setiap tindakan yang akan dilakukan FPI cabang harus dilaporkan terlebih dahulu ke FPI Pusat. Kasus seperti di Depok, Jawa Barat, misalnya adalah kasus individual, buka organisasionalFPI, karena tak ada laporan sama sekali mengenai aksi pembubaran paksa sosialisasi HAM pada para waria tersebut.

Ulil menanggapi pernyataan Munarman tersebut dengan mengatakan bahwa pola-pola tindakan FPI bukan lagi tindakan individual, melainkan sudah secara organisasi.

Tujuan FPI menurut Munarman adalah mendorong dan mengawal polisi/aparat penegak hukum untuk aktif memberantas kejahatan. Standar prosedur FPI adalah mengirimkan usulan kepada kepolisian tentang suatu masalah. Tapi, bisa kita lihat pada kenyataannya, justru FPI seakan-akan memnggantikan posisi polisi, karena sering kali dalam aksinya, FPI malah mengusir polisi dan bertindak sendiri.

Menyimak pendapat-pendapat di atas, tampaknya memang internal control yang menjadi jawaban permasalahan FPI. Banyak anggota-anggota nakal yang perlu ditertibkan. Membentuk serikat yang aktif membela kebenaran tidaklah diharamkan di negeri ini. Namun, tentu saja dalam membentuk organisasi, perlu dicermati cara kerja dan kenggotaannya. Jangan sampai, organisasi massa diidentikkan dengan berbagai hal negatif.

Jadi, kalau semua ormas dikelola dengan baik, tidak perlu ada yang dibubarkan bukan? Justru sinergi dari masyarakat yang tergabung di dalam berbagai ormas diperlukan untuk mencapai kedaulatan sejati. Bagaimana menurut Anda, apakah FPI layak dibubarkan? Ada yang punya komentar?

Senin, 14 Juni 2010

Pelangi di Benua Hitam

Dunia gegap gempita menyambut perhelatan akbar empat tahunan, FIFA World Cup 2010 atau Paia Dunia 2010. Disadari atau tidak, gelaran spektakuler kompetisi sepak bola sejagat ini adalah gelaran yang istimewa, sebab untuk pertama kalinya diseleenggarakan di Benua Hitam, Afrika.

Sepak bola, yang secara statistik adalah olah raga paling dikenal di planet ini, telah menarik perhatian jutaan pasang mata ke Afrika Selatan, negara penyelenggara Piala Dunia 2010. Afrika Selatan dikenal sebagai Negeri Pelangi, negeri yang penuh dengan keberagaman, dan hal itu dapat kita lihat dari representasi bendera Afrika Selatan yang begitu berwarna.

Ketika FIFA memutuskan meyelenggarakan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, banyak kalangan yang ragu dengan kesiapan negara ini, apalagi ketika terjadi perampokan terhadap beberapa ofisial peserta Piala Dunia 2010 dan jurnalis asing. Yah, memang Afrika Selatan memiliki tingkat kriminalitas yang cukup tinggi, jadi kita perlu waspada dan ekstra hati-hati di sana.

Tapi, terlepas dari itu semua, perhelatan Piala Dunia akan tetap membawa orang-orang pada suguhan kompetisi yang bisa membawa banjir air mata, luapan kegembiraan, atau kekecewaan menyesakkan, atau keharuan yang mendalam. Dan tentu, Afrika Selatan akan girang bukan main ketika pendapatannya meningkat berkat penyelenggaran Piala Dunia ini. Jadi, apakah Anda akan larut dalam laga Piala Dunia 2010 juga? Mari kita nikmati bersama! Ada yang punya komentar?

Mari Bung Guncang Dunia: Dari Tiananmen – Jakarta – Dunia Maya – Kita

“Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku satu pemuda,
niscaya akan kuguncangkan dunia,”
- Ir. Soekarno, Indonesia’s Founding Father.

Mendengar kutipan Bung Karno yang terkenal itu, saya seringkali merinding. Ada semangat besar bergelora dalam kata-kata Bung Karno tersebut. Beliau sungguh menyadari arti penting dan peranan pemuda dalam sebuah perjuangan. Kata-kata beliau menjadi semacam motivasi bagai para pemuda saat itu untuk terus membantu perjuangan rakyat Indonesia demi mencapai kemerdekaan yang didambakan. Motivasi bahwa mereka memiliki keuatan, mereka dibutuhkan, dan mereka memiliki andil dalam cita-cita kemerdekaan tersebut.

