Sunday, November 24, 2013

Fatal Attraction: Akhir Sebuah Kisah Cinta Destruktif

Tahun 2013 tampaknya menjadi tahun yang dipenuhi cukup banyak skandal para figur publik. Setidaknya ada dua skandal yang menarik perhatian dan ramai diperbincangkan, yaitu kasus pembunuhan Holly Angela dan perusakan rumah istri kedua Adiguna Sutowo. Dalam kasus Holly Angela, masyarakat dibuat terhenyak oleh sadisnya pembunuhan yang terjadi di sebuah apartemen di bilangan Kalibata. Holly tewas setelah disiksa beberapa pembunuh bayaran yang tragisnya diperintah oleh suaminya sendiri, Gatot Supiartono. Berdasarkan penyelidikan terkini kepolisian, Gatot yang merupakan auditor senior di Badan Pemeriksa Keuangan berang dengan sikap Holly yang semakin lama semakin banyak menuntut. Sebagai istri simpanan, Holly tampaknya tidak ingin dinomorduakan. Ia meminta dibelikan mobil, apartemen, rumah, dan puncaknya yang membuat Gatot tertekan adalah permintaan Holly untuk menceraikan istri pertamanya. Akhirnya, dengan merancang pembunuhan saat ia bertugas di Australia agar memiliki alibi, perjalanan cinta dua pasangan itu mencapai garis batas. Pada kasus lain yang tidak kalah menarik, pengusaha terkenal Adiguna Sutowo bersikukuh bahwa perusakan rumah istri keduanya, Vika Dewayani dilakukan dirinya sendiri. Namun, mertua aktris Dian Sastrowardoyo itu harus menjilat ludahnya sendiri usai diperiksa kepolisian. Adiguna mengaku bahwa Anastasia Florina Limasnax alias Flo, istri gitaris Piyu Padi adalah pelakunya dan ia pun berada satu mobil dengan Flo di malam peristiwa itu terjadi. Adiguna juga mengakui ada kedekatan antara dirinya dengan Flo. Apapun jenis kejahatannya, dua skandal itu menunjukkan bahwa cinta yang dikenal dengan kesucian dan kemurniannya juga dapat bersifat destruktif.

Dua puluh enam tahun silam, di kala sisi lain cinta yang bersifat destruktif itu belum banyak terekspos, sebuah film berjudul Fatal Attraction (1987) hadir di layar lebar dan berhasil menjadi perbincangan dunia. Kehadiran film besutan sutradara Adrian Lyne (Flashdance, Jacob's Ladder) tersebut begitu menggemparkan masyarakat karena penggambaran kisah cinta yang sangat tragis. Berbagai diskusi dan forum publik digelar di mana-mana, memperbincangkan betapa berbahaya hubungan asmara yang tidak sah dan memperdebatkan pesan moral di baliknya. Film ini pun berhasil membentuk opini publik bahwa pernikahan masih menjadi pranata sosial yang harus dipertahankan kesakralannya. Keluarga yang terbentuk melalui pernikahan adalah unit sosial terkecil sekaligus terbaik yang dapat diciptakan manusia. Selain sukses memberikan dampak secara sosial, film ini juga sukses secara komersial. Dengan menyandang status sebagai film yang paling banyak diperbincangkan tahun 1987, Fatal Attraction berhasil bertengger di puncak box office selama delapan minggu berturut-turut meski digempur rilisan film-film baru. Andai pada saat itu ada twitter, pasti film ini juga menjadi trending topic.

