Tampilkan postingan dengan label Tom Cruise. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tom Cruise. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Desember 2012

Collateral: Fight Against The Lost Soul

Saya selalu percaya bahwa setiap manusia dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci, polos, dan tak berdosa. Tantangan, rintangan, godaan, dan khilaf di sepanjang perjalanan hiduplah yang dapat membelokkan kesucian manusia dan menciptakan jenis manusia lain yang sama sekali berbeda, manusia “jahat”. Bagi saya, orang-orang jahat itu adalah manusia yang kehilangan jiwa mereka, tersesat dalam gemerlap dunia fana. Mereka melihat suatu realitas dari sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang, sudut pandang tanpa jiwa dan hati nurani. Karena itulah bagi saya orang yang memiliki sifat jahat belum tentu dapat sepenuhnya dipesalahkan atas pebuatan mereka. Karakter penjahat seperti ini sangat dinamis dan dapat dieksplorasi lebih jauh lagi, sehingga banyak film thriller yang menciptakan karakter demikian, salah satunya dalam Collateral (2004).

Dalam Collateral, penulis naskah Stuart Beattie menciptakan karakter Vincent (Tom Cruise), seorang pembunuh bayaran yang menganggap pekerjaannya hanyalah pekerjaan biasa, sama seperti orang-orang lain yang bekerja untuk mencari nafkah. Ia tidak peduli siapa korbannya atau apa yang mereka lakukan hingga mereka menjadi target pembunuhan. Tanpa belas kasihan, ia hanya memikirkan bagaimana cara membunuh yang efisien dan efektif, menerima bayaran atas pekerjaannya, dan bersenang-senang setelahnya. Kali ini, ia dipekerjakan oleh Felix (Javier Bardem) seorang mafia narkotika yang menghadapi ancaman tuntutan kriminal. Pekerjaannya kali ini tidak bisa dianggap enteng, karena Vincent harus membunuh lima orang yang akan memberatkan Felix dalam satu malam saja. Semua target pembunuhan berada di Los Angeles, sebuah kota yang menurut Vincent sangat individualis.

Menuju lokasi target pertama, Vincent menumpang taksi yang dikemudikan oleh supir ramah dan komunikatif, Max (Jamie Foxx). Sebelum mengantarkan Vincent, Max mendapat seorang penumpang yang berprofesi sebagai jaksa penuntut dan akan bermalam di sebuah hotel untuk mempersiapkan tuntutan esok hari. Jaksa penuntut itu adalah Annie (Jada Pinkett Smith), yang ternyata memiliki kehidupan yang cukup padat sehingga dengan tulus Max menyarankan Annie untuk “berlibur”. Obrolan santai dengan Max yang baik hati membuat Annie tanpa segan memberikan kartu namanya pada Max. Setelahnya, barulah Max mengantarkan Vincent yang juga merasa betah berlama-lama menumpang taksi Max karena pengetahuannya yang luas seputar Los Angeles, keramahan, dan kebersihan taksinya. Akhirnya dengan iming-iming US$600, Max menerima tawaran Vincent untuk menyewa taksinya hingga ia selesai melakukan “perjalanan bisnis” di lima tempat berbeda di Los Angeles. Namun, malam itu ternyata bukanlah malam biasa bagi Max, supir taksi yang telah 12 tahun berada di belakang kemudi dengan impian membuka bisnis limusin, sebab karena kesalahan kecil, ia menjadi saksi dari “bisnis” Vincent ketika sesosok mayat terjun bebas dari sebuah apartemen tepat di atas taksinya.

Tercebur ke dalam lumpur hidup, Max menemukan dirinya terjebak di bawah todongan pistol Vincent, pembunuh maniak yang bisa melakukan apa saja jika Max berani melawan. Maka, dimulailah petualangan dua orang yang baru saja bertemu, sama sekali asing mengarungi gemerlap malam kota individualis Los Angeles. Namun, mengikuti cara bekerja waktu, pada setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Begitu juga petualangan Vincent dan Max yang harus berakhir dengan getir, menutup perjumpaan dua orang asing yang mengabiskan gelapnya malam bersama.

