Monday, June 14, 2010

Pelangi di Benua Hitam

Dunia gegap gempita menyambut perhelatan akbar empat tahunan, FIFA World Cup 2010 atau Paia Dunia 2010. Disadari atau tidak, gelaran spektakuler kompetisi sepak bola sejagat ini adalah gelaran yang istimewa, sebab untuk pertama kalinya diseleenggarakan di Benua Hitam, Afrika.

Sepak bola, yang secara statistik adalah olah raga paling dikenal di planet ini, telah menarik perhatian jutaan pasang mata ke Afrika Selatan, negara penyelenggara Piala Dunia 2010. Afrika Selatan dikenal sebagai Negeri Pelangi, negeri yang penuh dengan keberagaman, dan hal itu dapat kita lihat dari representasi bendera Afrika Selatan yang begitu berwarna.

Ketika FIFA memutuskan meyelenggarakan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, banyak kalangan yang ragu dengan kesiapan negara ini, apalagi ketika terjadi perampokan terhadap beberapa ofisial peserta Piala Dunia 2010 dan jurnalis asing. Yah, memang Afrika Selatan memiliki tingkat kriminalitas yang cukup tinggi, jadi kita perlu waspada dan ekstra hati-hati di sana.

Tapi, terlepas dari itu semua, perhelatan Piala Dunia akan tetap membawa orang-orang pada suguhan kompetisi yang bisa membawa banjir air mata, luapan kegembiraan, atau kekecewaan menyesakkan, atau keharuan yang mendalam. Dan tentu, Afrika Selatan akan girang bukan main ketika pendapatannya meningkat berkat penyelenggaran Piala Dunia ini. Jadi, apakah Anda akan larut dalam laga Piala Dunia 2010 juga? Mari kita nikmati bersama! Ada yang punya komentar?

Mari Bung Guncang Dunia: Dari Tiananmen – Jakarta – Dunia Maya – Kita

“Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku satu pemuda,
niscaya akan kuguncangkan dunia,”
- Ir. Soekarno, Indonesia’s Founding Father.

Mendengar kutipan Bung Karno yang terkenal itu, saya seringkali merinding. Ada semangat besar bergelora dalam kata-kata Bung Karno tersebut. Beliau sungguh menyadari arti penting dan peranan pemuda dalam sebuah perjuangan. Kata-kata beliau menjadi semacam motivasi bagai para pemuda saat itu untuk terus membantu perjuangan rakyat Indonesia demi mencapai kemerdekaan yang didambakan. Motivasi bahwa mereka memiliki keuatan, mereka dibutuhkan, dan mereka memiliki andil dalam cita-cita kemerdekaan tersebut.

Lembaran sejarah pun mencatat banyak perjuangan para pemuda dalam membangun sebuah cita-cita. Tak sedikit di antara sejarah tersebut yang berakhir dengan pengorbanan para pemuda dalam suatu pertumpahan darah.

Tragedi Tiananmen di Cina adalah salah satu peristiwa memilukan yang pernah terjadi dalam kronik politik dunia. Tragedi ini juga menjadi bukti bahwa pemerintahan tirani yang egois akan selalu melakukan berbagai cara demi mengamankan kedudukannya. Bayangkan, ratusan atau bahkan ribuan pemuda (data korban masih simpang siur) yang mayoritas mahasiswa tewas dibantai paramiliter yang dikerahkan pemerintah secara membabi buta.

Padahal, apa yang para pemuda Cina itu perjuangkan adalah sesuatu yang mulia: sebuah negara yang bersih dari korupsi pemerintahan yang kala itu semakin meraja lela. Mereka tidak terima negaranya mengalami ketidakstabilan ekonomi yang disebabkan moral bejat para politisi yang berkuasa.

Tragedi Tiananmen berawal dari peringatan kematian Hu Yaobang, mantan sekretaris jenderal partai komunis Cina (CCP) di Lapangan Tiananmen pada 15 April 1989. Hu yang mati bunuh diri, dikenal sebagai politisi yang berpikiran liberal. Oleh karena itu, ia disingkirkan dan diganti posisinya oleh Deng Xiaoping. Dalam peringatan itu, mahasiswa juga menyampaikan tuntutannya pada Perdana Menteri Li Peng agar CCP memulihkan nama baik Hu. Protes berlangsung damai dan hanya dalam skala kecil, namun disertai dengan pemogokan di Universitas Beijing.

