Saturday, November 30, 2013

The Man in the Moon: Taste the Bittersweet of Love and Life

"I missed my chance with five, really liked four, truly loved two, regretted breaking up with one, and currently like one... I'm 14.5 years old, single, and my mind and body are exhausted. I don't think I'll ever love again..." Kalimat tersebut merupakan status yang tertulis pada laman akun Weibo, jejaring sosial populer buatan Cina milik seorang remaja. Status tersebut merupakan curahan hati sang remaja tentang hubungannya dengan seorang gadis berusia 12 tahun. Melihat kata-katanya yang begitu frustrasi menghadapi cinta layaknya orang dewasa, status yang diposkan sekitar bulan November 2012 itu langsung menimbulkan kehebohan penduduk internet negeri tirai bambu. Berbagai komentar pedas yang umumnya berasal dari orang dewasa dialamatkan pada remaja si empunya akun. Mereka mencemooh betapa konyolnya perilaku remaja saat ini, betapa terlalu cepat mereka memikirkan cinta di usia yang masih dini. Ya, saat ini Cina sedang menghadapi isu nasional terkait perkembangan anak. Anak-anak generasi Z, generasi yang mengenal teknologi internet dengan segala kecanggihannya sedari awal mereka lahir sekarang tidak ragu lagi mengungkapkan curahan hati mereka tentang cinta melalui internet. Para orang tua yang memiliki anak remaja kini merasa khawatir dan bingung dengan perkembangan sikap dan perilaku anak mereka yang terlalu cepat dewasa. Para orang tua tersebut merasa terganggu dengan keseriusan anak mereka menanggapi sebuah ketertarikan yang seharusnya hanya menjadi cinta monyet. Padahal, pada zaman dahulu cinta monyet merupakan tahapan perkembangan anak yang penting menuju kedewasaan. Orangtua di masa lalu cenderung memahami cinta masa remaja, terutama cinta pertama yang terkenal tak akan pernah bisa dilupakan itu. Mungkin para orangtua di negeri panda dapat belajar bagaimana menghadapi remaja yang sedang mengalami jatuh cinta dari Matthew dan Abigail dalam The Man in the Moon (1991).

Satu lagi kisah coming of age yang sangat indah telah saya tonton. Sejujurnya saya tidak pernah mendengar judul The Man in the Moon ini. Beruntung seorang kerabat dekat memperkenalkan film ini dan dengan baik hati bersedia meminjamkan koleksi DVD miliknya. Saya harus mengucapkan terima kasih padanya karena setelah menonton film ini, saya merasa mendapat kehormatan untuk mendapatkan sensasi dan pengalaman menyaksikan sebuah karya seni sempurna. Penulis naskah, sutradara, pemain, penata gambar, penata suara, dan seluruh kru film ini berhasil menuturkan sebuah cerita luar biasa tentang bagaimana manis dan getirnya kehidupan dilihat dari sudut pandang seorang gadis belia. Saya tidak ingin terkesan berlebihan, tetapi terus terang ada perasaan yang tidak dapat saya singkirkan ketika selesai menyaksikan film ini. Perasaan tersebut meliputi benak pikiran saya untuk waktu yang lama, sebuah perasaan yang lebih tepat dikatakan iba sekaligus simpati pada setiap remaja yang harus langsung berhadapan dengan kesedihan di awal perkenalannya dengan romantisme.

The Man in the Moon menuturkan sepotong kisah hidup gadis berusia 14 tahun bernama Dani (Reese Witherspoon). Sebagai seorang remaja, Dani memiliki rasa ingin tahu dan ketertarikan terhadap "urusan orang dewasa" yang dulu tidak pernah terpikirkan olehnya. Layaknya remaja lain, Dani juga mulai mencari sosok ideal yang dapat dijadikan contoh untuk ditiru. Bagi Dani, ia ingin menjadi seperti kakaknya Maureen (Emily Warfield) yang terkenal cantik, pandai, dan memikat banyak laki-laki. Di usianya yang ke-14 ini, Dani ingin diperlakukan seperti Maureen, seperti gadis dewasa bukan remaja ingusan seperti anggapan banyak orang terhadapnya selama ini. Selain itu, Dani juga penasaran dengan pengalaman asmara orangtua dan kakaknya. Hanya saja Dani belum memahami bahwa tidak jauh berbeda dengannya, Maureen pun kini tengah berada di persimpangan jalan dalam hidupnya. Maureen baru saja diterima sebuah perguruan tinggi di kota yang membuatnya harus pergi meninggalkan keluarga tercinta dan lingkungan pedesaan tempatnya tinggal jika ia memutuskan kuliah. Belum lagi masalah asmara yang membelit Maureen. Wajah manis dan tubuh molek yang menarik perhatian banyak laki-laki ternyata tidak menjamin Maureen mendapatkan pria idamannya. Kini, Maureen masih menanti cinta sejatinya. Hubungan Maureen dan Dani sebagai kakak-adik sangatlah erat. Mereka sering melakukan percakapan perempuan yang membahas masalah cinta, kegalauan, musik, dan hal-hal kecil lainnya. Tetapi, jika membicarakan kedewasaan tentu saja Dani belum siap menjadi dewasa dengan segala tanggung jawab yang harus dipikul. Sedangkan Maureen membutuhkan pengawasan ketika banyak pria mulai mendekatinya. Untuk itulah Matthew Trant (Sam Waterston) dan Abigail (Tess Harper) berusaha mendidik semua anak-anak mereka dengan tegas tetapi penuh kasih sayang. Kehidupan damai keluarga Trant mulai berputar seperti roller coaster ketika Dani dan Maureen merasakan ketertarikan pada Court Foster (Jason London) yang bersama dengan kedua adik dan ibunya Marie (Gail Strickland) kembali ke desa setelah ayahnya wafat. Bagi Dani, ketertarikannya pada Court ini merupakan fase awal pembelajarannya untuk mengenal lebih jauh manis getir kehidupan orang dewasa.

Naskah yang ditulis Jenny Wingfield mengalir dengan lembut bagaikan sungai tanpa riak dari awal hingga akhir cerita. Di bagian awal, naskah Wingfield memperkenalkan tokoh-tokoh dalam cerita melalui perilaku dan hubungan di antara tokoh tersebut. Dani digambarkan sebagai remaja periang yang sedang dalam masa-masa peralihan menuju kedewasaan. Naskah Wingfield secara halus ingin menyampaikan bahwa Dani adalah seorang anak perempuan yang dibiarkan tumbuh menjadi anak yang menyukai kebebasan. Itulah sebabnya Dani terlihat agak tomboy. Matthew dan Abigail tidak pernah melarang Dani untuk pergi berkeliaran di hutan  sekitar rumah mereka dan berenang di kolam milik keluarga Foster. Matthew dan Abigail juga tidak pernah mengatur cara berpenampilan Dani harus feminin seperti Maureen. Jika Matthew atau Abigail meminta Dani untuk sedikit memiliki rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan rumah tangga seperti mencuci baju dan memakai rok, hal itu lebih dikarenakan mereka ingin putrinya tetap mengikuti kebiasaan gadis-gadis di lingkungan mereka. Namun, selebihnya Dani adalah "anak lelaki" keluarga Trant yang dari dulu diharapkan muncul tetapi tidak kunjung pula datang.

Keinginan memiliki anak laki-laki terutama terlihat jelas dari perlakuan Matthew kepada Dani. Ketika Matthew membutuhkan pertolongan dalam mengerjakan sesuatu, Danilah yang diharapkan membantu, sementara Maureen hanya terlihat membantu Abigail mengurus pekerjaan rumah. Dani jugalah yang tampak sering dan terbiasa diajak Matthew pergi memancing. Bahkan dalam suatu adegan di mana Matthew kalut dan takut ketika Abigail yang tengah hamil terjatuh karena mencari Dani yang pergi ke kolam keluarga Foster di tengah malam, ia berani memecut putri keduanya itu dengan ikat pinggang, sebuah pemandangan yang membuat Maureen takut. Namun, pada akhirnya Matthew sadar bahwa Dani adalah anak perempuannya yang tak pantas diperlakukan kasar. Adegan di mana Dani mengaku ia tidak marah pada ayahnya karena ia mengerti rasa takut dan khawatir yang melanda sang ayah pada saat ibunya terjatuh sangat menyentuh siapapun yang melihatnya. Adegan tersebut menunjukkan naskah Wingfield kaya akan perasaan dan emosi yang tidak harus ditunjukkan secara eksplisit. Perasaan bersalah Matthew adalah bukti adanya perasaan dan emosi itu.

Meskipun begitu, bukan berarti naskah Wingfield dipenuhi dengan berbagai alur murahan yang sengaja dibuat untuk menimbulkan perasaan dan emosi tersebut. Sebaliknya, kehebatan naskah ini adalah tidak ada satupun dramatisasi berlebihan yang umum ditemukan dalam film-film lain. Beberapa alur yang memiliki risiko besar untuk dirusak karena telah terlalu banyak dramatisasinya dibuat begitu segar di sini. Misalnya dalam konflik antara Dani dan Maureen, penonton tidak akan menemukan Dani meledakkan emosi pada kakaknya, bahkan ketika ia merasa dikhianati secara diam-diam oleh dua orang terkasihnya. Tidak ada teriakkan amarah atau adu mulut. Naskah Wingfield justru memberi penonton efek yang lebih mendalam dari sekedar kata-kata penuh emosi, yaitu punggung dingin yang Dani berikan pada kakaknya. Dengan kecerdasannya, Wingfield memahami bahwa Dani belum sepenuhnya dewasa untuk menghadapi kenyataan pahit hidup sehingga ia mengalihkan bentuk amarah gadis itu menjadi semacam angan-angan seorang adik untuk tidak pernah berbicara pada kakaknya lagi, sebuah hal yang akan dianggap sangat sulit dilakukan oleh orang dewasa dalam ikatan keluarga. Begitu pula dalam alur di mana Dani menyadari bahwa tidak seharusnya ia memutuskan tali persaudaraan dengan Maureen. Dalam alur itu penonton tidak akan menyaksikan Dani dengan cucuran air matanya datang dan mengatakan isi hatinya secara terus terang kepada Maureen sebagaimana alur film cengeng lain. Alih-alih membuat alur seperti itu, Wingfield memanfaatkan kedekatan Matthew dengan Dani untuk "mengembalikan" putrinya itu ke jalan yang benar. Dengan alur demikian, penonton tidak akan merasakan proses pendewasaan Dani terlalu tiba-tiba dan terkesan dipaksakan. Melalui nasihat seorang ayah, sosok Dani dapat dipahami sebagai gadis muda yang telah mendapatkan pelajaran kecil dari kehidupan dengan bantuan orangtuanya.

Naskah Wingfield adalah satu potret utuh yang sempurna menangkap proses pendewasaan seorang remaja. Berbagai isu yang relevan dengan perkembangan remaja diangkat Wingfield di sini, mulai dari keluarga, tanggung jawab, kasih sayang platonik dan asmara, kejujuran, hingga pentingnya memaafkan kesalahan orang lain. The Man in the Moon berbicara banyak bagaimana mendidik anak-anak dalam sebuah keluarga. Setiap anggota keluarga memiliki tanggung jawab masing-masing yang harus dikerjakan dengan kesadaran diri sendiri. Sikap tegas orangtua merupakan kunci pendidikan anak dalam keluarga, tetapi jangan sampai sikap tersebut disalahartikan sebagai sifat kasar atau keras. Jauh dibalik sikap tegas itu, terdapat cinta dan kasih sayang orangtua kepada anaknya. Dalam film ini, sikap tegas Matthew kepada anak-anaknya khususnya Dani merupakan bentuk pembelajaran agar putrinya itu selalu berhati-hati dalam bertindak. Matthew tidak ingin hanya karena suatu hal (baca: cinta) yang sangat diinginkannya, Dani bertindak ceroboh yang pada akhirnya dapat membahayakan dirinya dan orang lain. Pada akhirnya, penonton dapat merasakan bahwa didikan Matthew itu berhasil saat Dani mampu melihat tindakan kasar ayahnya bukan dimaksudkan untuk menyakitinya, bukan pula untuk menunjukkan bahwa dirinyalah yang paling berkuasa dalam keluarga dan harus dihormati sebagaimana tatakrama "Yes, Sir - No, Sir" yang ia terapkan. Dalam adegan menyentuh seperti yang saya sebut di atas, penonton tahu bahwa Dani mulai melihat ayahnya sebagai seorang manusia biasa yang memiliki rasa takut dan tidak sepantasnya ia marah dengan tindakan orang yang tengah ketakutan, apalagi orang itu adalah ayahnya sendiri. Lebih jauh lagi, Dani juga paham bahwa hanya karena ia melihat Matthew ketakutan bukan berarti ia tidak dapat mengandalkan ayahnya itu untuk memberikan perlindungan. Adegan di mana Dani dengan panik meminta ayahnya menolong Court membuktikan kedewasaan Dani tersebut.

