Friday, January 18, 2013

Deliverance: When Survival is a Game

Kalimat “What Did Happen in Cahulawassee River?” yang terpampang bersama dengan gambar seorang pria dengan wajah tegang dan seorang pria yang tengah membidik dengan tombak dalam sebuah sampul DVD membuat saya penasaran dengan Deliverance (1972), sebuah film adventure thriller besutan sutradara John Boorman (Hope and Glory, The General). Berbagai pertanyaan langsung menyeruak dalam benak saya: siapa dua orang yang tergambar dalam poster itu, apa yang mereka alami di tempat yang disebut Cahulawassee River, dan tentunya bagaimana mereka menghadapi kejadian di Cahulawassee River tersebut. Film yang diadaptasi James Dickey dari novelnya sendiri dengan judul yang sama ini bagi saya merupakan film dengan multilayered story, di mana terdapat pesan-pesan yang diselipkan pada banyak bagian cerita.

Deliverance berkisah mengenai perjalanan liburan empat orang pebisnis dari kota, yaitu Lewis (Burt Reynolds), Ed (Jon Voight), Bobby (Ned Beatty), dan Drew (Ronny Cox). Liburan empat orang kota ini bukan liburan biasa, sebab mereka adalah orang-orang kota yang memilih untuk tidak bermain golf di lapangan eksklusif dengan caddy-caddy cantik seperti orang kota lain, mereka memilih untuk berpetualang ke daerah pedalaman mencari sungai bernama Cahulawassee River. Cahulawassee River sendiri diceritakan merupakan ekosistem alami yang terancam punah sebagai akibat aktivitas pertambangan di daerah itu yang semakin menggila. Ide mengunjungi sungai tersebut berasal dari Lewis, pria dengan jiwa petualang dan sangat peduli pada lingkungan alami, dan antiteknologi, sebuah pandangan yang membuat Lewis dianggap extremist oleh kawan-kawannya. Dengan mengendarai dua mobil yang beriringan, mereka berempat tiba di sebuah pemukiman terpencil. Mereka bermaksud untuk menitipkan mobil pada penduduk setempat untuk kemudian menghabiskan beberapa hari mengarungi jeram dengan kano.

Saat Lewis dan kawan-kawan tiba di pemukiman terpencil tersebut, penonton dapat melihat kejanggalan yang langsung terasa di daerah itu. Tempat itu begitu sepi, hanya ada orang tua dan anak-anak. Anak-anak yang diperlihatkan juga mengalami kecacatan, sebuah kondisi yang membuat penonton bertanya-tanya dalam hati apakah semua anak-anak di daerah itu cacat (akibat aktivitas penambangan?). Lebih janggal lagi, hampir semua orang yang ditemui Lewis dan kawan-kawan heran dengan maksud dan tujuan mereka berempat untuk berkano di Cahulawassee River. Namun, setelah berhasil bernegosiasi dengan seorag penduduk setempat, Lewis dan kawan-kawan diantar (baca: mencari sendiri) lokasi sungai yang disebut-sebut memiliki keindahan yang menakjubkan itu. Di Cahulawassee River, mereka berkemah dan menjelajah jeram dengan kano yang memacu adrenalin. Namun, suatu kejadian di tepi sungai itu membuat perjalanan liburan mereka hancur berantakan. Sebuah kejadian yang tak hanya menunjukkan pada kita seberapa kuat manusia menghadapi alam, tetapi juga bagaimana manusia menyelamatkan diridari cengkeraman sifat buruk sesama manusia.

Dari awal hingga akhir cerita, Boorman sukses mempertahankan tingkat ketegangan yang membuat penonton terus menggeser posisi duduknya dari depan ke belakang, memandang dan membayangkan dengan ngeri apa yang akan terjadi selanjutnya. Salah satu scene yang paling saya suka adalah saat Ed dan Bobby ditawan oleh dua orang aneh dan mengalami kejadian yang tak akan mereka lupakan. Scene tersebut secara perlahan-lahan berubah dari obrolan biasa di antara keempat orang yang bertemu di tepi sungai, kemudian penonton akan mengira Ed dan Bobby akan dirampok atau langsung dibunuh, kemudian saya sempat berpikir bahwa dua orang asing itu adalah kanibal, tetapi tidak pernah berpikir bahwa dua orang itu hanyalah orang-orang mesum yang keji. Suara yang keluar dari mulut Bobby ketika ia mengalami pelecehan seksual juga menimbulkan efek ngeri, sedih, dan kasihan secara sekaligus, ditambah pengambailan gambar dari sudut kamera yang membuat penonton seperti menjadi saksi dari ganasnya sifat manusia serta memperlihatkan keadaan Ed yang pasrah sekaligus pilu melihat kondisi Bobby. Tidak hanya kata-kata, pengaturan gerak tokoh-tokoh dalam scene itu juga sangat tepat dan menambah ketegangan penonton. Bobby yang diperintahkan terus menguik (menirukan suara babi) terus melakukan perlawanan-perlawanan kecil hingga akhirnya ia kehabisan tenaga dan mengikuti semua perintah dari pria yang tidak berperikemanusiaan. Bobby berusaha melarikan diri ke dalam hutan yang menanjak, tetapi dengan mudah ditarik oleh sang penjahat, aksi si penjahat yang menaiki dan mendorong bokong Bobby, ekspresi muka Bobby, semua itu memperlihatkan perjuangan dan perlawanan yang efek emosi dan lelahnya sampai ke penonton. Dengan iringan petikan banjo yang terdengar aneh di sepanjang cerita, Boorman menyajikan tampilan cerita yang dapat membuat penonton bertanya dalam hati, "What the hell is actually happened?"