Lembaran sejarah pun mencatat banyak perjuangan para pemuda dalam membangun sebuah cita-cita. Tak sedikit di antara sejarah tersebut yang berakhir dengan pengorbanan para pemuda dalam suatu pertumpahan darah.

Tragedi Tiananmen di Cina adalah salah satu peristiwa memilukan yang pernah terjadi dalam kronik politik dunia. Tragedi ini juga menjadi bukti bahwa pemerintahan tirani yang egois akan selalu melakukan berbagai cara demi mengamankan kedudukannya. Bayangkan, ratusan atau bahkan ribuan pemuda (data korban masih simpang siur) yang mayoritas mahasiswa tewas dibantai paramiliter yang dikerahkan pemerintah secara membabi buta.

Padahal, apa yang para pemuda Cina itu perjuangkan adalah sesuatu yang mulia: sebuah negara yang bersih dari korupsi pemerintahan yang kala itu semakin meraja lela. Mereka tidak terima negaranya mengalami ketidakstabilan ekonomi yang disebabkan moral bejat para politisi yang berkuasa.

Tragedi Tiananmen berawal dari peringatan kematian Hu Yaobang, mantan sekretaris jenderal partai komunis Cina (CCP) di Lapangan Tiananmen pada 15 April 1989. Hu yang mati bunuh diri, dikenal sebagai politisi yang berpikiran liberal. Oleh karena itu, ia disingkirkan dan diganti posisinya oleh Deng Xiaoping. Dalam peringatan itu, mahasiswa juga menyampaikan tuntutannya pada Perdana Menteri Li Peng agar CCP memulihkan nama baik Hu. Protes berlangsung damai dan hanya dalam skala kecil, namun disertai dengan pemogokan di Universitas Beijing.

Situasi menjadi keruh ketika terjadi bentrokan antara mahasiswa dengan polisi yang dikerahkan pemerintahan Deng Xiaoping. Deng khawatir dengan aksi protes tersebut akan meluas dan membahayakan pemerintahannya, sehingga ia menuduh lewat sebuah surat kabar bahwa mahasiswa sedang merencanakan sebuah kekacauan. Mahasiswa yang tak menerima tuduhan itu lantas ramai-ramai turun membanjiri jalan-jalan Kota Beijing (tak kurang dari 50.000 mahasiswa) dan terus melakukan aksi protes terhadap pemerintahan dan menuntut diadakannya dialog formal serta reformasi pers. Tuntutan tersebut ditolak pemerintah. Meski begitu, gelombang protes tak pernah surut, bahkan pada 4 Mei 1989 mahasiswa yang melakukan aksi protes bertambah menjadi 100.000 dan tuntutan mereka meluas menjadi tuntutan akan prodemokrasi. Protes juga diwarnai dengan aksi mogok makan sejumlah mahasiswa di Lapangan Tiananmen sejak tanggal 13 Mei 1989.

Aksi demonstrasi mahasiswa yang berlangsung berlarut-larut membuat keadaan mengalami krisis, dan akhirnya pemerintah menetapkan Undang-undang Darurat pada 20 Mei 1989, namun demonstrasi tersu berlangsung. Akhirnya, pada malam tanggal 3 Juni 1989, pemerintah mengerahkan Tentara Pembebasan Rakyat untuki mengendalikan situasi di Kota Beijing. Apa yang teradi selanjutnya adalah peristiwa pembantaian keji yang menuai protes masyarakat dunia. Pra tentara dengan tank-tank baja dan senapan AK-47 terus menyerang kumpulan mahasiswa.