Collateral bukanlah film criminal thriller biasa. Ada banyak ide dan tema yang dieksplor disini, terutama dari segi kepribadian dua tokoh utama, Max dan Vincent. Tokoh Max, misalnya mencerminkan realitas bahwa impian dan cita-cita dapat tergerus oleh waktu dan pemikiran si empunya impian dan cita-cita tersebut. Max, seorang supir taksi yang selalu dengan bangga mengatakan bahwa menjadi supir taksi hanyalah pekerjaans ementara, sebagai uapayanya mengumpulkan modal untuk membuka bisnis limusin. Max tidak menyadari bahwa apa yang ia sebut sementara itu kini telah berjalan selama 12 tahun, dan ia tidak tahu apakah ia memiliki keberanian memulai usaha limusin itu suatu hari nanti. Dengan satu kalimat yang menyentak Vincent menyadarkan Max, “Someday my dream will come. One night you'll wake up and you'll discover it never happened. It's all turned around on you and it never will. Suddenly you are old, didn't happened and it never will, 'cause you were never going to do it anyway.” Sementara itu Vincent adalah orang yang memiliki masa kecil yang memprihatinkan. Berkali-kali berganti orang tua asuh dan kembali ke orang ayah kandung yang tidak memiliki hubungan baik dengannya membuat Vincent jauh dari sentuhan kasih sayang dan sentuhan manusiawi orang-orang di sekitarnya.

Menggunakan struktur cerita tiga babak, sutradara berbakat Michael Mann (The Insider, The Aviator) fokus menceritakan hubungan dua orang yang dipertemukan secara kebetulan dan melakukan “petualangan” bersama di belantara hutan beton Los Angeles dalam satu malam penuh, dari awal hingga akhir cerita tanpa selingan berarti. Sehingga meskipun berbagai plot umum criminal thriller ada di sini, tetapi Mann tidak ingin membuang-buang waktu terlalu banyak untuk melanjutkan plot tersebut. Misalnya ketika polisi mulai terlibat dalam aksi Vincent dan Max yang tidak hanya membunuh tetapi juga ugal-ugalan di jalan, Mann sedapat mungkin memainkan karakter Max menjadi tokoh yang tidak lagi pasrah dan ingin menyerahkan kasus itu ke polisi, melainkan ingin mencegah target pembunuhan terakhir Vincent dengan tangannya sendiri.

Sepanjang film, Mann menunjukkan kemampuannya dalam mengolah dan menjaga tensi dan intrik bahkan daalam adegan atau momen-momen yang paling tenang sekalipun. Misalnya dalam scene di mana Vincent memaksa Max menjaga keteraturan rutinitasnya dengan mengunjungi ibunya, Ida (Irma P. Hall). Max yang menerima perintah itu dengan berat hati ternyata memiliki keberanian ketika urusan pribadinya dengan sang ibu diusik oleh orang asing semacam Vincent dan membuat adegan itu manis sekaligus menegangkan. Penonton tidak pernah tahu apa yang Vincent mampu dan akan perbuat pada Max akibat keberaniannya itu.

Beberapa adegan umum yang ditemukan dalam Collateral tentu saja adalah pertemuan klasik antara polisi, tokoh protagonis yang berada di bawah ancaman, dan tokoh antagonis yang dapat berbaut apa saja. Dalam adegan di mana taksi Max diberhentikan oleh dua orang polisi patroli yang mencurigai kaca depannya yang pecah, Max berpura-pura tenang dan memeras otaknya untuk menciptakan cerita karanga yang masuk akal. Vincent yang bersiap-siap dengan pistol di genggaman tangannya, waspada jika dua polisi itu berbuat macam-macam juga melengkapi daftar adegan pasaran yang data ditemukan di sini. Lucunya, adegan ini ditutup dengan kebetulan (dan keberuntungan) yang selalu menghampiri Max malam itu di mana dua polisi itu menerima panggilan dinas lain yang lebih penting sehingga Max dan Vincent terbebas situasi yang mengancam.

Berlawanan dengan scene pasaran di atas, Mann memamerkan kepiawaiannya dalam menyuguhkan adegan sederhana namun menawan pada pembuka cerita. Pertemuan antara Annie dan Max dibawakan dengan sangat expert, natural, dan memesona hingga jika kita memotong adegan ini, kita bisa mendapatkan satu film pendek bagus dengan sedikit tambahan twist di akhirnya. Obrolan Annie dan Max yang berawal agak canggung berubah perlahan-lahan menjadi percakapan yang catchy, connected, dan intens. Tidak banyak criminal thriller yang dibuka dengan percakapan yang sama sekali bukan basa-basi sebagaimaana biasa ditemukan dalam film sejenis, melainkan percakapan yang penuh dengan makna kehidupan.