Sementara itu dalam mengeksplorasi kisah cinta remaja, The Man in the Moon tidak menggunakan rasa ingin tahu remaja terhadap seksualitas sebagai medianya, melainkan melalui sifat pantang meyerah seorang remaja demi merasakan sensasi cinta pertamanya. Hal itu menjadikan kisah cinta dalam film ini terasa sangat segar dan berbeda. Hubungan Dani dan Court yang pada awalnya terlihat mesra layaknya cinta remaja lainnya berubah menjadi gambaran pahit penolakan pihak laki-laki yang lebih dewasa kepada seorang gadis yang sama sekali belum pernah merasakan cinta dan sangat menantikannya. Satu hal yang menarik dari penolakan itu adalah Dani sama sekali tidak merasa ditolak oleh Court. Meskipun berulang kali rasa penasaran Dani untuk mendapatkan ciuman pertama ditanggapi dengan sikap Court yang berubah-ubah terhadapnya, hal itu tidak membuat Dani alergi mendekati pria idamannya itu. Bahkan, yang semakin membuat menarik adalah dengan segala ketegaran untuk mempertahankan harga dirinya Dani berkata ia sudah pernah dicium oleh banyak lelaki. Tanpa ragu, Dani juga mengaku ia mengerti dan tidak kecewa jika Court hanya ingin bersahabat dengannya.

Saya tidak dapat melupakan adegan di mana Court datang meminta maaf pada Dani dan dengan ekspresi marah yang disembunyikan, gadis itu berkata, "You don't have to be sorry!" dan "I already understand!" Padahal, sangat jelas Dani masih mengharapkan Court sebagai kekasih pertamanya karena pada hari-hari berikutnya ia masih saja mengajak Court berenang bersama, dengan embel-embel "persahabatan" tentunya. Akhirnya dengan mengeluarkan kepolosannya Dani berterus terang pada Court, "I want you to be the first boy I ever kiss". Ketegaran Dani juga ditunujukkan manakala Court ragu dengan perasaannya sendiri terhadap Dani hingga membuat ia terkesan memberikan sinyal yang salah. Ketika Court semakin bersikap kasar untuk mempertegas bahwa dirinya tidak tertarik pada Dani, gadis itu tidak pernah menyerah. Satu adegan yang menusuk memori saya adalah saat Dani mengungkapkan perasaannya dan Court membalas dengan berteriak, "Don't! Don't love me now. When things are so mixed up". Hari berikutnya Dani malah mendekati Court lagi dan justru ia yang meminta maaf. Semua itu menunjukkan betapa Dani ingin Court menjadi cinta pertamanya. Karena itu apapun yang dilakukan Dani - meski itu terlihat bodoh di mata orang dewasa - terlihat begitu wajar bagi seorang remaja yang belum melihat berbagai rasa dan rupa cinta. Menurut saya karakter Dani di sini bukanlah gadis yang hanya berpura-pura tegar. Ketika Court mengatakan bahwa ia hanya dapat menjadi seorang teman, Dani menerimanya dengan satu harapan: ia dapat mengenal pemuda itu lebih jauh lagi. Dalam sebuah adegan yang menjadi favorit saya, Dani bertanya pada Court, "I wanna know... your hopes". Pertanyaan itu seakan menunjukkan bahwa Dani telah siap seandainya hubungan dengan Court tidak dapat ditingkatkan ke arah yang ia harapkan. Seorang sahabat pun cukup, seorang sahabat dekat yang memiliki harapan indah, seindah impiannya tentang pria idamannya.

Satu hal yang mungkin dapat dipertanyakan dari naskah Wingfield adalah mengapa ia menggunakan tragedi sebagai klimaks sekaligus "mengatasi konflik" yang dialami remaja itu? Sebagai sebuah coming of age tidakkah akan menjadi lebih cocok jika remaja itu sendiri yang mengatasi konflik dengan keputusan dan aksi yang dibuatnya? Mengapa sang remaja harus pasrah kepada takdir yang membuatnya terkesan pasif dalam pencarian jati dirinya? Well, bagi saya pribadi pertanyaan-pertanyaan itu muncul seketika tetapi kemudian lenyap ketika merasakan efek dari tragedi yang menjadi resolusi tersebut ternyata tidak kalah powerful. Memang akan indah bila penonton diberi kesempatan untuk melihat keberanian Dani untuk megambil keputusan dan tindakan untuk mengatasi konflik yang ia hadapi, tetapi dengan tragedi pun tidak lantas membuat Dani terlihat kurang dewasa. Hubungan Dani dengan Maureen setelah tragedi itu justru menjadi titik balik sekaligus kesempatan baginya untuk mengambil keputusan dan tindakan besar dalam hidup, yaitu memaafkan seseorang atas sesuatu yang tampak mustahil diberi maaf.

Kesempurnaan The Man in the Moon semakin lengkap dengan arahan dari sutradara Robert Mulligan (To Kill a Mockingbird, Summer of '42), sineas yang telah berpengalaman menjadi arsitek film-film dengan tokoh utama gadis belia. Dalam film berdurasi 99 menit ini dengan elegan Mulligan menuturkan peralihan Dani dari remaja menjadi gadis dewasa. Mulligan memiliki cara cerdas bagaimana menggambarkan kepolosan Dani di awal cerita, yaitu dengan girl talk antara putri kedua Matthew tersebut dengan kakaknya, Maureen. Obrolan perempuan itu pun tidak dilakukan dengan cara yang biasa, melainkan dengan aktivitas yang biasa dilakukan dua orang kakak-beradik di desa, yaitu menyisir dan mengikat rambut. Dalam beberapa adegan, kegiatan menyisir dan mengikat rambut itu begitu intim hingga Dani mencurahkan isi hatinya pada Maureen. Dari kegiatan itu Dani bertanya banyak hal, mulai dari cara berciuman, rasa jatuh cinta yang amat sangat, hingga persaudaraan mereka. Girl talk tidak hanya digunakan di awal cerita untuk menggambarkan kepolosan Dani, tetapi juga merupakan sentuhan akhir yang diberikan Mulligan untuk menggambarkan bahwa Dani di akhir cerita bukanlah sosok yang sama seperti di awal cerita. Dani telah melihat dan merasakan bahwa hidup di dunia dengan segala sikap dewasanya tidaklah semudah dan sesempurna yang dibayangkan anak-anak. Meskipun telah bermetamorfosis menjadi gadis dewasa, pemahaman Dani terhadap dunia yag tidak selalu indah membuatnya berpikir ulang bahwa menjadi gadis kecil - seperti anggapan semua orang padanya - tidaklah terlalu buruk. Pemikiran itu terwujud dari percakapan antara Dani dan Maureen di adegan pamungkas. Dalam adegan itu, Dani berkata, "I wish I could still talk to the man in the moon. Don’t you?"

Saya terkesima dengan kemampuan Mulligan memanfaatkan latar tempat yang terbatas dalam film ini menjadi beberapa simbol dari siklus kehidupan yang penuh makna. Simbol pertama adalah pagar kayu rumah keluarga Trant. Pagar tersebut merupakan gerbang yang membuka jalan untuk Dani dalam menemukan kedewasaannya. Melalui pagar tersebut, setiap hari Dani pergi mencari kebebasan dengan melakukan kebiasaannya berenang di kolam keluarga Foster. Melalui pagar itu, Dani pulang ke rumah dengan wajah dan hati berser-seri tetapi di lain waktu dengan hati dan wajah sedih setelah bertemu Court. Melalui pagar itu pula Dani kembali ke rumah sebagai sosok gadis muda dengan hati dan pemikira dewasa. Tetapi bukan hanya Dani seorang yang memiliki kenangan dengan pagar tersebut. Sama halnya dengan Dani, Maureen pun memiliki kenangan pahit dan manis terhadap pagar rumahnya. Melalui pagar itu, Maureen merasakan pengalaman kencan terburuknya dengan Billy Sanders (Bentley Mitchum). Melalui pagar itu, Maureen pulang ke rumah dengan wajah dan hati riang setelah bertemu Court. Melalui pagar itu pula Maureen mendapatkan kabar buruk dari Matthew yang langsung membuatnya bertekuk lutut dalam tangisan. Apapun peristiwanya, sejak awal dan pertengahan cerita Mulligan selalu memberi perhatian pada pagar itu. Dalam beberapa adegan yang serupa, yaitu ketika Dani dan Maureen sama-sama pulang ke rumah dengan hati gembira setelah bertemu Court, kedua gadis itu selalu menoleh ke belakang. Entah apa yang mereka ingin lihat di belakang, namun tolehan itu selalu membuat pagar tersebut tertangkap kamera. Namun, dalam satu adegan Mulligan seakan ingin menghancurkan kenangan-kenangan tersebut ketika Matthew dengan cekatan mengemudikan truknya dan menerobos pagar rumahnya. Seketika itu pula robohlah harapan Dani dan Maureen mendapatkan cinta sejati yang mereka nantikan.

Simbol kedua adalah kolam keluarga Forest. Kolam tersebut merupakan salah satu tempat penting bagi Dani dan Court. Di kolam itulah mereka pertama kali bertemu. Di kolam itu Dani akhirnya mendapatkan ciuman lelaki pertamanya. Di kolam itu Court bertemu sahabat pertamanya, sesuatu yang sulit ia cari dalam masa-masa adaptasinya hidup di desa. Di kolam itu pula Dani mendapatkan pemahaman bahwa bukan ialah satu-satunya orang yang teruka dengan tragedi yang terjadi. Dani mengerti semanis apapun kenangannya dengan Court, memusuhi Maureen tidak akan membawa Court kembali. Peristiwa yang terakhir itu bahkan memiliki makna yang lebih dalam lagi. Kecipak kaki Dani di kolam yang disinari teriknya matahari dan kenangannya bersama Court yang tiba-tiba datang menghantui pikirannya merupakan pertanda bahwa Dani akan segera pulih. Gadis itu akan baik-baik saja karena ia telah melakukan hal yang tepat: merenungkan perbuatannya itu. Setelah medapatkan nasihat dari Matthew, Dani kembali ke kolam tersebut dan terciptalah adegan kecipak kaki tadi, adegan di mana ia berpikir ulang apakah kehidupan hampa dan sedih seperti itu yang akan ia jalani selama sisa hidupnya yang masih jauh terbentang? Puji Tuhan ia menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan itu.

Aspek terpuji lain dari The Man in the Moon adalah sinematografi dan desain produksi yang dapat melebur dengan sempurna dengan jalan cerita. Warna merah keemasan yang mendominasi di sepanjang cerita benar-benar memberikan suasana hangat pedesaan wilayah Selatan Amerika. Teriknya musim panas juga membuat kehangatan itu semakin nyata. Desain produksi film ini juga sangat apik, mulai dari arsitektur rumah (gosh, they find a perfect house for this kind of movie), kostum, kendaraan, musik dan properti lainnya pas dengan era 50-an. Sinematografi dan desain produksi tersebut semakin menguatkan kesan hangat sebuah keluarga dan cocok dengan gambaran hidup warga desa. Saya sangat senang dengan kehidupan keluarga Trant yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Keluarga Trant tampak tinggal di sebuah komunitas yang bukan hanya tenang dan damai, melainkan juga agak terpencil. Bayangkan untuk membeli sekotak garam saja harus pergi ke kota dengan mengendarai mobil, begitu pula jarak rumah para tetangga yang cukup jauh di mana Dani harus berlarian terengah-engah untuk sampai di rumah Court.