Situasi menjadi keruh ketika terjadi bentrokan antara mahasiswa dengan polisi yang dikerahkan pemerintahan Deng Xiaoping. Deng khawatir dengan aksi protes tersebut akan meluas dan membahayakan pemerintahannya, sehingga ia menuduh lewat sebuah surat kabar bahwa mahasiswa sedang merencanakan sebuah kekacauan. Mahasiswa yang tak menerima tuduhan itu lantas ramai-ramai turun membanjiri jalan-jalan Kota Beijing (tak kurang dari 50.000 mahasiswa) dan terus melakukan aksi protes terhadap pemerintahan dan menuntut diadakannya dialog formal serta reformasi pers. Tuntutan tersebut ditolak pemerintah. Meski begitu, gelombang protes tak pernah surut, bahkan pada 4 Mei 1989 mahasiswa yang melakukan aksi protes bertambah menjadi 100.000 dan tuntutan mereka meluas menjadi tuntutan akan prodemokrasi. Protes juga diwarnai dengan aksi mogok makan sejumlah mahasiswa di Lapangan Tiananmen sejak tanggal 13 Mei 1989.

Aksi demonstrasi mahasiswa yang berlangsung berlarut-larut membuat keadaan mengalami krisis, dan akhirnya pemerintah menetapkan Undang-undang Darurat pada 20 Mei 1989, namun demonstrasi tersu berlangsung. Akhirnya, pada malam tanggal 3 Juni 1989, pemerintah mengerahkan Tentara Pembebasan Rakyat untuki mengendalikan situasi di Kota Beijing. Apa yang teradi selanjutnya adalah peristiwa pembantaian keji yang menuai protes masyarakat dunia. Pra tentara dengan tank-tank baja dan senapan AK-47 terus menyerang kumpulan mahasiswa.

"Berdiri di jalan utama kota Beijing, saya melihat seorang gadis yang rambut panjangnya dikepang ke belakang roboh ke arah belakang, tubuhnya sepertinya nyaris hancur lebur. Teman-temannya memegang kaki dan tangannya, menggotongnya dengan langkah terseok–seok, membawanya ke dalam tenda Palang Merah, namun tubuh gadis itu, lebih menyerupai puzzle merah tua yang harus disusun–susun menjadi satu kesatuan, dan bukan lagi jasad manusia yang utuh. Tiba di dalam tenda, ia diletakkan di atas lantai semen yang dingin, terbaring bersama-sama dengan sejumlah jasad-jasad lainnya yang juga tidak lengkap anggota tubuhnya, yang masih menunggu (mungkin telah tewas) pertolongan untuk dikirim ke rumah sakit. Di sana terbaring banyak sekali jasad-jasad lain yang bernasib sama dengannya,"
tulis Peter Ellingsen, seorang wartawan Australia yang menjadi saksi pembantaian Tiananmen. (http://erabaru.net/china-news-a-culture/44-china-update/2653-wartawan-australia-saksi-pembantaian-tiananmen)

Harga mahal juga harus dibayarkan para pemuda Indonesia ketika perjuangan reformasi nasional tahun 1998. Pemerintahan Soeharto yang membuat arus KKN semakin deras sudah tidak dipercaya masyarakat lagi. Krisis multidimensi yang mencengkeram Indonesia membuat masyarakat yang dipelopori mahasiswa menginginka sebuah pemerintahan baru yang bersih dari praktik KKN yang dapat membawa keluar dari krisis. Namun, pemerintahan Soeharto seakan sebuah pemerintahan abadi yang tak pernah berganti. Mahasiswa pun memulai serangkaian demonstrasi menuntut perubahan pemerintahan.

Pada 12 Mei 1998, aksi demonstrasi mahasiswa Trisakti berujung bentrokan dengan aparat kepolisian, dan menyebabkan empat orang mahasiswa Trisakti gugur serta puluhan lainnya terluka. Kejadian ini semakin menyulut mahasiswa untuk melakukan aksi yang lebih besar lagi. Pada 13 dan 14 Mei 1998, Kota Jakarta lumpuh akibat kerusuhan massal yang diwarnai penjarahan oleh pihak-pihak yang mengambil kesempatan dan tak bertanggung jawab. Saya sendiri masih ingat bahwa pada hari itu, ayah saya meliburkan diri dari pekerjaannya karena situasi Jakarta yang kian memburuk.

