Friday, February 1, 2013

The Perks of Being A Wallflower: A Blossom Coming of Age Story

Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah…

Begitulah penggalan lirik lagu Kisah Kasih di Sekolah ciptaan Obie Mesakh yang lebih populer setelah dibawakan Chrisye. Dengan vokal sederhana namun sangat berkarakter, Chrisye membawa setiap pendengar lagu ini mau tidak mau kembali kepada kenangan masa-masa sekolah, khususnya SMA. Banyak orang memang mengatakan bahwa SMA merupakan fase hidup yang paling indah, sebab selain menuntut ilmu, pada masa itu biasanya remaja mulai menemukan dan mengeksplorasi hal-hal baru dalam hidup, baik yang bersifat positif maupun negatif. Hal-hal baru itulah yang membuat masa SMA menjadi lebih berwarna dan menimbulkan aneka macam perasaan mulai dari gembira ria hingga duka lara. Tetapi banyak pula orang yang merasakan dan mengalami masa SMA sebagai masa-masa tersulit dan mendatangkan memori yang kurang menyenangkan. Memang harus diakui bahwa di SMA selain menemukan persahabatan dan kekeluargaan, hampir setiap orang juga akan menemukan bagaimana pasang-surut pertemanan, bagaimana mengendalikan emosi, bagaimana menghadapi persaingan, serta yang paling sering adalah bagaimana menghadapi cemooh dari orang-orang yang menganggap dirinya sendiri superior. Semua itu pada akhirnya menunjukkan sebuah proses pencarian jati diri seseorang. Nah, kehidupan SMA yang berwarna seperti itu dapat kita temukan dalam The Perks of Being a Wallflower (2012).

The Perks of Being a Wallflower bagi saya merupakan satu surprise besar di trimester akhir 2012. Ibarat permen yang ada isinya, film ini memberikan sensasi yang mengejutkan, kaya akan rasa yang bercampur menjadi satu, dan bisa membuat ketagihan menontonnya lagi dan lagi. Setelah menonton film-film di dua trimester awal yang penuh dengan beragam cerita termasuk yang mengangkat kehidupan remaja, The Perks of Being a Wallflower muncul sebagai destroyer pamungkas film remaja tersebut, sebab dengan tema sama, film yang diangkat dari novel sang sutradara Stephen Chbosky (Rent) ini mampu menyuguhkan kisah yang benar-benar memikat hati penontonnya. Meski terdapat pakem-pakem klasik film remaja seperti bullying di sekolah, perjalanan cinta, dan pesta pora remaja namun hal-hal itu tidak merusak keindahan alur cerita serta intensi yang ingin disampaikan kepada penonton. Sebaliknya, dalam film berdurasi 102 menit ini pakem-pakem tersebut semakin memperkaya jalinan kisah ada.

 
Dikisahkan dengan gaya naratif, Charlie (Logan Lerman) adalah siswa tahun pertama di sebuah SMA. Charlie bukanlah remaja biasa sebab ia merupakan anak yang sering melihat bayangan-bayangan aneh tentang kehidupan masa lalunya. Bayangan-bayangan itu seringkali membuat Charlie tidak sadarkan diri. Akibat pengaruh masa lalunya itu, Charlie tumbuh menjadi remaja introvert yang sulit bergaul. Ia tidak memiliki teman, tertutup, dan pasif. Meskipun begitu, Charlie adalah anak yang pandai dan berbakat dalam hal menulis. Bahkan teman pertama di SMA Charlie adalah guru bahasa Inggris yang bisa melihat potensi dan bakatnya, tetapi sudah tentu ia tidak berhasil berteman dengan siswa sebayanya. Terdorong oleh kesendiriannya di sekolah, Charlie kemudian memberanikan diri menjalin persahabatan dengan Patrick (Ezra Miller), siswa senior periang dan kocak yang sering menjadi bulan-bulanan siswa lain karena ia adalah seorang gay. Seperti peribahasa sambil menyelam minum air, persahabatan Charlie dengan Patrick membawanya ke dalam lingkaran persahabatan yang lebih luas lagi. Charlie betemu dengan Sam (Emma Watson), saudara tiri Patrick yang memikat hatinya, serta teman-teman mereka yang lain seperti Mary Elizabeth (Mae Whitman), Alice (Erin Wilhelmi), dan Bob (Adam Hagenbuch). Bersama teman-teman barunya itu, Charlie merasa dunianya berubah sedikit demi sedikit. Namun, belakangan ia menyadari bahwa memiliki teman bukan berarti tidak ada permasalahan, justru hal yang ia temukan selanjutnya adalah betapa hubungan persahabatan, asmara, dan kehidupan masa lalunya berputar seperti roller coaster yang naik dan turun. Semuanya berpadu menjadi satu kisah yang tak akan Charlie lupakan sepanjang hidupnya.

