Monday, June 14, 2010

Mari Bung Guncang Dunia: Dari Tiananmen – Jakarta – Dunia Maya – Kita

“Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku satu pemuda,
niscaya akan kuguncangkan dunia,”
- Ir. Soekarno, Indonesia’s Founding Father.

Mendengar kutipan Bung Karno yang terkenal itu, saya seringkali merinding. Ada semangat besar bergelora dalam kata-kata Bung Karno tersebut. Beliau sungguh menyadari arti penting dan peranan pemuda dalam sebuah perjuangan. Kata-kata beliau menjadi semacam motivasi bagai para pemuda saat itu untuk terus membantu perjuangan rakyat Indonesia demi mencapai kemerdekaan yang didambakan. Motivasi bahwa mereka memiliki keuatan, mereka dibutuhkan, dan mereka memiliki andil dalam cita-cita kemerdekaan tersebut.

Lembaran sejarah pun mencatat banyak perjuangan para pemuda dalam membangun sebuah cita-cita. Tak sedikit di antara sejarah tersebut yang berakhir dengan pengorbanan para pemuda dalam suatu pertumpahan darah.

Tragedi Tiananmen di Cina adalah salah satu peristiwa memilukan yang pernah terjadi dalam kronik politik dunia. Tragedi ini juga menjadi bukti bahwa pemerintahan tirani yang egois akan selalu melakukan berbagai cara demi mengamankan kedudukannya. Bayangkan, ratusan atau bahkan ribuan pemuda (data korban masih simpang siur) yang mayoritas mahasiswa tewas dibantai paramiliter yang dikerahkan pemerintah secara membabi buta.

Padahal, apa yang para pemuda Cina itu perjuangkan adalah sesuatu yang mulia: sebuah negara yang bersih dari korupsi pemerintahan yang kala itu semakin meraja lela. Mereka tidak terima negaranya mengalami ketidakstabilan ekonomi yang disebabkan moral bejat para politisi yang berkuasa.

Tragedi Tiananmen berawal dari peringatan kematian Hu Yaobang, mantan sekretaris jenderal partai komunis Cina (CCP) di Lapangan Tiananmen pada 15 April 1989. Hu yang mati bunuh diri, dikenal sebagai politisi yang berpikiran liberal. Oleh karena itu, ia disingkirkan dan diganti posisinya oleh Deng Xiaoping. Dalam peringatan itu, mahasiswa juga menyampaikan tuntutannya pada Perdana Menteri Li Peng agar CCP memulihkan nama baik Hu. Protes berlangsung damai dan hanya dalam skala kecil, namun disertai dengan pemogokan di Universitas Beijing.

Situasi menjadi keruh ketika terjadi bentrokan antara mahasiswa dengan polisi yang dikerahkan pemerintahan Deng Xiaoping. Deng khawatir dengan aksi protes tersebut akan meluas dan membahayakan pemerintahannya, sehingga ia menuduh lewat sebuah surat kabar bahwa mahasiswa sedang merencanakan sebuah kekacauan. Mahasiswa yang tak menerima tuduhan itu lantas ramai-ramai turun membanjiri jalan-jalan Kota Beijing (tak kurang dari 50.000 mahasiswa) dan terus melakukan aksi protes terhadap pemerintahan dan menuntut diadakannya dialog formal serta reformasi pers. Tuntutan tersebut ditolak pemerintah. Meski begitu, gelombang protes tak pernah surut, bahkan pada 4 Mei 1989 mahasiswa yang melakukan aksi protes bertambah menjadi 100.000 dan tuntutan mereka meluas menjadi tuntutan akan prodemokrasi. Protes juga diwarnai dengan aksi mogok makan sejumlah mahasiswa di Lapangan Tiananmen sejak tanggal 13 Mei 1989.

Aksi demonstrasi mahasiswa yang berlangsung berlarut-larut membuat keadaan mengalami krisis, dan akhirnya pemerintah menetapkan Undang-undang Darurat pada 20 Mei 1989, namun demonstrasi tersu berlangsung. Akhirnya, pada malam tanggal 3 Juni 1989, pemerintah mengerahkan Tentara Pembebasan Rakyat untuki mengendalikan situasi di Kota Beijing. Apa yang teradi selanjutnya adalah peristiwa pembantaian keji yang menuai protes masyarakat dunia. Pra tentara dengan tank-tank baja dan senapan AK-47 terus menyerang kumpulan mahasiswa.

