Thursday, October 17, 2013

Prisoners: Scattered Prayers

Our Father, Who art in heaven
Hallowed by the name; 
Thy kingdom come,
Thy will be done,
on earth is it is in heaven.
Give us this day our daily bread,
and forgive us our trespasses,
as we forgive who trespass against us;
and lead us not into temptation,
but deliver us from evil. Amen.

Untaian doa khusyuk yang dipanjatkan seorang pria dengan suara dalam dan tegas menyeruak di tengah dingin yang menggantung di udara. Suara siapakah gerangan? Siapakah pria religius ini? Untuk apa ia berdoa?

Dor! Senapan angin memuntahkan pelurunya, seekor rusa terlihat roboh, dan tampaklah dua predator sang rusa yang hidupnya telah ditakdirkan berhenti hari itu: seorang ayah dan anak lelaki. Hari muram yang dinginnya menusuk tulang itu ternyata hari penting bagi si anak lelaki karena inilah hari pertama ia berhasil menangkap hewan buruan dengan tangannya sendiri. "Be ready", begitulah nasihat sang ayah yang bangga dengan anak lelaki yang mungkin di masa depan tangannya akan lebih banyak berlumuran darah hewan buruan dan tentunya akan membuat ia lebih bangga. Si anak lelaki tampak serius mendegarkan nasihat sang ayah dan ia tahu inilah awal kehidupan lelaki sesungguhnya.

Adegan di atas cukup berat untuk ukuran sebuah pembuka film. Penonton seperti diberi petunjuk bahwa Prisoners (2013) akan banyak bercerita tentang pria yang tampak religius ini - yang kemudian diketahui bernama Keller Dover (Hugh Jackman) dan keluarganya. Ceramah Dover kepada Ralph (Dylan Minnette) - si anak lelaki menunjukkan bahwa selain religius ia adalah pria yang memiliki ketangguhan, dapat diandalkan, dan selalu siap mengatasi kejadian buruk apapun. Di samping itu, tersirat pula nilai-nilai machismo yang tinggi dalam diri Dover. Namun, apakah sisa film ini akan banyak bercerita tentang "be ready" seperti yang dikatakan Dover pada anaknya? Apakah adegan perburuan tersebut merupakan simbol besar yang menjadi tema utama film ini? Tampaknya penonton perlu sedikit bersabar karena adegan pembuka yang berat itu dilanjutkan dengan keriangan dua perempuan dalam keluarga Dover, Grace (Maria Bello) dan Anna (Erin Gerasimovich), istri dan putri Keller. Saya pribadi bersyukur adegan pembuka itu tidak membocorkan segalanya secara prematur, karena penonton telah disuguhkan cukup banyak bobot informasi tentang siapa, seperti apa, dan bagaimana lingkungan hidup karakter utama. Sedikit jeda akan sangat membantu penonton yang ingin kreatif untuk menebak dan merangkai sendiri kelanjutan cerita dalam imajinasi masing-masing.

Kembali pada keluarga Dover, keriangan apa yang dirayakan dua perempuan itu? Apakah Dover sendiri dan Ralph ikut bergembira? Tidak lama kemudian penonton diberitahu bahwa hari itu adalah Thanksgiving dan keluarga Dover akan merayakan hari khusus itu di rumah kerabat dekat yang merupakan tetangga mereka, keluarga Birch. Jadi, tampaknya semua orang berbahagia saat itu. Keluarga Birch sendiri tampak hampir sama seperti keluarga Dover - caturwarga yang terdiri dari Franklin (Terrence Howard) sebagai kepala rumah tangga, Nancy (Viola Davis) sang istri, dan dua anak mereka Eliza (Zoe Borde) dan Joy (Kyla Drew Simmons). Perayaan Thanksgiving, berkunjung ke tetangga, berjalan kaki, makan bersama. Semua hal itu membuat saya bertanya-tanya apakah film ini berlatar sosial masa kini? Rasanya sulit membayangkan masih ada ikatan kekerabatan yang erat antara para tetangga dalam kehidupan masyarakat modern. Mengapa dua keluarga tersebut tidak memilih berkumpul bersama keluarga besar masing-masing untuk merayakan Thanksgiving, karena biasanya perayaan yang satu ini mirip dengan Idul Fitri dengan tradisi mudiknya di Indonesia?