"Berdiri di jalan utama kota Beijing, saya melihat seorang gadis yang rambut panjangnya dikepang ke belakang roboh ke arah belakang, tubuhnya sepertinya nyaris hancur lebur. Teman-temannya memegang kaki dan tangannya, menggotongnya dengan langkah terseok–seok, membawanya ke dalam tenda Palang Merah, namun tubuh gadis itu, lebih menyerupai puzzle merah tua yang harus disusun–susun menjadi satu kesatuan, dan bukan lagi jasad manusia yang utuh. Tiba di dalam tenda, ia diletakkan di atas lantai semen yang dingin, terbaring bersama-sama dengan sejumlah jasad-jasad lainnya yang juga tidak lengkap anggota tubuhnya, yang masih menunggu (mungkin telah tewas) pertolongan untuk dikirim ke rumah sakit. Di sana terbaring banyak sekali jasad-jasad lain yang bernasib sama dengannya,"
tulis Peter Ellingsen, seorang wartawan Australia yang menjadi saksi pembantaian Tiananmen. (http://erabaru.net/china-news-a-culture/44-china-update/2653-wartawan-australia-saksi-pembantaian-tiananmen)

Harga mahal juga harus dibayarkan para pemuda Indonesia ketika perjuangan reformasi nasional tahun 1998. Pemerintahan Soeharto yang membuat arus KKN semakin deras sudah tidak dipercaya masyarakat lagi. Krisis multidimensi yang mencengkeram Indonesia membuat masyarakat yang dipelopori mahasiswa menginginka sebuah pemerintahan baru yang bersih dari praktik KKN yang dapat membawa keluar dari krisis. Namun, pemerintahan Soeharto seakan sebuah pemerintahan abadi yang tak pernah berganti. Mahasiswa pun memulai serangkaian demonstrasi menuntut perubahan pemerintahan.

Pada 12 Mei 1998, aksi demonstrasi mahasiswa Trisakti berujung bentrokan dengan aparat kepolisian, dan menyebabkan empat orang mahasiswa Trisakti gugur serta puluhan lainnya terluka. Kejadian ini semakin menyulut mahasiswa untuk melakukan aksi yang lebih besar lagi. Pada 13 dan 14 Mei 1998, Kota Jakarta lumpuh akibat kerusuhan massal yang diwarnai penjarahan oleh pihak-pihak yang mengambil kesempatan dan tak bertanggung jawab. Saya sendiri masih ingat bahwa pada hari itu, ayah saya meliburkan diri dari pekerjaannya karena situasi Jakarta yang kian memburuk.

19 Mei 1998 adalah hari di mana mahasiswa berhasil menduduki gedung DPR/MPR. Presiden Soeharto kemudian menyerahkan kekuasaan pemerintahan pada BJ Habibie tanggal 21 Mei 1998. Sekali lagi, kita melihat kekuatan pemuda yang begitu dahsyat dapat merubah perkalanan sejarah suatu bangsa.

Kini, ketika dunia semakin modern dan pendidikan serta teknologi telah melintasi batas-batas kelas sosial, kultural, apalagi regional, lahir pula pemuda-pemuda yang terus berjuang demi kemajuan bangsa mereka. Salah satunya adalah dalam bidang internet. Dunia maya yang kini akrab dengan kita tak lepas dari sentuhan karya para pemuda jenius seperti Larry Page, Sergey Brin, Jerry Yang, David Filo, dan Mark Zuckerberg.

Kini, tinggal kita para pemuda juga, yang memutuskan apakah akan meneruskan perjuangan para pemuda seperti para pemuda di atas atau hanya kan menjadi penonton sebuah perjuangan tanpa batas dari para pemuda.

Tanpa pemuda yang tangguh, semua yang telah diperjuangkan tak ada yang meneruskan.
Tanpa pemuda yang tangguh, perubahan ke arah yang lebih baik akan sulit tercapai.
Apakah kita akan menjadi pemuda yang tangguh? Mari berusaha!

Ada yang punya komentar?

Jumat, 04 Juni 2010

Madame LaLaurie, An American Version of Jack The Ripper

Libur Telah Tiba
Libur Telah Tiba
Hore
Hore
Hore
Simpanlah Tas dan Bukumu
Lupakan Keluh Kesahmu
Libur Telah Tiba
Libur Telah Tiba
Hatiku Gembira

Yup benar, lirik lagu yang dinyanyikan Tasya ini seakan menjadi bunyi gong tanda peresmian bahwa libur memang segera datang menyapa anak-anak sekolah. Tentunya momen liburan ini adalah saat yang paling ditunggu oleh banyak anak sekolah ya. Nah, yang namanya liburan identik dengan berjalan-jalan, wisata, plesir, atau travelling. Bagi Anda yang punya anak usia sekolah dan memiliki budget yang cukup, tentu Anda tak ingin melewatkan waktu berkualitas dengan anak Anda saat liburan ini bukan? Mungkin ide untuk berwisata tadi bisa kita lakukan saat liburan ini. Ada banyak jenis wisata yang bisa kita lakukan, mulai dari yang berbau edukasi, tantangan, wisata belanja dan kuliner, sampai wisata berbau mistis. Yang terakhir disebut memang merupakan jenis wisata yang unik dan mungkin akan memberikan pengalaman yang baru bagi Anda dan keluarga. Tentunya, wisata mengunjungi tempat-tempat yang dikenal mistis ini tidak disarankan bagi Anda yang alergi dengan “dunia lain” ya.

