Sunday, November 17, 2013

Last Vegas: Friendship Is Never Aging

Oscar Wilde, seorang pujangga Irlandia pernah bertutur, "True friends stab you in the front". Bagi Wilde definisi sahabat sejati adalah orang yang selalu bicara jujur apa adanya, sekalipun apa yang ia katakan sangat menyakitkan. Kejujuran memang merupakan nilai moral yang selalu berharga dalam kehidupan, kehadirannya bagaikan oase di tengah gersangnya jiwa manusia yang kerap diliputi badai pasir berupa dusta. Dalam persahabatan kejujuran adalah tali pengikat yang dapat mempersatukan perbedaan. Menerima kejujuran yang menyakitkan memang bukan hal yang mudah. Dibutuhkan kelapangan hati untuk dapat menelan sebuah kenyataan pahit dengan ikhlas, terlebih lagi jika itu berasal dari seorang sahabat. Selain itu tentu saja kita tidak dapat mengecilkan keberanian sang sahabat yang mau berkata jujur. Oleh karena itu selain kelapangan hati juga diperlukan kedewasaan dalam menghadapi kejujuran. Sikap dewasa dapat membantu kita memahami secara bijak kenyataan di balik kejujuran seorang sahabat, dan kita dapat menyaksikan bagaimana orang dewasa menghadapi kejujuran dalam Last Vegas (2013).

Rilis menjelang penutup tahun, Last Vegas adalah sebuah komedi ringan yang mencoba peruntungan melalui deretan pemainnya yang dapat dikatakan sebagai legenda Hollywood. Empat aktor kawakan dan satu aktris memesona bergabung dalam proyek ini. Terus terang, ketika akan pergi ke bioskop menyaksikan film ini saya tidak berekspektasi terlalu besar terhadap jalan cerita. Saya hanya ingin melihat bagaimana jadinya empat aktor yang tidak lagi muda bergabung dalam satu layar dan berusaha mengocok perut para penonoton. Hasilnya pun seperti yang sudah saya perkirakan: nikmat sesaat di beberapa adegan namun dapat dengan mudah menguap segera setelah pergi dari gedung pertunjukan.

Dalam Last Vegas, penonton akan merasa sangat muda bila dibandingkan wajah-wajah para pemeran yang tampil di layar. Wajah-wajah itu adalah empat sekawan yang bersahabat sejak kecil, yaitu Billy (Michael Douglas), Paddy (Robert De Niro), Archie (Morgan Freeman), dan Sam (Kevin Kline). Mereka membentuk sebuah gang sok jagoan yang disebut dengan Flatbush Four. Sebagaimana umumnya sebuah gang, ikatan persahabatan mereka juga sangat erat. Dengan jargon "no one calls us names except for us!", mereka saling melindungi satu sama lain - dan tentu saja unjuk gigi kepada orang lain. Setelah dibuka dengan kenangan masa kecil, cerita langsung melesat 58 tahun kemudian, masa di mana empat sekawan tersebut hidup terpisah satu sama lain. Billy, satu-satunya orang di antara empat sekawan yang masih lajang tiba-tiba memutuskan untuk menikahi seorang gadis 30 tahunan. Ketika ia mengabarkan berita bahagia itu pada teman-teman lamanya dan bermaksud mengundang mereka untuk hadir dalam upacara pernikahan, dengan seketika Sam dan Archie menghidupkan ide untuk memberikan pesta bujang untuk Billy. Sam dan Archie sangat antusias dengan ide mereka, bukan hanya karena bahagia mengetahui Billy akhirnya akan menikah tetapi juga merupakan pelarian diri dari masalah mereka masing-masing. Sam adalah pria paruh baya yang telah kehilangan gairah seksualnya sementara Archie yang baru saja terserang stroke ringan merasa jengkel dengan perlakuan anaknya, Ezra (Michael Ealy) yang sangat protektif terhadap dirinya. Namun satu masalah muncul: akankah Paddy akan bergabung bersama mereka dalam pesta yang diadakan di Las Vegas itu? Ya, memang terdapat satu isu yang belum terselesaikan antara Billy dan Paddy dan itu semua dipicu oleh satu peristiwa di masa lalu yang tidak diketahui Paddy.

