Rabu, 29 Februari 2012

Brothers & Sisters: Refleksi Utuh Sebuah Keluarga?


Beberapa hari ini, saya sangat senang menonton (baca: marathon) DVD sebuah drama series berjudul Brothers & Sisters. Ya, drama ini memang bukan drama terbaru dan sebenarnya telah berakhir pada musim kelima di tahun 2011 lalu, tetapi kisahnya selalu mengundang saya untuk menonton, menonton, dan menontonnya lagi (saya harus berterima kasih pada sepupu saya yang sudah rela meminjamkan DVD-nya hehehe). Brothers & Sisters memang mirip seperti kebanyakan drama lain yang menceritakan kehidupan keluarga sehari-hari, namun satu hal yang membuat saya tertarik adalah dalam Brothers & Sisters saya seperti sedang melihat sebuah keluarga nyata di mana masing-masing anggota keluarganya membangun hubungan yang bisa dibilang cukup rumit, tetapi mereka menyayangi dan mencintai satu sama lain. Bahkan serial ini seringkali membuat saya teringat beberapa hal kecil atau kejadian lucu yang pernah saya alami sendiri, seperti bertengkar dengan kakak saya, beradu argumen dengan ibu, dan pada akhirnya kembali berbaikan. Saya rasa drama ini dibuat sepenuh hati, dengan ide cerita yang tidak pernah membosankan karena dibuat-buat (sorry to say, seperti kebanyakan sinetron Indonesia sekarang yang ceritanya sengaja dipanjangkan seperti karet yang tidak putus-putus demi menyedot rating) dan yang paling penting bukan hanya sekedar untuk hiburan, drama ini bagi saya menjadi salah satu media berkontemplasi, merenungkan kembali bahwa sebagai makhluk yang menjadi bagian dari sebuah keluarga, membangun hubungan yang saling menghormati, peduli satu sama lain, jujur, dan menjaga komunikasi menjadi penting dalam kehidupan kekeluargaan.


Karakter-karakter dalam Brothers & Sisters unik dan beragam. Cerita di mulai pada musim pertama drama ini di mana Keluarga Walker baru saja ditinggal wafat William Walker, kepala keluarga yang amat dikasihi. Kepergian William membuat semua anggota keluarga Walker yang terdiri dari Nora, Sarah, Kitty, Tommy, Kevin, dan Justin terbenam dalam kegalauan. Kegalauan itu semakin bertambah parah ketika satu rahasia besar William semasa hidupnya terkuak, yaitu bahwa ia memiliki seorang wanita simpanan bernama Holly Harper dan bahkan mereka memiliki seorang putri bernama Rebecca. Selain itu, masing-masing putra dan putri William juga harus berurusan dengan pertengkaran adik dan kakak, kisah cinta yang rumit, dan pekerjaan yang melelahkan. Dalam musim-musim selanjutnya karakter-karakter tersebut menghadapi berbagai macam masalah dan intrik serta diperkenalkannya pasangan-pasangan cinta dari masing-masing karakter. Cerita pun berkembang menjadi begitu dinamis dan mengasyikkan.


Salah satu karakter favorit saya dalam drama ini adalah Nora Walker, ibu dari 5 anak yang berjuang menjaga keharmonisan keluarganya setelah kematian suaminya. Saya harus mengakui bahwa Nora bukanlah sosok ibu yang sempurna, terkadang ia membuat beberapa kebodohan seperti sifatnya yang agak keras kepala (misalnya ketika ia memutuskan bahwa rumah baru keluarga Walker harus direnovasi secara swadaya), selalu ingin mengetahui urusan orang lain, dan terkadang suka mencari perhatian. Namun justru kekurangan dan ketidaksempurnaan itulah yang membuatnya seperti sosok manusia sesungguhnya yang bisa khilaf dan berbuat salah. Jujur, saya jarang menemukan peran seperti ini dalam pertelevisian Indonesia. Di sinetron-sinetron yang tayang di layar kaca kita setiap hari kita disuguhi cerita dengan dua peran kontradiktif: protagonis vs antagonis, lembut vs kasar, baik vs jahat, sempurna vs bajingan total, serba hitam putih dengan garis tegas di tengahnya. Padahal hidup ini penuh dengan warna abu-abu, tidak ada yang benar-benar baik maupun jahat, semua memiliki sisi gelap sebagai bagian dari ketidaksempurnaan manusia juga sisi terang yang berasal dari hati nurani. Sebagai seorang ibu, Nora sangat paham kapan ia diperlukan untuk menasihati, kapan ia diperlukan untuk menjadi teman yang penuh perhatian, kapan ia diperlukan menjadi pendengar, dan tentunya kapan ia diperlukan sebagai ibu yang mengasihi. Sosok ibu seperti Nora bagi saya adalah supermom, ia dilihat bukan dari kesempurnaannya, melainkan dari cinta hatinya yang tulus dan suci.


Satu hal yang saya ilhami dari drama ini adalah bagaimana mengucapkan terima kasih kepada orang tua dan mengekspresikan kasih sayang kepada mereka. Saya tahu, orang tua tidak perlu ucapan terima kasih secara eksplisit, mereka tetap mencintai dan merawat anak-anak secara ikhlas, tapi menurut saya terkadang hubungan anak dan orang tua tidak begitu mulus, ada beberapa kerikil di tengah jalannya, sehingga satu ungkapan terima kasih dan kasih sayang menjadi penyegar dalam hubungan tersebut.


Dari keseluruhan cerita Brothers & Sisters, musim kelima adalah favorit saya. In this final season, the story evolved into an epic drama, each character got older and they grew up, full of life lessons, and beautifully concluded and ended. Di musim kelima inilah Brothers & Sisters menjadi refleksi sebuah keluarga yang seutuhnya saling memiliki dan membutuhkan. Saya dapat melihat betapa kita perlu mengungkapkan apapun perasaan kita kepada keluarga, menceritakan masalah yang dihadapi, karena berbagi dengan mereka membuat semuanya terasa indah dan hangat, karena keluarga adalah salah satu tempat berlindung teraman di dunia, there's no doubt on that. Saya juga dapat melihat di musim kelima Brothers & Sisters ini bahwa we need to learn to aware that in our lives, there might be people sacrifice for us, we just do'nt realize and see it, so we keep push our ego.


