Friday, March 30, 2012

The Bullying Project: One Step Closer to Make the World a Better Place

The Bullying Project (2011) is a documentary film that comes forward with a brave and huge topic: bullying toward kids (and teenagers) which recently has been a public issue in US society, particularly schools. Well actually this issue is not new at all. We have heard or seen that school is one of the most vulnerable place for kids for its lack of control over students behavior, especially with low tolerance. This film brought us a wide range of bullying in schools. There are bullying toward disable kids, toward gay teenagers, toward introvert persons, cyber bullying, and many others. The Bullying Project tries to touch our hearts as far as it could so we can open our eyes, ears, and hearts and realize that the world is messed up. But one thing for sure: bullying is an act that shows us how immature our society, how we can't handle the problem of our own interactions with others, and in the end how we need to learn and give our effort as much as possible to make the world a better place to live in. Oh, I wish I could see this movie here in Indonesia. Any comments?


A documentary on peer-to-peer bullying in schools across America.
This year, over 5 million American kids will be bullied at school, online, on the bus, at home, through their cell phones and on the streets of their towns, making it the most common form of violence young people in this country experience. The Bully Project is the first feature documentary film to show how we've all been affected by bullying, whether we've been victims, perpetrators or stood silent witness. The world we inhabit as adults begins on the playground. The Bully Project opens on the first day of school. For the more than 5 million kids who'll be bullied this year in the United States, it's a day filled with more anxiety and foreboding than excitement. As the sun rises and school busses across the country overflow with backpacks, brass instruments and the rambunctious sounds of raging hormones, this is a ride into the unknown. For a lot of kids, the only thing that's certain is that this year...
 

Thursday, March 29, 2012

Era Baru Diskriminasi

Hari Sabtu kemarin, saya menonton acara The Biggest Game Show in the World - Asia yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta. Acara ini merupakan ajang kompetisi ketangkasan yang diikuti empat negara Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Filipina. Meski tidak selalu mengikuti setiap episode, tetapi sesekali saya menonton acara ini karena kelucuan dari pembawa acaranya, yaitu Arie Untung yang memang dikenal dengan celotehan jenakanya. Arie kerap membuat suara-suara unik dan komentar-komentar yang mengundang tawa.

Namun, tayangan Sabtu kemarin agak sedikit membuat hati saya kecewa. Dalam sebuah sesi/babak di mana peserta acara ini harus bekerja secara kelompok untuk menghadapi tantangan permainan air, Arie membuat lelucon dengan menggunakan kaum transgender sebagai obyeknya. Beberapa kali ia mengatakan bahwa seorang peserta pria asal Thailand yang berambut panjang adalah orang yang kebingungan dengan dirinya sendiri, karena dirinya berada di tengah-tengah antara pria dan wanita. Arie juga mengatakan bahwa pantas saja dia dari Thailand, karena di sana pun kamar mandinya ada di tengah-tengah, antara pria dan wanita. Saya tidak bisa menyebutkan kata-kata Arie Untung secara tepat karena saya tidak ingat betul kalimatnya. Tetapi saya merasa bahwa lelucon seperti itu tidak pantas disampaikan dalam sebuah tayangan televisi, karena kata-kata itu menurut saya bersifat ofensif dan provokatif.

Kita tidak bisa menutup mata atas eksistensi kaum transgender saat ini. Mereka adalah sekelompok kecil orang yang merasa dirimya terjebak dalam tubuh yang berjenis kelamin salah. Seorang pria merasa diri sesungguhnya yang ada di dalam batin dan benaknya adalah wanita, dan sebaliknya seorang wanita yang merasa ruh sesungguhnya adalah pria. Orientasi atau mindset dan perasaan dalam batin mereka itu kemudian dapat kita lihat dari tingkah laku mereka sehari-hari yang cenderung mengikuti lawan jenis mereka, seperti memakai pakaian lawan jenis (cross-dressing), berbicara, dan melakukan pekerjaan yang dilakukan lawan jenis. Bahkan tidak sedikit pula mereka yang berani melakukan perubahan signifikan dengan melakukan operasi pergantian kelamin dan menjadi transseksual. Bila dilihat dari jumlah atau angka, mereka dapat dikatakan sebagai minoritas. Namun hal ini bukan berarti kita sebagai mayoritas (yang melakukan peran gender sesuai dengan yang diharapkan masyarakat terhadap masing-masing jenis kelamin) dapat memperlakukan kaum trangender dan transseksual dengan semena-mena.

