Rabu, 28 November 2012

Vozvrashchenie (The Return): Kembali Seperti Sediakala

Bertepatan dengan gelaran Europe on Screen yang sedang berlangsung dari tanggal 25 November hingga 1 Desember 2012, saya mencoba menepi dari arus lalu lintas film Hollywood yang begitu padat dengan kembali menonoton beberapa film Eropa yang belum saya ulas. Menonton film Eropa bagi saya bagaikan memasuki sebuah dunia lain yang berbeda dengan perfilman Hollywood. Bagi Anda pecinta film, pasti mengetahui bahwa sedikit banyak ada perbedaan yang cukup tajam antara produk sinema Eropa dengan Hollywood, terutama dari segi alur cerita. Perbedaan itu pada akhirnya akan berpengaruh pada pengalaman menonton yang berbeda pula. Well, berpindah sejenak untuk mengamati film Eropa untuk diri saya pribadi dapat memperkaya khazanah perfilman dunia, dan yang paling utama agar sudut pandang sebagai penikmat film tidak terpaku pada stereotype Hollywood.

Kali ini, film yang akan saya ulas adalah Возвращение/Vozvrashcheniye (judul internasional: The Return) (2003), sebuah film dari Negeri Beruang Merah, Rusia. The Return merupakan salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Saya ingat pertama kali menyaksikan film ini empat tahun lalu dan begitu memukau saya baik dari segi alur cerita, karakterisasi, maupun sinematografi. Ketika saya menonoton kembali film yang merupakan debut penyutradaraan Andrey Zvyagintsev ini, kesan memukau itu tidak pudar, malah saya merasa "pengalaman indah" yang dulu saya rasakan usai menonton film ini semakin bertambah, mempertegas bahwa The Return benar-benar merupakan sebuah mahakarya.

The Return mengisahkan kehidupan Andrey (Vladimir Garin) dan Ivan (Ivan Dobronravov), dua kakak-beradik yang tumbuh dalam keluarga yang tak pernah mengenal sosok seorang ayah. Selama ini, satu-satunya bukti yang menunjukkan bahwa mereka pernah memiliki ayah adalah dari sebuah foto usang yang memperlihatkan gambar mereka berdua sewaktu bayi dengan ayah dan ibu. Selebihnya, mereka tidak tahu sama sekali mengapa ayah mereka tidak tinggal bersama di rumah. Andrei dan Ivan hanya tinggal bersama ibu (Nataliya Vdovina) dan nenek (Galina Popova). Antara Andrey dan Ivan terjalin hubungan persaudaraan yang sangat erat. Secara keseluruhan, kehidupan Andrey dan Ivan berjalan normal seperti kehidupan anak-anak lain. Setidaknya, kondisi tersebut tetap bertahan hingga suatu hari ibu mereka mengabarkan bahwa ayah mereka ada di rumah.

Ayah Andrey dan Ivan (Konstantin Lavronenko) merupakan sosok pendiam namun memiliki wibawa dan disiplin yang luar biasa tegas dan kaku. Di mata Andrey dan Ivan, kombinasi pendiam, wibawa, dan disiplin ayah mereka menjadikannya seseorang yang misterius, tak tersentuh, dan terkesan otoriter. Penilaian Andrey dan Ivan memang tak lepas dari kebingungan yang terus menggerogoti pikiran dan hati mereka semenjak kedatangan sang ayah. Bayangkan, jika Anda bertemu dengan seseorang yang belum pernah Anda temui seumur hidup Anda, tetapi di sisi lain Anda harus menerima kenyataan bahwa ia adalah orang yang sangat dekat dengan Anda, tentu sedikit atau banyak akan muncul perasaan terguncang di benak, bukan? Perasaan terguncang Andrey dan Ivan menjadikan sikap mereka pada awal pertemuan dengan sang ayah menjadi kikuk.

Andrey dan Ivan yang masih terkejut akan kehadiran yang sangat tiba-tiba dari ayah yang tak pernah mereka kenal sebelumnya mulai belajar memahami sosok sang ayah melalui sebuah perjalanan liburan. Selama perjalanan itulah, hubungan ayah, Andrey, dan Ivan digambarkan secara perlahan. Seiring berjalannya waktu, Andrey yang memang terbiasa menjadi penurut dan penjilat mulai mendekatkan diri dengan sang ayah. Berbanding terbalik 360 derajat dari sikap Andrey, Ivan yang keras hati tetap menjaga jarak dan menaruh curiga terhadap ayahnya.

Perjalanan liburan dengan sang ayah ternyata dirasakan Ivan sangat mengecewakan. Alih-alih dibawa ke tempat pemancingan yang menjadi favorit Andrey dan Ivan, sang ayah malah membawa mereka ke sebuah pulau yang sangat asing, jauh, dan terpencil. Ditambah lagi, Ivan sangat benci sikap dingin, otoriter, dan kesunyian ayahnya. Karena itulah sepanjang pejalanan, sedapat mungkin Ivan berusaha menunjukkan rasa tidak senangnya dengan hampir tidak mematuhi semua perintah sang ayah, kecuali jika benar-benar dipaksa. Meskipun begitu, ayah mereka bukanlah tipe orang yang mudah dilawan. Selama sepekan, Andrey, Ivan, dan ayah mereka melakukan perjalanan bersama dan mengalami berbagai macam hal. Perjalanan itu ditutup dengan kejadian yang tak akan pernah dapat dilupakan, bahkan hingga mereka kembali.

Sepintas, menonton The Return seperti menyaksikan sebuah cerita yang penuh dengan lubang yang membingungkan dan tak diketahui seperti apa penutupnya. Satu hal yang pasti, Zvyagintsev sebagai sutradara ingin menunjukkan bahwa ada sesuatu di balik misteri kedatangan tiba-tiba sang ayah. Namun, Zvyagintsev yang juga ambil bagian dalam penulisan naskah dengan sangat elegan tidak memberikan penjelasan gamblang atau mengungkapkan petunjuk murahan yang membuat penonton mudah menebak jalan cerita film ini.

Alur cerita The Return dibuat agak lambat di awal. Zvyagintsev seperti ingin memaku penonton untuk terus fokus ke layar, bersama-sama dengan Andrey dan Ivan berspekulasi mengenai siapakah sebenarnya jati diri sang ayah, seperti apa masa lalunya, dan apakah ia memiliki maksud jahat terhadap kedua anaknya. Penonton akan berusaha keras merangkai jalinan petunjuk yang terdapat di sepanjang perjalanan tiga tokoh utama dalam film ini, mulai dari kebiasaan menelepon sang ayah yang misterius, karung yang dipanggul (tubuh manusia?), hingga peti yang digali di pulau.

Jika ingin berdiskusi sejenak, apakah ayah Andrey dan Ivan sosok yang jahat? Bagi saya tidak, dengan melihat tingkah laku sang ayah, saya justru menagkap bahwa ia hanyalah sosok ayah seperti ayah lainnya yang ingin dekat dengan kedua putranya. Ia sangat menyayangi mereka, meski ia tidak mampu menjelaskan ketidakhadirannya selama ini. Ia terlalu takut kehilangan kedua buah hatinya. Bila melihat adegan transaksi di pelabuhan, saya memang curiga ia memiliki pekerjaan yang tidak biasa, bahkan cenderung mencurigakan. Mungkin karena pekerjaanya irulah ia tidak berani mengungkapkan kisah hidupnya kepada dua anaknya. Namun,  setelah lama mengamati dan merenungkan jalan cerita film ini, saya justru juga menemukan pertanyaan yang akan sama sekali membuat The Return menjadi film yang lebih complicated: apakah kemunculan tia-tiba sang ayah merupakan khayalan atau imajinasi Andrey dan Ivan semata? Pertanyaan ini timbul secara tiba-tiba ketika di bagian akhir ketika saya melihat Ivan menemukan sebuah foto yang mirip dengan foto usang miliknya, hanya saja kali ini tak ada potret ayahnya di sana. Selain itu, setelah dicermati lebih jauh, judul The Return pun mengandung ambiguitas, tidak hanya berarti kepulangan sang ayah secara tiba-tiba, tetapi juga kembalinya Andrey dan Ivan dari perjalanan imajinatif mereka, dan kehidupan pun berjalan seperti sediakala? Well, apa pun itu,  teknik penulisan naskah Zvyagintsev ini sangat efektif untuk menjaga tensi dan ritme film mengingat penonton ditempatkan pada posisi yang sama dengan karakter Andrey dan Ivan, dua karakter yang melalui mata mereka, menceritakan kisah di film ini. Bagi saya ambiguitas cerita membuat The Return menjadi sebuah film yang tak akan lepas dari pikiran bahkan lama setelah kredit terakhir dumunculkan di layar.

Zvyagintsev juga memasukkan cukup banyak simbol di pertengahan film, terutama dari teknik pengambilan gambar. Simbol-simbol tersebut memiliki makna tersendiri yang dapat diinterpretasikan secara bebas oleh penonton. Misalnya Zvyagintsev seringkali mengambil gambar objek diam yang ditinggalkan oleh objek yang bergerak seperti tikungan jalan yang dilalui oleh mobil yang ditumpangi tiga karakter utama film ini. Tikungan jalan itu diperlihatkan dalam waktu yang cukup lama setelah mobil tersebut melintas. Saya menginterpretasikan Zvyagintsev ingin menujukkan makna kepergian. Seperti halnya mobil yang melintas menjauhi tikungan jalan yang tetap berada di tempatnya dan tak berubah sedikit pun, kepergian ayah Andrey dan Ivan dulu tidak meninggalkan bekas yang berarti. Andrey, Ivan, ibu, dan neneknya tetap hidup dan tinggal bersama. Mereka bahkan seakan-akan lupa bahwa dulu mereka memiliki satu anggota keluarga yang kemudian pergi dan tak pernah disangka akan kembali.