All in all
, dengan menonton Brothers & Sisters, saya bisa tertawa, menangis, merenung, dan belajar pada saat yang sama. Bersiaplah bagi Anda yang jauh dari keluarga, karena ketika menonton serial ini perasaan rindu akan suasana rumah dan keriuhan anggota keluarga di dalamnya akan menyergap Anda. Tak heran bila serial ini mendapat empat nominasi Golden Globe, memenagkan empat GLAAD Media Awards, serta memenagkan Emmy Awards untuk Sally Field (Nora Walker). It's very high recomended. Jadi, apakah Anda yang penah juga menonton merasa bahwa Brothers & Sisters adalah refleksi utuh sebuah keluarga? Just sahre it, let me know by comment on this blog.

2012 84th Academy Awards Winners

Best Cinematography: Robert Richardson, "Hugo"
Best Art Direction: Dante Ferretti and Francesca Lo Schavo, "Hugo"
Best Costume Design: Mark Bridges, "The Artist"
Best Makeup: Mark Coulier and J. Roy Helland, "The Iron Lady"
Best Foreign Language Film: "A Separation"
Best Supporting Actress: Octavia Spencer, "The Help"
Best Editing: Kirk Baxter and Angus Wall, "The Girl With the Dragon Tattoo"
Best Sound Editing: Phillip Stockton and Eugene Gearty, "Hugo"
Best Sound Mixing: Tom Fleischman and John Midgley, "Hugo"
Best Documentary: "Undefeated"
Best Animated Feature: "Rango"
Best Visual Effects: "Hugo"
Best Supporting Actor: Christopher Plummer, "Beginners"
Best Original Score: Ludovic Bource, "The Artist"
Best Original Song: Bret McKenzie, "Man or Muppet"
Best Adapted Screenplay: Alexander Payne, Nat Faxon and Jim Rash, "The Descendants"
Best Original Screenplay: Woody Allen, "Midnight in Paris"
Best Live Action Short: "The Shore"
Best Documentary Short: "Saving Face"
Best Animated Short: "The Fantastic Flying Books Of Mr. Morris Lessmore"
Best Director: Michel Hazanavicius, "The Artist"
Best Actor: Jean Dujardin, "The Artist"
Best Actress: Meryl Streep, "The Iron Lady"
Best Picture: "The Artist"

Selasa, 14 Februari 2012

54th Grammy Winners

Pre-telecast:
Pop Vocal Album: 21, Adele
Traditional Pop Vocal Album: Duets Ii, Tony Bennett and Various Artists
Pop Duo/Group Performance: “Body and Soul,” Tony Bennett and Amy Winehouse
Short Form Music Video: “Rolling in the Deep,” Adele
Long Form Music Video: “Foo Fighters: Back and Forth,” Foo Fighters

Rap/Sung Collaboration: “All of the Lights,” Kanye West, Rihanna, Kid Cudi and Fergie
Rap Song: “All of the Lights,” Jeff Bhasker, Malik Jones, Warren Trotter and Kanye West
Rap Album: My Beautiful Dark Twisted Fantasy, Kanye West
R&B Performance: “Is This Love,” Corinne Bailey Rae
Traditional R&B Performance: “Fool for You,” Cee Lo Green and Melanie Fiona
R&B Song: “Fool for You,” Cee Lo Green and Jack Splash
Pop Instrumental Album: The Road From Memphis, Booker T. Jones
Country Solo Performance: “Mean,” Taylor Swift
Country Duo/Group Performance: “Barton Hollow,” The Civil Wars
Country Song: “Mean,” Taylor Swift
Folk Album: Barton Hollow, The Civil Wars
Hard Rock/Metal Performance: “White Limo,” Foo Fighters
Rock Song: “Walk,” Foo Fighters, Songwriters (Foo Fighters)
Rock Album: Wasting Light, Foo Fighters
Alternative Music Album: Bon Iver, Bon Iver

Producer of the Year, Non-Classical: Paul Epworth
Best Compilation Soundtrack for Visual Media: Boardwalk Empire: Volume 1
Score Soundtrack for Visual Media: The King’s Speech
Song Written for Visual Media: “I See the Light” (From Tangled)
Recording Package: Scenes From the Suburbs
Boxed or Special Limited Edition Package: The Promise: The Darkness on the Edge of Town Story
Album Notes: Hear Me Howling!: Blues, Ballads & Beyond As Recorded by the San Francisco Bay
Historical Album: Band on the Run (Paul McCartney Archive Collection—Deluxe Edition)
Engineered Album, Non-Classical: Paper Airplane
Best Remixed Recording, Non-Classical: Cinema (Skrillex Remix)
Surround Sound Album: Layla and Other Assorted Love Songs
Instrumental Composition: Life in Eleven
Instrumental Arrangement: Rhapsody in Blue
Instrumental Arrangement Accompanying Vocalist(s): Who Can I Turn To (When Nobody Needs Me)
Dance Recording “Scary Monsters and Nice Sprites,” Skrillex
Dance/Electronica Album: Scary Monsters and Nice Sprites, Skrillex

Live Show:

Pop Solo Performance: Someone Like You, Adele
Best Rap Performance (Duo/Group): Otis, Jay-Z & Kanye West
Best Rock Performance: Walk, Foo Fighters
Best R&B Album: F.A.M.E. – Chris Brown – WINNER
Best Country Album: Own The Night – Lady Antebellum
Best New Artist: Bon Iver
Record of the Year: “Rolling in the Deep” by Adele
Song of The Year: “Rolling in the Deep” by Adele
Album of the Year: Adele – 21

Senin, 13 Februari 2012

BAFTA 2012 Winners

BEST PICTURE
"THE ARTIST"

DIRECTOR
MICHEL HAZANAVICIUS, "The Artist"

LEAD ACTOR
JEAN DUJARDIN, "The Artist"

LEAD ACTRESS
MERYL STREEP, "The Iron Lady"

SUPPORTING ACTRESS
OCTAVIA SPENCER, "The Help"

SUPPORTING ACTOR
CHRISTOPHER PLUMMER, "Beginners"

OUTSTANDING BRITISH FILM
"TINKER TAILOR SOLDIER SPY," Tomas Alfredson, Tim Bevan, Eric Fellner, Robyn Slovo,
Bridget O'Connor, Peter Straughan