Dari segi pemeran, saya rasa semua aktor memberikan penampilan optimal mereka. Mulai dari Waterston dan Harper yang sempurna menjadi orangtua. Kedua aktor tersebut berhasil memancarkan aura kasih sayang yang sangat kuat. Mereka sadar bahwa peran mereka bukanlah hanya sebatas peran pembantu yang sengaja dibuat hanya untuk meramaikan cerita. Lebih dari itu, mereka paham bahwa karakter Matthew dan Abigail harus terlihat meyakinkan sebagai orangtua yang mampu membesarkan gadis-gadis luar biasa seperti Maureen dan Dani. Terkait dengan karakter orangtua ini, salah satu adegan favorit saya adalah ketika Abigail dengan intuisinya menyambangi kamar Maureen yang ternyata sedang berduka lara. Dalam adegan itu Maureen menumpahkan kesedihannya pada Abigail yang dengan hati terbuka menenangkan putri sulungnya. Adegan tersebut memiliki makna yang dalam, bagaimana seorang ibu berusaha memberikan waktu pada anaknya untuk bersedih, tetapi sang ibu juga mengingatkan bahwa ada masa di mana tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesedihan itu selain tegar dan melanjutkan hidup. Selain Waterston dan Harper ada pula Strickland, London, dan Warfield yang bermain sangat baik di sini.

Namun, tidak dapat disangkal bahwa The Man in the Moon memberikan panggung utamanya pada Witherspoon. Dalam debut layar lebarnya ini, Witherspoon tampil memukau sebagai gadis tomboy yang sudut pandangnya terhadap hidup telah berubah seiring proses pendewasaan yang ia lalui. Witherspoon membuat penonton ikut merasakan jatuh bangun menjadi seorang remaja ketika menyaksikan hubungannya yang tidak jelas dengan Court. Witherspoon juga membuat penonton larut dalam keintiman persaudaraan antara Dani dan Maureen. Tidak ketinggalan, Witherspoon juga membuat penonton merasakan indahnya menjadi seorang anak dalam keluarga yang harmonis seperti keluarga Trant. Penonton tertawa ketika melihat Dani dengan konyol dan polos belajar teknik berciuman dari Maureen, sedih ketika ia harus menerima kenyataan pahit ditinggal Court, emosi ketika merasa dikhianati, dan tersenyum bangga ketika ia memaafkan Maureen. Singkat kata, Witherspoon sangat memengaruhi penonton untuk larut bersamanya menyaksikan hidup Dani dan keluarganya berlalu waktu demi waktu. Sungguh mencengangkan prestasi seorang Witherspoon muda yang awalnya mengikuti casting film ini hanya bermaksud mendapat peran sebagai figuran. Dengan kemampuan dan bakatnya ini, tidak heran ia menjadi salah satu bintang besar Hollywood.

Secara keseluruhan, The Man in the Moon adalah sebuah karya sempurna yang banyak bercerita tentang makna hidup. Film ini merupakan karya signifikan yang dapat dijadikan media pembelajaran bagi kita semua - kususnya remaja - bahwa hidup memang tidak semudah dan sesederhana yang dibayangkan anak-anak. Namun tidak ada alasan untuk takut menjalani hidup, karena dari kehidupan lah kualitas dan kemanusiaan seorang manusia dapat terasah. Terakhir, untuk menghormati Mulligan yang menolak karyanya ini disebut sebagai film coming of age, saya akan menarik kata-kata saya di atas yang mengatakan bahwa film ini bercerita tentang coming of age. Saya setuju dengan Mulligan yang berpendapat bahwa film ini berbicara tentang coming of life, di mana kehidupan sesungguhnya baru dimulai ketika kita benar-benar mengenal seperti apa wajah kehidupan dan mengetahui bagaimana cara menghadapi kehidupan itu. Sungguh disayangkan film ini menjadi karya terakhir Mulligan. Tapi setidaknya ia menutup karier panjangnya dengan sebuah persembahan yang dapat dikatakan klasik dan megah dalam segala kesederhanannya. Well done, Sir! It's 5 out of 5 stars. Ada komentar?

Watch this if you liked:

To Kill a Mockingbird (1962)

Director: Robert Mulligan
Stars: Gregory Peck, John Megna, Frank Overton
Genre: Crime, Drama, Mystery
Runtime: 129 minutes











Flipped (2010)

Director: Rob Reiner
Stars: Madeline Carroll, Callan McAuliffe, Rebecca De Mornay
Genre: Comedy, Drama, Romance
Runtime: 90 minutes

Memasuki usia pubertas di SMP, hidup dua remaja bertetangga, Bryce dan Juli tidak lagi sesederhana saat kelas dua SD. Di tengah ketertarikan Juli kepada Bryce yang tampaknya tidak akan pernah berakhir, timbul berbagai variabel baru dalam hidup mereka. Juli mulai mempertanyakan perasaannya kepada Bryce. Bryce sendiri pada akhirnya mendapatkan dirinya berada pada suatu persimpangan jalan, di mana ia harus memilih menjadi dewasa dan berupaya mengejar ketertinggalannya selama ini, berusaha menggapai sesuatu yang selama ini dianggapnya tidak berharga...









Sunday, November 24, 2013

Fatal Attraction: Akhir Sebuah Kisah Cinta Destruktif

Tahun 2013 tampaknya menjadi tahun yang dipenuhi cukup banyak skandal para figur publik. Setidaknya ada dua skandal yang menarik perhatian dan ramai diperbincangkan, yaitu kasus pembunuhan Holly Angela dan perusakan rumah istri kedua Adiguna Sutowo. Dalam kasus Holly Angela, masyarakat dibuat terhenyak oleh sadisnya pembunuhan yang terjadi di sebuah apartemen di bilangan Kalibata. Holly tewas setelah disiksa beberapa pembunuh bayaran yang tragisnya diperintah oleh suaminya sendiri, Gatot Supiartono. Berdasarkan penyelidikan terkini kepolisian, Gatot yang merupakan auditor senior di Badan Pemeriksa Keuangan berang dengan sikap Holly yang semakin lama semakin banyak menuntut. Sebagai istri simpanan, Holly tampaknya tidak ingin dinomorduakan. Ia meminta dibelikan mobil, apartemen, rumah, dan puncaknya yang membuat Gatot tertekan adalah permintaan Holly untuk menceraikan istri pertamanya. Akhirnya, dengan merancang pembunuhan saat ia bertugas di Australia agar memiliki alibi, perjalanan cinta dua pasangan itu mencapai garis batas. Pada kasus lain yang tidak kalah menarik, pengusaha terkenal Adiguna Sutowo bersikukuh bahwa perusakan rumah istri keduanya, Vika Dewayani dilakukan dirinya sendiri. Namun, mertua aktris Dian Sastrowardoyo itu harus menjilat ludahnya sendiri usai diperiksa kepolisian. Adiguna mengaku bahwa Anastasia Florina Limasnax alias Flo, istri gitaris Piyu Padi adalah pelakunya dan ia pun berada satu mobil dengan Flo di malam peristiwa itu terjadi. Adiguna juga mengakui ada kedekatan antara dirinya dengan Flo. Apapun jenis kejahatannya, dua skandal itu menunjukkan bahwa cinta yang dikenal dengan kesucian dan kemurniannya juga dapat bersifat destruktif.

Dua puluh enam tahun silam, di kala sisi lain cinta yang bersifat destruktif itu belum banyak terekspos, sebuah film berjudul Fatal Attraction (1987) hadir di layar lebar dan berhasil menjadi perbincangan dunia. Kehadiran film besutan sutradara Adrian Lyne (Flashdance, Jacob's Ladder) tersebut begitu menggemparkan masyarakat karena penggambaran kisah cinta yang sangat tragis. Berbagai diskusi dan forum publik digelar di mana-mana, memperbincangkan betapa berbahaya hubungan asmara yang tidak sah dan memperdebatkan pesan moral di baliknya. Film ini pun berhasil membentuk opini publik bahwa pernikahan masih menjadi pranata sosial yang harus dipertahankan kesakralannya. Keluarga yang terbentuk melalui pernikahan adalah unit sosial terkecil sekaligus terbaik yang dapat diciptakan manusia. Selain sukses memberikan dampak secara sosial, film ini juga sukses secara komersial. Dengan menyandang status sebagai film yang paling banyak diperbincangkan tahun 1987, Fatal Attraction berhasil bertengger di puncak box office selama delapan minggu berturut-turut meski digempur rilisan film-film baru. Andai pada saat itu ada twitter, pasti film ini juga menjadi trending topic.

Fatal Attraction mengajak Anda memasuki dunia Dan Gallagher (Michael Douglas), seorang pengacara yang bekerja sebagai konsultan hukum di sebuah penerbit buku. Dan memiliki pekerjaan mapan, berada di lingkungan kerja dan sosial menengah atas, dan mengepalai sebuah keluarga yang tampak harmonis. Tidak ada kekurangan yang berarti dalam kehidupan Dan. Ia menikahi wanita cantik yang sangat dicintainya, Beth (Anne Archer) dan bersama-sama telah membina rumah tangga selama sembilan tahun. Kebahagiaan Dan semakin lengkap dengan hadirnya Ellen (Ellen Hamilton Latzen), putri semata wayang mereka. Namun, dunia seakan tidak pernah melupakan sistem kerjanya yang selalu berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Begitu pula kehidupan Dan, saat ia berada di puncak keharmonisan dan zona kenyamanan dalam hidupnya, ia justru harus terperosok ke dalam prahara rumah tangga bernama perselingkuhan. Muncul sebagai orang ketiga dalam perselingkuhan itu adalah Alex Forrest (Glenn Close), seorang editor yang ditemui Dan di sebuah pesta peluncuran buku. Tidak mampu mengelakkan ketertarikan satu sama lain, Dan dan Alex terlibat hubungan yang penuh gairah erotisme di sebuah penghujung pekan saat Beth dan Ellen pergi ke luar kota. Sayangnya, percikan gairah itu menimbulkan asap dan kemudian menjadi kobaran api yang melahap dengan ganas satu persatu kedamaian hidup mereka berdua dan orang-orang di sekitar mereka. Kenikmatan singkat di penghujung pekan itu pun berubah menjadi sebuah tragedi.

Satu hal menarik dari naskah karya James Dearden ini adalah konsep cerita yang kuat mengenai dampak dari permainan api yang disulut oleh Dan dan Alex. Kehidupan Dan yang semula teduh dari terpaan badai tiba-tiba harus terjungkir balik dengan kehadiran Alex yang obsesif terhadapnya. Sementara Alex yang tampak seperti wanita misterius semakin tenggelam dalam perilaku destruktif terhadap dirinya sendiri dan semakin berani menempuh cara-cara ekstrim demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Singkat kata setelah pertemuan di pesta itu, hidup tak lagi sama bagi mereka berdua, dengan jalan yang berbeda. Sayangnya tampak jelas bahwa Dearden tidak ingin mengeksplorasi cerita ini lebih jauh ke arah psikologis karakter Alex. Dearden seolah hanya ingin memanfaatkan kondisi kejiwaan Alex (yang sangat jelas bermasalah) untuk mempersembahkan sebuah kisah horor tentang wanita gila yang mengejar-ngejar pria yang dari luar tampak seperti pria kelas menengah atas biasa yang sopan dan tak ingin mengotori nama baiknya dengan sebuah skandal seks.

Dearden membuat kisah cinta liar Alex menjadi serba-tanggung dan tidak memiliki standing position yang jelas. Pada awalnya, Dearden menciptakan karakter yang begitu masuk akal dan nyata: seorang wanita lajang di usianya yang tidak lagi muda menginginkan kasih sayang dari pria yang tidak takut terhadap dirinya karena kadang ia bertindak di luar akal pikiran. Adegan di malam Dan menolong Alex yang tidak rela ditinggal pergi dan berusaha menunjukkan perasaannya itu dengan menyayat pergelangan tangan membuktikan betapa Alex adalah wanita rapuh yang sangat ingin mendapat perhatian dan kasih sayang dari seorang pria. Kerapuhan karakter Alex itu semakin terkuak ketika dalam jalinan cerita berikutnya diketahui bahwa ia merasa marah dan cemburu dengan kehidupan Dan. Tunggu dulu, apakah benar Alex cemburu dengan kehidupan Dan? Ya, bagi saya karakter Alex ini tidak hanya semata-mata memiliki obsesi terhadap Dan. Jika dilihat lebih dalam, Alex cemburu dengan betapa bahagianya Dan. Alex tidak dapat menahan diri membayangkan Dan memiliki istri cantik dan seorang putri yang dapat dijadikan tempat berbagi sementara dirinya hidup sebatang kara di lingkungan sosial dan ekonomi yang jauh di bawah Dan (lihat di mana Alex tinggal: rumah susun kumuh yang berada tak jauh dari rumah pemotongan hewan). Meskipun sangat jelas bahwa Alex, secara personal memiliki ketertarikan luar biasa terhadap Dan, namun tidak bisa dipungkiri pula bahwa ia benci melihat Dan yang tidak membagi kebahagiaan dengan dirinya. Ingatlah adegan di mana Alex membuntuti Dan ke rumah barunya dan mendapati pria paruh baya itu disambut hangat oleh Beth dan Ellen, sebuah pemandangan yang membuatnya langsung muntah dalam seketika.