Dalam adegan pembuka tersebut, Jada Pinkett Smith menjadi primadona. Meskipun hanya tampil pada sepuluh menit awal dan akhir cerita, menunjukkan performa dinamitnya sebagai Annie yang di awal cerita saja sudah meninggalkan impresi mendalam. Sebagai seorang jaksa penuntut yang hebat, ternyata ia kiga memiliki kesamaan dengan orang lain: takut memulai sesuatu sebelum mencoba, namun sekali berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan sunguh-sungguh, semua berjalan lancar. Tokoh Annie dibawakan dengan elegan dan charming, hingga bertahan di kepala setiap penonton selama cerita berjalan.

Tom Cruise juga patut mendapat pujian karena ia hampir selalu mengambil peran-peran protagonis, sedangkan dalam Collateral, ia menjadi Vincent, si pembunuh bayaran yang tidak memiliki belas kasih, mementingkan kepentingan sendiri, dan menganggap pekerjaannya normal. Ia membawakan karakter tersebut tepat seperti itu tanpa tambahan sentimen apapun yang membuatnya tampak seperti sosok yang berani menantang apapun, termasuk melawan hukum. Semua itu ia lakukan karena jiwanya yang tersesat, jiwa dingin yang tumbuh dari masa kecil yang suram.

Peran yang cukup baru tidak hanya didalami Tom Cruise, tetapi juga Jamie Foxx, sebab sebelum Collateral, ia lebih dikenal sebagai actor yang berorientasi komedi, sehingga pemilihan Foxx untuk karakter Max banyak menimbulkan pertanyaan sebelumnya. Namun, setelah film berjalan selama lima menit, penonton dapat membuktikan bahwa Foxx tidak dapat dipandnag sebelah mata karena ia memiliki versatilitas yang mumpuni. Sebagai Max, Foxx mampu mencitakan obrolan yang dinamis dengan tokoh Annie, mampu menunjukkan ketakutan dan ketidakberdayaan di hadapan Vincent, mampu memendam kekecewaan ketika usaha kaburnya berkali-kali digagalkan, dan mampu mengumpulkan keberanian di akhir cerita. Semua itu menjadikan nominasi Oscar dalam kategori Best Actor in a Supproting Role pantas dialamatkan padanya.

Sementara itu, peran-peran minor lain seperti Mark Ruffalo, Peter Berg, dan Bruce McGill sebenarnya bisa dihilangkan tanpa menrusak keseluruhan alur film, karena karakter mereka tidak berkembang dan tidak memiliki pengaruh berarti pada jalan cerita Max dan Vincent. Dengan dihilangkannya peran-peran tersebut, durasi film dapat dihemat hingga 20 menit tanpa cacat apapun dari segi alur cerita.

Dari segi sinematografi, dua kru sinematografer Dion Beebe dan Paul Cameron menghasilkan pekerjaan apik dengan membuat nuansa biru dalam adegan-adegan di dalam taksi dan yang paling saya salutkan adalah mereka berani keluar jalur umum bermain dengan kegelapan yang sesungguhnya pada adegan-adegan akhir film. Padahal, biasanya banyak sineas yang memilih menggunakan kegelapan semu dengan meenyorot cahaya temaram ke wajah akor. Suasana gelap gulita itu pada akhirnya akan menambah tensi adegan tersebut. Tata kamera dalam Collateral juga menambah pengalaman menonton semakin menegangkan. Untuk adegan-adegan di luar ruangan, Mann memilih menggunakan kamera digital High Definition (HD) yang membuat adegan tersebut somehow looks like documentary dan menghasilkan suasana malam kota yang detail. Di beberapa adegan lain, Mann mengganti kamera digital biasa, dn di adegan lainnya ia menggunakan kamera 35mm.

