Selasa, 26 Juli 2011

TAXPLORE II-2011



Setelah sukses dengan acara Taxplore sebelumnya, kini Kelompok Studi Administrasi Fiskal (KOSTAF) FISIP UI kembali mengadakan acara tersebut dengan nama Taxplore II-2011. Tema kegiatan Taxplore II-2011 kali ini adalah “Indonesia yang Lebih Baik dengan Pajak” dengan tagline “Explore More to Aim The Better Taxation” yang ditujukan untuk seluruh civitas academica perguruan tinggi se-Jawa, Lampung, Bali dan masyarakat umum. Adapun maksud dan tujuan Taxplore II-2011 adalah untuk mensosialisasikan pajak, menguji pemahaman di bidang perpajakan serta mengajak mahasiswa/i dan masyarakan umum untuk berperan serta dalam mensosisalisasikan pajak.
Acara Taxplore II-2011 ini akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 8 Oktober 2011 pukul 07.00 - selesai. Bertempat di lingkungan FISIP UI, Depok, Jawa Barat.


Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
Muhtar 08988118433
Dimas 08567149790

Jangan lupa kunjungi selalu http://taxplore2011.blogspot.com dan twitter kami, @taxplore22011 untuk mendapatkan update terkini seputar Taxplore II-2011!

Catatan Kewirausahaan Indonesia

Salah satu permasalahan bangsa yang sulit dipecahka nadalah tingginya angka pengangguran yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Data BPS pada tahun 2010 menunjukkan ada 8.32 juta pengangguran atau setara dengan 7.14 persen dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 237.8 juta orang. Dengan jumlah pengangguran sebesarini, masyarakatIndonesia tidak bisa terus menerus memegang prinsip sebagai pencari kerja,tetapi harus mulai berubah menjadi pemberikerja,sehingga kewirausahaan merupakan cara tepat mengurangi pengangguran dan kemiskinan.


Jumlah wirausaha di Indonesia masih sangat sedikit bila dibandingkan negara-negara lain. Data BPS menyebutkan pengusaha di Indonesia hanya 0,24% dari jumlah penduduk. Padahal idealnya sebuah negara minimal harus memiliki pengusaha 2%.Sebagai perbandingan, AS memiliki pengusaha 12%, Singapura 7%, Cina 10%, India 10% dan negara G-20 rata-rata 5% (Kompas.com). Dalam kondisi sepertiini, pemerintah, swasta, dan masyarakat perlu bersinergi untuk mendorong tumbuhnya jiwa kewirausahaan di masyarakat.Cara-cara proaktif yang dapat ditempuh untuk mendorong laju kewirausahaan nasional di antaranya meningkatkan kemampuan masyarakat (capacity building)dalam rangka pemberdayaan masyarakat, menghubungkan sektor ekonomi rakyat dengan lembaga-lembaga perbankan agar mendapatkan pelayanankeuangan, dan pemberdayaan pemasaran dalam bentuk promosi produksi melalui even-even pameran baik di tingkat lokal, provinsi, nasional, maupun internasional.

Menurut Kartasasmita (1996), pemberdayaan masyarakat secara praktis merupakan upaya pengerahan sumber daya untuk mengembangkan potensi ekonomi rakyat akan berakibat meningkatkan produktivitas rakyat dan mampu secara partisipatif menghasilkan dan menumbuhkan nilai tambah ekonomis. Dalam pemberdayaan masyarakat, kemandirian merupakan suatu hal penting yang perlu diperhatikan sehingga meningkatkan capacity building menjadi langkah tepat untuk memandirikan masyarakat. Pemerintah bisa menjalin kerja sama dengan swasta atau daerah untuk menyelenggarakan pendidikan nonformal yang mendidik pencari kerja menjadi wirausaha yang memberikan berbagai ilmu kewirausahaan seperti keterampilan manajerial, teknis, kewirausahaan lokal, dan yang tak kalah penting sikap, mental/kepribadian, dan polapikir wirausaha.