Cerita yang diangkat The Perks of Being a Wallflower sebenarnya sederhana saja: kehidupan anak SMA lengkap dengan penderitaan dan kegilaannya. Namun, yang membuat film indie ini menarik bagi saya adalah karakter yang membawakan sudut pandang kisah ini, yaitu Charlie. Sebagai anak kuper yang memendam trauma mendalam seorang diri, karakter Charlie benar-benar merepresentasikan bagaimana perjuangan menghadapi kehidupan pada saat orang-orang di sekitarnya bersenang-senang menikmati masa muda. Charlie pun sebenarnya tidak tinggal diam, di sinilah titik menarik karakter yang diperankan Lerman ini. Charlie mencoba untuk mengikuti irama dan tempo kehidupan sekitarnya: memiliki banyak teman, berpesta, dan mendekati gadis-gadis cantik. Namun latar belakang masa lalu selalu membayangi kehidupan Charlie, sehingga ia pun selalu hanya menjadi penonton dalam kehidupannya sendiri. Dari kejauhan, ia menyaksikan betapa Sam, gadis pujaan hatinya bermesraan dengan kekasih brengseknya Craig (Reece Thompson); dari kejauhan ia membiarkan kakaknya Candace (Nina Dobrev) disakiti pacar pecundangnya Derek (Nicholas Braun); dan dari kejauhan pula ia melewatkan begitu saja kesempatan untuk berpartisipasi dan menjadi anak terpandai di kelas Bahasa Inggris. Posisi Charlie yang sedang berjuang menghadapi kerasnya hidup itulah yang membuat sudut pandang penceritaan film ini menarik bagi saya. Karakter Charlie begitu dekat dan nyata: seorang siswa junior di SMA yang kuper tetapi ingin mencoba hal-hal baru. Karakter ini begitu mirip dengan saya ketika pertama kali memasuki sekolah baru, membuat kisah The Perks of a Being Wallflower salah satu film yang paling personal bagi saya. Terkadang melihat karakter yang sangat mirip dengan diri kita akan terasa sangat sentimental dan emosional. Beberapa orang yang telah menonton film ini pun mengatakan hal yang sama. Dengan begitu, karakter Charlie pada dasarnya merupakan karakter yang dekat dan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Seberapa sering kita melihat teman pendiam yang duduk di pojok ruangan menyendiri tanpa ada yang menemani? Seberapa menyedihkan membayangkan kehidupan mereka? Dalam kehidupan pribadi, saya sering melihat dan merasakan hal-hal itu. Tetapi kisah sederhana itu tidak lantas menjadikan jalinan cerita film ini biasa-biasa saja. Dipersenjatai dengan adaptasi naskah yang baik, pengarahan sutradara yang pas, serta performa kelas satu dari para aktornya, The Perks of Being a Wallflower bertransformasi dari awal hingga akhir cerita, berubah menjadi seperti bunga yang mekar di musim semi.

Sebagai penulis novel aslinya, Chbosky tentu dengan mantap mengetahui secara persis bagaimana secara tepat memindahkan novel tersebut menjadi sebuah naskah film. Ditambah lagi dengan keleluasaannya duduk di kursi sutradara, Chbosky mampu menyajikan alur kisah mengalir apa adanya dari satu adegan ke adegan lain, sehingga penonton dengan mudah dapat mengikutinya. Meski begitu Chbosky tidak ingin mengungkapkan dengan gamblang masa lalu seperti apa yang selalu membayangi Charlie, sehingga perlu lebih teliti dalam mendekonstruksi film ini. Kunci untuk mengetahui hal tersebut ada dalam satu adegan di menit-menit akhir film. Di beberapa bagian film, saya seakan-akan seperti merasa sedang menonton serial remaja yang setiap episodenya selalu membuat penasaran dan kejutan. Salah satu bagian yang seperti itu bagi saya misalnya saat Charlie memutuskan (dengan pasrah) untuk berpacaran dengan Mary Elizabeth.

