Saturday, October 26, 2013

Captain Phillips: The Stoic Man and The Sea

Masih ingatkah Anda pada peristiwa penyanderaan 20 Anak Buah Kapal (ABK) MV Sinar Kudus oleh beberapa kelompok bajak laut Somalia? Peristiwa yang terjadi pada pada 16 Maret 2011 itu menyita perhatian publik karena sulitnya upaya penyelamatan yang dimediasi pemerintah. Tawar-menawar jumlah uang tebusan yang harus diserahkan PT Samudera Indonesia - pemilik kapal - berlangsung cukup alot. Pemerintah sebagai mediator pun tidak tinggal diam. Pada tanggal 18 Maret 2011 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin rapat kabinet terbatas untuk membahas upaya penyelamatan 20 WNI tersebut. Hasil rapat tersebut adalah Presiden menyetujui TNI melakukan serbuan militer ke kapal MV Sinar Kudus dengan mengirimkan lebih dari 800 satuan tugas TNI dengan sandi Duta Samudra I/2011. Bersama satuan tugas tersebut, TNI juga menyiapkan 3 kapal perang, 1 pesawat, dan 1 helikopter. Akhirnya pada 1 Mei 2011 para sandera berhasil diselamatkan setelah PT Samudera Indonesia setuju memberikan uang tebusan sebesar US$ 4,5 juta yang dijatuhkan dari helikopter. Meski serbuan militer urung dilancarkan, namun TNI menembak mati empat perompak Somalia dalam peristiwa baku tembak sesaat setelah pengembalian para sandera. Somalia memang dikenal sebagai negara yang jatuh miskin karena dilanda perang saudara berkepanjangan. Kelompok bajak laut tumbuh subur di daerah pantai. Sebelum menjerat MV Sinar Kudus, pada 2009 perompak Somalia juga berupaya membajak kapal kargo Maersk Alabama yang semua awaknya berkewarganegaraan Amerika Serikat. Pada saat itu semua media massa Amerika kencang mengabarkan peristiwa pembajakan tersebut sehingga pemerintah mengambil langkah tegas dengan mengirimkan pasukan AL dalam jumlah cukup besar. Beruntung, akhir bahagia seperti yang terjadi pada MV Sinar Kudus juga terjadi pada Maersk Alabama. Richard Phillips, kapten kapal tersebut pun menulis buku yang menceritakan bagaimana kisah penyelamatan dilakukan. Buku tersebut kini telah diadaptasi ke layar lebar dengan judul Captain Phillips (2013).

Jujur saja motivasi saya menonton film ini ketika pertama kali tayang di bioskop adalah karena nama Paul Greengrass (United 93, The Bourne Ultimatum), sutradara yang dikenal dengan teknik pengambilan gambar kamera bergoyang. Ketika mengetahui bahwa film ini diangkat dari kisah nyata, nama Greengrass memunculkan kenangan manis dalam benak saya mengingat karya-karyanya terdahulu yang bersumber dari peristiwa-persitiwa pahit di dunia sukses mengudang decak kagum karena kemahirannya memadukan drama, thriller, dan aksi. Dari film-film seperti Bloody Sunday (2002) dan United 93 (2006), saya mendapatkan ketegangan ekstra dan merasakan bagaimana ketegangan tersebut pecah dalam seketika menjadi alunan drama yang mengharukan. Pengalaman itulah yang membuat saya tertarik menyaksikan Captain Phillips.

Film berdurasi 134 menit ini mengungkapkan kisah penyanderaan Richard Phillips (Tom Hanks), seorang kapten kapal berbendera Amerika, Maersk Alabama yang mengangkut bantuan makanan untuk korban kelaparan di Afrika. Perjalanan Captain Phillips kali ini cukup menantang. Ia akan melewati semenanjung Afrika (horn of Africa) yang terkenal dengan kelompok bajak laut. Dari awal menerima informasi rute perjalanan dari navigator Shane Murphy (Michael Chernus), ia langsung memusatkan perhatiannya pada kesiapan para ABK dalam menghadapi marabahaya. Ia meminta seluruh awak mengunci ruangan-ruangan penting, memeriksa selang-selang pembuat gelombang, dan mengadakan simulasi keadaan darurat. Sekian lama mengarungi lautan secara profesional tidak membuat Captain Phillips kekurangan rasa khawatir akan perjalanannya kali ini, apalagi setelah ia menerima surel dari perusahaan pelayaran yang memperingatkan ancaman bajak laut. Hingga akhirnya, semua kekahwatiran itu menjadi kenyataan. Kapal kecil yang ditumpangi sekelompok perompak yang diketuai si kurus Muse (Barkhad Abdi) dan para anggotanya Bilal (Barkhad Abdirrahaman), Najee (Faysal Ahmeed), dan Elmi (Mahiat M. Ali) menjadi mimpi buruk bagi para awak Maersk Alabama. Sebagai kapten kapal, Captain Phillips merasa bertanggung jawab atas keselamatan seluruh ABK. Ia berusaha tegar dan menghadapi serangan para monster laut itu dengan kepala dingin, berusaha menghindari gesekan emosi dengan para perompak. Namun, Captain Phillips juga manusia biasa yang memiliki keterbatasan dalam menahan emosi dan ketegaran. Jiwa sang kapten pun di ambang keretakan ketika selama beberapa hari ia menjadi sandera para perompak.