Well, lupakan pertanyaan saya karena sebuah misteri besar baru akan di mulai. Seusai makan bersama, Anna dan Joy pergi ke rumah Dover setelah sebelumnya kegiatan luar ruangan mereka terhenti waktu makan. Saat itu, mereka bermain-main dekat sebuah RV bobrok yang diparkir di depan sebuah rumah tak berpenghuni di lingkungan itu. Suara radio yang terdengar samar-samar pun menandakan bahwa ada seseorang dalam RV itu. Sayangnya, makan bersama itu adalah saat terakhir keluarga Dover dan Birch melihat Anna dan Joy karena mereka kemudian lenyap secara tiba-tiba, begitu pun RV mencurigakan tersebut. Kasus anak hilang ini segera dilaporkan ke kepolisian dan Detective Loki (Jake Gyllenhaal) - seorang detektif dengan catatan mengagumkan atas keberhasilannya memecahkan setiap kasus yang ia tangani - ditugaskan mengusutnya. Tanpa perlu waktu lama, Detective Loki berhasil membekuk Alex Jones (Paul Dano), pengendara RV menyedihkan yang diduga membawa lari Anna dan Joy. Namun, fakta berkata lain. Baik tim forensik maupun Detective Loki tidak dapat menemukan cukup bukti bahwa Alex adalah penculik dua gadis kecil tersebut. Tim forensik tidak berhasil menemukan tanda-tanda fisik perlawanan seseorang telah dimasukkan secara paksa ke dalam RV, begitu juga Detective Loki tidak berhasil menguak keterangan jelas dari Alex karena ternyata ia tidak lebih dari seorang pria dengan keterbelakangan mental. Meskipun begitu, Dover sangat yakin bahwa Alex memiliki andil dalam raibnya Anna dan Joy. Maka ketika Alex dibebaskan dari tahanan untuk diserahkan dalam pengawasan bibinya Holly (Melissa Leo), Dover marah besar dan memutuskan untuk mencari Anna dan Joy dengan caranya sendiri, cara yang tidak akan ditempuh oleh Detective Loki. Di manakah Anna dan Joy berada? Siapakah yang harus bertanggung jawab atas hilangnya dua gadis kecil itu? Bagaimana setiap karakter menghadapi misteri ini? Semua itu akan terjawab dalam film berdurasi 153 menit ini.

Penulis naskah Aaron Guzikowski dengan sangat cerdas menciptakan cerita penuh teka-teki yang uniknya dilakoni oleh tokoh-tokoh berkepribadian kompleks. Pada awalnya adegan demi adegan berlalu begitu saja karena tampak seperti tidak saling berhubungan (pendeta, mayat di bawah tanah, Alex, pemuda aneh yang gemar membeli pakaian anak-anak, labirin. Menuju ke mana kah semua itu?). Namun, penonton perlu merekam setiap adegan tersebut karena perlahan-lahan petunjuk-petunjuk bermunculan dan mulai menyatu bagaikan kepingan puzzle yang membentuk satu gambar utuh. Dari awal hingga akhir, Prisoners sukses memaku penonton di kursi masing-masing dan mengikuti setiap petunjuk untuk mengungkap misteri hilangnya dua anak kecil ini. Semua petunjuk itu merangkai sebuah cerita yang sangat intens. Tidak ada waktu yang terbuang percuma untuk menyaksikan adegan-adegan yang tidak penting, karena semua adegan menjalin satu kesatuan utuh.

