Sunday, November 3, 2013

The Mexican: Love Is On the Road

Diakui atau tidak, terkadang memasang aktor-aktor papan atas dalam sebuah film merupakan teknik pemasaran jitu. Seakan memahami kategori atau segmentasi penonton, pihak produsen/studio memang tidak jarang membidik mereka yang gandrung ke bioskop hanya karena nama besar pemainnya. Dalam beberapa kasus teknik pemasaran tersebut berhasil secara komersial dan kritik, dalam kasus lainnya hanya sukses secara kritik dan babak belur di tangga box office, dalam kasus yang lain lagi hanya sukses meraup keuntungan tetapi kurang disukai para kritikus, dan masih dalam kasus lainnya (dan yang paling menyedihkan) tidak sukses secara pendapatan maupun kritik. Salah satu contoh film yang menerapkan teknik pemasaran dengan memanfaatkan nama pemainnya adalah The Mexican (2001), sebuah film yang dapat dikatakan masuk dalam kategori ketiga.

The Mexican memasang dua bintang besar yang namanya sedang bergaung di mana-mana pada awal dekade 2000. Dua bintang itu adalah Julia Roberts yang baru saja dinobatkan sebagai Best Actress pada Oscar tahun 2001 atas penampilannya dalam Erin Brokovich (2000) dan Brad Pitt yang masih sangat diingat pemirsa layar lebar atas penampilannya dalam Fight Club (1999). Maka, ketika The Mexican diperkenalkan kepada khalayak ramai tidak heran banyak orang berbondong-bondong pergi ke bioskop untuk menyaksikan kolaborasi perdana dua bintang besar tersebut. Pada pekan pertama pembukannya di Amerika Serikat, film ini menempati posisi puncak film berpendapatan tertinggi. Sayangnya banyak kritikus mengeluarkan pendapat yang tidak sepenuhnya enak didengar.. Mmm... kira-kira apa penyebabnya ya?

Saya pribadi menyukai ide cerita film ini, di mana kisah cinta sepasang kekasih dipadukan dengan sedikit alur berisi kekerasan yang menghadirkan sensasi light thriller. Film berdurasi 123 menit ini menceritakan sepotong kisah hidup Jerry Welbach (Pitt) dan Samantha "Sam" Barzel (Roberts), sepasang kekasih yang tampak memiliki masalah serius dalam hubungan percintaan mereka. Sam selalu merasa Jerry adalah pria egois yang memaksa dirinya untuk terus mengikuti kehendak kekasihnya itu. Setidaknya dalam kurun lima tahun terakhir, hubungan mereka semakin memburuk hanya karena sifat ceroboh Jerry. Lima tahun yang lalu, Jerry secara tidak sengaja menabrak mobil Arnold Margolese (Gene Hackman), seorang mafia yang dipenjara karena kebetulan mobil yang ditabrak itu berisi seorang pria yang sedang disekap. Akibat peristiwa konyol itu, Jerry terpaksa harus bekerja untuk Bernie Nayman (Bob Balaban) - kaki tangan Margolese - dalam bisnis kotor sang mafia. Celakanya, Sam adalah tipe wanita yang cukup sulit diatur. Sering kali pekerjaan Jerry tidak beres karena dikacaukan Sam, termasuk tugas yang seharusnya menjadi pekerjaan terakhir Jerry untuk Margolese. Nayman yang kecewa lantas memberikan satu tugas baru - yang dijanjikan sebagai tugas terakhir - untuk Jerry, satu pekerjaan terakhir yang membuatnya menyadari betapa ia mencintai Sam.

Satu hal yang mungkin mengejutkan banyak orang adalah ternyata Pitt dan Roberts tidak banyak berbagi layar di sini. Penulis naskah J. H. Wyman menciptakan cerita untuk film perjalanan yang menarik, di mana tokoh Jerry dan Sam masing-masing memiliki pengalaman sendiri-sendiri dan diceritakan secara bergantian. Banyak orang yang mengeluhkan jalan cerita seperti ini. Bagi saya pribadi, naskah Wyman ini memiliki memang keunggulan dan kekurangan. Keunggulan naskah ini adalah perjalanan yang dilalui oleh tokoh Jerry dan Sam cukup menarik, karena keduanya bertemu tokoh-tokoh pendukung lain yang dapat membantu menunjukkan karakter sesungguhnya dari kedua pemeran utama tersebut.

