Tuesday, July 31, 2012

Big: Too Big to Be True

Inilah karya yang berhasil membuat saya terobsesi terhadap dunia perfilman. Saya ingat, ketika itu saya umur 8 tahun, hari itu hari libur natal, dan semua anak kecil tahu, bahwa natal berarti akan ada serbuan film bagus di televisi, dan malam itu sebuah stasiun swasta menayangkan Big (1988). Film ini sangat sukses mengaduk-aduk hati saya. Penuh canda tawa di awal dan sepanjang film, romansa di tengahnya, dan menghadirkan nuansa haru biru pada penutupnya. It was a brilliant watching experience. Sejak saat itu, saya tertarik untuk terus mengeksplorasi dunia film.

Jika ada yang bertanya apa menjadikan Big istimewa bagi saya, saya akan menjawab bahwa setelah menonton film ini untuk pertama kalinya, saya tahu bahwa menjadi orang dewasa bukanlah hal yang menyenangkan. Saat itu saya pikir mungkin lebih baik kalau saya tetap menjadi anak-anak, tidak perlu bersaing dengan orang-orang licik (well, we have to admit there are bunch of spoiled brat though hahaha), tidak takut akan kesepian karena ada orang tua, keluarga, dan teman sepermainan yang menemani, tidak perlu pusing memikirkan hal-hal berat seperti uang, kekuasaan, atau bahkan cinta. All we have to do as a child is play, have fun, play, and have fun again! Tapi pada akhirnya, kita semua tahu bahwa tidak ada yang tidak berubah bukan? Di dunia ini satu-satunya hal yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Setiap orang akan tumbuh dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua, hingga akhirnya bertemu kematian. That's a natural process, we can do nothing to change that.

Ketika rilis tahun 1988, Big menjadi hit besar dan sukses di pasaran, meraup US$151,668,774 pada pemutarannya di seluruh dunia. Raupan dolar itu menempatkan film arahan sutradara Penny Marshall (Awakenings, Riding in Cars with Boys) ini pada urutan kedua dalam Box Office Opening Weekend. Tak hanya itu, dari segi kritik, film ini mendapat respon yang cukup positif. Pada ajang Academy Awards 1989, Big dinominasikan dalam dua kategori, Best Actor in a Leading Role untuk Tom Hanks dan Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen untuk Gary Ross dan Anne Spielberg.

***

Joshua "Josh" Baskin (David Moscow, Tom Hanks) adalah bocah 13 tahun yang sedang tumbuh menjadi remaja. Seperti anak-anak lain, ia ingin memiliki kekasih, menjadi hebat dalam segala hal, berbuat mesum, dan mencoba hal-hal yang baru. Meski begitu, sifat kekanak-kanakkan masih terlihat jelas dalam dirinya. Ia masih suka bermain video game dan melalaikan tugas-tugasnya, masih takut mendekati anak gadis, serta berbuat jahil bersama teman baiknya, Billy Kopecki (Jared Rushton). Tetapi dalam proses ini ia menemukan dirinya berada dalam posisi sulit, ia pikir menjadi anak kecil adalah suatu hal yang tak menguntungkan. Bahkan untuk naik roller coaster di sebuah festival malam pun ia masih tak diizinkan karena belum cukup tinggi.

Sedih dan kecewa dengan keterbatasan yang dimilikinya sebagai anak-anak, Josh mendatangi sebuah mesin permainan ajaib Zoltar Speaks dan mengucapkan permohonan yang selama ini didambakannya: menjadi pria dewasa. Tanpa disadari, permainan itu menjadi awal petualangan menakjubkan yang takkan dilupakan seumur hidupnya. Permohonan Josh terwujud dan kini ia harus merasakan manis getir menjadi orang dewasa. Pertengkaran dua orang dewasa, tindak kriminal, bisnis, pekerjaan, uang, cinta menjadi keseharian baru baginya.