Fatal Attraction mengajak Anda memasuki dunia Dan Gallagher (Michael Douglas), seorang pengacara yang bekerja sebagai konsultan hukum di sebuah penerbit buku. Dan memiliki pekerjaan mapan, berada di lingkungan kerja dan sosial menengah atas, dan mengepalai sebuah keluarga yang tampak harmonis. Tidak ada kekurangan yang berarti dalam kehidupan Dan. Ia menikahi wanita cantik yang sangat dicintainya, Beth (Anne Archer) dan bersama-sama telah membina rumah tangga selama sembilan tahun. Kebahagiaan Dan semakin lengkap dengan hadirnya Ellen (Ellen Hamilton Latzen), putri semata wayang mereka. Namun, dunia seakan tidak pernah melupakan sistem kerjanya yang selalu berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Begitu pula kehidupan Dan, saat ia berada di puncak keharmonisan dan zona kenyamanan dalam hidupnya, ia justru harus terperosok ke dalam prahara rumah tangga bernama perselingkuhan. Muncul sebagai orang ketiga dalam perselingkuhan itu adalah Alex Forrest (Glenn Close), seorang editor yang ditemui Dan di sebuah pesta peluncuran buku. Tidak mampu mengelakkan ketertarikan satu sama lain, Dan dan Alex terlibat hubungan yang penuh gairah erotisme di sebuah penghujung pekan saat Beth dan Ellen pergi ke luar kota. Sayangnya, percikan gairah itu menimbulkan asap dan kemudian menjadi kobaran api yang melahap dengan ganas satu persatu kedamaian hidup mereka berdua dan orang-orang di sekitar mereka. Kenikmatan singkat di penghujung pekan itu pun berubah menjadi sebuah tragedi.

Satu hal menarik dari naskah karya James Dearden ini adalah konsep cerita yang kuat mengenai dampak dari permainan api yang disulut oleh Dan dan Alex. Kehidupan Dan yang semula teduh dari terpaan badai tiba-tiba harus terjungkir balik dengan kehadiran Alex yang obsesif terhadapnya. Sementara Alex yang tampak seperti wanita misterius semakin tenggelam dalam perilaku destruktif terhadap dirinya sendiri dan semakin berani menempuh cara-cara ekstrim demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Singkat kata setelah pertemuan di pesta itu, hidup tak lagi sama bagi mereka berdua, dengan jalan yang berbeda. Sayangnya tampak jelas bahwa Dearden tidak ingin mengeksplorasi cerita ini lebih jauh ke arah psikologis karakter Alex. Dearden seolah hanya ingin memanfaatkan kondisi kejiwaan Alex (yang sangat jelas bermasalah) untuk mempersembahkan sebuah kisah horor tentang wanita gila yang mengejar-ngejar pria yang dari luar tampak seperti pria kelas menengah atas biasa yang sopan dan tak ingin mengotori nama baiknya dengan sebuah skandal seks.

Dearden membuat kisah cinta liar Alex menjadi serba-tanggung dan tidak memiliki standing position yang jelas. Pada awalnya, Dearden menciptakan karakter yang begitu masuk akal dan nyata: seorang wanita lajang di usianya yang tidak lagi muda menginginkan kasih sayang dari pria yang tidak takut terhadap dirinya karena kadang ia bertindak di luar akal pikiran. Adegan di malam Dan menolong Alex yang tidak rela ditinggal pergi dan berusaha menunjukkan perasaannya itu dengan menyayat pergelangan tangan membuktikan betapa Alex adalah wanita rapuh yang sangat ingin mendapat perhatian dan kasih sayang dari seorang pria. Kerapuhan karakter Alex itu semakin terkuak ketika dalam jalinan cerita berikutnya diketahui bahwa ia merasa marah dan cemburu dengan kehidupan Dan. Tunggu dulu, apakah benar Alex cemburu dengan kehidupan Dan? Ya, bagi saya karakter Alex ini tidak hanya semata-mata memiliki obsesi terhadap Dan. Jika dilihat lebih dalam, Alex cemburu dengan betapa bahagianya Dan. Alex tidak dapat menahan diri membayangkan Dan memiliki istri cantik dan seorang putri yang dapat dijadikan tempat berbagi sementara dirinya hidup sebatang kara di lingkungan sosial dan ekonomi yang jauh di bawah Dan (lihat di mana Alex tinggal: rumah susun kumuh yang berada tak jauh dari rumah pemotongan hewan). Meskipun sangat jelas bahwa Alex, secara personal memiliki ketertarikan luar biasa terhadap Dan, namun tidak bisa dipungkiri pula bahwa ia benci melihat Dan yang tidak membagi kebahagiaan dengan dirinya. Ingatlah adegan di mana Alex membuntuti Dan ke rumah barunya dan mendapati pria paruh baya itu disambut hangat oleh Beth dan Ellen, sebuah pemandangan yang membuatnya langsung muntah dalam seketika.