Menurut saya, lelucon seperti yang digunakan Arie Untung dalam acara ini merupakan bentuk diskriminasi baru yang ditampilkan secara halus, sehingga orang lain pun terkadang hanya menganggapnya sebagai ucapan jenaka saja tanpa memikirkan lebih lanjut pesan negatif di dalamnya. Penggunaan media komunikasi massa seperti televisi juga membuat tindakan diskriminasi tersebut lebih berbahaya karena ditonton oleh banyak pemirsa. Meski sudah diberi kategori tayangan bukan untuk semua umur (anaka-anak harus degan bimbingan orang tua), tetapi terkadang hal tersebut tidak lagi efektif karena saat ini televisi justru menjadi seperti "sahabat" atau "orang tua" kedua bagi setiap orang, sehingga terkadang jarang ada orang yang mengkritisi sebuahtayangan televisi, khususnya komedi. Acara komedi dan sejenisnya biasanya di anggap sebagai acara yang paling bebas dari efek negatif, padahal terkadang di dialamnya terdapat nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai dan norma masyarakat.

Mungkin ada baiknya bila kita belajar dari pengalaman orang lain. Pernahkah Anda mendengar nama Christine Jorgensen? Ia adalah seorang transseksual (dari pria menjadi wanita) dari Amerika yang merupakan salah satu pionir dalam penelitian mengenai transseksualitas, baik dari segi kesehatan, psikologi, dan sosial. Kemunculan Jorgensen yang terlahir dengan nama George pada tahun 1953 menghebohkan publik Amerika karena Jorgensen adalah seorang pribadi yang memiliki talenta di bidang hiburan. Lebih dari itu, ia pun adalah mantan US Army dan memiliki kehidupan pribadi yang menarik. Kita bisa membaca bagaimana ia menjalani kehidupannya yang keras dan penuh kegamangan baik dalam autobiografi yang diterbitkan tahun 1967 maupun dalam biografi yang ditulis oleh Richard F. Docter. Ia mengalami konflik berkepanjangan sebelum memutuskan mengganti kelaminnya. Ia mengalami bullying di sekolah, ia dianiaya, dipanggil dengan sebutan yang tidak pantas untuk manusia karena sifatnya yang dianggap terlalu feminin oleh masyarakat sekitarnya. Masih banyak lagi tokoh-tokoh transgender dan transseksual lain yang mungkin bisa kita petik hikmahnya, bahwa menghina orang lain (termasuk kaum minoritas) tidaklah kurang dari tindakan keji lain seperti pembunuhan.

Saya tidak mengatakan bahwa diri saya adalah pendukung trangender dan transseksual, karena saya tidak mengkritisi hal tersebut. Saya tidak menilai bahwa perilaku transgender dan transseksual adalah salah atau benar. Saya juga tidak berusaha mengatakan bahwa isu transgender dan transseksual bukanlah sesuatu yang tidak pantas diperdebatkan, karena saya sendiri berpendapat bahwa pro dan kontra adalah sesuatu hal yang wajar, bahkan dari pro dan kontra tersebut kita bisa mendapat pandangan yang lebih luas dan komprehensif terhadap sebuah isu. Namun, perhatian saya dalam masalah ini adalah bahwa kaum transgender dan transseksual juga meruapakan manusia yang memiliki akal yang digunakan untuk berpikir dan hati yang berperasaan. Mereka sama seperti kita yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, yang memiliki martabat, dan sense of humanity. Karena kaum transgender dan transseksual adalah manusia juga maka wajar bila mereka seharusnya juga diperlakukan secara terhormat dan bermartabat, sebab seperti itulah seharusnya hubungan interaksi antarmanusa, saling menghormati. Jika kita direndahkan oleh orang lain, tentu kita akan merasa sedih, kecewa, atau bahkan marah. Bahkan bila kita melihat dari nilai-nilai agama, tentu tidak ada agama manapun yang mengajarkan umatnya untuk saling menghina dan mengejek manusia lain bukan?