Tetapi apa yang kita - sebagai penonton - dapatkan di pertengahan apalagi akhir film ini? Karakter Alex dan sepertiga awal film yang begitu kuat dan tampak nyata itu dikalahkan dengan rangkaian teror yang digambarkan semakin mencekam setiap kali Dan menolak berkencan, tidak mengangkat telepon, dan berusaha menghindar dengan pindah rumah. Penonton hanya dimanjakan dengan cerita wanita psikopat yang tak henti-hentinya memaksakan perasaan pada pria baik-baik yang berusaha setia pada keluarganya, sebuah penggambaran yang mungkin dapat dikatakan sangat seksis, bahkan menjurus pada misogynistic. Tidak heran Fatal Attraction menuai begitu banyak perdebatan mengenai apa makna di balik peristiwa tragis yang digambarkan. Perdebatan itu terutama datang dari para pegiat feminisme. Mereka mempertanyakan apakah pembuat film ini adalah sekumpulan seksis pembenci wanita?

Saya pribadi tidak menyalahkan kesimpulan kaum feminis tersebut yang berpendapat film ini seksis atau misogynist, karena pada tingkat tertentu saya juga merasa bahwa fokus dan tujuan dari film ini adalah memunculkan ketegangan dari perilaku obsesif-kompulsif seorang wanita yang tidak terima terhadap perlakuan pria yang hanya menginginkan hubungan tanpa ikatan. Seolah-olah pembuat film ingin menunjukkan bahwa sekali saja pria berhubungan dengan seorang wanita, mereka tidak akan dapat melepaskan diri terhadap rengekan dan tuntutan tiada akhir. Penggambaran tersebut tentu saja membuat wanita merasa terpojok, dituduh sebagai makhluk yang tidak dapat hidup mandiri. Saya juga menangkap sinyal kuat bahwa film ini ingin menunjukkan bukti nyata bahwa selama ini konstruksi sosial masyarakat terhadap wanita tidaklah mapan karena hanya dianggap sebagai objek seksual semata yang dapat dibuang ketika para lelaki telah merasa terpenuhi hasratnya. Ketika wanita mencoba memberontak dan memperjuangkan haknya agar laki-laki bertanggung jawab, maka yang ia akan dapatkan adalah sebutir peluru yang melesak ke dada. Wanita independen yang memperjuangkan haknya itu pun harus melambaikan bendera putih pada perempuan seperti Beth yang mau saja ditindas pria dengan mempertahankan suami hidung belang seperti Dan.

Di sisi lain, sebenarnya Fatal Attraction tidak dengan vulgar membuka dirinya sebagai film seksis. Seperti saya katakan di atas, film ini lebih tepat dikatakan tidak memiliki standing position yang jelas. Jika diperhatikan lagi, sebenarnya tidak menutup kemungkinan bahwa pembuat film ingin menunjukkan hukuman bagi pria seperti Dan yang berani mempertaruhkan keharmonisan rumah tangganya dengan menjajal fantasi seks liar bersama sembarang wanita. Berbagai peristiwa yang terjadi setelah akhir pekan erotis antara Dan dan Alex adalah mimpi buruk bagi setiap pria menikah dan tentu sesuatu yang dibenci para istri. Menurut saya, perbedaan sudut pandang mengenai makna di balik cerita ini pada akhirnya hanya meninggalkan dua prasangka: pembuat film ingin memosisikan diri sebagai pihak netral atau memang tidak peduli sama sekali dengan pengambilan makna semacam itu.

Saya pribadi cenderung memiliki prasangka yang kedua, karena sangat jelas terlihat di sepanjang film berdurasi 119 menit ini penonton disuguhi tayangan "setan versus malaikat" yang begitu meriah. Unsur horor telah mengalahkan fondasi karakterisasi dan konsep cerita yang telah dibangun sangat kuat di bagian awal. Dua hal tersebut justru hanya menjadi semacam latar belakang yang dianggap tidak penting. Terlebih lagi, saya sama sekali tidak melihat adanya netralitas pembuat film di sepanjang cerita. Penekanan cerita horor "setan versus malaikat" tersebut telah mendikotomi Dan dan Alex menjadi dua tokoh yang seolah merepresentasikan lelaki baik-baik dan wanita jalang. Dua pertiga jalan cerita diisi dengan bagaimana Dan setengah mati berusaha menghindari Alex. Usaha penghindaran itu dilakukan Dan mulai dari bicara baik-baik hingga melakukan kekerasan. Namun apapun usaha yang dilakukan Dan, semuanya terkesan sangat egois. Tidak ada satu pun adegan yang memperlihatkan bahwa Dan sebenarnya prihatin dengan kondisi Alex. Ia tidak menaruh simpati dan belas kasih pada Alex yang mengaku tengah mengandung anaknya (dan tidak ada alasan atau tanda-tanda yang membuat penonton tidak memercayainya). Dan tidak pernah peduli sedikit pun pada Alex yang mengemis perhatian padanya dan betapa ia tidak ingin diabaikan. Sadisnya, Dearden "membantu" Dan dengan menciptakan akhir cerita yang melambangkan kemenangan besar malaikat terhadap setan yang penuh dosa. Pada akhirnya, Alex hanyalah wanita dengan masalah kejiwaan yang terlunta, dibunuh, dan dibiarkan mati (I mean literally) dalam kehampaan dan kesendiriannya. Sebuah penghinaan terhadap karakter Alex semula, wanita yang membutuhkan pertolongan sebagaimana digambarkan dalam adegan di mana ia menyayat pergelangan tangannya. Tentu saja, itu juga menjadi penghinaan bagi setiap penderita gangguan mental yang menurut film ini harus dijauhi, bahkan bila ia membahayakan harus dibunuh. Jadi, sangat jelas bahwa naskah Dearden ini tidak netral karena ia diambil dari sudut pandang provokatif.

Intensi Dearden untuk semata-mata membuat film horor juga diperkuat dengan minimnya informasi historis tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita ini. Untuk tokoh Alex, penonton tidak diberikan cukup informasi apa yang menyebabkan ia begitu obsesif terhadap Dan? Kondisi psikologis Alex yang terlihat demikian parah secara logika tidak mungkin terbentuk begitu saja hanya dalam waktu semalam, pasti ada sesuatu di masa lalu wanita ini yang membuatnya seperti itu. Saya pribadi juga penasaran dengan latar belakang Alex, karena dalam suatu adegan ia melontarkan pertanyaan retoris mengapa lelaki yang menarik baginya selalu sudah menikah. Apakah ia selalu membuntuti suami-suami nakal itu sebagaimana yang ia lakukan pada Dan? Bagaimana dengan keguguran yang ia akui pernah terjadi? Jika ia mengaku bukan tipe wanita yang tidur dengan sembarang lelaki, lantas siapa pria yang pernah memiliki hubungan dengannya hingga membuahkan anak? Apakah pria itu penyebab gangguan jiwa Alex? Mengapa ia membuat lelucon dari kematian ayahnya yang tidak pantas dilakukan? Penonton tidak akan mendapatkan satu pun jawaban pertanyaan-pertanyan tersebut.

Begitu pula dengan karakter Dan. Malah, bagi saya karakter Alex lebih beruntung karena meski minim latar belakang namun setidaknya ia dicipatakan berdasarkan fenomena nyata yang terjadi di masyarakat sehingga karakternya terlihat realistis. Sementara Dan yang digambarkan sebagai pria kelas menengah atas standar yang secara umum bertabiat baik justru meimbulkan kontradiksi dengan perbuatannya yang berani mengkhianati Beth. Jika memang tidak ada sesuatu yang tidak beres dalam rumah tangga mereka, apa yang menjadi motivasi Dan untuk melompat begitu saja ke tempat tidur Alex? Apakah ia sekedar lelaki yang tidak dapat menahan birahi di kala istrinya pergi ke luar kota? Apakah ia ingin keluar dari zona nyaman hidupnya dengan mencoba suatu hal yang baru? Apakah ia ingin merasa memiliki kekuasaan (power) dari hubungan perselingkuhan semacam itu? Lagi-lagi penonton hanya bisa menyimpan semua pertanyaan itu dan menikmati suguhan horor yang tampil di layar.

Satu lagi yang membuat film ini lebih pantas disebut sebagai horor dibanding psychological thriller adalah sepertiga akhir cerita yang dibuat murahan dengan menampilkan adegan-adegan populer dari film-film horor kacangan. Adegan di kamar mandi yang melibatkan Beth, Alex, dan Dan sangat pantas disebut sebagai versi dewasa dari Friday the 13th (1980), lengkap dengan prinsip setan tidak pernah benar-benar mati. Terus terang, bagian inilah yang menjadi penghancur paling efektif dari sebuah cerita yang memiliki awal begitu menjanjikan. Keputusan Dearden dan Lyne untuk mengubah versi asli akhir ceritanya yang jauh lebih masuk akal membuat Fatal Attraction tak ubahnya sebuah karya seni picisan. Apalagi dengan alasan untuk memenuhi ekspektasi dan selera pasar, para pembuat film seakan-akan telah kehilangan idealisme mereka. Untuk ukuran sebuah cerita yang berhasil menjadi isu sosial, tidak sepantasnya mereka memperlakukan hasil kreasinya menjadi barang jualan belaka. Saya tidak tahu apa yang terjadi di screening test yang dilakukan oleh kru film ini, namun andai ada penghargaan untuk hasil riset pasar paling buruk, Fatal Attraction harus masuk dalam dafar nominasinya.

Di sepertiga akhir cerita jugalah alur tidak lagi nyaman disaksikan. Penantian penonton yang menunggu saat-saat dibocorkannya hubungan gelap antara Dan Alex pada Beth justru dibuat sangat singkat dan terkesan tidak tuntas. Ada sesuatu yang hilang dalam adegan itu. Penonton tidak dapat merasakan amarah luar biasa seorang istri yang taat pada suaminya ketika mengetahui kesetiaannya dibalas dengan kotoran di muka. Ada pula alur garing dan tidak jelas ketika Alex tanpa sepengetahuan Beth dan Dan menjemput Ellen dari sekolahnya dan mengajaknya bermain ke dunia fantasi hanya untuk membuat kalut Beth. Adegan itu dapat dibuang sepenuhnya tanpa dampak apapun pada keseluruhan jalinan cerita.

Beruntung penekanan kisah horor dalam naskah Dearden itu ditangani dengan apik oleh Lyne. Lyne berhasil membuat setiap momen di sekitar keluarga Dan menjadi semakin mencekam dibayangi oleh Alex. Uniknya terkadang Lyne menciptakan ketegangan melalui adegan-adegan yang sebenarnya dapat dengan mudah ditebak oleh penonton. Misalnya setiap kali telepon berdering di rumah Dan penonton akan tahu bahwa itu adalah Alex, tetapi karena larut dalam kekhawatiran Dan, nuansa tegang menanti apa yang akan terjadi selanjutnya tetap saja muncul. Hal yang sama juga terjadi pada adegan paling fenomenal dan terkenal dari film ini, yaitu bunny boiling. Dalam adegan itu, penonton tentu curiga dengan panci rebusan yang menyala sementara penghuni rumah baru saja pergi ke luar. Dipadukan dengan Ellen yang berlarian untuk melihat kelinci kesayangan di kandangnya, kamera terus memprovokasi penonton dengan menunjukkan gambar yang terus berganti dengan cepat antara Beth dan Ellen. Pengambilan gambar itu merupakan bocoran paling kentara yang pada akhirnya dipecahkan dengan momen menentukan: tutup panci diangkat dan teriakan Beth dan tangisan Ellen pun membahana. Intens meski mudah ditebak, begitulah keunikan arahan Lyne di sini.

