Sunday, December 30, 2012

Collateral: Fight Against The Lost Soul

Saya selalu percaya bahwa setiap manusia dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci, polos, dan tak berdosa. Tantangan, rintangan, godaan, dan khilaf di sepanjang perjalanan hiduplah yang dapat membelokkan kesucian manusia dan menciptakan jenis manusia lain yang sama sekali berbeda, manusia “jahat”. Bagi saya, orang-orang jahat itu adalah manusia yang kehilangan jiwa mereka, tersesat dalam gemerlap dunia fana. Mereka melihat suatu realitas dari sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang, sudut pandang tanpa jiwa dan hati nurani. Karena itulah bagi saya orang yang memiliki sifat jahat belum tentu dapat sepenuhnya dipesalahkan atas pebuatan mereka. Karakter penjahat seperti ini sangat dinamis dan dapat dieksplorasi lebih jauh lagi, sehingga banyak film thriller yang menciptakan karakter demikian, salah satunya dalam Collateral (2004).

Dalam Collateral, penulis naskah Stuart Beattie menciptakan karakter Vincent (Tom Cruise), seorang pembunuh bayaran yang menganggap pekerjaannya hanyalah pekerjaan biasa, sama seperti orang-orang lain yang bekerja untuk mencari nafkah. Ia tidak peduli siapa korbannya atau apa yang mereka lakukan hingga mereka menjadi target pembunuhan. Tanpa belas kasihan, ia hanya memikirkan bagaimana cara membunuh yang efisien dan efektif, menerima bayaran atas pekerjaannya, dan bersenang-senang setelahnya. Kali ini, ia dipekerjakan oleh Felix (Javier Bardem) seorang mafia narkotika yang menghadapi ancaman tuntutan kriminal. Pekerjaannya kali ini tidak bisa dianggap enteng, karena Vincent harus membunuh lima orang yang akan memberatkan Felix dalam satu malam saja. Semua target pembunuhan berada di Los Angeles, sebuah kota yang menurut Vincent sangat individualis.

Menuju lokasi target pertama, Vincent menumpang taksi yang dikemudikan oleh supir ramah dan komunikatif, Max (Jamie Foxx). Sebelum mengantarkan Vincent, Max mendapat seorang penumpang yang berprofesi sebagai jaksa penuntut dan akan bermalam di sebuah hotel untuk mempersiapkan tuntutan esok hari. Jaksa penuntut itu adalah Annie (Jada Pinkett Smith), yang ternyata memiliki kehidupan yang cukup padat sehingga dengan tulus Max menyarankan Annie untuk “berlibur”. Obrolan santai dengan Max yang baik hati membuat Annie tanpa segan memberikan kartu namanya pada Max. Setelahnya, barulah Max mengantarkan Vincent yang juga merasa betah berlama-lama menumpang taksi Max karena pengetahuannya yang luas seputar Los Angeles, keramahan, dan kebersihan taksinya. Akhirnya dengan iming-iming US$600, Max menerima tawaran Vincent untuk menyewa taksinya hingga ia selesai melakukan “perjalanan bisnis” di lima tempat berbeda di Los Angeles. Namun, malam itu ternyata bukanlah malam biasa bagi Max, supir taksi yang telah 12 tahun berada di belakang kemudi dengan impian membuka bisnis limusin, sebab karena kesalahan kecil, ia menjadi saksi dari “bisnis” Vincent ketika sesosok mayat terjun bebas dari sebuah apartemen tepat di atas taksinya.

Tercebur ke dalam lumpur hidup, Max menemukan dirinya terjebak di bawah todongan pistol Vincent, pembunuh maniak yang bisa melakukan apa saja jika Max berani melawan. Maka, dimulailah petualangan dua orang yang baru saja bertemu, sama sekali asing mengarungi gemerlap malam kota individualis Los Angeles. Namun, mengikuti cara bekerja waktu, pada setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Begitu juga petualangan Vincent dan Max yang harus berakhir dengan getir, menutup perjumpaan dua orang asing yang mengabiskan gelapnya malam bersama.

Collateral bukanlah film criminal thriller biasa. Ada banyak ide dan tema yang dieksplor disini, terutama dari segi kepribadian dua tokoh utama, Max dan Vincent. Tokoh Max, misalnya mencerminkan realitas bahwa impian dan cita-cita dapat tergerus oleh waktu dan pemikiran si empunya impian dan cita-cita tersebut. Max, seorang supir taksi yang selalu dengan bangga mengatakan bahwa menjadi supir taksi hanyalah pekerjaans ementara, sebagai uapayanya mengumpulkan modal untuk membuka bisnis limusin. Max tidak menyadari bahwa apa yang ia sebut sementara itu kini telah berjalan selama 12 tahun, dan ia tidak tahu apakah ia memiliki keberanian memulai usaha limusin itu suatu hari nanti. Dengan satu kalimat yang menyentak Vincent menyadarkan Max, “Someday my dream will come. One night you'll wake up and you'll discover it never happened. It's all turned around on you and it never will. Suddenly you are old, didn't happened and it never will, 'cause you were never going to do it anyway.” Sementara itu Vincent adalah orang yang memiliki masa kecil yang memprihatinkan. Berkali-kali berganti orang tua asuh dan kembali ke orang ayah kandung yang tidak memiliki hubungan baik dengannya membuat Vincent jauh dari sentuhan kasih sayang dan sentuhan manusiawi orang-orang di sekitarnya.