Terakhir, struktur tiga babak yang dikembangkan dalam Collateral senarnya menarik diikuti dengan tensi yang mampu membuat penonton gelisah di kursinya, tetapi twiat yang dipersembahkan diakhir justru terkesan biasa dan menghancurkan pengembangan cerita di awal dan pertengahan film. Dengan pengembangan cerita yang baik, seharusnya Collateral sangat pantas mendapatkan penutup yang keluar dari jalur utama. By the way, it’s amazing to see, 3.5 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?


Watch this if you liked:


Director: Neil Jordans
Stars: Jodie Foster, Terrence Howard, Naveen Andrews
Genre: Drama, Thriller
Runtime: 122 minutes

Dengan keberanian yang dipaksakan, Erica memutuskan turun tangan mencari keadilan. Tetapi bukan sembarang keadilan yang dicarinya. Erica bukan hanya ingin mencari keadilan untuk dirinya sendiri, ia ingin setiap orang di kotanya tercinta, The Big Apple, mendapat keadilan juga. Ia ingin tak ada lagi orang-orang bejat berkeliaran bebas di jalanan menggentayangi masyarakat...

Léon: The Professional (1994)

Director: Luc Besson
Stars: Jean Reno, Gary Oldman, Natalie Portman
Genre: Drama, Thriller
Runtime: 110 minutes

Senin, 06 Agustus 2012

Jerry Maguire: Love vs Loyalty

Apa yang Anda harapkan dari sebuah hubungan? Cinta, harta, tahta, teman hidup yang setia, seseorang yang melengkapi ketidaksempurnaan Anda, atau mungkin ada jawaban yang lain? Ya, jika dicermati ternyata sebuah hubungan dapat dibentuk lebih dari satu elemen, dan elemen-elemen itu sendiri dapat berubah komposisinya. Bisa saja dua orang yang pernah berteman kemudian setelah lama berpisah, mereka bertemu kembali dan saling jatuh cinta, mereka pun memutuskan untuk berkomitmen. Contoh lain, kita tentu sudah sering mendengar bahwa cinta dapat tumbuh dengan sendirinya. Sebuah hubungan dapat terjalin meski awalnya tanpa dilandasi perasaan apapun, alias hambar. Tetapi bisa saja hubungan yang demikian itu bertahan lama. Mungkin benar karena cinta sudah tumbuh atau mungkin karena waktu telah menggilas perasaan mereka, sehingga mereka terbiasa membangun hubungan tanpa landasan cinta. Bisa juga misalnya seseorang berkomitmen kepada pasangannya bukan karena ia ingin melakukannya, tetapi ia harus melakukannya. Kesimpulannya, jika dihadapkan pada masalah hati dan perasaan, manusia bisa jadi sangat kompleks dan dinamis.

Kehidupan percintaan yang dinamis itulah yang menjadi tema Jerry Maguire (1996). Dikisahkan, Jerry Maguire (Tom Cruise) adalah seorang agen atlet yang sukses, pandai bernegosiasi, menguasai bisnis hingga ke sisi kelamnya, punya banyak teman, dan didambakan para wanita. Banyak olahragawan yang telah sukses ditangannya, baik secara profesional, maupun karena permainan kotor. Namun, belakangan ia menyadari bahwa semakin lama semakin banyak atletnya yang bermasalah, bermain tanpa hati, memilihnya menjadi agen hanya karena ia terkenal sebagai mesin pengerek dolar. Hal itu membuatnya merinding, benci pada dirinya sendiri yang telah terjerembab dalam dunia yang mendewakan kesuksesan luar semata.

Kebencian atas apa yang dilakukannya selama ini dituangkan Jerry dalam sebuah memo inspiratif sekaligus kontroversial bagi kantornya. Dalam memo itu, Jerry menuliskan bahwa satu-satunya cara agar bisnis seperti ini mendapatkan sukses sesungguhnya yaitu setiap agen tidak boleh menangani terlalu banyak atlet, yang terpenting adalah hubungan personal antara sang agen dengan kliennya. Jika itu terpenuhi, maka segalanya akan menjadi lancar. Tentu saja, sebaliknya bagi perusahaan yang terpenting adalah mesin uang seperti yang selama ini dijalankannya, tak peduli pada prestasi maupun segudang masalah yang diakibatkan atlet itu. Memo itu akhirnya berujung sial bagi Jerry, ia dipecat dari kantornya, dan parahnya lagi yang memecatnya adalah bekas bawahannya sendiri, Bob Sugar (Jay Mohr).

