Sabtu, 26 Oktober 2013

Captain Phillips: The Stoic Man and The Sea

Masih ingatkah Anda pada peristiwa penyanderaan 20 Anak Buah Kapal (ABK) MV Sinar Kudus oleh beberapa kelompok bajak laut Somalia? Peristiwa yang terjadi pada pada 16 Maret 2011 itu menyita perhatian publik karena sulitnya upaya penyelamatan yang dimediasi pemerintah. Tawar-menawar jumlah uang tebusan yang harus diserahkan PT Samudera Indonesia - pemilik kapal - berlangsung cukup alot. Pemerintah sebagai mediator pun tidak tinggal diam. Pada tanggal 18 Maret 2011 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin rapat kabinet terbatas untuk membahas upaya penyelamatan 20 WNI tersebut. Hasil rapat tersebut adalah Presiden menyetujui TNI melakukan serbuan militer ke kapal MV Sinar Kudus dengan mengirimkan lebih dari 800 satuan tugas TNI dengan sandi Duta Samudra I/2011. Bersama satuan tugas tersebut, TNI juga menyiapkan 3 kapal perang, 1 pesawat, dan 1 helikopter. Akhirnya pada 1 Mei 2011 para sandera berhasil diselamatkan setelah PT Samudera Indonesia setuju memberikan uang tebusan sebesar US$ 4,5 juta yang dijatuhkan dari helikopter. Meski serbuan militer urung dilancarkan, namun TNI menembak mati empat perompak Somalia dalam peristiwa baku tembak sesaat setelah pengembalian para sandera. Somalia memang dikenal sebagai negara yang jatuh miskin karena dilanda perang saudara berkepanjangan. Kelompok bajak laut tumbuh subur di daerah pantai. Sebelum menjerat MV Sinar Kudus, pada 2009 perompak Somalia juga berupaya membajak kapal kargo Maersk Alabama yang semua awaknya berkewarganegaraan Amerika Serikat. Pada saat itu semua media massa Amerika kencang mengabarkan peristiwa pembajakan tersebut sehingga pemerintah mengambil langkah tegas dengan mengirimkan pasukan AL dalam jumlah cukup besar. Beruntung, akhir bahagia seperti yang terjadi pada MV Sinar Kudus juga terjadi pada Maersk Alabama. Richard Phillips, kapten kapal tersebut pun menulis buku yang menceritakan bagaimana kisah penyelamatan dilakukan. Buku tersebut kini telah diadaptasi ke layar lebar dengan judul Captain Phillips (2013).

Jujur saja motivasi saya menonton film ini ketika pertama kali tayang di bioskop adalah karena nama Paul Greengrass (United 93, The Bourne Ultimatum), sutradara yang dikenal dengan teknik pengambilan gambar kamera bergoyang. Ketika mengetahui bahwa film ini diangkat dari kisah nyata, nama Greengrass memunculkan kenangan manis dalam benak saya mengingat karya-karyanya terdahulu yang bersumber dari peristiwa-persitiwa pahit di dunia sukses mengudang decak kagum karena kemahirannya memadukan drama, thriller, dan aksi. Dari film-film seperti Bloody Sunday (2002) dan United 93 (2006), saya mendapatkan ketegangan ekstra dan merasakan bagaimana ketegangan tersebut pecah dalam seketika menjadi alunan drama yang mengharukan. Pengalaman itulah yang membuat saya tertarik menyaksikan Captain Phillips.

Film berdurasi 134 menit ini mengungkapkan kisah penyanderaan Richard Phillips (Tom Hanks), seorang kapten kapal berbendera Amerika, Maersk Alabama yang mengangkut bantuan makanan untuk korban kelaparan di Afrika. Perjalanan Captain Phillips kali ini cukup menantang. Ia akan melewati semenanjung Afrika (horn of Africa) yang terkenal dengan kelompok bajak laut. Dari awal menerima informasi rute perjalanan dari navigator Shane Murphy (Michael Chernus), ia langsung memusatkan perhatiannya pada kesiapan para ABK dalam menghadapi marabahaya. Ia meminta seluruh awak mengunci ruangan-ruangan penting, memeriksa selang-selang pembuat gelombang, dan mengadakan simulasi keadaan darurat. Sekian lama mengarungi lautan secara profesional tidak membuat Captain Phillips kekurangan rasa khawatir akan perjalanannya kali ini, apalagi setelah ia menerima surel dari perusahaan pelayaran yang memperingatkan ancaman bajak laut. Hingga akhirnya, semua kekahwatiran itu menjadi kenyataan. Kapal kecil yang ditumpangi sekelompok perompak yang diketuai si kurus Muse (Barkhad Abdi) dan para anggotanya Bilal (Barkhad Abdirrahaman), Najee (Faysal Ahmeed), dan Elmi (Mahiat M. Ali) menjadi mimpi buruk bagi para awak Maersk Alabama. Sebagai kapten kapal, Captain Phillips merasa bertanggung jawab atas keselamatan seluruh ABK. Ia berusaha tegar dan menghadapi serangan para monster laut itu dengan kepala dingin, berusaha menghindari gesekan emosi dengan para perompak. Namun, Captain Phillips juga manusia biasa yang memiliki keterbatasan dalam menahan emosi dan ketegaran. Jiwa sang kapten pun di ambang keretakan ketika selama beberapa hari ia menjadi sandera para perompak.

Tidak sia-sia saya menonton film ini hanya karena nama sutradarnya, sebab di sini Greengrass sekali lagi menunjukkan bakatnya dalam mengolah drama berdasarkan kisah nyata. Selama 134 menit pertunjukan, Greengrass berhasil merayu penonton untuk luruh mengikuti hari-hari paling menyedihkan dalam hidup seorang kapten kapal berpengalaman. Dari awal hingga akhir film Greengrass sangat piawai memainkan tingkat ketegangan. Pendiri mazhab kamera bergerak itu mampu mengombinasikan saat-saat di mana adegan-adegan begitu tegang sehingga membuat penonton selalu haus ingin melihat apa yang terjadi berikutnya dengan selingan adegan-adegan "pengingat" yang seolah ingin menyadarkan penonton bahwa inilah kisah nyata yang sesungguhnya terjadi, dan penonton harus menerima beberapa hal yang mungkin terkesan menyedihkan atau klise.

Pada bagian awal film, saat-saat di mana kapal Muse dan kawan-kawan mendekati Maersk Alabama sangat menegangkan. Penonton diajak melihat bagaimana dua kubu yang bertentangan saling berkejaran. Maersk Alabama yang berukuran besar, memiliki bobot muatan yang luar biasa berat, dan tanpa dilengkapi senjata dipaksa harus menghindar dari kapal kecil rombeng yang tanpa diduga cukup gesit. Ya, inilah adegan di mana semua orang bisa menyaksikan bagaimana gagahnya warga Amerika, simbol kapitalisme dan demokrasi berhadapan langsung dengan bajak laut Somalia yang tidak memiliki waktu dan cukup energi untuk membangun kapitalisme dan demokrasi karena disibukkan urusan perut. Adegan kejar-kejaran ini berlangsung intens dan agresif, tidak jarang membuat nafas penonton memburu. Saya pribadi beberapa kali memalingkan wajah dari layar, bukan karena bosan tetapi karena tidak tahan menyaksikan dan merasakan beban ketegangan yang dimuculkan Greengrass ketika akhirnya para perompak berhasil naik ke anjungan Maersk Alabama.

Keahlian Greengrass dalam memecahkan ketegangan dengan seketika tampak terasa di akhir adegan kejar-kejaran tersebut. Dalam selang beberapa detik setelah Muse dan kawan-kawan berhasil menambatkan tangga, penonton harus rela menghadapi kenyataan bahwa makhluk-makhluk "kelaparan" dari negeri bernama Somalia dengan wajah menyeramkan menggilas nyali awak Maersk Alabama. Baru sesaat penonton diberi jeda setelah menyaksikan adegan kejar-kejaran dua kapal berbeda ukuran di lautan lepas, Greengrass kembali membuat penonton berpegangan erat-erat pada kursi dengan adegan kucing-kucingan antara awak Maersk Alabama dengan empat perompak Somalia. Ketegangan cerita kembali meningkat secara progresif hingga adegan penutup yang luar biasa menyentuh.