Di sepanjang film berdurasi 105 menit ini, hanya ada tiga karakter yang mendominasi seluruh jalan cerita: Andrey, Ivan, dan ayah mereka. Salah satu keunikan film ini adalah semua tokoh dewasa yang muncul tidak diketahui namanya. Bahkan, memang hanya ada dua nama yang disebut di keseluruhan film ini: Andrey dan Ivan. Perwatakan tiga karakter tersebut tidak digambarkan melalui dialog panjang lebar, melainkan melalui tindakan dan subtle nuances yang dtimbulkan dari hubungan ketiga karakter tersebut. Contohnya, sifat keras kepala Ivan digambarkan pada scene awal di mana ia takut untuk melompat ke laut dari ketinggian namun ia tidak mau turun melalui tangga dan dicap sebagai pengecut. Ia tetap bertahan di atas papan loncat dalam waktu yang sangat lama, bahkan hingga ibunya menjemput.

Sementara karakter ayah yang dominatif dan otoriter dalam film ini digambarkan melalui kalimat-kalimat dialog singkat yang diucapkannya serta tindakannya yang misterius dan tiba-tiba. Sang ayah seringkali memberikan perintah kepada Andrey dan Ivan tanpa memberitahu maksud perintahnya tersebut. Padahal bila dicermati, banyak di antara perintah sang ayah diberikan demi kebaikan Andrey dan Ivan. Selama perjalanan itu, Andrey dan Ivan juga berkali-kali dihadapkan pada perintah ayah mereka untuk melakukan kegiatan fisik yang cukup berat, seperti mendayung di tengah cuaca yang tak bersahabat ketika mesin perahu yang digunakan untuk menyeberang ke pulau rusak dan mendorong mobil yang mengalami selip ban. Bagi saya pribadi, karakter ayah lebih dapat dicermati melalui pandangan matanya. Sebagai contoh, ada satu scene di mana Ivan dan ayahnya sedang menunggu di dalam mobil sementara Andrey pergi mencari informasi lokasi restoran terdekat. Dalam scene itu, ada seorang wanita lewat di samping mobil mereka, dan sang ayah menatap lekat-lekat bokong dan punggung wanita tersebut melalui kaca spion samping dan depan. Scene itu sangat menunjukkan bahwa sebenarnya sang ayah memiliki karakter yang sangat bisa ditebak, just such an open book.

Kesempurnaan film ini didukung pula oleh kualitas dari penampilan aktor-aktornya. Saya memberikan kredit tertinggi untuk Dobronravov yang sangat berhasil memperlihatkan performa seorang anak yang memiliki luapan kemarahan luar biasa di dalam dirinya. Emosi yang ditujukkan Dobronravov merupakan emosi khas anak-anak yang sangat kentara, tak bisa ditutupi. He is cleverly and fully captures the helpless anger of a child. Dobronravov dapat membawakan karakter Ivan menjadi karakter yang menonjol.

Sementara itu Garin, meski tidak sebaik Dobronravov mampu membawakan karakter Andrey yang kelelahan karena melakukan berbagai kegiatan fisik dengan meyakinkan. Saya menduga, beberapa adegan yang melibatkan kegiatan fisik yang cukup berat seperti menyeret, menarik, mendorong, dan memanggul benar-benar dilakukan dengan barang bawaan yang berat dan Zvyagintsev menunggu sesaat untuk mengambil gambar adegan tersebut hingga sang aktor memperlihatkan kondisi lelah sungguhan. Dengan begitu, ekspresi dan gerak tubuh yang dihasilkan menjadi sangat meyakinkan. Sayang sekali bakat Garin tidak sempat diasah lagi di film lain mengingat beberapa hari sebelum perilisan internasional The Return, ia tewas tenggelam di danau yang tragisnya dipakai untuk pengambilan gambar film ini.

Terakhir, Lavronenko yang merupakan mantan tentara Soviet berhasil membawakan sosok ayah yang dingin, misterius, dan pendiam. Gaya bicaranya yang sering memerintah dengan singkat dan tegas seperti telah terlatih berkat pengalamannya sebagai tentara. Penampilan fisik Lavronenko yang besar dan tegap juga mendukung karakter ayah yang serba bisa dan dapat diandalkan.

Dari segi sinematografi, Zvyagintsev dengan cerdas menampilkan kesan suram, gelap, dan misterius di sepanjang film dengan penggunaan warna-warna gelap, yang didominasi abu-abu dan biru tua. Kesan redup juga ditampilkan melalui hujan yang sering turun dengan deras dan meminimalisasi efek cahaya matahari, menimbulkan visualisasi langit yang tak pernah cerah. Selain itu, di berbagai adegan Zvyagintsev juga mengambil gambar siluet atau bayangan tokoh dari kejauhan. Hanya di beberapa adegan saja Zvyagintsev menampilkan latar pemandangan (landscape) Rusia yang luas dan menakjubkan. Danau, laut, pantai, hutan, padang rumput, semua terlihat indah dan kontras dengan suasana yang dihadirkan cerita film ini.

Secara keseluruhan, saya tak ragu berpendapat bahwa seharusnya film ini tidak hanya berhenti hingga nominasi Best Foreign Language Film Golden Globe 2004 saja, tetapi juga sangat pantas menjadi nominator Best Foreign Language Film dalam ajang penghargaan film tertinggi sejagad, Oscar. Bahkan bagi saya yang tidak sepenuhnya dapat memecahkan teka-teki The Return, film ini tetap menjadi sebuah kepingan berharga yang sulit dilewatkan. Bagi Anda yang belum pernah menonton film ini, saya sangat merekomendasikannya. Sebuah debut jenius dari sutradara Andrey Zvyagintsev. It's outstanding, 5 out of 5 stars from me. Ada yang punya komentar?


Wach this if you liked:

Mulholland Drive (2001)

Director: David Lynch
Stars: Naomi Watts, Laura Harring, Justin Theroux
Genre: Drama, Mystery, Thriller
Runtime: 147 minutes


Donnie Darko (2001)

Director: Richard Kelly
Stars: Jake Gyllenhaal, Jena Malone and Mary McDonnell
Genre: Drama, Mystery, Sci-Fi
Runtime: 113 minutes






Selasa, 02 Oktober 2012

Kuliah Seribu Sentilan Pak Dirjen

Beberapa waktu lalu, kampus saya kedatangan satu tamu istimewa, yaitu Fuad Rahmany yang saat ini menjabat sebagai Direktur Jenderal Pajak. Kedatangannya menjadi istimewa sebab inilah kunjungan pertamanya ke Departemen Ilmu Admnistrasi FISIP UI, khususnya program studi Ilmu Administrasi Fiskal sejak ia dilantik pada 1 Januari 2011 silam. Pelantikannya diwarnai sejumlah isu yang siap menunggu untuk diselesaikan seperti masalah Gayus Tambunan, banyaknya area abu-abu dalam peraturan perpajakan, dan yang paling baru adalah ketika para ulama Nahdlatul Ulama (NU) mengancam akan memboikot pembayaran pajak bila hasil pajak masih terus dikorupsi. Maka, ketika beliau pertama kali berbicara mengenai kerinduannya akan mengajar di kampus, saya percaya bahwa hal itu tidak sepenuhnya benar. Kedatangan Pak Dirjen tentu juga akan menyinggung sedikit (atau banyak?) isu-isu tersebut dan memberikan klarifikasi dan pencitraan diri. Tentu saja melakukan hal tersebut bukanlah sesuatu yang haram, bahkan diperlukan bila memang selama ini masyarakat salah menanggapi isu-isu yang beredar.

Ketika mendapatkan selebaran informasi akan diadakan kuliah umum (studium generale) dari Dirjen Pajak, yang pertama kali menarik mata saya di selebaran itu adalah tema kuliahnya. Bukan karena dahsyat atau menggugahnya tema itu, sebaliknya tema tersebut saya rasa sangat umum, bahkan hampir seperti bahan sosialisasi dari petugas pajak kepada masyarakat awam tentang pajak, sebab temanya adalah "Peran Pajak dalam Pembangunan". Tentu kita semua tahu bahwa secara teoritis pajak memang memainkan peran dalam pembangunan sebuah negara. Hanya saja, dalam tataran implementasi, peran tersebut masih jauh dari yang diharapkan karena banyaknya "lubang" yang menghambat suksesnya pajak menjadi tunlang punggung pembangunan negara.

Namun, beruntunglah semua peserta kuliah umum itu sebab sebelum Pak Dirjen memberikan kuliah, tentu sebagaimana acara formal lainnya ada kata sambutan (keynote speech) yang saat itu disampaikan oleh Prof. dr. Irfan Ridwan Maksum. Dalam sambutannya itu, Prof. Irfan menyinggung berbagai problema yang dihadapi Direktorat Jenderal Pajak (DJP), dan berharap agar Pak Dirjen mau berbagi pengalamannya dalam menghadapi berbagai masalah pelik yang menyangkut lingkup kerjanya. Nah, saya pikir klop lah harapan saya dengan sambutan Prof. Irfan ini, semoga Pak Dirjen tidak hanya membahas berbagai pengetahuan dasar perpajakan saja, tetapi juga membahas masalah-masalah yang ditemukan di lapangan.

Ketika kuliah berlangsung, efek sambutan Prof. Irfan mulai terasa. Pak Dirjen hanya sedikit menjelaskan beberapa bahan kuliah yang dituangkan dalam bentuk presentasi dan lebih banyak mengeluarkan jurus "seribu sentilan" saat beliau menceritakan pengalamannya menjadi Dirjen Pajak hingga saat ini. Saya menyebutnya jurus seribu sentilan karena dalam menceritakan pengalamannya, Pak Dirjen senantiasa berusaha membuat peserta kuliah yakin akan performa bagus dari DJP dengan sedikit mengubah sudut pandang berpikir kita selama ini. Selain itu, ada cukup banyak pihak yang disentil Pak Dirjen dalam kuliahnya pagi itu.