Melalui perjalanan Jerry yang keras, penonton dapat melihat betapa cerobohnya pria ini. Untuk karakter Jerry, Wyman tampaknya ingin memperlihatkan sisi konyol yang dapat menimbulkan unsur komedi dari perilaku Jerry sendiri. Lihatlah betapa Jerry mencoba menjadi seorang anggota mafia profesional dengan selalu menyimpan pistol di balik bajunya ke manapun ia pergi. Namun, penonton akan menyunggingkan senyum atau tawa ketika melihat pistol yang ia bawa terjatuh, kemudian ia terburu-buru mengambilnya dan memastikan tidak ada seorangpun melihat tindakan bodohnya itu. Ingat pula adegan ketika Jerry baru tiba di Meksiko dan menjajal mobil "El Camino" sewaan di jalanan sepi. Saat itu, seakan ingin belajar dari pengalamannya yang pernah menabrak mobil Margolese karena tidak memperhatikan lampu lalu lintas, Jerry dengan sedikit sabar menunggu hingga lampu di persimpangan jalan yang sunyi menyala hijau. Jiwa pemberontak Jerry yang belum terbiasa disiplin membuatnya gregetan dan mencoba menyebrang jalan. Tiiiiiiiin! Sebuah truk besar pun membunyikan klakson atas tindakan berani mati Jerry tersebut. Semua adegan itu berhasil mengundang senyum dan tawa penonton.

Sementara itu dalam perjalanan Sam, Wyman tampak ingin mengeksplorasi karakter wanita ini melalui bantuan tokoh lain, yaitu Leroy (James Gandolfini), utusan Margolese dan Nayman yang ditugaskan menculik Sam sebagai jaminan bahwa Jerry mendapatkan The Mexican - pistol melegenda yang harus diselundupkan Jerry ke Amerika. Tanpa diduga, alur cerita yang melibatkan Sam dan Leroy ini sangat menarik dan berhasil memenuhi tujuannya, mengeksplorasi lebih jauh karakter Sam. Banyak dialog antara dua tokoh ini yang sangat efektif menunjukkan bahwa di balik perilaku dan teriakannya yang menyebalkan Sam adalah wanita yang perhatian, lembut, kocak, dan sangat terbuka. Coba ingat obrolan macam apa yang terjadi di mobil antara Sam dan Leroy ketika mereka menuju Las Vegas. Girl talk! Yup, that was funny chit-chat between surrender-in-love-girl and soft-heart-killer. Dalam adegan itu, Sam terlihat cukup terkejut dengan betapa sensitifnya penculik berbadan besar yang berada di sampingnya itu. Ingat pula bagaimana mengharukannya Sam yang terlihat iri ketika Leroy dan Frank (Michael Cerveris) bermesraan. Adegan itu menunjukkan betapa Sam adalah wanita yang tak mudah melupakan seseorang yang ia cintai, bahkan yang brengsek sekalipun. Bagi saya, pertemuan Sam dengan Leroy inilah yang menjadikan salah satu alasan terkuat untuk menyaksikan The Mexican.