Greengrass adalah sutradara yang dikenal sebagai pemuja realisme. Setiap adegan yang ia tangkap mencerminkan bagaimana kenyataan yang sesungguhnya atau yang akan terjadi dalam kehidupan di luar layar. Latar belakang Greengrass sebagai arsitek dokumenter sebelum terjun ke ranah film panjang tampak sangat berpengaruh pada bagaimana ia berusaha memperlihatkan realitas dalam karya-karyanya. Teknik pengambilan gambar kamera bergoyang adalah salah satu cara untuk membangkitkan realitas tersebut, ditambah dengan penempatan kamera di beberapa sisi sekaligus yang dapat menangkap beragam sudut pandang. Adegan yang terkesan sangat nyata di antaranya adalah saat Muse dan kawan-kawan berhasil naik ke anjungan Maersk Alabama dengan menambatkan tangga. Dalam adegan itu, empat perompak Somalia tersebut harus menjaga keseimbangan dan berusaha naik setenang mungkin karena di saat yang sama Captain Phillips terus mempermainkan arah haluan kapal agar mereka terjatuh. Greengrass dan sinematografer akrabnya Barry Ackroyd sangat cerdas mengambil adegan ini dengan memainkan skala pembesaran kamera dan sesekali beralih dengan cepat memperlihatkan wajah cemas Captain Phillips. Adegan tersebut diambil tanpa menggunakan CGI atau bahkan pemeran pengganti. Sungguh adegan yang sangat berani dan berisiko. Namun hasilnya tak diragukan lagi, dapat membuat penonton menyumpah dalam hati agar para bajak laut jatuh ke laut walau mungkin sebagian besar dari mereka tahu bahwa tidak akan mungkin kisah nyata yang sudah berlalu dapat diubah jalan ceritanya.

Obsesi Greengrass akan realisme tidak cukup hanya diwujudkan melalui teknik pengambilan gambar kamera bergoyang. Lebih dari sekedar pengambilan gambar, Greengrass ingin apa yang ditangkap dari kamera itu sendiri juga harus benar-benar mencerminkan realitas di dunia nyata. Dalam film ini, Greengrass sengaja tidak mengizinkan Hanks bertemu dengan para pemeran bajak laut yang menjadi lawan mainnya hingga adegan saat mereka memang harus bertemu untuk pertama kalinya, yaitu saat para bajak laut berhasil naik ke anjungan Maersk Alabama. Tentu saja secara alamiah Hanks sebagai aktor ingin mengetahui siapa rekan dalam proyeknya kali ini, dan ia "diminta" untuk mewujudkan rasa ingin tahunya itu dalam adegan di anjungan tersebut. Hasilnya? Saya tidak dapat membedakan perbedaan ekspresi antara Hanks sebagai aktor yang ingin mengetahui rekan kerjanya atau Captain Phillips yang khawatir ketika kapalnya disusupi orang asing. Ekspresi yang tertangkap di wajah-wajah para aktor sangat natural karena mereka memang baru melihat satu sama lain untuk pertama kalinya. Ekspresi tersebut membuat kesan kekhawatiran Captain Phillips akan serangan orang asing semakin nyata. Dari raut pria paruh baya itu terbaca bahwa ia tidak tahu apa saja yang bisa dilakukan makhluk-makhluk ceking yang bahkan tidak mampu mengatupkan bibir untuk menyembunyikan gigi tonggosnya itu.

Selain pengaruh Greengrass dan Ackroyd, keunggulan Captain Phillips juga terletak pada naskah yang ditulis oleh Billy Ray. Dari awal pembuka film, jelas sekali bahwa naskah Ray ini sangat cocok dengan gaya penyutradaraan Greengrass yang sangat senang menyisipkan simbol untuk membenturkan dua budaya, kondisi, atau kehidupan yang jika dilihat sangat jauh berseberangan namun pada dasarnya memiliki kesamaan hakiki. Di awal cerita, diperlihatkan bagaimana dua kehidupan di Amerika dan Somalia berlangsung. Di Amerika, Captain Phillips diperlihatkan hidup dalam keluarga berkecukupan, mencintai anak dan istrinya, bekerja pada perusahaan pelayaran besar. Sementara itu, di titik lain bumi bernama Somalia, alih-alih ada orang yang berpelukkan mengucapkan selamat tinggal atau mencurahkan kasih sayang, penonton disuguhkan keganasan sekelompok orang yang mengancam orang-orang yang lebih lemah dari segi kekuasaan untuk pergi ke lautan menjadi perompak. Di tempat yang disebut terakhir, tidak diperlukan banyak dialog yang secara eksplisit menjelaskan bagaimana kehidupan bekerja. Kemudahan akses senjata, pemilihan anggota bajak laut secara serampangan, dan sikap mereka satu sama lain sudah cukup menunjukkan betapa keras dan kacaunya kehidupan di sana.

Saya sarankan jangan dulu terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa Captain Phillips ingin melontarkan komentar Marxist mengenai bagaimana kapitalisme menari di atas penderitaan warga dunia ketiga. Tahan pendapat Anda hingga melihat adegan ketika orang-orang dari dua kehidupan berbeda ini bertemu di atas kapal. Dalam adegan itu, penonton dapat memahami bahwa mereka semua sama saja: hanya sekelompok orang yang hidup untuk menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin dan menghasilkan uang setelahnya. Ketika baru bertemu dengan Captain Phillips, Muse langsung mengucapkan kalimat yang menyita perhatian, "Captain relax, nobody gets hurt. No Al-Qaeda here, just business". Seperti yang telah banyak dikatakan penjahat dari berbagai kelas sepanjang sejarah: hanya bisnis, hanya uang, hanya urusan perut. Begitupun Captain Phillips. Selama perjalanannya mengarungi lautan, ia tidak ingin putus komunikasi dengan Andrea, ingin semua pekerjaan beres sesuai prosedur sehingga cepat selesai, dan marah ketika awaknya protes dengan ancaman keselamatan kerja mereka. Ia ingin pekerjaannya selesai sesuai dengan perintah perusahaan dan merasakan kebebasan meluangkan waktu bersama keluarga setelahnya. Dengan menggunakan bahasa kasar, mungkin Captain Phillips dan para awaknya serta Muse dan kawan-kawan adalah orang-orang yang menyadari bahwa betapa uang dapat memperbudak mereka. Karena kesadaran itu pula, mereka tidak ingin berlama-lama dalam berkutat dengan pekerjaannya. Mereka ingin segera bebas dan kembali pada kehidupan biasa yang ternyata lebih universal: bebas dan bahagia - lihat bagaimana Muse dengan polos berkata ingin pergi ke Amerika bila ia berhasil menggondol jutaan dolar dari penculikan Captain Phillips, membeli mobil, dan bersenang-senang di tanah impian tersebut sementara Captain Phillips sendiri tentunya ingin merasakan kehangatan pelukan istrinya lebih lama.

Naskah Ray juga membuat penonton berkontemplasi menentukan siapa sebenarnya yang menjadi korban dalam situasi yang dihadapi Captain Phillips. Di satu sisi jelas sekali penyanderaan dan pemerasan yang dilakukan para bajak laut memang merupakan tindakan kriminal yang tidak dapat dibenarkan. Namun, pada awal film penonton telah diperlihatkan bagaimana cara hidup bekerja di Somalia: menindas atau ditindas. Menindas hanya dapat dilakukan oleh orang atau kelompok yang memiliki sumber daya lebih banyak, baik uang, informasi, kekuatan fisik, jaringan, senjata, dan lain-lain sementara yang tidak memiliki semua itu harus rela masuk kategori orang-orang tertindas. Jelas sekali mejadi perompak bukanlah pilihan sukarela Muse dan kawan-kawan, mereka hanya korban dari kerasnya hidup di Somalia. Jadi, apakah Captain Phillips menjadi satu-satunya korban dalam peristiwa ini? Keinginan Ray agar para penonton berkontemplasi sangat jelas dalam sebaris kalimat yang dilontarkan Captain Phillips, "There's gotta be something other than being a fisherman or kidnapping people." Setelah menatap mata sang kapten, Muse lalu membalas, "Maybe in America".

