Thursday, December 27, 2012

What's Eating Gilbert Grape?: How Much Sacrifice Does Family Demand?

Setiap orang memiliki keinginan atau impian untuk menjadi atau melakukan sesuatu. Ya, setiap orang tanpa terkecuali, dari bayi yang baru lahir hingga lansia yang menunggu ajal memiliki keinginan pribadi. Sudah menjadi sifat dasar mausia yang tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki. Ketika satu keinginan terwujud, timbul keinginan lain, dan yang lainnya lagi, begitu seterusnya. Andai saja manusia memiliki semua sumber daya untuk mengabulkan semua keinginannya, maka tidak akan ada orang yang sedih di dunia ini. Sayangnya, kenyataan mengatakan lain. Keinginan dan impian setiap orang kadang kala memang terbentur dengan situasi dan kondisi lingkungan sekitar, termasuk keluarga. Ketika masih kecil, keluarga selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Keluarga memberikan perhatian, limpahan materi, dan pendidikan bagi setiap anggotanya. Namun, ketika beranjak dewasa, pada umumnya seseorang memiliki keinginan dan impian yang harus dicapainya sendiri dengan merasakan berbagai pengalaman baru. Maka, posisi keluarga mulai bergeser perlahan demi perlahan. Namun kembali lagi, semua itu akan tergantung pada situasi dan kondisi yang ada. Apa yang akan Anda lakukan ketika beranjak dewasa (dan semua orang tahu inilah saatnya mencicipi manis getirnya dunia), tetapi keluarga membutuhkan kehadiran dan bantuan Anda? Apakah Anda akan membantu keluarga atau memilih kepentingan pribadi? Pilihan hidup yang berat seperti itu menjadi tema utama dalam What's Eating Gilbert Grape (1993).

Bagi Gilbert Grape (Johnny Depp), dengan berat hati ia memilih untuk tetap tinggal bersama keluarganya di sebuah kota kecil dan sunyi, Endora. Seperti yang ia deskripsikan di awal-awal film, "It's a town where nothing much ever happens, and nothing much ever will..." Tetapi ia tak punya pilihan lain. Ia tetap bertahan tinggal di kota itu karena keluarganya membutuhkan seorang pencari nafkah, pelindung keluarga, penjaga adik, dan sebagai pengganti kehadiran sosok ayah. Keluarga Gilbert memang bukanlah keluarga yang memiliki segalanya. Keluarga ini menyimpan satu kisah pilu ketika sang kepala keluarga ditemukan tewas gantung diri di ruang bawah tanah. Setiap anggota keluarga Grape dirundung duka akibat peristiwa itu, tetapi tampaknya beban terberat harus dipikul oleh sang ibu, Bonnie (Darlene Cates). Beban berat mengidupi lima anak, ditambah anak terakhirnya Arnie (Leonardo DiCaprio) menderita gangguan mental (dan fisik sepertinya) membuat Bonnie putus asa dan menemukan pelarian dari hidupnya pada makanan hingga ia berubah dari wanita cantik menjadi wanita obesitas yang menjadi lelucon kota kecil itu. Maka, Gilbert kemudian tumbuh menjadi pria dewasa yang penuh tanggung jawab, meski seringkali ia merasakan titik terjenuh menghadapi keluarganya. Ia sayang ibunya, dua adik perempuannya Amy (Laura Harrington) dan Ellen (Mary Kate Schellhardt), dan tentu Arnie. Namun, terkadang ia kesal pada Bonnie yang selalu membela Arnie tanpa mau tahu keinginannya, pada Ellen yang selalu membantahnya, atau pada Arnie yang karena kepolosannya selalu merepotkan. Gilbert seolah mempertanyakan how much sacrifice does family demand?

Hari-hari Gilbert dihabiskan dengan mengurus Arnie dan bekerja di Lamson's Grocery, sebuah tempat belanja yang mulai ditinggalkan pelanggannya. Dalam setiap kegiatan Gilbert, Arnie selalu ikut sehingga mereka dua menjadi sangat dekat. Ada satu ritual tahunan yang mereka berdua lakukan, yaitu menunggu di pinggir jalan masuk kota dan melihat iringan kendaraan para pengelana yang melewati Endora atau singgah sejenak di kota kecil itu. Salah satu pengelana yang singgah itu adalah Becky (Juliette Lewis). Gadis inilah yang memikat hati Gilbert dan membuatnya sedih ketika Becky akan pergi melanjutkan perjalanannya. Sebelumnya, ia tak pernah merasakan cinta yang benar-benar tulus karena ia hanya pernah menjalin hubungan gelap dengan istri seorang pengusaha asuransi, Betty Carver (Mary Steenburgen). Gilbert hanya menginginkan kesenangan dari Betty, bukan cinta. Ia pun sering merasa takut jika hubungan gelapnya itu diketahui oleh Mr. Carver (Kevin Tighe), salah satu orang berpengaruh di kota kecil itu. Gilbert menjalani kehidupannya tanpa tujuan, sebab yang ia tahu hanyalah ia harus mengurus keluarganya. Ia tidak memiliki cita-cita atau masa depan yang berlebihan. Ketika Becky menanyakan apa yang diinginkan Gilbert, dengan sederhana Gilbert hanya menginginkan dirinya menjadi orang yang lebih baik.