Tetapi apa yang kita - sebagai penonton - dapatkan di pertengahan apalagi akhir film ini? Karakter Alex dan sepertiga awal film yang begitu kuat dan tampak nyata itu dikalahkan dengan rangkaian teror yang digambarkan semakin mencekam setiap kali Dan menolak berkencan, tidak mengangkat telepon, dan berusaha menghindar dengan pindah rumah. Penonton hanya dimanjakan dengan cerita wanita psikopat yang tak henti-hentinya memaksakan perasaan pada pria baik-baik yang berusaha setia pada keluarganya, sebuah penggambaran yang mungkin dapat dikatakan sangat seksis, bahkan menjurus pada misogynistic. Tidak heran Fatal Attraction menuai begitu banyak perdebatan mengenai apa makna di balik peristiwa tragis yang digambarkan. Perdebatan itu terutama datang dari para pegiat feminisme. Mereka mempertanyakan apakah pembuat film ini adalah sekumpulan seksis pembenci wanita?

Saya pribadi tidak menyalahkan kesimpulan kaum feminis tersebut yang berpendapat film ini seksis atau misogynist, karena pada tingkat tertentu saya juga merasa bahwa fokus dan tujuan dari film ini adalah memunculkan ketegangan dari perilaku obsesif-kompulsif seorang wanita yang tidak terima terhadap perlakuan pria yang hanya menginginkan hubungan tanpa ikatan. Seolah-olah pembuat film ingin menunjukkan bahwa sekali saja pria berhubungan dengan seorang wanita, mereka tidak akan dapat melepaskan diri terhadap rengekan dan tuntutan tiada akhir. Penggambaran tersebut tentu saja membuat wanita merasa terpojok, dituduh sebagai makhluk yang tidak dapat hidup mandiri. Saya juga menangkap sinyal kuat bahwa film ini ingin menunjukkan bukti nyata bahwa selama ini konstruksi sosial masyarakat terhadap wanita tidaklah mapan karena hanya dianggap sebagai objek seksual semata yang dapat dibuang ketika para lelaki telah merasa terpenuhi hasratnya. Ketika wanita mencoba memberontak dan memperjuangkan haknya agar laki-laki bertanggung jawab, maka yang ia akan dapatkan adalah sebutir peluru yang melesak ke dada. Wanita independen yang memperjuangkan haknya itu pun harus melambaikan bendera putih pada perempuan seperti Beth yang mau saja ditindas pria dengan mempertahankan suami hidung belang seperti Dan.

Di sisi lain, sebenarnya Fatal Attraction tidak dengan vulgar membuka dirinya sebagai film seksis. Seperti saya katakan di atas, film ini lebih tepat dikatakan tidak memiliki standing position yang jelas. Jika diperhatikan lagi, sebenarnya tidak menutup kemungkinan bahwa pembuat film ingin menunjukkan hukuman bagi pria seperti Dan yang berani mempertaruhkan keharmonisan rumah tangganya dengan menjajal fantasi seks liar bersama sembarang wanita. Berbagai peristiwa yang terjadi setelah akhir pekan erotis antara Dan dan Alex adalah mimpi buruk bagi setiap pria menikah dan tentu sesuatu yang dibenci para istri. Menurut saya, perbedaan sudut pandang mengenai makna di balik cerita ini pada akhirnya hanya meninggalkan dua prasangka: pembuat film ingin memosisikan diri sebagai pihak netral atau memang tidak peduli sama sekali dengan pengambilan makna semacam itu.