Membahas Captain Phillips tentu tidak akan lengkap jika tidak membicarakan si empunya peran, Tom Hanks. Di film ini, aktor kawakan tersebut kembali menunjukkan tajinya sebagai aktor kelas atas yang mampu memainkan perannya ke tingkat yang mendekati kenyataan. Pada adegan kejara-kejaran antara Maersk Alabama dengan kapal bajak laut, Hanks memerankan Captain Phillips sebagai kapten kapal yang tampak berpengalaman namun ada rasa takut yang tergambar jelas dalam dirinya. Rasa takut itu dapat dirasakan penonton pada bagaimana tatapan gelisah sang kapten ketika kapal yang ditunggangi Muse dan kawan-kawan semakin mendekat. Dengan berjalan mondar-mandir dari kabin kendali ke sisi luar kabin, Captain Phillips tak henti-hentinya mengeluarkan perintah tegas mengenai arah haluan kapal. Namun tanpa dapat ditutupi, penonton merasakan bagaimana perintah tersebut dikeluarkan dari seorang pria yang memiliki raut wajah panik luar biasa sambil terus melihat musuhnya di kejauhan menggunakan teropong. Akting Hanks dalam adegan ini sangat berbahaya, dapat menularkan rasa panik dan takut luar biasa pada siapapun yang menyaksikannya.

Namun tentu adegan yang paling banyak menuai pujian untuk akting Hanks adalah di saat-saat akhir di mana Captain Phillips mengalami trauma berat. Sebagai seorang aktor, Hanks tampak paham betul bahwa tokoh Captain Phillips merupakan pribadi yang cukup kompleks. Ibarat seekor siput, tokoh Captain Phillips memiliki cangkang yang keras dalam arti ia adalah seseorang yang pandai menahan emosi dan letupan hawa nafsunya pada sebagian besar siklus hidupnya. He's definitely a stoic man. Lihatlah pada bagaimana Captain Phillips membangun hubungan dengan para ABK. Hanya ada ucapan selamat pagi, selamat menkmati kopi, dan perintah untuk melanjutkan pekerjaan. Semua serba profesional. Kapal adalah gedung kantornya, tempat di mana sebagai seorang kapten ia harus menjaga wibawa dan menjadi panutan bawahannya. Ketahanan emosi Captain Phillips begitu terjaga (termasuk di kala ia menghadapi protes para ABK) bahkan ketika menghadapi ancaman berbahaya sekalipun ketika diculik bajak laut. Hanks memunculkan lapisan luar karakter Captain Phillips tersebut dengan kharisma seorang pemimpin di atas Maersk Alabama dan berusaha sekuat mungkin untuk menuruti permintaan para bajak laut di samping berupaya mendistraksi mereka ketika menjadi sandera. Lalu, pada suatu waktu seekor siput harus mengganti cangkangnya yang sudah terlalu sempit, menyisakan bagian tubuhnya yang fragile. Begitupun Captain Phillips. Ketika akhirnya ia berhasil diselamatkan, ia tak kuasa berpura-pura lagi menahan segala kekuatan dan kepandaiannya dalam menjaga emosi. Captain Phillips sebagai korban penyanderaan langsung segera menyemburkan luapan ketakutannya. Ketika sedang dalam ruang perawatan medis, Hanks memerankan Captain Phillips sebagai pria yang sangat terlihat seperti anak kecil yang mengadu pada ibunya tentang bagaimana perlakuan buruk teman-temannya di sekolah. Captain Phillips tak lagi fokus, ia menangis tersedu, ketakutan, haus akan perlindungan. Inilah satu-satunya adegan yang membuat mata saya berkaca-kaca di depan layar biskop sepanjang tahun ini. A bravura performance from Mr. Hanks! Saya sangat yakin nominasi Oscar akan kembali mampir ke tangan Hanks tahun ini.

Secara keseluruhan, Captain Phillips menyuguhkan sebuah tontotan menyegarkan di antara deretan film-film bertema survival yang ramai rilis tahun ini. Greengrass menggebrak opini yang menyatakan bahwa sebuah film yang diangkat dari kisah yang sudah diekspliotasi mati-matian oleh media massa tidak akan menarik lagi. Pada kenyataannya, banyak orang yang keluar dari bioskop menyatakan bahwa mereka seperti baru saja menyaksikan sebuah tontonan yang sama sekali baru. Keberhasilan Captain Phillips tidak lepas pada bagaimana kerjasama antara sutradara, sinematografer, penulis naskah, para pemain, dan seluruh kru lainnya memperlihatkan sisi dalam dari peristiwa nyata tersebut. Pemberitaan di media massa tentu tidak akan banyak mengeksplorasi pada bagaimana detik-detik penyelamatan Captain Phillips maupun kondisi kejiwaan pria itu setelahnya, dan di sinilah penonton dapat merasakan dramatisasinya. It's superb, 4 out of 5 stars.



Watch this if you liked:
Zero Dark Thirty (2012)

Director: Kathryn Bigelow
Stars: Jessica Chastain, Joel Edgerton, Chris Pratt
Genre: Drama, History, Thriller
Runtime: 157 minutes













Kapringen (A Hijacking) (2012)

Director: Tobias Lindholm
Stars: Pilou Asbæk, Søren Malling, Dar Salim
Genre: Drama, Thriller 
Runtime: 103 minutes


Kamis, 17 Oktober 2013

Prisoners: Scattered Prayers

Our Father, Who art in heaven
Hallowed by the name; 
Thy kingdom come,
Thy will be done,
on earth is it is in heaven.
Give us this day our daily bread,
and forgive us our trespasses,
as we forgive who trespass against us;
and lead us not into temptation,
but deliver us from evil. Amen.

Untaian doa khusyuk yang dipanjatkan seorang pria dengan suara dalam dan tegas menyeruak di tengah dingin yang menggantung di udara. Suara siapakah gerangan? Siapakah pria religius ini? Untuk apa ia berdoa?

Dor! Senapan angin memuntahkan pelurunya, seekor rusa terlihat roboh, dan tampaklah dua predator sang rusa yang hidupnya telah ditakdirkan berhenti hari itu: seorang ayah dan anak lelaki. Hari muram yang dinginnya menusuk tulang itu ternyata hari penting bagi si anak lelaki karena inilah hari pertama ia berhasil menangkap hewan buruan dengan tangannya sendiri. "Be ready", begitulah nasihat sang ayah yang bangga dengan anak lelaki yang mungkin di masa depan tangannya akan lebih banyak berlumuran darah hewan buruan dan tentunya akan membuat ia lebih bangga. Si anak lelaki tampak serius mendegarkan nasihat sang ayah dan ia tahu inilah awal kehidupan lelaki sesungguhnya.

Adegan di atas cukup berat untuk ukuran sebuah pembuka film. Penonton seperti diberi petunjuk bahwa Prisoners (2013) akan banyak bercerita tentang pria yang tampak religius ini - yang kemudian diketahui bernama Keller Dover (Hugh Jackman) dan keluarganya. Ceramah Dover kepada Ralph (Dylan Minnette) - si anak lelaki menunjukkan bahwa selain religius ia adalah pria yang memiliki ketangguhan, dapat diandalkan, dan selalu siap mengatasi kejadian buruk apapun. Di samping itu, tersirat pula nilai-nilai machismo yang tinggi dalam diri Dover. Namun, apakah sisa film ini akan banyak bercerita tentang "be ready" seperti yang dikatakan Dover pada anaknya? Apakah adegan perburuan tersebut merupakan simbol besar yang menjadi tema utama film ini? Tampaknya penonton perlu sedikit bersabar karena adegan pembuka yang berat itu dilanjutkan dengan keriangan dua perempuan dalam keluarga Dover, Grace (Maria Bello) dan Anna (Erin Gerasimovich), istri dan putri Keller. Saya pribadi bersyukur adegan pembuka itu tidak membocorkan segalanya secara prematur, karena penonton telah disuguhkan cukup banyak bobot informasi tentang siapa, seperti apa, dan bagaimana lingkungan hidup karakter utama. Sedikit jeda akan sangat membantu penonton yang ingin kreatif untuk menebak dan merangkai sendiri kelanjutan cerita dalam imajinasi masing-masing.