Oh ya, bicara tentang wisata tempat mistis, di sini saya mau berbagi cerita tentang suatu tempat yang terkenal dengan kisah-kisah seram yang dapat membuat bulu roma kita bergidik. Banyak orang telah berkunjung ke sini dan mereka diajak berkeliling menikmati perjalanan yang dipenuhi dengan kisah-kisah menyeramkan. Tapi buang jauh-jauh pikiran Anda bahwa tempat yang saya maksud adalah gua, gunung, atau kuburan seperti yang umum dikisahkan di Indonesia, karena tempat yang saya maksud ada di Amerika Serikat. Amerika? Yup, tepatnya di New Orleans. Ada apa ya di sana?

New Orleans bisa diibaratkan sebagai Laut Selatannya Amerika. Maksudnya, di sana tersimpan banyak sekali cerita dan legenda yang menyinggung hal-hal berbau mistis. Bahkan ada juga yang dikatakan sebagai fakta atau kenyataan, salah satunya adalah cerita mengenai Madame LaLaurie. Pernah dengar nama yang satu ini?

Oke, mari kita bahas si Madame ini.

Dikenal sebagai wanita terkejam yang ada di planet ini, Madame LaLaurie (diperkirakan) adalah penyiksa budak yang amat menakutkan, karena tak sekadar menyiksa, ia juga (diperkirakan) menjadikan para budaknya seperti bahan eksperimen dengan menjagal, memutilasi, mencincang, dan mengurung pada budaknya. Nah, mau tahu asal-usulnya?


Madame LaLaurie terlahir dengan nama Marie Delphine Macarty pada tahun 1775 di Circa, dari pasangan Barthelmy Louis de Macarty dan Madame (vieuve) Lacompte. Sekadar informasi, keluarga Macarty sendiri adalah keluarga Irlandia yang memilih untuk pergi ke Prancis daripada harus tunduk pada pemerintahan dan politik tirani yang dikuasai Inggris. Di Prancis, kakek dari Madame LaLaurie, Bartholomew Macarty adalah seorang tentara yang disegani. Oh ya, Bartholomew sengaja merubah semua nama anaknya dan membaptis mereka dengan nama Prancis, agar identitas Irlandia mereka tak terlalu mencolok. Setelah wafatnya Bartholomew Macarty, dua anaknya, Barthelmy (ayah Madame LaLaurie) dan adiknya Jean Jacques (paman Madame LaLaurie) yang juga menjadi tentara ditugaskan oleh Raja Prancis saat itu ke Louisiana, Amerika, yang merpakan koloni Prancis. Setelah perang di Louisiana usai, mereka berdua memutuskan untuk menetap di New Orleans. Dikabarkan, Barthelmy dan Lacompte (ayah dan ibu Madame LaLaurie wafat pada saat terjadi pemberontakan budak).

Keluraga Macarty memang terkenal di New Orleans sebagai bangsawan yang kaya raya. Pada 1815, sepupunya tirinya, Augustine de Macarty terpilih menjadi walikota New Orleans, yang membuat nama keluarga Macarty semakin disegani. Madame LaLaurie sendiri dideskripsikan sebagai wanita tercantik di New Orleans saat itu yang berperilaku sopan, anggun, menawan, dan menjadi seorang sosialita yang sering mengadakan pesta dengan para tamu undangan dari kalangan atas New Orleans.