OUTSTANDING DEBUT BY A BRITISH WRITER, DIRECTOR OR PRODUCER
"TYRANNOSAUR," Paddy Considine (Director), Diarmid Scrimshaw (Producer)

FILM NOT IN THE ENGLISH LANGUAGE
"THE SKIN I LIVE IN," Pedro Almodóvar, Agustin Almodóvar

DOCUMENTARY
"SENNA," Asif Kapadia

ANIMATED FILM
"RANGO," Gore Verbinski

ORIGINAL SCREENPLAY
"THE ARTIST," Michel Hazanavicius

ADAPTED SCREENPLAY
"TINKER TAILOR SOLDIER SPY," Bridget O'Connor, Peter Straughan

ORIGINAL MUSIC
"THE ARTIST," Ludovic Bource

CINEMATOGRAPHY
"THE ARTIST," Guillaume Schiffman

EDITING
"SENNA," Gregers Sall, Chris King

PRODUCTION DESIGN
"HUGO," Dante Ferretti, Francesca Lo Schiavo

COSTUME DESIGN
"THE ARTIST," Mark Bridges

MAKE UP & HAIR
"THE IRON LADY," Marese Langan

SOUND
"HUGO," Philip Stockton, Eugene Gearty, Tom Fleischman, John Midgley

SPECIAL VISUAL EFFECTS
"HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS -- PART 2," Tim Burke, John Richardson, Greg Butler, David Vickery

SHORT ANIMATION
"A MORNING STROLL," Grant Orchard, Sue Goffe

SHORT FILM
"PITCH BLACK HEIST," John Maclean, Gerardine O'Flynn

THE ORANGE WEDNESDAYS RISING STAR AWARD (voted for by the public)
ADAM DEACON

Selamat Jalan, Whitney Houston

Minggu pagi kemarin merupakan hari yang cukup mengejutkan bagi saya. Begitu membuka twitter, mata saya langsung terpaut pada satu kicuan teman yang menuliskan "RIP Whitney Houston". Saya langsung mencari kebenaran informasi tersebut karena seperti kita tahu, dalam sosial media sekarang banyak sekali beredar berita bohong (hoax). Dan setelah saya melihat kicauan di akun CNN yang menyatakan Whitney Houston memang telah resmi meninggal dunia di kamar Hotel Beverly Hilton, LA.


Bagi saya, Houston adalah salah satu diva dunia yang baik dijadikan referensi dalam dunia musik. Profesionalitas dan kemampuan vokalnya yang mencapai tingkat kemahiran matang sulit ditandingi siapapun. Masa kecil saya di era tahun 1990an juga dihiasi oleh lagu-lagu Houston, seperti Greatest Love of All, Saving All My Love For You, dan tentu saja lagu yang menjadi salah satu mahakarya suaranya, I Will Always Love You. Saya dapat mengatakan, Whitney Houston telah menjadi bagian dalam hidup saya.

Kehilangan sosok penyanyi yang begitu besar namanya merupakan salah satu hal yang cukup menyedihkan. Apalagi beredar kabar bahwa Houston tewas karena overdosis narkoba yang memang telah lama dikonsumsinya sejak ia menikah dengan penyanyi rap Bobby Brown. Namun, terlepas dari penyebab meninggalnya Whitney Houston, bagi saya terlalu agung namanya bila harus dilukai dengan kisah-kisah memilukan hidupnya. Memang harus diakui, meski setiap bintang diharapkan sempurna, namun mereka hanyalah manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan dalam hidupnya.

Kini, yang dapat saya sampaikan hanyalah rasa turut berduka cita pada keluarga, rekan/kerabat, serta seluruh penggemar Whitney Houston di seluruh dunia atas kepergiannya. Karya-karyamu akan selalu kami kenang, dan perjuangan senimu akan kami teruskan. Selamat Jalan, Whitney Houston.

Jumat, 10 Februari 2012

Closer: Melihat Kerumitan Cinta Lebih Dekat

Menurut saya, manusia adalah makhluk yang paling sulit dimengerti bila dihubungkan dengan satu kata ini: cinta. Sebagai makhluk yang dianugerahi akal dan kalbu, manusia memiliki berbagai gejolak perasaan menghadapi orang yang dicintai. Gejolak tersebut bisa terurai dari kata-kata seperti kesetiaan, pengkhianatan, kemunafikkan, kebencian, pemaafan, keikhlasan, dusta, menerima apa adanya, mencampakkan, kejujuran, dan lain-lain. Singkat kata, perjalanan cinta manusia dapat dikatakan rumit. Kerumitan kisah cinta inilah yang dipersembahkan Closer (2004), sebuah film drama besutan sutradara Mike Nichols (The Graduate, The Remains of the Dead).


Dengan tagline if you believe in love at first sight, you never stop looking, Closer bertutur betapa cinta pada pandangan pertama akan selalu menempati posisi istimewa dalam hidup manusia. Kemurnian, spontanitas, dan momen yang tidak biasa menjadi kunci kuatnya cinta pada pandangan pertama terpatri dalam hati seseorang. Pernahkah Anda mengalami cinta pada pandangan pertama dan merasakan desiran hasrat magis yang menyetrum hati dan menimbulkan getaran kimiawi dalam aliran darah sehingga secara spontan hati kecil Anda berkata: ya, dialah orangnya! Tentu momen seperti itu tak akan dapat Anda lupakan bukan? Apalagi jika pertemuan pertama itu berhasil membangun sebuah hubungan yang lebih dekat dan intim lagi, saling berkomitmen.

Namun tak ayal manusia tetaplah manusia yang tak pernah puas, selalu mencari yang lebih baik, lebih sempurna, lebih memuaskan, lebih elok, dan lebih segalanya. Bagaimana jadinya kisah cinta pada pandangan pertama seperti yang telah saya tulis di atas diwarnai dengan intrik cinta berupa pengkhianatan?