Hidup menjadi sangat berat dan rumit bagi Gilbert ketika kewajibannya sebagai anak, kakak, pencari nafkah, dan pengganti ayah berbenturan dengan keinginannya mengikuti jejak gadis terkasihnya, Becky untuk pergi berkelana. Ada rasa iri di dalam hati Gilbert pada Becky. Semua itu masih harus ditambah dengan masalah ibunya, yang selalu menjadi olok-olok warga hingga ia tak mau keluar rumah dan menemui orang lain selama tujuh tahun terakhir. Bahkan, Bonnie sempat ragu mengabulkan permintaan Gilbert yang ingin memperkenalkan Becky sebagai kekasihnya.

Di awal-awal film, Gilbert digambarkan sebagai sosok yang pasrah dan menerima keadaan hidupnya. Ia membiarkan dirinya terbawa dalam jerat cinta terlarang dengan Betty meski hubungan itu berisiko. Gilbert dengan susah payah menjaga Arnie agar tidak membuat keonaran. Ia membiarkan Bonnie menjadi bahan tertawaan warga sekitar dan anak-anak yang penasaran melihat ukuran tubuh seorang wanita obesitas. Gilbert bahkan bersikap dingin ketika Becky akan pergi meninggalkan Endora. Namun sebuah titik balik mnghampirinya ketika Bonnie berbicara dari hati ke hati dengan Gilbert betapa merepotkan dirinya, betapa memalukan dirinya, dan betapa ia membutuhkan Gilbert. Bagaikan pecut, kata-kata Bonnie itu menyadarkannya untuk selalu menjaga dan merawat keluarganya. Ia tak ingin menjadi seperti ayahnya yang menghilang dan tiba-tiba ditemukan tewas gantung diri karena ia ingin selalu ada untuk keluarganya. Akhirnya, apa yang tersirat dari judul film ini, pun terkuak, yaitu bahwa Gilbert membutuhkan cinta yang dapat mengubah sudut pandangnya bahwa dirinya memerlukan perubahan, menatap masa depan, dan memasang cita-cita demi mencapai kebahagiaan.

Sutradara Lasse Hallström (Chocolat, The Cider House Rules) menggambarkan kehidupan keluarga Grape terkotak-kotak dan berpola. Bonnie sebagai ibu rumah tangga yang hanya bisa duduk di ruang televisi karena bobotnya tak memungkinkan untuk banyak bergerak. Sudah bertahun-tahun Bonnie hanyak tinggal di rumah, tidak mau keluar dan menemui orang karena ia malu dan takut diejek. Ia selalu mengulang kata "disappear", sebuah kata yang menimbulkan efek traumatis, karena suaminya menghilang sebelum ditemukan gantung diri. Anak-anak Bonnie juga memiliki pola mereka masing-masing: Amy mengurus kebutuhan rumah tangga, Gilbert dan Ellen mengurus Arnie, Gilbert mencari nafkah dan mengurus perbaikan-perbaikan rumah tua mereka. Aktivitas keluarga Grape pun digambarkan berulang-ulang, mulai dari Arnie yang berkali-kali memanjat menara air kota dan menimbulkan kehebohan di tengah kota yang langka akan hiburan tersebut, Amy dan Ellen bersama-sama menggotong meja makan ke ruang televisi setiap keluarga ini akan makan malam, dan Gilbert yang berkali-kali mengantarkan pesanan belanja pelanggan Lamson's Grocery.

Sementara itu, dari segi tata kamera, Hallström beberapa kali mengambil gambar dari kejauhan, seperti saat Mr. Carver mengomeli kedua putranya sementara istrinya Betty menyatakan cinta pada Gilbert serta pada saat Arnie berlari menyeruak dari dalam ruma ke luar sambil menangis setelah melihat Bonnie yang meninggal. Pengambilan gambar dari jauh tersebut menimbulkan efek dramatis yang jauh lebih dalam, sebab penonton dapat melihat kondisi sekitar dengan lebih luas dan mengetahui setiap perilaku tokoh yang tertangkap kamera.