Diceritakan, Madame LaLaurie pernah menikah tiga kali semasa hidupnya. Suami pertamanya adalah Don Ramon Lopez y Angullo, seorang bangsawan Spanyol. Dari pernikahannya ini, Madame LaLaurie memiliki satu anak, yaitu Marie Francoise de Boya de Lopez y Angullo. Ramon Lopez meninggal pada tahun 1804. Setelah itu pada tahun 1808, Madame LaLaurie menikahi Jean Blanque, seorang bandar budak (saat itu di Amerika sedang zaman perbudakan kulit hitam). Pernikahannya yang kedua berakhir karena meninggalnya Blanque pada 1816. Dan pernikahannya yang ketiga dilakukan pada 25 Juni 1825 dengan seorang dokter ahli jiwa, dr. Leonard Louis LaLaurie.

Pada tahun 1831, Madame LaLaurie bersama suaminya Louis, pindah ke sebuah rumah besar yang amat indah, di 1140 Royal St. yang kemudian hingga kini dikenal sebagai salah satu objek wisata New Orleans, Madame LaLaurie Mansion atau Haunted House. Di rumahnya yang baru, Madame LaLaurie semakin memperkukuh eksistensinya sebagai wanita terkaya di New Orleans. Ia menghiasi rumahnya dengan pberbagai macam pajangan mewah, piring-piring emas, serta lukisan-lukisan karya seniman terkenal. Selain termasyhur dengan kekayaan dan kegiatan sosialitanya, Madame LaLaurie juga dikenal sangat baik pada para budaknya.

Tapi, ternyata semua itu hanyalah kedok dari seorang Madame LaLaurie saja. Dirumorkan, banyak sekali cerita miring tentang perlakuan buruknya terhadap para budaknya.

Pernah ada cerita, suatu hari, seorang pelayan Madame LaLaurie, bernama Leah yang berusia 12 tahun diminta untuk menyisir dan mengikat rambut Madame LaLaurie yang memang dikenal indah sekali. Karena ia menyenggol sesuatu, tak sengaja ia membuat beberapa helai rambut Madame LaLaurie tercabut. Kaget dan diliputi kemarahan, serta merta Madame LaLaurie langsung mengambil cemeti. Takut akan dicambuk, Leah pun berlarian dan sampai di balkon lantai tiga rumah mewah itu dan ia bingung harus lari ke mana lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk menuruni balkon, namun ia terpeleset dan langsung jatuh ke halaman. Nyawanya tak bisa diselamatkan. Kabarnya, jasad Leah dikubur di sebuah sumur yang sekarang hanya nampak seperti sebuah lubang di Madame LaLaurie Mansion. Kejadian itu ternyata bertepatan dengan datangnya sepupu Madame LaLaurie. Karena tak bias menutupi kesalahannya, akhirnya kasus itu dibawa ke pengadilan dan ia dikenai denda sebesar $300.00 saja, tanpa memenjarakan sang Madame. Sejak saat itu, pengadilan memantau perlakuan Madame terhadap budaknya yang banyak orang berpendapat terlalu tidak manusiawi (tidak manusiawi itu wajar saat zaman perbudakan Amerika). Hakim Jean Francois Canonge pun pernah mengadakan inspeksi ke rumah Madame LaLaurie, dan ia memutuskan untuk menyita dan melelang ulang budak-budak Madame LaLaurie. Namun, dengan kelicikannya, ia melobi berhasil koleganya untuk membeli budak-budak yang dilelang dan kemudian menjualnya kembali pada dirinya.
Nah, pada tanggal 11 April 1834, Madame LaLaurie mengadakan pesta besar. Namun, ditengah pesta terjadi kebakaran. Api berasal dari arah dapur, yang ltidak satu bangunan dengan rumah utama. Banyak orang meyakini kebakaran itu sengaja direkayasa oleh dua orang pelayan sebagai tanda permintaan tolong mereka. Pada saat ditemukan, dua orang pelayan itu sedang dalam keadaan terikat. Dan, yang paling mengerikan adalah bahwa ketika tim pemadam kebakaran naik ke loteng untuk memadamkan api, mereka melihat pemandangan yang mereka kira hanya akan ada di neraka. Simak kutipan berikut.

