Monday, July 18, 2011

Book Review: Love in the Time of Cholera


My rating: 5 of 5 stars


Love in the Time of Cholera adalah salah satu roman terpopuler yang ditulis oleh pemenang nobel sastra asal Kolombia, Gabriel García Márquez. Dalam Love in the Time of Cholera, kita di bawa pada suatu kisah hidup Florentino Ariza, lelaki yang rela berkorban demi cinta sejati dalam hidupnya, Fermina Daza.



Diceritakan, Florentino Ariza adalah anak haram hasil hubungan ibunya, Transito Ariza dengan seorang pengusaha terkenal. Meski di awal hidup Florentino sang ayah membiayai hidupnya, ia tetap tidak diakui sebagai anak sah (ini pula yang meyebabkan Florentino tidak memakai nama akhir ayahnya, melainkan nama belakang keluarga ibunya), sehingga ia tinggal dalam kesederhanaan bersama Transito Ariza ketika ayahnya wafat. Beruntung, ia memiliki paman yang teramat menyayanginya seperti anak sendiri, Leon XII. Pada cerita-cerita berikutnya, Florentino tidak akan menjadi apa-apa jika bukan jasa dari sang paman ini.



Hidup di desa yang terkena wabah kolera saat masa kolonial Spanyol, Florentino Ariza kecil adalah anak pemalu dan penyendiri. Maka, ketika atasan tempat ia bekerja sebagai kurir menmintanya untuk menyampaikan telegram ke rumah Fermina Daza, ia hanya bisa termenung menatapi mata indah milik Fermina Daza yang didambanya. Pada suatu kesempatan, akhirnya Florentino berani menyampaikan surat cintanya, yang kemudian bersambung menjadi sebuah jalinan cinta yang memabukkan yang hanya bisa diekspresikan lewat surat karena ayah Fermina Daza, Lorenzo Daza tidak akan meyetujui mereka.



Ketika apada akhirnya cinta sembunyi-sembunyi yang dirajut Fermina dan Florentina terendus Lorenzo, ia segera memboyong putri semata wayangnya tersebut ke rumah kerabatnya yang jauh dan kembali belasan tahun kemudian. Selama itu, Florentino menunggu dengan sabar. Namun, alangkah mengejutkan bahwa ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, Florentino harus menelan penolakan dari Fermina Daza yang sebenarnya juga masih mencintainya.



Fermina menjalankan hidupnya dan menikah karena terpaksa dengan Dr. Juvenal Urbino yang berasal dari keluarga terpandang. Mereka menikah dalam ketidakharmonisan rumah tangga selama setengah abad hingga akhirnya kematian Dr. Juvenal Urbino memisahkan mereka. Yang membuat roman ini megah adalah kisah kesetiaan Florentino Ariza yang lagi-lagi bersedia menunggu selama setengah abad tersebut demi menjalankan hidup dengan wanita terkasihnya. Meski kali ia menunggu dengan kegetiran yang amat sangat dalam, dan ia bukanlah tipe yang benar-benar bersih dari pengkhianatan. Ia melanggar janjinya sendiri untuk menjaga keperjakaannya selama menunggu Fermina Daza dan bermain api cinta semu dengan banya wanita. Namun, kematian Dr. Juvenal Urbino akhirnya membawa berkah bagi dirinya dan ia berhasil menghabiskan sisa hidupnya dengan Fermina Daza.



Dalam novel ini, latar kemiskinan dan penjajahan di kawasan Amerika Latin sangat kental terasa. Dengan lihai, Márquez meracik cerita para tokoh-tokohnya dengan berbagai jenis karakter, tidak ada tokoh yang benar-benar baik dan benar-benar jahat, semuanya persis seperti panggung kehidupan. Love in the Time of Cholre benar-benar sebuah roman yang menggugah dan tak akan bisa dilupakan.



Love in the Time of Cholera telah difilmkan dengan bitang utama Javier Bardem sebagai Florentino Ariza. Sayangnya, versi filmnya ini dinilai oleh banyak kritikus sebagai "film terburuk yang diangkat dari novel terindah di dunia...". Namun, setidaknya Shakira masih dinominasikan untuk Best Original Theme Song untuk film ini di ajang Golden Globe 2007.



View all my reviews



No comments:

Post a Comment