Saya pribadi cenderung memiliki prasangka yang kedua, karena sangat jelas terlihat di sepanjang film berdurasi 119 menit ini penonton disuguhi tayangan "setan versus malaikat" yang begitu meriah. Unsur horor telah mengalahkan fondasi karakterisasi dan konsep cerita yang telah dibangun sangat kuat di bagian awal. Dua hal tersebut justru hanya menjadi semacam latar belakang yang dianggap tidak penting. Terlebih lagi, saya sama sekali tidak melihat adanya netralitas pembuat film di sepanjang cerita. Penekanan cerita horor "setan versus malaikat" tersebut telah mendikotomi Dan dan Alex menjadi dua tokoh yang seolah merepresentasikan lelaki baik-baik dan wanita jalang. Dua pertiga jalan cerita diisi dengan bagaimana Dan setengah mati berusaha menghindari Alex. Usaha penghindaran itu dilakukan Dan mulai dari bicara baik-baik hingga melakukan kekerasan. Namun apapun usaha yang dilakukan Dan, semuanya terkesan sangat egois. Tidak ada satu pun adegan yang memperlihatkan bahwa Dan sebenarnya prihatin dengan kondisi Alex. Ia tidak menaruh simpati dan belas kasih pada Alex yang mengaku tengah mengandung anaknya (dan tidak ada alasan atau tanda-tanda yang membuat penonton tidak memercayainya). Dan tidak pernah peduli sedikit pun pada Alex yang mengemis perhatian padanya dan betapa ia tidak ingin diabaikan. Sadisnya, Dearden "membantu" Dan dengan menciptakan akhir cerita yang melambangkan kemenangan besar malaikat terhadap setan yang penuh dosa. Pada akhirnya, Alex hanyalah wanita dengan masalah kejiwaan yang terlunta, dibunuh, dan dibiarkan mati (I mean literally) dalam kehampaan dan kesendiriannya. Sebuah penghinaan terhadap karakter Alex semula, wanita yang membutuhkan pertolongan sebagaimana digambarkan dalam adegan di mana ia menyayat pergelangan tangannya. Tentu saja, itu juga menjadi penghinaan bagi setiap penderita gangguan mental yang menurut film ini harus dijauhi, bahkan bila ia membahayakan harus dibunuh. Jadi, sangat jelas bahwa naskah Dearden ini tidak netral karena ia diambil dari sudut pandang provokatif.

Intensi Dearden untuk semata-mata membuat film horor juga diperkuat dengan minimnya informasi historis tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita ini. Untuk tokoh Alex, penonton tidak diberikan cukup informasi apa yang menyebabkan ia begitu obsesif terhadap Dan? Kondisi psikologis Alex yang terlihat demikian parah secara logika tidak mungkin terbentuk begitu saja hanya dalam waktu semalam, pasti ada sesuatu di masa lalu wanita ini yang membuatnya seperti itu. Saya pribadi juga penasaran dengan latar belakang Alex, karena dalam suatu adegan ia melontarkan pertanyaan retoris mengapa lelaki yang menarik baginya selalu sudah menikah. Apakah ia selalu membuntuti suami-suami nakal itu sebagaimana yang ia lakukan pada Dan? Bagaimana dengan keguguran yang ia akui pernah terjadi? Jika ia mengaku bukan tipe wanita yang tidur dengan sembarang lelaki, lantas siapa pria yang pernah memiliki hubungan dengannya hingga membuahkan anak? Apakah pria itu penyebab gangguan jiwa Alex? Mengapa ia membuat lelucon dari kematian ayahnya yang tidak pantas dilakukan? Penonton tidak akan mendapatkan satu pun jawaban pertanyaan-pertanyan tersebut.