Tulisan ini tidak dibuat untuk menyalahkan/memprotes Arie Untung selaku public figure, mencari-cari kesalahan orang lain, apalagi hanya sekadar bertindak sok benar. Saya hanya mencoba mengajak semua pembaca blog ini untuk kembali merenungkan bahwa selama ini mungkin kita sering memandang sebelah mata sekelompok orang yang dianggap menyimpang oleh masyarakat kita, tetapi justru persepsi kita terhadap kelompok tersebut terkadang berjung pada diskriminasi yang merugikan pihak lain. Padahal, sebenarnya kita bisa menjaga hubungan sesama manusia tanpa perlu menimbulkan konflik bila kita bersama-sama mengembangkan sikap toleransi, open minded, dan menjaga hubungan antarkelompok agar senantiasa harmonis. Ada yang punya komenar?

Tuesday, March 20, 2012

The Grey: Survival of the Fittest

Zaman semakin modern, kebutuhan manusia semakin kompleks, dan hampir semua kegiatan manusia kini memengaruhi wajah bumi. Ini menandakan bahwa paradigma posibilis semakin kentara, di mana manusia dapat menguasai alam dan memanfaatkannya untuk kepentingan hidup. Namun, bagaimana jika kita hidup di belahan bumi yang sama sekali berbeda dari tempat tinggal kita sekarang, yang mungkin hiruk pikuk dengan aktivitas manusia? Terbayangkah di benak Anda jika harus hidup di lingkar kutub utara yang diselimuti salju, gelap, sepi, dan dikelilingi hewan liar? Mungkin di tempat seperti inilah kita akan menyadari bahwa di beberapa bagian bumi, paradigma fisis determinis masih berlaku, dan hal itu dapat kita saksikan dalam film The Grey (2012).


The Grey menggambarkan cara kerja alam liar yang mengharuskan setiap "pemainnya" cerdik, pantang menyerah, berjuang keras, bertahan, dan berusaha menjadi yang terkuat, karena prinsip yang berlaku di alam liar adalah survival of the fittest, yang kuatlah yang akan bertahan. Sedikit saja kelemahan kita terdeteksi "musuh", maka mereka akan memanfaatkan kelemahan tersebut sebagai titik tolak untuk menyerang. Misalnya, dalam film ini ditunjukkan betapa serigala kutub yang hidup secara jamak di udara sangat dingin menjadikan insting menyerang lebih dominan karena bila bukan mereka yang menyerang, mereka akan diserang. Kehadiran sekelompok manusia di habitat mereka yang biasa tak terjamah memberi sinyal pada kawanan serigala bahwa kelompok manusia tersebut adalah musuh mereka, dan manusia yang lemah akan menjadi sasaran paling empuk.

***
Cerita berpusat pada kehidupan pribadi John Ottway (Liam Neeson), seorang pemburu ulung yang disewa sebuah perusahaan minyak di Alaska. Ottway dipekerjakan perusahaan tersebut mengingat di lokasi pengilangan minyak terdapat banyak hewan liar yang mengancam keselamatan pekerja kilang minyak. Pada awal film, ia digambarkan mengalami depresi berat sepeninggal istrinya (yang saya asumsikan sudah meninggal) dan berupaya melakukan bunuh diri. Namun niat tersebut ia urungkan dan ia pun tetap melanjutkan kehidupannya. Ottway juga dikisahkan sebagai pengagum sosok ayahnya, seorang Irlandia yang meski gemar mabuk-mabukan tetapi pandai membuat puisi, meskipun pada kenyataannya ia tak pernah betul-betul dekat dengan sang ayah.


