Kamis, 15 Februari 2018

God’s Own Country: Merangkul Takdir Merajut Asa

Film bertema LGBT sangat menarik diikuti di era keterbukaan informasi dan teknologi seperti sekarang. Lazim diketahui bahwa rezim otoriter dan pengancam hak asasi manusia telah banyak runtuh, terutama di dunia barat. Dengan demikian, kebebasan berekspresi semakin dijunjung tinggi (bahkan mulai menggantikan posisi agama yang semakin ditinggalkan manusia modern). Meski belum sepenuhnya menyetarakan kaum LGBT dengan mayoritas heteroseksual, situasi saat ini membuka pintu kesempatan yang sangat lebar bagi sineas yang memiliki ide cerita cemerlang seputar LGBT di tengah penerimaan masyarakat akan identitas mereka yang semakin meluas. Pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik seperti apakah konstruksi sosial yang di beberapa wilayah berhasil direka ulang menjadikan kaum LGBT semakin merasa diperlakukan adil? Apakah dengan adanya perubahan sosial tersebut terdapat pola yang berubah dalam kehidupan kaum LGBT? Atau mungkin yang paling mendasar: inikah perubahan yang diinginkan mereka selama ini? 

Saya bersyukur dan bisa dengan bangga mengatakan bahwa tahun 2017 adalah tahun yang positif untuk queer cinema. Beberapa judul film bertemakan LGBT yang rilis di tahun 2017 memiliki kualitas menakjubkan, bahkan ada yang cukup sukses dari segi komersialnya, suatu pencapaian yang relatif masih jarang terjadi. Salah satu alasan di balik fenomena membanggakan ini adalah karena para sineas film-film LGBT membawa ide cerita yang relevan dengan kehidupan kita saat ini, sehingga penonton seakan-akan diaktualisasikan dengan lingkukannya sendiri. Semakin membanggakan pula bila melihat fakta bahwa di antara judul-judul tersebut tidak sedikit yang merupakan buah tangan penggarap film panjang anyar, yang tentu saja menandakan masa depan menjanjikan queer cinema. Salah satu film bertema LGBT yang berhasil memukau saya adalah God’s Own Country (2017).

Gencar diperbandingkan dengan mahakarya Ang Lee Brokeback Mountain (2005), arsitek film Francis Lee (The Farmer’s Wife, The Last Smallholder) sebenarnya menawarkan ide cerita yang sangat original dan relevan. Mengetengahkan kehidupan seorang pemuda Yorkshire bernama Johnny Saxby (Josh O’Connor) yang harus rela mencurahkan segenap jiwa raganya untuk bekerja di peternakan keluarga setelah sang ayah Martin (Ian Hart) menderita stroke berat. Johnny Saxby tidak banyak mengeluh ketika ia diwariskan tugas berat mengelola peternakan tersebut. Namun, menghadapi fakta bahwa ia sama sekali tidak memiliki pilihan untuk menentukan hidupnya memaksa dirinya memberikan punggung dingin pada kehidupan. Ia menjalani kesehariannya dengan jadwal padat yang selalu berulang: bekerja, mabuk, dan seks bebas. Di tengah keteraturan yang amburadul itu, datanglah sosok Gheorghe Ionescu (Alec Secareanu), lelaki asing yang diperbantukan selama musim pengembangbiakan. Dengan kepribadian Gheorghe yang berbeda 180 derajat, Johnny sedikit demi sedikit merasa kehidupannya mulai dituntun ke arah baru yang sebelumnya tak pernah ia miliki keberanian untuk melangkah ke sana.

Sedari awal, penonton sudah dapat merasakan ada nuansa kaku di tengah keluarga Saxby. Johnny tampak seperti pemuda yang tidak banyak bicara. Martin dan sang nenek Deirdre (Gemma Jones) pun tidak banyak berbeda. Saat-saat mereka berkumpul bersama justru memperlihatkan suasana canggung, sehingga muncul kesan keluarga ini memiliki hubungan yang renggang satu sama lain. Lee yang bertindak sebagai penulis naskah dan sutradara dalam proyek ini terinspirasi dari kehidupan keluarga peternak Yorkshire, kampung halamannya sendiri yang tradisi dan kebiasaannya bukan hal asing lagi baginya. Hal tersebut membuat produk akhir ini terasa sangat otentik, tidak ada kesan yang dibuat-buat di sini. Penonton benar-benar dapat merasakan etos dan prinsip kaum peternak yang bersahaja, penuh dengan kerja keras, disiplin, pantang menyerah, dan sedikit antipati. Jenis kehidupan yang demikian dengan sempurna membungkus kepribadian Johnny yang tumbuh sebagai bagian dari generasi milennial tetapi terkungkung dengan tanggung jawabnya meneruskan sebuah usaha keluarga yang mungkin akan lebih tepat dikatakan sebagai tradisi kuno di masa sekarang. Sebuah pekerjaan dalam bentuk yang paling purba: mengandalkan otot, di tempat yang tak terhubung dengan koneksi internet, dan yang paling parah merampok kesempatan mencoba hal-hal yang dilakukan pemuda lain.

