Sunday, November 10, 2013

Papillon: A Celebration of Human Spirit

Ketika memaparkan laporan kinerja periode kedua pemerintahan di hadapan anggota kongres, Ronald Reagan pernah berkata, "There are no constraints on the human mind, no walls around the human spirit, no barriers to our progress except those we ourselves erect". Kalimat tersebut merupakan upaya Reagan untuk memberikan suntikan semangat dan meyakinkan warga Amerika yang saat itu tengah dilanda kesulitan ekonomi bahwa ada banyak cara untuk mengatasi semua masalah. Dengan bangga, dalam pidato yang disampaikan pada tahun 1985 tersebut Reagan memamerkan sejumlah prestasi dalam periode kepemimpinannya yang disebut sebagai the American miracle. Melalui pidatonya ini, Reagan ingin mengingatkan kembali budaya dan karakter warga Amerika yang pantang menyerah dan suka bekerja keras dengan berkata, "We have begun well. But it's only a beginning. We're not here to congratulate ourselves on what we have done but to challenge ourselves to finish what has not yet been done". Menurut saya, ucapan Reagan mengenai ketangguhan jiwa manusia sangatlah tepat. Jiwa manusia akan selalu mencari celah untuk dapat mewujudkan tujuan hidup, betapapun sulitnya tantangan yang harus dihadapi. Jiwa manusia adalah zat yang bebas, tidak dapat dikungkung oleh apapun selama manusia itu tidak membatasi dan merendahkan kemampuan dirinya sendiri. Potret ketangguhan jiwa manusia seperti itu dapat kita saksikan dalam Papillon (1973).

Papillon adalah film yang dibuat berdasarkan autobiografi Henri Charrière, seorang pelaku kriminal yang konon disebut-sebut sebagai kisah nyata yang berbicara mengenai kejamnya penjara zaman kolonial Perancis. Proses produksi film ini menelan biaya yang cukup besar karena harus melakukan pengambilan gambar di beberapa negara serta pembuatan desain produksi yang harus mirip dan otentik dengan latar sejarah sebenarnya. Sayangnya respon publik tidak sebaik yang diharapkan. Banyak orang menilai Papillon adalah film mahal yang terlalu ambisius dalam menunjukkan kekejaman sejarah tetapi tidak fokus dalam menyampaikan esensi di balik cerita itu sendiri.

Papillon menceritakan upaya pelarian diri Henri Charrière (Steve McQueen) - yang dikenal dengan sebutan Papillon karena tato kupu-kupu di dadanya - dari penjara St. Laurent di Guyana Perancis. Upaya pelarian diri Papillon itu bukan disebabkan ia tidak mau menjalani masa hukuman, melainkan karena ia merasa menjadi korban ketidakadilan atas tuduhan membunuh mucikari yang sebenarnya tidak ia lakukan - setidaknya ia bersikeras tidak pernah melakukan pembunuhan. Namun, betapapun ia membela diri, hukum tetap melakukan tugasnya menjatuhkan ganjaran bagi yang dianggap (entah mengapa saya merasa tuduhan pembunuhan yang dilakukan Papillon itu masih berupa anggapan, belum benar-benar terbukti) bersalah. Papillon pun divonis penjara seumur hidup dan dikirim ke komplek penjara sekaligus koloni Guyana Perancis. Dari awal perjalanan mengarungi laut menuju Guyana Perancis, para pesakitan termasuk Papillon harus pintar-pintar menjaga diri mengingat mereka disatukan dengan sesama penjahat yang berasal dari beragam latar belakang tindak kriminal. Di atas kapal, Papillon bertemu dengan Julot (Don Gordon), seorang residivis yang mengingatkan dirinya bahwa di antara mereka terdapat orang-orang yang sangat mungkin menjadi mangsa tahanan lain karena memiliki sumber daya - seperti uang - yang dapat membantu mereka melarikan diri. Salah satu tahanan yang dimaksud Julot adalah Louis Dega (Dustin Hoffman), seorang penipu ulung yang berhasil memalsukan obligasi pemerintah dan menyimpan banyak uang. Mengetahui hal itu, Papillon yang tak takut pada apapun menawarkan diri menjadi penjaga (bodyguard) Dega dengan imbalan uang yang digunakan untuk membiayai pelarian dirinya. Bagi Dega sendiri, menyadari bahwa dirinya hanyalah pria lemah yang tidak pandai dalam urusan fisik, ia akhirnya menerima tawaran Papillon. Seluruh sisa film ini pun mengisahkan petualangan dua narapidana yang kemudian menjadi sahabat dekat tersebut dalam mennggapai kembali kebebasan.