Ada pula adegan-adegan arahan Lyne yang tingkat ketegangannya mencapai level yang tidak tertahankan dan tidak pula dapat ditebak. Salah satu adegan itu - dan yang menjadi favorit saya - adalah ketika suatu malam Dan berniat menuntaskan masalahnya dengan menghabisi Alex. Adegan itu begitu cepat, tiba-tiba, dan tanpa petunjuk sama sekali. Penonton akan mengira Dan benar-benar hanya ingin berbicara dengan Alex. Tetapi apa yang kemudian muncul di layar adalah agresi Dan pada Alex yang dimulai dengan bantingan pintu, pergulatan di lantai, gencatan di pintu, benturan kepala, seret-menyeret, teriakan, dan yang paling menakjubkan: cekikan yang entah berapa lama terjadi tetapi yang pasti menimbulkan efek sesak nafas luar biasa pada penonton. Dilengkapi dengan lampu meja yang jatuh, pecahan kaca berserakan di mana-mana, lampu gantung yang bergoyang, serta meriahnya suara peralatan yang pecah membuat adegan itu begitu megah, menawan, dan elegan dalam kekejaman dan kekerasannya. Ditutup dengan senyuman misterius Alex yang diambil dengan kamera yang menjauh mengikuti langkah mundur Dan, inilah adegan paling cerdas di sepanjang film.

Namun tentu saja tidak dapat ditampik bahwa salah satu kejeniusan Lyne adalah menaburkan bumbu-bumbu penyedap di awal cerita sebagai pengantar. Bumbu penyedap itu tidak lain adalah erotika antara Dan dan Alex yang begitu liar dan berani ditampilkan di pembuka cerita (lewatkan paragraf ini jika Anda tidak ingin membaca sesuatu yang mungkin bersifat vulgar). Adegan seks di atas wastafel, lift yang sedang berjalan, dan tentu di tempat tidur (mungkin karena konvensional Lyne tidak menampilkan yang satu ini) merupakan hiburan tersendiri yang tidak dapat dipisahkan dari hampir setiap karya Lyne, dan ia pun tak pernah tanggung-tanggung meminta aktornya total dalam memerankan adegan buka-bukaan ini. Berbagai aksi jasmaniah yang dilakukan Dan dan Alex terlihat begitu nyata, mulai dari (maaf) sedotan payudara, jilatan leher, belaian bokong, erangan sensual, dan tentu saja ciuman bergairah yang ditandai dengan nafas yang memburu. Menggunakan aktris dengan payudara yang sudah agak kendur dan aktor yang mulai menunjukkan wajah keriput tidak membuat adegan ini aneh. Mungkin Lyne adalah satu di antara segelintir sutradara yang dapat membuat adegan seks dua orang yang tak lagi muda menjadi begitu bergairah. Di usianya yang masing-masing menginjak 40 dan 43 tahun, Close dan Douglas telah menampilkan permainan cinta yang panas dan tidak dapat dikatakan tidak menarik.

Aspek pengambilan gambar juga menjadi salah satu keunggulan karya Lyne. Dalam adegan peluncuran buku di mana Dan dan Alex pertama kali bertemu, Lyne bekerja sama dengan sinematografer Howard Atherton dengan piawai mengisolasi dua tokoh utama itu di kamera dan mengambil gambar yang fokus pada mereka berdua di tengah keramaian pesta. Selain itu dalam adegan di mana Alex secara diam-diam membuntuti Dan ke tempat parkir mobil gambar diambil dengan selalu memperlihatkan Alex dari kejauhan, menimbulkan kesan stalking yang kuat dan semakin membuat penonton penasaran dengan apa yang akan ia lakukan. Pengambilan gambar yang menjauh dan melebar juga dilakukan pada adegan agresi Dan pada Alex di atas dan pada saat Alex memainkan saklar lampu meja sebagai bentuk kekecewaan setelah ajakannya menonton pementasan Madame Butterfly ditolak Dan. Semua itu membuat kesan depresi Alex terpancar dengan sempurna.

Berbicara mengenai kesempurnaan, salah satu aspek lain Fatal Attraction yang sempurna adalah penampilan para pemerannya. Glenn Close tampil sebagai bintang yang paling bersinar. Dari awal kemunculannya di layar, Close telah menyuntikkan aura seductive yang sangat kuat. Mata, ekspresi, dan riasan wajahnya turut berbicara di sepanjang film. Dalam salah satu adegan di awal film, Close sebagai Alex tampil memukau dengan gaya bicaranya yang mendominasi. Pada saat itu, sambil menanti rokoknya dinyalakan Dan, Alex berbicara dengan intonasi yang biasa namun pada satu titik ia berhenti, menatap tajam Dan kemudian melontarkan pertanyaan, "Are you...?" Sesaat kemudian Dan bertanya apa maksud Alex dan lama setelah ia menatap lebih tajam ke arah Dan baru ia membuka suara dan mengatakan, "... Discreet?" Dengan cat kukunya yang berwarna merah menyala dan mengkilap, saya terpikat pada wanita yang ada di layar. Close membuat siapapun yang melihat adegan ini terpikat dengan kejujuran dan kecerdasan Alex dalam adegan itu.

Di bagian lain, Close amat mahir menguak sisi gelap Alex sedikit demi sedikit. Pada suatu adegan saat Alex mengajak Dan menghabiskan satu hari penuh bersamanya, Close mampu menunjukkan sifat pantang menyerah wanita itu dengan memohon tanpa henti. Ketika Dan mengatakan ia tidak bisa memenuhi permintaannya karena sibuk, Alex tidak berhenti. Alex mempersilakan Dan mengerjakan apa yang ia harus kerjakan dan menemuinya setelah itu, Alex menawarkan diri menemani Dan mengajak jalan-jalan anjingnya, Alex berjanji membuatkan makan siang, Alex mengatakan Dan bisa mengerjakan pekerjaannya di rumah Alex. Intinya, Alex berusaha membuat semuanya terlihat mudah bagi Dan. Akhirnya Alex berhasil membujuk Dan seolah ialah pria paling penting dalam hidupnya, sebuah rayuan yang sangat mengena. Di penghujung adegan itu, Dan melontarkan sebuah dialog yang menjadi petunjuk awal - dan sangat halus - mengenai kondisi mental Alex. Saat itu, Dan berkata, "You don't give up, do you? You just don't give up." Close membawa penonton lebih jauh lagi mengenal Alex ketika Dan mulai merasa dirinya terganggu. Sejalan dengan tensi cerita yang menanjak, Close sebagai Alex semakin membongkar sifat wanita itu bukan lagi pantang menyerah, melainkan mengintimidasi - meskipun ia masih memiliki kemampuan untuk membuat semuanya terlihat mudah. Satu dialog yang paling saya ingat adalah ketika Alex berkata, "You play fair with me, I'll play fair with you." Terakhir, tentu saja penonton tidak bisa melupakan adegan di mana Alex tidak terima diperlakukan seperti pelacur yang dapat dilupakan begitu saja. Saat itu, setenang permukaan air, Alex menghadapi luapan marah Dan dengan berkata, "No it's not gonna stop. This is gonna on and on until you face up to your responsibilities." Sesaat kemudian ia mempertahankan sikapnya dan dengan tegas mengatakan, "Well, what am I supposed to do? You won’t answer my calls, you change your number. I mean, I’m not gonna be ignored, Dan!" Semua itu menunjukkan bahwa Close adalah aktris yang mampu membawakan karakter dengan total. Close tidak hanya berakting, melainkan betul-betul meleburkan dirinya dalam peran yang ia bawakan. Close membuat tokoh Alex begitu terasa nyata dan hidup. Sebuah nominasi Oscar yang mampir untuk perannya di sini sangat layak diberikan. Salut juga saya sampaikan padanya atas idealismenya yang telah berkeras mempertahankan versi asli penutup cerita meski ia harus mengalah pada pihak studio. Selama tiga minggu lamanya, Close menjadi satu-satunya orang yang benar-benar memahami karakterisasi, standing position, signifikansi, dan komprehensi Fatal Attraction.

Sementara itu Michael Douglas sukses menyapu simpati penonton yang mungkin di sepanjang cerita tidak henti-hentinya memberikan semangat untuk tidak menyerah. Aneh memang melihat penonton begitu antusias mendukung lelaki bejat seperti Dan yang merupakan seorang pengkhianat, tidak bertanggung jawab, tidak memiliki belas kasih. Tetapi di situlah kemahiran Douglas. Dengan segala peristiwa yang Dan alami, Douglas semakin membawa penonton meresapi kegalauan dan ketakutannya. Satu hal menarik dari penampilan Douglas adalah ia mampu menyalurkan kegalauan dan ketakutan tersebut melalui kasih sayang dan hubungannya yang semakin dekat dengan Beth dan Ellen. Dalam suatu adegan, Dan memeluk Ellen yang tengah berlatih drama. Pelukan itu sangat terlihat seperti bentuk pengaduan bahwa ia sedang menghadapi masalah besar dan ia membutuhkan orang-orang terkasihnya untuk membantunya. Terakhir, Anne Archer juga berhasil tampil sebagai sosok istri yang sangat perhatian pada suami dan anaknya. Hal yang menarik dari penampilan Archer adalah bagaimana ia dapat tampil sebagai wanita yang paling seksi di layar. Mungkin ini agak sedikit konyol, tapi bagi saya adegan paling seksi di sepanjang cerita bukanlah keliaran seks Dan dan Alex, melainkan adegan ketika Dan memandangi Beth yang sedang berdandan di meja riasnya. Saat itu Beth terlihat begitu memesona. Pelukan Dan dalam adegan itu semakin menambah romantis suasana.

Secara keseluruhan, Fatal Attraction adalah sebuah film yang mengusung konsep cerita dan karakterisasi yang kuat dan nyata. Sayangnya, dua hal itu tidak dimanfaatkan dengan baik untuk menciptakan sebuah psychological thriller. Penulis naskah dan sutradara justru terjebak dan terlalu fokus untuk menggambarkan suasana horor di sepanjang cerita. Harus diakui bahwa tidak dapat dikatakan bahwa kisah horor itu jelek, karena penonton mendapatkan ketegangan yang cukup menarik di pertengahan cerita. Hal itu menjadi nilai tambah bagi film ini karena sebenarnya ide cerita mengenai perselingkuhan yang membawa petaka bukanlah suatu hal yang baru pada saat itu. Dengan penampilan prima dari jajaran pemeran serta teknik pengambilan gambar yang cerdas, film ini berhasil menyajikan adegan demi adegan yang mencekam. Sayang beribu sayang penutup cerita ini dibuat sangat murahan dan itu bukanlah sesuatu yang dapat dimaafkan. Singkat kata, Fatal Attraction, sebagaimana judulnya telah menjadi fenomena sosial tersendiri yang telah banyak membawa dampak di masyarakat. Kini judul film tersebut telah menjadi suatu istilah umum yang merujuk pada suatu hubungan gelap yang berbahaya. Begitu pula istilah bunny boiler yang merujuk pada wanita simpanan pencemburu. Sangat memalukan betapa film yang memiliki dampak sosial sebesar ini harus ditutup dengan adegan murahan dari film horor konyol. It's 3.5 stars out of 5. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:


L'histoire d'Adèle H. (The Story of Adele H) (1975)

Director: François Truffaut
Stars: Isabelle Adjani, Bruce Robinson, Sylvia Marriott
Genre: Biography, Drama, History
Runtime: 96 minutes











 Play Misty for Me (1971)

Director: Clint Eastwood
Stars: Clint Eastwood, Jessica Walter, Donna Mills
Genre: Crime, Drama, Romance
Runtime: 102 minutes














Sunday, November 17, 2013

Last Vegas: Friendship Is Never Aging

Oscar Wilde, seorang pujangga Irlandia pernah bertutur, "True friends stab you in the front". Bagi Wilde definisi sahabat sejati adalah orang yang selalu bicara jujur apa adanya, sekalipun apa yang ia katakan sangat menyakitkan. Kejujuran memang merupakan nilai moral yang selalu berharga dalam kehidupan, kehadirannya bagaikan oase di tengah gersangnya jiwa manusia yang kerap diliputi badai pasir berupa dusta. Dalam persahabatan kejujuran adalah tali pengikat yang dapat mempersatukan perbedaan. Menerima kejujuran yang menyakitkan memang bukan hal yang mudah. Dibutuhkan kelapangan hati untuk dapat menelan sebuah kenyataan pahit dengan ikhlas, terlebih lagi jika itu berasal dari seorang sahabat. Selain itu tentu saja kita tidak dapat mengecilkan keberanian sang sahabat yang mau berkata jujur. Oleh karena itu selain kelapangan hati juga diperlukan kedewasaan dalam menghadapi kejujuran. Sikap dewasa dapat membantu kita memahami secara bijak kenyataan di balik kejujuran seorang sahabat, dan kita dapat menyaksikan bagaimana orang dewasa menghadapi kejujuran dalam Last Vegas (2013).