Namun, keunggulan naskah Lee ada pada kemampuannya untuk menghindari jebakan dramatisasi berlebihan akan suratan takdir yang tak diinginkan. Lee tidak menciptakan karakter Johnny sebagai pemuda idealis yang tergila-gila pada mimpinya di langit ketujuh. Johnny bukan pula tipe orang yang menginginkan jalan pintas alias meninggalkan tanggung jawabnya demi mengejar kepentingan pribadinya. Lee justru menjebloskan karakter Johnny ke dasar kenyataan hidup. Ia berusaha sekuat tenaga merawat domba-domba, memperbaiki pagar-pagar, dan mengusahakan harga terpantas dalam penjualan hewan ternaknya. Alhasil, Johnny tampil sebagai pemuda dengan kegigihan yang terpancar kuat di layar. Memang benar bahwa ia belum sepenuhnya dapat menerima kenyataan bahwa masa mudanya akan dihabiskan di tanah peternakan keluarga, itu jelas. Johnny masih berharap Martin akan sembuh dan akan kembali memegang kendali peternakan. Dalam salah satu dialognya, Deirdre berkata pada Johnny, "We were this close to losing him. You gotta face that, lad!". Ditambah lagi, sebagaimana umumnya seorang pemuda, tentu saja ia memiliki keinginan untuk kuliah dan bersenang-senang di kota besar seperti teman-temannya. Harapan Johnny itulah yang membuat karakternya semakin menarik. Penonton pun akan memahami seandainya Johnny bekerja di peternakan itu hanya karena terpaksa. Barangkali Johnny juga sudah tidak sabar menantikan akhir dari masa mudanya yang suram. Tetapi ia tahu bahwa itu semua tidak akan membuat dirinya lepas dari tanggung jawabnya sekarang. Naskah Lee dengan sangat anggun membuat Johnny sebagai pemuda tangguh tetapi memendam bara di dadanya. Kondisi Johnny tersebut membuat penonton bersimpati pada pemuda yang berada pada posisi serbasalah itu. Penonton menjadi peduli pada kehidupan Johnny dan ingin mengetahui bagaimana ia akan menyikapi permasalahannya. Karakter yang menuai simpati penonton ini merupakan pertanda akan kecermatan Lee mempelajari tokoh yang diciptakannya.

Pada skala yang lebih besar, naskah Lee bukan hanya berhasil menghindar dari jebakan melodrama, tetapi juga seperti yang telah saya sebut di atas, menawarkan ide cerita segar. Seksualitas Johnny bukanlah sumber konflik dalam narasi God's Own Country. Ia dimunculkan hanya untuk mengantarkan penonton ke pertemuan antara Johnny dan Gheorghe. Kisah asmara kedua lelaki ini pun bisa dibilang juga bukan tema sentral. Konflik dalam film ini ada di dalam diri Johnny sendiri. Di usianya yang begitu muda, Johnny telah dipaksa menghadapi keganasan hidup seorang peternak. Isi kepalanya terpusat pada bagaimana menjinakkan rutinitas sehari-harinya yang tidak kenal ampun: memeriksa kandungan hewan ternak, memberinya makan dan membersihkan kandang, mengatur keuangan, hingga memproduksi hasil ternak. Tidak ada ruang bagi Johnny untuk mengungkapkan apalagi mengejar mimpi-mimpinya. Semuanya semakin diperparah dengan suasana keluarga yang dingin. Meski dengan samar penonton dapat menganggap bahwa keluarga Saxby bukanlah keluarga yang berantakan (mari kita kesampingkan pertanyaan seputar ibu kandung Johnny), mengekspresikan kasih sayang sepertinya menjadi barang langka di sini. Menyentuh anggota keluarga lain pun bahkan seperti diharamkan, menimbulkan dugaan kuat bahwa kehidupan keluarga peternak bukan hanya sekedar keras dalam menghadapi pekerjaan, tetapi juga penuh dengan prasangka. Kita akan dibuat mafhum bahwa citra seorang peternak harus tangguh, kuat, dan perkasa. Sifat dan sikap sensitif seperti kasih sayang, nelangsa, dan kekecewaan akan dianggap sebagai kelemahan. Lee dengan luar biasa menjadikan warna kelam keluarga Saxby sebagai episentrum konflik. Adegan seperti Johnny yang diam-diam menggenggam tangan Martin di rumah sakit, ucapan terima kasih yang dangkal di bibir tetapi sedalam jurang dari Martin kepada Johnny, dan tangisan sunyi Deirdre saat menghirup baju putranya yang lebih dahulu terdegradasi dibanding dirinya.

Maka ketika Gheorghe membuktikan bahwa kelembutan dapat terjadi bahkan di tempat paling kejam sekalipun, Lee meracik proses metamorfosis karakter Johnny tanpa tergesa-gesa. Naskah Lee menunjukkan betapa ia berhati-hati dalam menguak gaung hasrat Johnny akan kasih sayang. Ia berupaya mengajak penonton untuk memahami sikap dingin Johnny pada Georghe di awal-awal pertemuan mereka. Meski harus diakui ada beberapa adegan kedua tokoh tersebut yang sangat terlihat picisan dan membuat saya menyunggingkan senyum getir, terlihat jelas bahwa Lee mempersiapkan perkembangan karakter Johnny dengan dengan sangat baik. Ia paham bahwa setelah sekian lama Johnny dipaksa menyembunyikan apa yang saya sebut di atas sebagai kelemahan, ia hanya bisa mulai belajar menerima kehangatan dari orang lain melalui gairah kebinatangan dalam ritme yang brutal. Dalam sebuah adegan yang menggetarkan hati (dan sensual), Lee menumpahkan titik kulminasi hasrat Johnny di ladang berlumpur. Adegan tersebut adalah big bang dalam jagad kehidupan Johnny. Sejak saat itu, ia belajar menikmati hidup. Dengan bantuan Gheorghe, ia bahkan berhasil mendekorasi ulang cakrawalanya. Ia belajar mensyukuri apa yang dimilikinya, yang ternyata tidak sesuram pandangannya selama ini. Johnny kini menjadi pribadi yang arif dalam merangkul takdirnya, dan bahkan mulai merajut asa bersama Gheorghe.