Begitu pula dengan karakter Dan. Malah, bagi saya karakter Alex lebih beruntung karena meski minim latar belakang namun setidaknya ia dicipatakan berdasarkan fenomena nyata yang terjadi di masyarakat sehingga karakternya terlihat realistis. Sementara Dan yang digambarkan sebagai pria kelas menengah atas standar yang secara umum bertabiat baik justru meimbulkan kontradiksi dengan perbuatannya yang berani mengkhianati Beth. Jika memang tidak ada sesuatu yang tidak beres dalam rumah tangga mereka, apa yang menjadi motivasi Dan untuk melompat begitu saja ke tempat tidur Alex? Apakah ia sekedar lelaki yang tidak dapat menahan birahi di kala istrinya pergi ke luar kota? Apakah ia ingin keluar dari zona nyaman hidupnya dengan mencoba suatu hal yang baru? Apakah ia ingin merasa memiliki kekuasaan (power) dari hubungan perselingkuhan semacam itu? Lagi-lagi penonton hanya bisa menyimpan semua pertanyaan itu dan menikmati suguhan horor yang tampil di layar.

Satu lagi yang membuat film ini lebih pantas disebut sebagai horor dibanding psychological thriller adalah sepertiga akhir cerita yang dibuat murahan dengan menampilkan adegan-adegan populer dari film-film horor kacangan. Adegan di kamar mandi yang melibatkan Beth, Alex, dan Dan sangat pantas disebut sebagai versi dewasa dari Friday the 13th (1980), lengkap dengan prinsip setan tidak pernah benar-benar mati. Terus terang, bagian inilah yang menjadi penghancur paling efektif dari sebuah cerita yang memiliki awal begitu menjanjikan. Keputusan Dearden dan Lyne untuk mengubah versi asli akhir ceritanya yang jauh lebih masuk akal membuat Fatal Attraction tak ubahnya sebuah karya seni picisan. Apalagi dengan alasan untuk memenuhi ekspektasi dan selera pasar, para pembuat film seakan-akan telah kehilangan idealisme mereka. Untuk ukuran sebuah cerita yang berhasil menjadi isu sosial, tidak sepantasnya mereka memperlakukan hasil kreasinya menjadi barang jualan belaka. Saya tidak tahu apa yang terjadi di screening test yang dilakukan oleh kru film ini, namun andai ada penghargaan untuk hasil riset pasar paling buruk, Fatal Attraction harus masuk dalam dafar nominasinya.

Di sepertiga akhir cerita jugalah alur tidak lagi nyaman disaksikan. Penantian penonton yang menunggu saat-saat dibocorkannya hubungan gelap antara Dan Alex pada Beth justru dibuat sangat singkat dan terkesan tidak tuntas. Ada sesuatu yang hilang dalam adegan itu. Penonton tidak dapat merasakan amarah luar biasa seorang istri yang taat pada suaminya ketika mengetahui kesetiaannya dibalas dengan kotoran di muka. Ada pula alur garing dan tidak jelas ketika Alex tanpa sepengetahuan Beth dan Dan menjemput Ellen dari sekolahnya dan mengajaknya bermain ke dunia fantasi hanya untuk membuat kalut Beth. Adegan itu dapat dibuang sepenuhnya tanpa dampak apapun pada keseluruhan jalinan cerita.

Beruntung penekanan kisah horor dalam naskah Dearden itu ditangani dengan apik oleh Lyne. Lyne berhasil membuat setiap momen di sekitar keluarga Dan menjadi semakin mencekam dibayangi oleh Alex. Uniknya terkadang Lyne menciptakan ketegangan melalui adegan-adegan yang sebenarnya dapat dengan mudah ditebak oleh penonton. Misalnya setiap kali telepon berdering di rumah Dan penonton akan tahu bahwa itu adalah Alex, tetapi karena larut dalam kekhawatiran Dan, nuansa tegang menanti apa yang akan terjadi selanjutnya tetap saja muncul. Hal yang sama juga terjadi pada adegan paling fenomenal dan terkenal dari film ini, yaitu bunny boiling. Dalam adegan itu, penonton tentu curiga dengan panci rebusan yang menyala sementara penghuni rumah baru saja pergi ke luar. Dipadukan dengan Ellen yang berlarian untuk melihat kelinci kesayangan di kandangnya, kamera terus memprovokasi penonton dengan menunjukkan gambar yang terus berganti dengan cepat antara Beth dan Ellen. Pengambilan gambar itu merupakan bocoran paling kentara yang pada akhirnya dipecahkan dengan momen menentukan: tutup panci diangkat dan teriakan Beth dan tangisan Ellen pun membahana. Intens meski mudah ditebak, begitulah keunikan arahan Lyne di sini.