Seperti kebanyakan film coming of age lainnya, The Perks of Being a Wallflower juga memiliki pesan yang ingin disampaikan kepada penontonnya. Film ini menyuguhkan begitu banyak isu dalam kehidupan remaja mulai dari persahabatan sejati, toleransi terhadap hal-hal non-konformis, pelecehan, kisah cinta remaja, menjadi diri sendiri, ikatan persaudaraan dan kasih sayang keluarga, pengorbanan, keterbukaan pribadi, dan yang paling penting adalah bahwa kita semua berhak memiliki kebahagiaan dalam hidup untuk dinikmati, because we are infinite. Semua isu itu dirangkai menjadi satu kesatuan yang membuat penonton mendapatkan, memahami, dan merasakan perhentian akhir dari perjalanan pencarian jati diri karakter Charlie. Dilengkapi dengan narasi yang indah (I love the epilogue, I swear those were really beautiful words!), penonton diajak merasakan coming of age sesungguhnya melalui sebuah layar.

Keindahan The Perks of Being a Wallflower selain didukung oleh naskah yang bagus juiga ditunjang dari jajaran pemainnya yang secara megejutkan memberikan performa luar biasa. Logan Lerman yang lebih dulu dikenal oleh publik sering memerankan karakter remaja biasa seperti dalam Percy Jackson & The Olympians: The Lightning Thief (2010) mampu memerankan sosok Patrick dengan sangat baik. Lerman menampilkan wajah lugu, delusional, serta gaya berbicara yang polos dan tak perrnah berteriak yang membuat karakter Charlie semakin prominent. Di saat Charlie emosi, Lerman tampaknya tahu betul bahwa Charlie tidak pernah benar-benar bisa menunjukkan emosi tersebut, melainkan mengubahnya menjadi satu bentuk ketakutan, sehingga Lerman pun memanfaatkan suara bergetar dengan wajah kaku, very nice! Emma Watson juga sepertinya akan semakin bersinar setelah memerankan Sam di sini. Ia sukses memerankan gadis yang selalu peduli dengan teman-temannya tetapi insensitif terhadap pria yang benar-benar mencintainya. Saya sangat suka ekspresi Watson ketika karakter Charlie bercerita pada Sam bahwa sahabatnya tewas bunuh diri. Wajah Watson menunjukkan keprihatinan, keterkejutan, sekaligus keheranan di saat yang bersamaan. Dan tentu saja Ezra Miller juga patut diberikan salut. Dengan talenta yang ia tunjukan sejak berperan sebagai anak psycho di We Need to Talk About Kevin (2011), Miller semakin memperlihatkan kemampuannya ketika berperan sebagai Patrick di sini. Dengan karakter yang berbeda 180 derajat dari Kevin, ia tampil sebagai remaja periang yang mampu memendam kepedihan dalam hatinya sendiri. Hanya lirikan mata yang sesekali saja ia menunjukkan kepedihan itu, selebihnya karakter Patrick dengan efektif menjadi katalis dalam kehidupan Charlie.

All in all, The Perks Of Being a Wallflower is awesome! It brings a lot of issues, life stories, and music (oh God I love the tracks!). With perfect script and well-acted, I swear this is what young people should really watch. 5 out of 5 stars for me. Any comments?

Watch this if you liked:
Stand By Me (1986)

Director: Rob Reiner
Stars: Wil Wheaton, River Phoenix, Corey Feldman
Genre: Adventure, Drama
Runtime: 89 minutes

The Breakfast Club (1985)

Director: John Hughes
Stars: Emilio Estevez, Judd Nelson, Molly Ringwald
Genre: Comedy, Drama
Runtime: 97 minutes

3 comments:

  1. ulasan bagus gan..lengkap n detail,gak sekedar cuma sinopsis..aku suka banget film ini..rasa diri sendiri gtu..thanks yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sip, betul banget. Film ini emang sukses bikin orang bercermin dari karakter Charlie, salah satu film terfavorit dari tahun 2012.

      Thanks for your visit!

      Delete
  2. wah 5 dari 5 nih..ajib bang, hehe

    tapi emang enak banget sh diikutin, ringan di permukaan tapi sebenernya bermakna banget

    ReplyDelete