Kebijakan dalam program permodalan juga harus dapat memikat masyarakat untuk membuka usaha. Skema pembiayaan yang lunak dan tanpa jaminan perlu dirancang dan disosialisasikan agar masyarakat mau mengembangkan usaha secara mandiri, kreatif, dan inovatif. Selain itu, kerja sama antara mahasiswa/pelajar, pelaku bisnis, dan pemerintah penting dibangun untuk melancarkan kegiatan promosi/pemasaran produk kewirausahaan. Masyarakat secara aktif perlu mencari tahu agenda even/ajang lokal, nasional, dan internasional yang dapat dimanfaatkan dalam pemasaran.Di sini, akses ke dunia maya perlu dipastikan lancar karena belakangan ini selain digunakan untuk mencari informasi juga digunakan sebagai media pemasaran dalamdunia bisnis.

Bygrave (2004) mengatakan wirausaha adalah pencipta kekayaan melalui inovasi, pusat pertumbuhan pekerjaan dan ekonomi, dan pembagian kekayaan yang bergantung pada kerja keras dan pengambilan risiko, sehingga wirausaha diharapkan dapat memanfaatkan berbagai kesempatan yang ada untuk memulai menjadi wirausaha. Moratorium pengiriman TKI yang saat ini akan dilakukan misalnya, dapat menjadi momentum untuk mengembangkan kewirausahaan. Jangan sampai Indonesia yang memiliki sumber daya alam melimpah terbelakang dalam dunia usaha karena sumber daya manusianya tidak mampu bersaing dengan pengusaha asing, apalagi dalam konteks globalisasi seperti sekarang.


Senin, 18 Juli 2011

Book Review: Love in the Time of Cholera


My rating: 5 of 5 stars


Love in the Time of Cholera adalah salah satu roman terpopuler yang ditulis oleh pemenang nobel sastra asal Kolombia, Gabriel García Márquez. Dalam Love in the Time of Cholera, kita di bawa pada suatu kisah hidup Florentino Ariza, lelaki yang rela berkorban demi cinta sejati dalam hidupnya, Fermina Daza.



Diceritakan, Florentino Ariza adalah anak haram hasil hubungan ibunya, Transito Ariza dengan seorang pengusaha terkenal. Meski di awal hidup Florentino sang ayah membiayai hidupnya, ia tetap tidak diakui sebagai anak sah (ini pula yang meyebabkan Florentino tidak memakai nama akhir ayahnya, melainkan nama belakang keluarga ibunya), sehingga ia tinggal dalam kesederhanaan bersama Transito Ariza ketika ayahnya wafat. Beruntung, ia memiliki paman yang teramat menyayanginya seperti anak sendiri, Leon XII. Pada cerita-cerita berikutnya, Florentino tidak akan menjadi apa-apa jika bukan jasa dari sang paman ini.



Hidup di desa yang terkena wabah kolera saat masa kolonial Spanyol, Florentino Ariza kecil adalah anak pemalu dan penyendiri. Maka, ketika atasan tempat ia bekerja sebagai kurir menmintanya untuk menyampaikan telegram ke rumah Fermina Daza, ia hanya bisa termenung menatapi mata indah milik Fermina Daza yang didambanya. Pada suatu kesempatan, akhirnya Florentino berani menyampaikan surat cintanya, yang kemudian bersambung menjadi sebuah jalinan cinta yang memabukkan yang hanya bisa diekspresikan lewat surat karena ayah Fermina Daza, Lorenzo Daza tidak akan meyetujui mereka.



Ketika apada akhirnya cinta sembunyi-sembunyi yang dirajut Fermina dan Florentina terendus Lorenzo, ia segera memboyong putri semata wayangnya tersebut ke rumah kerabatnya yang jauh dan kembali belasan tahun kemudian. Selama itu, Florentino menunggu dengan sabar. Namun, alangkah mengejutkan bahwa ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, Florentino harus menelan penolakan dari Fermina Daza yang sebenarnya juga masih mencintainya.