19 Mei 1998 adalah hari di mana mahasiswa berhasil menduduki gedung DPR/MPR. Presiden Soeharto kemudian menyerahkan kekuasaan pemerintahan pada BJ Habibie tanggal 21 Mei 1998. Sekali lagi, kita melihat kekuatan pemuda yang begitu dahsyat dapat merubah perkalanan sejarah suatu bangsa.

Kini, ketika dunia semakin modern dan pendidikan serta teknologi telah melintasi batas-batas kelas sosial, kultural, apalagi regional, lahir pula pemuda-pemuda yang terus berjuang demi kemajuan bangsa mereka. Salah satunya adalah dalam bidang internet. Dunia maya yang kini akrab dengan kita tak lepas dari sentuhan karya para pemuda jenius seperti Larry Page, Sergey Brin, Jerry Yang, David Filo, dan Mark Zuckerberg.

Kini, tinggal kita para pemuda juga, yang memutuskan apakah akan meneruskan perjuangan para pemuda seperti para pemuda di atas atau hanya kan menjadi penonton sebuah perjuangan tanpa batas dari para pemuda.

Tanpa pemuda yang tangguh, semua yang telah diperjuangkan tak ada yang meneruskan.
Tanpa pemuda yang tangguh, perubahan ke arah yang lebih baik akan sulit tercapai.
Apakah kita akan menjadi pemuda yang tangguh? Mari berusaha!

Ada yang punya komentar?

Friday, June 4, 2010

Madame LaLaurie, An American Version of Jack The Ripper

Libur Telah Tiba
Libur Telah Tiba
Hore
Hore
Hore
Simpanlah Tas dan Bukumu
Lupakan Keluh Kesahmu
Libur Telah Tiba
Libur Telah Tiba
Hatiku Gembira

Yup benar, lirik lagu yang dinyanyikan Tasya ini seakan menjadi bunyi gong tanda peresmian bahwa libur memang segera datang menyapa anak-anak sekolah. Tentunya momen liburan ini adalah saat yang paling ditunggu oleh banyak anak sekolah ya. Nah, yang namanya liburan identik dengan berjalan-jalan, wisata, plesir, atau travelling. Bagi Anda yang punya anak usia sekolah dan memiliki budget yang cukup, tentu Anda tak ingin melewatkan waktu berkualitas dengan anak Anda saat liburan ini bukan? Mungkin ide untuk berwisata tadi bisa kita lakukan saat liburan ini. Ada banyak jenis wisata yang bisa kita lakukan, mulai dari yang berbau edukasi, tantangan, wisata belanja dan kuliner, sampai wisata berbau mistis. Yang terakhir disebut memang merupakan jenis wisata yang unik dan mungkin akan memberikan pengalaman yang baru bagi Anda dan keluarga. Tentunya, wisata mengunjungi tempat-tempat yang dikenal mistis ini tidak disarankan bagi Anda yang alergi dengan “dunia lain” ya.

Oh ya, bicara tentang wisata tempat mistis, di sini saya mau berbagi cerita tentang suatu tempat yang terkenal dengan kisah-kisah seram yang dapat membuat bulu roma kita bergidik. Banyak orang telah berkunjung ke sini dan mereka diajak berkeliling menikmati perjalanan yang dipenuhi dengan kisah-kisah menyeramkan. Tapi buang jauh-jauh pikiran Anda bahwa tempat yang saya maksud adalah gua, gunung, atau kuburan seperti yang umum dikisahkan di Indonesia, karena tempat yang saya maksud ada di Amerika Serikat. Amerika? Yup, tepatnya di New Orleans. Ada apa ya di sana?

New Orleans bisa diibaratkan sebagai Laut Selatannya Amerika. Maksudnya, di sana tersimpan banyak sekali cerita dan legenda yang menyinggung hal-hal berbau mistis. Bahkan ada juga yang dikatakan sebagai fakta atau kenyataan, salah satunya adalah cerita mengenai Madame LaLaurie. Pernah dengar nama yang satu ini?

Oke, mari kita bahas si Madame ini.