Tidak sia-sia saya menonton film ini hanya karena nama sutradarnya, sebab di sini Greengrass sekali lagi menunjukkan bakatnya dalam mengolah drama berdasarkan kisah nyata. Selama 134 menit pertunjukan, Greengrass berhasil merayu penonton untuk luruh mengikuti hari-hari paling menyedihkan dalam hidup seorang kapten kapal berpengalaman. Dari awal hingga akhir film Greengrass sangat piawai memainkan tingkat ketegangan. Pendiri mazhab kamera bergerak itu mampu mengombinasikan saat-saat di mana adegan-adegan begitu tegang sehingga membuat penonton selalu haus ingin melihat apa yang terjadi berikutnya dengan selingan adegan-adegan "pengingat" yang seolah ingin menyadarkan penonton bahwa inilah kisah nyata yang sesungguhnya terjadi, dan penonton harus menerima beberapa hal yang mungkin terkesan menyedihkan atau klise.

Pada bagian awal film, saat-saat di mana kapal Muse dan kawan-kawan mendekati Maersk Alabama sangat menegangkan. Penonton diajak melihat bagaimana dua kubu yang bertentangan saling berkejaran. Maersk Alabama yang berukuran besar, memiliki bobot muatan yang luar biasa berat, dan tanpa dilengkapi senjata dipaksa harus menghindar dari kapal kecil rombeng yang tanpa diduga cukup gesit. Ya, inilah adegan di mana semua orang bisa menyaksikan bagaimana gagahnya warga Amerika, simbol kapitalisme dan demokrasi berhadapan langsung dengan bajak laut Somalia yang tidak memiliki waktu dan cukup energi untuk membangun kapitalisme dan demokrasi karena disibukkan urusan perut. Adegan kejar-kejaran ini berlangsung intens dan agresif, tidak jarang membuat nafas penonton memburu. Saya pribadi beberapa kali memalingkan wajah dari layar, bukan karena bosan tetapi karena tidak tahan menyaksikan dan merasakan beban ketegangan yang dimuculkan Greengrass ketika akhirnya para perompak berhasil naik ke anjungan Maersk Alabama.

Keahlian Greengrass dalam memecahkan ketegangan dengan seketika tampak terasa di akhir adegan kejar-kejaran tersebut. Dalam selang beberapa detik setelah Muse dan kawan-kawan berhasil menambatkan tangga, penonton harus rela menghadapi kenyataan bahwa makhluk-makhluk "kelaparan" dari negeri bernama Somalia dengan wajah menyeramkan menggilas nyali awak Maersk Alabama. Baru sesaat penonton diberi jeda setelah menyaksikan adegan kejar-kejaran dua kapal berbeda ukuran di lautan lepas, Greengrass kembali membuat penonton berpegangan erat-erat pada kursi dengan adegan kucing-kucingan antara awak Maersk Alabama dengan empat perompak Somalia. Ketegangan cerita kembali meningkat secara progresif hingga adegan penutup yang luar biasa menyentuh.