Fermina menjalankan hidupnya dan menikah karena terpaksa dengan Dr. Juvenal Urbino yang berasal dari keluarga terpandang. Mereka menikah dalam ketidakharmonisan rumah tangga selama setengah abad hingga akhirnya kematian Dr. Juvenal Urbino memisahkan mereka. Yang membuat roman ini megah adalah kisah kesetiaan Florentino Ariza yang lagi-lagi bersedia menunggu selama setengah abad tersebut demi menjalankan hidup dengan wanita terkasihnya. Meski kali ia menunggu dengan kegetiran yang amat sangat dalam, dan ia bukanlah tipe yang benar-benar bersih dari pengkhianatan. Ia melanggar janjinya sendiri untuk menjaga keperjakaannya selama menunggu Fermina Daza dan bermain api cinta semu dengan banya wanita. Namun, kematian Dr. Juvenal Urbino akhirnya membawa berkah bagi dirinya dan ia berhasil menghabiskan sisa hidupnya dengan Fermina Daza.



Dalam novel ini, latar kemiskinan dan penjajahan di kawasan Amerika Latin sangat kental terasa. Dengan lihai, Márquez meracik cerita para tokoh-tokohnya dengan berbagai jenis karakter, tidak ada tokoh yang benar-benar baik dan benar-benar jahat, semuanya persis seperti panggung kehidupan. Love in the Time of Cholre benar-benar sebuah roman yang menggugah dan tak akan bisa dilupakan.



Love in the Time of Cholera telah difilmkan dengan bitang utama Javier Bardem sebagai Florentino Ariza. Sayangnya, versi filmnya ini dinilai oleh banyak kritikus sebagai "film terburuk yang diangkat dari novel terindah di dunia...". Namun, setidaknya Shakira masih dinominasikan untuk Best Original Theme Song untuk film ini di ajang Golden Globe 2007.



View all my reviews



Rabu, 06 Juli 2011

Book Review: To Kill a Mockingbird


My rating: 5 of 5 stars


To Kill a Mockingbird adalah sebuah mahakarya Harper Lee yang telah diangkat ke layar lebar di tahun 1962. Saya sendiri pun mengetahui versi filmnya terlebih dahulu dibanding bukunya, dan ketika membaca novel ini tak heran mengapa filmnya diganjar Best Writing, Screenplay Based on Material from Another Medium di ajang Academy Awards 1963.

Novel ini ditulis dari sudut pandang seorang gadis kecil berumur 8 tahun bernama Scout Finch, putri Atticus Finch, pengacara terkemuka di kotanya. Dengan konflik isu rasial yang sangat kental di Amerika, Scout membawa kisah ini menjadi ringan dan penuh kepolosan. Pembaca akan merasakan bagaimana keluarga Finch yang berkulit putih secara nyata membela seorang pekerja rendahan berkulit hitam bernama Tom Robinson yang terjerat kasus hukum. Akibatnya, keluarga Finch harus menanggung kritik, ancaman, bahkan teror dari warga kulit putih lain yang ironisnya adalah orang-orang yang menghormati keluarga Finch sebelum kasus Tom muncul. Di sinilah kesabaran dan ketulusan keluarga Finch diuji, dan pembaca dapat merasakan dengan gamblang bagaimana situasi sosial yang penuh dengan diskriminasi saat itu di Amerika.

Pembaca juga akan menyelami carut-marut dunia hukum Amerika di masa rasialisme berlangsung, di mana para juri (The Juror) yang semuanya warga kulit putih berusaha mati-matian menjatuhkan terdakwa kulit hitam tanpa peduli bersalah atau tidaknya terdakwa kulit hitam tersebut. Atmosfer diskriminasi juga dengan cakap diciptakan oleh Harper Lee ketika ia menggunakan sapaan Sir untuk kulit putih dan Boy untuk kulit hitam (berapapun usianya) seperti yang memang benar-benar terjadi pada masa lalu.

Menggunakan keahliannya sebagai pengacara, Harper Lee sukses membawa alur kisah ini menjadi menyenangkan, bahkan drama persidangan di pengadilan dapat dilukiskannya dengan sangat jelas. Bagaimana bukti-bukti dan analisis dipaparkan, perdebatan dalam ruang sidang, dan emosi serta perasaan setiap tokoh yang terlibat dalam drama persidangan tersebut diatur dengan sedemikian logis dan nyata.

Di samping beberapa humor yang jenaka dan polos yang bertaburan dalam dialog tokoh-tokohnya, novel ini sarat akan nilai sosial, moral, bahkan religius yang dapat dipetik pembaca. Satu hal lain yang menarik adalah di akhir cerita, pembaca akan dapat menyimpulkan atri dari judul novel ini, To Kill a Mockingbird, lewat sebuah kalimat sederhana yang diucapkan Scout Finch.