Dikenal sebagai wanita terkejam yang ada di planet ini, Madame LaLaurie (diperkirakan) adalah penyiksa budak yang amat menakutkan, karena tak sekadar menyiksa, ia juga (diperkirakan) menjadikan para budaknya seperti bahan eksperimen dengan menjagal, memutilasi, mencincang, dan mengurung pada budaknya. Nah, mau tahu asal-usulnya?


Madame LaLaurie terlahir dengan nama Marie Delphine Macarty pada tahun 1775 di Circa, dari pasangan Barthelmy Louis de Macarty dan Madame (vieuve) Lacompte. Sekadar informasi, keluarga Macarty sendiri adalah keluarga Irlandia yang memilih untuk pergi ke Prancis daripada harus tunduk pada pemerintahan dan politik tirani yang dikuasai Inggris. Di Prancis, kakek dari Madame LaLaurie, Bartholomew Macarty adalah seorang tentara yang disegani. Oh ya, Bartholomew sengaja merubah semua nama anaknya dan membaptis mereka dengan nama Prancis, agar identitas Irlandia mereka tak terlalu mencolok. Setelah wafatnya Bartholomew Macarty, dua anaknya, Barthelmy (ayah Madame LaLaurie) dan adiknya Jean Jacques (paman Madame LaLaurie) yang juga menjadi tentara ditugaskan oleh Raja Prancis saat itu ke Louisiana, Amerika, yang merpakan koloni Prancis. Setelah perang di Louisiana usai, mereka berdua memutuskan untuk menetap di New Orleans. Dikabarkan, Barthelmy dan Lacompte (ayah dan ibu Madame LaLaurie wafat pada saat terjadi pemberontakan budak).

Keluraga Macarty memang terkenal di New Orleans sebagai bangsawan yang kaya raya. Pada 1815, sepupunya tirinya, Augustine de Macarty terpilih menjadi walikota New Orleans, yang membuat nama keluarga Macarty semakin disegani. Madame LaLaurie sendiri dideskripsikan sebagai wanita tercantik di New Orleans saat itu yang berperilaku sopan, anggun, menawan, dan menjadi seorang sosialita yang sering mengadakan pesta dengan para tamu undangan dari kalangan atas New Orleans.

Diceritakan, Madame LaLaurie pernah menikah tiga kali semasa hidupnya. Suami pertamanya adalah Don Ramon Lopez y Angullo, seorang bangsawan Spanyol. Dari pernikahannya ini, Madame LaLaurie memiliki satu anak, yaitu Marie Francoise de Boya de Lopez y Angullo. Ramon Lopez meninggal pada tahun 1804. Setelah itu pada tahun 1808, Madame LaLaurie menikahi Jean Blanque, seorang bandar budak (saat itu di Amerika sedang zaman perbudakan kulit hitam). Pernikahannya yang kedua berakhir karena meninggalnya Blanque pada 1816. Dan pernikahannya yang ketiga dilakukan pada 25 Juni 1825 dengan seorang dokter ahli jiwa, dr. Leonard Louis LaLaurie.

Pada tahun 1831, Madame LaLaurie bersama suaminya Louis, pindah ke sebuah rumah besar yang amat indah, di 1140 Royal St. yang kemudian hingga kini dikenal sebagai salah satu objek wisata New Orleans, Madame LaLaurie Mansion atau Haunted House. Di rumahnya yang baru, Madame LaLaurie semakin memperkukuh eksistensinya sebagai wanita terkaya di New Orleans. Ia menghiasi rumahnya dengan pberbagai macam pajangan mewah, piring-piring emas, serta lukisan-lukisan karya seniman terkenal. Selain termasyhur dengan kekayaan dan kegiatan sosialitanya, Madame LaLaurie juga dikenal sangat baik pada para budaknya.

Tapi, ternyata semua itu hanyalah kedok dari seorang Madame LaLaurie saja. Dirumorkan, banyak sekali cerita miring tentang perlakuan buruknya terhadap para budaknya.