Cerita berlanjut ketika pesawat yang Ottway serta para pekerja kilang minyak lainnya tumpangi mengalami kecelakaan terkena terpaan badai dan jatuh di tengah-tengah padang salju mahaluas yang tak berpenghuni. Beberapa pekerja dan semua awak pesawat tewas di tempat, dan hanya menyisakan tujuh orang selamat, yakni Ottway, Diaz (Frank Grillo), Talget (Dermot Mulroney), Hendrick (Dallas Roberts), Flannery (Joe Anderson), Burke (Nonso Anozie), dan Hernandez (Ben Bray). Setelah berusaha beradaptasi dengan gelap dan dinginnya kutub utara, mereka pun menemukan satu masalah besar: kawanan serigala yang mengancam nyawa mereka.


Strategi dan taktik pun mereka susun demi mempertahankan keselamatan. Namun perbedaan karakter dan pengalaman hidup membuat rencana yang mereka buat kadang kala sulit direalisasikan karena tidak adanya kekompakkan. Padahal dalam situasi gawat seperti itu try to stick together sangat diperlukan. Alhasil pertengkaran, perdebatan, bahkan adu jotos pun sempat terjadi. Satu persatu jumlah mereka yang selamat semakin berkurang karena selain menghadapi kebuasan serigala, mereka juga diselimuti cuaca ekstrem yang menyebabkan sistem kerja tubuh terganggu dan akhirnya terkena panyakit yang identik dengan dingin, seperti hipoksia. Bagamana kelanjutannya? Akankah mereka akan selamat? Bagaimana Ottway sebagai karakter sentral menghadapi keadaan ini?

***
Menonton The Grey bagi saya sama seperti layaknya menonton film-film bertema survival lainnya, di mana ada karakter yang menjadi pemimpin (leader) dalam keadaan genting dan menjadi tokoh yang paling kuat bertahan dari awal hingga akhir film, ada karakter yang mendukung pemimpin tersebut, dan ada karakter bajingan total yang dapat kita tebak cepat atau lambat ia akan menjadi korban yang tak selamat. Ide ceritanya pun kurang lebih sama, sekelompok orang yang meskipun mereka tahu sedang menghadapi masalah besar yang sama namun kompak tetap menjadi satu kata yang sulit tercapai. Masing-masing orang memiliki persepsi dan cara tersendiri dalam menghadapi masalah tersebut, sesuai dengan pengalaman hidup mereka. Adegan-adegan yang cukup umum dapat kita temukan dalam film ini seperti adanya sesi berbagi cerita/pengalaman hidup di antara para karakter dan cita-cita mereka kelak jika keluar dari masalah yang sedang mereka alami.

Meskipun begitu, ide cerita yang cukup umum tersebut tetap memberikan kesan yang cukup berarti. Misalnya, saya tersentuh ketika orang-orang yang berhasil selamat dari kecelakaan pesawat tersebut membicarakan tentang orang-orang terkasih dalam hidup mereka, mulai dari istri, kekasih, hingga anak-anak yang mereka rindukan. Juga ada adegan kontemplasi tentang makna kematian. Mereka mempertanyakan adakah kehidupan setelah kematian? Bagaimana kehidupan di sana? Atau apakah pada akhirnya orang yang meninggal akan lenyap begitu saja dan kematian merupakan pertanda akhir dari eksistensi manusia? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menurut saya juga bertalian dengan persepsi makna kehidupan. Dalam film ini ada karakter yang pada akhirnya menyerah pada ganasnya alam setelah sekian jauh berjuang untuk hidup hanya untuk "menikmati" bagaimana rasanya mati di hadapan hamparan pemandangan alam yang indah. Baginya, itu sudah lebih dari cukup untuk menutup masa hidupnya. Ini merupakan salah satu adegan favorit saya dalam film ini.