Book Review: Pride and Prejudice


My rating: 4 of 5 stars


Jane Austen dikenal sebagai penulis roman-roman klasik khas dengan latar utama kehidupan Inggris yang ketat dengan norma sosial dan religius di abad 19. Salah satu karya terbaiknya adalah Pride and Prejudice, yang diklaim oleh banyak penikmat sastra sebagai kisah roman terpopuler sepanjang masa. Predikat ini memang tak salah, sebab ketika membaca Pride and Prejudice, kita dibawa ke dalam suatu kisah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari seperti nilai-nilai sosial sekaligus mempelajari beragam karakter manusia. Jane Austen sangat mahir dalam menggambarkan sifat-sifat manusia. Kesopanan, ketamakan, kepura-puraan, egoisme, atau kemunafikan, semua itu memang sifat-sifat yang mungkin kita jumpai pada ornag-orang di sekeliling kita. Pride and Prejudice pun mengandung banyak pesan moral berharga yang dapat dipetik para pembaca. Dengan alur yang cukup sederhana, Pride and Prejudice berhasil membuat banyak pembaca tidak melepaskan bukunya hingga lembar akhir.






Book Review: Toto-chan


My rating: 5 of 5 stars


Saya pertama kali membaca buku Totto-Chan ketika duduk di kelas VIII SMP. Dari awal, saya mengira bahwa cerita-cerita Totto-Chan ini hanyalah cerita biasa tentang anak kecil yang nakal namun cerdas dan lincah. Namun, sesampainya di lembar akhir buku ini, saya merasakan ada hal luar bisa di balik semua kisah anak-anak Totto-Chan, yang sebenarnya menceritakan masa anak-anak penulis buku ini, Tetsuko Kuroyanagi.

Dengan latar belakang Perang Dunia II (Perang Pasifik/Asia Timur Raya), Totto-Chan yang polos menjalani kehidupan di sekolahnya yang sama sekali unik dan berbeda dari sekolah-sekolah yang ada di Jepang pada saat itu. Sekolah itu bernama Tomoe Gakuen dan didirikan, dikelola, serta dipimpin oleh Kepala Sekolah Sosaku Kobayashi. Kobayashilah yang menjadi sumber inspirasi bagi Tetsuko Kuroyanagi untuk menerbitkan sekaligus mempersembahkan untuknya buku ini.

Kepala Sekolah Kobayashi adalah seorang pendidik sejati yang memiliki pengalaman mengajar luar biasa banyak dan telah melakukan studi banding ke Eropa, dan menerapkan beberapa hal positif dari apa yang dipelajarinya di sana dalam sistem penididikan Tomoe Gakuen. Ia berani mendobrak sistem dan ideologi pendidikan konvensional yang diterapkan saat itu, karena ia yakin sekolah adalah tempat untuk mencetak generasi penerus bangsa, yang butuh lebih dari sekedar pengajaran akademis.

Kepala Sekolah Kobayashi tidak ingin sekolah menjadi institusi yang otoriter, sebaliknya dengan penuh kasih sayang, ia sangat menghargai murid-muridnya sebagai manusia seutuhnya dengan keperluan aktualisasi diri. Ia meng-encourage murid-murid cacat, mengajarkan menghargai sesama manusia, dan memegang prinsip bahwa setiap orang dapat mengeluarakn pendapat dan bertindak dengan bebas namun bertanggng jawab. Semua pelajaran moral tersebut dituturkan dalam bagian-bagian kecil dan singkat sehingga pembaca tidak akan merasa bosan.

Di akhir cerita, pembaca akan mendapati betapa tragisnya nasib yang harus dialami sekolah Tomoe Gakuen. Namun, hingga saat ini para alumni sekolah ini senantiasa melaksanalkan reuni dan menjadi orang-orang sukses dengan budi pekerti luhur. Di Jepang, buku ini adalah buku pegangan wajib bagi guru-guru di sekolah.