"... Pintu menuju loteng dibaut, sehingga pemadam kebakaran harus menggunakan alat pendobrak pintu untuk menjebol pintu. Ketika pintu terbuka, apa yang mereka lihat cukup untuk membuat isi perut keluar dan mual-mual. Begitu pintu terbuka seluruh area berjalan di loteng itu bau busuk!
Dari beberapa saksi yang menyaksikan disana, mereka begitu jelas melihat lusinan pelayan yang sudah tidak jelas lagi bentuknya, ada yang dipotong-potong, juga ada yang terikat di tembok atau lantai. Lebih parahnya dan merupakan pemandangan yang mengerikan, ada yang menjadi objek untuk operasi eksperimen!
Ada potongan daging yang terdapat di bawah karpet sampai hiasan dinding. Ada satu pelayan lelaki terlihat sangat aneh dan akhirnya seperti menjadi korban pergantian alat kelamin. Ada pelayan yang kepalanya dilubangi dan ada tongkat seperti “stir di kepalanya”. Ada pelayan wanita terkurung di kandang yang kecil, parahnya tangan dan kakinya seperti habis dipotong kemudian disambungkan lagi, dijadikan seperti kepiting!
Ada pelayan wanita yang kaki dan tangannya dipotong, lalu bagian sudut dari dagingnya di iris-iris halus sehingga terlihat seperti ulat bulu. Ada pelayan yang mulutnya dijahit dan dibiarkan hingga mati kelaparan. Ada juga yang tangannya dipisah-pisahkan dari anggota badan yang lain. Ada pelayan yang sampai isi perutnya dikeluarkan, ususnya juga sampai terurai-urai di lantai. Ada pelayan yang masih muda, kulit mukanya terkelupas, sampai otot mukanya terlihat, hingga keluar darah dari urat halus. Beberapa budak mulutnya dijahit dan kelaparan sampai mati, yang lainnya lagi tangannya dijahit dengan bagian badan, budak perempuan muda yang meloncat dari atap, otak diaduk dengan tongkat, perempuan dipakukan ke lantai oleh usus, lidah dijahit bersama-sama, mulut penuh dengan kotoran dan dijahit, pakaian dari kulit manusia, penis diiris,dan lain-lain.
Selain itu juga ditemukan di loteng berupa cangkir dan mangkok yang didalamnya penuh dengan zat-zat berwarna merah. Dan juga selain itu di lantai banyak botol-botol yang berisi sama, zat berwarna merah berserakan di lantai. Yang akhirnya diketahui bahwa zat cair berwarna merah itu adalah darah!
Luka-luka yang mereka alami sudah terinfeksi oleh penyakit dan kuman-kuman hingga lalat dimana-mana. kebanyakan koraban sudah mati, tapi buat yang masih hidup mereka memohon-mohon agar dibunuh saja, jadi penderitaan mereka cepat berakhir."
http://lenren.wordpress.com/2009/05/26/delphine-lalaurie/


Tentunya penemuan ini menghebohkan masyarakat sekota New Orleans. Maka tak heran bila akhirnya massa berkumpul di depan rumahnya dan menuntutnya untuk dihukum. Namun, Madamme LaLaurie berhasil melarikan diri, an tak ada yang tahu ke mana perginya si pembunuh berantai ini. Simak kutipan berikut.


"... At the time of her daily ride in her carriage it drove up before the door and Mme. Lalaurie, dressed in her usual elegant style, stepped out on the sidewalk and entered the vehicle.
In a split-second the horses took off at full speed away from her house -- the last time she would be there. Mme. Lalaurie was taking her last drive in the fashionable quarter and it was a drive for her very life. It took but an instant for the crowd to recover from her quick thinking and in another moment they were at her back, yelling, hooting and screaming: "Stop that carriage!" "She is running away!" "Drag her out." "Shoot her." "Shoot the horses!"
But the mob's efforts were in vain. The coachman drove furiously at break neck speed. The horses had borne their mistress before and would not fail her now. Fashionable New Orleans stopped its carriages and watched in blank amazement the flying vehicle and the uproarious, uncontrollable mob. No human speed could keep up with those horses; the crowd breathless and panting, was left in the distance.
The carriage reached Bayou St. John and a schooner that was moored near the bank. She paid the captain a handful of gold and the vessel set sail for Mandeville. Mme. Lalaurie, it is said, took refuge for 10 days near the Claiborne Cottages in Covington. Some say she then made her way to Mobile or New York and then to Paris. However, there have been persistent stories that she never left the Northshore."
http://www.nola.com/lalaurie/history/intro.html