Nasib sial belum berhenti sampai situ. Jerry kalah telak dalam memperebutkan kembali atlet-atlet yang pernah ditanganinya. Hampir semua atlet memilih Bob Sugar dan hanya Rod Tidwell (Cuba Gooding, Jr.), seorang atlet football, yang setia pada Jerry. Angka satu sepertinya masih menjadi teman setia Jerry di saat-saat terpuruknya. Selain hanya mendapat satu atlet, ia juga hanya mendapat satu orang karyawan untuk memulai bisnisnya yang baru, dan ia adalah Dorothy Boyd (Renée Zellweger). Dorothy, seorang janda beranak satu memang mengidolakan Jerry sedari awal, dan semakin menyukainya ketika Jerry jujur terhadap dirinya sendiri lewat memonya.

Bekerja siang-malam tanpa dibayar untuk mendapatkan kontrak bagus bagi Rod, Jerry yang sempat tertekan karena diputuskan cinta oleh kekasihnya menemukan drinya pada ambang kegagalan. Ia sempat putus asa, namun selalu ada Dorothy di sisinya yang selalu membantu, memberikan motivasi, dan menghiburnya. Akhirnya, atas nama kesetiaan, Jerry menikahi Dorothy dan menjadi ayah bagi Ray, putra semata wayang Dorothy sekaligus penggemar kecil Jerry. Jerry menyukai Dorothy sebagai rekan kerja, sebagai teman bercinta, tapi ia tidak memiliki hati untuknya. Ia bersedia menghabiskan sisa hidupnya dengan Dorothy, tapi ia tidak bisa memberinya cinta, sebuah hubungan yang tentu absurd sekaligus menyakitkan bagi siapapun.

Hubungan Jerry dan istrinya bertambah buruk ketika Dorothy memutuskan berpisah dengannya, bahkan ia meminta maaf bahwa selama ini ia telah memaksakan cintanya pada Jerry, which is very touchy, and I love the scene. Namun, semua itu sirna ketika bisnis kecil yang mereka rintis bersama menuai keberhasilan, dan Jerry menyadari bahwa ia tak punya orang lain untuk berbagi kebahagiaan itu selain dengan Dorothy, sosok yang telah memberikan kasih padanya secara tulus, meski tak berbalas. Di titik ini, ia merasa hampa, dan ia menemukan pelengkapnya, pengisi kehampaannya, dan cinta sejatinya pada Dorothy.

Karakter Jerry yang dibawakan Tom Cruise dengan apik merupakan karakter yang fragile. Sebagai pria yang pernah sukses, ia terkejut ketika terpuruk, tetapi beruntungnya, ia punya seseorang seperti Dorothy. Pada akhirnya, kehadiran Dorothy juga membuat Jerry mendewasakan dirinya, after he struggles with his own mind. Salah satu yang unik dari film yang merupakan kolaborasi perdana sutradara Cameron Crowe (Vanilla Sky, Almost Famous) dengan Tom Cruise ini adalah banyaknya quote bagus dan cerdas, mulai seputar cinta, motivasi hidup, hingga bisnis. Selain itu, Film yang mendapatkan Oscar dalam kategori best actor in a supporting role untuk Cuba Gooding, Jr. dan dinominasikan sebagai best picture ini tidak hanya menawarkan cerita romantis saja, di dalamnya juga ada pelajaran berharga untuk mengenal diri sendiri. Contohnya, karakter Jerry yang menemukan dirinya sebagai seorang agen yang hanya mendewakan uang, dan kemudian ia menyadari hal ini dan memutuskan untuk berubah, meski perubahan ke arah yang lebih baik itu terkadang menemukan jalan yang berliku. Selain itu, Jerry juga menyadari bahwa setiap kesetiaan berarti limpahan cinta, dan tak ada cinta yang lebih tulus dari kesetiaan. It's awesome, 4 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?


Wach this if you liked:

The Illusionist (2006)

Director: Neil Burger
Stars: Edward Norton, Jessica Biel, Paul Giamatti
Genre: Drama, Mystery, Romance
Runtime: 110 minutes










Open Your Eyes (1997)

Director: Alejandro Amenábar
Stars: Eduardo Noriega, Penélope Cruz

Genre: Drama, Mystery, Romance
Runtime: 117 minutes

Kamis, 24 November 2011

Rain Man: Big Bro Will Never Bring You Down

I just realized I'm not pissed off anymore. My father cut me out of his will. You probably knew he tried to contact me over the years. I never called him back. I was a prick. If he was my son and didn't return my calls, I'd have written him out. But it's not about the money anymore. You know, I just don't understand. Why didn't he tell me I had a brother? Why didn't anyone ever tell me that I had a brother? Because it'd have been nice to know him for more than just the past six days.