Rilis menjelang penutup tahun, Last Vegas adalah sebuah komedi ringan yang mencoba peruntungan melalui deretan pemainnya yang dapat dikatakan sebagai legenda Hollywood. Empat aktor kawakan dan satu aktris memesona bergabung dalam proyek ini. Terus terang, ketika akan pergi ke bioskop menyaksikan film ini saya tidak berekspektasi terlalu besar terhadap jalan cerita. Saya hanya ingin melihat bagaimana jadinya empat aktor yang tidak lagi muda bergabung dalam satu layar dan berusaha mengocok perut para penonoton. Hasilnya pun seperti yang sudah saya perkirakan: nikmat sesaat di beberapa adegan namun dapat dengan mudah menguap segera setelah pergi dari gedung pertunjukan.

Dalam Last Vegas, penonton akan merasa sangat muda bila dibandingkan wajah-wajah para pemeran yang tampil di layar. Wajah-wajah itu adalah empat sekawan yang bersahabat sejak kecil, yaitu Billy (Michael Douglas), Paddy (Robert De Niro), Archie (Morgan Freeman), dan Sam (Kevin Kline). Mereka membentuk sebuah gang sok jagoan yang disebut dengan Flatbush Four. Sebagaimana umumnya sebuah gang, ikatan persahabatan mereka juga sangat erat. Dengan jargon "no one calls us names except for us!", mereka saling melindungi satu sama lain - dan tentu saja unjuk gigi kepada orang lain. Setelah dibuka dengan kenangan masa kecil, cerita langsung melesat 58 tahun kemudian, masa di mana empat sekawan tersebut hidup terpisah satu sama lain. Billy, satu-satunya orang di antara empat sekawan yang masih lajang tiba-tiba memutuskan untuk menikahi seorang gadis 30 tahunan. Ketika ia mengabarkan berita bahagia itu pada teman-teman lamanya dan bermaksud mengundang mereka untuk hadir dalam upacara pernikahan, dengan seketika Sam dan Archie menghidupkan ide untuk memberikan pesta bujang untuk Billy. Sam dan Archie sangat antusias dengan ide mereka, bukan hanya karena bahagia mengetahui Billy akhirnya akan menikah tetapi juga merupakan pelarian diri dari masalah mereka masing-masing. Sam adalah pria paruh baya yang telah kehilangan gairah seksualnya sementara Archie yang baru saja terserang stroke ringan merasa jengkel dengan perlakuan anaknya, Ezra (Michael Ealy) yang sangat protektif terhadap dirinya. Namun satu masalah muncul: akankah Paddy akan bergabung bersama mereka dalam pesta yang diadakan di Las Vegas itu? Ya, memang terdapat satu isu yang belum terselesaikan antara Billy dan Paddy dan itu semua dipicu oleh satu peristiwa di masa lalu yang tidak diketahui Paddy.

Dari segi cerita, penulis naskah Dan Fogelman tampaknya menciptakan kisah yang sangat umum digunakan dalam film-film berlatar Sin City lainnya. Hingar-bingar pesta di klub malam, berbagai buah dada montok bagaikan buah kelapa, bokong-bokong yang mengacung di mana-mana, hingga perjudian ada di film ini. Tidak tampak intrik cinta yang mengundang tawa seperti yang ia kerjakan dengan sangat bagus dalam Crazy, Stupid, Love (2011). Komedi dalam film ini lebih banyak berasal dari perilaku individu masing-masing tokoh yang terlibat, bukan hubungan di antara mereka. Berbicara mengenai hubungan antarkarakter, naskah Fogelman tidak cukup meyakinkan penonton bahwa empat orang tua itu telah bersahabat sejak lama. Percakapan telepon antara Billy, Sam, dan Archie di awal film lebih terasa seperti obrolan sesama rekan kantor yang bertemu sehari-hari - hanya di tambah seriuan "heeei" yang agak antusias dibanding sebagai teman lama. Situasi yang sama juga terjadi saat pertemuan Sam, Archie, dan Paddy yang hanya terlihat seperti anak sekolah yang menyambangi temannya untuk berangkat bersama.

Naskah Fogelman juga mengikuti pakem komedi dengan karakter-karakter matang dalam film-film terdahulu, di mana dengan karakter orang tua bukan berarti ada halangan untuk membuat cerita mesum dengan berbagai obat kuat dan kondom berseliweran di sana-sini. Justru yang akan penonton temukan dalam film ini adalah suasana klub malam yang terus diulang-ulang (saya tidak tahu berapa kali empat sekawan ini bergembira ria di klub malam). Bahkan, dalam beberapa adegan Fogelman tampak berusaha keras meyakinkan penonton bahwa liburan di Las Vegas membuat empat tokoh tua tersebut mengeluarkan sisi lain yang lama terpendam, misalnya adegan menari dengan lagu jadul, perkelahian dengan seorang anak muda yang kemudian beralih menjadi asisten pribadi mereka, dan sebuah kontes bikini. Pakem lainnya adalah detail usang seperti payahnya para orang tua ini dalam menguasai teknologi baru. Sayangnya dari berbagai adegan dalam pakem ini tidak ada yang berhasil membuat penonton tertawa.

Untuk urusan kocok-mengocok perut, memang ada beberapa adegan yang benar-benar lucu dan segar. Misalnya ketika Archie mengangkat telepon dari Ezra yang hanya tahu bahwa sang ayah sedang berada di gereja, Sam langsung meracaukan khotbah-khotbah ngawur yang tidak jelas, dan Kline sangat mahir melakukannya. Tawa juga dapat meledak ketika empat sekawan ini berusaha mengingat nama pelayan mereka ketika hendak masuk ke sebuah klub malam yang mahalnya luar biasa. Dalam adegan itu penonton akan mengira mereka sengaja mengarang nama seseorang yang huruf depannya L, bukan menebak nama sang pelayan. Ada pula adegan ketika Sam berhasil memikat satu gadis untuk ditiduri tetapi kemudian ia ingat istrinya. Curahan hati Sam pada sang gadis dalam adegan itu cukup dramatis, namun tiba-tiba dipecahkan dengan lelucon Sam di ujung adegan yang meledakkan tawa. Namun pada beberapa adegan terdapat beberapa humor basi - atau lebih tepatnya tidak memiliki timing yang baik karena sudah dapat ditebak penonton dengan mudah. Adegan semacam itu antara lain saat Sam bertemu dengan sebuah siluet wanita bertubuh tinggi besar (dan bersuara rendah!). Berapa lama waktu yang dibutuhkan penonton untuk menebak bahwa "wanita" itu adalah pria? Selain itu ada pula adegan saat Archie melarikan diri dari "kurungan" anaknya dan berusaha keluar dari jendela kamar yang ternyata tidak setinggi seperti yang terbaca dalam wajahnya. Seberapa besar peluang penonton tidak menebak bahwa adegan itu akan menjadi seperti Po yang mendaki tangga menuju Jade Palace dalam Kung Fu Panda (2008)?

Sementara itu dari segi penyutradaraan, Jon Turteltaub (Phenomenon, Instinct) sepertinya tidak berusaha untuk menampilkan karakter komik yang potensinya terlihat jelas dalam naskah Fogelman. Selama di Hotel Aria Las Vegas, empat sekawan ini mengalami berbagai petualangan. Archie berjudi dan menjadi miliarder hanya dalam beberapa jam, mereka berempat menginap di kamar paling eksklusif yang bisa ditawarkan Hotel Aria (bahkan mendepak dan mempecundangi 50 Cent), Sam tak henti-hentinya mengiklankan diri sebagai suami yang diberi suaka oleh sang istri, dan tentu saja Billy dan Paddy lagi-lagi jatuh cinta pada wanita yang sama, Diana (Mary Steenburgen). Empat sahabat itu juga sesekali terlibat percekcokan, kadang dengan emosi yang meluap dan kadang dengan mood yang terlalu lelah untuk beradu mulut. Menurut saya alangkah lebih baik bila dalam alur cerita seperti itu terdapat detail-detail adegan yang membantu para aktor untuk memancarkan sifat dan perilaku komikal mereka.

Dari jajaran pemeran, Kline dan Steenburgen adalah dua bintang bersinar di sini. Entah mengapa saya selalu mengasosiasikan Kline dengan film-film komedi. Menurut saya sebagian besar lelucon yang berhasil mengocok perut penonton dalam Last Vegas ada di adegan-adegan yang melibatkan Sam. Dengan latar belakang sebagai seorang suami yang diizinkan bersenang-senang selama liburan oleh istrinya, Sam adalah karakter yang paling lincah, nakal, dan gesit (dan secara fisik pun masih terlihat sangat bugar). Sam melontarkan lelucon-lelucon tak terduga, hingga kadang penonton tak sadar bahwa ia baru saja melucu.

Sementara itu Steenburgen sebagai Diana tampil mencuri perhatian sejak pertama kali penonton mendengar suaranya melantunkan versi jazz dari Only You dalam balutan gaun ungun muda yang berkilau. Sedari awal, penonton akan sadar bahwa Diana adalah satu-satunya tokoh waras dalam film ini. Diana merepresentasikan tokoh yang cocok (dan merasa nyaman) dengan usianya, berlawanan dengan Billy yang berusaha melawan ketakutannya menjadi tua dengan menikahi "anak-anak" tanpa berpikir panjang terlebih dahulu, berbeda dengan Archie yang seperti burung terbebas dari sangkar dan ingin merayakan kebebasannya dengan bersenang-senang seperti anak muda yang tidak memiliki kekhawatiran terhadap apapun, tidak seperti Paddy yang tak henti-hentinya menggerutu pada Billy, dan tentu saja tidak sama dengan Sam yang sedang semangat mencari mangsa muda. Steenburgen berhasil memperkaya karakter Diana. Ia bukan lagi sekedar love interest dalam CSBK (cinta segitiga bersemi kembali) antara Billy, Diana, dan Paddy seperti yang tertulis dalam lembaran naskah, melainkan seorang wanita dewasa yang mencari cinta di lingkungan yang salah - tepatnya di kawanan lelaki yang tidak tepat. Andai Fogelman memberi sedikit lebih banyak ruang untuk mengeksplorasi tokoh Diana, tentu akan menarik mengetahui apakah ia memiliki "kegilaan" atau "keanehan" seperti empat teman lelaki sebayanya?

Di luar kedua orang itu, semua pemeran dapat dikatakan bermain biasa-biasa saja. Freeman tampil sebagai orang tua yang lemah secara fisik namun masih memiliki semangat muda seperti yang dapat disaksikan dalam The Bucket List (2007). De Niro memerankan Paddy sebagai pria tua penggerutu yang jarang tersenyum dan sedikit menjengkelkan tiap kali ia menunjukkan bogeman pada anak muda yang menjadi asisten dadakannya. Mungkin yang sedikit lucu adalah bagaimana film ini berusaha membuat lelucon dari kharisma yang ditampilkan oleh tipikal karakter yang biasa dimainkan Douglas: lelaki dewasa cerdas dengan segala kemewahan dan kemudahan yang mengelilinginya. Last Vegas mengubah semua persona Douglas itu dengan menambahkan perasaan takut akan usia tua sampai ia harus memalsukan semua "identitasnya" mulai dari warna rambut, kulit, hingga giginya.