Greengrass adalah sutradara yang dikenal sebagai pemuja realisme. Setiap adegan yang ia tangkap mencerminkan bagaimana kenyataan yang sesungguhnya atau yang akan terjadi dalam kehidupan di luar layar. Latar belakang Greengrass sebagai arsitek dokumenter sebelum terjun ke ranah film panjang tampak sangat berpengaruh pada bagaimana ia berusaha memperlihatkan realitas dalam karya-karyanya. Teknik pengambilan gambar kamera bergoyang adalah salah satu cara untuk membangkitkan realitas tersebut, ditambah dengan penempatan kamera di beberapa sisi sekaligus yang dapat menangkap beragam sudut pandang. Adegan yang terkesan sangat nyata di antaranya adalah saat Muse dan kawan-kawan berhasil naik ke anjungan Maersk Alabama dengan menambatkan tangga. Dalam adegan itu, empat perompak Somalia tersebut harus menjaga keseimbangan dan berusaha naik setenang mungkin karena di saat yang sama Captain Phillips terus mempermainkan arah haluan kapal agar mereka terjatuh. Greengrass dan sinematografer akrabnya Barry Ackroyd sangat cerdas mengambil adegan ini dengan memainkan skala pembesaran kamera dan sesekali beralih dengan cepat memperlihatkan wajah cemas Captain Phillips. Adegan tersebut diambil tanpa menggunakan CGI atau bahkan pemeran pengganti. Sungguh adegan yang sangat berani dan berisiko. Namun hasilnya tak diragukan lagi, dapat membuat penonton menyumpah dalam hati agar para bajak laut jatuh ke laut walau mungkin sebagian besar dari mereka tahu bahwa tidak akan mungkin kisah nyata yang sudah berlalu dapat diubah jalan ceritanya.

Obsesi Greengrass akan realisme tidak cukup hanya diwujudkan melalui teknik pengambilan gambar kamera bergoyang. Lebih dari sekedar pengambilan gambar, Greengrass ingin apa yang ditangkap dari kamera itu sendiri juga harus benar-benar mencerminkan realitas di dunia nyata. Dalam film ini, Greengrass sengaja tidak mengizinkan Hanks bertemu dengan para pemeran bajak laut yang menjadi lawan mainnya hingga adegan saat mereka memang harus bertemu untuk pertama kalinya, yaitu saat para bajak laut berhasil naik ke anjungan Maersk Alabama. Tentu saja secara alamiah Hanks sebagai aktor ingin mengetahui siapa rekan dalam proyeknya kali ini, dan ia "diminta" untuk mewujudkan rasa ingin tahunya itu dalam adegan di anjungan tersebut. Hasilnya? Saya tidak dapat membedakan perbedaan ekspresi antara Hanks sebagai aktor yang ingin mengetahui rekan kerjanya atau Captain Phillips yang khawatir ketika kapalnya disusupi orang asing. Ekspresi yang tertangkap di wajah-wajah para aktor sangat natural karena mereka memang baru melihat satu sama lain untuk pertama kalinya. Ekspresi tersebut membuat kesan kekhawatiran Captain Phillips akan serangan orang asing semakin nyata. Dari raut pria paruh baya itu terbaca bahwa ia tidak tahu apa saja yang bisa dilakukan makhluk-makhluk ceking yang bahkan tidak mampu mengatupkan bibir untuk menyembunyikan gigi tonggosnya itu.

Selain pengaruh Greengrass dan Ackroyd, keunggulan Captain Phillips juga terletak pada naskah yang ditulis oleh Billy Ray. Dari awal pembuka film, jelas sekali bahwa naskah Ray ini sangat cocok dengan gaya penyutradaraan Greengrass yang sangat senang menyisipkan simbol untuk membenturkan dua budaya, kondisi, atau kehidupan yang jika dilihat sangat jauh berseberangan namun pada dasarnya memiliki kesamaan hakiki. Di awal cerita, diperlihatkan bagaimana dua kehidupan di Amerika dan Somalia berlangsung. Di Amerika, Captain Phillips diperlihatkan hidup dalam keluarga berkecukupan, mencintai anak dan istrinya, bekerja pada perusahaan pelayaran besar. Sementara itu, di titik lain bumi bernama Somalia, alih-alih ada orang yang berpelukkan mengucapkan selamat tinggal atau mencurahkan kasih sayang, penonton disuguhkan keganasan sekelompok orang yang mengancam orang-orang yang lebih lemah dari segi kekuasaan untuk pergi ke lautan menjadi perompak. Di tempat yang disebut terakhir, tidak diperlukan banyak dialog yang secara eksplisit menjelaskan bagaimana kehidupan bekerja. Kemudahan akses senjata, pemilihan anggota bajak laut secara serampangan, dan sikap mereka satu sama lain sudah cukup menunjukkan betapa keras dan kacaunya kehidupan di sana.