Meski awalnya ia merasa kesepian dan tak tahu berbuat apa, tampaknya Dewi Fortuna selalu ada di samping Josh. Ia melamar pekerjaan di sebuah perusahaan mainan (kids stuff for sure), diterima, bahkan ia menduduki jabatan tinggi di kantornya yang membuat saingannya, Paul Davenport (John Heard) kesal setengah mati. Pemilik perusahaan itu, MacMillan (Robert Loggia) kagum betapa cemerlang dan luar biasanya ide-ide dan imajinasi Josh dalam menemukan mainan-mainan baru. Tak hanya itu, ia juga bertemu dengan Susan (Elizabeth Perkins), wanita yang membuatnya "jatuh hati" in his kid way. Sebaliknya, Susan memiliki perasaan yang begitu besar untuk Josh dan seringkali ia merasa sedih karena status hubungan mereka yang tak jelas. Namun, kini ia tahu bahwa tak satupun dari hal itu membuatnya senang menjadi dewasa. Sebagai anak-anak, tentu Josh merindukan kasih sayang keluarga, bersekolah, serta bermain dan berbuat jahil dengan teman-teman sebayanya. Ketika Susan mengetahui fakta bahwa Josh adalah bocah 13 tahun, dengan lapang dada ia melepas kepergian Josh, merelakannya kembali ke kehidupan anak-anaknya. Ia sadar bahwa Josh too big too be true, sempurna sekaligus aneh sebagai seorang pria dewasa. Senyuman Susan pada penutup film bagi saya menandakan bahwa ia akan tetap mencintai Josh, kali ini sebagai seorang anak.

Acungan jempol perlu saya berikan kepada Gary Ross dan Anne Spielberg yang telah menulis naskah film dengan alur yang begitu indah ini. Premis yang mereka ciptakan sangat cerdas, mengingatkan kita bahwa a kid is a kid, no matter how big his/her physical size, bahwa proses lebih penting ketimbang hasil. Seseorang yang senantiasa berproses dalam kehidupan akan mengerti bahwa menjadi dewasa memerlukan kesiapan, jika tidak kita hanya akan menjadi orang yang terjebak dalam tubuh besar tetapi masih bersifat anak-anak, dan sebagai orang dewasa, tidak ada yang lebih memalukan dari hal tersebut. Oleh karena itu, ungkapan be careful what you wish for sepertinya memang penting bagi kita semua.

Salut tentu saya utarakan pula pada Tom Hanks yang dengan sangat brilian membawakan karakter Josh dewasa namun fragile. Salah satu adegan favorit saya adalah pada saat Josh untuk pertama kalinya menginap sendiri di sebuah kamar sewaan kumuh. Dalam adegan tersebut, Hanks sangat piawai memainkan jiwa anak-anak ketika ketakutan menghadapi hal baru. Terakhir, saya harus mengucapkan terima kasih kepada Howard Shore atas scoring-nya yang sangat indah di sepanjang film, yang memperkuat jiwa cerita ini.

Meski begitu, saya rasa ada beberapa bagian di film ini yang dapat memperlemah karakter Josh, di antaranya pada saat Josh berciuman di bibir dengan Susan. Saya rasa jarang sekali ada anak usia 13 tahun yang tahu dan berani melakukan ciuman bibir dengan orang dewasa. Pada bagian lain, Josh juga diceritakan meyiapkan sebuah presentasi bisnis yang menurut saya terlalu serius, sementara biasanya anak-anak mudah terdistraksi ketika ditugasi beban berat. Namun, hal itu tidak membuat Big cacat di mata saya. Bagi saya menonton film berdurasi 104 menit ini seperti sedang membaca cerita dongeng. Indah dan menarik, tapi kita harus sadar bahwa itu sebuah alat agar kita mampu memetik hikmah di balik keindahannya tersebut. Big merupakan salah satu film paling memorable yang pernah saya tonton, kisahnya atak lekang oleh waktu. It's 5 out of 5 stars for me. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:


Director: Sydney Pollack
Stars: Dustin Hoffman, Jessica Lange, Teri Garr
Genre: Comedy, Drama, Romance
Runtime: 116 minutes

Michael bukan sembarang aktor. Ia pernah dipuji oleh New York Critics atas penampilannya. Karena itulah, Michael tidak pernah mau menerima arahan dari sutradara yang ia anggap tidak tahu cara berakting. Bagi Michael, lebih baik tidak mendapatkan pekerjaan daripada harus mencederai keindahan dan kesempurnaan seni peran yang sangat ia cintai. Tetapi bukan Michael Dorsey namanya jika ia menyerah. Dengan tekad bulat, ia berani menembus batas yang mungkin tidak setiap orang mau melakukannya...

The Terminal (2004)

Director: Steven Spielberg
Stars: Tom Hanks, Catherine Zeta-Jones, Stanley Tucci
Genre: Comedy, Drama, Romance
Runtime: 128 minutes

No comments:

Post a Comment