"Berdiri di jalan utama kota Beijing, saya melihat seorang gadis yang rambut panjangnya dikepang ke belakang roboh ke arah belakang, tubuhnya sepertinya nyaris hancur lebur. Teman-temannya memegang kaki dan tangannya, menggotongnya dengan langkah terseok–seok, membawanya ke dalam tenda Palang Merah, namun tubuh gadis itu, lebih menyerupai puzzle merah tua yang harus disusun–susun menjadi satu kesatuan, dan bukan lagi jasad manusia yang utuh. Tiba di dalam tenda, ia diletakkan di atas lantai semen yang dingin, terbaring bersama-sama dengan sejumlah jasad-jasad lainnya yang juga tidak lengkap anggota tubuhnya, yang masih menunggu (mungkin telah tewas) pertolongan untuk dikirim ke rumah sakit. Di sana terbaring banyak sekali jasad-jasad lain yang bernasib sama dengannya,"
tulis Peter Ellingsen, seorang wartawan Australia yang menjadi saksi pembantaian Tiananmen. (http://erabaru.net/china-news-a-culture/44-china-update/2653-wartawan-australia-saksi-pembantaian-tiananmen)

Harga mahal juga harus dibayarkan para pemuda Indonesia ketika perjuangan reformasi nasional tahun 1998. Pemerintahan Soeharto yang membuat arus KKN semakin deras sudah tidak dipercaya masyarakat lagi. Krisis multidimensi yang mencengkeram Indonesia membuat masyarakat yang dipelopori mahasiswa menginginka sebuah pemerintahan baru yang bersih dari praktik KKN yang dapat membawa keluar dari krisis. Namun, pemerintahan Soeharto seakan sebuah pemerintahan abadi yang tak pernah berganti. Mahasiswa pun memulai serangkaian demonstrasi menuntut perubahan pemerintahan.

Pada 12 Mei 1998, aksi demonstrasi mahasiswa Trisakti berujung bentrokan dengan aparat kepolisian, dan menyebabkan empat orang mahasiswa Trisakti gugur serta puluhan lainnya terluka. Kejadian ini semakin menyulut mahasiswa untuk melakukan aksi yang lebih besar lagi. Pada 13 dan 14 Mei 1998, Kota Jakarta lumpuh akibat kerusuhan massal yang diwarnai penjarahan oleh pihak-pihak yang mengambil kesempatan dan tak bertanggung jawab. Saya sendiri masih ingat bahwa pada hari itu, ayah saya meliburkan diri dari pekerjaannya karena situasi Jakarta yang kian memburuk.

19 Mei 1998 adalah hari di mana mahasiswa berhasil menduduki gedung DPR/MPR. Presiden Soeharto kemudian menyerahkan kekuasaan pemerintahan pada BJ Habibie tanggal 21 Mei 1998. Sekali lagi, kita melihat kekuatan pemuda yang begitu dahsyat dapat merubah perkalanan sejarah suatu bangsa.

Kini, ketika dunia semakin modern dan pendidikan serta teknologi telah melintasi batas-batas kelas sosial, kultural, apalagi regional, lahir pula pemuda-pemuda yang terus berjuang demi kemajuan bangsa mereka. Salah satunya adalah dalam bidang internet. Dunia maya yang kini akrab dengan kita tak lepas dari sentuhan karya para pemuda jenius seperti Larry Page, Sergey Brin, Jerry Yang, David Filo, dan Mark Zuckerberg.

Kini, tinggal kita para pemuda juga, yang memutuskan apakah akan meneruskan perjuangan para pemuda seperti para pemuda di atas atau hanya kan menjadi penonton sebuah perjuangan tanpa batas dari para pemuda.

Tanpa pemuda yang tangguh, semua yang telah diperjuangkan tak ada yang meneruskan.
Tanpa pemuda yang tangguh, perubahan ke arah yang lebih baik akan sulit tercapai.
Apakah kita akan menjadi pemuda yang tangguh? Mari berusaha!

Ada yang punya komentar?

No comments:

Post a Comment