Kembali pada keluarga Dover, keriangan apa yang dirayakan dua perempuan itu? Apakah Dover sendiri dan Ralph ikut bergembira? Tidak lama kemudian penonton diberitahu bahwa hari itu adalah Thanksgiving dan keluarga Dover akan merayakan hari khusus itu di rumah kerabat dekat yang merupakan tetangga mereka, keluarga Birch. Jadi, tampaknya semua orang berbahagia saat itu. Keluarga Birch sendiri tampak hampir sama seperti keluarga Dover - caturwarga yang terdiri dari Franklin (Terrence Howard) sebagai kepala rumah tangga, Nancy (Viola Davis) sang istri, dan dua anak mereka Eliza (Zoe Borde) dan Joy (Kyla Drew Simmons). Perayaan Thanksgiving, berkunjung ke tetangga, berjalan kaki, makan bersama. Semua hal itu membuat saya bertanya-tanya apakah film ini berlatar sosial masa kini? Rasanya sulit membayangkan masih ada ikatan kekerabatan yang erat antara para tetangga dalam kehidupan masyarakat modern. Mengapa dua keluarga tersebut tidak memilih berkumpul bersama keluarga besar masing-masing untuk merayakan Thanksgiving, karena biasanya perayaan yang satu ini mirip dengan Idul Fitri dengan tradisi mudiknya di Indonesia?

Well, lupakan pertanyaan saya karena sebuah misteri besar baru akan di mulai. Seusai makan bersama, Anna dan Joy pergi ke rumah Dover setelah sebelumnya kegiatan luar ruangan mereka terhenti waktu makan. Saat itu, mereka bermain-main dekat sebuah RV bobrok yang diparkir di depan sebuah rumah tak berpenghuni di lingkungan itu. Suara radio yang terdengar samar-samar pun menandakan bahwa ada seseorang dalam RV itu. Sayangnya, makan bersama itu adalah saat terakhir keluarga Dover dan Birch melihat Anna dan Joy karena mereka kemudian lenyap secara tiba-tiba, begitu pun RV mencurigakan tersebut. Kasus anak hilang ini segera dilaporkan ke kepolisian dan Detective Loki (Jake Gyllenhaal) - seorang detektif dengan catatan mengagumkan atas keberhasilannya memecahkan setiap kasus yang ia tangani - ditugaskan mengusutnya. Tanpa perlu waktu lama, Detective Loki berhasil membekuk Alex Jones (Paul Dano), pengendara RV menyedihkan yang diduga membawa lari Anna dan Joy. Namun, fakta berkata lain. Baik tim forensik maupun Detective Loki tidak dapat menemukan cukup bukti bahwa Alex adalah penculik dua gadis kecil tersebut. Tim forensik tidak berhasil menemukan tanda-tanda fisik perlawanan seseorang telah dimasukkan secara paksa ke dalam RV, begitu juga Detective Loki tidak berhasil menguak keterangan jelas dari Alex karena ternyata ia tidak lebih dari seorang pria dengan keterbelakangan mental. Meskipun begitu, Dover sangat yakin bahwa Alex memiliki andil dalam raibnya Anna dan Joy. Maka ketika Alex dibebaskan dari tahanan untuk diserahkan dalam pengawasan bibinya Holly (Melissa Leo), Dover marah besar dan memutuskan untuk mencari Anna dan Joy dengan caranya sendiri, cara yang tidak akan ditempuh oleh Detective Loki. Di manakah Anna dan Joy berada? Siapakah yang harus bertanggung jawab atas hilangnya dua gadis kecil itu? Bagaimana setiap karakter menghadapi misteri ini? Semua itu akan terjawab dalam film berdurasi 153 menit ini.

Penulis naskah Aaron Guzikowski dengan sangat cerdas menciptakan cerita penuh teka-teki yang uniknya dilakoni oleh tokoh-tokoh berkepribadian kompleks. Pada awalnya adegan demi adegan berlalu begitu saja karena tampak seperti tidak saling berhubungan (pendeta, mayat di bawah tanah, Alex, pemuda aneh yang gemar membeli pakaian anak-anak, labirin. Menuju ke mana kah semua itu?). Namun, penonton perlu merekam setiap adegan tersebut karena perlahan-lahan petunjuk-petunjuk bermunculan dan mulai menyatu bagaikan kepingan puzzle yang membentuk satu gambar utuh. Dari awal hingga akhir, Prisoners sukses memaku penonton di kursi masing-masing dan mengikuti setiap petunjuk untuk mengungkap misteri hilangnya dua anak kecil ini. Semua petunjuk itu merangkai sebuah cerita yang sangat intens. Tidak ada waktu yang terbuang percuma untuk menyaksikan adegan-adegan yang tidak penting, karena semua adegan menjalin satu kesatuan utuh.

Naskah Guzikowski menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi sejak adegan pembuka dimulai. Apakah yang terlintas di benak Anda ketika pertama kali mengetahui bahwa Prisoners akan bercerita tentang penculikan anak? Pada umumnya film-film seperti ini akan bercerita terlebih dahulu betapa normal dan biasa kehidupan tokoh protagonis. Kemudian baru akan ditunjukkan bagaimana peristiwa kriminal seperti penculikan akan berdampak pada tokoh-tokoh yang terlibat. Namun hal itu tidak kita dapatkan dalam Prisoners. Adegan awal sebagaimana digambarkan di atas justru memilih awal cerita yang menunjukkan bahwa sang tokoh utama tahu persis bahwa dunia penuh dengan berbagai macam bahaya. Ia tampak seperti seseorang yang telah banyak belajar bahwa kehidupan dunia tak ubahnya seperti kegiatan berburu yang ia lakukan bersama anaknya, ada mangsa ada pula pemangsa. Mengetahui kenyataan hidup itu, ia tampil dalam kehidupan sebagai seseorang yang siap dengan segala marabahaya, bahkan mewariskan sikap serba-antisipatif tersebut kepada putranya. Ia tidak ingin keluarganya menjadi mangsa empuk para pemangsa yang berkeliaran di luar sana.

Selain membentuk teka-teki yang sangat intens, kekuatan naskah Guzikowski juga terletak pada kedalaman ceritanya. Selama dua setengah jam penonton akan mengikuti petualangan Dover dan Loki untuk mencari siapa yang bertanggung jawab atas hilangnya Anna dan Joy dan di mana keberadaan dua gadis kecil itu. Selama dua setengah jam itu pula penonton dituntun untuk melihat fenomena yang sesungguhnya ingin ditunjukkan Guzikowski, yaitu semakin kompleks permasalahan yang dihadapi manusia, batas antara dua hal kontras semakin memudar, mengaburkan fakta dengan kebenaran sesungguhnya. Dalam cerita ini fakta yang ada adalah Anna dan Joy tidak diketahui rimbanya, diduga diculik dan dikurung oleh orang jahat. Namun di sisi lain kita tahu bahwa dalam kehidupan nyata ini semua orang juga dapat menjadi pribadi-pribadi terkurung layaknya korban penculikan. Setiap orang merupakan tawanan dari waktu yang terus berputar, tersekap oleh kesedihan masa lalu, atau terkunci oleh sifat-sifat negatif diri sendiri yang membuat hal positif sulit menghampiri. Siapakah sesungguhnya yang sedang membutuhkan pertolongan untuk segera diselamatkan dari keterkurungannya?