Menggunakan struktur cerita tiga babak, sutradara berbakat Michael Mann (The Insider, The Aviator) fokus menceritakan hubungan dua orang yang dipertemukan secara kebetulan dan melakukan “petualangan” bersama di belantara hutan beton Los Angeles dalam satu malam penuh, dari awal hingga akhir cerita tanpa selingan berarti. Sehingga meskipun berbagai plot umum criminal thriller ada di sini, tetapi Mann tidak ingin membuang-buang waktu terlalu banyak untuk melanjutkan plot tersebut. Misalnya ketika polisi mulai terlibat dalam aksi Vincent dan Max yang tidak hanya membunuh tetapi juga ugal-ugalan di jalan, Mann sedapat mungkin memainkan karakter Max menjadi tokoh yang tidak lagi pasrah dan ingin menyerahkan kasus itu ke polisi, melainkan ingin mencegah target pembunuhan terakhir Vincent dengan tangannya sendiri.

Sepanjang film, Mann menunjukkan kemampuannya dalam mengolah dan menjaga tensi dan intrik bahkan daalam adegan atau momen-momen yang paling tenang sekalipun. Misalnya dalam scene di mana Vincent memaksa Max menjaga keteraturan rutinitasnya dengan mengunjungi ibunya, Ida (Irma P. Hall). Max yang menerima perintah itu dengan berat hati ternyata memiliki keberanian ketika urusan pribadinya dengan sang ibu diusik oleh orang asing semacam Vincent dan membuat adegan itu manis sekaligus menegangkan. Penonton tidak pernah tahu apa yang Vincent mampu dan akan perbuat pada Max akibat keberaniannya itu.

Beberapa adegan umum yang ditemukan dalam Collateral tentu saja adalah pertemuan klasik antara polisi, tokoh protagonis yang berada di bawah ancaman, dan tokoh antagonis yang dapat berbaut apa saja. Dalam adegan di mana taksi Max diberhentikan oleh dua orang polisi patroli yang mencurigai kaca depannya yang pecah, Max berpura-pura tenang dan memeras otaknya untuk menciptakan cerita karanga yang masuk akal. Vincent yang bersiap-siap dengan pistol di genggaman tangannya, waspada jika dua polisi itu berbuat macam-macam juga melengkapi daftar adegan pasaran yang data ditemukan di sini. Lucunya, adegan ini ditutup dengan kebetulan (dan keberuntungan) yang selalu menghampiri Max malam itu di mana dua polisi itu menerima panggilan dinas lain yang lebih penting sehingga Max dan Vincent terbebas situasi yang mengancam.

Berlawanan dengan scene pasaran di atas, Mann memamerkan kepiawaiannya dalam menyuguhkan adegan sederhana namun menawan pada pembuka cerita. Pertemuan antara Annie dan Max dibawakan dengan sangat expert, natural, dan memesona hingga jika kita memotong adegan ini, kita bisa mendapatkan satu film pendek bagus dengan sedikit tambahan twist di akhirnya. Obrolan Annie dan Max yang berawal agak canggung berubah perlahan-lahan menjadi percakapan yang catchy, connected, dan intens. Tidak banyak criminal thriller yang dibuka dengan percakapan yang sama sekali bukan basa-basi sebagaimaana biasa ditemukan dalam film sejenis, melainkan percakapan yang penuh dengan makna kehidupan.

Dalam adegan pembuka tersebut, Jada Pinkett Smith menjadi primadona. Meskipun hanya tampil pada sepuluh menit awal dan akhir cerita, menunjukkan performa dinamitnya sebagai Annie yang di awal cerita saja sudah meninggalkan impresi mendalam. Sebagai seorang jaksa penuntut yang hebat, ternyata ia kiga memiliki kesamaan dengan orang lain: takut memulai sesuatu sebelum mencoba, namun sekali berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan sunguh-sungguh, semua berjalan lancar. Tokoh Annie dibawakan dengan elegan dan charming, hingga bertahan di kepala setiap penonton selama cerita berjalan.

Tom Cruise juga patut mendapat pujian karena ia hampir selalu mengambil peran-peran protagonis, sedangkan dalam Collateral, ia menjadi Vincent, si pembunuh bayaran yang tidak memiliki belas kasih, mementingkan kepentingan sendiri, dan menganggap pekerjaannya normal. Ia membawakan karakter tersebut tepat seperti itu tanpa tambahan sentimen apapun yang membuatnya tampak seperti sosok yang berani menantang apapun, termasuk melawan hukum. Semua itu ia lakukan karena jiwanya yang tersesat, jiwa dingin yang tumbuh dari masa kecil yang suram.

Peran yang cukup baru tidak hanya didalami Tom Cruise, tetapi juga Jamie Foxx, sebab sebelum Collateral, ia lebih dikenal sebagai actor yang berorientasi komedi, sehingga pemilihan Foxx untuk karakter Max banyak menimbulkan pertanyaan sebelumnya. Namun, setelah film berjalan selama lima menit, penonton dapat membuktikan bahwa Foxx tidak dapat dipandnag sebelah mata karena ia memiliki versatilitas yang mumpuni. Sebagai Max, Foxx mampu mencitakan obrolan yang dinamis dengan tokoh Annie, mampu menunjukkan ketakutan dan ketidakberdayaan di hadapan Vincent, mampu memendam kekecewaan ketika usaha kaburnya berkali-kali digagalkan, dan mampu mengumpulkan keberanian di akhir cerita. Semua itu menjadikan nominasi Oscar dalam kategori Best Actor in a Supproting Role pantas dialamatkan padanya.