Ada pula adegan-adegan arahan Lyne yang tingkat ketegangannya mencapai level yang tidak tertahankan dan tidak pula dapat ditebak. Salah satu adegan itu - dan yang menjadi favorit saya - adalah ketika suatu malam Dan berniat menuntaskan masalahnya dengan menghabisi Alex. Adegan itu begitu cepat, tiba-tiba, dan tanpa petunjuk sama sekali. Penonton akan mengira Dan benar-benar hanya ingin berbicara dengan Alex. Tetapi apa yang kemudian muncul di layar adalah agresi Dan pada Alex yang dimulai dengan bantingan pintu, pergulatan di lantai, gencatan di pintu, benturan kepala, seret-menyeret, teriakan, dan yang paling menakjubkan: cekikan yang entah berapa lama terjadi tetapi yang pasti menimbulkan efek sesak nafas luar biasa pada penonton. Dilengkapi dengan lampu meja yang jatuh, pecahan kaca berserakan di mana-mana, lampu gantung yang bergoyang, serta meriahnya suara peralatan yang pecah membuat adegan itu begitu megah, menawan, dan elegan dalam kekejaman dan kekerasannya. Ditutup dengan senyuman misterius Alex yang diambil dengan kamera yang menjauh mengikuti langkah mundur Dan, inilah adegan paling cerdas di sepanjang film.

Namun tentu saja tidak dapat ditampik bahwa salah satu kejeniusan Lyne adalah menaburkan bumbu-bumbu penyedap di awal cerita sebagai pengantar. Bumbu penyedap itu tidak lain adalah erotika antara Dan dan Alex yang begitu liar dan berani ditampilkan di pembuka cerita (lewatkan paragraf ini jika Anda tidak ingin membaca sesuatu yang mungkin bersifat vulgar). Adegan seks di atas wastafel, lift yang sedang berjalan, dan tentu di tempat tidur (mungkin karena konvensional Lyne tidak menampilkan yang satu ini) merupakan hiburan tersendiri yang tidak dapat dipisahkan dari hampir setiap karya Lyne, dan ia pun tak pernah tanggung-tanggung meminta aktornya total dalam memerankan adegan buka-bukaan ini. Berbagai aksi jasmaniah yang dilakukan Dan dan Alex terlihat begitu nyata, mulai dari (maaf) sedotan payudara, jilatan leher, belaian bokong, erangan sensual, dan tentu saja ciuman bergairah yang ditandai dengan nafas yang memburu. Menggunakan aktris dengan payudara yang sudah agak kendur dan aktor yang mulai menunjukkan wajah keriput tidak membuat adegan ini aneh. Mungkin Lyne adalah satu di antara segelintir sutradara yang dapat membuat adegan seks dua orang yang tak lagi muda menjadi begitu bergairah. Di usianya yang masing-masing menginjak 40 dan 43 tahun, Close dan Douglas telah menampilkan permainan cinta yang panas dan tidak dapat dikatakan tidak menarik.

Aspek pengambilan gambar juga menjadi salah satu keunggulan karya Lyne. Dalam adegan peluncuran buku di mana Dan dan Alex pertama kali bertemu, Lyne bekerja sama dengan sinematografer Howard Atherton dengan piawai mengisolasi dua tokoh utama itu di kamera dan mengambil gambar yang fokus pada mereka berdua di tengah keramaian pesta. Selain itu dalam adegan di mana Alex secara diam-diam membuntuti Dan ke tempat parkir mobil gambar diambil dengan selalu memperlihatkan Alex dari kejauhan, menimbulkan kesan stalking yang kuat dan semakin membuat penonton penasaran dengan apa yang akan ia lakukan. Pengambilan gambar yang menjauh dan melebar juga dilakukan pada adegan agresi Dan pada Alex di atas dan pada saat Alex memainkan saklar lampu meja sebagai bentuk kekecewaan setelah ajakannya menonton pementasan Madame Butterfly ditolak Dan. Semua itu membuat kesan depresi Alex terpancar dengan sempurna.