Pernah ada cerita, suatu hari, seorang pelayan Madame LaLaurie, bernama Leah yang berusia 12 tahun diminta untuk menyisir dan mengikat rambut Madame LaLaurie yang memang dikenal indah sekali. Karena ia menyenggol sesuatu, tak sengaja ia membuat beberapa helai rambut Madame LaLaurie tercabut. Kaget dan diliputi kemarahan, serta merta Madame LaLaurie langsung mengambil cemeti. Takut akan dicambuk, Leah pun berlarian dan sampai di balkon lantai tiga rumah mewah itu dan ia bingung harus lari ke mana lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk menuruni balkon, namun ia terpeleset dan langsung jatuh ke halaman. Nyawanya tak bisa diselamatkan. Kabarnya, jasad Leah dikubur di sebuah sumur yang sekarang hanya nampak seperti sebuah lubang di Madame LaLaurie Mansion. Kejadian itu ternyata bertepatan dengan datangnya sepupu Madame LaLaurie. Karena tak bias menutupi kesalahannya, akhirnya kasus itu dibawa ke pengadilan dan ia dikenai denda sebesar $300.00 saja, tanpa memenjarakan sang Madame. Sejak saat itu, pengadilan memantau perlakuan Madame terhadap budaknya yang banyak orang berpendapat terlalu tidak manusiawi (tidak manusiawi itu wajar saat zaman perbudakan Amerika). Hakim Jean Francois Canonge pun pernah mengadakan inspeksi ke rumah Madame LaLaurie, dan ia memutuskan untuk menyita dan melelang ulang budak-budak Madame LaLaurie. Namun, dengan kelicikannya, ia melobi berhasil koleganya untuk membeli budak-budak yang dilelang dan kemudian menjualnya kembali pada dirinya.
Nah, pada tanggal 11 April 1834, Madame LaLaurie mengadakan pesta besar. Namun, ditengah pesta terjadi kebakaran. Api berasal dari arah dapur, yang ltidak satu bangunan dengan rumah utama. Banyak orang meyakini kebakaran itu sengaja direkayasa oleh dua orang pelayan sebagai tanda permintaan tolong mereka. Pada saat ditemukan, dua orang pelayan itu sedang dalam keadaan terikat. Dan, yang paling mengerikan adalah bahwa ketika tim pemadam kebakaran naik ke loteng untuk memadamkan api, mereka melihat pemandangan yang mereka kira hanya akan ada di neraka. Simak kutipan berikut.

"... Pintu menuju loteng dibaut, sehingga pemadam kebakaran harus menggunakan alat pendobrak pintu untuk menjebol pintu. Ketika pintu terbuka, apa yang mereka lihat cukup untuk membuat isi perut keluar dan mual-mual. Begitu pintu terbuka seluruh area berjalan di loteng itu bau busuk!
Dari beberapa saksi yang menyaksikan disana, mereka begitu jelas melihat lusinan pelayan yang sudah tidak jelas lagi bentuknya, ada yang dipotong-potong, juga ada yang terikat di tembok atau lantai. Lebih parahnya dan merupakan pemandangan yang mengerikan, ada yang menjadi objek untuk operasi eksperimen!
Ada potongan daging yang terdapat di bawah karpet sampai hiasan dinding. Ada satu pelayan lelaki terlihat sangat aneh dan akhirnya seperti menjadi korban pergantian alat kelamin. Ada pelayan yang kepalanya dilubangi dan ada tongkat seperti “stir di kepalanya”. Ada pelayan wanita terkurung di kandang yang kecil, parahnya tangan dan kakinya seperti habis dipotong kemudian disambungkan lagi, dijadikan seperti kepiting!
Ada pelayan wanita yang kaki dan tangannya dipotong, lalu bagian sudut dari dagingnya di iris-iris halus sehingga terlihat seperti ulat bulu. Ada pelayan yang mulutnya dijahit dan dibiarkan hingga mati kelaparan. Ada juga yang tangannya dipisah-pisahkan dari anggota badan yang lain. Ada pelayan yang sampai isi perutnya dikeluarkan, ususnya juga sampai terurai-urai di lantai. Ada pelayan yang masih muda, kulit mukanya terkelupas, sampai otot mukanya terlihat, hingga keluar darah dari urat halus. Beberapa budak mulutnya dijahit dan kelaparan sampai mati, yang lainnya lagi tangannya dijahit dengan bagian badan, budak perempuan muda yang meloncat dari atap, otak diaduk dengan tongkat, perempuan dipakukan ke lantai oleh usus, lidah dijahit bersama-sama, mulut penuh dengan kotoran dan dijahit, pakaian dari kulit manusia, penis diiris,dan lain-lain.
Selain itu juga ditemukan di loteng berupa cangkir dan mangkok yang didalamnya penuh dengan zat-zat berwarna merah. Dan juga selain itu di lantai banyak botol-botol yang berisi sama, zat berwarna merah berserakan di lantai. Yang akhirnya diketahui bahwa zat cair berwarna merah itu adalah darah!
Luka-luka yang mereka alami sudah terinfeksi oleh penyakit dan kuman-kuman hingga lalat dimana-mana. kebanyakan koraban sudah mati, tapi buat yang masih hidup mereka memohon-mohon agar dibunuh saja, jadi penderitaan mereka cepat berakhir."
http://lenren.wordpress.com/2009/05/26/delphine-lalaurie/