Namun, Wyman juga menyelipkan alur thriller dalam perjalanan Jerry dan Sam yang menurut saya kurang begitu berhasil, baik dari segi naskah maupun eksekusinya. Dari segi cerita, alur thriller yang dibuat Wyman terkesan hanya untuk menambah jam tayang film ini. Selama lebih dari dua jam menyaksikan The Mexican, ada satu titik di mana saya mengira cerita telah usai (baca: adegan saat Sam tidak jadi pulang sendiri ke Amerika). Alur thriller berupa pengkhianatan Nayman pada Margolese yang dibongkar pada sepertiga bagian akhir film sangat terkesan dibuat terburu-buru dan dipaksakan kontras dengan dua pertiga bagian awal film yang berjalan begitu sederhana. Tidak lama setelah adegan yang terlihat seperti akhir cerita bahagia dalam film-film komedi romantis biasa mucul di layar, tiba-tiba cerita berbalik mengenai adegan penculikan yang terlihat serius (berbeda dengan penculikan Sam yang penuh canda tawa), lengkap dengan latar musik yang mencoba membuat suasana tegang dan ekspresi Sam yang ketakutan ketika bersembunyi di bawah tempat tidur. Tak cukup sampai di situ, adegan todong-menodong senjata (gosh, I guess every cast in this movie holds a gun at least once) di menit-menit akhir film juga berusaha semakin mempertajam sisi thriller. Tetapi kembali lagi, semua itu hanya terkesan seperti alur tambahan semata yang terkesan terpisah dengan bagian awal film. Itulah menurut saya kelemahan naskah Wyman. Saya senang melihat bagaimana Jerry yang bodoh berusaha mendapatkan The Mexican, saya bahagia melihat perjalanan indah Sam dengan penculiknya, tetapi saya terganggu dengan alur pengkhianatan Nayman pada Margolese yang tiba-tiba membuat segala sesuatu yang begitu sederhana di awal menjadi kompleks di akhir (saya perlu mengingat adegan-adegan awal untuk memahami apa yang sesungguhnya terjadi).

Dari segi eksekusi, sutradara Gore Verbinski (Pirates of the Caribbean trilogy, Rango) tampak kurang menggali karakter Jerry dan Sam ketika mereka harus terlibat dalam alur thriller. Pada awal film, Jerry hanya digambarkan seperti pria bodoh dan ceroboh tanpa sikap kewaspadaan sama sekali. Namun lihatlah bagaimana tokoh si bodoh itu tiba-tiba berubah menjadi pria teliti yang pandai menganalisis situasi, misalnya ketika ia mendengar percakapan telepon Teddy Slocum (J. K. Simmons), anak buah Nayman yang bertugas membantu dan mengawasi Jerry. Simak pula bagaimana Jerry dengan cerdas menjadi pria yang berkuasa dalam adegan di pegadaian saat Teddy dipaksa harus memborgol tangganya sendiri karena tertangkap basah menuruti perintah Nayman yang ingin menghabisi dirinya dan berkhianat dari Margolese. Sementara, untuk karakter Sam penonton tidak pernah tahu bahwa ia sangat mampu menanggapi dan memahami kalimat "Don't you know when enough is enough?" dan "Do you like sex and travel?"yang ternyata seperti sebuah sandi untuk Nayman. Padahal, sebelumnya Sam menceritakan pengalaman konyol Jerry - mengenai awal mula keterlibatan kekasihnya itu dengan Margolese dan Nayman - pada Leroy dengan gaya bicara yang seolah-olah ia tidak peduli dan tidak memahami akibat dari peristiwa itu selain imbas pada kehidupan percintaan mereka berdua tentunya.  Penonton tidak siap memahami "sisi lain" dari karakter Jerry dan Sam tersebut. Bagi saya, Verbinski seperti kurang membangun karakter cerdas Jerry dan Sam karena hanyut dalam menggali sisi komedi dua tokoh ini.

Di sisi lain, Verbinski sangat mahir menggali dan mengarahkan karakter dalam alur komedi romantis. Seperti disebutkan sebelumnya, saya menikmati bagaimana si bodoh Jerry berusaha mati-matian mendapatkan The Mexican. Dengan menggunakan teknik Quentin Tarantino dalam menceritakan legenda pistol terkutuk, Verbinski berhasil memukau penonton ketika mengikuti tiga versi kisah The Mexican dalam setiap fase perjalanan Jerry - saat bertemu Beck (David Krumhotz), saat pistolnya direbut polisi korup, dan saat bertemu Margolese. Sementara itu sedikit berbeda dengan pengalaman Jerry, Verbinski membuat perjalanan Sam sedikit lebih dinamis, baik dari segi karakter Sam sendiri maupun pengalaman wanita itu. Semenjak bertemu Leroy, penonton dapat melihat Sam bukan hanya sebagai perempuan yang hendak menumpahkan kekesalan pada kekasihnya melalui perjalanan ke Las Vegas. Dalam perjalanannya bersama Leroy, Sam dapat menempatkan diri sebagai sahabat yang setia mendengarkan  serta wanita yang belajar makna cinta dan hidup dari Leroy. Untuk kasus Sam, terus terang saya sangat menikmati ketika Leroy yang menjadi fokus cerita. Gandolfini begitu lovable, bijak, dan memiliki kisah hidup yang menarik. Mungkin saya akan menyebut kemahiran Verbinski dalam menggambarkan perjalanan Sam sebagai bumerang. Saya sebut bumerang bukan karena tidak bagus, melainkan karena justru hal yang paling menarik dari perjalanan Sam adalah Leroy. Saya ingin mengetahui masa lalu Leroy lebih jauh,saya ingin tahu perjalanan cinta Leroy, dan saya ingin satu film penuh yang bercerita tentang Leroy dengan Sam sebagai fag hag yang setia menemaninya.