Setelah kepergian pemiliknya, rumah mewah Madamme LaLaurie dibiarkan kosong selama bertahun-tahun, tak ada yang mau menempatinya. Bahkan, mucul tahayul di kalangan warga setempat agar jangan melintasi sisi jalan rumah Madame LaLaurie. Atau yang lebih ekstrem lagi ada warga yang tak mau sama sekali melewati blok di mana rumah Madame LaLaurie berada. Namun akhirnya, setelah sekian lama ada imigran asal Italia yang mau menempati rumah itu meski tak lama, karena keluarga sang penghuni sering menjadi histeris dan berhalusinasi melihat wanita Prancis yang sedang berteriak di balkon. Setelah keluarga imigran Italia itu, seorang pemilik salon juga membuka usaha di sana. Namun, seakan sudah dicap menjadi pembawa sial, sang empunya salon sering dirampok, yang akhirnya membuat ia enggan meneruskan usahanya di sana. Rumah itu kembali kosong sampai sekarang akhirnya dijadikan salah satu tempat yang ramai dikunjungi wisatawan.


Oh ya, nasib Madame LaLaurie tak pernah diketahui lagi, meski kemudian ia dikabarkan meninggal. Ada banyak versi yang menceritakan meninggalnya sang Madame. Namun, telah ditemukan sebuah piring retak yang bertuliskan:

"Madame LaLaurie, née Marie Delphine Macarty, décédée à Paris, le 7 Desember, 1842, à l'Age de 68 ans."
(Madame Lalaurie, lahir Marie Delphine Macarty, meninggal di Paris, 7 Desember 1842 pada usia 68 tahun.)
http://lenren.wordpress.com/2009/05/26/delphine-lalaurie/

Wah, kisahnya menyeramkan sekali ya, meski belum diketahui kebenarannya, tapi jadi mengingatkan dengan Jack The Ripper, pembunuh yang serupa kejamnya di Inggris, tapi ini versi wanita dan Amerikanya. Haha...

Jadi, apakah Anda telah menemukan destinasi yang tepat untuk liburan kali ini? Bagaimana jika ke New Orleans mengunjungi Madame LaLaurie Mansion? Ada yang punya komentar?

Senin, 31 Mei 2010

Apresiasi Diri, Pentingkah?

Sepanjang hidup, manusia memiliki banyak kebutuhan dan dihadapkan pada bayak pilihan. Jadi, manusia memang akrab dengan dunia pilihan dan memilih, karena dua hal tersebut menjadi sesuatu yang niscaya dalam kehidupan manusia. Kalau dipikir-pikir, hidup itu juga merupakan serangkaian proses memilih, di mana pilihan-pilihan yang kita ambil akan saling berhubungan satu sama lain.

Masalahnya, tentu kita tak bisa sembarang memilih suatu pilihan, karena setiap pilihan ada konsekuensinya bukan? Bahkan ketika kita telah menjatuhkan pilihan, terkadang kita masih memikirkan efektivitas atau ketepatan keputusan tersebut. Walhasil, seringkali kita berpikir dalam hati, "Aduuuh... Bagus nggak ya, yang tadi saya pilih?"

Well, sebenarnya ini cuma berbagi hal yang baru-baru ini saya rasakan setelah memilih jurusan untuk jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Setelah menentukan pilihan, saya bertanya-tanya akan ketepatan pilihan tersebut, apakahmemang benar berprospek cerah, menguntungkan, atau justru sudah basi dan tak lagi terlalu dibutuhkan. Padahal sebenarnya pertanyaan-pertanyaan itu sudah pernah tayang di alam pikiran saya, dan sudah berhasil saya jawab. Namun, tetap saja, pertanyaan-pertanyaan itu kembali muncul di benak saya. Akhirnya, pertanyaan-pertanyaan itu membuat hati dan pikiran saya lelah.

Sejenak berpikir kembali, saya memutuskan untuk membuang jauh-jauh semua pemikiran yang tadi ada di otak saya. Saya pikir, lebih baik saya mensyukuri pilihan saya itu, bersiap untuk menjalaninya, dan tetap berusaha menjadi yang terbaik. Bagi saya, setelah memutuskan suatu pilihan, adalah saatnya untuk berdiri tegak, melangkah dengan pasti, dan dengan senyum penuh harapan menyongsong apapun yang akan terjadi. Itu semua kemudian membuat hati saya menjadi lebih tenang, karena saya merasa telah mengapresiasi diri saya sendiri. Saya tak bermaksud ge-er atau sombong dengan apresiasi diri ini, saya hanya membuat diri saya sendiri belajar yakin dalam membuat keputusan dan selalu berpikir positif. Jadi, kalau buat saya, apresiasi diri itu penting, namun harus dalam takaran yang sewajarnya. Bagaimana dengan Anda, pentingkah mengapresiasi diri sendiri? Ada yang punya komentar?