Berbicara mengenai kesempurnaan, salah satu aspek lain Fatal Attraction yang sempurna adalah penampilan para pemerannya. Glenn Close tampil sebagai bintang yang paling bersinar. Dari awal kemunculannya di layar, Close telah menyuntikkan aura seductive yang sangat kuat. Mata, ekspresi, dan riasan wajahnya turut berbicara di sepanjang film. Dalam salah satu adegan di awal film, Close sebagai Alex tampil memukau dengan gaya bicaranya yang mendominasi. Pada saat itu, sambil menanti rokoknya dinyalakan Dan, Alex berbicara dengan intonasi yang biasa namun pada satu titik ia berhenti, menatap tajam Dan kemudian melontarkan pertanyaan, "Are you...?" Sesaat kemudian Dan bertanya apa maksud Alex dan lama setelah ia menatap lebih tajam ke arah Dan baru ia membuka suara dan mengatakan, "... Discreet?" Dengan cat kukunya yang berwarna merah menyala dan mengkilap, saya terpikat pada wanita yang ada di layar. Close membuat siapapun yang melihat adegan ini terpikat dengan kejujuran dan kecerdasan Alex dalam adegan itu.

Di bagian lain, Close amat mahir menguak sisi gelap Alex sedikit demi sedikit. Pada suatu adegan saat Alex mengajak Dan menghabiskan satu hari penuh bersamanya, Close mampu menunjukkan sifat pantang menyerah wanita itu dengan memohon tanpa henti. Ketika Dan mengatakan ia tidak bisa memenuhi permintaannya karena sibuk, Alex tidak berhenti. Alex mempersilakan Dan mengerjakan apa yang ia harus kerjakan dan menemuinya setelah itu, Alex menawarkan diri menemani Dan mengajak jalan-jalan anjingnya, Alex berjanji membuatkan makan siang, Alex mengatakan Dan bisa mengerjakan pekerjaannya di rumah Alex. Intinya, Alex berusaha membuat semuanya terlihat mudah bagi Dan. Akhirnya Alex berhasil membujuk Dan seolah ialah pria paling penting dalam hidupnya, sebuah rayuan yang sangat mengena. Di penghujung adegan itu, Dan melontarkan sebuah dialog yang menjadi petunjuk awal - dan sangat halus - mengenai kondisi mental Alex. Saat itu, Dan berkata, "You don't give up, do you? You just don't give up." Close membawa penonton lebih jauh lagi mengenal Alex ketika Dan mulai merasa dirinya terganggu. Sejalan dengan tensi cerita yang menanjak, Close sebagai Alex semakin membongkar sifat wanita itu bukan lagi pantang menyerah, melainkan mengintimidasi - meskipun ia masih memiliki kemampuan untuk membuat semuanya terlihat mudah. Satu dialog yang paling saya ingat adalah ketika Alex berkata, "You play fair with me, I'll play fair with you." Terakhir, tentu saja penonton tidak bisa melupakan adegan di mana Alex tidak terima diperlakukan seperti pelacur yang dapat dilupakan begitu saja. Saat itu, setenang permukaan air, Alex menghadapi luapan marah Dan dengan berkata, "No it's not gonna stop. This is gonna on and on until you face up to your responsibilities." Sesaat kemudian ia mempertahankan sikapnya dan dengan tegas mengatakan, "Well, what am I supposed to do? You won’t answer my calls, you change your number. I mean, I’m not gonna be ignored, Dan!" Semua itu menunjukkan bahwa Close adalah aktris yang mampu membawakan karakter dengan total. Close tidak hanya berakting, melainkan betul-betul meleburkan dirinya dalam peran yang ia bawakan. Close membuat tokoh Alex begitu terasa nyata dan hidup. Sebuah nominasi Oscar yang mampir untuk perannya di sini sangat layak diberikan. Salut juga saya sampaikan padanya atas idealismenya yang telah berkeras mempertahankan versi asli penutup cerita meski ia harus mengalah pada pihak studio. Selama tiga minggu lamanya, Close menjadi satu-satunya orang yang benar-benar memahami karakterisasi, standing position, signifikansi, dan komprehensi Fatal Attraction.