All in all, Last Vegas adalah tontonan ringan yang sangat tepat jika Anda mencari film dengan boobs, asses, and a little bit of bulk berseliweran di sepanjang cerita. Di luar itu, film berdurasi 105 menit ini setidaknya masih memiliki satu pesan positif yaitu bahwa meskipun terasa pahit, kejujuran seorang sahabat seperti yang diungkapkan tokoh Billy pada Paddy jauh lebih baik ketimbang canda tawa palsu. Dengan kejujuran, pesahabatan tidak akan pernah lapuk di makan usia, because friendship is never aging! 2.5 stars out of 5. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:

The Hangover (2009)

Director: Todd Phillips
Stars: Zach Galifianakis, Bradley Cooper, Justin Bartha
Genre: Comedy
Runtime: 100 minutes











Grumpy Old Men (1993)

Director: Donald Petrie
Stars: Jack Lemmon, Walter Matthau, Ann-Margret
Genre: Comedy, Drama
Runtime: 103 minutes

Sunday, November 10, 2013

Papillon: A Celebration of Human Spirit

Ketika memaparkan laporan kinerja periode kedua pemerintahan di hadapan anggota kongres, Ronald Reagan pernah berkata, "There are no constraints on the human mind, no walls around the human spirit, no barriers to our progress except those we ourselves erect". Kalimat tersebut merupakan upaya Reagan untuk memberikan suntikan semangat dan meyakinkan warga Amerika yang saat itu tengah dilanda kesulitan ekonomi bahwa ada banyak cara untuk mengatasi semua masalah. Dengan bangga, dalam pidato yang disampaikan pada tahun 1985 tersebut Reagan memamerkan sejumlah prestasi dalam periode kepemimpinannya yang disebut sebagai the American miracle. Melalui pidatonya ini, Reagan ingin mengingatkan kembali budaya dan karakter warga Amerika yang pantang menyerah dan suka bekerja keras dengan berkata, "We have begun well. But it's only a beginning. We're not here to congratulate ourselves on what we have done but to challenge ourselves to finish what has not yet been done". Menurut saya, ucapan Reagan mengenai ketangguhan jiwa manusia sangatlah tepat. Jiwa manusia akan selalu mencari celah untuk dapat mewujudkan tujuan hidup, betapapun sulitnya tantangan yang harus dihadapi. Jiwa manusia adalah zat yang bebas, tidak dapat dikungkung oleh apapun selama manusia itu tidak membatasi dan merendahkan kemampuan dirinya sendiri. Potret ketangguhan jiwa manusia seperti itu dapat kita saksikan dalam Papillon (1973).

Papillon adalah film yang dibuat berdasarkan autobiografi Henri Charrière, seorang pelaku kriminal yang konon disebut-sebut sebagai kisah nyata yang berbicara mengenai kejamnya penjara zaman kolonial Perancis. Proses produksi film ini menelan biaya yang cukup besar karena harus melakukan pengambilan gambar di beberapa negara serta pembuatan desain produksi yang harus mirip dan otentik dengan latar sejarah sebenarnya. Sayangnya respon publik tidak sebaik yang diharapkan. Banyak orang menilai Papillon adalah film mahal yang terlalu ambisius dalam menunjukkan kekejaman sejarah tetapi tidak fokus dalam menyampaikan esensi di balik cerita itu sendiri.

Papillon menceritakan upaya pelarian diri Henri Charrière (Steve McQueen) - yang dikenal dengan sebutan Papillon karena tato kupu-kupu di dadanya - dari penjara St. Laurent di Guyana Perancis. Upaya pelarian diri Papillon itu bukan disebabkan ia tidak mau menjalani masa hukuman, melainkan karena ia merasa menjadi korban ketidakadilan atas tuduhan membunuh mucikari yang sebenarnya tidak ia lakukan - setidaknya ia bersikeras tidak pernah melakukan pembunuhan. Namun, betapapun ia membela diri, hukum tetap melakukan tugasnya menjatuhkan ganjaran bagi yang dianggap (entah mengapa saya merasa tuduhan pembunuhan yang dilakukan Papillon itu masih berupa anggapan, belum benar-benar terbukti) bersalah. Papillon pun divonis penjara seumur hidup dan dikirim ke komplek penjara sekaligus koloni Guyana Perancis. Dari awal perjalanan mengarungi laut menuju Guyana Perancis, para pesakitan termasuk Papillon harus pintar-pintar menjaga diri mengingat mereka disatukan dengan sesama penjahat yang berasal dari beragam latar belakang tindak kriminal. Di atas kapal, Papillon bertemu dengan Julot (Don Gordon), seorang residivis yang mengingatkan dirinya bahwa di antara mereka terdapat orang-orang yang sangat mungkin menjadi mangsa tahanan lain karena memiliki sumber daya - seperti uang - yang dapat membantu mereka melarikan diri. Salah satu tahanan yang dimaksud Julot adalah Louis Dega (Dustin Hoffman), seorang penipu ulung yang berhasil memalsukan obligasi pemerintah dan menyimpan banyak uang. Mengetahui hal itu, Papillon yang tak takut pada apapun menawarkan diri menjadi penjaga (bodyguard) Dega dengan imbalan uang yang digunakan untuk membiayai pelarian dirinya. Bagi Dega sendiri, menyadari bahwa dirinya hanyalah pria lemah yang tidak pandai dalam urusan fisik, ia akhirnya menerima tawaran Papillon. Seluruh sisa film ini pun mengisahkan petualangan dua narapidana yang kemudian menjadi sahabat dekat tersebut dalam mennggapai kembali kebebasan.

Dari segi karakterisasi, penulis naskah Dalton Trumbo dan Lorenzo Semple Jr. sangat jelas ingin mengontraskan sifat-sifat dua tokoh utama dalam cerita ini, yaitu Papillon dan Dega. Trumbo dan Semple Jr. merancang sosok Papillon sebagai pria macho yang siap melakukan dan menghadapi apapun guna mencapai tujuannya. Papillon tidak ragu mencemplungkan dirinya ke dalam marabahaya. Penonton dapat melihat sifat Papillon yang pantang menyerah dari banyak adegan di sepanjang film, mulai dari aksi-aksinya saat melindungi Dega sampai saat ia melakukan berbagai upaya melarikan diri. Di setiap aksi yang dilakukan Papilllon, penonton ditulari semangat pantang menyerah yang luar biasa besar. Keinginan yang kuat untuk hidup sebagai manusia bebas membentuk Papillon sebagai pribadi yang tegar dan siap menerima konsekuensi atas segala tindakannya. Ketegaran Papillon menghadapi konsekuensi tindakannya terlihat dari beberapa adegan, antara lain saat ia dihukum setelah melukai dua tahanan yang hendak membunuh Dega serta saat ia dikirim ke sebuah rumah pertapaan (reclusion) setelah ia melakukan upaya penyuapan. Dari serangkaian aksinya itu, penonton dapat mengetahui apa yang dipikirkan dan dirasakan Papillon. Penonton memang jarang menangkap ekspresi visual dari emosi Papillon karena hampir di sepanjang film Trumbo dan Semple Jr. sangat jelas ingin mengasosiasikan sosok manly tersebut dengan tindakan-tindakan heroik. Kedua penulis naskah tersebut mendefinisikan Papillon melalui aksi/tindakan yang dilakukannya. Hal itu diperkuat dengan dialog Dega yang berkata pada Papillon, "Someone said that temptation resisted... is the true measure of character".

Meski demikian, ketangguhan dan keinginan kuat Papillon untuk bebas tidak lantas membuatnya apatis terhadap lingkungan sekitarnya. Dalam beberapa kali percobaan pelariannya Papillon selalu luluh terhadap permintaan orang lain yang ingin ikut bersamanya - meskipun ia selalu menanyakan terlebih dahulu apa kemampuan orang tersebut. Selain itu untuk ukuran seseorang yang memiliki kepentingan pribadi yang sangat kuat, Papillon termasuk orang yang setia dan tidak mudah berkhianat. Saat sipir mengetahui bahwa Dega mengirimkan buah kelapa sebagai makanan tambahan Papillon selama di rumah pertapaan, ia menolak menyebut nama Dega sebagai pengirimnya. Papillon lebih memilih memakan serangga apapun yang lewat di hadapannya, hidup dalam kegelapan, dan sakit-sakitan ketimbang harus menjadi seorang pengadu. Itu semua menunjukkan bahwa Papillon adalah seorang setia kawan, and he definitely doesn't have one track mind. Kesetiaan Papillon kepada Dega itu menunjukkan hubungan diantara keduanya bukanlah pertemanan yang dipaksakan antara orang yang membutuhkan perlindungan dengan orang yang membutuhkan uang. Kekejaman penjara dan penegak hukum yang korup telah menempa pertemanan mereka hingga menjadi persaudaraan yang erat. Tidak ada lagi egoisme yang menempel dalam hati mereka. Keduanya saling membantu satu sama lain. Ingatlah bagaimana Papillon berusaha membujuk Dega untuk ikut bersamanya dalam upaya pelariannya yang kedua. Saat itu Papillon sengaja membangkitkan semangat Dega untuk tidak pasrah menunggu bantuan istrinya dengan mempertanyakan kesetiaan istri Dega itu terhadap suaminya.

Sementara itu, Trumbo dan Semple Jr. menciptakan tokoh Dega sebagai sosok yang lebih pandai menggunakan otak daripada ototnya. Dega digambarkan sebagai sosok yang sabar dalam bernegosiasi dan selalu berpikir dengan kepala dingin. Sosok Dega sagat kontras dengan lingkungan di mana ia berada yang serbakeras dan tidak mengenal belas kasih. Dega yang tidak terbiasa dengan kehidupan yang sangat menguras tenaga dan kejam membuatnya seperti anak ayam yang tersesat dan terkurung di kandang serigala. Dalam suatu adegan di mana Dega didekati oleh seorang tahanan yang mengaku memiliki koneksi dengan sipir yang dapat mengatur agar ia dan Papillon tidak dijadikan tahanan pekerja, Dega berkata, "I seem to be known in all the wrong places". Berbeda dengan Papillon, sosok Dega lebih digambarkan sebagai penyabar yang dengan tabah menunggu janji istrinya untuk mengeluarkan dirinya dari penjara. Namun, di akhir film kita akan mengetahui bahwa secara tidak langsung Dega mengakui sifat mudah percaya dan sabarnya itu merupakan kelemahan dirinya. Selain itu, Dega juga digambarkan sebagai orang yang tidak sungkan mengekspresikan apa yang ia pikir dan rasakan dibanding Papillon. Hitunglah berapa kali Dega bertanya, "You're certain?" ketika ia merasa ragu atas ide-ide Papillon. Ingat pula bagaimana ekspresi Dega ketika ia melihat Papillon setelah dua tahun sahabatnya itu mendekam di rumah pertapaan. Saat itu dengan mata berkaca-kaca Dega memeluk Papillon yang kini tak sanggup berdiri tegap. Dari semua adegan itu penonton dapat mengetahui apa yang Dega pikirkan dan rasakan.

Ada satu bagian unik yang menurut saya merupakan kekuatan sekaligus kelemahan Papillon, yaitu pada setengah jam terakhir di mana Papillon lagi-lagi memiliki ide untuk melarikan diri. Melalui bagian ini kedua penulis naskah seakan ingin menutup cerita dengan penuh tawa melalui komedi satir yang disajikan dari dua perspektif - Papillon dan Dega - yang lagi-lagi berbeda. Dari perspektif Papillon penonton dapat menyaksikan bagaimana pria heroik tersebut berusaha terus mengobarkan api semangat untuk meraih kebebasan yang selalu membayangi benaknya. Dengan gigi yang membusuk, rambut kelabu, dan jalan yang tertatih-tatih Papillon menjadi sosok naif yang ingin menaklukan tantangan mustahil mengarungi arus dan gelombang laut hanya dengan mengandalkan sekarung kelapa. Sebelum adegan terjun bebas yang monumental itu, saya menikmati bagaimana Papillon yang awalnya digambarkan sebagai sosok tak gentar kini berubah menjadi pria tua setengah gila yang berulang kali menyambangi sahabat lamanya dan menyampaikan ide pelarian diri yang suedah menjadi barang basi. Pada bagian ini Papillon ibarat pungguk merindukan bulan yang tidak mengetahui bahwa segala sesuatu ada batasnya. Saya pribadi berulang kali berpikir bahwa mungkin inilah saatnya Papillon memasrahkan diri pada nasibnya untuk menghabiskan sisa hidupnya di tempat terpencil yang jauh dari tanah airnya. Meskipun begitu, tampaknya kedua penulis naskah ingin merayakan ketangguhan jiwa manusia melalui sosok Papillon yang semangatnya untuk merengkuh kebabasan tak pernah padam. This is a celebration of human spirit.