Sementara itu, peran-peran minor lain seperti Mark Ruffalo, Peter Berg, dan Bruce McGill sebenarnya bisa dihilangkan tanpa menrusak keseluruhan alur film, karena karakter mereka tidak berkembang dan tidak memiliki pengaruh berarti pada jalan cerita Max dan Vincent. Dengan dihilangkannya peran-peran tersebut, durasi film dapat dihemat hingga 20 menit tanpa cacat apapun dari segi alur cerita.

Dari segi sinematografi, dua kru sinematografer Dion Beebe dan Paul Cameron menghasilkan pekerjaan apik dengan membuat nuansa biru dalam adegan-adegan di dalam taksi dan yang paling saya salutkan adalah mereka berani keluar jalur umum bermain dengan kegelapan yang sesungguhnya pada adegan-adegan akhir film. Padahal, biasanya banyak sineas yang memilih menggunakan kegelapan semu dengan meenyorot cahaya temaram ke wajah akor. Suasana gelap gulita itu pada akhirnya akan menambah tensi adegan tersebut. Tata kamera dalam Collateral juga menambah pengalaman menonton semakin menegangkan. Untuk adegan-adegan di luar ruangan, Mann memilih menggunakan kamera digital High Definition (HD) yang membuat adegan tersebut somehow looks like documentary dan menghasilkan suasana malam kota yang detail. Di beberapa adegan lain, Mann mengganti kamera digital biasa, dn di adegan lainnya ia menggunakan kamera 35mm.

Terakhir, struktur tiga babak yang dikembangkan dalam Collateral senarnya menarik diikuti dengan tensi yang mampu membuat penonton gelisah di kursinya, tetapi twiat yang dipersembahkan diakhir justru terkesan biasa dan menghancurkan pengembangan cerita di awal dan pertengahan film. Dengan pengembangan cerita yang baik, seharusnya Collateral sangat pantas mendapatkan penutup yang keluar dari jalur utama. By the way, it’s amazing to see, 3.5 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:

Director: Neil Jordans
Stars: Jodie Foster, Terrence Howard, Naveen Andrews
Genre: Drama, Thriller
Runtime: 122 minutes

Dengan keberanian yang dipaksakan, Erica memutuskan turun tangan mencari keadilan. Tetapi bukan sembarang keadilan yang dicarinya. Erica bukan hanya ingin mencari keadilan untuk dirinya sendiri, ia ingin setiap orang di kotanya tercinta, The Big Apple, mendapat keadilan juga. Ia ingin tak ada lagi orang-orang bejat berkeliaran bebas di jalanan menggentayangi masyarakat...

Léon: The Professional (1994)

Director: Luc Besson
Stars: Jean Reno, Gary Oldman, Natalie Portman
Genre: Drama, Thriller
Runtime: 110 minutes

Thursday, December 27, 2012

What's Eating Gilbert Grape?: How Much Sacrifice Does Family Demand?

Setiap orang memiliki keinginan atau impian untuk menjadi atau melakukan sesuatu. Ya, setiap orang tanpa terkecuali, dari bayi yang baru lahir hingga lansia yang menunggu ajal memiliki keinginan pribadi. Sudah menjadi sifat dasar mausia yang tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki. Ketika satu keinginan terwujud, timbul keinginan lain, dan yang lainnya lagi, begitu seterusnya. Andai saja manusia memiliki semua sumber daya untuk mengabulkan semua keinginannya, maka tidak akan ada orang yang sedih di dunia ini. Sayangnya, kenyataan mengatakan lain. Keinginan dan impian setiap orang kadang kala memang terbentur dengan situasi dan kondisi lingkungan sekitar, termasuk keluarga. Ketika masih kecil, keluarga selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Keluarga memberikan perhatian, limpahan materi, dan pendidikan bagi setiap anggotanya. Namun, ketika beranjak dewasa, pada umumnya seseorang memiliki keinginan dan impian yang harus dicapainya sendiri dengan merasakan berbagai pengalaman baru. Maka, posisi keluarga mulai bergeser perlahan demi perlahan. Namun kembali lagi, semua itu akan tergantung pada situasi dan kondisi yang ada. Apa yang akan Anda lakukan ketika beranjak dewasa (dan semua orang tahu inilah saatnya mencicipi manis getirnya dunia), tetapi keluarga membutuhkan kehadiran dan bantuan Anda? Apakah Anda akan membantu keluarga atau memilih kepentingan pribadi? Pilihan hidup yang berat seperti itu menjadi tema utama dalam What's Eating Gilbert Grape (1993).