Film yang menganugerahi Natalie Portman serta Clive Owen nominasi Oscar sebagai Best Performance by an Actress in a Supporting Role dan Best Performance by an Actor in a Supporting Role pada ajang Academy Awards 2005 ini sukses menggambarkan kerumitan hubungan cinta dua pasangan yang saling bertemu satu sama lain dengan kejadian yang tak biasa. Jajaran aktor dan aktris papan atas yang melesakki daftar bintang film ini seperti Jude Law, Julia Roberts, Natalie Portman, dan Clive Owen menurut saya menjadi salah satu daya jual yang mamikat. Dari pandangan amatir saya, akting mereka memang begitu hidup dan membangun alur film dengan baik. Hanya saja, dari segi cerita, menurut saya jalinan kisah pengkhianatan antara Dan (Jude Law) dan Anna (Julia Roberts) kurang terbangun dengan sempurna, dan menghasilkan antiklimaks. Twist yang unik menjadi kekuatan dalam film ini. It's 4 of 4 stars for me.

Here's the trailer:


***

Dan, seorang jurnalis Inggris yang bermimpi sebagai penulis bertemu Alice (Natalie Portman) dalam suatu kejadian unik, yaitu saat Alice mengalami kecelakaan ringan di sebuah jalan. Dan membawa Alice ke rumah sakit dan berakhir pada perkenalan satu sama lain. Alice memperkenalkan dirinya sebagai seorang wisatawan yang tersesat di Inggris. Singkat cerita perkenalan itu berhasil membentuk hubungan percintaan antara mereka berdua. Dan pun berhasil menyusun sebuan buku berdasarkan kisah hidup Alice. Keduanya hidup bahagia hingga Dan bertemu Ann, fotografer yamg memotret Dan untuk sampul bukunya. Percakapan klop yang terjalin keduanya membuat mereka merasa saling mengisi satu sama lain, dan berakhir pada perasaan cinta. Ann sendiri adalah seorang istri yang telah berpisah dari suaminya. Namun saat Dan mengtakan bahwa dirinya memiliki pacar, Ann tidak ingin melanjutkan cinta pada pandangan pertamanya dengan Dan, mereka berdua pun tidak saling bertemu satu sama lain dalam waktu cukup lama.


Jalan cerita selanjutnya menjadi rumit ketika tanpa sengaja Dan mempertemukan Ann dengan Larry (Clive Owen), seorang dokter kulit yang tergila-gila pada seks. Larry langsung menyukai Ann dan keudanya pun menikah. Namun, hati Ann sebenarnya tetap untuk Dan. Pertemuan yang hanya sekali itu begitu berkesan baginya dan bayangan Dan tak luput dari benaknya. Dan kembali bertemu Ann pada saat Ann mengadakan pameran fotografi. Keduanya bertemu dengan masing-masing pasangan mereka. Pertemuan kembali itu mnajdikan cinta mereka semakin liar dan keduanya berdusta pada masing-masing pasangannya. Ketika akhirnya Dan mengaku pada Alice dan Ann berkata terus terang pada Larry perihal perselingkuhan mereka, kedua pasangan ini dilanda gucangan hebat dan berakhir pada hancurnya masing-masing pasangan, dengan cara yang berbeda. Alice pergi meninggalkan Dan dan bekerja sebagai penari telanjang, sementara Ann berpisah dengan Larry.


Namun, jangan kira ceritanya berhenti semudah itu. Larry diam-diam adalah tipe orang yang tak tinggal diam ketika mengetahui dirinya dikhianati. Secara tak sengaja Alice bertemu Larry di sebuah bar tempatnya bekerja sebagai penari telanjang. Keduanya membangun percakapan intim dan berujung pada hubungan seks. nNamun Larry melakukan itu semua bukan semata-mata keinginan biologisnya, tetapi untuk membuat Dan sakit hati karena telah berani merebut istrinya. Salah satu kekuatan film ini menurut saya terletak pada adegan ini, di mana Alice dengan jujur berkata pada Larry siapa identitasnya yang asli, yang selama ini tak pernah ia katakan pada siapapun, termasuk pada Dan yang dicintainya. Natalie Portman dengan sangat meyakinkan membawakan diri sebagai penari telanjang dan Clive Owen sendiri sebagai pria yang tergila-gila seks secara mumpuni menampilkan "mimik pria hidung belang".


Tidak hanya itu, perpisahan Larry dengan Ann juga dilakukan secara biasa-biasa saja. Larry yang merasa menjadi pihak yang tersakiti dan sebagai korban meminta syarat pada Ann saat ia meminta Larry menandatangani surat peceraian. Syaratnya apalagi jika bukan bercinta, dan inipun dilakukan Larry untuk membuat Dan hancur.


Kisah cinta dua pasangan ini berakhir dengan cukup mengejutkan, dimana Dan tidak menerima pengorbanan cinta Ann yang telah bercinta dengan Larry untuk selembar surat cerai dan memilih meninggalkannya dan kembali pada Alice (menurut saya di sinilah letak antiklimaks hubungan Dan dan Ann. Apakah dengan segala hal yang telah mereka korbankan selama ini demi cinta, satu kesalahan Ann yang berujung pada perpisahan mereka digambarkan secara minimalis, bukannya menekankan betapa Dan sesungguhnya mencintainya tetapi satu hal yang tak bisa ia terima adalah bercinta untuk selembar surat cerai, tetapi menjadi terkesan seperti "oh you bitch doesn't understand what I want!") . Merasa dicampakkan, Ann pun memilih kembali bersama Larry meski hatinya tak pernah bisa melupakan cinta pada pandangan pertamanya dengan Dan. Di sisi lain, Alice tak lagi mau menerima cinta Dan meskipun pria terkasihnya itu telah datang untuk berbaikan dan memaafkan Alice yang telah berhubungan seks dengan Larry. Alice memilih kembali ke Amerika dan kembali menjadi Jane Jones, identitas aslinya... It's 3.5 out of 5 stars for me.

Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:

Little Children (2006)

Director: Todd Field
Stars: Kate Winslet, Jennifer Connelly, Patrick Wilson
Genre: Drama, Romance
Runtime: 137 minutes

Vicky Christina Barcelona (2008)

Director: Woody Allen
Stars: Penélope Cruz, Scarlett Johansson, Javier Bardem
Genre: Drama, Romance, Comedy
Runtime: 96 minutes

Cerita tentang Burung Unta dan Serigala

Tahukah Anda bahwa setiap kali membeli telepon seluler berarti telah memperparah perang saudara di Afrika? Atau tahukah Anda bahwa celana jins yang sering kita pakai merupakan biang keladi dari pencemaran lingkungan? Kemarin saya baru saja menonton sebuah film dokumenter Prancis berjudul La Terre Vue du Ciel (Earth from Above). Film ini merupakan proyek ambisius seorang environmentalis Yann Arthus-Bertrand yang disponsori oleh UNESCO. Film ini dirilis dalam bentuk DVD pada 2008 setelah sebelumnya dibuat bentuk buku dan kumpulaan fotonya. Earth from Above memaparkan dengan gamblang bagaimana aktivitas dan gaya hidup keseharian manusia berdampak pada ekosistem di bumi. Jujur, saya terpaku dengan segala fakta tentang kerusakan lingkungan yang diungkapkan dalam film ini.


Ada beberapa masalah yang diangkat dalam film ini. Pertama, mulai dari penambangan logam bernama coltan, logam yang berharga selangit dan digunakan dalam produksi telepon seluler yang kita pakai sehari-hari. Permasalahannya adalah penambangan logam ini ditengarai menjadi pemicu panjangnya konflik persaudaraan yang terjadi di Kongo. Kongo merupakan sebuah negara Afrika yang masih terus bergumul dengan kemelut perang saudara antara sipil dan kelompok militan. Sebenarnya, konflik ini berawal dari perang di negara Afrika lain, Rwanda. Setelah rekonsiliasi tercapai di Rwanda dengan dibentuknya Internationan Criminal Tribunal for Rwanda (ICTR) melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB No. S/RES/955 tahun 1994, banyak anggota separatis dan militan Rwanda pergi ke Kongo dan melakukan konsolidasi. Hal ini membawa rakyat Kongo ikut terseret dalam arus perang Rwanda. Kongo sendiri merupakan penghasil coltan terbesar di dunia, menguasai 70% produksi coltan seluruh dunia, di atas Brazil dan Australia.


Mirisnya, pemerintah Kongo sama sekali tidak mendapatkan sepeserpun hasil penambangan coltan, karena coltan yang telah ditambang langsung dibawa ke Rwanda. Meskipun telah ada peraturan yang melarang penambangan ilegal, namun kelompok militan asal Rwanda terus mempekerjakan orang-orang miskin Kongo, termasuk wanita dan anak-anak di bawah umur untuk menambang coltan secara ilegal. Mereka bekerja dengan pengawasan senjata api hanya untuk upah kurang dari 3 euro sehari. Padahal harga coltan di pasar dunia mencapai 50 euro perkilogram, bahkan coltan yang telah diproses bisa berharga 1000 kali lipatnya. PBB yang menyadari kegentingan masalah ini memberikan anjuran kepada para produsen ponsel agar tidak menggunakan coltan dari Kongo. Namun bisnis tetaplah bisnis, coltan sangat penting dalam produksi ponsel dan coltan berkualitas serta melimpah ada di Kongo.


Produsen tentu akan melakukan apapun untuk mendapat coltan Kongo. Di sini, kita bisa melihat ketamakan produsen ponsel untuk terus memesan coltan Kongo, dan pada akhirnya mereka mendorong militan Rwanda untuk menambang coltan Kongo dalam jumlah yang semakin meningkat. Hasil dari penambangan itu digunakan untuk membeli senjata agar mereka dapat menggempur habis saudara mereka sendiri di Rwanda. Akankah kita terus membeli ponsel mengikuti gaya yang silih berganti? Saya rasa selama ponsel yang kta pakai masih berfungsi dengan baik dan mengakomodasi semua kebutuhan kita, untuk apa mengganti ponsel bila sekadar mengikuti tren baru?

Sebagai manusia yang hidup berdampingan di muka bumi, alangkah baiknya bila kita mempertimbangkan semua tindakan yang melibatkan alam. Tentu kehidupan manusia tidak akan berakhir setelah kita mati bukan? Ada generasi penerus yang juga memerlukan sumber daya di bumi ini. Jangan sampai kita seperti burung unta yang terbiasa mengubur kepala sendiri dan tutup telinga terhadap apa yang terjadi pada dunia dan bumi kita saat ini. Jangan pula menjadi homo homini lupus yang menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi dan menyengsarakan orang lain. Mari kita jaga alam kita bersama-sama

Ada yang punya komentar?

Dream House

Pernahkah Anda membayangkan bahwa suatu kejadian kecil akan mengubah seluruh jalan hidup seorang manusia? Atau pernahkah Anda berpikir seberapa besar kelalaian pekerjaan seseorang akan mengacaukan hidup orang lain? Bila Anda penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin Dream House (2011) akan memberikan sedikit gambaran betapa suatu kelalaian kecil seseorang dapat mengubah seluruh impian orang lain.



Dream House
adalah sebuah film bergenre psychological thriller yang mengisahkan kehidupan sebuah keluarga yang baru saja pindah rumah ke sebuah kota kecil. Will Atenton (Daniel Craig), kepala keluarga itu bekerja sebagai editor sebuah penerbitan dan memiliki seorang itri bernama Elizabeth yang akrab disapa Libby (Rachel Weisz) dan dua orang putri, Beatrice/Trish (Taylor Geare) dan Katherine/Dee-Dee (Claire Geare). Mereka adalah keluarga kecil bahagia, namun kesibukan Will Atenton (saya sendiri menangkap Will di sini seorang workaholic) membuat Libby dan dua anaknya merasa kesepian, apalagi di sebuah lingkungan tempat tinggal yang baru. Karena itulah keputusan Will mengundurkan diri dari kantornya di sambut bahagia oleh istri dan anak-anaknya. Ia pun pulang ke rumah dengan hati lega bercampur sedih karena lepas dari pekerjaannya.