Saatnya Dunia Bersatu

Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun.

Luasnya lautan menjadi saksi bisu kekejaman manusia tamak yang kembali berulah di dunia. Laut seakan memerah karena pertumpahan darah yang terjadi. Kesadisan militer Israel menyerang rombongan relawan dan aktivis kemanusiaan dari berbagai negara di perairan internasional membuat dunia terhenyak. Setidaknya 10 orang tewas dan puluhan lainnya terluka (begitu yang saya dengar dari pemberitaan media massa) dalam serangan di atas kapal Mavi Marmara, kapal utama dari 6 kapal rombongan para relawan internasional.

Militer Israel menyerang dari helikopter dan terjun ke kapal, kemudian menembaki para relawan. Merka berdalih bahwa pihak Israel lebih dahulu mendapatkan serangan dari para relawan dan menyebabkan 4 orang tentara Israel tewas. Kabar tersebut belum dapat dikonfirmasi kebenarannya hingga saat ini, yang jelas, relawan dan aktivis kemanusiaan dalam 6 kapal tersebut tak ada yang membawa senjata yang dapat digunakan untuk menyerang Israel. Mereka hanya membawa makanan, material bangunan, dan keperluan sekolah bagi anak-anak untuk dibagikan pada rakyat di sana.

Memang, sejak terdengar kabar relawan dan aktivis kemanusiaan internasional akan menyambangi Jalur Gaza untuk mengulurkan bantuan bagi masyarakat di Gaza yang mengalami kesusahan, pemerintah Israel langsung mempersiapkan sistem penghalauan. Tenda-tenda besar segera dibangun untuk keperluan menginterogasi relawan dan aktivis yang tertangkap, dan kemudian akan langsung diusung ke bandara untuk dideportasi. Tak mau repot-repot, bagi yang menolak dideportasi akan langsung dijebloskan ke penjara, sebuah proses final yang tak dapat diganggu gugat.

Relawan dan aktivis yang bergabung dalam misi damai kemanusiaan ini terdiri dari berbagai negara dan kalangan, seperti LSM, jurnalis, diplomat, peraih nobel, bahkan orang Yahudi sendiri. Sejak keberangkatan rombongan kapal relawan dan aktivis ini dimulai, Israel telah membuat ketegangan, karena selalu mengintai dan kemudian mengepung kapal-kapal para relawan, hingga akhirnya terjadi penyerangan pada Senin pagi.

Israel telah melancarkan agresi militer di daerah perairan internasional, pada para relawan dan aktivis, yang notabene adalah rakyat sipil. Alasannya, para relawan itu tidak boleh memberi bantuan ke Gaza, karena wilayah Gaza dan perairan sekitarnya, termasuk perairan internasional di sekitarnya sedang diblokade dalam 3 tahun terakhir, dan meyakinkan bahwa di Gaza tidak terjadi krisis kemanusiaan. Bayangkan, perairan internasional pun bisa diblokade oleh Israel. Dan juga, apakah Israel sangat hebat, hingga mampu memastikan tak ada krisis kemanuisaan di Gaza, sementara rakyat Gaza sendiri langsung mempersiapkan pelabuhan mereka untuk menyambut kapal-kapal batuan dan relawan yang datang? Ini menjadi bukti nyata bahwa Israel memang telah melanggar hukum internasional.

Seharusnya ini semua bisa membuat dunia internasional bersatu dan merapat melawan segala jenis tindakan yang melanggar hukum internasional dan tidak manusiawi, yang merugikan banyak pihak. Tak ada satu negara pun yang berada di atas kuasa hukum internasional. Saya bukan ingin mengompor-ngompori orang untuk membenci Israel, hanya saja kita memang sudah seharusnya melawan kekejaman yang terjadi di zaman sekarang ini, siapapun pelakunya. Bukankah begitu? Ada yang punya komentar?