Aspek lain yang patut dipuji dari Deliverance adalah perkembangan karakter tokoh-tokohnya. Lewis muncul pertama kali di layar dengan langsung membawa kesan seorang pria macho, pria yang tahu segala hal, waspada, banyak akal, pemberani, dan suka tantangan dan mengagumi alam liar, serta kurang suka dengan perkembangan teknologi yang membuat manusia lemah. Ed terkesan lebih lunak. Ia adalah tipe pria yang cermat menghadapi segala hal, selalu memiliki pertimbangan bijaksana. Drew adalah pria pecinta musik yang sangat senang bertemu orang lain yang memiliki minat yang sama, patuh pada peraturan, dan cenderung tidak ingin mengambil keputusan yang nekat. Sementara itu, Bobby adalah tipe pria yang sangat kota, terbiasa dengan segala fasilitas dan teknologi yang ada, dan sedikit penakut. Namun seiring dengan bejalannya cerita, penonton akan menemukan bahwa Lewis yang terlihat paling kuat ternyata tak berdaya menahan rasa sakit ketika kano mereka terbalik, sehingga ia sangat bergantung pada Ed. Sementara Ed sebailknya, dengan segala kecermatannya, ia berubah menjadi pria yang paling diandalkan, berjuang mati-matian tanpa kenal lelah, dan memikirkan alibi apa yang akan mereka katakan pada polisi sesampainya di pemukiman. Bobby sendiri di pertengahan dan akhir cerita terlihat menjadi lebih mandiri, berani berkonspirasi dengan teman-temannya untuk megelabui polisi, sebuah tindakan yang terlihat tidak mungkin dilakukan oleh sosok Bobby sebelum kejadian di Cahulawassee River.

Dari segi sinematografi, film ini menawarkan pemandangan alam sungai yang menakjubkan. Film yang berlokasi syuting di Chattooga River, daerah pegunungan Appalachian ini juga memperlihatkan bagaimana kegiatan eksploitasi penambangan berdampak begitu mengerikan pada bumi. Ada satu scene yang memperlihatkan peledakan lokasi tambang dengan asap mengepul yang begitu dahsyat. Tebing, hutan, jeram-jeram sungai yang ekstrim juga selalu mengiringi perjalanan Lewis dan kawan-kawan. Sementara itu dari departemen akting salut saya sampaikan pada Beatty yang melakukan debutnya di sini dengan brilian. Sebagai Bobby, ia sangat berhasil memainkan karakter orang kota yang sengsara menghadapi kejamnya alam dan manusia lain, dan berhasil survive. Sementara aktor-aktor lain sangat terampil dalam mengayuh dayung dalam banyak adegan arung jeram. Saya membayangkan berapa lama mereka berlatih berkano untuk menguasai medan syuting yang menantang. Ekspresi lelah dan gembira yang terpancar dari empat aktor ini ketika menaklukan tantangan alam tersebut sangat terasa nyata hingga penonton seakan-akan ikut mendayung kano dan mengamati keindahan sungai.

Film berdurasi 110 menit ini menyelipkan begitu banyak pesan dan simbol di tataran filosofis pada hampir seluruh bagian cerita, misalnya petualangan arung jeram, adegan Ed yang memanjat tebing, dan Lewis yang menderita akibat kano yang terbalik menunjukkan betapa manusia belum sepenuhnya mampu menaklukan alam tanpa bantuan mesin, senajata, dan teknologi lainnya. Di sisi lain, kemunculan dua orang penjahat dan orang-orang yang mencari keuntungan pribadi dengan mengeksploitasi alam juga membuat manusia mempertanyakan nurani sesama manusia lain yang justru dapat menjadi ancaman yang lebih berbahaya dari segala ancaman-ancaman lain. Begitu pula halnya dengan pemikiran bahwa manusia adalah makhluk terkuat di bumi, menyatakan bahwa survival hanyalah sebuah permainan yang akan selalu dimenangkan manusia akan tergoyahkan di film ini. Salah satu scene yang memiliki simbol signifikan dalam film ini adalah ketika Drew berkolaborasi dengan seorang bocah albino pemain banjo cilik. Scene tersebut menunjukkan persatuan antara orang kota dan pedalaman yang ternyata dapat berbaur dengan mudah hanya dengan petikan alat musik sederhana, tidak ada yang lebih superior di antara mereka. Dalam cerita berikutnya, keempat tokoh dalam cerita ini begitu kaget ketika mereka menemukan bahwa dalam keadaan tertentu ternyata orang-orang pedalaman memiliki sifat-sifat jahat yang sama kejamnya dengan orang-orang kota yang serakah. All in all, it’s terrific 3.5 stars out of 5. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:

Director: Sean Penn
Stars: Emile Hirsch, Vince Vaughn, Catherine Keener
Genre: Drama, Adventure, Biography
Runtime: 148 minutes

Dengan segala keberanian dan ketangguhan dirinya, Christopher McCandless rela meninggalkan semua urusan duniawi untuk kemudian berkelana mengarungi kehidupan liar dan merasakan hidup bersama alam. McCandless dikenal sebagai pemuda cerdas yang idealis. Perjalanannya menapaki alam yang cadas dimotivasi oleh pandangan dan prinsip hidupnya yang membenci segala bentuk penindasan, kemunafikan, dan keserakahan...

White Water Summer (1987)

Director: Jeff Bleckner
Stars: Kevin Bacon, Sean Astin, Jonathan Ward
Genre: Drama, Adventure
Runtime: 90 minutes

No comments:

Post a Comment