Kepulangan Will kemudian dilanjutkan dengan serangkaian kejadian aneh yang terjadi di rumah barunya. Dee-Dee sempat melihat pria asing di jendela dan mengawasi rumah mereka dari luar dan terdapat sebuah misteri yang kemudian terkuak bahwa di rumah itu terdapat satu keluarga yang dibantai oleh Peter Ward, kepala keluarga itu sendiri. Kekalutan Libby akan rumah baru mereka membuat Will berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu. Tetangganya, Ann Paterson (Naomi Watts) seorang istri yang telah berpisah rumah dengan suaminya dan sedang berjuang mendapatkan hak asuh anak semata wayangnya terlihat tidak kooperatif saat ditanyai oleh Will. Padahal rumah Ann tepat berseberangan dengan rumah Will dan ia telah tinggal di sana selama bertahun-tahun. Akhirnya setelah berhasil mengetahui bahwa Peter Ward, sang pembunuh ditahan di sebuah rumah sakit jiwa, Will pergi ke sana dan mulai menyelidiki apa yang terjadi. Dari titik ini, keseluruhan alur film berubah. Penampilan Will mengalami transformasi (yang paling kentara adalah model rambut Daniel Craig yang menurut saya dibuat model Dedi Corbuzier dan sangat tidak cocok. Hahaha) karena Will sebenarnya adalah Peter Ward itu sendiri. Ia dituduh menjadi dalang kematian istri dan anak-anaknya. Nama Will ia ciptakan sendiri ketika ia mengalami masa-masa sakit jiwa dan tidak menerima kenyataan bahwa ia yang dituduh sebagai pembantai keluarga yang sangat dicintainya.


Namun di balik semua kejutan itu, yang menjadi aktor utama dari misteri adalah keluarga Patterson. Suami Ann, yang bernama Jack ternyata menikahi Ann hanya untuk mengambil harta warisan yang dimiliki Ann, karena itu pulalah ia mati-matian memperjuangkan hak asuh Chloe (Rachel G. Fox), anak semata wayang mereka, karena jika hak asuh Chloe diperolehnya, maka ia akan mendapat warisan Ann. Jack pun kemudian menghubungi seseorang yang untuk membunuh Ann dan memberikan alamat rumah Ann pada hari yang sama saat Peter (Will) pulang bekerja di hari ia mengundurkan diri. Apa yang terjadi kemudian? Orang yang disuruh Jack ternyata salah menyambangi rumah Ann dan ia pun salah membunuh orang, yang menjadi korbannya adalah Libby dan dua putrinya. Kebetulan, Peter pulang di saat bersamaan dan ketika berusaha melumpuhkan orang itu ia memegang pistol yang digunakan untuk membunuh keluarganya. Ia pun menjadi satu-satunya orang yang hidup dalam keluarganya dan tuduhan pembunuh tertuju padanya.


Di sisi lain, bukannya mendapat berita kematian Ann, Jack kemudian malah diperas suruhannya yang akan melaporkan dirinya ke polisi bila Jack berani mengungkap tragedi konyol itu. Maka Jack tetap tutup mulut dan membiarkan Peter yang dituding sebagai pembunuh. Sampai sini tentu Anda tahu bahwa alur cerita pertama tadi hanyalah halusinasi Peter saja yang kembali menemui keluarganya setelah mereka meninggal.


Dream House
menurut saya lebih menekankan sisi drama seorang Peter yang tak ingin kehilangan keluarganya. Kehadiran Libby dan anak-anaknya sebagai "hantu" juga membuat film ini kurang maksimal menampilkan sisi psychological thriller. It's 2 of 5 stars for me. Ada yang punya komentar?


Watch this if you liked:

The Manchurian Candidate (2004)

Director: Jonathan Demme
Stars: Denzel Washington, Liev Schreiber, Meryl Streep
Genre: Drama, Mystery, Thriler
Runtime: 129 minutes

Changeling (2008)

Director: Clint Eastwood
Stars: Angelina Jolie, Colm Feore, Amy Ryan
Genre: Drama, Mystery, History
Runtime: 141 minutes

Book Review: Gli Amori Difficuli





Cinta. Satu kata yang sangat luas maknanya. Cinta dapat dideskripsikan dengan berbagai bentuk atau cara. Ketika membicarakan cinta, kita tidak melulu terpaku pada logika, tetapi perasaan, naluri, dan hasrat juga berperan di dalamnya dan membentuk "sistem" interaksi sosial antara manusia yang satu dengan yang lainnya atau dengan lingkungan sekitarnya. Cinta memang kosmik dan epik, membaca kisah cinta pun menjadi sesuatu yang tak lekang waktu karena selalu ada sisi lain dari sekeping kata cinta. Sisi-sisi dari sebuah cinta inilah yang termuat dalam Gli Amori Difficuli (Difficult Loves), salah satu karya Italo Calvino. Calvino sendiri adalah salah satu sastrawan Italia yang paling berpengaruh pada abad 20.

Gli Amori Difficuli merupakan kumpulan sebelas cerita pendek dan dua cerita panjang yang ditulis Calvino antara 1948-1957 dan berlatar Italia pada sekitar era fasisme. Awal ketertarikan saya membaca (dan membeli) buku ini adalah kurangnya pengetahuan dan referensi saya terhadap karya penulis Italia, karena sebelumnya bacaan saya hampir selalu penulis Inggris atau Amerika. Kalaupun ada yang lain seperti The Famished Road karya Ben Okri (Nigeria), novel itu ditulis (sebelum saya membaca terjemhannya) dalam bahasa Inggris atau karya sastra non-bahasa Inggris yang paling mudah ditemui seperti Leo Tolstoy (Rusia). Istimewanya, saya langsung menemukan perbedaan mencolok gaya bertutur Calvino dengan penulis-penulis lain. Ia kerap membuat satu paragraf yang sangat panjang dengan pendeskripsian yang agak bertele-tele. Calvino sangat memerhatikan detil latar pada ceritanya. Jujur saja, ada beberapa cerita dalam buku ini yang tidak saya pahami akhir kisahnya.

Cerita pendek dalam Gli Amori Difficuli ini antara lain Petualangan Seorang Serdadu, Petualangan Seorang Pelancong, Petualangan Sepasang Suami Istri, Petualangan Seorang Pria Berkacamata, Petualangan Seorang Pembaca, Petualangan Seorang Penyair. Dua cerita panjang yang termuat dalam buku ini adalah Kabut Asap dan Terjun ke Real Estate. Semua cerita dalam buku ini menurut saya memiliki keunikan masing-masing dalam bicara tentang cinta. Misalnya dalam Petualangan Seorang Pembaca yang menjadi salah satu favorit saya, mengisahkan seorang pria kutu buku yang justru merasa bingung di saat ia bertemu wanita yang disukainya. Kebingungan itu disebabkan cintanya terbagi antara wanita yang ditemuinya dengan buku yang sedang dibacanya. Saya tak pernah tahu apakah ada tipe manusia macam ini, yang sangat mencintai buku sampai-sampai ia tetap tak mau melepaskan bacaan dari pikirannya bahkan saat ia tengah bercinta.

