Monday, December 24, 2012

Ordinary People: Badai (Tak) Pasti Berlalu

Setiap orang memiliki cara masing-masing dalam menghadapi masalah dalam hidup. Beberapa orang dengan berani menghadapi masalah tersebut tanpa rasa gentar. Mereka menyadari bahwa dalam proses penyelesaian masalah yang terpenting adalah kemauan untuk segera mengatasinya dan mencegah agar masalah tersebut tidak berlarut-larut. Orang-orang seperti ini biasanya menyadari bahwa dalam proses menghadapi permasalahan hidup, mereka mungkin akan menemukan diri mereka dalam keadaan berdarah-darah, tetapi mereka menatap lurus ke depan dan terus berjuang membenahi hidup. Tetapi tidak semua orang memiliki keberanian demikian. Sebagian orang memilih melarikan diri dari masalah itu dengan berbagai cara, seperti berpura-berpura tetap gembira dan megubur masalahnya dalam-dalam tanpa pernah ada niat untuk menyelesaikannya, bahkan untuk sekedar membicarakannya. Pada akhirnya, setiap masalah dalam kehidupan seseorang akan menentukan cerita hidup selanjutnya.

Dalam ranah perfilman, topik sentimental mengenai bagimana manusia menghadapi permasalahan dalam kehidupan telah sering diangkat dalam berbagai drama, tetapi hanya sedikit yang berhasil membawa topik tersebut menjadi kisah luar biasa tentang bagaimana manusia harus beradaptasi dengan masalahnya sebagaimana dikisahkan Ordinary People (1980). Ordinary People merupakan drama keluarga yang merupakan adaptasi dari novel buah pena Judith Guest dengan judul yang sama dan ditranskripsi oleh Alvin Sargent. Film ini mejadi debut penyutradaraan Robert Redford (Quiz Show, Butch Cassidy and the Sundance Kid), aktor yang dikenal sebagai penggagas Sundance Film Festival. Ketika mendengar genre drama keluarga, mungkin sebagian orang (termasuk saya) akan merasa bosan karena merasa drama keluarga sama saja seperti opera sabun yang tayang rutin setiap hari di televisi. Namun setelah menonton Ordinary People, saya berpendapat bahwa drama keluarga tidak selamanya buruk, terutama bagi yang berhasil menggambarkan bagaimana proses perkembangan karakter-karakternya di sepanjang film. Para kritikus pun tampaknya memberikan pujian kepada film ini, terbukti dengan diraihnya Best Picture dalam gelaran Oscar 1981.



***

Ordinary People menyoroti kehidupan keluarga Jarrett, sebuah keluarga berkecukupan yang baru kehilangan seorang anggota keluarga dalam sebuah kecelakaan, yaitu anak pertama keluarga tersebut, Buck. Segala hal yang terjadi selanjutnya setelah kepergian Buck bagaikan mimpi buruk bagi keluarga ini (seems like Buck was this family's sweetheart). Setiap orang dalam keluarga ini berjuang menghadapi kehilangan dengan cara mereka masing-masing. Namun, tak ada yang berbuat lebih tragis dari Conrad (Timothy Hutton), adik Buck yang dengan putus asa melakukan percobaan bunuh diri karena merasa bersalah atas kematian kakaknya. Conrad merasa Buck tewas karena dirinya melepaskan pegangan tangan sang kakak ketika perahu yang dinaiki mereka berdua terbalik di tengah badai. Conrad tak pernah melepaskan rasa bersalahnya itu hingga ia harus menjalani perawatan intensif selama empat bulan di rumah sakit psikiatris.