Pertama, Pak Dirjen menyinggung masalah kepatuhan membayar pajak dari masyarakat menengah ke atas. Beliau bercerita bahwa ada banyak masyarakat berkecukupan (bahkan lebih) yang tidak mau membayar pajak dengan berbagai alasan yang "konyol" seperti jalan di depan rumah yang belum dibuat. Menurut saya, mungkin ada benarnya apa kata Pak Dirjen ini yang menyatakan bahwa masyarakat menegah ke atas kurang patuh dalam membayar pajak, tetapi tentu saja alasannya bisa beragam. Mungkin saja mereka tidak yakin akan transparansi administrasi pajak, apalagi muncul kasus-kasus pegawai pajak yang nakal yang tidak sepenuhnya dipahami masyarakat. Selain itu, Pak Dirjen juga mengeluhkan tindakan masyarakat mampu yang ikut mengonsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, sedangkan BBM itu disubsidi dari pajak, dan itu tadi, masyarakat menengah ke atas seperti ogah-ogahan membayar pajak. Hasilnya, kata Pak Dirjen, tax ratio Indonesia masih jauh di bawah negara-negara lain, termasuk negara tetangga kita, Singapura yang berhasil mendongkrak tax ratio hingga level 18%.

Kemudian Pak Dirjen juga menanggapi isu NU yang mengancam akan memboikot bayar pajak bila masih ada pajak yang dikorupsi. Menurutnya, ancaman itu sangat tidak berdasar, sebab apajak adalah kesepakatan bersama antara negara dengan rakyat yang dutangkan dalam bentuk Undang-Undang (UU). Pembuatan UU itu melibatkan rakyat juga, yaitu perwakilan-perwakilan (representation) yang dianggap dapat mengakomodasi aspirasi rakyat. Jadi ketika ada yang mengancam memboikot bayar pajak tentu saja itu berarti melanggar kesepakatan bersama. Selain itu, Pak Dirjen mengatakan bahwa bila tak ada pajak, maka penyelenggaraan negara tidak dapat dilakukan karena tidak ada sumber pendanaannya. Secara ekstrem dapat dikatakan jika tidak ada pajak, maka tidak akan ada negara.

Isu batalnya kenaikan harga BBM juga disinggung Pak Dirjen. Kali ini, beliau menyentil mahasiswa yang beberapa waktu lalu gencar melakukan kasi demo di jalan untuk menentang naiknya harga BBM. Menurut Pak Dirjen, akibat batalnya kenaikan BBM tersebut, negara terpaksa harus menanggung beban sibsidi yang dirasa amat berat, sehingga membuat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Untuk menutupi defisit itu, negara melakukan pinjaman (utang) yang tentunya menambah jumalh utang negara.

Pak Dirjen juga mengecam banyaknya perusahaan fiktif yang beredar luas di masyarakat. Menurut beliau, banyak di antara perusahaan fiktif itu mengajukan permohonan untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP). Dengan menjadi PKP, tentu saja mereka dapat dengan bebas mengkreditkan beban Pajak Pertambahan Nilai (PPN), padahal perusahaan mereka adalah perusahaan fiktif yang tidak memiliki kegiatan bisnis. Selain masalah perusahaan fiktif, saat ini bayak pula terjadi kasus pembuatan faktur pajak palsu. Dengan bayaknya faktur pajak palsu, banyak pengusaha yang mendapatkan Pajak Masukan (PM) yang lebih besar, dan ujung-ujungnya meminta restitusi. Jika sudah begitu, tindakan itu dapat digolongkan sebagai pencurian uang negara.

Semakin siang, sentilan Pak Dirjen semakin seru. Masyarakat umum pun tak lepas dari sentilan Pak Dirjen. Menurutnya, selama ini masyarakat Indonesia sering terbawa media yang lebih banyak memberikan hal-hal buruk seputar DJP. Padahal, adanya kasus seperti Gayus itu menurut Pak Dirjen adalah pertanda bagus, dalam artian bahwa oknum-oknum seperti itu mulai ketahuan dan ditindak, tidak seperti dulu di mana proses hukumnya mandul. Tetapi menurut saya, tentu tidak tepat mengatakan bahwa adanya kasus itu menjadi bagus, sebab hal itu justru menunjukkan kelemahan DJP dalam membina organisasi dan stafnya. Untuk mereka yang termakan isu pemboikotan bayar pajak, Pak Dirjen mengatakan bahwa pada akhirnya yang diuntungkan adalah para pengusaha besar, padahal merekalah yang menempati porsi terbesar pembayar pajak di Indonesia. Sehingga, menurut Pak Dirjen sebenarnya "Gayus-gayus" itu lebih banyak ada di masyarakat, termasuk mereka yang memengaruhi orang untuk tidak membayar pajak. Sedikit rasa tersinggung terbersit dalam hati saya. Kesalahan ada di tubuh DJP lantas mengapa masyarakat yang disalahkan? Jalan terbaik tentunya adalah introspeksi diri dari masing-masing pihak.

Dalam kuliahnya Pak Dirjen juga memberikan wejangan kepada kami semua, peserta kuliah yang mungkin di masa depan akan menjdai fiskus. Pak Dirjen menyampaikan bahwa saat ini di DJP sedang digalakkan program pengawasan horizontal atau sesama staf agar tidak lagi terjadi kasus seperti Gayus. Pak Dirjen bercerita bahwa ada seorang teman Gayus yang ikut dihukum karena ia mengetahui tindak-tanduk Gayus, tetapi tidak melaporkan ke atasannya meskipun ia menolak bekerja sama. Setelah memberikan wejangan ini, tak lama kemudia kuliah ditutup dengan pemberian kenang-kenangan. Pada akhirnya, saya merasa kuliah umum ini lebih seperti klarifikasi terbuka yang bersifat defensif dari DJP. Pak Dirjen sendiri pun mengakui, "Kalau bukan Dirjennya yang membela, siapa lagi yang mau membela DJP?" Tentu saja, seperti telah saya tulis di atas, tak ada salahnya melakukan klarifikasi dan pencitraan diri, terutama menyangkut masalah yang belum sepenuhnya dipahami masyarakat. 


Senin, 01 Oktober 2012

Sherlock Holmes: The Detective in New Look

Visualisasi detektif termasyhur karya Sir Arthur Conan Doyle memang telah sering dibuat. Tetapi kisah Sherlock Holmes (2009) garapan sutradara berdarah Inggris Guy Ritchie (Revolver, RocknRolla) menyajikan tampilan segar dibanding film-film sebelumnya. Selama ini, Ritchie dikenal sebagai sutradara idealis yang selalu mengedepankan kualitas cerita dibanding glamornya bintang atau efek-efek visual yang sekarang menjadi salah satu jualan utama sineas Hollywood. Lihat saja karya-karya sebelumnya yang mendapatkan tanggapan positif dari para kritikus seperti Lock, Stock, and Two Smoking Barrels (1998) dan Snatch (2000). Namun, karena idealismenya itu, Ritchie sering dianggap sutradara kelas dua dari segi komersial, sebab kebanyakan filmnya memperlihatkan prestasi biasa-biasa saja di tangga box office. Meski begitu, nampaknya Warner Bros memiliki pertimbangan lain. Resume Ritchie yang sering menangani film-film petualangan dan laga menjadi salah satu petimbangan tepat untuk menempatkan Ritchie di kursi sutradara. Penggunaan Robert Downey, Jr. yang namanya kembali beredar di layar lebar setelah lama absen dari percaturan dunia hiburan akibat ketergantungannya pada narkotika juga diyakini sebagai salah satu kunci sukses Sherlock Holmes.

Berstatus sebagai film berbujet tertinggi sang sutradara, Sherlock Holmes memberikan penonton tampilan detektif yang dikenal beralamat di Baker Street 221B itu yang nyaris seluruhnya baru. Dalam film ini, tak ada lagi sosok Holmes yang menggunakan jaket kulit rusa, tak ada lagi sikap elegan yang sempurna, tak ada lagi pelayan gemuk yang selalu mematuhi perintah Holmes. Penonton seperti diperkenalkan pada sosok detektif lain yang lebih humoris, sedikit childish, dan yang pasti memiliki kemampuan nalar dan akal bulus yang tak tertandingi siapapun. Ciri lama yang masih melekat pada sosok Holmes yang baru ini adalah kegemarannya menghisap cangklong dan bermabuk-mabukan ketika sedang sepi job. Duet Holmes dengan sahabatnya, dr. Watson yang dikenal sebagai veteran perang semakin menambah seru ritme film ini. Ada nuansa kocak dari tingkah laku kedua tokoh utamanya, serius ketika Holmes memaparkan teknik-teknik bela diri dan logika sainsnya, dan tegang saat terjadi ledakan dan adu laga.

Film ini dibuka dengan adegan yang cukup agresif untuk sebuah permulaan, yaitu ketika Holmes (Downey, Jr.) dan Watson (Jude Law) berada dalam operasi penangkapan Lord Blackwood (Mark Strong), seorang buronan yang telah membunuh empat orang wanita dan diduga aksinya tersebut dilakukan untuk kepentingan ilmu sihir. Dalam operasi itu, Blackwood sedang melakukan ritual untuk menghabisi nyawa korban wanita kelimanya. Dengan segenap kemahiran dan ketangkasannya menghabisi lawan, Holmes dan Watson berhasil membekuk Blackwood, meski sebenarnya penangkapan itu mendahului rencana kepolisian yang dipimpin Inspector Lestrade (Eddie Marsan). Blackwood pun ditahan dan beberapa waktu kemudian menghadapi putusan hukum gantung. Namun, sebelum hukuman itu dijalankan, Blackwood memperingatkan Holmes bahwa kematiannya bukan akhir dari segalanya, masih akan ada tiga kematian misterius yang akan terjadi.