Namun, Hallström kemudian memmecahkan segala keteraturan dan pengulangan tersebut dengan cinta. Cinta, seperti biasa, selalu menjadi katalis kebekuan dan kekakuan. Setelah Gilbert memperkenalkan Becky pada Bonnie, Bonnie dengan berani mencoba menaiki tangga dan berbaring di kamarnya sendiri, meninggalkan kebiasaannya yang tak mau pindah dari depan televisi (tentunya juga meninggalkan kebiasaan memindahkan meja makan). Ketika Betty melihat Gilbert menemukan tambatan hati pada Becky, ia merelakan Gilbert dan pindah ke luar kota, membuat Gilbert berhenti mengantarkan pesanan belanja ke keluarga Carver, dan ketika Bonnie tanpa gentar berjuang membebaskan Arnie yang ditahan setelah memanjat menara air kota, Arnie berhenti melakukan kebiasaan buruknya itu. Hallström tak hanya memecahkan semua bentuk pola tetap di awal-awal film, tetapi ia bahkan membuat motif kontras pada jalan cerita setelah Gilbert menyadari bahwa cintanya pada Becky telah mengubah hidupnya. Motif kontras itu terlihat ketika Endora, kota kecil itu yang mulai menampakkan perubahan dengan hadirnya franchise Burger Barn yang menandakan geliat bisnis besar akan segera dimulai. Selain itu motif kontras juga dapat ditemukan ketika setelah perayaan ulang tahun Arnie ke-18 yang penuh suka cita, Bonnie ditemukan meninggal, membuat keluarga Grape merasakan kesedihan mendalam.

Dari segi akting, tak diragukan lagi pujian pertama pasti akan meluncur pada DiCaprio yang membuat penampilan jenius dalam debut film besarnya ini. Ia membawakan karakter Arnie yang mengalami keterbelakangan mental dengan sangat detil, mulai dari cara bicara, tersentum, tertawa, menangis, teriak, dan berjalan. DiCaprio dengan meyakinkan melipat bibirnya dan mencondongkan kepalanya ke atas atau ke samping ketika berbicara, membuat tokoh Arnie terlihat kesulitan berbicara. Ia juga menekuk pergelangan tangannya, memainkan jari, serta memainkan pitch suaranya ketika berteriak dan berbicara. Semua itu menjadikan penampilan yang memukau dan perkenalan brilian DiCaprio pada dunia. Untuk penampilannya ini, nominasi Oscar sebagai Best Supporting Actor memang sangat pantas diberikan. Mungkin banyak orang akan mengatakan pertama kali mengenal DiCaprio sebagai pria super romantis yang benasib tragis di kapal Titanic, tetapi saya mengenalnya pertama kali sebagai orang terbelakang hahaha... Dan bagi Anda yang ingin melihat Johnny Depp memerankan tokoh pria biasa tanpa makeup tebal, perilaku aneh, atau gaya bicara konyol, Anda bia melihatnya dalam film yang diadaptasi dari novel Peter Hedges ini sebagai pria biasa yang berpikir bahwa dirinya tidak memiliki masa depan, tetapi cinta mengubah pikirannya tersebut, sebuah penampilan yang cukup baik dari Depp.

Sinematografi film ini menurut saya juga memiliki kekuatan dalam mendukung keseluruhan jalan cerita. Dengan banyak memberikan pemandangan Kota Endora yang penuh dengan ladang (ooohhh have I told you how much I love fields?) yang luas, lahan pertanian yang menguning, danau dan yang paling utama: sunset yang berwarna jingga dan berkilauan, terlihat sangat indah dan menambah "rasa" ketika Gilbert menikmati sunset tersebut bersama Becky (scene ini menjadi favorit saya dalam film ini). Kondisi mendung juga digambarkan secara apik, apalagi ketika dikontraskan dengan adegan rumah yang terbakar, kemudia warna merah bara api terpantul di wajah-wajah Gilbert, Amy, Arnie, dan Ellen.

All in all, bagi saya What's Eating Gilbert Grape bukanlah sebuah film yang dapat dideskripsikan dengan satu kata atau bahkan satu kalimat, membuat saya berpikir bahwa film ini bukanlah film yang mudah untuk dijual, karena umumnya orang ingin menonton sesuatu yang dapat dengan mudah dideskripsikan garis besar cerita maupun nilai-nilai di dalamnya. Maka, tak heran jika film berdurasi 118 menit ini hanya mendapatkan US$10 juta (domestik AS) dari US$11 juta budget yang dikeluarkan. Namun, terkadang film yang bagus memang demikian, terlihat babak belur dari segi komersial, tetapi dari segi cerita sebenarnya memiliki kekuatan karena mengangkat kehidupan sehari-hari, yang mungkin ketika penonton usai menyaksikannya akan menyadari beberapa kejadian nyata dari cerita itu. Kemampuan Lasse Hallström dalam memadukan cerita seperti itu dan dipadukan dengan drama, romansa, dan bahkan komedi menjadikan What's Eating Gilbert Grape film yang tak mudah dilupakan. It's great, 4 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:
Forrest Gump (1994)

Director: Robert Zemeckis
Stars: Tom Hanks, Robin Wright, Gary Sinise
Genre: Drama, Romance
Runtime: 142 minutes

Leaving Las Vegas (1995)

Director: Mike Figgis
Stars: Nicolas Cage, Elisabeth Shue, Julian Sands
Genre: Drama, Romance
Runtime: 111 minutes

No comments:

Post a Comment