Namun perawatan medis dari rumah sakit tersebut justru menjadi zona nyaman bagi Conrad, hingga ia merasa tak siap menghadapi dunia luar rumah sakit yang baginya tak lagi sama seperti dulu. Bagi Conrad, segalanya telah berubah. Sekolah, teman-teman, bahkan teman dekat wanitanya tidak lagi menyenangkan Conrad. Baginya, hanya rumah sakit tempat ia bebas berbagi cerita, baik dengan para perawat maupun dengan sahabat dekatnya selama di rumah sakit, Karen (Dinah Manoff). Beruntung, di saat-saat Conrad hampir putus asa menghadapi kehidupan "normal", ia bertemu dengan Dr. Berger (Judd Hirsch). Sebagian besar alur cerita dalam film ini pun mengisahkan sesi-sesi konsultasi antara Conrad dan Dr. Berger. Dr. Berger berusaha sekuat tenaga membantu Conrad menemukan pencerahan, yang pada akhirnya berbuah manis. Conrad yang murung, gelisah, dan selalu merasa bersalah menjadi Conrad yang penuh pengertian, dapat menerima kenyataan, dan memiliki keinginan untuk memulai kehidupan yang lebih baik.

Di sisi lain, Beth (Mary Tyler Moore) ibu Buck dan Conrad, lebih memilih memendam rasa sedih akan kehilangan putra sulungnya dengan terus memasang wajah dan sikap ceria serta berusaha sedapat mungkin menjalani kehidupan normal. Ia pergi menonton teater komedi, ia aktif bersosialisasi dengan teman-temannya, ia menghadiri pesta ulang tahun kerabat, ia pergi bermain golf, ia merancang rencana berlibur ke luar negeri. Pada intinya, ia ingin semua orang tahu bahwa dirinya baik-baik saja dan ia berpendapat semua orang juga harus seperti dirinya, tetap ceria dan meninggalkan kenangan pahit di masa lalu. Karena itulah, Beth seringkali berseberangan dengan suaminya, Calvin (Donald Sutherland) yang selalu ingin memastikan segalanya baik-baik saja, mencoba membenahi semua kekacauan yang disebabkan kehilangan Buck, dan yang paling utama memerhatikan perkembangan Conrad. Bagi Calvin, setelah percobaan bunuh diri, Conrad memerlukan proses penyembuhan trauma lebih lanjut.

Di awal-awal film, saya mendapati ada sesuatu yang ganjil antara ketiga tokoh ini. Salah satu keganjilan tersebut adalah hubungan antara Beth dan Conrad, yang entah mengapa terasa seperti berjarak meski mereka adalah ibu dan anak. Beth tidak pernah bertanya pada Conrad bagaimana perasaan atau keadaannya setelah kematian Buck. Beth seakan tidak peduli bahwa Conrad memerlukan pertolongan untuk menyembuhkan jiwanya yang terluka, perasaan bersalahnya yang tak kunjung henti, dan tak pernah bisa memaafkan dirinya. Satu hal yang paling diperhatikan Beth adalah permasalahan keluarga tidak boleh dibicarakan dengan orang lain, ia sangat menjaga privasi keluarga pada level tertinggi. Ia tak peduli Conrad melakukan perbuatan baik atau buruk, yang terpenting adalah jangan sampai orang lain mengetahui kekurangan keluarganya. Di tengah jarak antara ibu dan anak, Calvin berdiri mengambil posisi yang serba plin-plan. Calvin adalah sosok yang penuh perhatian pada Conrad sejak kecelakaan dan percobaan bunuh diri dalam keluarganya. Ia senantisa menanyakan kabar Conrad, mengikuti perkembangan kesehatannya, dan selalu mencoba menyenangkan hati Conrad. Namun di saat-saat lain ia kerap mengikuti keinginan istrinya, seperti pergi berlibur di saat Conrad justru membutuhkan perhatian lebih serta berhenti membicarakan masalah keluarga dengan orang lain.

Di akhir cerita, karakter Calvin dan Beth merupakan dua karakter yang perkembangannya paling drastis, dramatis, sekaligus tragis. Calvin sadar bahwa ia tak bisa selamanya berdiam diri dan duduk termenung di atas pagar, terbelah antara keinginannya membereskan semua kekacauan dengan keinginan Beth untuk berhenti menatap masa lalu (meski ia tak bisa menjalani masa kini dan masa yang akan datang seperti sedia kala). Maka, Calvin pun memberanikan diri melompati pagar itu dengan mempertanyakan cinta Beth pada dirinya untuk pertama kali dalam kehidupan pernikahan mereka. Di sisi lain, Beth ternyata hanyalah sebutir telur yang rentan pecah jika tak dijaga dengan baik. Jiwa Beth trbelah antara kenangan akan masa lalu, ketidakberdayaan untuk memberikan cintanya pada suami dan anaknya yang masih hidup, serta ambisinya untuk selalu terlihat prima. Dua karakter ini akhirnya meletuskan konflik pamungkas di ujung cerita dan semua isi hati dan pikiran mereka tercermin dengan sangat jelas dalam dialog yang diucapkan Calvin berikut:

"We would have been all right if there hadn't been any mess. But you can't handle mess. You need everything neat and easy. I don't know. Maybe you can't love anybody. It was so much Buck. When Buck died, it was like you buried all your love with him, and I don't understand that, I just don't know, I don't... maybe it wasn't even Buck; maybe it was just you. Maybe, finally, it was the best of you that you buried. But whatever it was... I don't know who you are. I don't know what we've been playing at. So I was crying. Because I don't know if I love you any more. And I don't know what I'm going to do without that."

Kisah tragis keluarga Jarrett seolah menggambarkan bahwa dalam hidup ini ada kondisi atau hal-hal yang tidak bisa kita ubah, terutama bila hal itu berkaitan dengan pendirian seseorang. Permasalahan yang seharusnya dapat diatasi secara bersama-sama justru bisa menjadi penyebab tercerai-berainya rantai kekerabatan antara orang-orang yang menghadapi masalah tersebut. Seperti telah diungkapkan di atas, setiap orang memiliki cara masing-masing dalam menghadapi masalah, membuat masalah yang ibarat badai dalam kehidupan seolah tak pasti berlalu, berlawanan dengan lagu dari Almarhum Chrisye.

***

Dari segi casting, Sutherland dan Tyler Moore memberikan penampilan apik mereka dalam memerankan dua sosok orangtua yang memendam permasalahan masing-masing. Suteherland dengan raut wajah yang hampir selalu berkerut kebingungan ketika menghadapi istrinya dan khawatir ketika melihat putranyapatut diberi acungan jempol. Sutherland menguasai perasaan gamang terdalam seorang ayah sekaligus kecewa ketika menyadari bahwa istrinya tak sanggup memberikan cintanya lagi. Semua perasaan itu tercetak dalam setiap senyum getir dan getar suara yang diucapkan tokoh Calvin. Tyler Moore juga patut diberikan apresiasi atas perannya sebagai seorang istri sekaligus ibu yang tidak mampu dan tidak mau mengubah sudut pandang akan cinta dan pengabdian hidup pada keluarganya. Menurut saya, mata menjadi sarana utama Tyler Moore dalam memainkan karakternya. Mata Tyler Moore ikut bercerita pada penonton dan mengungkapkan perasaan tokoh Beth tanpa harus berkata-kata, seperti dalam scene terakhir antara Calvin dan Beth. Tak ketinggalan, aktor muda Timothy Hutton memberikan performa luar biasa dalam debut film besarnya ini. Hutton berhasil membawakan sosok fragile Conrad setiap kali berhadapan dengan ayah dan ibunya di meja makan, di kamar tidur, di halaman rumah. Hutton berhasil pula menenggelamkan dirinya dalam pribadi Conrad yang siap terbuka bahkan hingga meledakkan emosinya di hadapan Dr. Berger, dan menunjukkan sikap tentatif terhadap kekasihnya. Semua itu menjadikan anugerah Oscar untuk Hutton sebagai Best Supporting Actor terasa pas. Bahkan, bagi saya pribadi karakter Conrad yang diperankan Hutton adalah karakter utama, sebab dari sudut pandanya, cerita ini dikisahkan.