Peringatan sang pelaku kriminal terwujud ketika polisi menemukan bahwa makam Blackwood jebol dan mayat yang ada dalam peti mati bukanlah tubuh Blackwood, melainkan sosok kerdil yang belakangan diketahui bernama Reordan (Oran Gurel). Sebelum kejadian jebolnya makam tersebut, Holmes kedatangan klien spesial yang telah dikenalnya. Klien itu spesial bagi Holmes karena diam-diam ia menyimpan rasa kagum terhadap klien yang satu ini, yaitu Irene Adler (Rachel McAdams). Irene meminta bantuan Holmes mencari orang hilang yang ternyata adalah Reordan. Holmes yang mengetahui bahwa Adler adalah wanita licik dengan sekejap mengetahui bahwa Adler mencari Reordan bukan untuk dirinya, melainkan untuk orang lain, yaitu seorang profesor yang kemudian diketahui bernama Professor Moriarty. Siapakah Professor Moriarty ini dan apa hubungannya dengan Reordan dan Blackwood, penonton akan mendapatkan jawabannya di akhir film di mana Holmes berhasil memecahkan teka-teki bahwa ternyata Blackwood tidak mati saat dirinya digantung di hadapan publik.

Blackwood bersekongkol dengan petugas yang mengatur proses hukuman itu dan melakukan sejumlah trik ilmiah agar denyut nadinya berhenti. Selain itu, Holmes juga berhasil mendapatkan titik terang motif pembunuhan yang dilakukan Blackwood. Ternyata aksi kriminal Blackwood sama sekali tidak ada hubungannya dengan ritual mistis atau ilmu sihir apapun, melainkan nafsu untuk mendapatkan kekuasaan politik di Inggris, Amerika, dan dunia. Blackwood ternyata merupakan mantan anggota sebuah organisasi rahasia berbau mistis yang dikenal dengan sebutan Four Orders yang kemudian memberontak dan ingin menguasai organisasi itu dan memperalatnya demi tujuan pribadinya tadi, menguasai dunia. Para pemimpin Four Orders, yaitu Thomas Rotheram (James Fox) yang ternyata adalah ayah kandung Blackwood, duta besar Amerika Standish (William Hope), dan sekretaris organisasi itu, Lord Coward (Hans Matheson) meminta batuan Holmes untuk menangkap kembali Blackwood yang "bangkit dari kubur". Namun, permintaan mereka belum sempat terwujud ketika Rotheram dan Standish ditemukan mati dalam kondisi yang penuh teka-teki dan dihubung-hubungkan dengan pengaruh sihir Blackwood. Padahal semua itu hanyalah hasil kecerdasan Reordan yang bekerja untuk Blackwood dalam memanfaatkan sains dan membungkusnya dalam nuansa mistis. Beruntung, pada akhirnya Holmes berhasil memecahkan itu semua secara logis dan masuk akal.

Di sepanjang cerita, Holmes digambarkan sering kali bertingkah konyol dan kekanak-kanakan. Ia cemburu pada Watson yang telah menemukan Mary Morstan (Kelly Reilly), wanita pujaannya sehingga waktunya habis tersita oleh Mary. Downey, Jr. memerankan sosok Holmes yang konyol ini dengan apik. Terkadang ia menampilkan mimik muka polos seperti anak-anak, licik demi mendapat informasi, tetapi di waktu lain ia bisa serius ketika berpikir. Law juga berhasil memerankan Watson sebagai teman yang lebih bijaksana bagi Holmes, berwawasan luas dan berpengalaman sebagai veteran perang, meski tidak memiliki kemampuan menarik kesimpulan sebaik Holmes.

Hal yang mungkin agak mengganggu adalah sifat dan sikap childish Holmes dan Watson yang digambarkan dalam film ini justru hampir terkesan seakan-akan ada hubungan "spesial" di antara dua tokoh ini, sebab seringkali Watson diceritakan sangat perhatian terhadap Holmes (bahkan hingga ke urusan pribadi), dan Holmes sendiri cemburu ketika Watson sedang bersama Mary. Akibatnya, dua tokoh love interest di sini, yaitu Adler dan Mary kurang tereksplor. Peran mereka berdua dapat digantikan oleh wanita cantik manapun sebab mereka tidak memiliki karakter spesifik yang membedakan mereka dari tokoh lain. Mereka tidak memiliki peranan signifikan, bahkan untuk Mary ia hanya tampil beberapa kali dalam waktu yang cukup singkat.

Dari segi sinematografi, penonton disuguhkan sebuah latar Inggris abad 19 dengan tata warna yang didominasi oleh corak sephia dan gotik. Kehidupan sosial masyarakat Inggris zaman dulu sangat sukses divisualisasikan, mulai dari pemilihan kostum seperti gaun-gaun berpantalet, setelan mantel, topi, dan lain sebagainya hingga pada latar tempat di mana Tower Bridge masih dalam tahap konstruksi pembangunan. Semuanya terasa memanjakan mata. Untuk kerja cemerlang ini, Sherlock Holmes dinominasikan Oscar dalam kategori Best Achievement in Art Direction di samping Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score untuk Hans Zimmer.

Secara keseluruhan, Sherlock Holmes berhasil menyajikan tontonan segar kepada penonton yang umumnya telah akrab dengan cerita detektif yang satu ini. Film ini juga berhasil mengubah sedikit image Ritchie sebagai sutradara yang tidak pernah sukses secara komersial, sebab terbukti dari peredarannya di seluruh dunia, Sherlock Holmes berhasil meraup pendapatan kotor sebesar $524,028,679, membuatnya sebagai film berpenghasilan terbesar sang sutradara, dan tentunya bagi rumah produksi, film ini berhasil membantu Warner Bros menemukan franchise baru yang menjanjikan. Meski pada saat pemutarannya harus bersaing dengan film-film kelas berat seperti Avatar, namun Sherlock Holmes memberikan pengalaman menonton tersendiri dan bagi saya pribadi akan merasa rugi jika melewatkan film yang satu ini. It's refreshing, 3.5 out of 5 stars for me. Ada yang punya komentar?


Wach this if you liked:

Sherlock Holmes: A Game of Shadows (2011)

Director: Guy Ritchie
Stars: Robert Downey Jr., Jude Law, Jared Harris
Genre: Action, Adventure
Runtime: 129 minutes


Secret Window (2004)

Director: David Koepp
Stars: Johnny Depp, Maria Bello, John Turturro
Genre: Mystery, Thriller
Runtime: 96 minutes


Minggu, 23 September 2012

Desentralisasi Fiskal Pajak Properti: Wewenang Pusat atau Daerah?

Tulisan ini akan meninjau tesis ilmiah Blane D. Lewis, seorang peneliti pembangunan internasional, yang berjudul Property Tax in Indonesia: Measuring and Explaining Administrative (Under-) Performance. Tesis ilmah itu diterbitkan tahun 2003 oleh John Wiley & Sons Ltd. Dalam tesisnya, Lewis membahas kinerja administratif Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di Indonesia. Lewis, yang juga merupakan penasihat senior Kementerian Keuangan, memaparkan bahwa meski PBB di Indonesia terlihat memiliki pencapaian impresif di bawah wewenang pemerintah pusat, namun pada dasarnya sistem administrasi pemungutan pajaknya masih memiliki sejumlah kelemahan mendasar yang perlu segera diperbaiki. Lewis menyoroti hubungan antara kelemahan administrasi pemajakan tersebut dalam konteks desentralisasi fiskal yang semangatnya memang mulai terasa sejak awal 2000. Penjelasan Lewis dalam tesis ini komprehensif, dengan menggunakan data dari Kementerian Keuangan hingga tahun 2001, ia mengidentifikasi kinerja administrasi pemungutan PBB dari variabel-variabel pembentuknya, yaitu cakupan pemungutan pajak (coverage); penilaian objek pajak, dalam hal ini tanah dan bangunan (valuation); dan efisiensi pemungutan pajak terutang (collection).

Desentralisasi Fiskal di Indonesia

Semangat desentralisasi fiskal mulai disebarluaskan dan menjadi program ambisius pemerintah Indonesia sejak awal dekade 2000, tepatnya mulai tahun fiskal 2001. Pada tahun itu, pemerintah daerah mulai dari provinsi, kabupaten, dan kota diberikan wewenang yang lebih luas untuk mengatur dan bertanggung jawab terhadap pembelanjaan di beberapa sektor baru. Konsekuensi logis dari perluasan wewenang itu adalah meningkatnya pengeluaran daerah. Peningkatan itu dapat terlihat jelas ketika pada tahun 2001, jumlah belanja daerah mencapai kurang lebih 30% dari total belanja nasional.

Sayangnya, perluasan wewenang kepada pemerintah daerah tidak diimbangi dengan perluasan otoritas pemerintah daerah untuk menambah objek pajak derahnya sendiri. Satu-satunya hal yang berubah sejak dilakukannya gerakan awal desentralisasi fiskal adalah restrukturisasi distribusi objek pajak antara provinsi dan kabupaten/kota. Tarif pajak provinsi ditetapkan seragam untuk seluruh wilayah Indonesia, sedangkan di tingkat kabupaten/kota, pemerintah pusat menetapkan tarif pajak maksimal yang dapat dipungut oleh pemerintah kabupaten/kota.

