Thursday, November 24, 2011

Philadelphia: Be a Part of Justice Being Done

Dulu, saya sempat bercita-cita sebagai pengacara. Alasannya? Jadi pengacara itu pekerjaan mulia, membantu orang lain yang membutuhkan bantuan hukum dan menegakkan keadilan. Jadi, dulu setiap ditanya mau melanjutkan studi apa, saya selalu bilang hukum. Saya juga terobsesi dengan film-film yang menceritakan perjuangan pengacara di ruang sidang. Well, after sometime, I found that it's not that innocent, there are some dirty part in a lawyer's profession. Hahaha...

Sekarang, saya sudah melupakan cita-cita saya sebagai pengacara (bukan karena dirty part itu tadi ya), kuliah di suatu jurusan yang tidak berhubungan dengan hukum, dan pastinya tidak akan menjadi pengacara. Tapi obsesi saya untuk menonton film-film berbau hukum dan pengacara tidak pernah berhenti. Salah satu film favorit saya tentang hukum adalah Philadelphia (1993).


Film ini begitu menyentuh dan saat pertama kali menontonnya, tanpa sadar saya menitikkan air mata di akhir cerita. Sutradara Jonathan Demme (The Silence of the Lamb, The Manchurian Candidate) memenuhi ekspektasi saya dalam membawakan alur, suasana, dialog di sepanjang film, khususnya adegan-adegan di ruang sidang. Menakjubkan! Ditambah musik-musik yang sangat indah dalam film ini, seperti The Streets of Philadelphia (Bruce Springsteen) dan Philadelphia (Neil young). Bruce Springsteen berhasil mendapat Oscar untuk kategori Most Performed Songs from Motion Pictures, sementara lagu Philadelphia masuk nominasi Oscar kategori Best Music, Original Song. Satu lagi yang saya suka dari film ini adalah tata rias yang sangat sukses memperlihatkan Tom Hanks sebagai pengidap AIDS yang kurus, pucat, wajah penuh ruam, agak keriput, dan mata yang sendu. Untuk keapikannya ini, Carl Fullerton dan Alan D'Angerio masuk nominasi Best Makeup Academy Awards 1994.

Philadelphia benar-benar memberikan sebuah refleksi bahwa kebencian, diskriminasi, prasangka (prejudice) dapat membawa seseorang berbuat kriminal (hate crime). HIV/AIDS dan homoseksualitas yang menjadi tema sentral film ini sempat menuai kontroversi pada saat perilisannya ke publik, hingga rumah produksi TriStar Pictures memutuskan menggunting beberapa adegan intim antara Andrew Beckett (Tom Hanks) dan Miguel Alvarez (Antonio Banderas). Film ini mengisyaratkan bahwa tak seorang pun berhak merampas kebebasan orang lain, berbuat sewenang-wenang, atau menyebarkan prasangka, khususnya di hadapan hukum atas dasar perbedaan ras, gender, agama, budaya, seksualitas, atau kecacatan/penyakit seseorang. Setiap manusia memiliki persamaan HAM, persamaan kedudukan hukum, persamaan untuk saling mencintai dan dicintai, menolong dan ditolong.

***


Andrew adalah seorang pengacara muda yang sukses dan dikenal sebagai pribadi menyenangkan oleh keluarga, rekan kerja, dan para atasannya. Banyak kasus besar yang berhasil ditanganinya. Namun, Andrew menyimpan sebuah rahasia bahwa ia seorang gay, bahkan saat ia mengidap AIDS dan tanda-tanda fisik akan penyakit tersebut mulai muncul, ia tetap ingin seksualitasnya tidak diketahui orang lain. Bukan karena ia malu menjadi gay, melainkan karena para atasan di kantornya adalah sekelompok pria homophobic yang sangat diskriminatif, hingga ia pun lebih memilih untuk menyelamatkan karier. Lagi pula, ia berpikir bahwa seksualitas dirinya adalah hal pribadi yang tidak perlu dicampurkan dalam kehidupan pekerjaan.

Namun, tanpa diduga para atasan mengetahui seksualitas Andrew dan AIDS yang sedang dideritanya. Mereka pun merancang promosi jabatan sebagai jebakan untuk memecatnya dari kantor. Andrew yang tak terima perlakuan diskriminatif ini segera memutuskan untuk menuntut kantornya atas dasar diskriminasi. Namun, tak ada pengacara yang bersedia membantunya dalam persidangan, hingga ia meminta Joe Miller (Denzel Washington), pengacara yang dulu sempat menjadi rivalnya dalam sebuah kasus. Awalnya, Miller tidak mau membantu Andrew karena ia sendiri bisa dikatakan seorang homophobic, namun perlahan ia menyadari bahwa tak seorang pun berhak mendapat perlakuan diskriminatif, meski ia tetap membenci kaum gay.