Dari segi cerita, penulis naskah Dan Fogelman tampaknya menciptakan kisah yang sangat umum digunakan dalam film-film berlatar Sin City lainnya. Hingar-bingar pesta di klub malam, berbagai buah dada montok bagaikan buah kelapa, bokong-bokong yang mengacung di mana-mana, hingga perjudian ada di film ini. Tidak tampak intrik cinta yang mengundang tawa seperti yang ia kerjakan dengan sangat bagus dalam Crazy, Stupid, Love (2011). Komedi dalam film ini lebih banyak berasal dari perilaku individu masing-masing tokoh yang terlibat, bukan hubungan di antara mereka. Berbicara mengenai hubungan antarkarakter, naskah Fogelman tidak cukup meyakinkan penonton bahwa empat orang tua itu telah bersahabat sejak lama. Percakapan telepon antara Billy, Sam, dan Archie di awal film lebih terasa seperti obrolan sesama rekan kantor yang bertemu sehari-hari - hanya di tambah seriuan "heeei" yang agak antusias dibanding sebagai teman lama. Situasi yang sama juga terjadi saat pertemuan Sam, Archie, dan Paddy yang hanya terlihat seperti anak sekolah yang menyambangi temannya untuk berangkat bersama.

Naskah Fogelman juga mengikuti pakem komedi dengan karakter-karakter matang dalam film-film terdahulu, di mana dengan karakter orang tua bukan berarti ada halangan untuk membuat cerita mesum dengan berbagai obat kuat dan kondom berseliweran di sana-sini. Justru yang akan penonton temukan dalam film ini adalah suasana klub malam yang terus diulang-ulang (saya tidak tahu berapa kali empat sekawan ini bergembira ria di klub malam). Bahkan, dalam beberapa adegan Fogelman tampak berusaha keras meyakinkan penonton bahwa liburan di Las Vegas membuat empat tokoh tua tersebut mengeluarkan sisi lain yang lama terpendam, misalnya adegan menari dengan lagu jadul, perkelahian dengan seorang anak muda yang kemudian beralih menjadi asisten pribadi mereka, dan sebuah kontes bikini. Pakem lainnya adalah detail usang seperti payahnya para orang tua ini dalam menguasai teknologi baru. Sayangnya dari berbagai adegan dalam pakem ini tidak ada yang berhasil membuat penonton tertawa.

Untuk urusan kocok-mengocok perut, memang ada beberapa adegan yang benar-benar lucu dan segar. Misalnya ketika Archie mengangkat telepon dari Ezra yang hanya tahu bahwa sang ayah sedang berada di gereja, Sam langsung meracaukan khotbah-khotbah ngawur yang tidak jelas, dan Kline sangat mahir melakukannya. Tawa juga dapat meledak ketika empat sekawan ini berusaha mengingat nama pelayan mereka ketika hendak masuk ke sebuah klub malam yang mahalnya luar biasa. Dalam adegan itu penonton akan mengira mereka sengaja mengarang nama seseorang yang huruf depannya L, bukan menebak nama sang pelayan. Ada pula adegan ketika Sam berhasil memikat satu gadis untuk ditiduri tetapi kemudian ia ingat istrinya. Curahan hati Sam pada sang gadis dalam adegan itu cukup dramatis, namun tiba-tiba dipecahkan dengan lelucon Sam di ujung adegan yang meledakkan tawa. Namun pada beberapa adegan terdapat beberapa humor basi - atau lebih tepatnya tidak memiliki timing yang baik karena sudah dapat ditebak penonton dengan mudah. Adegan semacam itu antara lain saat Sam bertemu dengan sebuah siluet wanita bertubuh tinggi besar (dan bersuara rendah!). Berapa lama waktu yang dibutuhkan penonton untuk menebak bahwa "wanita" itu adalah pria? Selain itu ada pula adegan saat Archie melarikan diri dari "kurungan" anaknya dan berusaha keluar dari jendela kamar yang ternyata tidak setinggi seperti yang terbaca dalam wajahnya. Seberapa besar peluang penonton tidak menebak bahwa adegan itu akan menjadi seperti Po yang mendaki tangga menuju Jade Palace dalam Kung Fu Panda (2008)?

Sementara itu dari segi penyutradaraan, Jon Turteltaub (Phenomenon, Instinct) sepertinya tidak berusaha untuk menampilkan karakter komik yang potensinya terlihat jelas dalam naskah Fogelman. Selama di Hotel Aria Las Vegas, empat sekawan ini mengalami berbagai petualangan. Archie berjudi dan menjadi miliarder hanya dalam beberapa jam, mereka berempat menginap di kamar paling eksklusif yang bisa ditawarkan Hotel Aria (bahkan mendepak dan mempecundangi 50 Cent), Sam tak henti-hentinya mengiklankan diri sebagai suami yang diberi suaka oleh sang istri, dan tentu saja Billy dan Paddy lagi-lagi jatuh cinta pada wanita yang sama, Diana (Mary Steenburgen). Empat sahabat itu juga sesekali terlibat percekcokan, kadang dengan emosi yang meluap dan kadang dengan mood yang terlalu lelah untuk beradu mulut. Menurut saya alangkah lebih baik bila dalam alur cerita seperti itu terdapat detail-detail adegan yang membantu para aktor untuk memancarkan sifat dan perilaku komikal mereka.