Sebagai ganti atas terbatasnya otoritas yang diberikan pemerintah pusat pada daerah untuk menambah objek pajak daerah, maka khusus untuk kabupaten/kota diizinkan untuk membuat jenis pajak baru yang dapat diatur dalam peraturan daerah atas beberapa jenis aktivitas bisnis baru di daerah masing-masing. Menurut Devas dan Kelly, hal ini memang fenomena yang umum terjadi di negara berkembang, di mana masyarakatnya mulai giat mengembangkan dunia bisnis. Akan tetapi, pemerintah pusat kemudian seringkali menemukan bahwa jenis pajak baru yang diciptakan pemerintah kabupaten/kota membingungkan, tumpang tindih, atau bahkan mengancam perekonomian, sehingga akhirnya dalam rancangan kebijakan Kementerian Keuangan tahun 2002, pemerintah pusat menyatakan akan “membatasi” penambahan jenis pajak baru oleh pemerintah daerah.

Pemerintah pusat juga mendapati bahwa ternyata pada awal kebijakan desentralisasi fiskal, pemerintah daerah tidak mampu mendongkrak penerimaan asli daerah. Setidaknya hal itu dapat dilihat pada sebuah riset baru-baru ini yang memperkirakan bahwa pendapatan daerah hanya sebesar 5% dari pendapatan nasional, jumlah yang sangat inferior. Oleh karena itu, dalam rancangan kebijakan tahun 2002 tersebut, Kementerian Keuangan akan lebih menajamkan fokus program desentralisasi fiskal untuk menggenjot pendapatan asli daerah. Rencana itu akan diwujudkan dengan pemberian wewenang kepada pemerintah provinsi untuk menetapkan sendiri tarif pajaknya dan memberikan kekuasaan yang lebih besar pada pemerintah kabupaten/kota untuk mengelola jenis pajak yang lebih berpotensi menghasilkan penerimaan, seperti PBB.

Belakangan, rencana Kementerian Keuangan itu menuai perdebatan antara dua kubu, yaitu Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang tidak setuju terhadap pelimpahan wewenang PBB kepada pemerintah daerah dan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) yang mendukung kebijakan desentralisasi PBB. DJP berargumen bahwa pencapaian PBB yang selama ini dikelola pemerintah pusat telah dinilai baik dan justru akan dikhawatirkan menjadi buruk ketika dipindahtangankan ke daerah. Selain itu, seharusnya pemerintah daerah tidak perlu takut, karena pada akhirnya seluruh hasil PBB juga akan didistribusikan lagi ke daerah. Sebaliknya, DJPK berpendapat bahwa dengan adanya desentralisasi PBB, maka pemerintah daerah dapat dengan leluasa merespon dan memberikan pelayanan kepada masyarakat di daerahnya sehingga masyarakat akan merasakan dampak pemungutan PBB yang lebih langsung dan nyata. Dengan begitu, akuntabilitas daerah pun dapat dengan mudah diukur.

Kinerja Penerimaan PBB di Indonesia

Dalam pembahasan kinerja penerimaan PBB di Indonesia, Lewis menyajikan beberapa data perbandingan terkait penerimaan PBB Indonesia dengan beberapa negara lain, data penerimaan PBB Indonesia dalam kurun 1986-2001, penerimaan PBB Indonesia berdasarkan sektor pada 1987-1988 dan 2000, serta data penerimaan PBB Indonesia per provinsi.

Penerimaan PBB Indonesia relatif sama besar dengan yang dihasilkan oleh negara-negara berkembang lain seperti Thailand, Filipina, dan Malaysia. Sedangkan bila dibanding negara maju, capaian penerimaan PBB Indonesia berada jauh di bawah, khususnya bila penerimaan PBB dibandingkan dengan porsi penerimaan pemerintah daerah, pendapatan domestik, dan Produk Domestik Bruro (PDB). Sementara itu, sejak pertengahan 1980-an penerimaan PBB meroket hingga mencapai rata-rata 23% per tahun. Bila dilihat lebih jauh, penerimaan PBB di Indonesia didominasi oleh sektor pertambangan, yang pertumbuhannya dapat mencapai sepertiga atau setengah kali lipat tiap tahun dari tahun 1987-2000. Dilihat dari besarnya pendapatan PBB terhadap penerimaan daerah per provinsi, DKI Jakarta menempati posisi teratas dengan penerimanaan PBB yang mencapai 14% dari total pendapatan daerahnya pada tahun 2000.

Kinerja Administrasi Pemungutan PBB di Indonesia

Lewis menggunakan model rasio sederhana dari Bahl dan Linn untuk mengukur dan menganalisis kinerja administrasi pemungutan PBB di Indonesia. Model rasio itu dituangkan dalam persamaan berikut:

Perbandingan antara penerimaan dengan potensi pajak = Rasio Cakupan Pemungutan Pajak x Rasio Penilaian Objek Pajak x Rasio Efisiensi Pemungutan Pajak Terutang

1. Rasio Cakupan Pemungutan Pajak (coverage ratios)
Dengan menggunakan data NJOP dari Kementerian Keuangan dan mengasumsikan bahwa nilai jual untuk objek pajak kena pajak tetapi tidak dipungut (seperti properti untuk keperluan pendidikan, keagamaan, sosial, dan lain-lain) sama dengan yang dipungut pajak, maka Lewis berhasil mengalkulasikan bahwa hingga tahun 2000, secara berturut-turut ada 83% dan 65% properti kena pajak sektor perkotaan dan pedesaan telah dipungut PBB. Persentase tersebut lebih kecil dibanding pada tahun 1996-1997 di mana ada 86% dan 66% properti sektor perkotaan dan pedesaan yang berhasil dipungut PBB.

2. Rasio Penilaian Objek Pajak (valuation ratios)
Penilaian properti yang menjadi objek pajak PBB menjadi isu yang paling menarik sekaligus pelik dalam administrasi pemungutan pajak. Seringkali fiskus menetapkan nilai jual yang berbeda dengan nilai yang ada di pasar, sehingga sangat penting untuk mengukur seberapa besar perbedaan yang terjadi dalam menilai kinerja administrasi pemungutan PBB. Sebuah data statistik yang diperoleh dari Shah dan Qureshi bahkan pernah mengindikasikan bahwa penyimpangan NJOP dari nilai pasar mencapai 50%, meski data itu tidak didukung oleh bukti kuat. Lewis sendiri dalam tesisnya menggunakan data dari Machfud Sidik (2000) yang menyajikan NJOP serta nilai jual di pasar untuk 17.252 properti di Jakarta pada tahun 1996-1997. Hasilnya, Lewis mendapatkan jumlah yang cukup dapat membuat dahi berkerut, yaitu bahwa nilai jual yang ditetapkan untuk keperluan pajak hanya sebesar 66% dan 41% dari nilai jual di pasar untuk sektor perkotaan dan pedesaan. Hal ini mengindikasikan belum optimalnya proses penilaian properti. Padahal, bila NJOP bisa mendekati nilai jual pasar, maka penerimaan PBB akan lebih besar.

3. Rasio Efisiensi Pemungutan Pajak Terutang (collection ratios)
Hingga tahun 2000, Lewis menemukan bahwa secara keseluruhan, efisiensi pemungutan PBB terutang hanya meningkat dalam jumlah yang tidak signifikan dibandingkan dekade sebelumnya, yaitu dari 79% menjadi 80%.

4. Tarif Pajak Berdasarkan Undang-Undang
Tarif PBB Indonesia jauh lebih kecil dibanding negara-negara lain di dunia. Bila tarif PBB dikalikan persentase NJKP yang saat ini berkisar 20%-40%, maka tarif PBB sesungguhnya hanya 0,1%-0,2%. Tarif ini dapat dikatakan belum seberapa dibanding India, misalnya yang berani menetapkan tarif pajak sesungguhnya hingga 2,6%. Menurut Lewis, hal ini mengindikasikan Indonesia terlalu berhati-hati dalam menetapkan tarif pajak.

Dengan melihat tiga rasio di atas yang menjadi variabel pengukuran kinerja administrasi pemungutan PBB di Indonesia, Lewis mendapati bahwa hanya 40% potensi penerimaan PBB sektor perkotaan dan pedesaan yang terealisasi. Bila disimak lebih lanjut, penilaian properti menjadi masalah yang paling dominan terhadap rendahnya realisasi PBB di Indonesia. Dibandingkan dengan klaim dan data pemerintah pusat bahwa penerimaan PBB terus meningkat sejak pertengahan 1980 hingga tahun 2000, tentu hasil penelitian Lewis ini membuat kita berpikir dua kali untuk mengatakan bahwa PBB telah ditangani dengan baik oleh pemerintah pusat.

Lewis mengidentifikasi beberapa penyebab mengapa kinerja PBB dapat terlihat bagus. Pertama, pertumbuhan PBB ternyata masih belum optimal karena dasar pengenaan pajaknya, yaitu NJOP sangat rendah. Kedua, pertumbuhan PBB didominasi oleh sektor perhutanan dan yang paling besar adalah pertambangan. Padahal, dua sektor tersebut memang merupakan sektor yang dapat dengan mudah dikenakan pajak karena objek pajaknya yang secara kuantitas kecil dan kebanyakan dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ketiga, pertumbuhan PBB di Indonesia tidak merata, karena hanya terpusat di beberapa daerah saja, seperti Jakarta dan daerah urbanisasi lain seperti Jawa dan Bali.

Pengelolaan administrasi PBB yang dilakukan pemerintah pusat dapat dikatakan buruk, setidaknya dalam sektor perkotaan dan pedesaan. Sebagaimana dipaparkan Lewis, terdapat indikasi bahwa fiskus hanya menetapkan NJOP sebesar 60% dari nilai pasar. Hal ini tentu mengecewakan, mengingat kondisi penerimaan PBB yang masih sangat rendah bila dibandingkan dengan penerimaan total pemerintah daerah, pendapatan domestik, dan PDB. Namun buruknya pengelolaan administrasi PBB oleh pemerintah pusat tidak menjamin pemerintah daerah dapat lebih baik. Hal ini dikarenakan masih lemahnya kapasitas daerah untuk mengadministrasikan PBB.

