Thursday, March 29, 2012

Era Baru Diskriminasi

Hari Sabtu kemarin, saya menonton acara The Biggest Game Show in the World - Asia yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta. Acara ini merupakan ajang kompetisi ketangkasan yang diikuti empat negara Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Filipina. Meski tidak selalu mengikuti setiap episode, tetapi sesekali saya menonton acara ini karena kelucuan dari pembawa acaranya, yaitu Arie Untung yang memang dikenal dengan celotehan jenakanya. Arie kerap membuat suara-suara unik dan komentar-komentar yang mengundang tawa.

Namun, tayangan Sabtu kemarin agak sedikit membuat hati saya kecewa. Dalam sebuah sesi/babak di mana peserta acara ini harus bekerja secara kelompok untuk menghadapi tantangan permainan air, Arie membuat lelucon dengan menggunakan kaum transgender sebagai obyeknya. Beberapa kali ia mengatakan bahwa seorang peserta pria asal Thailand yang berambut panjang adalah orang yang kebingungan dengan dirinya sendiri, karena dirinya berada di tengah-tengah antara pria dan wanita. Arie juga mengatakan bahwa pantas saja dia dari Thailand, karena di sana pun kamar mandinya ada di tengah-tengah, antara pria dan wanita. Saya tidak bisa menyebutkan kata-kata Arie Untung secara tepat karena saya tidak ingat betul kalimatnya. Tetapi saya merasa bahwa lelucon seperti itu tidak pantas disampaikan dalam sebuah tayangan televisi, karena kata-kata itu menurut saya bersifat ofensif dan provokatif.

Kita tidak bisa menutup mata atas eksistensi kaum transgender saat ini. Mereka adalah sekelompok kecil orang yang merasa dirimya terjebak dalam tubuh yang berjenis kelamin salah. Seorang pria merasa diri sesungguhnya yang ada di dalam batin dan benaknya adalah wanita, dan sebaliknya seorang wanita yang merasa ruh sesungguhnya adalah pria. Orientasi atau mindset dan perasaan dalam batin mereka itu kemudian dapat kita lihat dari tingkah laku mereka sehari-hari yang cenderung mengikuti lawan jenis mereka, seperti memakai pakaian lawan jenis (cross-dressing), berbicara, dan melakukan pekerjaan yang dilakukan lawan jenis. Bahkan tidak sedikit pula mereka yang berani melakukan perubahan signifikan dengan melakukan operasi pergantian kelamin dan menjadi transseksual. Bila dilihat dari jumlah atau angka, mereka dapat dikatakan sebagai minoritas. Namun hal ini bukan berarti kita sebagai mayoritas (yang melakukan peran gender sesuai dengan yang diharapkan masyarakat terhadap masing-masing jenis kelamin) dapat memperlakukan kaum trangender dan transseksual dengan semena-mena.

Menurut saya, lelucon seperti yang digunakan Arie Untung dalam acara ini merupakan bentuk diskriminasi baru yang ditampilkan secara halus, sehingga orang lain pun terkadang hanya menganggapnya sebagai ucapan jenaka saja tanpa memikirkan lebih lanjut pesan negatif di dalamnya. Penggunaan media komunikasi massa seperti televisi juga membuat tindakan diskriminasi tersebut lebih berbahaya karena ditonton oleh banyak pemirsa. Meski sudah diberi kategori tayangan bukan untuk semua umur (anaka-anak harus degan bimbingan orang tua), tetapi terkadang hal tersebut tidak lagi efektif karena saat ini televisi justru menjadi seperti "sahabat" atau "orang tua" kedua bagi setiap orang, sehingga terkadang jarang ada orang yang mengkritisi sebuahtayangan televisi, khususnya komedi. Acara komedi dan sejenisnya biasanya di anggap sebagai acara yang paling bebas dari efek negatif, padahal terkadang di dialamnya terdapat nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai dan norma masyarakat.

Mungkin ada baiknya bila kita belajar dari pengalaman orang lain. Pernahkah Anda mendengar nama Christine Jorgensen? Ia adalah seorang transseksual (dari pria menjadi wanita) dari Amerika yang merupakan salah satu pionir dalam penelitian mengenai transseksualitas, baik dari segi kesehatan, psikologi, dan sosial. Kemunculan Jorgensen yang terlahir dengan nama George pada tahun 1953 menghebohkan publik Amerika karena Jorgensen adalah seorang pribadi yang memiliki talenta di bidang hiburan. Lebih dari itu, ia pun adalah mantan US Army dan memiliki kehidupan pribadi yang menarik. Kita bisa membaca bagaimana ia menjalani kehidupannya yang keras dan penuh kegamangan baik dalam autobiografi yang diterbitkan tahun 1967 maupun dalam biografi yang ditulis oleh Richard F. Docter. Ia mengalami konflik berkepanjangan sebelum memutuskan mengganti kelaminnya. Ia mengalami bullying di sekolah, ia dianiaya, dipanggil dengan sebutan yang tidak pantas untuk manusia karena sifatnya yang dianggap terlalu feminin oleh masyarakat sekitarnya. Masih banyak lagi tokoh-tokoh transgender dan transseksual lain yang mungkin bisa kita petik hikmahnya, bahwa menghina orang lain (termasuk kaum minoritas) tidaklah kurang dari tindakan keji lain seperti pembunuhan.

Saya tidak mengatakan bahwa diri saya adalah pendukung trangender dan transseksual, karena saya tidak mengkritisi hal tersebut. Saya tidak menilai bahwa perilaku transgender dan transseksual adalah salah atau benar. Saya juga tidak berusaha mengatakan bahwa isu transgender dan transseksual bukanlah sesuatu yang tidak pantas diperdebatkan, karena saya sendiri berpendapat bahwa pro dan kontra adalah sesuatu hal yang wajar, bahkan dari pro dan kontra tersebut kita bisa mendapat pandangan yang lebih luas dan komprehensif terhadap sebuah isu. Namun, perhatian saya dalam masalah ini adalah bahwa kaum transgender dan transseksual juga meruapakan manusia yang memiliki akal yang digunakan untuk berpikir dan hati yang berperasaan. Mereka sama seperti kita yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, yang memiliki martabat, dan sense of humanity. Karena kaum transgender dan transseksual adalah manusia juga maka wajar bila mereka seharusnya juga diperlakukan secara terhormat dan bermartabat, sebab seperti itulah seharusnya hubungan interaksi antarmanusa, saling menghormati. Jika kita direndahkan oleh orang lain, tentu kita akan merasa sedih, kecewa, atau bahkan marah. Bahkan bila kita melihat dari nilai-nilai agama, tentu tidak ada agama manapun yang mengajarkan umatnya untuk saling menghina dan mengejek manusia lain bukan?

Tulisan ini tidak dibuat untuk menyalahkan/memprotes Arie Untung selaku public figure, mencari-cari kesalahan orang lain, apalagi hanya sekadar bertindak sok benar. Saya hanya mencoba mengajak semua pembaca blog ini untuk kembali merenungkan bahwa selama ini mungkin kita sering memandang sebelah mata sekelompok orang yang dianggap menyimpang oleh masyarakat kita, tetapi justru persepsi kita terhadap kelompok tersebut terkadang berjung pada diskriminasi yang merugikan pihak lain. Padahal, sebenarnya kita bisa menjaga hubungan sesama manusia tanpa perlu menimbulkan konflik bila kita bersama-sama mengembangkan sikap toleransi, open minded, dan menjaga hubungan antarkelompok agar senantiasa harmonis. Ada yang punya komenar?

No comments:

Post a Comment