Guzikowski juga menyinggung isu moralitas di film ini. Seiring peliknya teka-teki yang menjadi masalah dalam hidup tokoh-tokoh Prisoners, terlihat mereka semakin buta akan nilai-nilai moral yang selama ini mungkin mereka pegang teguh. Secara tiba-tiba hati menjadi terlalu tumpul untuk membedakan benar dan salah. Tunggu dulu, benarkah kebutaan hati mereka terjadi secara tiba-tiba atau memang sejak dulu mereka memendam suatu kobaran kemarahan tersembunyi di hati mereka dan kemudian datanglah satu masalah ini yang menyulut kemarahan itu keluar dari persembunyiannya?

Perkembangan karakter juga merupakan satu nilai tambah naskah Prisoners. Hampir semua tokoh dalam film ini mengalami perkembangan karakter yang dramatis. Dover - sebagaimana terlihat dalam adegan pembuka - terlihat sebagai the man with the answers, mampu mengatasi segala masalah dalam hidupnya. Ia bahkan menyimpan segala perlengkapan darurat di ruang bawah tanah rumahnya yang menandakan ia siap menghadapi masalah yang bahkan belum terjadi. Ia siap menghadapi serangan alien dan zombie sekalipun dengan bertahan hidup di ruang bawah tanah itu. Tapi itu semua tidak serta-merta membuat Dover sempurna dalam segala hal. Ia justru kecolongan saat putrinya bermain-main di jalan depan rumahnya sendiri, di lingkungan yang terlihat sangat aman, di musim gugur yang bahkan hewan buas sekalipun tampak bersiap-siap dormansi. Semua itu membuatnya depresi bukan main. Ia tidak dapat percaya bahwa pria dengan prinsip be ready seperti dirinya justru lengah dan sama sekali tidak dapat diandalkan untuk melindungi keluarganya.

Selain Dover tengok pula bagaimana tokoh Detective Loki menghadapi kasus yang mulai menyita hidupnya ini. Pada awalnya - sebagaimana catatan mengagumkannya - ia optimis dapat memecahkan misteri hilangnya Anna dan Joy. Namun, apa yang ia dapatkan? Detective Loki hanya mengumpulkan serpihan-serpihan keterangan dan kejanggalan lain yang tampak acak dan tidak berhubungan dengan hilangnya Anna dan Joy setiap kali ia mengetuk pintu rumah para saksi. Ia mulai frustrasi dan meragukan dirinya sendiri, dirinya yang justru dibanggakan orang lain yang melihat catatan kerjanya yang mengagumkan. Hal paling menyakitkan yang tampak dirasakan Detective Loki atas kondisi ini adalah ia tahu persis bahwa kepolisian, institusi di mana ia bernaung, tidak becus mengurus kasus ini atau kasus-kasus lain. Tanpa diragukan lagi naskah karya Guzikowski ini telah menghasilkan character study yang mendalam dan kompleks.

Sebuah naskah yang kuat belum tentu akan menghasilkan film berkualitas tanpa ditangani oleh sutradara yang paham bagaimana mengimplementasikannya. Denis Villeneuve (Polytechnique, Incendies) termasuk jenis sutradara yang paham bagaimana mewujudkan lembaran demi lembaran naskah cerita menarik menjadi sebuah film yang tidak kalah bagus. Villeneuve berhasil mengecoh penonton untuk tidak memperhatikan detail-detail yang pada film lain umumnya terlihat jelas mencurigakan. Villeneuve secara jenius juga merancang sebuah gambaran mengenai apa yang akan terjadi bila manusia dihadapkan pada dilema. Melihat karya-karyanya terdahulu, Villeneuve tampaknya memang merupakan sutradara yang memiliki ketertarikan khusus dalam eksplorasi segi-segi psikologis dan emosional dari sebuah kekerasan. Dalam Prisoners, Villeneuve menciptakan beberapa adegan yang tampak sangat kejam - seperti penyekapan dan penyiksaan yang dilakukan terhadap Alex. Uniknya, mungkin sebagian penonton akan merasa tidak terganggu dengan adegan-adegan itu, dan malah menikmatinya.

Villeneuve mengerti dan memahami tanggung jawab dan perasaan seorang kepala keluarga untuk selalu melindungi keluarganya dari segala bahaya. Villeneuve berusaha membagi (share) nilai-nilai kebapakaan itu melalui tokoh Dover yang meledak keras ketika ia merasa sangat yakin bahwa biang keladi penculikan putrinya ada di depan matanya. Di sinilah letak kecerdasan Villeneuve: ia tidak hanya mampu memperlihatkan bahwa keyakinan yang terlalu kuat dapat mengalahkan moral tetapi juga menarik simpati penonton untuk mendukung aksi imoral yang dilakukan tokoh di filmnya. Hebatnya lagi, semua itu dilakukan Villeneuve tanpa harus "berceramah" di sepanjang film. Di tangan sutradara lain, membeli tiket Prisoners mungkin akan menjadi sebuah undangan untuk menyaksikan bencana, menyaksikan film yang penuh dengan simbol-simbol dan adegan yang secara jelas menonjolkan pertentangan antara baik dan buruk, memperdebatkan moral, menaruh kiasan yang sangat disengaja di sana-sini. Beruntung Villeneuve tidak melakukan hal-hal itu karena dalam Prisoners perdebatan moral semacam itu tumbuh dan dirasakan penonton dengan sendirinya tanpa pernah sedikitpun membeberkannya secara gamblang yang justru akan membuatnya terkesan murahan. Semua kekisruhan yang mempertanyakan benar dan salah merayap dibalik permukaan adegan-adegan emosional.

Pujian untuk Prisoners belum cukup hanya ditujukan kepada penulis naskah dan sutradara saja, tetapi juga kepada jajaran pemeran yang luar biasa. Hugh Jackman sebagai aktor utama tampil memukau dengan segala amarah, otot ,urat, dan emosinya di sepanjang film. Jackman menguras banyak tenaga untuk perannya di sini melalui teriakan, pukulan, teror, dan siksa yang ia lakukan kepada orang yang ia curigai sebagai "pemangsa" putri kecilnya. Tidak dapat dipungkiri terlihat sebersit keraguan di hati Dover ketika ia melakukan itu semua. Jackman merealisasikan keraguan itu dengan sangat mengagumkan melalui sikap penyesalan yang ia ekspresikan ketika menyadari lambat laun dirinya berubah menjadi binatang buas yang tidak dapat diendalikan oleh apapun dan siapapun. Sikap menyesal itu juga merupakan suatu bentuk ketakutan dalam diri Dover. Namun Jackman memahami karakter Dover sebagai pria yang tidak ingin dianggap lemah, sehingga dengan sangat brilian ia mengubah ketakutan itu menjadi letupan emosi yang tidak dapat dikontrol, menimbulkan sisi lain dari diri Dover.

Ada satu adegan Jackman yang sulit dilupakan di film ini, yaitu ketika ia memanjatkan doa yang sama seperti dalam adegan pembuka namun kali ini ia tidak sanggup mengucapkannya dengan suara dalam dan tegas. Doa yang ia panjatkan kali ini seolah menunjukkan pengakuan dosa sekaligus memohon pencerahan agar ia dapat kembali menjadi dirinya yang dulu, pribadi yang serba teratur dan bermoral. Dalam adegan tersebut, Jackman berlutut, tangan mendekap di dada, wajah menengadah ke atas, mengeluarkan suara sesak, terbata-bata dan bersusah payah berusaha menyelesaikan bagian akhir doanya. Tidak lama kemudian dua tetes air mata berlinang dari masing-masing sisi matanya. Itulah sebuah doa dari pria yang putus asa, kecewa, dan terkejut dengan dirinya sendiri yang liar dan penuh lumpur dosa. Doa yang dipanjatkan ketika segala hal dalam kehidupan memburuk dan upaya untuk mengatasi keburukan itu justru semakin memperumit kehidupan. Dalam keadaan seperti itu doa ibarat sebuah senjata pamungkas yang dimiliki manusia yang percaya akan Tuhan. Sebuah doa yang tercecer dari tumpukan dosa, scattered prayers, begitu saya suka menyebutnya. Tanpa diragukan lagi, sejauh ini Jackman adalah salah satu aktor dengan penampilan terbaik tahun ini. Sepertinya sebuah nominasi Oscar untuk aktor pemeran utama akan jatuh ke tangan pria Australia ini.