Bila semangat desentralisasi fiskal masih berkobar dan menjadi program utama pemerintah, maka seharusnya kelemahan kapasitas daerah tersebut dapat diatasi dengan memberikan bantuan personel dari pusat kepada daerah. Dengan adanya bantuan personel, maka daerah dapat lebih siap memangku tanggung jawab besar untuk mengadministrasikan PBB. Namun, bila hal itu dirasa masih terlalu sulit, Lewis menyarankan agar setidaknya pemerintah pusat memberikan sedikit kewenangan bagi daerah untuk mengatur sendiri tarif PBB di masing-masing daerah, sebab tarif PBB Indonesia tergolong yang paling rendah di dunia. Bahkan bila pemerintah membatasi kewenangan itu dengan mengatur besaran tarif terendah dan tertinggi sekalipun, Lewis berpendapat bahwa hal tersebut tetap patut dicoba dengan terus memberikan motivasi sukses pada daerah, mengingat betapa mengecewakannya kinerja pemerintah pusat selama 15 tahun terakhir dalam mengadministrasikan PBB.

Selasa, 28 Agustus 2012

The Brave One: A Story of a Fragile Vigilante

Setiap hari, kita sering menerima informasi tindak kejahatan terjadi di berbagai lokasi, baik dalam maupun luar negeri. Media cetak, elektronik, hingga dunia maya rajin mengabarkan warta kriminal, dari yang berskala kecil atau ringan seperti perampokan hingga yang berat seperti pembunuhan berantai. Kejahatan sepertinya tidak pernah berhenti menghantui kehidupan masyarakat. Bahkan sosiolog Emile Durkheim menegaskan kejahatan itu akan selalu ada, sebab orang yang berwatak jahat pun akan selalu ada. Menurut Durkheim, kejahatan diperlukan agar moralitas dan hukum dapat berkembang secara normal. Dalam menanggapi berita-berita itu, kita seringkali mengutuki pelaku kejahatannya dan berharap agar si pelaku mendapat hukuman yang seberat-beratnya sebagai balasan atas tindakan kejinya. Tetapi pernahkan terlintas dalam bayangan kita bahwa dalam beberapa kasus, ada kemungkinan bahwa pelaku kriminal yang pernah kita baca di koran, dengar di radio, atau tonton di televisi ternyata seseorang yang membawa misi yang benar? Bagaimana bila pelaku kejahatan tersebut adalah korban tindak kejahatan pula yang merasa harus menegakkan keadilan? Bila demikian, mungkin untuk sejenak kita dapat memahami mengapa ia melakukan kejahatan bukan? Film The Brave One (2007) membawa kita pada kondisi serupa, di mana seorang korban tindak kriminal terpaksa turun tangan membenahi kekacauan di kotanya tercinta.

Erica Bain (Jodie Foster) merasa hidupnya saat ini adalah yang terindah di dunia karena tidak lama lagi, ia akan melepas masa lajangnya dengan cinta dalam hidupnya, David Kirmani (Naveen Andrews). Meski hidup sebatang kara tanpa keluarga, ia merasa hidupnya lengkap dengan kehadiran David dan keluarganya, anjing peliharaannya, serta pekerjaan sebagai penyiar sebuah acara radio yang sangat dinikmatinya. Ia mencintai setiap hari yang dilaluinya, ia mencintai Kota New York, tempat di mana ia menghabiskan sebagian besar waktu dalam hidupnya. Namun, Erica tak pernah melupakan suatu sore saat ia dan David berkeliling taman mengajak anjingnya bermain. Sore itu, mereka dirampok dan dianiaya oleh sekelompok pemuda berandal. Ia tak pernah menyangka bahwa taman itu, taman yang hampir setiap hari dilihatnya, yang dikenal setiap lekuk jalannya, menjadi tempat terakhir kali ia melihat pria terkasihnya. David tewas mengenaskan dalam peristiwa itu. Erica sendiri harus menghabiskan beberapa minggu untuk memulihkan dirinya.

Erica tak mampu mengimbangi kesembuhan raga dengan mentalnya. Ia benar-benar tak dapat melupakan peristiwa tragis yang menimpa dirinya. Ia takut keluar rumah, takut berjalan sendirian, bahkan ia takut pada sinar matahari yang dulu sering disambutnya dengan semangat. Hari-hari makin terasa berat bagi Erica ketika akhirnya ia merasakan berada di posisi sebagai korban suatu kejahatan yang ditangani oleh polisi-polisi lemah, bodoh, dan lamban. Akhirnya, dengan keberanian yang dipaksakan, Erica memutuskan turun tangan mencari keadilan. Tetapi bukan sembarang keadilan yang dicarinya. Erica bukan hanya ingin mencari keadilan untuk dirinya sendiri, ia ingin setiap orang di kotanya tercinta, The Big Apple, mendapat keadilan juga. Ia ingin tak ada lagi orang-orang bejat berkeliaran bebas di jalanan menggentayangi masyarakat. Ya, perampokan itu telah mengubah Erica menjadi seseorang yang lain, seseorang yang gelisah dan merasakan letupan marah luar biasa ketika melihat orang lain yang tak bersalah dipermainkan oleh penjahat-penjahat dengan catatan kriminal menggunung. Inilah awal mula perjalan Erica sebagai vigilante, seperti yang diberitakan media massa.


Sepak terjangnya sebagai sosok misterius yang memburu para penjahat tidak dilakukan Erica dengan mudah. Ia harus bergulat dengan hatinya sendiri setiap menarik pelatuk pistolnya. Ada saat-saat di mana ia marah, kecewa, dan kesal dengan dirinya sendiri yang tak bisa menahan diri untuk tidak membunuh para penjahat. Tetapi di sisi lain, setiap peluru yang dilepaskan mempersembahkan Erica perasaan puas tersendiri, perasaan yang ia rindukan setelah kejadian pahit yang menimpanya. Pergulatan Erica dengan dirinya sendiri bertambah besar ketika ia menjalin persahabatan dengan Detective Mercer (Terrence Howard), yang merupakan detektif yang menangani kasus-kasus pembunuhan misterius yang dilakukan Erica. Berlawanan dengan Erica, Mercer adalah sosok idealis yang ingin segalanya diselesaikan sesuai dengan prosedur dan hukum yang berlaku sekalipun ada saat-saat di mana ia ingin menghabisi para pelaku kejahatan dengan tangannya sendiri. Bahkan Mercer bersedia tidak melakukan apapun bila memang tak ada cara yang legal, meski itu membuatnya merasa sangat sedih dan pilu. Persahabatannya dengan Mercer membuat Erica mempertanyakan kebenaran tindakannya selama ini, dan yang paling membuatnya resah, ia bertanya pada dirinya sendiri, sanggupkah ia menghentikan aksi main hakimnya sendiri? Pada akhirnya, Erica terkejut ketika Mercer memberinya sebuah kesempatan, sebuah dukungan pada dirinya.

Sepintas, kisah The Brave One mirip dengan cerita rakyat Robin Hood, pria yang merampok orang kaya demi orang miskin yang hidup dalam kesusahan. Tetapi pada dasarnya, The Brave One sama sekali berbeda dengan kisah kepahlawanan manapun. Bahkan, dapatkah kita mengklasifikasikan Erica, tokoh utama cerita ini sebagai pahlawan? Ternyata belum tentu, sebab pahlawan tidak melawan kejahatan atas nama balas dendam, pahlawan tidak memiliki keraguan dalam setiap tindakannya, dan lebih dari itu, pahlawan tahu mana yang benar dan mana yang salah. Coba bandingkan dengan Erica. Menahan keinginan hatinya sendiri untuk tidak membunuh saja ia tak mampu. Ia mempertanyakan keabsahan setiap tindakan yang dilakukannya. Erica hanya memiliki satu tujuan: menghentikan semua kejahatan, sebab ia mengerti bagaimana rasanya menjadi korban, bagaimana hidupnya berubah karena satu aksi kriminal.

Ini bukan pertama kali Jodie Foster berperan dalam karakter wanita pemberani. Dalam beberapa film sebelumnya, seperti The Silence of the Lambs (1991), Panic Room (2002), dan Flightplan (2005), Foster hampir secara "rutin" mengambil peran wanita heroik. Dalam The Brave One, menurut saya Foster masih tampil mirip dengan karakter dalam film-film sebelumnya itu. Satu scene paling menarik bagi saya adalah saat Foster sebagai Erica akan menembak salah satu perampok yang menewaskan kekasihnya dan Terrence Howard sebagai Mercer datang untuk mencegah Erica untuk melepaskan tembakan tersebut. Mercer mengatakan bahwa Erica tidak memiliki hak untuk main hakim sendiri, dan Foster dengan suara parau namun penuh dendam membara mengatakan "Yes, I do!" Suara Foster dalam adegan itu gemetar, serak, dan parau karena emosi yang meletup. Padahal, hampir di keseluruhan awal film Foster tidak pernah berteriak dan berbicara dengan suara jelas dan penuh intonasi, yang merupakan tuntutan seorang penyiar radio. Menurut saya, adegan itu merupakan sebuah penghayatan yang cerdas.

Di sisi lain, Howard sebagai lawan main Foster menurut saya tidak menunjukkan performa terbaiknya. Saya sangat bingung pada bagian akhir film saat Erica menembak Mercer, dan setelahnya Mercer terlihat masih segar bugar meski sempat berteriak kesakitan. Bahkan Mercer sempat memindahkan pistol, melekatkan sidik jari perampok yang telah tewas pada pistol itu, dan membebaskan anjing Erica. Semua itu dilakukan tanpa ekspresi atau suara kesakitan.