Sementara itu Michael Douglas sukses menyapu simpati penonton yang mungkin di sepanjang cerita tidak henti-hentinya memberikan semangat untuk tidak menyerah. Aneh memang melihat penonton begitu antusias mendukung lelaki bejat seperti Dan yang merupakan seorang pengkhianat, tidak bertanggung jawab, tidak memiliki belas kasih. Tetapi di situlah kemahiran Douglas. Dengan segala peristiwa yang Dan alami, Douglas semakin membawa penonton meresapi kegalauan dan ketakutannya. Satu hal menarik dari penampilan Douglas adalah ia mampu menyalurkan kegalauan dan ketakutan tersebut melalui kasih sayang dan hubungannya yang semakin dekat dengan Beth dan Ellen. Dalam suatu adegan, Dan memeluk Ellen yang tengah berlatih drama. Pelukan itu sangat terlihat seperti bentuk pengaduan bahwa ia sedang menghadapi masalah besar dan ia membutuhkan orang-orang terkasihnya untuk membantunya. Terakhir, Anne Archer juga berhasil tampil sebagai sosok istri yang sangat perhatian pada suami dan anaknya. Hal yang menarik dari penampilan Archer adalah bagaimana ia dapat tampil sebagai wanita yang paling seksi di layar. Mungkin ini agak sedikit konyol, tapi bagi saya adegan paling seksi di sepanjang cerita bukanlah keliaran seks Dan dan Alex, melainkan adegan ketika Dan memandangi Beth yang sedang berdandan di meja riasnya. Saat itu Beth terlihat begitu memesona. Pelukan Dan dalam adegan itu semakin menambah romantis suasana.

Secara keseluruhan, Fatal Attraction adalah sebuah film yang mengusung konsep cerita dan karakterisasi yang kuat dan nyata. Sayangnya, dua hal itu tidak dimanfaatkan dengan baik untuk menciptakan sebuah psychological thriller. Penulis naskah dan sutradara justru terjebak dan terlalu fokus untuk menggambarkan suasana horor di sepanjang cerita. Harus diakui bahwa tidak dapat dikatakan bahwa kisah horor itu jelek, karena penonton mendapatkan ketegangan yang cukup menarik di pertengahan cerita. Hal itu menjadi nilai tambah bagi film ini karena sebenarnya ide cerita mengenai perselingkuhan yang membawa petaka bukanlah suatu hal yang baru pada saat itu. Dengan penampilan prima dari jajaran pemeran serta teknik pengambilan gambar yang cerdas, film ini berhasil menyajikan adegan demi adegan yang mencekam. Sayang beribu sayang penutup cerita ini dibuat sangat murahan dan itu bukanlah sesuatu yang dapat dimaafkan. Singkat kata, Fatal Attraction, sebagaimana judulnya telah menjadi fenomena sosial tersendiri yang telah banyak membawa dampak di masyarakat. Kini judul film tersebut telah menjadi suatu istilah umum yang merujuk pada suatu hubungan gelap yang berbahaya. Begitu pula istilah bunny boiler yang merujuk pada wanita simpanan pencemburu. Sangat memalukan betapa film yang memiliki dampak sosial sebesar ini harus ditutup dengan adegan murahan dari film horor konyol. It's 3.5 stars out of 5. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:


L'histoire d'Adèle H. (The Story of Adele H) (1975)

Director: François Truffaut
Stars: Isabelle Adjani, Bruce Robinson, Sylvia Marriott
Genre: Biography, Drama, History
Runtime: 96 minutes











 Play Misty for Me (1971)

Director: Clint Eastwood
Stars: Clint Eastwood, Jessica Walter, Donna Mills
Genre: Crime, Drama, Romance
Runtime: 102 minutes
















No comments:

Post a Comment