Dari jajaran pemeran, Kline dan Steenburgen adalah dua bintang bersinar di sini. Entah mengapa saya selalu mengasosiasikan Kline dengan film-film komedi. Menurut saya sebagian besar lelucon yang berhasil mengocok perut penonton dalam Last Vegas ada di adegan-adegan yang melibatkan Sam. Dengan latar belakang sebagai seorang suami yang diizinkan bersenang-senang selama liburan oleh istrinya, Sam adalah karakter yang paling lincah, nakal, dan gesit (dan secara fisik pun masih terlihat sangat bugar). Sam melontarkan lelucon-lelucon tak terduga, hingga kadang penonton tak sadar bahwa ia baru saja melucu.

Sementara itu Steenburgen sebagai Diana tampil mencuri perhatian sejak pertama kali penonton mendengar suaranya melantunkan versi jazz dari Only You dalam balutan gaun ungun muda yang berkilau. Sedari awal, penonton akan sadar bahwa Diana adalah satu-satunya tokoh waras dalam film ini. Diana merepresentasikan tokoh yang cocok (dan merasa nyaman) dengan usianya, berlawanan dengan Billy yang berusaha melawan ketakutannya menjadi tua dengan menikahi "anak-anak" tanpa berpikir panjang terlebih dahulu, berbeda dengan Archie yang seperti burung terbebas dari sangkar dan ingin merayakan kebebasannya dengan bersenang-senang seperti anak muda yang tidak memiliki kekhawatiran terhadap apapun, tidak seperti Paddy yang tak henti-hentinya menggerutu pada Billy, dan tentu saja tidak sama dengan Sam yang sedang semangat mencari mangsa muda. Steenburgen berhasil memperkaya karakter Diana. Ia bukan lagi sekedar love interest dalam CSBK (cinta segitiga bersemi kembali) antara Billy, Diana, dan Paddy seperti yang tertulis dalam lembaran naskah, melainkan seorang wanita dewasa yang mencari cinta di lingkungan yang salah - tepatnya di kawanan lelaki yang tidak tepat. Andai Fogelman memberi sedikit lebih banyak ruang untuk mengeksplorasi tokoh Diana, tentu akan menarik mengetahui apakah ia memiliki "kegilaan" atau "keanehan" seperti empat teman lelaki sebayanya?

Di luar kedua orang itu, semua pemeran dapat dikatakan bermain biasa-biasa saja. Freeman tampil sebagai orang tua yang lemah secara fisik namun masih memiliki semangat muda seperti yang dapat disaksikan dalam The Bucket List (2007). De Niro memerankan Paddy sebagai pria tua penggerutu yang jarang tersenyum dan sedikit menjengkelkan tiap kali ia menunjukkan bogeman pada anak muda yang menjadi asisten dadakannya. Mungkin yang sedikit lucu adalah bagaimana film ini berusaha membuat lelucon dari kharisma yang ditampilkan oleh tipikal karakter yang biasa dimainkan Douglas: lelaki dewasa cerdas dengan segala kemewahan dan kemudahan yang mengelilinginya. Last Vegas mengubah semua persona Douglas itu dengan menambahkan perasaan takut akan usia tua sampai ia harus memalsukan semua "identitasnya" mulai dari warna rambut, kulit, hingga giginya.

All in all, Last Vegas adalah tontonan ringan yang sangat tepat jika Anda mencari film dengan boobs, asses, and a little bit of bulk berseliweran di sepanjang cerita. Di luar itu, film berdurasi 105 menit ini setidaknya masih memiliki satu pesan positif yaitu bahwa meskipun terasa pahit, kejujuran seorang sahabat seperti yang diungkapkan tokoh Billy pada Paddy jauh lebih baik ketimbang canda tawa palsu. Dengan kejujuran, pesahabatan tidak akan pernah lapuk di makan usia, because friendship is never aging! 2.5 stars out of 5. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:

The Hangover (2009)

Director: Todd Phillips
Stars: Zach Galifianakis, Bradley Cooper, Justin Bartha
Genre: Comedy
Runtime: 100 minutes











Grumpy Old Men (1993)

Director: Donald Petrie
Stars: Jack Lemmon, Walter Matthau, Ann-Margret
Genre: Comedy, Drama
Runtime: 103 minutes

No comments:

Post a Comment