Bagi Gilbert Grape (Johnny Depp), dengan berat hati ia memilih untuk tetap tinggal bersama keluarganya di sebuah kota kecil dan sunyi, Endora. Seperti yang ia deskripsikan di awal-awal film, "It's a town where nothing much ever happens, and nothing much ever will..." Tetapi ia tak punya pilihan lain. Ia tetap bertahan tinggal di kota itu karena keluarganya membutuhkan seorang pencari nafkah, pelindung keluarga, penjaga adik, dan sebagai pengganti kehadiran sosok ayah. Keluarga Gilbert memang bukanlah keluarga yang memiliki segalanya. Keluarga ini menyimpan satu kisah pilu ketika sang kepala keluarga ditemukan tewas gantung diri di ruang bawah tanah. Setiap anggota keluarga Grape dirundung duka akibat peristiwa itu, tetapi tampaknya beban terberat harus dipikul oleh sang ibu, Bonnie (Darlene Cates). Beban berat mengidupi lima anak, ditambah anak terakhirnya Arnie (Leonardo DiCaprio) menderita gangguan mental (dan fisik sepertinya) membuat Bonnie putus asa dan menemukan pelarian dari hidupnya pada makanan hingga ia berubah dari wanita cantik menjadi wanita obesitas yang menjadi lelucon kota kecil itu. Maka, Gilbert kemudian tumbuh menjadi pria dewasa yang penuh tanggung jawab, meski seringkali ia merasakan titik terjenuh menghadapi keluarganya. Ia sayang ibunya, dua adik perempuannya Amy (Laura Harrington) dan Ellen (Mary Kate Schellhardt), dan tentu Arnie. Namun, terkadang ia kesal pada Bonnie yang selalu membela Arnie tanpa mau tahu keinginannya, pada Ellen yang selalu membantahnya, atau pada Arnie yang karena kepolosannya selalu merepotkan. Gilbert seolah mempertanyakan how much sacrifice does family demand?

Hari-hari Gilbert dihabiskan dengan mengurus Arnie dan bekerja di Lamson's Grocery, sebuah tempat belanja yang mulai ditinggalkan pelanggannya. Dalam setiap kegiatan Gilbert, Arnie selalu ikut sehingga mereka dua menjadi sangat dekat. Ada satu ritual tahunan yang mereka berdua lakukan, yaitu menunggu di pinggir jalan masuk kota dan melihat iringan kendaraan para pengelana yang melewati Endora atau singgah sejenak di kota kecil itu. Salah satu pengelana yang singgah itu adalah Becky (Juliette Lewis). Gadis inilah yang memikat hati Gilbert dan membuatnya sedih ketika Becky akan pergi melanjutkan perjalanannya. Sebelumnya, ia tak pernah merasakan cinta yang benar-benar tulus karena ia hanya pernah menjalin hubungan gelap dengan istri seorang pengusaha asuransi, Betty Carver (Mary Steenburgen). Gilbert hanya menginginkan kesenangan dari Betty, bukan cinta. Ia pun sering merasa takut jika hubungan gelapnya itu diketahui oleh Mr. Carver (Kevin Tighe), salah satu orang berpengaruh di kota kecil itu. Gilbert menjalani kehidupannya tanpa tujuan, sebab yang ia tahu hanyalah ia harus mengurus keluarganya. Ia tidak memiliki cita-cita atau masa depan yang berlebihan. Ketika Becky menanyakan apa yang diinginkan Gilbert, dengan sederhana Gilbert hanya menginginkan dirinya menjadi orang yang lebih baik.

Hidup menjadi sangat berat dan rumit bagi Gilbert ketika kewajibannya sebagai anak, kakak, pencari nafkah, dan pengganti ayah berbenturan dengan keinginannya mengikuti jejak gadis terkasihnya, Becky untuk pergi berkelana. Ada rasa iri di dalam hati Gilbert pada Becky. Semua itu masih harus ditambah dengan masalah ibunya, yang selalu menjadi olok-olok warga hingga ia tak mau keluar rumah dan menemui orang lain selama tujuh tahun terakhir. Bahkan, Bonnie sempat ragu mengabulkan permintaan Gilbert yang ingin memperkenalkan Becky sebagai kekasihnya.

Di awal-awal film, Gilbert digambarkan sebagai sosok yang pasrah dan menerima keadaan hidupnya. Ia membiarkan dirinya terbawa dalam jerat cinta terlarang dengan Betty meski hubungan itu berisiko. Gilbert dengan susah payah menjaga Arnie agar tidak membuat keonaran. Ia membiarkan Bonnie menjadi bahan tertawaan warga sekitar dan anak-anak yang penasaran melihat ukuran tubuh seorang wanita obesitas. Gilbert bahkan bersikap dingin ketika Becky akan pergi meninggalkan Endora. Namun sebuah titik balik mnghampirinya ketika Bonnie berbicara dari hati ke hati dengan Gilbert betapa merepotkan dirinya, betapa memalukan dirinya, dan betapa ia membutuhkan Gilbert. Bagaikan pecut, kata-kata Bonnie itu menyadarkannya untuk selalu menjaga dan merawat keluarganya. Ia tak ingin menjadi seperti ayahnya yang menghilang dan tiba-tiba ditemukan tewas gantung diri karena ia ingin selalu ada untuk keluarganya. Akhirnya, apa yang tersirat dari judul film ini, pun terkuak, yaitu bahwa Gilbert membutuhkan cinta yang dapat mengubah sudut pandangnya bahwa dirinya memerlukan perubahan, menatap masa depan, dan memasang cita-cita demi mencapai kebahagiaan.