Dari segi karakterisasi, penulis naskah Dalton Trumbo dan Lorenzo Semple Jr. sangat jelas ingin mengontraskan sifat-sifat dua tokoh utama dalam cerita ini, yaitu Papillon dan Dega. Trumbo dan Semple Jr. merancang sosok Papillon sebagai pria macho yang siap melakukan dan menghadapi apapun guna mencapai tujuannya. Papillon tidak ragu mencemplungkan dirinya ke dalam marabahaya. Penonton dapat melihat sifat Papillon yang pantang menyerah dari banyak adegan di sepanjang film, mulai dari aksi-aksinya saat melindungi Dega sampai saat ia melakukan berbagai upaya melarikan diri. Di setiap aksi yang dilakukan Papilllon, penonton ditulari semangat pantang menyerah yang luar biasa besar. Keinginan yang kuat untuk hidup sebagai manusia bebas membentuk Papillon sebagai pribadi yang tegar dan siap menerima konsekuensi atas segala tindakannya. Ketegaran Papillon menghadapi konsekuensi tindakannya terlihat dari beberapa adegan, antara lain saat ia dihukum setelah melukai dua tahanan yang hendak membunuh Dega serta saat ia dikirim ke sebuah rumah pertapaan (reclusion) setelah ia melakukan upaya penyuapan. Dari serangkaian aksinya itu, penonton dapat mengetahui apa yang dipikirkan dan dirasakan Papillon. Penonton memang jarang menangkap ekspresi visual dari emosi Papillon karena hampir di sepanjang film Trumbo dan Semple Jr. sangat jelas ingin mengasosiasikan sosok manly tersebut dengan tindakan-tindakan heroik. Kedua penulis naskah tersebut mendefinisikan Papillon melalui aksi/tindakan yang dilakukannya. Hal itu diperkuat dengan dialog Dega yang berkata pada Papillon, "Someone said that temptation resisted... is the true measure of character".

Meski demikian, ketangguhan dan keinginan kuat Papillon untuk bebas tidak lantas membuatnya apatis terhadap lingkungan sekitarnya. Dalam beberapa kali percobaan pelariannya Papillon selalu luluh terhadap permintaan orang lain yang ingin ikut bersamanya - meskipun ia selalu menanyakan terlebih dahulu apa kemampuan orang tersebut. Selain itu untuk ukuran seseorang yang memiliki kepentingan pribadi yang sangat kuat, Papillon termasuk orang yang setia dan tidak mudah berkhianat. Saat sipir mengetahui bahwa Dega mengirimkan buah kelapa sebagai makanan tambahan Papillon selama di rumah pertapaan, ia menolak menyebut nama Dega sebagai pengirimnya. Papillon lebih memilih memakan serangga apapun yang lewat di hadapannya, hidup dalam kegelapan, dan sakit-sakitan ketimbang harus menjadi seorang pengadu. Itu semua menunjukkan bahwa Papillon adalah seorang setia kawan, and he definitely doesn't have one track mind. Kesetiaan Papillon kepada Dega itu menunjukkan hubungan diantara keduanya bukanlah pertemanan yang dipaksakan antara orang yang membutuhkan perlindungan dengan orang yang membutuhkan uang. Kekejaman penjara dan penegak hukum yang korup telah menempa pertemanan mereka hingga menjadi persaudaraan yang erat. Tidak ada lagi egoisme yang menempel dalam hati mereka. Keduanya saling membantu satu sama lain. Ingatlah bagaimana Papillon berusaha membujuk Dega untuk ikut bersamanya dalam upaya pelariannya yang kedua. Saat itu Papillon sengaja membangkitkan semangat Dega untuk tidak pasrah menunggu bantuan istrinya dengan mempertanyakan kesetiaan istri Dega itu terhadap suaminya.