Saya sarankan jangan dulu terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa Captain Phillips ingin melontarkan komentar Marxist mengenai bagaimana kapitalisme menari di atas penderitaan warga dunia ketiga. Tahan pendapat Anda hingga melihat adegan ketika orang-orang dari dua kehidupan berbeda ini bertemu di atas kapal. Dalam adegan itu, penonton dapat memahami bahwa mereka semua sama saja: hanya sekelompok orang yang hidup untuk menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin dan menghasilkan uang setelahnya. Ketika baru bertemu dengan Captain Phillips, Muse langsung mengucapkan kalimat yang menyita perhatian, "Captain relax, nobody gets hurt. No Al-Qaeda here, just business". Seperti yang telah banyak dikatakan penjahat dari berbagai kelas sepanjang sejarah: hanya bisnis, hanya uang, hanya urusan perut. Begitupun Captain Phillips. Selama perjalanannya mengarungi lautan, ia tidak ingin putus komunikasi dengan Andrea, ingin semua pekerjaan beres sesuai prosedur sehingga cepat selesai, dan marah ketika awaknya protes dengan ancaman keselamatan kerja mereka. Ia ingin pekerjaannya selesai sesuai dengan perintah perusahaan dan merasakan kebebasan meluangkan waktu bersama keluarga setelahnya. Dengan menggunakan bahasa kasar, mungkin Captain Phillips dan para awaknya serta Muse dan kawan-kawan adalah orang-orang yang menyadari bahwa betapa uang dapat memperbudak mereka. Karena kesadaran itu pula, mereka tidak ingin berlama-lama dalam berkutat dengan pekerjaannya. Mereka ingin segera bebas dan kembali pada kehidupan biasa yang ternyata lebih universal: bebas dan bahagia - lihat bagaimana Muse dengan polos berkata ingin pergi ke Amerika bila ia berhasil menggondol jutaan dolar dari penculikan Captain Phillips, membeli mobil, dan bersenang-senang di tanah impian tersebut sementara Captain Phillips sendiri tentunya ingin merasakan kehangatan pelukan istrinya lebih lama.

Naskah Ray juga membuat penonton berkontemplasi menentukan siapa sebenarnya yang menjadi korban dalam situasi yang dihadapi Captain Phillips. Di satu sisi jelas sekali penyanderaan dan pemerasan yang dilakukan para bajak laut memang merupakan tindakan kriminal yang tidak dapat dibenarkan. Namun, pada awal film penonton telah diperlihatkan bagaimana cara hidup bekerja di Somalia: menindas atau ditindas. Menindas hanya dapat dilakukan oleh orang atau kelompok yang memiliki sumber daya lebih banyak, baik uang, informasi, kekuatan fisik, jaringan, senjata, dan lain-lain sementara yang tidak memiliki semua itu harus rela masuk kategori orang-orang tertindas. Jelas sekali mejadi perompak bukanlah pilihan sukarela Muse dan kawan-kawan, mereka hanya korban dari kerasnya hidup di Somalia. Jadi, apakah Captain Phillips menjadi satu-satunya korban dalam peristiwa ini? Keinginan Ray agar para penonton berkontemplasi sangat jelas dalam sebaris kalimat yang dilontarkan Captain Phillips, "There's gotta be something other than being a fisherman or kidnapping people." Setelah menatap mata sang kapten, Muse lalu membalas, "Maybe in America".

Membahas Captain Phillips tentu tidak akan lengkap jika tidak membicarakan si empunya peran, Tom Hanks. Di film ini, aktor kawakan tersebut kembali menunjukkan tajinya sebagai aktor kelas atas yang mampu memainkan perannya ke tingkat yang mendekati kenyataan. Pada adegan kejara-kejaran antara Maersk Alabama dengan kapal bajak laut, Hanks memerankan Captain Phillips sebagai kapten kapal yang tampak berpengalaman namun ada rasa takut yang tergambar jelas dalam dirinya. Rasa takut itu dapat dirasakan penonton pada bagaimana tatapan gelisah sang kapten ketika kapal yang ditunggangi Muse dan kawan-kawan semakin mendekat. Dengan berjalan mondar-mandir dari kabin kendali ke sisi luar kabin, Captain Phillips tak henti-hentinya mengeluarkan perintah tegas mengenai arah haluan kapal. Namun tanpa dapat ditutupi, penonton merasakan bagaimana perintah tersebut dikeluarkan dari seorang pria yang memiliki raut wajah panik luar biasa sambil terus melihat musuhnya di kejauhan menggunakan teropong. Akting Hanks dalam adegan ini sangat berbahaya, dapat menularkan rasa panik dan takut luar biasa pada siapapun yang menyaksikannya.