Sayangnya, saya menemukan naskah Lee kurang konsisten membangun karakter Gheorghe. Hal ini dapat ditelusuri misalnya dalam suatu adegan di mana ia mempertanyakan tawaran Johnny yang dengan malu-malu memintanya untuk tinggal bersama mengurus peternakan keluarganya. Dalam adegan itu Gheorghe yang sebelumnya diperkenalkan oleh naskah Lee sebagai sosok yang hampir tanpa identitas maupun kepentingan terselubung secara mendadak dan bertubi-tubi mengeluarkan pengakuan demi pengakuan yang diberikan secara samar. Ia pernah gagal dalam mengelola peternakan di tempat asalnya seraya dengan kabur mereferensikan hubungan asmara sebagai penyebabnya. Ia pun takut hal serupa akan terjadi bila tinggal bersama Johnny. Tak hanya itu, Gheorghe dalam adegan ini juga terkesan meragukan tawaran Johnny. Saya menangkap kesan bahwa Gheorghe belum bisa mempercayai cinta Johnny. Ia seakan tidak peduli bahwa untuk mengajukan tawaran itu pun Johnny harus mengorbankan citranya terdahulu sebagai pria mandiri yang tidak memerlukan orang lain. Reaksi Gheorghe dalam adegan ini sangat kontradiktif dengan sifat penuh kasih sayang, penyabar, dan perhatian yang ia tunjukkan di adegan-adegan sebelumnya. Saya tidak menyangka bahwa ia akan bersikap begitu defensif terhadap tawaran Johnny. Hal ini menimbulkan pertanyaan di benak saya apakah Gheorghe benar-benar ingin menjalin hubungan dalam suatu komitmen? Mengapa ia begitu peduli untuk menyuntikkan semangat cinta pada Johnny bila ia sendiri tidak menginginkannya? Lebih mendasar lagi, mengapa sebelum adegan ini ia merespon sinyal perasaan Johnny bila ia justru menghindari terulangnya pengalaman pahit di masa lalu?

Semua pertanyaan itu menyadarkan saya bahwa naskah Lee tidak mempersiapkan karakter Gheorghe dengan cukup solid seperti pada kasus Johnny. Kita tahu bahwa Gheorghe memang peran pendukung di sini. Namun, karena penonton seperti saya sebut di atas kadung peduli terhadap karakter Johnny, maka sikap defensif Gheorghe terhadap tawaran Johnny mau tidak mau membuat kita butuh identitas dirinya yang lebih komprehensif daripada hanya sekedar mengetahui tempat asalnya dan pekerjaan ibunya. Sebagai penonton, kita ingin tahu sejarah percintaan yang ia katakan menjadi penyebab kegagalannya. Kita ingin tahu mengapa dirinya pindah ke Inggris. Kita ingin tahu bagaimana ia mengenal keluarga Saxby. Namun demikian saya paham bahwa keingintahuan ini sulit diakomodasi oleh naskah Lee yang sepertinya memang bertekad untuk menghemat dialog.

Saya sendiri pun sudah cukup kagum dengan kepiawaian Lee mengemas naskah yang hemat dialog ini menjadi suatu kisah yang berlapis. Tanpa banyak mendengar cerita tentang keluarga Saxby, kita sudah dapat menikmati dinamika hubungan Johnny, Martin, dan Deirdre yang cukup intens. Kita tahu bahwa meskipun seksualitas Johnny tidak pernah menjadi isu di sini, namun mereka bertiga tidak pernah menyinggung hal ini secara terbuka. Dengan kondisi seperti ini, penonton dapat sangat merasakan adanya perasaan canggung setiap kali Martin atau Deirdre mendeteksi kedekatan Johnny dan Gheroghe. Perasaan canggung tersebut begitu kentara dari raut wajah dan sinar mata Martin dan Deirdre sampai-sampai saya membayangkan mereka berkata dalam hatinya "I know what you did last night" hahaha... Namun, lebih dari rasa canggung, Lee juga menunjukkan bahwa Martin dan Deirdre menyimpan kekhawatiran bahwa kedekatan Johnny dengan Gheorghe akan mengalihkan fokus pemuda itu dalam mengurus peternakan. Dengan cerdas, Lee menciptakan jawaban akan kekhawatiran tersebut dalam sebuah adegan yang sangat powerful (yang menjadi favorit saya) antara Johnny dan Martin. Adegan ini mengingatkan saya pada monolog yang tak kalah mengagumkan di akhir film Call Me by Your Name (2017). Saya akan selau terlena melihat dua anggota keluarga beda generasi duduk bersama untuk mendengarkan sebuah pengakuan yang bisa saya bayangkan sangat sulit diungkapkan.

Meski dengan dialog minimalis, Lee nyatanya sempat meresonansikan komentar sosial dalam naskahnya. Ia secara tidak langsung menampik anggapan bahwa pada kondisi sosial saat ini kaum LGBT masih mendapatkan perlakuan keji. Sebaliknya, melalui God's Own Country, ia seolah menunjukkan bahwa di tempat paling terpencil pun LGBT bisa diterima menjadi bagian dari anggota keluarga dan masyarakat, sehingga tidak perlu terlalu dibesar-besarkan lagi. LGBT hanyalah sekedar ekspresi diri yang membuat manusia merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Fakta bahwa LGBT menjadi sebuah komunitas minoritas yang bergerak begitu masif di berbagai belahan dunia memang menjadi pemandangan yang melegakan, karena satu lagi penindasan ditaklukan di dunia ini. Namun ia tidak bisa menjadi obat mujarab bagi setiap permasalahan pemeluknya. Singkatnya, LGBT hanyalah sebuah identitas yang sedang dirayakan karena keberadaannya yang sekian lama terkungkung, tetapi tidak lebih dari itu. Pada masa kini, ada permasalahan lain yang lebih mendesak untuk diperhatikan. Lee sendiri lebih memilih untuk mengetengahkan isu imigran dan xenophobia dalam filmnya ini. Diperkuat dengan fenomena politik brexit, kedua isu ini menjadi semakin relevan dengan narasi God's Own Country.

Lee tampaknya juga tidak dapat membayangkan naskahnya diarahkan selain dirinya, dan saya berterima kasih padanya untuk ini. Sebagai penulis naskah, Lee tahu persis nuansa yang ingin ia tampilkan dalam ceritanya. Elemen pertama yang terlihat jelas adalah aktivitas fisik yang menguras tenaga di sepanjang film. Dengan bijaksana Lee memperlihatkan kemampuan yang nyata dari kedua aktornya bekerja di peternakan. Tidak ada kesan buatan di sini. Semuanya ditampilkan apa adanya, dan sebagai penonton kita dapat merasakan naturalitas dan spontanitas dari gerak tubuh mereka. Gerak tubuh memang menjadi bahasa yang penting dalam God's Own Country. Bahkan kita tidak akan mendengar sepatah kata pun dari Johnny - sang tokoh utama - hingga lebih dari lima menit penampilannya di layar, itu pun ia hanya berbicara pada seekor sapi. Lee dengan detail memperlihatkan efek fisik dari tarikan otot-otot, gerak tangan, dan langkah kaki kedua aktor utamanya. Usut punya usut, Lee sengaja memberikan waktu pada kedua aktornya untuk belajar mengerjakan semua aktivitas yang kita lihat di film ini. Selain itu, arahan Lee juga berhasil menyajikan kehidupan keluarga Saxby yang penuh dengan emosi tak terungkap. Dinamika yang dipermainkan Lee dalam keluarga Saxby mengingatkan saya pada keluarga Baker dalam Flipped (2010), buah karya Rob Reiner. Kedua keluarga fiksi ini meski berbeda jauh dari segi kuantitas obrolan mereka tetapi sama-sama memendam harapan yang disimpan terlalu lama ibarat bom waktu. Kedua sutradara ini memanfaatkan dengan baik nilai kebajikan dari sebuah sikap diam.