Berperan sebagai tokoh yang berseberangan dengan karakter yang dimainkan Jackman, Jake Gyllenhaal juga memberikan salah satu penampilan terbaik sepanjang karirnya di film ini. Gyllenhaal berhasil menghidupkan karakter Detective Loki yang sepertinya tampak tidak menarik di atas kertas naskah. Namun Gyllenhaal berhasil membangun sebuah misteri di balik tokoh Detective Loki. Dalam film ini, penonton tidak diberikan informasi yang cukup mengenai latar belakang Detective Loki selain rekam jejaknya di kepolisian yang cemerlang. Seakan ingin melengkapi kekosongan latar belakang tokoh Detective Loki, Gyllenhaal menyuntikkan sikap kerja keras, pantang menyerah, dan cenderung terlihat obsesif dengan pekerjaan kepada tokoh yang ia perankan. Gyllenhaal berhasil memberikan kesan ada suatu dorongan khusus yang membuat Detective Loki berusaha mati-matian menyelesaikan kasus penculikan ini. Apakah dorongan itu adalah masa lalunya yang kelam? Bisa jadi demikian. Namun satu hal yang pasti adalah tokoh Detectve Loki sendiri penuh dengan teka-teki. Berbagai tato yang menghiasi buku-buku jari dan lehernya pun tidak mencirikannya sebagai polisi biasa. Jika saja Detective Loki bukan anggota polisi pasti penonton akan menduganya sebagai tokoh antagonis. Satu cara cerdas Gyllehaal menhidupkan tokoh ini adalah dengan melakukan kedipan-kedipan mata kompulsif setiap kali ia merasa frustrasi karena menemukan kebentuan dalam memecahkan misteri hilangnya Anna dan Joy.

Selain Jackman dan Gyllenhaal, rasanya hampir semua aktor dan aktris Prisoners memberikan penampilan terbaiknya. Tengoklah bagaimana Melissa Leo berhasil memerankan tokoh Holly dengan sangat realistis. Dalam film-film sejenis, tokoh Holly ini jika diperankan orang lain pasti akan terlalu berlebihan perilaku dan kata-katanya. Beruntung Leo adalah salah satu aktris yang selalu berhasil menempatkan peran-perannya pada kehidupan nyata. Dalam Prisoners, penonton juga pasti akan mendukung dan menaruh simpati pada Holly yang memiliki keluarga dengan latar belakang yang cukup miris. Holly berupaya membela dan menjaga Alex, keponakan yang ia anggap anaknya sendiri. Tidak tampak ada sesuatu yang salah dalam kehidupan Holly, bahkan ia adalah salah satu tokoh yang mungkin akan dikasihani oleh penonton yang keluar dari gedung bisokop terlebih dahulu.

Maria Bello dan Viola Davis walaupun hanya mendapat peran kecil dan tampil singkat di layar namun dapat memberikan gambaran kekuatan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Terrence Howard juga efektif menjadi penyeimbang tokoh yang diperankan Jackman. Berlawanan dengan Dover yang hidupnya didominasi amarah setelah peristiwa penculikan anaknya, hidup Franklin justru tampak berjalan seperti biasa. Meski sempat dipengaurhi untuk keluar dari jalan utama kehidupannya oleh Dover, namun pada akhirnya Franklin memilih setuju pada istrinya untuk tetap menjaga martabat sebagai manusia bermoral. Paul Dano sebagai Alex juga tampil mengesankan dengan suara tinggi dan perilaku anehnya.

Pujian terakhir akan saya alamatkan kepada sinematografer kawakan Roger Deakins. Pria yang telah dinominasikan 10 Oscar ini membuat pengalaman menonton Prisoners menjadi lebih terkesan suram, kelam, gelap, dan penuh misteri dengan warna biru dan hitam yang mendominasi gambar-gambar di sepanjang film. Cuaca dingin bersalju yang diciptakan juga membuat penonton semakin merasa beku mengikuti alur cerita yang penuh teka-teki.

Secara keseluruhan, Prisoners adalah sebuah tontonan cerdas yang berani menampik pakem-pakem film drama penculikan sejenis. Mulai dari adegan pembuka, simbol-simbol yang tersirat, hingga jajaran pemerannya menimbulkan kesan akhir bahwa Prisoners memang berani tampil beda dan percaya diri. Film ini bukan hanya menceritakan pencarian dua orang anak perempuan yang menghilang, tetapi jelas terlihat juga sedang mencari Oscar dan penghargaan lainnya di musim penghargaan awal tahun depan hahaha. It's outstanding, 4 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?



Watch this if you liked:

An American Crime (2007)

Director: Tommy O'Haver
Stars: Ellen Page, Hayley McFarland, Nick Searcy
Genre: Biography, Crime, Drama
Runtime: 97 minutes











 Crash (2004)

Director: Paul Haggis
Stars: Don Cheadle, Sandra Bullock, Thandie Newton
Genre: Drama
Runtime: 112 minutes
























Selasa, 15 Oktober 2013

Gravity: Come to Mama Earth

Dalam kehidupan ada masa-masa di mana seseorang merasa sangat jenuh. Jenuh dengan segala rutinitas yang meski tidak disukai tetapi harus dijalani, jenuh dengan orang-orang yang selalu membuat sakit hati, jenuh dengan keramaian di lingkungan sekitar, jenuh dengan berbagai permasalahan hidup yang datang silih berganti, jenuh dengan segala keterbatasan dan pengotak-kotakan label tertentu. Intinya, hidup itu seperti roda berputar yang terkadang terlalu getir dan tak tertahankan. Butuh suatu cara khusus untuk menghilangkan kejenuhan dalam hidup dan mendapatkan kembali suntikan gairah. Saya pribadi punya cara yang selalu efektif mengatasi kejenuhan seperti itu, yaitu dengan mendongak ke langit malam dan termenung sejenak. Memandangi langit malam membuat saya merasakan kebebasan tanpa batas, seolah melayang mengarungi alam tak berujung, dan yang terpenting adalah saya merasa tidak ada satu orang pun yang dapat menghalangi kenikmatan suguhan megah dari Sang Pencipta ini. Cara tersebut selalu sukses membuat pikiran jernih dan hati jauh lebih tentram. Langit malam membawa saya kepada sesuatu daya tarik atau obsesi besar terhadap ruang luar angkasa. Bagi saya ada sesuatu daya pikat nan seksi jauh di atas sana. Akan menjadi suatu kebohongan bila saya mengatakan tidak pernah memiliki berbagai imajinasi hidup di luar angkasa dengan segala kebebasannya. Namun setelah menyaksikan Gravity (2013) saya tersadar bahwa meskipun bumi adalah tempat hidup manusia yang sering mendatangkan kekecewaan dan permasalahan pelik (sebagian besar karena interaksi antarsesama manusia) namun ia tetaplah satu-satunya rumah terbaik bagi manusia.

Gravity adalah proyek besar Alfonso Cuarón (Y Tu Mamá También, Children of Men) yang telah dikerjakan selama empat setengah tahun dengan proses produksi yang sangat menantang, terutama penggunaan teknologi CGI dan beragam efek khusus lainnya. Di proyek besarnya ini, Cuarón menduduki posisi sentral sebagai sutradara, penulis naskah bersama anaknya Jason Cuarón, salah satu produser, dan salah satu editor. Baik Cuarón maupun Gravity mendapat banyak pujian dari kritikus dan dianggap sebagai salah satu film terbaik tahun 2013. Bagi saya pribadi, Gravity memberikan pengalaman menonton yang tidak terlupakan mengingat betapa apiknya Cuarón mendandani tampilan dan suasana bencana di luar angkasa. Selain itu lebih dari sekedar visualisasi yang memanjakan mata, saya juga terpikat dengan film ketujuh Cuarón ini karena dengan cerita sederhana dan hemat pemeran Gravity mampu memberikan letupan semangat yang menular ke penonton ketika melihat perjuangan demi perjuangan yang digambarkan.