Namun satu hal yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah apakah anugerah Oscar untuk Ordinary People sebagai Best Picure tahun 1980 merupakan keputusan tepat (sebagai informasi Raging Bull digadang-gadang menjadi kandidat terkuat kategori ini)? Saya rasa tidak sepenuhnya tepat, sebab bagi saya sebuah Best Picture paling tidak harus memiliki ide cerita yang "relevan" di masa yang akan datang dalam arti sebuah Best Picture seharusnya memiliki kemampuan untuk mempertahankan opini penonton di masa yang akan datang. Meski saya sadari bahwa opini bersifat personal, setidaknya nilai-nilai dalam film itu tidak luntur di makan waktu. Bila Ordinary People ditonton pada social setting masa kini, maka isu keluarga disfungsional bukan lagi merupakan fenomena baru, karena bisa jadi isu tersebut sudah basi mengingat eksistensi keluarga (khususnya keluarga inti) mulai terancam dengan globalisasi dan modernisasi. Secara keselruhuan bagi saya pribadi, film peraih empat Oscar ini memang sebuah film bagus, tetapi tidak bisa disejajarkan dengan film-film besar lainnya yang hingga saat ini (dan di masa yang akan datang) layak diberi gelar Best Picture. It's 3.5 out of 5 stars. Bagaimana menurut Anda, ada komentar?

Watch this if you liked:

Director: Mike Nichols
Stars: Natalie Portman, Jude Law, Clive Owen
Genre: Drama, Romance
Runtime: 104 minutes

Ketika akhirnya Dan mengaku pada Alice dan Ann berkata terus terang pada Larry perihal perselingkuhan mereka, kedua pasangan ini dilanda gucangan hebat dan berakhir pada hancurnya masing-masing pasangan, dengan cara yang berbeda. Alice pergi meninggalkan Dan dan bekerja sebagai penari telanjang, sementara Ann berpisah dengan Larry...

American Beauty (1999)

Director: Sam Mendes
Stars: Kevin Spacey, Annette Bening, Thora Birch
Genre: Drama
Runtime: 122 minutes

5 comments:

  1. Setelah menonton film Ordinary People: Disatu sisi ada bagian yang rasanya membosankan(mungkin karena alur ceritanya yang lambat), tetapi di sisi lain ada bagian yang rasanya menusuk perasaan. Film ini sebaiknya ditonton secara personal saja, soalnya akan lebih mengena isi dan penyampaian dari film ini. Dan tidak salah juga dapat penghargaan Academy Awards karena ceritanya yang "extraordinary in ordinary" untuk sebuah drama keluarga. Rating 4/5

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saran yang bagus. Setiap film bila dinikmati secara personal dengan menggunakan perspektif dan kacamata kehidupan pribadi akan terasa lebih "mengena" dan mudah dipahami.

      Terima kasih atas kunjungan dan komentar Anda, @Fadly Hermawan. Keep visit and comment!

      Delete
  2. Subtitle indonesia nya dong mas yang ordinari people. Pleassseeeee.................??

    ReplyDelete
  3. setelah saya nonton film ini menurut saya bagus kok ,apalagi masing2 karakter mendalami perannya, terlebih beth (Mary Tyler Moore) sangat bagus mendalami peran Beth membuat saya sangat jengkel dengan karakter ini.dengan dipandu padankan dengan sifat penurut suaminya Calvin yang pada akhirnya harus mempunyai sikap menjadi kepala keluarga dan Conrad yang mempunyai emosi tidak stabil saya pikir saya mempunyai rating 4/5.Thanks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai @sautkeren
      Terima kasih atas komentarnya. Dalam pembahasan film ini, sepertinya perlu ditekankan bahwa saya tidak menganggap film ini buruk. Jika Anda membaca dari awal pembahasan di atas, saya mengatakan:

      "Dalam ranah perfilman, topik sentimental mengenai bagimana manusia menghadapi permasalahan dalam kehidupan telah sering diangkat dalam berbagai drama, tetapi hanya sedikit yang berhasil membawa topik tersebut menjadi kisah luar biasa tentang bagaimana manusia harus beradaptasi dengan masalahnya sebagaimana dikisahkan Ordinary People (1980)."

      Satu hal yang saya agak beratkan mengenai Ordinary People adalah keputusan AMPAS dalam memberikan anugerah Best Picture tahun 1981. Jika dilihat nominator lain pada tahun yang sama, masih banyak film-film yang menurut saya lebih "pas" mendapatkankan gelar Best Picture.

      Anyway, thank you for your visit and keep comment :)

      Delete