God's Own Country tidak dapat berdiri dengan perkasa tanpa banyak berutang pada aktor-aktornya. Mereka adalah tulang punggung naskah Lee yang hampir tanpa cacat. Mulai dari O'Connor dan Secareanu hingga Hart dan Jones semuanya memberikan penampilan ulung. O'Connor yang dibesarkan di layar televisi dan pernah mencicipi pemeran pembantu dalam produksi besar beberapa film benar-benar menunjukkan transformasi Johnny yang meyakinkan. Ia begitu menyebalkan tetapi mengibakan di awal cerita dan terus keluar dari kepompongnya hingga menunjukkan warna asli kepribadiannya yang polos dan haus kasih sayang. Saya sangat senang mendengar nada bicara Johnny yang meskipun dengan aksen luar biasa tebal tetapi menyiratkan betapa kosong jiwanya. Ada satu kalimat favorit saya dari Johnny, yaitu "I guess I just mean for longer... That'd be sweet, right?" Nada bicaranya terdengar seperti seorang anak kecil yang meminta permen pada ibunya. That tone literally kills me hahaha... O'Connor juga dengan cekatan memperlihatkan perbedaan ekspresi wajahnya ketika berbicara dengan Martin, Deirdre, dan Gheorghe di awal dan akhir film tanpa banyak disadari oleh penonton. Menemani O'Connor di sebagian besar durasi film adalah Secareanu, aktor Rumania yang diamnya menghanyutkan hati siapapun yang bersamanya. Di sini, ia menguarkan aura kuat perasaan yang tak terungkap yang menyebabkan kehadirannya di layar sangat menonjol meski tanpa kata-kata. Secareanu membuat Gheorghe tampil lebih dari sekedar pemikat hati, sebuah peran yang umum dimainkan aktor tampan lainnya dengan sangat membosankan. Kedua pemeran veteran Hart dan Jones juga dengan lihai memajang prasangka, keresahan, dan kekhawatiran selayaknya yang dimiliki orang tua tetapi di saat bersamaan dapat mengecoh penonton yang tidak memahami karakter mereka. Kudos for both of them.

Difilmkan dengan gaya realisme yang sangat kental oleh penata gambar Joshua James Richards, God's Own Country mempersembahkan panorama alam Yorkshire yang sulit dilupakan. Tetapi lukisan Tuhan itu baru dapat kita saksikan setelah puas dihadapkan pada pengambilan gambar wajah-wajah aktor dari jarak dekat. Ya, hampir 90% layar God's Own Country memang hanya diisi dengan wajah aktor. Tetapi pengambilan gambar demikian memberikan akses kepada penonton untuk benar-benar merasakan keintiman dari semua tokoh. Richards baru melepaskan pandangan kameranya ke arah langit, hamparan tanah, dan tebing terjal Yorkshire setelah karakter Gheorghe sedikit demi sedikit membawa perubahan pada Johnny. Di sini, dengan cermat Lee dan Richards memosisikan penonton untuk melihat dari sudut pandang Johnny. Hasilnya, saat kita melihat pemandangan alam itu akan timbul semacam perasaan lega dan bahagia. Sungguh sebuah kerja cerdas.

Hadirnya dinamika kehidupan keluarga peternak yang memengaruhi jiwa seorang pemuda membuat kita harus segera menghentikan perbandingan antara God's Own Country dan Brokeback Mountain. Karya Ang Lee tak dapat dipungkiri merupakan sebuah pencapaian monumental dari perjalanan queer cinema. Namun ide ceritanya telah usang dipakai ratusan kali di film bertema LGBT lain. Penonton merasa telah berulang kali menyaksikan kisah penolakan homoseksualitas di komunitas yang tidak manusiawi. Di sisi lain, God's Own Country lahir dari kacamata seorang putra asli peternak daerah yang tumbuh di tengah masyarakat yang semakin liberal dan lebih mengkhawatirkan kesejahteraan ekonomi dan masa depan. Konflik vertikal antargenerasi yang dihadirkan God's Own Country lebih bersifat praktikal ketimbang prinsipil. Meski ada hal yang membuat saya bertanya-tanya pada jalan ceritanya, God's Own Country telah menambah khasanah queer cinema yang berkualitas. 4 out of starts for me. Ada yang punya komentar?



Watch this if you liked:

 Quand On a 17 ans (Being 17) (2016)

Director: André Téchiné
Stars: Céline Sciamma, Kacey Mottet Klein, Corentin Fila
Genre: Drama, Romance
Runtime: 116 minutes











Call Me by Your Name (2017)

Director: Luca Guadagnino
Stars: Armie Hammer, Timothée Chalamet, Michael Sthulbarg
Genre: Drama, Romance
Runtime: 132 minutes
 

Rabu, 14 Februari 2018

Three Billboards outside Ebbing, Missouri: Lelucon Gelap Sebuah Kota Penuh Birahi

Jika kita menanyakan resep sukses membuat film pada insan perfilman, niscaya akan terungkap beraneka ragam jawaban, mulai dari segi teknis hingga yang bersifat soft skill. Barangkali begitu pula hasilnya jika kita bertanya pada penikmat film tentang ketertarikan mereka pada sebuah tontonan, beragam sudut pandang pun berjatuhan bak tetesan hujan dari langit. Bagi saya sendiri, kurang lebih apa yang saya harapkan dari setiap film yang saya saksikan hanya satu, yaitu tutur cerita yang mangkus (efektif) dalam menyajikan perspektif kepada penonton. Mengapa mangkus? Sebagai penonton, saya ingin menangkap pesan, maksud, perasaan, atau apapun yang ingin disampaikan oleh sang pembuat film tanpa merasa digurui. Pendeknya: saya ingin sebuah film yang menstimulasi proses berpikir, dan saya mendapatkan pengalaman tersebut setelah menyaksikan Three Billboards outside Ebbing, Missouri (2017).