Gravity mengisahkan perjuangan dr. Ryan Stone (Sandra Bullock), seorang ahli teknik biomedis bersama Matt Kowalski (George Clooney) astronot dengan jam terbang tinggi untuk kembali pulang ke bumi setelah badai puing satelit Rusia yang hancur menghantam wilayah kerja mereka. Stone merupakan agen yang ditugaskan untuk memperbaiki kerusakan Teleskop Hubble dan ini merupakan misi luar angkasa pertamanya. Sementara itu, Kowalski adalah astronot kawakan yang tampaknya (karena tidak diceritakan secara lugas di film) hanya bertugas mengantar, memandu, dan membimbing Stone dalam menjalani misinya di lingkungan tanpa gravitasi dan tekanan udara tersebut. Bersama dengan mereka berdua, terdapat beberapa orang kru pesawat ulang alik. Misi luar angkasa ini berawal lancar meski kondisi kesehatan Stone menurun karena belum terbiasa dengan kondisi luar angkasa yang temperaturnya sangat fluktuatif. Setiap kru bersenda gurau melalui kanal komunikasi radio frekuensi dan berselancar dengan suka cita sementara Stone menyelesaikan pekerjaannya. Tidak lama kemudian, kabar buruk pun datang: misi dibatalkan karena pecahan-pecahan satelit Rusia melaju dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Di tengah hamparan jagad hitam yang tak berbatas, setiap orang harus berupaya menyelamatkan hidup mereka masing-masing, dan hanya yang terkuatlah yang mampu menaklukan ganasnya angkasa raya. Peristiwa ini pun menjadi pengalaman hidup Stone yang tak akan pernah ia lupakan.

Membahas Gravity menurut saya bukanlah perkara cerita, karena kekuatan film ini bukan berada di sana. Bagi Anda yang menyempatkan diri melihat cuplikan (trailer) film ini sebelum menonton di layar lebar pasti mampu menebak ke mana arah jalan ceritanya. Kisah perjuangan astronot dalam sebuah kecelakaan di luar angkasa yang akan menentukan hidup dan mati dirinya sendiri. Sebagaimana film-film bertema perjuangan (survival) lainnya, sebagian besar penonton sepertinya juga dapat dengan mudah menebak akhir cerita Gravity. Namun saya tidak ingin menyebut kesederhanaan cerita ini sebagai kelemahan Gravity. Saya lebih senang menganggapnya sebagai sarana yang memudahkan penonton untuk dapat dengan mudah menangkap keunggulan Gravity sesungguhnya.

Kekuatan Gravity yang pertama adalah sisi filosofis yang diusung film berdurasi 91 menit ini. Cuarón tampaknya berupaya menganalogikan perjuangan bertahan hidup menghadapi bencana besar dengan proses terciptanya makhluk paling sempurna di seluruh jagad raya, manusia. Dalam Gravity, Stone dikisahkan sebagai wanita yang tujuan hidupnya memudar semenjak kematian tragis anaknya. Bekerja, mengemudi, bekerja, mengemudi begitu seterusnya rutinitas hampa teknisi biomedis yang tinggal di Illinois tersebut. Kehidupan pribadi Stone kelam dan tidak memiliki arah yang jelas. Ia menjalani aktivitas kesehariannya tanpa gairah dan terus-menerus berkubang pada kesedihan yang tak menepi, meratapi kepergian sang anak.

Di sisi lain, misi luar angkasa pertama Stone yang akhirnya berujung tragis juga masih tidak jauh dari kematian, sesuatu yang membuat hidupnya hancur berantakan. Dalam misinya ini, ia harus berjuang mati-matian menyelamatkan diri dari gempuran badai puing satelit yang dapat terjadi sewaktu-waktu, berjuang mencari stasiun luar angkasa lain yang selamat dari bencana itu, dan berjuang kembali ke bumi. Semua perjuangannya itu dilakukan dalam bayang-bayang dua pilihan: hidup atau mati. Stone memilih untuk melawan semua rasa takut dan pesimis dalam dirinya dan menolak untuk mati sendirian tanpa seorang pun menyaksikannya. Maka, tersusunlah adegan demi adegan perjuangan Stone. Ia mencari alat komunikasi, mencoba menghubungi stasiun luar angkasa lain, serta mempelajari buku manual seperti layaknya astronot amatiran. Dalam setiap tindakannya, Stone berusaha mengatasi setiap aral melintang yang seolah mencoba menghalanginya untuk pulang ke bumi, karena ia masih ingin hidup, ia tidak ingin kematian membuatnya sengsara lagi, dan ia tahu bahwa meski dihadapkan pada kematian masih ada kehidupan yang harus dijalani. Pada akhirnya, melalui misi luar angkasa pertamanya ini Stone memperoleh pelajaran bahwa manusia memiliki kekuatan luar biasa untuk melejitkan potensi dirinya bila manusia itu memiliki kemauan, bahwa hidup harus memliki tujuan, bahwa kehidupan dan kematian adalah dua hal yang saling terhubung satu sama lain karena keduanya seperti dua sisi mata uang. Setiap saat di dunia ada peristiwa kematian dan ada pula kelahiran baru yang seolah menghapus jejak kelam kematian itu. Singkat kata, Stone telah menemukan makna dan tujuan kehidupan. Dalam Gravity, semua sisi interior hati, jiwa, perasaan, dan pikiran Stone tersebut disajikan sangat memukau melalui gerak tubuh, ekspresi wajah, dan air mata.

Cuarón menyisipkan beberapa adegan yang menggambarkan filosofi jiwa Stone mengenai kelahiran sebagai simbol kehidupan baru sekaligus antitesis dari kematian yang menyedihkan. Adegan-adegan tersebut antara lain saat tali penghubung antara Kowalski dan Stone terputus dan memisahkan mereka untuk kedua kalinya. Saat itu, Stone memelas pada Kowalski agar tidak memutuskan tali penghubung tersebut karena ia merasa tidak mampu berjuang sendirian. Namun, sebagai astronot kawakan Kowalski tahu betul bahwa tali penghubung tersebut terlalu lemah untuk menyelamatkan mereka berdua sehingga salah satu di antara mereka harus berkorban. Sesaat setelah tali penghubung terputus, Kowalsi berkata pada Stone, ”You're going to have to learn to let go”. Adegan tersebut seolah menggambarkan terputusnya tali pusat yang menghubungkan ibu dengan bayinya yang baru dilahirkan. Kelahiran tersebut adalah lawan dari peristiwa pahit perginya Kowalski di jagad tanpa batas, sebuah lambang kematian. Selanjutnya, adegan yang paling lugas menganalogikan rangkaian cerita dalam Gravity dengan proses penciptaan manusia yaitu saat Stone melayang berputar pada posisi bergelung sesaat setelah ia masuk ke International Space Station (ISS) yang membuatnya seperti berada dalam rahim seorang ibu. Jalan cerita yang mengisahkan Stone sebagai korban selamat satu-satunya dari bencana juga dapat dianalogikan sebagai satu sel sperma yang akan menjadi “pemenang” dalam perlombaan berenang tercepat untuk sampai ke indung telur. Dalam Gravity, Cuarón mengganti perlombaan berenang itu dengan perjuangan Stone yang melayang-layang di ruang hampa udara menuju indung telur yang tentunya adalah bumi. Setelah sampai di bumi, Stone pun harus belajar berjalan di atas tanah yang dipengaruhi gaya gravitasi layaknya seorang bayi belajar menapakkan kaki mungilnya. Bumi adalah ibu bagi manusia, dan perjuangan Stone dalam Gravity seolah menceritakan panggilan seorang ibu untuk pulang ke pangkuannya. Come to Mama Earth!