Naskah Guzikowski menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi sejak adegan pembuka dimulai. Apakah yang terlintas di benak Anda ketika pertama kali mengetahui bahwa Prisoners akan bercerita tentang penculikan anak? Pada umumnya film-film seperti ini akan bercerita terlebih dahulu betapa normal dan biasa kehidupan tokoh protagonis. Kemudian baru akan ditunjukkan bagaimana peristiwa kriminal seperti penculikan akan berdampak pada tokoh-tokoh yang terlibat. Namun hal itu tidak kita dapatkan dalam Prisoners. Adegan awal sebagaimana digambarkan di atas justru memilih awal cerita yang menunjukkan bahwa sang tokoh utama tahu persis bahwa dunia penuh dengan berbagai macam bahaya. Ia tampak seperti seseorang yang telah banyak belajar bahwa kehidupan dunia tak ubahnya seperti kegiatan berburu yang ia lakukan bersama anaknya, ada mangsa ada pula pemangsa. Mengetahui kenyataan hidup itu, ia tampil dalam kehidupan sebagai seseorang yang siap dengan segala marabahaya, bahkan mewariskan sikap serba-antisipatif tersebut kepada putranya. Ia tidak ingin keluarganya menjadi mangsa empuk para pemangsa yang berkeliaran di luar sana.

Selain membentuk teka-teki yang sangat intens, kekuatan naskah Guzikowski juga terletak pada kedalaman ceritanya. Selama dua setengah jam penonton akan mengikuti petualangan Dover dan Loki untuk mencari siapa yang bertanggung jawab atas hilangnya Anna dan Joy dan di mana keberadaan dua gadis kecil itu. Selama dua setengah jam itu pula penonton dituntun untuk melihat fenomena yang sesungguhnya ingin ditunjukkan Guzikowski, yaitu semakin kompleks permasalahan yang dihadapi manusia, batas antara dua hal kontras semakin memudar, mengaburkan fakta dengan kebenaran sesungguhnya. Dalam cerita ini fakta yang ada adalah Anna dan Joy tidak diketahui rimbanya, diduga diculik dan dikurung oleh orang jahat. Namun di sisi lain kita tahu bahwa dalam kehidupan nyata ini semua orang juga dapat menjadi pribadi-pribadi terkurung layaknya korban penculikan. Setiap orang merupakan tawanan dari waktu yang terus berputar, tersekap oleh kesedihan masa lalu, atau terkunci oleh sifat-sifat negatif diri sendiri yang membuat hal positif sulit menghampiri. Siapakah sesungguhnya yang sedang membutuhkan pertolongan untuk segera diselamatkan dari keterkurungannya?

Guzikowski juga menyinggung isu moralitas di film ini. Seiring peliknya teka-teki yang menjadi masalah dalam hidup tokoh-tokoh Prisoners, terlihat mereka semakin buta akan nilai-nilai moral yang selama ini mungkin mereka pegang teguh. Secara tiba-tiba hati menjadi terlalu tumpul untuk membedakan benar dan salah. Tunggu dulu, benarkah kebutaan hati mereka terjadi secara tiba-tiba atau memang sejak dulu mereka memendam suatu kobaran kemarahan tersembunyi di hati mereka dan kemudian datanglah satu masalah ini yang menyulut kemarahan itu keluar dari persembunyiannya?

Perkembangan karakter juga merupakan satu nilai tambah naskah Prisoners. Hampir semua tokoh dalam film ini mengalami perkembangan karakter yang dramatis. Dover - sebagaimana terlihat dalam adegan pembuka - terlihat sebagai the man with the answers, mampu mengatasi segala masalah dalam hidupnya. Ia bahkan menyimpan segala perlengkapan darurat di ruang bawah tanah rumahnya yang menandakan ia siap menghadapi masalah yang bahkan belum terjadi. Ia siap menghadapi serangan alien dan zombie sekalipun dengan bertahan hidup di ruang bawah tanah itu. Tapi itu semua tidak serta-merta membuat Dover sempurna dalam segala hal. Ia justru kecolongan saat putrinya bermain-main di jalan depan rumahnya sendiri, di lingkungan yang terlihat sangat aman, di musim gugur yang bahkan hewan buas sekalipun tampak bersiap-siap dormansi. Semua itu membuatnya depresi bukan main. Ia tidak dapat percaya bahwa pria dengan prinsip be ready seperti dirinya justru lengah dan sama sekali tidak dapat diandalkan untuk melindungi keluarganya.