Beberapa hal yang saya salutkan dalam film ini di antaranya suhu udara yang diceritakan -10°C, namun aslinya, Liam Neeson dkk harus menghadapi cuaca ekstrem Alaska yang mencapai -40°C. Selain itu, gambar pemandangan alam dan serigala-serigalanya juga hampir 100% asli, hanya menggunakan CGI untuk beberapa keperluan seperti saat adegan serigala yang sedang menyerang. Bahkan gambar hujan salju yang direkam pun merupakan salju asli, bukan efek buatan.

Namun yang membuat film ini memiliki nilai kurang bagi saya adalah penggambaran sosok serigala yang terlalu dilebih-lebihkan kekejamannya. Seolah-olah di Alaska yang meskipun dekat dengan kutub utara terdapat banyak serigala pemangsa manusia, yang akan selalu membayangi manusia ke manapun mereka pergi bahkan ketika mereka membawa api dan senjata. Justru kabar yang berembus mengatakan bahwa dalam proses pembuatan film ini empat serigala mati. Maka tak heran mengapa beberapa komunitas pemerhati fauna mengkritik pedas film ini.

Secara keseluruhan, Joe Carnahan (The A-Team, Smokin' Aces) sebagai sutradara sukses mengarahkan film ini sesuai ekspektasi saya akan film thriller yang sangat menegangkan. Selain itu Masanobu Takayanagi sebagai sinematografer yang sebelumnya pernah menangani film Babel (2006) dan Warrior (2011) juga menunjukkan kepiawaiannya mengolah gambar dan mempersembahkan penonton scenery salju yang begitu dahsyat dan adegan jatuhnya pesawat yang begitu terasa mengerikan. Satu lagi, kualitas suara film ini menurut saya juga jempolan, penonton akan dikejutkan dengan beberapa hentakan mendadak dari suasana sepi menjadi tegang, dan suara-suara badai salju yang cukup bising. Saya memberi film ini 3.5 dari 5 bintang. Bagaimana menurut Anda? Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:

The Ghost and the Darkness (1996)

Director: Stephen Hopkins
Stars: Michael Douglas, Val Kilmer, Tom Wilkinson
Genre: Adventure, Drama, History
Runtime: 109 minutes


Director: John Boorman
Stars: Jon Voight, Burt Reynolds, Ned Beatty
Genre: Adventure, Drama, Thriller
Runtime: 110 minutes

Di Cahulawassee River Lewis, Ed, Bobby, dan Drew berkemah dan menjelajah jeram dengan kano yang memacu adrenalin. Namun, suatu kejadian di tepi sungai itu membuat perjalanan liburan mereka hancur berantakan. Sebuah kejadian yang tak hanya menunjukkan pada kita seberapa kuat manusia menghadapi alam, tetapi juga bagaimana manusia menyelamatkan diri dari cengkeraman sifat buruk sesama manusia...

Friday, March 9, 2012

In the Edge of Restless

Do you ever have a feeling like you wanted to do or have something so badly, but you know your surroundings will reject it so you just keep deny your feeling, push yourself not to cross that border? I know it's strange to post this kind of writing, but I just wanted to share my feelings and thoughts this time.

I'm talking about keeping a secret that you never imagine what will happen if you reveal it. I've been fighting this thing for so long in my life, but I never gave chance to let it out. This thing is something that is very important for me, something that I feel it was bind with me since the day was I born. Unfortunately, this thing is not something common, something that you don't know if everybody accepts it. So I kept myself remain in silent, but it feels so painful, hurting, and lonely because I have nobody to talk about this thing with.

Sometimes I reach the limit where I can't hold it anymore, and just doing some stupid things, but my deepest heart always tells me to keep in control. So every time I pray, I always ask God to protect me from what I want and lead me to the right way, particularly in facing the future, because I don't know how to face my future life. Seems like when I wrote this, I'm in the edge of restless. But I will try my best live my life happily, at least pretend to be happy, just like dancing between heaven and hell...