Kisah lain yang juga menjadi favorit saya adalah Kabut Asap yang bertutur tentang kemunafikkan petinggi-petinggi pmerintah suatu kota dan para pengusaha dalam mengatasi polusi yang terjadi di kota itu akibat semakin berkembangnya industri modern yang merusak alam. Dikisahkan dari sudut pandang seorang editor pelaksana suatu majalah lingkungan, Kabut Asap menjadi bacaan fiksi kritis yang membuka mata bahwa ada banyak pihak yang bermain dalam kehidupan kita. Kecintaan terhadap pekerjaannya membuat si editor pelaksana kemudian menyisipkan beberapa pesan tersirat dalam tulisan-tulisannya meski harus beradu pendapat dengan atasannya yang juga seorang pengusaha yang munafik.

Satu lagi cerita yang juga tak kalah menarik dan unik, dan yang paling saya sukai adalah Petualangan Sepasang Suami Istri. Ceritanya sederhana dan terinspirasi dari kehidupan nyata yang dapat kita temui dalam keseharian. Sepasang suami istri yang masing-masing bekerja dalam waktu yang berbeda. Sang suami harus bekerja pada malam hari dan baru pulang saat fajar menyingsing sementara si istri berangkat kerja dari pagi, tak lama setelah kepulangan suaminya dan pulang larut malam ketika suaminya bersiap berangkat kerja. Apa yang terjadi kemudian adalah kisah kerinduan yang melanda si suami maupun sitri ketika pasangannya bekerja. Sang istri selalu merasa kesepian di saat ia pergi ke peraduan di malam hari, tak ada pria tercinta di sampingnya yang menemani lelap mimpinya. Begitu pun sang suami yang beristirahat tidur pada pagi hari hanya dapat menemukan bekas-bekas kehangatan di sisi ranjang yang ditiduri istrinya. Ia pun memilih untuk berbaring di sisi tersebut untuk meredam kerinduannya. Namun setiap mereka terbangun, mereka tahu bahwa yang akan temui adalah kesepian, kesepian, dan kesepian.

Italo Calvino memberikan saya cakrawala baru dalam khasanah sastra Italia pada umumnya dan dunia pada khususnya. Cerpen-cerpen yang mengangkat tema kehidupan manusia sehari-hari dituturkan dengan teliti membuat pembacanya menyadari hal-hal yang selama ini dianggap sepele dalam kegiatan sehari-hari. Ternyata hal-hal itu di tangan seorang Calvino dapat menjadi sebuah kisah unik yang sulit terlupakan. Calvino sangat lihai memainkan imajinasinya sehingga membuat cerita percintaan jauh dari kesan biasa dan membosankan. Petualangan Sepasang Suami Istri menjadi cerita yang paling terngiang-ngiang di kepala saya setelah selesai membaca Gli Amori Difficuli. Dari cerita ini saya teringat sebuah lagu berjudul Dreaming with a Broken Heart yang diciptakan dan dibawakan oleh John Mayer. Lagu ini sangat cocok sebagai pengiring cerita Petualangan Sepasang Suami Istri, dan semakin menancapkannya di dalam pikiran saya. Lirik lagu ini benar-benar mengena untuk sepasang manusia yang saling mencinta dan merindukan, dan membuat saya memutar lagu ini terus dan terus setelah membaca Gli Amori Difficuli...

When you're dreaming with a broken heart
The waking up is the hardest part
You roll outta bed and down on your knees
And for the moment you can hardly breathe
Wondering was she really here?
Is she standing in my room?
No she's not, 'cause she's gone, gone, gone, gone, gone....

When you're dreaming with a broken heart
The giving up is the hardest part
She takes you in with your crying eyes
Then all at once you have to say goodbye
Wondering could you stay my love?
Will you wake up by my side?
No she can't, 'cause she's gone, gone, gone, gone, gone....

Oooooooooohhhhhhhhh

Now do i have to fall asleep with roses in my hand
Do i have to fall asleep with roses in my hand?
Do i have to fall asleep with roses in my hand?
Do i have to fall asleep with roses in my hand?
Baby won't you get them if i did?
No you won't, 'cause you're gone, gone, gone, gone, gone....

When you're dreaming with a broken heart
The waking up is the hardest part


Ada yang punya komentar?

Selasa, 07 Februari 2012

Controversial Poster


Academy Award nominee Jean Dujardin might be worried because of the news spreading about him. It was all began when his brand new French-movie-poster released a couple days ago which claimed by many as degrading image of women. The controversial movie poster entitled Les Infideles showing Dujardin holds a woman's legs in the inverted position. Stephanie Martin, chief of French Advertising Standard Board (ARPP) said that the poster placed women as sexual object. ARPP reported they received 4 complaints from the public that offended by the poster.

L'Express put a question: "Would the Infideles poster scandal hamper Dujardin's chance to Oscar on 26 February?"
As we know Dujardin recently won a Golden Globe for his role in The Artist, which received high compliment among film critics. The Artist nominated for 10 categories in Academy Awards which will be held on 26 February.

Well for me even though the poster is indeed disgraceful (I think this poster deliberately spoke women as second class citizen) the Academy judges pay a little attention to out-screen issues, and in my opinion that would be fair because the judging process for an award should only concern on the film that was nominated.

Any comments?

Source: Metro TV news


Rabu, 01 Februari 2012

Making Love: Bukti Sebuah Cinta Sejati

Making Love (1982) adalah sebuah film bertema homoseksualitas arahan sutradara Arthur Hiller. Tidak seperti film dengan tema homoseksualitas lainnya seperti Brokeback Mountain (2005) atau Broderskab (2009) yang mengetengahkan romantisme dua pasangan sejenis, Making Love berpusat pada kekuatan kasih sayang yang dimiliki antara sepasang suami-istri yang kemudian dihadapkan pada kenyataan bahwa sang suami adalah seorang homoseks. Meski sangat mengguncang, namun ternyata keduanya menyimpan kekuatan cinta sejati yang melebihi apapun sehingga di antara mereka tetap mengharapkan kebahagiaan untuk keduanya dan saling menyayangi dengan cara mereka sendiri. "We've been always there for each other. Always, always!"