Selain Dover tengok pula bagaimana tokoh Detective Loki menghadapi kasus yang mulai menyita hidupnya ini. Pada awalnya - sebagaimana catatan mengagumkannya - ia optimis dapat memecahkan misteri hilangnya Anna dan Joy. Namun, apa yang ia dapatkan? Detective Loki hanya mengumpulkan serpihan-serpihan keterangan dan kejanggalan lain yang tampak acak dan tidak berhubungan dengan hilangnya Anna dan Joy setiap kali ia mengetuk pintu rumah para saksi. Ia mulai frustrasi dan meragukan dirinya sendiri, dirinya yang justru dibanggakan orang lain yang melihat catatan kerjanya yang mengagumkan. Hal paling menyakitkan yang tampak dirasakan Detective Loki atas kondisi ini adalah ia tahu persis bahwa kepolisian, institusi di mana ia bernaung, tidak becus mengurus kasus ini atau kasus-kasus lain. Tanpa diragukan lagi naskah karya Guzikowski ini telah menghasilkan character study yang mendalam dan kompleks.

Sebuah naskah yang kuat belum tentu akan menghasilkan film berkualitas tanpa ditangani oleh sutradara yang paham bagaimana mengimplementasikannya. Denis Villeneuve (Polytechnique, Incendies) termasuk jenis sutradara yang paham bagaimana mewujudkan lembaran demi lembaran naskah cerita menarik menjadi sebuah film yang tidak kalah bagus. Villeneuve berhasil mengecoh penonton untuk tidak memperhatikan detail-detail yang pada film lain umumnya terlihat jelas mencurigakan. Villeneuve secara jenius juga merancang sebuah gambaran mengenai apa yang akan terjadi bila manusia dihadapkan pada dilema. Melihat karya-karyanya terdahulu, Villeneuve tampaknya memang merupakan sutradara yang memiliki ketertarikan khusus dalam eksplorasi segi-segi psikologis dan emosional dari sebuah kekerasan. Dalam Prisoners, Villeneuve menciptakan beberapa adegan yang tampak sangat kejam - seperti penyekapan dan penyiksaan yang dilakukan terhadap Alex. Uniknya, mungkin sebagian penonton akan merasa tidak terganggu dengan adegan-adegan itu, dan malah menikmatinya.

Villeneuve mengerti dan memahami tanggung jawab dan perasaan seorang kepala keluarga untuk selalu melindungi keluarganya dari segala bahaya. Villeneuve berusaha membagi (share) nilai-nilai kebapakaan itu melalui tokoh Dover yang meledak keras ketika ia merasa sangat yakin bahwa biang keladi penculikan putrinya ada di depan matanya. Di sinilah letak kecerdasan Villeneuve: ia tidak hanya mampu memperlihatkan bahwa keyakinan yang terlalu kuat dapat mengalahkan moral tetapi juga menarik simpati penonton untuk mendukung aksi imoral yang dilakukan tokoh di filmnya. Hebatnya lagi, semua itu dilakukan Villeneuve tanpa harus "berceramah" di sepanjang film. Di tangan sutradara lain, membeli tiket Prisoners mungkin akan menjadi sebuah undangan untuk menyaksikan bencana, menyaksikan film yang penuh dengan simbol-simbol dan adegan yang secara jelas menonjolkan pertentangan antara baik dan buruk, memperdebatkan moral, menaruh kiasan yang sangat disengaja di sana-sini. Beruntung Villeneuve tidak melakukan hal-hal itu karena dalam Prisoners perdebatan moral semacam itu tumbuh dan dirasakan penonton dengan sendirinya tanpa pernah sedikitpun membeberkannya secara gamblang yang justru akan membuatnya terkesan murahan. Semua kekisruhan yang mempertanyakan benar dan salah merayap dibalik permukaan adegan-adegan emosional.