Sementara itu, Trumbo dan Semple Jr. menciptakan tokoh Dega sebagai sosok yang lebih pandai menggunakan otak daripada ototnya. Dega digambarkan sebagai sosok yang sabar dalam bernegosiasi dan selalu berpikir dengan kepala dingin. Sosok Dega sagat kontras dengan lingkungan di mana ia berada yang serbakeras dan tidak mengenal belas kasih. Dega yang tidak terbiasa dengan kehidupan yang sangat menguras tenaga dan kejam membuatnya seperti anak ayam yang tersesat dan terkurung di kandang serigala. Dalam suatu adegan di mana Dega didekati oleh seorang tahanan yang mengaku memiliki koneksi dengan sipir yang dapat mengatur agar ia dan Papillon tidak dijadikan tahanan pekerja, Dega berkata, "I seem to be known in all the wrong places". Berbeda dengan Papillon, sosok Dega lebih digambarkan sebagai penyabar yang dengan tabah menunggu janji istrinya untuk mengeluarkan dirinya dari penjara. Namun, di akhir film kita akan mengetahui bahwa secara tidak langsung Dega mengakui sifat mudah percaya dan sabarnya itu merupakan kelemahan dirinya. Selain itu, Dega juga digambarkan sebagai orang yang tidak sungkan mengekspresikan apa yang ia pikir dan rasakan dibanding Papillon. Hitunglah berapa kali Dega bertanya, "You're certain?" ketika ia merasa ragu atas ide-ide Papillon. Ingat pula bagaimana ekspresi Dega ketika ia melihat Papillon setelah dua tahun sahabatnya itu mendekam di rumah pertapaan. Saat itu dengan mata berkaca-kaca Dega memeluk Papillon yang kini tak sanggup berdiri tegap. Dari semua adegan itu penonton dapat mengetahui apa yang Dega pikirkan dan rasakan.

Ada satu bagian unik yang menurut saya merupakan kekuatan sekaligus kelemahan Papillon, yaitu pada setengah jam terakhir di mana Papillon lagi-lagi memiliki ide untuk melarikan diri. Melalui bagian ini kedua penulis naskah seakan ingin menutup cerita dengan penuh tawa melalui komedi satir yang disajikan dari dua perspektif - Papillon dan Dega - yang lagi-lagi berbeda. Dari perspektif Papillon penonton dapat menyaksikan bagaimana pria heroik tersebut berusaha terus mengobarkan api semangat untuk meraih kebebasan yang selalu membayangi benaknya. Dengan gigi yang membusuk, rambut kelabu, dan jalan yang tertatih-tatih Papillon menjadi sosok naif yang ingin menaklukan tantangan mustahil mengarungi arus dan gelombang laut hanya dengan mengandalkan sekarung kelapa. Sebelum adegan terjun bebas yang monumental itu, saya menikmati bagaimana Papillon yang awalnya digambarkan sebagai sosok tak gentar kini berubah menjadi pria tua setengah gila yang berulang kali menyambangi sahabat lamanya dan menyampaikan ide pelarian diri yang suedah menjadi barang basi. Pada bagian ini Papillon ibarat pungguk merindukan bulan yang tidak mengetahui bahwa segala sesuatu ada batasnya. Saya pribadi berulang kali berpikir bahwa mungkin inilah saatnya Papillon memasrahkan diri pada nasibnya untuk menghabiskan sisa hidupnya di tempat terpencil yang jauh dari tanah airnya. Meskipun begitu, tampaknya kedua penulis naskah ingin merayakan ketangguhan jiwa manusia melalui sosok Papillon yang semangatnya untuk merengkuh kebabasan tak pernah padam. This is a celebration of human spirit.