Namun tentu adegan yang paling banyak menuai pujian untuk akting Hanks adalah di saat-saat akhir di mana Captain Phillips mengalami trauma berat. Sebagai seorang aktor, Hanks tampak paham betul bahwa tokoh Captain Phillips merupakan pribadi yang cukup kompleks. Ibarat seekor siput, tokoh Captain Phillips memiliki cangkang yang keras dalam arti ia adalah seseorang yang pandai menahan emosi dan letupan hawa nafsunya pada sebagian besar siklus hidupnya. He's definitely a stoic man. Lihatlah pada bagaimana Captain Phillips membangun hubungan dengan para ABK. Hanya ada ucapan selamat pagi, selamat menkmati kopi, dan perintah untuk melanjutkan pekerjaan. Semua serba profesional. Kapal adalah gedung kantornya, tempat di mana sebagai seorang kapten ia harus menjaga wibawa dan menjadi panutan bawahannya. Ketahanan emosi Captain Phillips begitu terjaga (termasuk di kala ia menghadapi protes para ABK) bahkan ketika menghadapi ancaman berbahaya sekalipun ketika diculik bajak laut. Hanks memunculkan lapisan luar karakter Captain Phillips tersebut dengan kharisma seorang pemimpin di atas Maersk Alabama dan berusaha sekuat mungkin untuk menuruti permintaan para bajak laut di samping berupaya mendistraksi mereka ketika menjadi sandera. Lalu, pada suatu waktu seekor siput harus mengganti cangkangnya yang sudah terlalu sempit, menyisakan bagian tubuhnya yang fragile. Begitupun Captain Phillips. Ketika akhirnya ia berhasil diselamatkan, ia tak kuasa berpura-pura lagi menahan segala kekuatan dan kepandaiannya dalam menjaga emosi. Captain Phillips sebagai korban penyanderaan langsung segera menyemburkan luapan ketakutannya. Ketika sedang dalam ruang perawatan medis, Hanks memerankan Captain Phillips sebagai pria yang sangat terlihat seperti anak kecil yang mengadu pada ibunya tentang bagaimana perlakuan buruk teman-temannya di sekolah. Captain Phillips tak lagi fokus, ia menangis tersedu, ketakutan, haus akan perlindungan. Inilah satu-satunya adegan yang membuat mata saya berkaca-kaca di depan layar biskop sepanjang tahun ini. A bravura performance from Mr. Hanks! Saya sangat yakin nominasi Oscar akan kembali mampir ke tangan Hanks tahun ini.

Secara keseluruhan, Captain Phillips menyuguhkan sebuah tontotan menyegarkan di antara deretan film-film bertema survival yang ramai rilis tahun ini. Greengrass menggebrak opini yang menyatakan bahwa sebuah film yang diangkat dari kisah yang sudah diekspliotasi mati-matian oleh media massa tidak akan menarik lagi. Pada kenyataannya, banyak orang yang keluar dari bioskop menyatakan bahwa mereka seperti baru saja menyaksikan sebuah tontonan yang sama sekali baru. Keberhasilan Captain Phillips tidak lepas pada bagaimana kerjasama antara sutradara, sinematografer, penulis naskah, para pemain, dan seluruh kru lainnya memperlihatkan sisi dalam dari peristiwa nyata tersebut. Pemberitaan di media massa tentu tidak akan banyak mengeksplorasi pada bagaimana detik-detik penyelamatan Captain Phillips maupun kondisi kejiwaan pria itu setelahnya, dan di sinilah penonton dapat merasakan dramatisasinya. It's superb, 4 out of 5 stars.

Watch this if you liked:
Zero Dark Thirty (2012)

Director: Kathryn Bigelow
Stars: Jessica Chastain, Joel Edgerton, Chris Pratt
Genre: Drama, History, Thriller
Runtime: 157 minutes













Kapringen (A Hijacking) (2012)

Director: Tobias Lindholm
Stars: Pilou Asbæk, Søren Malling, Dar Salim
Genre: Drama, Thriller 
Runtime: 103 minutes







No comments:

Post a Comment