Sutradara Lasse Hallström (Chocolat, The Cider House Rules) menggambarkan kehidupan keluarga Grape terkotak-kotak dan berpola. Bonnie sebagai ibu rumah tangga yang hanya bisa duduk di ruang televisi karena bobotnya tak memungkinkan untuk banyak bergerak. Sudah bertahun-tahun Bonnie hanyak tinggal di rumah, tidak mau keluar dan menemui orang karena ia malu dan takut diejek. Ia selalu mengulang kata "disappear", sebuah kata yang menimbulkan efek traumatis, karena suaminya menghilang sebelum ditemukan gantung diri. Anak-anak Bonnie juga memiliki pola mereka masing-masing: Amy mengurus kebutuhan rumah tangga, Gilbert dan Ellen mengurus Arnie, Gilbert mencari nafkah dan mengurus perbaikan-perbaikan rumah tua mereka. Aktivitas keluarga Grape pun digambarkan berulang-ulang, mulai dari Arnie yang berkali-kali memanjat menara air kota dan menimbulkan kehebohan di tengah kota yang langka akan hiburan tersebut, Amy dan Ellen bersama-sama menggotong meja makan ke ruang televisi setiap keluarga ini akan makan malam, dan Gilbert yang berkali-kali mengantarkan pesanan belanja pelanggan Lamson's Grocery.

Sementara itu, dari segi tata kamera, Hallström beberapa kali mengambil gambar dari kejauhan, seperti saat Mr. Carver mengomeli kedua putranya sementara istrinya Betty menyatakan cinta pada Gilbert serta pada saat Arnie berlari menyeruak dari dalam ruma ke luar sambil menangis setelah melihat Bonnie yang meninggal. Pengambilan gambar dari jauh tersebut menimbulkan efek dramatis yang jauh lebih dalam, sebab penonton dapat melihat kondisi sekitar dengan lebih luas dan mengetahui setiap perilaku tokoh yang tertangkap kamera.

Namun, Hallström kemudian memmecahkan segala keteraturan dan pengulangan tersebut dengan cinta. Cinta, seperti biasa, selalu menjadi katalis kebekuan dan kekakuan. Setelah Gilbert memperkenalkan Becky pada Bonnie, Bonnie dengan berani mencoba menaiki tangga dan berbaring di kamarnya sendiri, meninggalkan kebiasaannya yang tak mau pindah dari depan televisi (tentunya juga meninggalkan kebiasaan memindahkan meja makan). Ketika Betty melihat Gilbert menemukan tambatan hati pada Becky, ia merelakan Gilbert dan pindah ke luar kota, membuat Gilbert berhenti mengantarkan pesanan belanja ke keluarga Carver, dan ketika Bonnie tanpa gentar berjuang membebaskan Arnie yang ditahan setelah memanjat menara air kota, Arnie berhenti melakukan kebiasaan buruknya itu. Hallström tak hanya memecahkan semua bentuk pola tetap di awal-awal film, tetapi ia bahkan membuat motif kontras pada jalan cerita setelah Gilbert menyadari bahwa cintanya pada Becky telah mengubah hidupnya. Motif kontras itu terlihat ketika Endora, kota kecil itu yang mulai menampakkan perubahan dengan hadirnya franchise Burger Barn yang menandakan geliat bisnis besar akan segera dimulai. Selain itu motif kontras juga dapat ditemukan ketika setelah perayaan ulang tahun Arnie ke-18 yang penuh suka cita, Bonnie ditemukan meninggal, membuat keluarga Grape merasakan kesedihan mendalam.

Dari segi akting, tak diragukan lagi pujian pertama pasti akan meluncur pada DiCaprio yang membuat penampilan jenius dalam debut film besarnya ini. Ia membawakan karakter Arnie yang mengalami keterbelakangan mental dengan sangat detil, mulai dari cara bicara, tersentum, tertawa, menangis, teriak, dan berjalan. DiCaprio dengan meyakinkan melipat bibirnya dan mencondongkan kepalanya ke atas atau ke samping ketika berbicara, membuat tokoh Arnie terlihat kesulitan berbicara. Ia juga menekuk pergelangan tangannya, memainkan jari, serta memainkan pitch suaranya ketika berteriak dan berbicara. Semua itu menjadikan penampilan yang memukau dan perkenalan brilian DiCaprio pada dunia. Untuk penampilannya ini, nominasi Oscar sebagai Best Supporting Actor memang sangat pantas diberikan. Mungkin banyak orang akan mengatakan pertama kali mengenal DiCaprio sebagai pria super romantis yang benasib tragis di kapal Titanic, tetapi saya mengenalnya pertama kali sebagai orang terbelakang hahaha... Dan bagi Anda yang ingin melihat Johnny Depp memerankan tokoh pria biasa tanpa makeup tebal, perilaku aneh, atau gaya bicara konyol, Anda bia melihatnya dalam film yang diadaptasi dari novel Peter Hedges ini sebagai pria biasa yang berpikir bahwa dirinya tidak memiliki masa depan, tetapi cinta mengubah pikirannya tersebut, sebuah penampilan yang cukup baik dari Depp.