Pujian untuk Prisoners belum cukup hanya ditujukan kepada penulis naskah dan sutradara saja, tetapi juga kepada jajaran pemeran yang luar biasa. Hugh Jackman sebagai aktor utama tampil memukau dengan segala amarah, otot ,urat, dan emosinya di sepanjang film. Jackman menguras banyak tenaga untuk perannya di sini melalui teriakan, pukulan, teror, dan siksa yang ia lakukan kepada orang yang ia curigai sebagai "pemangsa" putri kecilnya. Tidak dapat dipungkiri terlihat sebersit keraguan di hati Dover ketika ia melakukan itu semua. Jackman merealisasikan keraguan itu dengan sangat mengagumkan melalui sikap penyesalan yang ia ekspresikan ketika menyadari lambat laun dirinya berubah menjadi binatang buas yang tidak dapat diendalikan oleh apapun dan siapapun. Sikap menyesal itu juga merupakan suatu bentuk ketakutan dalam diri Dover. Namun Jackman memahami karakter Dover sebagai pria yang tidak ingin dianggap lemah, sehingga dengan sangat brilian ia mengubah ketakutan itu menjadi letupan emosi yang tidak dapat dikontrol, menimbulkan sisi lain dari diri Dover.

Ada satu adegan Jackman yang sulit dilupakan di film ini, yaitu ketika ia memanjatkan doa yang sama seperti dalam adegan pembuka namun kali ini ia tidak sanggup mengucapkannya dengan suara dalam dan tegas. Doa yang ia panjatkan kali ini seolah menunjukkan pengakuan dosa sekaligus memohon pencerahan agar ia dapat kembali menjadi dirinya yang dulu, pribadi yang serba teratur dan bermoral. Dalam adegan tersebut, Jackman berlutut, tangan mendekap di dada, wajah menengadah ke atas, mengeluarkan suara sesak, terbata-bata dan bersusah payah berusaha menyelesaikan bagian akhir doanya. Tidak lama kemudian dua tetes air mata berlinang dari masing-masing sisi matanya. Itulah sebuah doa dari pria yang putus asa, kecewa, dan terkejut dengan dirinya sendiri yang liar dan penuh lumpur dosa. Doa yang dipanjatkan ketika segala hal dalam kehidupan memburuk dan upaya untuk mengatasi keburukan itu justru semakin memperumit kehidupan. Dalam keadaan seperti itu doa ibarat sebuah senjata pamungkas yang dimiliki manusia yang percaya akan Tuhan. Sebuah doa yang tercecer dari tumpukan dosa, scattered prayers, begitu saya suka menyebutnya. Tanpa diragukan lagi, sejauh ini Jackman adalah salah satu aktor dengan penampilan terbaik tahun ini. Sepertinya sebuah nominasi Oscar untuk aktor pemeran utama akan jatuh ke tangan pria Australia ini.

Berperan sebagai tokoh yang berseberangan dengan karakter yang dimainkan Jackman, Jake Gyllenhaal juga memberikan salah satu penampilan terbaik sepanjang karirnya di film ini. Gyllenhaal berhasil menghidupkan karakter Detective Loki yang sepertinya tampak tidak menarik di atas kertas naskah. Namun Gyllenhaal berhasil membangun sebuah misteri di balik tokoh Detective Loki. Dalam film ini, penonton tidak diberikan informasi yang cukup mengenai latar belakang Detective Loki selain rekam jejaknya di kepolisian yang cemerlang. Seakan ingin melengkapi kekosongan latar belakang tokoh Detective Loki, Gyllenhaal menyuntikkan sikap kerja keras, pantang menyerah, dan cenderung terlihat obsesif dengan pekerjaan kepada tokoh yang ia perankan. Gyllenhaal berhasil memberikan kesan ada suatu dorongan khusus yang membuat Detective Loki berusaha mati-matian menyelesaikan kasus penculikan ini. Apakah dorongan itu adalah masa lalunya yang kelam? Bisa jadi demikian. Namun satu hal yang pasti adalah tokoh Detectve Loki sendiri penuh dengan teka-teki. Berbagai tato yang menghiasi buku-buku jari dan lehernya pun tidak mencirikannya sebagai polisi biasa. Jika saja Detective Loki bukan anggota polisi pasti penonton akan menduganya sebagai tokoh antagonis. Satu cara cerdas Gyllehaal menhidupkan tokoh ini adalah dengan melakukan kedipan-kedipan mata kompulsif setiap kali ia merasa frustrasi karena menemukan kebentuan dalam memecahkan misteri hilangnya Anna dan Joy.