Peruntungan layar lebar ketiga dari Martin McDonagh (In Bruges, 7 Psychopaths), penulis dan sutradara teater yang juga mulai menjamah layar lebar ini merupakan sebuah lelucon gelap (dark comedy) yang layak disejajarkan dengan karya-karya sineas sekaliber Joel dan Ethan Coen serta Quentin Tarantino. McDonagh sendiri memang termasuk salah satu insan perfilman yang portofolionya patut diikuti sejak kemunculannya di dunia teater akhir tahun 1990-an. Ia bahkan pernah meraih penghargaan Oscar untuk Best Live Action Short Film melalui Six Shooter (2004). Menyimak karya layar lebar McDonagh terdahulu, saya kagum dengan kemampuannya menciptakan karakter yang kuat menancap di kepala penonton, baik dari segi fisik maupun penokohan yang dituturkan melalui sifat dan dialog. Dalam Three Billboards outside Ebbing, Missouri misalnya, penonton akan mendapati hampir seluruh karakter yang berseliweran di layar memiliki sifat dan kehidupan yang menarik.

Bagaimana tidak menarik, menyaksikan perjuangan Mildred Hayes (Frances McDormand), seorang wanita tangguh dalam mencari keadilan di sebuah kota kecil bernama Ebbing. Setelah tujuh bulan nyawa Angela, putri sulungnya melayang di tangan begundal yang rimbanya masih menjadi misteri, Mildred memutuskan bahwa Ebbing perlu segera dibangunkan dari tidurnya. Maka ketika Mildred menemukan tiga papan iklan besar tak terawat di pinggir jalan sepi, ia tidak melewatkan kesempatan itu untuk memasang sindiran keras kepada pemimpin kepolisian setempat agar cepat menyelesaikan kasus kematian Angela. Tanpa dinyana, aksi Mildred itu bukan hanya membangunkan Ebbing dari tidur lelapnya, tetapi juga mendatangkan kabut gelap yang menghisap segenap kehidupan penduduk kota Ebbing dan menyisakan makna keadilan yang sama sekali kabur.

Membahas Three Billboards outside Ebbing, Missouri tidak akan berarti bila tidak menyinggung keistimewaan naskah yang diciptakan oleh McDonagh. Pertama, perkembangan karakter dalam naskah film ini sangat menakjubkan. Jangan bayangkan perkembangan karakter dalam film ini dapat direpresentasikan dengan sebuah busur di mana penonton dapat melihat dan merasakan metamorfosis karakter-karakternya. Dalam film ini, McDonagh menampar penonton secara mengejutkan melalui letupan emosi tokoh-tokohnya yang labil namun intuitif serta disajikan dengan penuturan satir yang dapat menyunggingkan senyum sekaligus menimbulkan perasaan miris. Perkembangan karakter yang seperti ini membuat narasi Three Billboards outside Ebbing, Missouri terkesan merupakan hasil pembenturan berbagai kekuatan dahsyat emosi manusia: kemarahan, egoisme, ketidakpercayaan, dan kegamangan. Semua emosi itu bercampur aduk dan menjadi komposisi dasar dari tiga tokoh besar film ini, meski dengan dosis yang berbeda-beda.

Di hampir paruh pertama durasi film, penonton akan mendapati tiga tokoh besar dalam cerita ini kurang lebih hanya dalam satu dimensi. Mildred digambarkan sebagai seorang ibu tangguh yang akan melakukan apapun demi mencari keadilan dalam kasus kematian putrinya. Selanjutnya, kita punya semacam keyakinan bahwa Chief Willoughby (Woody Harrelson) merupakan kepala polisi berpengaruh yang menyimpan semacam misteri di lembaga yang dipimpinnya, entah itu korupsi, penangkapan orang-orang tidak bersalah, penjatuhan hukum yang sewenang-wenang, atau apapun itu memang tidak jelas. Tetapi sebagai penonton, kita bisa merasakan ada sesuatu yang lain (dan mungkin mencengangkan) di balik penampilan dan perilaku Willoughby. Terakhir, kita juga melihat dengan jelas bahwa Officer Dixon (Sam Rockwell) adalah tipe polisi komikal yang akan bertindak lebih jauh dari apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang kaki tangan seorang pejabat berpengaruh.

Namun, semua dimensi tokoh-tokoh tersebut seakan berputar balik laksana bumerang setelah satu peristiwa penting terjadi pada salah satu dari mereka. McDonagh dengan cerdas menguak lapisan dimensi lain dari masing-masing tokoh tersebut dengan cara klasik (baca: sebuah surat wasiat) dan penuh ironi tetapi mangkus dalam mengungkapkan bahwa tidak ada seorang pun di dunia nyata yang memiliki karakter satu dimensi. Semua manusia dianugerahkan akal dan hati yang membuat mereka pandai melompat dan membalik tabiat secepat membalik telapak tangan. McDonagh sangat mengerti bahwa kehidupan manusia tidak termasuk dalam rumpun ilmu pasti yang sudah memiliki jawaban benar dan salah. Kehidupan manusia ada di luar sana bersama dengan denyut konstelasi alam, tetapi ia tidak benar-benar dapat ditentukan sistem kerjanya melalui penemuan konstanta maupun penarikan kesimpulan berdasarkan uji coba ilmiah. Masing-masing manusia memiliki pemikiran sendiri yang bahkan terkadang tidak masuk akal bagi orang lain.