Kata-kata itu mengalir dari bibir Charlie Babbitt (Tom Cruise) ketika ia menyadari bahwa selama ini tidak pernah ada orang yang tidak menyayanginya. Bahkan, ayahnya yang ia kira membenci dan membuangnya tanpa meninggalkan harta warisan ketika meninggal, ternyata rela menyisihkan Charlie dari sang kakak Raymond (Dustin Hoffman) yang mengidap autisme karena ia takut Raymond akan menyakiti Charlie. Padahal, ayahnya juga menyayangi Raymond, namun ia terpaksa menitipkan Raymond ke sebuah panti rehabilitasi bagi penyandang autisme. Itulah sepenggal kisah dari film Rain Man (1988).

Sayangnya, kasih sayang sang ayah baru disadari Charlie di saat-saat akhir pertemuan (sekaligus perjalanan) dengan Raymond yang ternyata sangat jenius. Sebelumnya, ia hanya ingin memanfaatkan hak asuh Raymond agar ia mendapatkan sebagian harta warisan yang ditinggalkan ayahnya untuk Raymond. Bahkan, Charlie sempat memanfaatkan Raymond yang sangat pandai dan cepat menghitung dalam permainan judi di Las Vegas.

Ketamakkan Charlie akan harta warisan perlahan-lahan tergantikan dengan rasa kasih sayang terhadap seorang kakak yang sekian lama dipisahkan darinya. Ia sangat menyesalkan mengapa selama ini tidak ada seorangpun memberitahunya bahwa ia memiliki kakak. Satu-satunya kenangan masa kecil Charlie adalah kisah tentang Rain Man, yang ia kira hayna dongeng, namun ternyata Rain Man adalah panggilan Charlie pada Raymond sewaktu ia kecil.

Film arahan sutradara Barry Levinson (Sleepers, Wag the Dog) ini memiliki alur cerita yang cukup lambat dengan banyak adegan perjalanan melintasi jalan antarnegara bagian AS (saya sangat menyukai gambar-gambar dalam adegan ini, dengan latar dataran luas AS yang terkadang dijumpai padang pasir, bukit gersang, dan jalan mulus yang sangat sepi). Satu hal yang memukau saya dari awal hingga akhir film adalah penampilan Dustin Hoffman yang sangat terlihat natural sebagai orang penyandang autis. Tak heran Hoffman mendapatkan anugerah Oscar untuk kategori pemeran utama terbaik. Levinson sendiri juga dianugerahi sutradara terbaik, dan film ini diganjar Oscar untuk kategori film terbaik 1989.

I like having you for my big brother, begitulah yang Charlie katakan pada Raymond. Ya, ikatan saudara memang tak akan pernah hilang sekalipun belum pernah bertemu sebelumnya. Ada rasa khusus yang akan membuat dua orang saudara selalu merasa terhubung satu sama lain. Itulah pelajaran yang saya tangkap dari film ini. For me, it's 3 of 5 stars. Ada yang punya komentar?


Watch this if you liked:

I Am Sam (2001)

Director: Jessie Nelson
Stars: Sean Penn, Michelle Pfeiffer, Dakota Fanning
Genre: Drama
Runtime: 132 minutes


Director: Jim Sheridan
Stars: Daniel Day-Lewis, Brenda Fricker, Alison Whelan
Genre: Biography, Drama
Runtime: 103 minutes

Christy Brown (Day-Lewis) dilahirkan dengan komplikasi masalah kesehatan yang menyebabkan disfungsi pada bagian tubuh kanannya. Keluarga Brown merupakan keluarga miskin yang memiliki cukup banyak anak. Paddy Brown (Ray McAnally), sang kepala keluarga hanyalah pekerja rendahan yang gemar mabuk dan agak tempramental. Ia mengabaikan kehadiran Christy pada awal kelahirannya karena malu memiliki anak cacat...