Dari segi pemeran, Pitt sangat berhasil mucul sebagai karakter komik yang sangat kocak. Pitt sangat mahir menjadi Jerry yang quirky dan terkadang random. Banyak adegan Pitt yang mengundang gelak tawa, seperti pistol jatuh dan lampu lalu lintas seperti yang disebutkan di atas, wajah bodoh ketika ditahan dalam sel dan mendengarkan versi kedua kisah The Mexican dari seorang polisi korup, sikap curiga seolah setiap orang ingin merebut The Mexican dari kopernya di bandara, dan tingkah bodohnya pertama kali bertemu Beck di bar. Penampilan pasangan Angelina Jolie ini sempat membuat beberapa kali saya berpikir, wow Pitt is just like the pretty version of Mr. Bean! Sementara Roberts tampak seperti sedang reuni dengan peran lamanya dalam Pretty Woman (1990), only this time she does a lot more screaming, yelling, and know how to use pistol. Roberts terlihat sangat effortless memerankan Sam. Roberts dapat menjadi wanita paling menyebalkan dengan teriakannya dan dalam kesempatan lain dapat menjadi wanita manis yang penuh rasa ingin tahu urusan orang lain. Singkat kata, peran sebagai Sam ibarat makanan sehari-hari Roberts. Satu aktor yang mencuri perhatian dalam film ini sudah tentu Gandolfini. Sebagaimana saya sebutkan sebelumnya, Gandolfini mampu memberikan penampilan memukau sebagai penjahat yang memiliki sensitivitas setingkat pengisi kolom konsultasi cinta dalam majalah wanita. Gandolfini sebagai Leroy memiliki gaya bicara pelan namun sangat bijak. Dalam beberapa kesempatan Gandolfini menunjukkan ekspresi yang resah dan bingung yang tampak sangat natural. Tidak diragukan lagi, ini adalah satu penampilan terbaik Gandolfini!

Secara keseluruhan, The Mexican adalah sebuah film yang sebenarnya menarik dari segi ide cerita dan tidak pula mengecewakan dari segi pemainnya - yang memasang dua aktor papan atas. Hanya saja alur cerita yang kurang terjalin dengan rapi antara komedi romantis dengan thriller yang terkesan dipaksakan pada bagian akhir membuat film ini agak menyebalkan. Saya sendiri berusaha keras untuk menyukai film ini. Namun tampaknya betapapun keras mencoba, saya hanya akan menemukan kesenangan pada tokoh Leroy, tertawa pada tingkah laku Pitt sebagai Jerry, menikmati pemandangan tandus Meksiko yang indah, dan terlena pada musik berirama Latin yang sangat enak didengar di sepanjang cerita. Cerita romantis Sam dan Jerry memang biasa (saya memang tidak memasang ekspektasi yang terlalu tinggi untuk urusan cinta pada film ini), tetapi bahkan saya sempat memahami simbolisme The Mexican sebagai pistol terkutuk yang melambangkan perjuangan untuk mendapatkan cinta. Sementara itu mengenai alur thriller (sekali lagi) saya hanya bisa mengatakan bahwa itu sangat mengganggu! All in all, it's quite entertaining, 3 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?

Watch this of you liked:

Knight and Day (2010)

Director: James Mangold
Stars: Tom Cruise, Cameron Diaz, Peter Sarsgaard
Genre: Action, Comedy, Romance
Runtime: 109 minutes 











The A-Team (2010)

Director: Joe Carnahan
Stars: Liam Neeson, Bradley Cooper, Sharlto Copley
Genre: Action, Adventure, Thriller
Runtime: 117 minutes 

No comments:

Post a Comment