Sementara itu dari perspektif Dega penonton diajak untuk menyaksikan bagaimana pria ini menertawakan dirinya sendiri. Sebagaimana saya sampaikan sebelumnya, pada akhirnya Dega menyesali sikapnya yang terlalu pasrah dan percaya pada istrinya yang gombal. Dalam sebuah adegan ketika Dega dan Papillon makan bersama, tanpa ditanya tiba-tiba Dega berkata, "Did you hear about my wife? She married my attorney, or else he married her... although, actually, it doesn't really matter." Curahan hati sang sahabat pun ditanggapi dengan wajah iba Papillon. Sebelum adegan perjumpa an kembali dengan Papillon tersebut - setelah berpisah di Honduras - Dega telah menonaktifkan keinginannya untuk melarikan diri dengan serius menggarap kehidupannya di pulau yang menjadi tempat tahanannya yang terkhir. Ia bercocok tanam, memelihara ternak babi, memasak sendiri, dan terlihat hidup cukup bahagia di pulau itu. Sosok Dega yang cerdas lebih membuatnya mudah untuk mawas diri dan menerima kenyataan yang digariskan dalam hidupnya. Ketika akhirnya ia dipertemukan kembali dengan Papillon, bukan lagi mata berkaca-kaca dan pelukan sahabat yang ia berikan. Dega lebih memilih mengambil langkah seribu dan berkata, "I wish you hadn't come here" pada Papillon, sebuah ucapan yang lebih tepat disebut sebagai semburan rasa kesal daripada sapaan seorang kawan lama. Satu hal yang menarik adalah rasa kesal Dega itu kemudian diwujudkan dengan memberikan dukungan kepada Papillon yang (masih) ingin mengajaknya melarikan diri tetapi menolak dengan halus untuk ikut bersamanya. Saya sangat suka bagaimana respon Dega ketika Papillon datang dengan tertatih-tatih untuk mengungkapkan idenya. Saat itu, sambil berusaha mengalihkan pembicaraan ke topik bercocok tanam, Dega menyetujui ajakan Papillon namun sesaat kemudian ketika kawannya itu mengaku belum tahu bagaimana cara mereka keluar dari pulau laknat itu maka secepat kilat ia menyambar, "Then we don't have to discuss it. Tell me, do you like tomatoes?" Penonton dapat menertawakan hubungan kedua sahabat itu yang kini tidak lagi memiliki satu tujuan - meskipun mereka tetap saling mendukung.

Namun bagian akhir ini juga menjadi kelemahan Papillon karena penonton sudah cukup lelah mengikuti petualangan dua sahabat tersebut selama dua jam. Dengan total durasi 151 menit, kursi penonton cukup panas untuk mendengarkan kembali ide pelarian Papillon dengan serius. Ditambah lagi bagian akhir ini dibuat setelah cerita tampak akan ditutup dengan sempurna ketika Papillon bertemu dengan sekelompok suku Indian dan hidup bahagia bersama mereka. Namun apa yang didapatkan penonton adalah ternyata Papillon adalah makhluk kesayangan Tuhan yang tak henti-hentinya diberikan ujian sehingga akhir bahagia seperti itu tidak mungkin terjadi. Penonton harus bersabar untuk meninggalkan tempat duduk untuk kembali menyaksikan aksi Papillon dan Dega. Sebenarnya bagian akhir ini menarik andai saja ditempatkan pada durasi yang lebih cepat ketimbang pada setengah jam terakhir dari total dua setengah jam penayangan film ini. Pada bagian pertengahan cerita, memang terdapat adegan-adegan yang menurut saya dapat dipangkas. Entah mengapa saya merasa film ini seperti ingin menunjukkan apa yang dilakukan Papillon dalam kehidupan sehari-harinya selama menjadi tahanan, tidak peduli apa yang sedang ia lakukan. Penonton seringkali mendapati Papillon dan Dega sedang tidur, berjalan mondar-mandir, atau berlari yang menciptakan space cerita yang cukup lebar (baca: membuang waktu). Menurut saya akan sangat membantu bila adegan-adegan tersebut dipotong dan menghasilkan film berdurasi sekitar dua jam yang utuh tanpa merusak bagian akhirnya yang menurut saya menarik.