Selain Jackman dan Gyllenhaal, rasanya hampir semua aktor dan aktris Prisoners memberikan penampilan terbaiknya. Tengoklah bagaimana Melissa Leo berhasil memerankan tokoh Holly dengan sangat realistis. Dalam film-film sejenis, tokoh Holly ini jika diperankan orang lain pasti akan terlalu berlebihan perilaku dan kata-katanya. Beruntung Leo adalah salah satu aktris yang selalu berhasil menempatkan peran-perannya pada kehidupan nyata. Dalam Prisoners, penonton juga pasti akan mendukung dan menaruh simpati pada Holly yang memiliki keluarga dengan latar belakang yang cukup miris. Holly berupaya membela dan menjaga Alex, keponakan yang ia anggap anaknya sendiri. Tidak tampak ada sesuatu yang salah dalam kehidupan Holly, bahkan ia adalah salah satu tokoh yang mungkin akan dikasihani oleh penonton yang keluar dari gedung bisokop terlebih dahulu.

Maria Bello dan Viola Davis walaupun hanya mendapat peran kecil dan tampil singkat di layar namun dapat memberikan gambaran kekuatan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Terrence Howard juga efektif menjadi penyeimbang tokoh yang diperankan Jackman. Berlawanan dengan Dover yang hidupnya didominasi amarah setelah peristiwa penculikan anaknya, hidup Franklin justru tampak berjalan seperti biasa. Meski sempat dipengaurhi untuk keluar dari jalan utama kehidupannya oleh Dover, namun pada akhirnya Franklin memilih setuju pada istrinya untuk tetap menjaga martabat sebagai manusia bermoral. Paul Dano sebagai Alex juga tampil mengesankan dengan suara tinggi dan perilaku anehnya.

Pujian terakhir akan saya alamatkan kepada sinematografer kawakan Roger Deakins. Pria yang telah dinominasikan 10 Oscar ini membuat pengalaman menonton Prisoners menjadi lebih terkesan suram, kelam, gelap, dan penuh misteri dengan warna biru dan hitam yang mendominasi gambar-gambar di sepanjang film. Cuaca dingin bersalju yang diciptakan juga membuat penonton semakin merasa beku mengikuti alur cerita yang penuh teka-teki.

Secara keseluruhan, Prisoners adalah sebuah tontonan cerdas yang berani menampik pakem-pakem film drama penculikan sejenis. Mulai dari adegan pembuka, simbol-simbol yang tersirat, hingga jajaran pemerannya menimbulkan kesan akhir bahwa Prisoners memang berani tampil beda dan percaya diri. Film ini bukan hanya menceritakan pencarian dua orang anak perempuan yang menghilang, tetapi jelas terlihat juga sedang mencari Oscar dan penghargaan lainnya di musim penghargaan awal tahun depan hahaha. It's outstanding, 4 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:

An American Crime (2007)

Director: Tommy O'Haver
Stars: Ellen Page, Hayley McFarland, Nick Searcy
Genre: Biography, Crime, Drama
Runtime: 97 minutes











 Crash (2004)

Director: Paul Haggis
Stars: Don Cheadle, Sandra Bullock, Thandie Newton
Genre: Drama
Runtime: 112 minutes





























No comments:

Post a Comment