Sutradara peraih Oscar Neil Jordan (The Crying Game, The End of the Affair) cukup sukses mengemas cerita "usang" tentang balas dendam menjadi sesuatu yang berbeda. Penggunaan sosok wanita amatir yang bahkan belum pernah memegang pistol sebelumnya ternyata efektif memunculkan susana tegang dalam film ini, meskipun pada bagian awal film penonton akan banyak disuguhi narasi panjang yang dibawakan tokoh Erica dengan suara yang penuh intonasi. Jordan juga sangat paham dalam menaik-turunkan ritme film dengan menunjukkan hubungan Erica dan Mercer yang sama-sama terlibat dalam kasus pembunuhan. Tentu saja mereka berbeda misi, yang satu melakukan aksi kejahatan demi keadilan, yang satu berusaha membereskan kekacauan tersebut. Namun, ada kalanya mereka saling "memberi petunjuk" untuk menyelesaikan misi masing-masing pihak. Bila ada sesuatu yang terasa kurang, mungkin bagi saya adalah penggunaan pemain kulit hitam untuk komplotan perampok dalam film ini. Bagi saya, hal itu seharusnya dihindari agar tidak menimbulkan dugaan stereotype. Apakah salah menggunakan pemain kulit putih juga untuk karakter berandalan?

Dari segi sinematografi, hampir di sepanjang film penonton disuguhkan oleh pencahayaan yang remang-remang karena pasca-perampokan yang dialaminya, Erica dikisahkan amat depresi dan takut akan cahaya terang. Selain itu, pengambilan gambar Foster sebagai Erica cukup sering dilakukan secara close-up, sehingga penonton bisa melihat secara jelas bagaimana ekspresi Foster sebagai Erica. Menurut saya, kekuatan karakter Erica bukan pada mimik wajahnya. Foster lebih mahir memainkan gerakan, bahasa tubuh, dan suara dalam mengembangkan karakter Erica.

The Brave One bukan hanya menuturkan film yang menuturkan kisah seorang gadis pemberani yang membalas dendam kepada pnjahat yang telah menewaskan kekasihnya, tetapi juga menuturkan bagaimana seseorang bisa berubah menjadi pribadi yang sama sekali berbeda dari pribadi yang dulu ia miliki. Dalam film ini, kita bisa menyaksikan proses berubahnya Erica. Dalam diri Erica terdapat sesuatu yang asing, yang tak pernah menampakkan diri sebelumnya, sesuatu yang tak sanggup dibendung dirinya. Satu hal lagi, dalam film ini kita juga melihat betapa tipisnya garis pembatas antara yang benar dan yang salah. Salahkah Erica bila ia merasa benci dan marah terhadap setiap kriminialitas after all she's been going through? Tentu tidak bukan? Bahkan saya pribadi dapat memakluminya. Tetapi benarkan cara yang ditempuh Erica, dengan main hakim sendiri untuk memberantas kejahatan? Well, pada akhirnya itu semua menunjukkan bahwa manusia dapat berubah secara total demi memuaskan perasaannya. It's terrific, 3.5 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?


Wach this if you liked:

Sleepers (1996)

Director: Barry Levinson
Stars: Robert De Niro, Kevin Bacon, Brad Pitt
Genre: Drama, Thriller
Runtime: 147 minutes


Taken (2008)

Director: Pierre Morel
Stars: Liam Neeson, Maggie Grace, Famke Janssen
Genre: Action, Thriller
Runtime: 93 minutes


Jumat, 24 Agustus 2012

The Trip: Perjalanan Menjemput Cinta

Tahun 1960-an adalah awal pergerakan kaum homoseksual untuk menuntut hak asasi di Amerika. Berlanjut hingga 1970-an, kaum homoseksual menghadapi tahun-tahun yang berat sekaligus menantang. Berat karena pada masa ini, perlakuan diskriminatif terhadap gay dan lesbian merajalela dimana-mana. Banyak di antara mereka dipecat dari pekerjaannya dengan alasan kaum gay adalah kaum yang paling lemah secara politis. Mereka dapat dengan mudah diancam dan pada akhirnya merugikan entitas tempat mereka bekerja. Sebaik apapun prestasi mereka, orientasi seksual yang menurut masyarakat menyimpang tak bisa ditoleransi. Hal demikian juga menimpa prajurit-prajurit di ketentaraan. Politik don't ask don't tell diberlakukan, meninggalkan keheningan bagi gay yang bertugas dalam barisan pertahanan. Tindak kekerasan di jalan-jalan juga sangat sering dialami gay dan lesbian. Dapat ditebak, pelakunya adalah para homophobe. Banyak homoseks akhirnya memilih bunuh diri daripada harus menghadapi dunia yang sadis.

Situasi seperti ini menantang mereka yang vokal dan peduli terhadap hak kaum minoritas seperti gay dan lesbian untuk menuntut kesetaraan di masyarakat. Pada dekade 1960-an hingga 1970-an, suhu politik Amerika meningkat, menyebabkan lebih banyak orang yang melek politik demi membela hak mereka, termasuk kaum gay. Pada masa ini pula, telah terungkap rahasia umum bahwa Partai Republik adalah sarang bagi mereka pengikut fanatik nilai-nilai ortodoks, sedangkan Partai Demokrat lebih bersifat liberal dan terbuka. Akibatnya, terjadi persaingan sengit antara pendukung Partai Republik dan Partai Demokrat. Namun, apa jadinya bila dua pendukung masing-masing partai tersebut saling jatuh cinta? Film The Trip (2002) mengisahkannya untuk Anda.

The Trip menjadi bagian dari jalur film bertema gay, yang menurut saya cukup unik. Keunikan itu disebabkan perpaduan unsur politik dan romansa yang diusung film ini. Dikisahkan dengan latar tahun 1973, Alan Oakley (Larry Sullivan) adalah seorang jurnalis dan penulis muda yang berbakat. Ia lulus dari universitas ternama, menjadi jurnalis sebuah surat kabar besar, dan memiliki seorang kekasih bodoh, Beverly (Sirena Irwin). Namun, di balik kehidupannya yang tampak tentram itu, Alan menyimpan satu rahasia: ia gay dan belum berani membuka diri terhadap orientasi seksualnya. Saking tertutup dan tak mau mengakui identitasnya itu, Alan bahkan menulis sebuah buku yang memaparkan sisi negatif kaum gay. Proyek Alan tersebut didukung oleh rekannya yang seorang pengacara, Peter Baxter (Ray Baker) yang juga seorang gay yang menutup diri.

Episode Alan yang menutup diri harus berakhir ketika ia bertemu Tommy Ballenger (Steve Braun), seorang aktivis kaum gay yang ternyata sangat ia kagumi. Tommy adalah pemuda cerdas, humoris, dan sangat perhatian dengan hak asasi untuk kaum gay. Meski pada awalnya Alan menyangkal perasannya untuk Tommy, ia tak sanggup untuk tidak mengungkapkan cintanya pada Tommy. Mereka pun menjadi pasangan bahagia selama 4 tahun. Sadar bahwa kekasihnya adalah seorang aktivis pembela gay, ia membatalkan penerbitan buku yang telah rampung ditulisnya dan mengatakan pada Peter untuk jangan pernah mengungkitnya lagi. Namun, bencana datang ketika perusahaan penerbit yang dulu membuat kontrak penerbitan dua buku dengan Alan tiba-tiba menerbitkan buku pertamanya yang berjudul The Straight Truth tanpa memberitahu Alan terlebih dahulu. Beruntung, penerbit itu tidak menampilkan nama Alan di bukunya.

Atas dasar cinta tak berbalas, Peter kemudian mengungkap identitas penulis buku The Straight Truth pada publik. Tommy yang belakangan mengetahui bahwa penulis buku yang menampar kaum gay itu adalah Alan, merasa sangat kecewa dan dikhianati. Ia memutuskan berpisah dengan Alan dan pergi ke Meksiko. Di sisi lain, Alan yang frustrasi ditinggal Tommy menemukan kehangatan kasih sayang pada Peter di saat orang-orang yang dikasihinya menjauhi dirinya. Alan dan Peter pun menjadi pasangan selama beberapa tahun sebelum akhirnya Alan mengetahui bahwa Peter adalah biang keladi kehancuran hidupnya. Didukung oleh ibu dan mantan kekasihnya, Alan pergi menjemput Tommy ke Meksiko, menjemput cinta dalam hidupnya. Sesampainya di sana, Alan menjumpai Tommy yang kini sekarat didera AIDS (dalam film ini tidak disebutkan secara eksplisit penyakit yang diderita Tommy, namun saya berasumsi bahwa ia menderita AIDS) dan mereka pun memulai perjalanan pulang ke Texas.

Perjalanan itu menjadi nostalgia bagi pasangan ini untuk mengenang masa-masa kebersamaan mereka. Sepanjang perjalanan, mereka melakukan berbagai aksi konyol, merampok karena terpaksa, bahkan mereka berbincang mengenai buku yang ditulis Alan. Tommy meminta agar lain kali Alan menulis buku dari hatinya, bukan hanya dari kepalanya. Kata-kata itu terus diingat oleh Alan. Namun, perjalanan tetaplah perjalanan, ia dimulai ketika berangkat dan berakhir ketika tiba di tempat tujuan. Bagi Alan dan Tommy, perjalanan dimulai ketika mereka bertemu kembali setelah sekian lama berpisah, memiliki kesempatan untuk mengenang kebersamaan mereka, dan berakhir saat Tommy meninggal dunia. Kisah hidupnya ini menginspirasi Alan untuk menulis buku keduanya yang penuh inspirasi dan cinta, serta ditulis dari lubuk hatinya terdalam persis seperti saran Tommy, berjudul The Trip.