Sinematografi film ini menurut saya juga memiliki kekuatan dalam mendukung keseluruhan jalan cerita. Dengan banyak memberikan pemandangan Kota Endora yang penuh dengan ladang (ooohhh have I told you how much I love fields?) yang luas, lahan pertanian yang menguning, danau dan yang paling utama: sunset yang berwarna jingga dan berkilauan, terlihat sangat indah dan menambah "rasa" ketika Gilbert menikmati sunset tersebut bersama Becky (scene ini menjadi favorit saya dalam film ini). Kondisi mendung juga digambarkan secara apik, apalagi ketika dikontraskan dengan adegan rumah yang terbakar, kemudia warna merah bara api terpantul di wajah-wajah Gilbert, Amy, Arnie, dan Ellen.

All in all, bagi saya What's Eating Gilbert Grape bukanlah sebuah film yang dapat dideskripsikan dengan satu kata atau bahkan satu kalimat, membuat saya berpikir bahwa film ini bukanlah film yang mudah untuk dijual, karena umumnya orang ingin menonton sesuatu yang dapat dengan mudah dideskripsikan garis besar cerita maupun nilai-nilai di dalamnya. Maka, tak heran jika film berdurasi 118 menit ini hanya mendapatkan US$10 juta (domestik AS) dari US$11 juta budget yang dikeluarkan. Namun, terkadang film yang bagus memang demikian, terlihat babak belur dari segi komersial, tetapi dari segi cerita sebenarnya memiliki kekuatan karena mengangkat kehidupan sehari-hari, yang mungkin ketika penonton usai menyaksikannya akan menyadari beberapa kejadian nyata dari cerita itu. Kemampuan Lasse Hallström dalam memadukan cerita seperti itu dan dipadukan dengan drama, romansa, dan bahkan komedi menjadikan What's Eating Gilbert Grape film yang tak mudah dilupakan. It's great, 4 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:
Forrest Gump (1994)

Director: Robert Zemeckis
Stars: Tom Hanks, Robin Wright, Gary Sinise
Genre: Drama, Romance
Runtime: 142 minutes

Leaving Las Vegas (1995)

Director: Mike Figgis
Stars: Nicolas Cage, Elisabeth Shue, Julian Sands
Genre: Drama, Romance
Runtime: 111 minutes

Monday, December 24, 2012

Ordinary People: Badai (Tak) Pasti Berlalu

Setiap orang memiliki cara masing-masing dalam menghadapi masalah dalam hidup. Beberapa orang dengan berani menghadapi masalah tersebut tanpa rasa gentar. Mereka menyadari bahwa dalam proses penyelesaian masalah yang terpenting adalah kemauan untuk segera mengatasinya dan mencegah agar masalah tersebut tidak berlarut-larut. Orang-orang seperti ini biasanya menyadari bahwa dalam proses menghadapi permasalahan hidup, mereka mungkin akan menemukan diri mereka dalam keadaan berdarah-darah, tetapi mereka menatap lurus ke depan dan terus berjuang membenahi hidup. Tetapi tidak semua orang memiliki keberanian demikian. Sebagian orang memilih melarikan diri dari masalah itu dengan berbagai cara, seperti berpura-berpura tetap gembira dan megubur masalahnya dalam-dalam tanpa pernah ada niat untuk menyelesaikannya, bahkan untuk sekedar membicarakannya. Pada akhirnya, setiap masalah dalam kehidupan seseorang akan menentukan cerita hidup selanjutnya.

Dalam ranah perfilman, topik sentimental mengenai bagimana manusia menghadapi permasalahan dalam kehidupan telah sering diangkat dalam berbagai drama, tetapi hanya sedikit yang berhasil membawa topik tersebut menjadi kisah luar biasa tentang bagaimana manusia harus beradaptasi dengan masalahnya sebagaimana dikisahkan Ordinary People (1980). Ordinary People merupakan drama keluarga yang merupakan adaptasi dari novel buah pena Judith Guest dengan judul yang sama dan ditranskripsi oleh Alvin Sargent. Film ini mejadi debut penyutradaraan Robert Redford (Quiz Show, Butch Cassidy and the Sundance Kid), aktor yang dikenal sebagai penggagas Sundance Film Festival. Ketika mendengar genre drama keluarga, mungkin sebagian orang (termasuk saya) akan merasa bosan karena merasa drama keluarga sama saja seperti opera sabun yang tayang rutin setiap hari di televisi. Namun setelah menonton Ordinary People, saya berpendapat bahwa drama keluarga tidak selamanya buruk, terutama bagi yang berhasil menggambarkan bagaimana proses perkembangan karakter-karakternya di sepanjang film. Para kritikus pun tampaknya memberikan pujian kepada film ini, terbukti dengan diraihnya Best Picture dalam gelaran Oscar 1981.



***

Ordinary People menyoroti kehidupan keluarga Jarrett, sebuah keluarga berkecukupan yang baru kehilangan seorang anggota keluarga dalam sebuah kecelakaan, yaitu anak pertama keluarga tersebut, Buck. Segala hal yang terjadi selanjutnya setelah kepergian Buck bagaikan mimpi buruk bagi keluarga ini (seems like Buck was this family's sweetheart). Setiap orang dalam keluarga ini berjuang menghadapi kehilangan dengan cara mereka masing-masing. Namun, tak ada yang berbuat lebih tragis dari Conrad (Timothy Hutton), adik Buck yang dengan putus asa melakukan percobaan bunuh diri karena merasa bersalah atas kematian kakaknya. Conrad merasa Buck tewas karena dirinya melepaskan pegangan tangan sang kakak ketika perahu yang dinaiki mereka berdua terbalik di tengah badai. Conrad tak pernah melepaskan rasa bersalahnya itu hingga ia harus menjalani perawatan intensif selama empat bulan di rumah sakit psikiatris.