Melalui analogi perjuangan Stone sebagai proses penciptaan manusia, Cuarón secara tidak langsung tampaknya juga ingin membawa nilai-nilai religius dalam Gravity. Tokoh Stone yang diceritakan sebagai pribadi yang jauh dari Tuhan secara perlahan bertransfromasi menjadi seseorang yang beriman dan percaya campur tangan Tuhan dalam kehidupan jagad raya ini. Dalam sebuah adegan emosional, Stone mengaku bahwa tidak ada orang yang mengajarinya bagaimana cara berdoa, padahal sepertinya ia tahu persis bahwa dalam hidupnya ada saat-saat di mana ia seperti dijungkirbalikkan menuju penderitaan dan membutuhkan tempat mengadu. Pada adegan berikutnya di saat-saat terakhir akan menuju bumi, Stone “menitipkan salam” kasih sayangnya kepada Kowalski yang menemui anaknya di alam baka. Ia meluncurkan kalimat-kalimat penuh harapan layaknya seorang religius yang percaya kehidupan hari akhir serta mengucapkan rasa terima kasih secara tulus atas kesempatan untuk tetap hidup. Terima kasih tersebut tidak jelas ditujukan kepada siapa, tetapi sangat jelas tercium aroma ketuhanan di dalamnya meski tidak sekalipun Stone memuji atau menyebut Tuhan di film ini.

Tampilan luar angkasa yang menakjubkan menunjang kekuatan filosofis Gravity. Cuarón dan sinematografer Emmanuel Lubezki bekerja keras membuat tiruan visualisasi karya agung Tuhan dan hasilnya sangat memuaskan. Pemandangan bumi dari luar angkasa begitu menawan dengan kilauan cahaya keemasan matahari. Eksterior dan interior satelit dan stasiun luar angkasa juga dirancang sangat apik. Ketegangan penonton akan meningkat setiap kali Stone melayang dan berusaha menggapai apapun untuk berpegangan. Pengambilan gambar melalui kaca helm Stone yang dilakukan Cuarón juga merupakan cara cerdas agar penonton merasakan sudut pandangnya. Salah satu adegan favorit saya adalah ketika Stone berupaya melepaskan tali-temali parasut yang kusut di saat badai puing kembali menerjang. Stone dengan wajah takut mengeluarkan erangan-erangan ketika tepat di depannya sebuah kepingan sayap ISS yang terlepas hancur menabrak kapsul ISS yang ia tumpangi.

Cuarón masih mengaplikasikan teknik khasnya dalam mengambil gambar dalam satu shoot yang panjang tanpa ada pemotongan sama sekali. Sekitar lima belas menit pertama Gravity penonton akan mengikuti bagaimana Stone berupaya memperbaiki sistem pengiriman data Teleskop Hubble hanya dalam satu pengambilan gambar yang panjang. Adegan lima belas menit pertama itu cukup kompleks karena Cuarón tidak hanya menggambarkan Stone saja, tetapi juga Kowalski yang sedang berselancar bebas menggunakan suatu kendaraan khusus serta bagaimana benda-benda terbang melayang di sekitar mereka berdua. Bahkan adegan saat pecahan-pecahan satelit Rusia pertama kali menerjang Stone dan Kowalski juga dibuat masih menyambung dari adegan saat Stone memperbaiki Teleskop Hubble. Teknik pengambilan gambar tanpa pemotongan seperti itu membuat kesan realistis lebih terasa, penonton akan merasa seperti benar-benar berada di luar angkasa, berada di samping Stone dan melihatnya yang sedang kurang enak badan memperbaiki Teleskop Hubble. Tentu saja pengambilan gambar seperti itu memiliki kesulitan tingkat tinggi, dan Cuarón pantas diberikan acungan jempol.

George Clooney dan Sandra Bullock sama-sama memberikan penampilan sangat baik di film ini. Sebagai Kowalski, pada awal-awal film Clooney yang berperan sebagai tokoh pendukung memilik rasa humor yang sedikit agak berlebihan dan kurang pas untuk ukuran seorang astronot yang notabene memiliki pekerjaan yang menuntut banyak konsentrasi dan fokus tinggi. Namun selera humor yang tidak pada tempatnya itu bukan berarti Kowalski tidak memiliki wibawa dan profesionalitas. Saat Stone terlempar jauh dari Teleskop Hubble, Kowalski memberikan panduan dengan tegas dan serius apa yang harus dilakukannya. Saat mereka berdua mengetahui bahwa hanya merekalah yang tersisa dari misi luar angkasa tersebut, Kowalski menjadi pemimpin yang baik dalam menentukan bagaimana cara mereka kembali ke bumi, bahkan pengorbanannya adalah ciri seorang pemimpin sejati. Semua karakter Kowalski tersebut digambarkan Clooney dengan baik. Sebagai tokoh komik yang memiliki selera humor tinggi, Clooney sebagai Kowalski mampu memanfaatkan pesonanya dan meluncurkan celetukan-celetukan di tengah dialog serius.

Namun tentu saja, tanpa perlu disangkal Gravity sepenuhnya adalah milik Sandra Bullock. Peraih piala Oscar tahun 2010 itu memberikan penampilan brilian di sini. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila peran Stone digantikan oleh aktris lain (meski tidak menutup kemungkinan hasilnya sama bagus atau bahkan lebih bagus). Pada dua pertiga film, Bullock memancarkan ekspresi ketakutan, rasa pesimis, dan putus asa yang sangat kental. Penonton akan melihat tokoh Stone berulang kali melayang tak berdaya melawan gravitasi nol dan mengeluarkan erangan-erangan lemah. Dari balik kaca helmnya, penonton juga merasakan hembusan nafas memburu Stone yang mengandung rasa takut di dalamnya. Satu adegan paling diingat dari kondisi lemah Stone ini adalah saat ia menitikkan air mata yang kemudian melayang bebas. Adegan itu sangat emosional dan menimbulkan simpati. Namun, pada sepertiga akhir film, Bullock mampu menunjukkan proses metamorfosis Stone menjadi sosok yang lebih tegar, cerdas, dan determined. Adegan “menitipkan salam” sebagaimana disebutkan di atas dilakukan Bullock dengan sangat menyentuh. Bullock mengeluarkan suara serak namun ia tetap berupaya teriak di tengah turbulensi yang ia alami. Tidak hanya pada tingkat emosional dan psikologis, fisik Bullock juga tampak mumpuni memerankan peran astronot yang melayang bebas, membentur benda-benda, berpegangan erat pada sesuatu, mengatasi kebakaran di dalam stasiun luar angkasa, dan sempat tenggelam secara tiba-tiba tanpa persiapan mengambil nafas terlebih dahulu. Semua adegan itu dilakukan Bullock dengan tubuh prima. Akankah Bullock mendapatkan nominasi Oscar untuk penampilannya di sini? Well, saya sendiri sangat berharap jawabannya “ya”, karena sejauh ini (bulan Oktober 2013) menurut pandangan saya penampilan Bullock adalah salah satu yang terbaik.

Secara keseluruhan, bagi saya Gravity bukanlah film yang hanya menceritakan kerasnya perjuangan seorang astronot wanita yang diterjang bencana. Lebih dari itu, Gravity menawarkan tokoh dengan karakter yang dapat ditemukan dalam kehidupan nyata, tokoh yang menemukan kembali harapan hidup setelah mendapatkan suntikan semangat dari masalah yang dihadapinya. Dipersenjatai dengan visualisasi memukau dan bobot filosofi yang berisi membuat saya merasa bahwa menonton Gravity adalah sebuah kehormatan untuk mencicipi sedikit kejeniusan Alfonso Cuarón atas adaptasinya terhadap ciptaan agung Tuhan. 5 stars out of 5. Ada yang punya komentar?



Watch this if you liked:

2001: A Space Odyssesy (1968)

Director: Stanley Kubrick
Stars: Keir Dullea, Gary Lockwood, William Sylvester
Genre: Adventure, Msytery, Sci-Fi
Runtime: 160 minutes











Marooned (1969)

Director: John Sturges
Stars: Gregory Peck, Richard Crenna, David Janssen
Genre: Adventure, Drama, Sci-Fi
Runtime: 134 minutes