Kelemahan lain film ini menurut saya adalah kurangnya informasi yang menceritakan kilas balik kehidupan Papillon. Saya menyukai gagasan cerita mengenai seorang pria yang tidak terima diperlakukan semena-mena oleh sistem hukum yang korup dan ia mencoba melawan hal-hal yang terlihat mustahil untuk membuktikan dirinya (dan mempertahankan harga dirinya) bahwa ia adalah makhluk yang resisten terhadap kekejaman sistem. Namun dengan durasi yang mencapai 151 menit tokoh Papillon sangat pantas mendapatkan latar belakang yang lebih komprehensif untuk memperdalam simpati dan memperkuat hubungan emosional  dengan penonton. Saya pribadi ingin mengetahui lebih jauh pekerjaan Papillon yang ia akui sebagai perampok (apa penyebab ia merampok, siapa saja yang ia rampok, untuk apa hasil rampokannya ia gunakan) dan siapa wanita yang terlihat sedih ketika ditinggalkan Papillon dan muncul dalam halusinasi pria tersebut.

Sutradara Franklin J. Schaffner (Patton, The Boys from Brazil) sangat memerhatikan detail produksi Papillon mulai dari proses penuaan tokoh-tokohnya sampai penyampaian informasi yang menjadi latar cerita seperti geografi, cuaca, tanaman, dan hewan-hewan. Tokoh Papillon paling terlihat proses penuannya yang terlihat dari giginya yang semakin menghitam, rambutnya yang memutih, hingga cara berjalannya yang kini tidak lagi sekuat yang digambarkan pada pembuka film. Untuk urusan detail latar, bekerja sama dengan sinematografer Fred J. Koenekamp dan desainer produksi Anthony Masters, Schaffner menciptakan gambaran megah kehidupan tropis Guyana Perancis. Di bagian awal film, saat para tahanan dalam perjalanan  laut Schaffner mengambil gambar penuh yang memperlihatkan kapal-kapal pengangkut para tahanan lengkap dengan asapnya yang mengepul, dermaga, muara sungai di pantai, hutan hijau di seberang sungai tersebut, dan lautan luas di kejauhan. Selain itu Scahffner juga tampak berusaha keras meyakinkan bahwa latar tempat film ini dibuat benar-benar berada di pulau tropis dengan menunjukkan berbagai tanaman dan hewan-hewan seperti kepiting (ingat bagaimana seekor kepiting mengacungkan dua capitnya ketika barisan tawanan lewat?). Penampilan orang-orang di komplek penjara St. Laurent juga tidak kalah detail. Dalam film ini tampak bagaimana orang Eropa harus tinggal di lingkungan tropis, menyebabkan hampir semua baju yang mereka kenakan basah oleh keringat. Namun di antara semua itu bagi saya yang paling menarik adalah bangunan-bangunan dan pemilihan lokasi untuk bagian akhir film ini yang sangat menakjubkan. Dari tampilan luar semua bangunan yang ada di komplek penjara St. Laurent, terutama rumah pertapaan tampak berdiri kokoh namun dengan tampilan warna pastel yang semakin memperkuat nuansa sepi yang menghujam setiap tahanan. Sementara itu di bagian dalamnya penonton dapat merasakan sesak karena ruangan yang begitu gelap gulita dan perasaan suasana lembap yang dimunculkannya. Mungkin ada beberapa bagian Papillon yang dapat dikritisi karena menimbulkan kelemahan, tetapi tidak untuk urusan tampilannya.