Jika Anda pernah menonton film-film dengan tema homoseksual lainnya - yang menurut saya banyak di antaranya adalah sampah - maka dalam The Trip Anda menemukan sesuatu yang berbeda. Di beberapa bagian film, untuk mendukung penggambaran Tommy sebagai aktivis gay, film arahan sutradara Miles Swain ini dilengkapi dengan beberapa cuplikan video nyata perjuangan kaum gay mulai dari pidato simpatik Harvey Milk hingga momen terkenal saat politisi anti-gay Anita Bryant menerima "kejutan" pie-nya. Selain itu, persinggungan pada isu diskriminasi juga diangkat dengan baik di mana pada salah satu scene digambarkan pesawat yang tidak mau mengangkut Tommy yang sedang sakit. Tindakan diksriminatif seperti itu memang benar-benar terjadi pada tahun 1980-an, awal ditemukannya AIDS, yang dulu dikenal sebagai "gay cancer".

Di sisi lain, i'm not impressed enough saat Tommy meninggal dunia. Adegan tersebut hanya muncul sangat singkat, sehingga perasaan menyesal Alan yang telah mengabaikan Tommy, tak menjemputnya selama sekaian lama, tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan cintanya kembali tidak tereksplor dengan cukup. Rasa sedih yang mengharu-biru, yang seharusnya kental terasa pada adegan tersebut seolah lenyap. Hal ini berbeda jauh dari akhir kisah Brokeback Mountain yang sangat menusuk setiap penontonnya, berbekas hingga beberapa saat menonton film tersebut. Selain itu, film ini juga menambah daftar panjang akan asumsi bahwa film bertema homoseksual akan berakhir dengan adanya karakter yang mati, meninggalkan pertanyaan apakah film ini benar-benar bebas dari nilai heteronormativitas? All in all, it's good enough, 2.5 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?


Wach this if you liked:

Drôle de Félix (The Adventures of Felix) (2000)

Director: Olivier Ducastel, Jacques Martineau
Stars: Sami Bouajila, Patachou, Ariane Ascaride
Genre: Comedy, Drama, Romance
Runtime: 95 minutes


My Beautiful Laundrette (1985)

Director: Stephen Frears
Stars: Saeed Jaffrey, Roshan Seth, Daniel Day-Lewis
Genre: Comedy, Drama, Romance
Runtime: 97 minutes


Rabu, 22 Agustus 2012

The Lake House: Penantian yang Berakhir Indah

Menunggu adalah kata kerja yang tidak disukai oleh sebagian besar orang. Menunggu berarti ada pengorbanan waktu yang harus diluangkan sampai tibanya sesuatu yang dinantikan. Tak hanya soal waktu, selama masa menunggu itu pula, terkadang perasaan lelah, kesal, sedih, tak berdaya, dan bosan datang mendera. Sebagian orang yang sedang menunggu ada yang menyerah, sebagian lagi meneruskan pengharapan mereka sambil terus meyakinkan diri bahwa yang dinantikan akan segera datang. Daya tahan orang untuk menunggu memang berbeda-beda, tetapi satu hal yang pasti: menunggu itu ada batasnya, ada akhir yang mesti dilalui, entah itu akhir yang indah maupun yang menyedihkan.

Kisah penantian yang berakhir indah dapat Anda saksikan dalam salah satu drama romantis produksi Hollywood, The Lake House (2006). Pertama kali mendengar film ini dari sebuah acara resensi di TV, saya langsung tertarik dengan ceritanya yang menuturkan hubungan cinta pasangan yang berbeda dimensi waktu. Cerita ini sebenarnya merupakan adaptasi Hollywood dari film Korea berjudul Siworae (2000). The Lake House juga merupakan kolaborasi kedua aktor berdarah Hawaii Keanu Reeves dengan Sandra Bullock, setelah penampilan mereka yang mendapat banyak pujian dalam Speed (1994). Namun, dalam kolaborasi keduanya ini mereka tidak lagi berhadapan dengan bus terguling, kereta bawah tanah yang berjalan cepat, maupun hujan peluru, melainkan dalam kisah romantis yang menawan.

Kate Forster (Bullock), seorang dokter berdedikasi yang bekerja dengan waktu gila-gilaan terpukul ketika dirinya menyaksikan seorang pria tewas dalam sebuah kecelakaan meski ia telah mengerahkan semua kemampuannya untuk menolong pria nahas tersebut. Ia tak bisa membayangkan penantian keluarga pria tersebut di rumah dengan penuh harapan, yang tak pernah menyangka kejadian tragis akan menghampiri mereka. Melihat Kate tak bisa keluar dari bayangannya itu, Dr. Klyczynski (Shoreh Aghdashloo) menyarankan Kate untuk pergi menenangkan pikiran dan hatinya di suatu tempat, dan ia pun menyewa sebuah rumah kaca yang sangat indah di tepi danau yang berkilau.

Ketika Kate pindah ke apartemen, tanpa diduga rumah danau yang dulu begitu disukainya menjadi saksi pengalaman hidup dan cinta Kate yang diluar imajinasi siapapun: ia terhubung dengan seorang pria asing yang hidup dua tahun lalu dari waktu masa kini di mana Kate berada. Pria itu adalah Alex Wyler (Reeves), seorang arsitek handal yang memiliki hubungan kurang akur dengan ayahnya, yang juga seorang arsitek terkenal, Simon Wyler (Christopher Plummer). Meski memiliki masa lalu yang menyakitkan dengan ayahnya, Alex sebenarnya sangat menyayangi Simon dengan segenap hatinya. Simon sendiri adalah orang yang berada dibalik kesuksesan Alex sebagai arsitek.

Keraguan dan keengganan Alex terhadap ayahnya membuat hidupnya sedikit banyak "muram". Namun, keadaan itu akhirnya berubah setelah ia berkorespondensi dengan Kate lewat surat-menyurat (so classic, isn't it?). Dari surat-surat itulah mereka mengetahui bahwa Alex adalah putra Simon - pembuat rumah danau yang pernah ditinggali Kate dan bahwa mereka terpisah rentang waktu dua tahun. Kegiatan berbalas surat itu menjadi semakin indah dan sedikit lebih nyata ketika Alex berusaha hadir dan "menyusup" ke dalam kehidupan Kate dua tahun yang lalu. Di sini, jalan cerita kemudian mundur menuju saat di mana Kate memutuskan untuk menyewa rumah danau.

Sambil terus berkorespondensi di masa depan, masa lalu Kate sedikit demi sedikit berubah ketika ia sadar bahwa ia bertemu Alex, pria yang dua tahun dari masa lalunya itu akan terus menyuratinya. Ternyata, pertemuan mereka berdua menjadikan hubungan itu terus tumbuh menjadi romansa yang menyulitkan, sebab mereka berdua tampak tidak nyata. Mereka tidak bisa mengobrol secara langsung sambil memandangi wajah satu sama lain, tak bisa berjalan bersama, bahkan tak tahu akan menuju ke mana hubungan mereka itu. Itu semua membuat Kate tertekan, ia sangat mencintai Alex, ia punya perasaan mendalam untuknya, tetapi untuk apa semua itu bila mereka takkan pernah bisa bersatu? Akhirnya, Kate memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu dan mencoba menatap ke depan. Ia berusaha untuk menata kembali kisah cinta hambarnya dengan Morgan (Dylan Walsh), pria yang tak pernah disukainya.

Tetapi, rupanya ungkapan bila jodoh takkan ke mana berlaku untuk Kate dan Alex. Saat Kate dan Morgan berencana untuk merenovasi rumah baru, mereka berkonsultasi dengan perusahaan konstruksi milik Alex yang kini telah meninggal dalam sebuah kecelakaan. Pada titik inilah Kate menyadari bahwa pria yang pernah ditolongnya dalam sebuah kecelakaan dulu adalah Alex, dan ia pun berusaha mati-matian mengubah jalan hidupnya dan Alex. Ia meminta Alex untuk menunggu selama dua tahun, dan menemuinya di rumah danau. Usahanya itu berbuah manis saat mereka berdua dapat bertemu secara nyata, dalam dimensi waktu yang sama.

Pada saat menonton The Lake House, penonton akan diseret dalam rentetan waktu yang meloncat-loncat tanpa diberikan keterangan. Penonton "dipaksa" untuk mereka sendiri urutan kejadian dan memilah mana masa lalu dan mana masa kini Kate dalam film ini. Meski tidak serumit Memento (2000), namun bila tak cermat, penonton bisa salah mengartikan jalan ceritanya. Tetapi menurut saya, di situlah tantangan sekaligus poin plus dari The Lake House. Dari segi akting, chemistry antara Reeves dan Bullock nampaknya tak lekang oleh waktu. Mereka tetap cocok dipasangakn bersama dalam satu set seperti halnya dulu dalam Speed. Meski diarahkan oleh sutradara yang jarang memproduksi film Hollywood, Alejandro Agresti (Una Noche con Sabrina Love, Valentín) tetap sukses menggambarkan film dengan jalan cerita cukup rumit ini. Dua hal terakhir yang saya sukai dari film ini adalah rumah danau yang menjadi latar utama film ini memang sangat memukau serta lagu-lagu yang menjadi soundtrack juga sangat indah, seperti It's Too Late dari Carole King dan This Never Happened Before dari Paul McCartney. It's sweet, 3 out of 5 stars for me. Ada yang punya komentar?


Wach this if you liked:

Groundhog Days (1993)

Director: Harold Ramis
Stars: Bill Murray, Andie MacDowell, Chris Elliott
Genre: Comedy, Drama, Fantasy
Runtime: 101 minutes


Stranger Than Fiction (2006)

Director: Harold RamisMark Forster
Stars: Will Ferrell, Emma Thompson, Dustin Hoffman
Genre: Comedy, Drama, Fantasy
Runtime: 113 minutes