Persidangan demi persidangan dijalani Andrew dan Miller, berbagai saksi diajukan ke muka pengadilan, dan seiring waktu kesehatan Andrew semakin memburuk. Beruntung Andrew memiliki Miguel, kekasihnya yang setia dan selalu melayani sepenuh hati. Andrew pun akhirnya sampai pada saat di mana ia harus melakukan sesi tanya jawab di persidangan. Ada perkataan menarik dari Andrew yang menjadi kutipan favorit saya dalm film ini: “What I love the most about the law? Is that every now and again, not often but occasionally, you get to be a part of justice being done.” Kata-kata tersebut membuktikan bahwa hanya karena seseorang gay dan menderita AIDS tidak berarti ia tidak bisa melakukan pekerjaanya dengan baik, tidak berarti ia tidak mau berkontribusi bagi masyarakat, tidak berarti ia dapat dicampakkan, tidak berarti ia sampah masyarakat yang tidak berguna seperti seonggok barang bekas, a piece of shit!

Tom Hanks menampilkan performa luar bisasnya dalam fim ini. Ia mampu memerankan sosok pria yang lemah secara fisik namun pantang menyerah memperjuangkan apa yang seharusnya dimilikinya: martabat sebagai manusia seutuhnya. Kualitas Hanks dalam film ini dapat dilihat dari berbagai segi akting, muali dari ekspresi wajah, gerak tubug, dan suara yang meyakinkan. Pada scene di mana Andrew pertama kali mengunjungi kantor Joe untuk meminta bantuan dan kemudian ditolak, Hanks keluar dengan gontai dan mimik muka kecewa namun tak ada kesan menyerah di sana. Justru penonton seakan tahu bahwa selanjutnya Andrew akan berjuang mati-matian menghadapi proses hukum yang akan dimulai, meski itu harus dilakukannya seorang diri. Hanks menarik napas panjang dan perlahan, memandang jalanan sibuk yang terbentang di depannya, suatu keadaan yang berbanding terbalik dengan kondisi dirinya yang kesepian, tak ada yang bersedia menolongnya. Kualitas akting Hanks lainnya yang juga tak kalah baik ada pada scene-scene terakhir persidangan, di mana Andrew dikisahkan semakin lemah imunitas tubuhnya. Ia memberikan kesaksian di hadapan hakim, juri, dan para mantan bosnya seakan mereka semua adalah anak-anak yang minta didongengkan. Hanks berbicara dengan suara yang jelas, meski sangat tampak ada usaha keras dibalik kelancaran berbicaranya itu. Matanya menerawang saat ia bersaksi, dan menatap tajam para mantan bosnya di setiap akhir kesaksiannya. Beberapa kali keraguan dan terlihat di benak dan wajahnya ketika pengacara bosnya, Belinda Conine (Mary Steenburgen) melontarkan pertanyaan yang dapat memojokkan posisinya atau ketika Conine memintanya bercermin untuk melihat memar di wajahnya. Selama sisa persidangan, Andrew duduk di samping Joe, tetapi pandangan matanya kosong, menunjukkan betapa lemah dan tidak berkonsentrasi dirinya. Ia berusaha tetap tegak, namun pada akhirnya ia harus berusaha bangkit berdiri untuk keluar dari ruang sidang meski akhirnya ia jatuh dalam gemetar hebat dan tak sadarkan diri. Itu semua menunjukkan betapa Hanks merupakan aktor yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menghayati kerakter Andrew.

Saya juga sangat menyukai gaya bicara dan sikap Conine yang dibawakan Steenburgen. Steenburgen dengan meyakinkan melangkah mendekati meja saksi dan bertanya dengan nada bicara lugas, tanpa basa-basi, dan tepat sasaran. Tak tampak sekalipun ekspresi kebingungan tiap kali ia mendengar jawaban saksi atau mendapatkan bantahan dan interupsi dari Joe, pengacara lawannya. Justru Steenburgen membawakan sosok Conine sebagai pengacara yang seperti tak pernah kehabisan akal dan siasat untuk melontarkan pertanyaan pada saksi. Ia hampir selalu terlihat puas setelah kembali duduk di kursinya.


Film ini berakhir dengan kematian Andrew dan kemenangannya dalam persidangan. Dalam adegan akhir, diperlihatkan video Andrew semasa kecil yang diiringi lagu Philadelphia dari Neil Young yang sangat menyentuh.

Sometimes I think that I know
What love's all about
And when I see the light
I know I'll be all right.
Philadelphia

It's super amazing, 4.5 of 5 stars for me
. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:

Milk (2008)

Director: Gus Van Sant
Stars: Sean Penn, Josh Brolin, James Franco
Genre: Biography, Drama, History
Runtime: 128 minutes

Prayers for Bobby (2009)

Director: Russell Mulcahy
Stars: Sigourney Weaver, Henry Czerny, Ryan Kelley
Genre: Biography, Drama
Runtime: 89 minutes (TV Movie)

No comments:

Post a Comment