Namun perawatan medis dari rumah sakit tersebut justru menjadi zona nyaman bagi Conrad, hingga ia merasa tak siap menghadapi dunia luar rumah sakit yang baginya tak lagi sama seperti dulu. Bagi Conrad, segalanya telah berubah. Sekolah, teman-teman, bahkan teman dekat wanitanya tidak lagi menyenangkan Conrad. Baginya, hanya rumah sakit tempat ia bebas berbagi cerita, baik dengan para perawat maupun dengan sahabat dekatnya selama di rumah sakit, Karen (Dinah Manoff). Beruntung, di saat-saat Conrad hampir putus asa menghadapi kehidupan "normal", ia bertemu dengan Dr. Berger (Judd Hirsch). Sebagian besar alur cerita dalam film ini pun mengisahkan sesi-sesi konsultasi antara Conrad dan Dr. Berger. Dr. Berger berusaha sekuat tenaga membantu Conrad menemukan pencerahan, yang pada akhirnya berbuah manis. Conrad yang murung, gelisah, dan selalu merasa bersalah menjadi Conrad yang penuh pengertian, dapat menerima kenyataan, dan memiliki keinginan untuk memulai kehidupan yang lebih baik.

Di sisi lain, Beth (Mary Tyler Moore) ibu Buck dan Conrad, lebih memilih memendam rasa sedih akan kehilangan putra sulungnya dengan terus memasang wajah dan sikap ceria serta berusaha sedapat mungkin menjalani kehidupan normal. Ia pergi menonton teater komedi, ia aktif bersosialisasi dengan teman-temannya, ia menghadiri pesta ulang tahun kerabat, ia pergi bermain golf, ia merancang rencana berlibur ke luar negeri. Pada intinya, ia ingin semua orang tahu bahwa dirinya baik-baik saja dan ia berpendapat semua orang juga harus seperti dirinya, tetap ceria dan meninggalkan kenangan pahit di masa lalu. Karena itulah, Beth seringkali berseberangan dengan suaminya, Calvin (Donald Sutherland) yang selalu ingin memastikan segalanya baik-baik saja, mencoba membenahi semua kekacauan yang disebabkan kehilangan Buck, dan yang paling utama memerhatikan perkembangan Conrad. Bagi Calvin, setelah percobaan bunuh diri, Conrad memerlukan proses penyembuhan trauma lebih lanjut.

Di awal-awal film, saya mendapati ada sesuatu yang ganjil antara ketiga tokoh ini. Salah satu keganjilan tersebut adalah hubungan antara Beth dan Conrad, yang entah mengapa terasa seperti berjarak meski mereka adalah ibu dan anak. Beth tidak pernah bertanya pada Conrad bagaimana perasaan atau keadaannya setelah kematian Buck. Beth seakan tidak peduli bahwa Conrad memerlukan pertolongan untuk menyembuhkan jiwanya yang terluka, perasaan bersalahnya yang tak kunjung henti, dan tak pernah bisa memaafkan dirinya. Satu hal yang paling diperhatikan Beth adalah permasalahan keluarga tidak boleh dibicarakan dengan orang lain, ia sangat menjaga privasi keluarga pada level tertinggi. Ia tak peduli Conrad melakukan perbuatan baik atau buruk, yang terpenting adalah jangan sampai orang lain mengetahui kekurangan keluarganya. Di tengah jarak antara ibu dan anak, Calvin berdiri mengambil posisi yang serba plin-plan. Calvin adalah sosok yang penuh perhatian pada Conrad sejak kecelakaan dan percobaan bunuh diri dalam keluarganya. Ia senantisa menanyakan kabar Conrad, mengikuti perkembangan kesehatannya, dan selalu mencoba menyenangkan hati Conrad. Namun di saat-saat lain ia kerap mengikuti keinginan istrinya, seperti pergi berlibur di saat Conrad justru membutuhkan perhatian lebih serta berhenti membicarakan masalah keluarga dengan orang lain.

Di akhir cerita, karakter Calvin dan Beth merupakan dua karakter yang perkembangannya paling drastis, dramatis, sekaligus tragis. Calvin sadar bahwa ia tak bisa selamanya berdiam diri dan duduk termenung di atas pagar, terbelah antara keinginannya membereskan semua kekacauan dengan keinginan Beth untuk berhenti menatap masa lalu (meski ia tak bisa menjalani masa kini dan masa yang akan datang seperti sedia kala). Maka, Calvin pun memberanikan diri melompati pagar itu dengan mempertanyakan cinta Beth pada dirinya untuk pertama kali dalam kehidupan pernikahan mereka. Di sisi lain, Beth ternyata hanyalah sebutir telur yang rentan pecah jika tak dijaga dengan baik. Jiwa Beth trbelah antara kenangan akan masa lalu, ketidakberdayaan untuk memberikan cintanya pada suami dan anaknya yang masih hidup, serta ambisinya untuk selalu terlihat prima. Dua karakter ini akhirnya meletuskan konflik pamungkas di ujung cerita dan semua isi hati dan pikiran mereka tercermin dengan sangat jelas dalam dialog yang diucapkan Calvin berikut:

"We would have been all right if there hadn't been any mess. But you can't handle mess. You need everything neat and easy. I don't know. Maybe you can't love anybody. It was so much Buck. When Buck died, it was like you buried all your love with him, and I don't understand that, I just don't know, I don't... maybe it wasn't even Buck; maybe it was just you. Maybe, finally, it was the best of you that you buried. But whatever it was... I don't know who you are. I don't know what we've been playing at. So I was crying. Because I don't know if I love you any more. And I don't know what I'm going to do without that."