Tentunya penemuan ini menghebohkan masyarakat sekota New Orleans. Maka tak heran bila akhirnya massa berkumpul di depan rumahnya dan menuntutnya untuk dihukum. Namun, Madamme LaLaurie berhasil melarikan diri, an tak ada yang tahu ke mana perginya si pembunuh berantai ini. Simak kutipan berikut.


"... At the time of her daily ride in her carriage it drove up before the door and Mme. Lalaurie, dressed in her usual elegant style, stepped out on the sidewalk and entered the vehicle.
In a split-second the horses took off at full speed away from her house -- the last time she would be there. Mme. Lalaurie was taking her last drive in the fashionable quarter and it was a drive for her very life. It took but an instant for the crowd to recover from her quick thinking and in another moment they were at her back, yelling, hooting and screaming: "Stop that carriage!" "She is running away!" "Drag her out." "Shoot her." "Shoot the horses!"
But the mob's efforts were in vain. The coachman drove furiously at break neck speed. The horses had borne their mistress before and would not fail her now. Fashionable New Orleans stopped its carriages and watched in blank amazement the flying vehicle and the uproarious, uncontrollable mob. No human speed could keep up with those horses; the crowd breathless and panting, was left in the distance.
The carriage reached Bayou St. John and a schooner that was moored near the bank. She paid the captain a handful of gold and the vessel set sail for Mandeville. Mme. Lalaurie, it is said, took refuge for 10 days near the Claiborne Cottages in Covington. Some say she then made her way to Mobile or New York and then to Paris. However, there have been persistent stories that she never left the Northshore."
http://www.nola.com/lalaurie/history/intro.html


Setelah kepergian pemiliknya, rumah mewah Madamme LaLaurie dibiarkan kosong selama bertahun-tahun, tak ada yang mau menempatinya. Bahkan, mucul tahayul di kalangan warga setempat agar jangan melintasi sisi jalan rumah Madame LaLaurie. Atau yang lebih ekstrem lagi ada warga yang tak mau sama sekali melewati blok di mana rumah Madame LaLaurie berada. Namun akhirnya, setelah sekian lama ada imigran asal Italia yang mau menempati rumah itu meski tak lama, karena keluarga sang penghuni sering menjadi histeris dan berhalusinasi melihat wanita Prancis yang sedang berteriak di balkon. Setelah keluarga imigran Italia itu, seorang pemilik salon juga membuka usaha di sana. Namun, seakan sudah dicap menjadi pembawa sial, sang empunya salon sering dirampok, yang akhirnya membuat ia enggan meneruskan usahanya di sana. Rumah itu kembali kosong sampai sekarang akhirnya dijadikan salah satu tempat yang ramai dikunjungi wisatawan.


Oh ya, nasib Madame LaLaurie tak pernah diketahui lagi, meski kemudian ia dikabarkan meninggal. Ada banyak versi yang menceritakan meninggalnya sang Madame. Namun, telah ditemukan sebuah piring retak yang bertuliskan:

"Madame LaLaurie, née Marie Delphine Macarty, décédée à Paris, le 7 Desember, 1842, à l'Age de 68 ans."
(Madame Lalaurie, lahir Marie Delphine Macarty, meninggal di Paris, 7 Desember 1842 pada usia 68 tahun.)
http://lenren.wordpress.com/2009/05/26/delphine-lalaurie/

Wah, kisahnya menyeramkan sekali ya, meski belum diketahui kebenarannya, tapi jadi mengingatkan dengan Jack The Ripper, pembunuh yang serupa kejamnya di Inggris, tapi ini versi wanita dan Amerikanya. Haha...

Jadi, apakah Anda telah menemukan destinasi yang tepat untuk liburan kali ini? Bagaimana jika ke New Orleans mengunjungi Madame LaLaurie Mansion? Ada yang punya komentar?