Sementara itu dari perspektif Dega penonton diajak untuk menyaksikan bagaimana pria ini menertawakan dirinya sendiri. Sebagaimana saya sampaikan sebelumnya, pada akhirnya Dega menyesali sikapnya yang terlalu pasrah dan percaya pada istrinya yang gombal. Dalam sebuah adegan ketika Dega dan Papillon makan bersama, tanpa ditanya tiba-tiba Dega berkata, "Did you hear about my wife? She married my attorney, or else he married her... although, actually, it doesn't really matter." Curahan hati sang sahabat pun ditanggapi dengan wajah iba Papillon. Sebelum adegan perjumpa an kembali dengan Papillon tersebut - setelah berpisah di Honduras - Dega telah menonaktifkan keinginannya untuk melarikan diri dengan serius menggarap kehidupannya di pulau yang menjadi tempat tahanannya yang terkhir. Ia bercocok tanam, memelihara ternak babi, memasak sendiri, dan terlihat hidup cukup bahagia di pulau itu. Sosok Dega yang cerdas lebih membuatnya mudah untuk mawas diri dan menerima kenyataan yang digariskan dalam hidupnya. Ketika akhirnya ia dipertemukan kembali dengan Papillon, bukan lagi mata berkaca-kaca dan pelukan sahabat yang ia berikan. Dega lebih memilih mengambil langkah seribu dan berkata, "I wish you hadn't come here" pada Papillon, sebuah ucapan yang lebih tepat disebut sebagai semburan rasa kesal daripada sapaan seorang kawan lama. Satu hal yang menarik adalah rasa kesal Dega itu kemudian diwujudkan dengan memberikan dukungan kepada Papillon yang (masih) ingin mengajaknya melarikan diri tetapi menolak dengan halus untuk ikut bersamanya. Saya sangat suka bagaimana respon Dega ketika Papillon datang dengan tertatih-tatih untuk mengungkapkan idenya. Saat itu, sambil berusaha mengalihkan pembicaraan ke topik bercocok tanam, Dega menyetujui ajakan Papillon namun sesaat kemudian ketika kawannya itu mengaku belum tahu bagaimana cara mereka keluar dari pulau laknat itu maka secepat kilat ia menyambar, "Then we don't have to discuss it. Tell me, do you like tomatoes?" Penonton dapat menertawakan hubungan kedua sahabat itu yang kini tidak lagi memiliki satu tujuan - meskipun mereka tetap saling mendukung.

Namun bagian akhir ini juga menjadi kelemahan Papillon karena penonton sudah cukup lelah mengikuti petualangan dua sahabat tersebut selama dua jam. Dengan total durasi 151 menit, kursi penonton cukup panas untuk mendengarkan kembali ide pelarian Papillon dengan serius. Ditambah lagi bagian akhir ini dibuat setelah cerita tampak akan ditutup dengan sempurna ketika Papillon bertemu dengan sekelompok suku Indian dan hidup bahagia bersama mereka. Namun apa yang didapatkan penonton adalah ternyata Papillon adalah makhluk kesayangan Tuhan yang tak henti-hentinya diberikan ujian sehingga akhir bahagia seperti itu tidak mungkin terjadi. Penonton harus bersabar untuk meninggalkan tempat duduk untuk kembali menyaksikan aksi Papillon dan Dega. Sebenarnya bagian akhir ini menarik andai saja ditempatkan pada durasi yang lebih cepat ketimbang pada setengah jam terakhir dari total dua setengah jam penayangan film ini. Pada bagian pertengahan cerita, memang terdapat adegan-adegan yang menurut saya dapat dipangkas. Entah mengapa saya merasa film ini seperti ingin menunjukkan apa yang dilakukan Papillon dalam kehidupan sehari-harinya selama menjadi tahanan, tidak peduli apa yang sedang ia lakukan. Penonton seringkali mendapati Papillon dan Dega sedang tidur, berjalan mondar-mandir, atau berlari yang menciptakan space cerita yang cukup lebar (baca: membuang waktu). Menurut saya akan sangat membantu bila adegan-adegan tersebut dipotong dan menghasilkan film berdurasi sekitar dua jam yang utuh tanpa merusak bagian akhirnya yang menurut saya menarik.

Kelemahan lain film ini menurut saya adalah kurangnya informasi yang menceritakan kilas balik kehidupan Papillon. Saya menyukai gagasan cerita mengenai seorang pria yang tidak terima diperlakukan semena-mena oleh sistem hukum yang korup dan ia mencoba melawan hal-hal yang terlihat mustahil untuk membuktikan dirinya (dan mempertahankan harga dirinya) bahwa ia adalah makhluk yang resisten terhadap kekejaman sistem. Namun dengan durasi yang mencapai 151 menit tokoh Papillon sangat pantas mendapatkan latar belakang yang lebih komprehensif untuk memperdalam simpati dan memperkuat hubungan emosional  dengan penonton. Saya pribadi ingin mengetahui lebih jauh pekerjaan Papillon yang ia akui sebagai perampok (apa penyebab ia merampok, siapa saja yang ia rampok, untuk apa hasil rampokannya ia gunakan) dan siapa wanita yang terlihat sedih ketika ditinggalkan Papillon dan muncul dalam halusinasi pria tersebut.

Sutradara Franklin J. Schaffner (Patton, The Boys from Brazil) sangat memerhatikan detail produksi Papillon mulai dari proses penuaan tokoh-tokohnya sampai penyampaian informasi yang menjadi latar cerita seperti geografi, cuaca, tanaman, dan hewan-hewan. Tokoh Papillon paling terlihat proses penuannya yang terlihat dari giginya yang semakin menghitam, rambutnya yang memutih, hingga cara berjalannya yang kini tidak lagi sekuat yang digambarkan pada pembuka film. Untuk urusan detail latar, bekerja sama dengan sinematografer Fred J. Koenekamp dan desainer produksi Anthony Masters, Schaffner menciptakan gambaran megah kehidupan tropis Guyana Perancis. Di bagian awal film, saat para tahanan dalam perjalanan  laut Schaffner mengambil gambar penuh yang memperlihatkan kapal-kapal pengangkut para tahanan lengkap dengan asapnya yang mengepul, dermaga, muara sungai di pantai, hutan hijau di seberang sungai tersebut, dan lautan luas di kejauhan. Selain itu Scahffner juga tampak berusaha keras meyakinkan bahwa latar tempat film ini dibuat benar-benar berada di pulau tropis dengan menunjukkan berbagai tanaman dan hewan-hewan seperti kepiting (ingat bagaimana seekor kepiting mengacungkan dua capitnya ketika barisan tawanan lewat?). Penampilan orang-orang di komplek penjara St. Laurent juga tidak kalah detail. Dalam film ini tampak bagaimana orang Eropa harus tinggal di lingkungan tropis, menyebabkan hampir semua baju yang mereka kenakan basah oleh keringat. Namun di antara semua itu bagi saya yang paling menarik adalah bangunan-bangunan dan pemilihan lokasi untuk bagian akhir film ini yang sangat menakjubkan. Dari tampilan luar semua bangunan yang ada di komplek penjara St. Laurent, terutama rumah pertapaan tampak berdiri kokoh namun dengan tampilan warna pastel yang semakin memperkuat nuansa sepi yang menghujam setiap tahanan. Sementara itu di bagian dalamnya penonton dapat merasakan sesak karena ruangan yang begitu gelap gulita dan perasaan suasana lembap yang dimunculkannya. Mungkin ada beberapa bagian Papillon yang dapat dikritisi karena menimbulkan kelemahan, tetapi tidak untuk urusan tampilannya.

Schaffner juga sukses membuat suasana suram dari latar yang ia ciptakan dengan sempurna. Setiap sudut ruangan bahkan ruang terbuka seperti hutan, pantai, dan lapangan di St. Laurent terlihat seperti benar-benar merupakan kurungan yang tidak dapat ditembus oleh siapapun. Kehadiran para petugas penjara serta tahanan yang membantu mereka membuat tidak ada sejengkal pun tempat di komplek penjara tersebut yang lolos dari sapuan kekejaman. Para tahanan terlihat sangat menderita berada di tempat ini karena mereka harus bekerja keras mematuhi perintah-perintah dari para penjaga tersebut. Kerja keras itu tercermin dari efek lelah dan putus asa yang terpancar dari wajah-wajah para tahanan. Mereka terpaksa mematuhi semua perintah itu semi menyambung nyawa hari demi hari. Ada beberapa adegan di mana Papillon dan Dega diperlihatkan ikut bekerja keras bersama tawanan lain, misalnya saat mereka harus melumpuhkan buaya hidup di sungai atau saat mereka harus menangkap kupu-kupu yang menjadi salah satu sumber pendapatan para petinggi penjara tersebut. Penonton dapat ikut merasakan kekejaman penjara St. Laurent tidak hanya dari kerja keras para tahanannya tetapi juga melalui siksaan yang dibuat sangat tidak manusiawi. Schaffner berhasil membuat masa dua tahun pengurungan Papillon di rumah pertapaan menjadi adegan yang begitu terasa lambat dan sangat menyiksa setiap kali melihat wajah pria pemberani tersebut. Tidak ketinggalan, penopnton juga dihantui rasa tegang setiap kali Papillon melakukan usaha kabur. Dalam upaya pelarian Papillon yang kedua, saya tidak tega menatap layar apakah Dega yang lemah mampu menaiki dinding sebelum para penjaga menyadari keributan yang mereka timbulkan.

Dari departemen akting, McQueen memberikan salah satu penampilan terbaik sepanjang karirnya dalam film ini. Ia sangat mampu mengeluarkan aura pria dingin yang mampu melakukan segala hal dan tidak takut pada apapun. McQueen sebagai Papillon adalah pria tangguh yang penuh waspada (meski selalu kalah dalam urusan bisnis alias sering tertipu), mandiri, dan tahu balas budi. Tanpa diragukan lagi, inilah salah satu tolok ukur kejantanan yang dapat diperankan oleh seorang aktor (saya sangat kagum dengan tatapn matanya yang hampir selalu mengernyit di film ini). When I watched it, I was like literally in love with him! Bukan hanya betapa jantannya McQueen memerankan Papillon, namun aktor yang wafat pada 1980 itu benar-benar menguasai perannya sebagai seseorang yang tidak terhindar dari proses alami penuaan.  Gaya bicara dan berjalan Papillon di akhir film yang terlihat kembali seperti anak-anak merupakan  gambaran utuh dan nyata bagaimana kehidupan usia senja. Sementara itu, meski kurang menimbulkan jejak sedalam penampilan McQueen, Hoffman tetap menarik dilihat daram perannya sebagai pria cerdas yang menjadi pendamping seorang jagoan. Dalam memerankan karakter Dega yang mudah mengekspresikan perasaannya, beberapa kali Hoffman tampil sentimental dan menguras emosi penonton, seperti dalam adegan ketika Dega dan Papillon bertemu kembali setelah dua tahun lamanya mereka berpisah.

Secara keseluruhan, tanpa diragukan Papillon adalah sebuah karya klasik yang memperlihatkan bagaimana kebebasan merupakan semangat yang menjiwai setiap individu manusia. Tidak ada seorang pun manusia di dunia yang terima diperlakukan sewenang-wenang oleh sistem dan penguasa yang bejat. Meski upaya untuk melawan sistem dan penguasa itu terlihat tidak mungkin dilakukan namun melalui Papillon kita menyadari tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini bila kita tidak membatasi diri sendiri. Papillon adalah sajian penuh makna yang sangat penting disaksikan. Menonton Papillon memang harus siap dengan kesabaran ekstra menikmati alurnya yang berjalan relatif lambat, namun saya tidak setuju bila film ini gagal menyampaikan esensi ceritanya kepada penonton karena Papillon banyak berbicara mengenai ketangguhan jiwa yang seharusnya dimiliki kita semua sebagai manusia. 4 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:

The Great Escape (1963)

Director: John Sturges
Stars: Steve McQueen, James Garner, Richard, Attenborough
Runtime: 172 minutes
Genre: Adventure, Drama, History











The Shawshank Redemption (1994)

Director: Frank Darabont
Stars: Tim Robbins, Morgan Freeman, Bob Gunton
Runtime: 142 minutes
Genre: Crime, Drama