Bila ditilik lebih jauh, narasi yang disajikan McDonagh pada akhirnya menampilkan sebuah gambaran sempurna dan mengerikan akan keinginan manusia terhadap kekuasaan. Ingatkah Anda bagaimana Mildred menggurui Willoughby tentang apa yang ia akan lakukan untuk menangkap pembunuh Angela? Ada pula kisah Willoughby yang menolak mentah-mentah menjadi orang yang lemah di akhir hidupnya karena ia ingin diingat sebagai seorang pemberani. Tentu saja, sebagai seorang pejabat berkuasa Willoughby tidak akan mungkin dapat membayangkan orang lain mengasihani dirinya. Gambaran kekuasaan lain yang dapat dengan segar diingat penonton datang dari sosok Dixon dalam salah satu shot terbaik sepanjang film, yaitu saat ia menyerang pegawai kantor periklanan setempat Red Welby (Caleb Landry Jones).

Selain berbicara tentang kekuasaan, McDonagh juga membuat penonton mengerti bahwa manusia sangatlah sulit untuk menanggalkan kebiasaan menghakimi orang lain. Hal ini dapat kita selidiki dari detail-detail kecil namun menohok dalam film ini. Sebagai penonton kita turut merasakan bahwa Ebbing, sebagaimana lumrahnya kota kecil lain di dunia ini, dihuni oleh cookie-cutter community. Tindak-tanduk mereka menunjukkan satu keseragaman yang khas dan cenderung memusuhi nilai-nilai yang tidak dianut secara mayoritas. Tengoklah bagaimana seorang pendeta menasihati Mildred bahwa “… So yes, I took a poll. Everybody is with you about Angela. Nobody is with you about this.” Di sini, kita mendapatkan kesan setiap penduduk Ebbing ingin dan merasa perlu untuk memberikan pendapat terhadap hidup orang lain. Bila perlu, mereka akan beraksi membela apa yang dianggap benar. Di sudut lain, Mildred sendiri jauh dari citra orang suci. Ia pun pada dasarnya telah memberikan penghakiman terhadap Chief Willoughby, Dixon, dan masyarakat di sekitarnya. Kita tahu bahwa ia bukan hanya tidak akan gentar dengan pendapat masyarakat Ebbing, tetapi juga berani memasang aral untuk merintangi setiap orang yang berusaha mengubah atau mengganggu keinginannya. Tokoh-tokoh yang lainnya pun seperti kerasukan setan yang sama. Mereka memberikan penilaian yang sangat absurd satu sama lain. Singkat kata, Ebbing adalah kota yang dipenuhi dengan birahi untuk menjadi hakim satu sama lain. McDonagh membiarkan gairah yang seperti demikian terus mengalir di sepanjang film berdurasi 115 menit ini dan tanpa malu-malu menutup kisahnya dengan sangat terbuka pada berbagai kemungkinan. 

Kedua, naskah McDonagh juga berhasil mengemas segudang paradoks kehidupan kota kecil Ebbing dengan sangat menarik. Di mulai dari kehidupan kota sebagai latar tempat di mana tokoh-tokoh utama dalam film ini tinggal. Kota itu cenderung memiliki pandangan hitam-putih terhadap kehidupan. Tapi tunggu dulu, naskah McDonagh tidak berhenti di sini. Meski cenderung bersifat monoton, Ebbing ternyata menyimpan kejutan di mana kepolisian - institusi penegak hukum yang bahkan anggotanya sendiri dengan sangat polos mengatakan bahwa lembaga itu merupakan arena berlangsungnya bisnis penganiayaan orang-orang kulit berwarna - justru sangat dihormati keberadaannya. Bahkan sosok Willoughby dielu-elukan masyarakat. Mereka peduli dengan kesehatannya, mereka menyanjung pengabdian panjangnya pada kota kecil itu, mereka mengagumi keluarga kecilnya yang dipandang ideal. Singkatnya, mereka terobsesi pada sang polisi dan lembaga yang dipimpinnya. Bukan hanya perilaku masyarakat Ebbing saja yang menyimpan paradoks. Penonton tentu setuju bila dikatakan bahwa ketiga tokoh utama dalam film ini pun memiliki segenap sifat dan perilaku yang sangat diragukan moralitasnya.

Pada satu titik, saya menangkap kesan bahwa McDonagh meramu semua kehidupan paradoks warga Ebbing menjadi suatu sajian yang bersifat relevan dan mengglobal terhadap isu-isu sosial saat ini. Dengan segala kemajuan teknologi, percepatan hubungan manusia yang satu dengan lainnya di seluruh dunia, dan era transparansi yang semakin tidak dapat dibendung, nyatanya itu semua belum bisa mengatasi berbagai kesenjangan dan diskriminasi yang dialami sebagian masyarakat, seperti kaum perempuan, warga kulit berwarna, kaum difabel, LGBT, masyarakat ekonomi menengah ke bawah, dan kaum marjinal lainnya. Dalam tatanan masyarakat saat ini, perpecahan justru sangat rawan terjadi dalam upaya kaum-kaum termarjinalkan tersebut menuntut kesetaraan.

Sebagai penulis naskah, McDonagh sepertinya memiliki pandangan valid akan hal ini. Ia memiliki suatu citra yang ingin ia tampilkan pada penonton bahwa terkadang letupan amarah pada satu peristiwa bisa merembes ke segala arah, menjadikan kita buta dan tuli, memusuhi orang lain, menyebabkan kita marah pada semua isi kehidupan ini, dan pada jangka panjang akhirnya kita bisa saja lupa mengapa dan terhadap apa atau siapa sebenarnya kemarahan kita tertuju. Tetapi McDonagh sama sekali tidak bermaksud untuk memberikan suatu teladan tentang bagaimana seharusnya perangkat masyarakat berfungsi. Ia hanya melemparkan ke hadapan penonton betapa pahit (dan salah arah?) perjuangan kaum marjinal bisa terjadi. Belakangan, McDonagh justru menjadi pergunjingan kontroversial masyarakat Amerika karena karyanya ini seolah membiarkan orang-orang yang dianggap bersalah bisa lari begitu saja dari tanggung jawab moral dan hukum yang seharusnya mereka pikul. Tetapi bagi saya sendiri, akhir Three Billboards outside Ebbing, Missouri bukanlah sesuatu yang perlu dibesar-besarkan, karena toh McDonagh tidak memiliki keinginan berceramah pada siapapun mengenai bagaimana mereka seharusnya bertindak, and that’s fair for me. We can not force an artist to pick a side on his/her own art right? 