Schaffner juga sukses membuat suasana suram dari latar yang ia ciptakan dengan sempurna. Setiap sudut ruangan bahkan ruang terbuka seperti hutan, pantai, dan lapangan di St. Laurent terlihat seperti benar-benar merupakan kurungan yang tidak dapat ditembus oleh siapapun. Kehadiran para petugas penjara serta tahanan yang membantu mereka membuat tidak ada sejengkal pun tempat di komplek penjara tersebut yang lolos dari sapuan kekejaman. Para tahanan terlihat sangat menderita berada di tempat ini karena mereka harus bekerja keras mematuhi perintah-perintah dari para penjaga tersebut. Kerja keras itu tercermin dari efek lelah dan putus asa yang terpancar dari wajah-wajah para tahanan. Mereka terpaksa mematuhi semua perintah itu semi menyambung nyawa hari demi hari. Ada beberapa adegan di mana Papillon dan Dega diperlihatkan ikut bekerja keras bersama tawanan lain, misalnya saat mereka harus melumpuhkan buaya hidup di sungai atau saat mereka harus menangkap kupu-kupu yang menjadi salah satu sumber pendapatan para petinggi penjara tersebut. Penonton dapat ikut merasakan kekejaman penjara St. Laurent tidak hanya dari kerja keras para tahanannya tetapi juga melalui siksaan yang dibuat sangat tidak manusiawi. Schaffner berhasil membuat masa dua tahun pengurungan Papillon di rumah pertapaan menjadi adegan yang begitu terasa lambat dan sangat menyiksa setiap kali melihat wajah pria pemberani tersebut. Tidak ketinggalan, penopnton juga dihantui rasa tegang setiap kali Papillon melakukan usaha kabur. Dalam upaya pelarian Papillon yang kedua, saya tidak tega menatap layar apakah Dega yang lemah mampu menaiki dinding sebelum para penjaga menyadari keributan yang mereka timbulkan.

Dari departemen akting, McQueen memberikan salah satu penampilan terbaik sepanjang karirnya dalam film ini. Ia sangat mampu mengeluarkan aura pria dingin yang mampu melakukan segala hal dan tidak takut pada apapun. McQueen sebagai Papillon adalah pria tangguh yang penuh waspada (meski selalu kalah dalam urusan bisnis alias sering tertipu), mandiri, dan tahu balas budi. Tanpa diragukan lagi, inilah salah satu tolok ukur kejantanan yang dapat diperankan oleh seorang aktor (saya sangat kagum dengan tatapn matanya yang hampir selalu mengernyit di film ini). When I watched it, I was like literally in love with him! Bukan hanya betapa jantannya McQueen memerankan Papillon, namun aktor yang wafat pada 1980 itu benar-benar menguasai perannya sebagai seseorang yang tidak terhindar dari proses alami penuaan.  Gaya bicara dan berjalan Papillon di akhir film yang terlihat kembali seperti anak-anak merupakan  gambaran utuh dan nyata bagaimana kehidupan usia senja. Sementara itu, meski kurang menimbulkan jejak sedalam penampilan McQueen, Hoffman tetap menarik dilihat daram perannya sebagai pria cerdas yang menjadi pendamping seorang jagoan. Dalam memerankan karakter Dega yang mudah mengekspresikan perasaannya, beberapa kali Hoffman tampil sentimental dan menguras emosi penonton, seperti dalam adegan ketika Dega dan Papillon bertemu kembali setelah dua tahun lamanya mereka berpisah.

Secara keseluruhan, tanpa diragukan Papillon adalah sebuah karya klasik yang memperlihatkan bagaimana kebebasan merupakan semangat yang menjiwai setiap individu manusia. Tidak ada seorang pun manusia di dunia yang terima diperlakukan sewenang-wenang oleh sistem dan penguasa yang bejat. Meski upaya untuk melawan sistem dan penguasa itu terlihat tidak mungkin dilakukan namun melalui Papillon kita menyadari tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini bila kita tidak membatasi diri sendiri. Papillon adalah sajian penuh makna yang sangat penting disaksikan. Menonton Papillon memang harus siap dengan kesabaran ekstra menikmati alurnya yang berjalan relatif lambat, namun saya tidak setuju bila film ini gagal menyampaikan esensi ceritanya kepada penonton karena Papillon banyak berbicara mengenai ketangguhan jiwa yang seharusnya dimiliki kita semua sebagai manusia. 4 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:

The Great Escape (1963)

Director: John Sturges
Stars: Steve McQueen, James Garner, Richard, Attenborough
Runtime: 172 minutes
Genre: Adventure, Drama, History











The Shawshank Redemption (1994)

Director: Frank Darabont
Stars: Tim Robbins, Morgan Freeman, Bob Gunton
Runtime: 142 minutes
Genre: Crime, Drama 


















No comments:

Post a Comment