Film yang dinominasikan dalam kategori Best Original Song - Motion Picture pada Golden Globe 1983 ini menurut saya cukup berani mengangkat tema homoseksualitas mengingat pada awal tahun 1980-an isu mengenai HIV/AIDS yang dilekatkan pada kalangan gay sangat mencuat. Bahkan di Amerika Serikat HIV/AIDS pernah cukup tenar disebut sebagai gay cancer. Secara keseluruhan, saya menyukai film ini. It's 3.5 of 5 stars for me.
***

Zach Elliot (Michael Ontkean) adalah seorang dokter di Los Angeles yang beristrikan Claire (Kate Jackson), seorang produser televisi yang sukses. Keduanya menjalani pernikahan yang cukup bahagia selama 8 tahun namun belum dikaruniai anak yang sebenarnya sangat mereka dambakan. Kebahagiaan pernikahan mereka tak lepas dari banyankanya persamaan di antara Zach dan Claire, mulai dari film favorit, buku bacaan, puisi, makanan, hingga selera dalam memilih rumah. Cinta mereka sangat murni terhadap satu sama lain. Dalam salah satu dialognya, Claire mengatakan, "Zach's the only man I've ever been with". Meski keduanya tidak memiliki waktu yang cukup untuk bersama di rumah karena keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, namun Claire merasa bahwa pernikahannya adalah the world's greatest marriage.

Namun, Claire tak pernah mengira bahwa Zach, suaminya, lelaki yang dinikahinya sejak 8 tahun lalu memiliki hasrat yang selama ini dipendamnya sendiri. Zach merasa dirinya tertarik kepada laki-laki namun tak pernah mengungkapkan perasaan tersebut atau sekedar mencari tahu siapa dirinya sebenarnya. Zach memang pernah mencoba beberapa kali mengunjungi bar khusus gay dan menelusuri jalan-jalan yang disesaki penjaja seks khusus gay, namun hal-hal tersebut selalu berakhir dengan keraguan dan kasih sayangnya pada Claire yang sebetulnya dianggap sebagai sahabat terbaiknya. Hingga suatu saat, Zach bertemu Bart McGuire (Harry Hamlin), novelis homoseks yang memikat hatinya. Sayang, Bart adalah tipe orang yang cukup bahagia tanpa hubungan terikat dengan seorang partner. Bart lebih suka menjalin hubungan one night stand untuk sekedar memuaskan hasrat biologisnya dengan pria lain.


Pertemuan Zach dan Bart bukan tanpa makna, justru dari pertemuan itulah Zach termotivasi untuk jujur terhadap dirinya sendiri dan kepada Claire bahwa dirinya adalah gay. Akhirnya Zach mengaku pada Claire bahwa dirinya tertarik pada laki-laki. Ada satu dialog yang menurut saya sangat powerful dan menjadikannya salah satu kutipan terbaik dalam film ini: "I found that I'm attracted to men. I suppose it... I have it in most of my life but I never knew what it was, or maybe... maybe I just never admitted it or allowed it to come through before. Claire, I don't know where these feelings come from but the fact is that I have them. And... I got to stop denying it".

Saya menyebut dialog tersebut sebagai salah satu kutipan terbaik dalam film ini karena seringkali manusia sulit untuk memahami dirinya sendiri. Mengenal lebih jauh kelebihan dan kekurangan diri sendiri terkadang lebih sulit dilakukan dibanding melihat, menilai, dan menjustifikasi orang lain. Padahal menurut saya manusia bukanlah makhluk yang tepat untuk melakukan penilaian terhadap manusia lainnya, mengenal dan mengendalikan diri sendirilah yang menjadi hal penting agar kehidupan kita sebagai manusia tidak menyulitkan orang lain.

Meski sempat terguncang, namun Claire segera menyadari bahwa selama ini Zach adalah pria terbaik dalam hidupnya, ia selalu ada untuknya apapun yang terjadi. Inilah yang menggerakkannya untuk mencari tahu apakah menjalani kehidupan sebagai homoseks akan mendatangkan kebahagiaan bagi Zach, karena bagaimanapun Zach adalah pria terkasihnya, yang selalu dicintainya dan ia selalu menginginkan Zach bahagia. Akhirnya, sampailah Claire pada kesimpulan bahwa cintanya untuk Zach takkan pernah pudar dan ia merelakan diri berpisah demi kebahagiaan mereka berdua, agar Zach dapat memiliki kehidupan yang selama ini didambakannya juga untuk dirinya sendiri yang sangat mengharapkan kehadiran seorang anak dari suami yang benar-benar dapat dijadikan contoh dan mencintai dirinya seperti seorang suami mencintai istrinya. Inilah bukti cinta sejati yang dapat dimiliki dua insan. Ya, melalui film ini saya semakin percaya pada kata-kata cinta sejati tak harus memiliki, karena cinta sejati akan selalu ada di hati kecil setiap manusia yang diperuntukkan bagi orang-orang terkasih yang bahkan hingga hembusan napas terakhir akan selalu kita kenang.


Film ini ditutup dengan kunjungan Zach ke rumah Claire yang setelah berpisah menikah kembali dan memiliki seorang anak. Zach sendiri kini menjalin hubungan dengan partnernya dan hidup satu atap. Cinta Zach dan Claire akan tetap abadi, sebagai sahabat, sebagai keluarga, dan meski berujung pahit, romansa mereka akan tetap dikenang selamanya. It's a very nice movie, 3.5 out of 5 stars for me.



Watch this if you liked:

Brokeback Mountain (2005)

Director: Ang Lee
Stars: Heath Ledger, Jake Gyllenhaal, Michelle Williams
Genre: Drama, Romance
Runtime: 134 minutes

C.R.A.Z.Y. (2005)

Director: Jean-Marc Vallée
Stars: Michel Côté, Marc-André Grondin, Danielle Proulx
Genre: Drama
Runtime: 134 minutes