Ketiga, tentu saja kekuatan naskah McDonagh ada pada lelucon gelapnya yang diam-diam menyelinap di sepanjang jalan cerita. McDonagh sangat piawai menempatkan adegan-adegan kocak pada celah-celah cerita yang memiliki tensi tinggi. Adegan-adegan yang paling mudah diingat misalnya pada saat Mildred, mantan suaminya Charlie (John Hawkes), dan putranya Robbie (Lucas Hedges) sedang beradu pendapat panas, datanglah sosok lugu Penelope (Samara Weaving) yang ingin menumpang kencing. Ada pula adegan antara Mildred dengan pendeta, Mildred dengan dokter gigi, serta celotehan-celotehan sampah Dixon lainnya yang dapat dengan tiba-tiba menerbitkan senyum penonton. McDonagh dengan gemilang mengangkat isu sensitif pelecehan seksual (ditambah dengan kasus Harvey Weinstein yang saat ini membelit Hollywood) menjadi subjek yang dapat ditertawakan dalam segenap rasa getirnya.

Saya belum akan mengakhiri pujian untuk McDonagh. Dalam proyek ini, selain menggoreskan ide cerita, ia juga turut menjadi arsitek handal. Dengan arahan sutradara lain, Three Billboards outside Ebbing, Missouri mungkin hanya akan menambah daftar panjang film bertemakan balas dendam dan pencarian keadilan. Dihiasi dengan orang tua bermartabat, kepolisian korup yang penuh manipulasi, dan jalan cerita lambat yang diramaikan dengan orkestra sentimental tentang bagaimana orang tua tersebut mencari keadilan. Mungkin begitulah kira-kira deskripsi Three Billboards outside Ebbing, Missouri bila dibidani sineas lain yang biasa menelurkan film bertemakan balas dendam dan pencarian keadilan. Beruntung, McDonagh bukanlah sutradara biasa. Meski ia tidak memiliki ukuran pasti ke mana ia akan membuang akhir ceritanya, ia tahu pasti bahwa dibutuhkan sensitivitas seorang rakyat jelata untuk menghasilkan film yang sangat manusiawi seperti ini. Ia tidak semata-mata memutarbalikkan jalan cerita melalui berbagai twist ibarat seorang pengendara motor berganti persneling. Ia melakukannya karena ia tahu benar bahwa tidak ada seorang manusia normal mana pun yang tidak pernah merasa labil dan gamang dalam hidupnya. Alhasil, ia telah menunjukkan kepada kita sebagai penonton bahwa keputusan manusia yang labil dan gamang itu bisa saja menggetarkan dan meluluhkan hati kita di satu sisi, tetapi juga dapat berubah menjadi sesuatu yang mengecewakan, bahkan memiliki kekuatan menghancurkan yang dahsyat.

Selain keunggulan naskah dan penyutradaraan, Three Billboards outside Ebbing, Missouri juga didukung jajaran pemeran yang penampilannya sangat mengagumkan. Pertama tentu saja kredit harus dialamatkan pada McDormand yang sekali lagi menunjukkan bahwa ia memang aktris kelas wahid. Dengan gaya bicara, berjalan, serta ekspresi wajah yang kelelakian, McDormand berhasil menyingkap aura pemberani seorang ibu yang sebenarnya sedang cemas mengharapkan secercah keadilan untuk mendiang putrinya. Singkat, lugas, selalu waspada, dan terkadang menakutkan menjadi ciri Mildred yang kentara dari penampilan McDormand. Di dukung dengan pilihan kostum dari Melissa Toth dan tata rambut Susan Buffington, Mildred ibarat reinkarnasi dari poster feminisme terkenal "We Can Do It!" yang semakin mempertegas karakternya tersebut. Tidak hanya dalam adegan-adegan berdialog saja McDormand sukses menyuntikkan aura pemberani Mildred. Dalam adegan pembuka film di mana Mildred membuat keputusan dalam diam saat melihat tiga papan iklan besar di jalan pun McDormand dengan apik menunjukkan kepada penonton bahwa Mildred adalah wanita dengan insting setajam elang yang melihat tikus di ladang. Namun, yang membuat penampilan McDormand menjanjikannya Oscar kedua adalah kemahirannya dalam menyisipkan sisi lembut nan pengertian dan penyayang seorang Mildred. Adegan-adegan saat Willoughby memucratkan darah serta saat ia dan Charlie duduk bersama adalah bukti dari kemahirannya tersebut.

Departemen akting juga disesaki oleh penampilan jawara lainnya dari Rockwell dan Harrelson. Rockwell, aktor yang menurut saya selama ini selalu berada di bawah radar kritikus sangat menonjolkan kemampuannya dalam menciptakan tokoh karikatur sekaligus tempramental dan kekanak-kanakan yang patut menjadi maskot Ebbing, sebuah kota bobrok. Dengan gaya sembrono dan sok benar, Rockwell menjadi salah satu pengisi durasi film yang paling kontradiktif. Bersama dengan Momma Dixon (Sandy Martin), Rockwell acap melontarkan perkataan konyol yang menjijikan sekaligus jenaka. Di lain waktu, Rockwell secara perlahan mampu menimbulkan pertanyaan: is Dixon actually a good lost boy? Penampilan yang sama impresif pun disuguhkan oleh Harrelson. Menurut saya ia bahkan lebih cemerlang lagi, karena hanya tampil dalam durasinya yang relatif pendek. Namun ia berhasil menyajikan karakter yang auranya terus menempel di sepanjang cerita. Ia menjadi katalis kehidupan orang-orang di sekitarnya, entah menjadi lebih baik atau lebih buruk, semuanya diserahkan kepada penonton. Ia sangat pandai menyembunyikan warna sesungguhnya seorang kepala kepolisian yang sangat sensitif tetapi penuh kekuasaan yang ditunjukkan dengan pendekatan lembutnya kepada Mildred, sesuatu yang cukup mengejutkan. Ia juga menampilkan sisi rapuh seorang Willoughby saat ia sakit dan berada di tengah keluarganya. 