Kisah tragis keluarga Jarrett seolah menggambarkan bahwa dalam hidup ini ada kondisi atau hal-hal yang tidak bisa kita ubah, terutama bila hal itu berkaitan dengan pendirian seseorang. Permasalahan yang seharusnya dapat diatasi secara bersama-sama justru bisa menjadi penyebab tercerai-berainya rantai kekerabatan antara orang-orang yang menghadapi masalah tersebut. Seperti telah diungkapkan di atas, setiap orang memiliki cara masing-masing dalam menghadapi masalah, membuat masalah yang ibarat badai dalam kehidupan seolah tak pasti berlalu, berlawanan dengan lagu dari Almarhum Chrisye.

***

Dari segi casting, Sutherland dan Tyler Moore memberikan penampilan apik mereka dalam memerankan dua sosok orangtua yang memendam permasalahan masing-masing. Suteherland dengan raut wajah yang hampir selalu berkerut kebingungan ketika menghadapi istrinya dan khawatir ketika melihat putranyapatut diberi acungan jempol. Sutherland menguasai perasaan gamang terdalam seorang ayah sekaligus kecewa ketika menyadari bahwa istrinya tak sanggup memberikan cintanya lagi. Semua perasaan itu tercetak dalam setiap senyum getir dan getar suara yang diucapkan tokoh Calvin. Tyler Moore juga patut diberikan apresiasi atas perannya sebagai seorang istri sekaligus ibu yang tidak mampu dan tidak mau mengubah sudut pandang akan cinta dan pengabdian hidup pada keluarganya. Menurut saya, mata menjadi sarana utama Tyler Moore dalam memainkan karakternya. Mata Tyler Moore ikut bercerita pada penonton dan mengungkapkan perasaan tokoh Beth tanpa harus berkata-kata, seperti dalam scene terakhir antara Calvin dan Beth. Tak ketinggalan, aktor muda Timothy Hutton memberikan performa luar biasa dalam debut film besarnya ini. Hutton berhasil membawakan sosok fragile Conrad setiap kali berhadapan dengan ayah dan ibunya di meja makan, di kamar tidur, di halaman rumah. Hutton berhasil pula menenggelamkan dirinya dalam pribadi Conrad yang siap terbuka bahkan hingga meledakkan emosinya di hadapan Dr. Berger, dan menunjukkan sikap tentatif terhadap kekasihnya. Semua itu menjadikan anugerah Oscar untuk Hutton sebagai Best Supporting Actor terasa pas. Bahkan, bagi saya pribadi karakter Conrad yang diperankan Hutton adalah karakter utama, sebab dari sudut pandanya, cerita ini dikisahkan.

Namun satu hal yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah apakah anugerah Oscar untuk Ordinary People sebagai Best Picure tahun 1980 merupakan keputusan tepat (sebagai informasi Raging Bull digadang-gadang menjadi kandidat terkuat kategori ini)? Saya rasa tidak sepenuhnya tepat, sebab bagi saya sebuah Best Picture paling tidak harus memiliki ide cerita yang "relevan" di masa yang akan datang dalam arti sebuah Best Picture seharusnya memiliki kemampuan untuk mempertahankan opini penonton di masa yang akan datang. Meski saya sadari bahwa opini bersifat personal, setidaknya nilai-nilai dalam film itu tidak luntur di makan waktu. Bila Ordinary People ditonton pada social setting masa kini, maka isu keluarga disfungsional bukan lagi merupakan fenomena baru, karena bisa jadi isu tersebut sudah basi mengingat eksistensi keluarga (khususnya keluarga inti) mulai terancam dengan globalisasi dan modernisasi. Secara keselruhuan bagi saya pribadi, film peraih empat Oscar ini memang sebuah film bagus, tetapi tidak bisa disejajarkan dengan film-film besar lainnya yang hingga saat ini (dan di masa yang akan datang) layak diberi gelar Best Picture. It's 3.5 out of 5 stars. Bagaimana menurut Anda, ada komentar?

Watch this if you liked:

Director: Mike Nichols
Stars: Natalie Portman, Jude Law, Clive Owen
Genre: Drama, Romance
Runtime: 104 minutes

Ketika akhirnya Dan mengaku pada Alice dan Ann berkata terus terang pada Larry perihal perselingkuhan mereka, kedua pasangan ini dilanda gucangan hebat dan berakhir pada hancurnya masing-masing pasangan, dengan cara yang berbeda. Alice pergi meninggalkan Dan dan bekerja sebagai penari telanjang, sementara Ann berpisah dengan Larry...

American Beauty (1999)

Director: Sam Mendes
Stars: Kevin Spacey, Annette Bening, Thora Birch
Genre: Drama
Runtime: 122 minutes