Wednesday, February 1, 2012

Making Love: Bukti Sebuah Cinta Sejati

Making Love (1982) adalah sebuah film bertema homoseksualitas arahan sutradara Arthur Hiller. Tidak seperti film dengan tema homoseksualitas lainnya seperti Brokeback Mountain (2005) atau Broderskab (2009) yang mengetengahkan romantisme dua pasangan sejenis, Making Love berpusat pada kekuatan kasih sayang yang dimiliki antara sepasang suami-istri yang kemudian dihadapkan pada kenyataan bahwa sang suami adalah seorang homoseks. Meski sangat mengguncang, namun ternyata keduanya menyimpan kekuatan cinta sejati yang melebihi apapun sehingga di antara mereka tetap mengharapkan kebahagiaan untuk keduanya dan saling menyayangi dengan cara mereka sendiri. "We've been always there for each other. Always, always!"


Film yang dinominasikan dalam kategori Best Original Song - Motion Picture pada Golden Globe 1983 ini menurut saya cukup berani mengangkat tema homoseksualitas mengingat pada awal tahun 1980-an isu mengenai HIV/AIDS yang dilekatkan pada kalangan gay sangat mencuat. Bahkan di Amerika Serikat HIV/AIDS pernah cukup tenar disebut sebagai gay cancer. Secara keseluruhan, saya menyukai film ini. It's 3.5 of 5 stars for me.
***

Zach Elliot (Michael Ontkean) adalah seorang dokter di Los Angeles yang beristrikan Claire (Kate Jackson), seorang produser televisi yang sukses. Keduanya menjalani pernikahan yang cukup bahagia selama 8 tahun namun belum dikaruniai anak yang sebenarnya sangat mereka dambakan. Kebahagiaan pernikahan mereka tak lepas dari banyankanya persamaan di antara Zach dan Claire, mulai dari film favorit, buku bacaan, puisi, makanan, hingga selera dalam memilih rumah. Cinta mereka sangat murni terhadap satu sama lain. Dalam salah satu dialognya, Claire mengatakan, "Zach's the only man I've ever been with". Meski keduanya tidak memiliki waktu yang cukup untuk bersama di rumah karena keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, namun Claire merasa bahwa pernikahannya adalah the world's greatest marriage.

Namun, Claire tak pernah mengira bahwa Zach, suaminya, lelaki yang dinikahinya sejak 8 tahun lalu memiliki hasrat yang selama ini dipendamnya sendiri. Zach merasa dirinya tertarik kepada laki-laki namun tak pernah mengungkapkan perasaan tersebut atau sekedar mencari tahu siapa dirinya sebenarnya. Zach memang pernah mencoba beberapa kali mengunjungi bar khusus gay dan menelusuri jalan-jalan yang disesaki penjaja seks khusus gay, namun hal-hal tersebut selalu berakhir dengan keraguan dan kasih sayangnya pada Claire yang sebetulnya dianggap sebagai sahabat terbaiknya. Hingga suatu saat, Zach bertemu Bart McGuire (Harry Hamlin), novelis homoseks yang memikat hatinya. Sayang, Bart adalah tipe orang yang cukup bahagia tanpa hubungan terikat dengan seorang partner. Bart lebih suka menjalin hubungan one night stand untuk sekedar memuaskan hasrat biologisnya dengan pria lain.


Pertemuan Zach dan Bart bukan tanpa makna, justru dari pertemuan itulah Zach termotivasi untuk jujur terhadap dirinya sendiri dan kepada Claire bahwa dirinya adalah gay. Akhirnya Zach mengaku pada Claire bahwa dirinya tertarik pada laki-laki. Ada satu dialog yang menurut saya sangat powerful dan menjadikannya salah satu kutipan terbaik dalam film ini: "I found that I'm attracted to men. I suppose it... I have it in most of my life but I never knew what it was, or maybe... maybe I just never admitted it or allowed it to come through before. Claire, I don't know where these feelings come from but the fact is that I have them. And... I got to stop denying it".

Saya menyebut dialog tersebut sebagai salah satu kutipan terbaik dalam film ini karena seringkali manusia sulit untuk memahami dirinya sendiri. Mengenal lebih jauh kelebihan dan kekurangan diri sendiri terkadang lebih sulit dilakukan dibanding melihat, menilai, dan menjustifikasi orang lain. Padahal menurut saya manusia bukanlah makhluk yang tepat untuk melakukan penilaian terhadap manusia lainnya, mengenal dan mengendalikan diri sendirilah yang menjadi hal penting agar kehidupan kita sebagai manusia tidak menyulitkan orang lain.

Meski sempat terguncang, namun Claire segera menyadari bahwa selama ini Zach adalah pria terbaik dalam hidupnya, ia selalu ada untuknya apapun yang terjadi. Inilah yang menggerakkannya untuk mencari tahu apakah menjalani kehidupan sebagai homoseks akan mendatangkan kebahagiaan bagi Zach, karena bagaimanapun Zach adalah pria terkasihnya, yang selalu dicintainya dan ia selalu menginginkan Zach bahagia. Akhirnya, sampailah Claire pada kesimpulan bahwa cintanya untuk Zach takkan pernah pudar dan ia merelakan diri berpisah demi kebahagiaan mereka berdua, agar Zach dapat memiliki kehidupan yang selama ini didambakannya juga untuk dirinya sendiri yang sangat mengharapkan kehadiran seorang anak dari suami yang benar-benar dapat dijadikan contoh dan mencintai dirinya seperti seorang suami mencintai istrinya. Inilah bukti cinta sejati yang dapat dimiliki dua insan. Ya, melalui film ini saya semakin percaya pada kata-kata cinta sejati tak harus memiliki, karena cinta sejati akan selalu ada di hati kecil setiap manusia yang diperuntukkan bagi orang-orang terkasih yang bahkan hingga hembusan napas terakhir akan selalu kita kenang.


Film ini ditutup dengan kunjungan Zach ke rumah Claire yang setelah berpisah menikah kembali dan memiliki seorang anak. Zach sendiri kini menjalin hubungan dengan partnernya dan hidup satu atap. Cinta Zach dan Claire akan tetap abadi, sebagai sahabat, sebagai keluarga, dan meski berujung pahit, romansa mereka akan tetap dikenang selamanya. It's a very nice movie, 3.5 out of 5 stars for me.



Watch this if you liked:

Brokeback Mountain (2005)

Director: Ang Lee
Stars: Heath Ledger, Jake Gyllenhaal, Michelle Williams
Genre: Drama, Romance
Runtime: 134 minutes

C.R.A.Z.Y. (2005)

Director: Jean-Marc Vallée
Stars: Michel Côté, Marc-André Grondin, Danielle Proulx
Genre: Drama
Runtime: 134 minutes

No comments:

Post a Comment