Sederet pemeran pendukung seperti Peter Dinklage, Hawkes, Weaving, dan Martin juga berhasil memanfaatkan waku tayang mereka yang tidak panjang dengan efektif. Ini adalah kali kedua McDonagh menampilkan sosok pria kerdil setelah sebelumnya dalam In Bruges (2008) kita diperkenalkan pada seorang aktor dengan kehidupan menyedihkan. Kali ini, ia mendapuk Dinklage untuk menjadi James, karakter yang kondisi fisiknya selalu diolok-olok penduduk sekota Ebbing. Dinklage berhasil menunjukkan bahwa James adalah pria sensitif yang karena pengalamannya, tampak selalu fragile dan khawatir terhadap penerimaan orang lain. Hawkes, yang sangat saya suka di sini tampil dengan lincah melompat antara karakter kocak, beringas, sekaligus memiliki persona seorang bully. Weaving dan Martin sama-sama menjadi wanita komikal yang berdiri di dua titik ekstrim berseberangan. Meski dengan sangat jelas McDonagh menciptakan karakter Penelope semata-mata untuk ditempelkan sebagai lelucon gadis bodoh, Weaving justru membawa Penelope menjadi karakter yang simpatik. Bahkan dalam adegan “anger begets greater anger”, Mildred pun luluh dan di sinar matanya saya menangkap kerinduannya pada Angela. Sedangkan Martin adalah wanita tua bangka tak tahu diri yang menganggap dunia ada di genggaman pengaruhnya. Sikap tubuh dan gaya bicara Martin sebagai Momma Dixon di sini sangat menonjolkan hal itu.

Aspek terpuji lain Three Billboards outside Ebbing, Missouri adalah pengambilan gambar serta musik latar yang sama-sama semakin membuat film ini bersinar bak mutiara. Penata kamera Ben Davis yang memiliki banyak jam terbang mendandani film-film superhero sukses membawa penonton untuk menguntit perjalanan Mildred. Penempatan kamera Davis acap menampilkan wajah Mildred, bahkan saat yang berbicara adalah karakter lain. Davis dan McDonagh memberikan akses kepada penonton untuk menyimak bagaimana reaksi Mildred ketika orang-orang di sekitarnya - biasanya tokoh yang berseberangan dengan dirinya seperti Dixon, Willoughby, atau pria misterius yang tiba-tiba muncul di toko oleh-olehnya - berbicara padanya. Pengambilan gambar wajah Mildred pun dilakukan close-up sehingga dapat dengan jelas menunjukkan keunggulan ekspresi wajah McDormand. Nuansa kota kecil Ebbing juga sangat terasa di sepanjag alur cerita. Mulai dari jalan-jalan, kantor, lapangan tempat ketiga papan iklan berdiri, hingga bar yang ada di kota ini terasa nyata dan autentik. Saya sangat suka dengan pengambilan gambar, tata cahaya, dan warna yang terdapat di dalam adegan-adegan di bar. Warna-warni lampu bar seperti pendar merah, hijau, dan emas menciptakan suasana temaram, muram, dan tidak begitu riuh, cocok dengan latar kota kecil. Tentu saja, karya monumental Davis di sini adalah pengambilan gambar sekali sorot (one-shot) pada adegan Dixon saat menyambangi dan menghabisi Red Welby. Rangkaian pengambilan gambar tersebut membuat penonton menahan nafas panjang menyaksikan kekerasan demi kekerasan yang terjadi. Tak ada kata-kata saya yang pantas untuk menyanjung karya Davis ini. Terakhir, tentu saja musik latar khas dari Carter Burwell mempertajam nuansa western dalam film ini. Musiknya menjadi orkestra yang menemani langkah tak gentar Mildred dan penonton pun ikut berharap semoga inilah saat ia mendapatkan keadilan. Walaupun nasib baik tidak selalu memihak Mildred, namun setidaknya musik latar Burwell terus terngiang di kepala penonton.

Menutup ulasan film ini, saya ingin mengatakan bahwa saya sepenuhnya memahami bila pandangan bahwa Three Billboards outside Ebbing, Missouri adalah film yang sangat mentah karena tidak ada yang dapat disimpulkan dari jalan ceritanya. Pun saya mengerti pada pendapat bahwa tidak ada perkembangan karakter dalam tokoh utama film ini. Namun saya justru melihatnya dari pandangan yang berseberangan. Bagi saya, babak ketiga yang tampil sebagai pembawa makna, kesimpulan, dan hikmah tidak harus selalu hadir. Justru dengan caranya mengakhiri jalan cerita yang saya anggap tidak malu-malu inilah keunikan karya McDonagh. McDonagh ibarat hanya melempar (maaf) kotoran ke muka penonton. Setelah, ia memberi keleluasaan pada kita, apakah ingin memaknai kotoran itu sebagai awal dari perjalanan refleksif atau ingin segera membersihkannya. Begitu pula soal perkembangan karakter. Bagi saya, tokoh utama tidak harus selalu berubah menjadi pribadi yang sama sekali berbeda dari awal hingga akhir cerita. Perubahan itu terkadang terjadi di luar durasi film, yaitu ada di imajinasi penonton. Saya sendiri menikmati perjalanan Mildred dan seperangkat penduduk kota Ebbing lainnya, tentu dengan harapan bahwa mereka melakukan hal yang lebih baik dalam kehidupan masing-masing, setidaknya itulah isi harapan dalam kepala saya. It's a masterpiece, 5 out of 5 for me. Ada yang punya komentar?



Watch this if you liked:

Miller's Crossing (1990)

Director: Joel Coen, Ethan Coen
Stars: Gabriel Bryne, Albert Finney, John Torturro
Genre: Crime, Drama, Thriller
Runtime: 115 minutes










Manon des Sources (1986)

Director: Claude Berri
Stars: Yves Montand, Emmanuel Béart, Daniel Auteuil
Genre: Drama
Runtime: 113 minutes