Saya pun sangat merekomendasikan buku ini bagi stakeholders pendidikan Indonesia agar kita dapat melihat esensi dari pendidikan itu sendiri. Dengan penuh harapan, kita semua pasti bisa menciptakan sistem pendidikan yang lebih baik dari sekarang yang mengutamakan aspek kognitif saja dan terkesan mengesampingkan aspek moral/budi pekerti yang justru menjadi dasar pijakan bagi setiap manusia yang ingin sukses.





Jumat, 01 April 2011

Pajak atas Pertamax dan Pertamax Plus

Bahan Bakar Minyak merupakan hal penting dalam perekonomian suatu negara. Harga minyak mentah dunia yang terus melonjak membuat banyak negara di dunia pusing tujuh keliling mengatur harga di dalam negeri, sebab bila dibiarkan bebas mengikuti harga dunia, maka harga BBM akan tidak stabil, dan tentu akan berdampak pada komoditas penting lainnya. Untuk itulah banyak negara yang menetapkan BBM subsidi dan BBM nonsubsidi, seperti yang diterapkan di Indonesia. Kekurangannya tentu adalah kas negara harus mampu menutupi beban subsidi BBM tersebut.

Sementara itu, harga BBM nonsubsidi tetap dibiarkan mengikuti harga minyak mentah di pasar dunia. Komponen yang membentuk harga BBM nonsubsidi kasarnya terdiri dari tiga komponen utama, yaitu: harga minyak mentah + margin industri + pajak bahan bakar. Pajak ini bervariasi, dan UK yang paling besar memungut pajak BBM ini. (Lihat gambar dibawah).


Di Indonesia, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dapat dipungut oleh daerah dengan tarif mulai 0% hingga maksimum 10%. Selain itu, masih terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai yang dikenakan pada BBM nonsubsidi, yatiu Pertamax dan Pertamax Plus sebesar 10%.


Pada 16 Maret lalu, PT Pertamina mengumumkan telah menaikkan harga Pertamax rata-rata Rp600 per literHarga bensin beroktan 92 itu naik setelah minyak dunia melambung jauh melewati US$100 per barel.Di Jakarta dan sekitarnya, harga Pertamax naik dari Rp8.100 menjadi Rp8.700 per liter. Sedangkan harga Pertamax Plus juga naik Rp600 menjadi Rp9.150 per liter.Harga Pertamax terendah terjadi Jakarta, sedangkan harga tertinggi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Harga Pertamax di kabupaten itu mencapai Rp11.050 per liter. Terakhir, Mulai hari ini, Jumat (1/4/2011) PT Pertamina (Persero) menurunkan harga pertamax sebesar Rp100 per liter. Dengan demikian, harga pertamax menjadi Rp8.600 per liter dari harga sebelumnya yang sebesar Rp8.700 per liter.

PT Pertamina telah meminta kepada pemerintah untuk menghapuskan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk pertamax dan pertamax plus, sehingga harganya bisa ditekan lebih murah. Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan mengatakan, mahalnya harga pertamax yang mencapai Rp 8.700/liter bakal menyebabkan munculnya kecenderungan konsumen kembali beralih ke premium, sementara kuota premium yang disediakan pemerintah diperkirakan tidak akan mencukupi bila peralihan itu terjadi.

Pengamat ekonomi Ahmad Erani Yustika mengatakan Pemerintah harus mengkaji penghapusan pajak dalam komponen bahan bakar agar perbedaan harga tersebut tidak terlalu jauh, sehingga masyarakat juga tetap bisa menggunakan pertamax dan bukan malah beralih kepada premium. “Harus segera dihitung. Jika kebanyakan masyarakat beralih ke premium, kira-kira seberapa besar lagi tambahan subsidi pada APBN yang akan dikeluarkan. Sebaliknya, jika PPn pertamax dihapus, berapa pendapatan negara dari pajak BBM tersebut yang akan hilang,” jelasnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) menilai, semakin besar perbedaan harga antara premium dengan pertamax maka potensi tekanan inflasi akan semakin besar. “Inflasi itu diukur dari gap antara perbedaaan premium dengan pertamax. Semakin besar perbedaannya, tentu orang akan beralih dari pertamax dan dampak inflasinya besar,” ungkap Kepala BPS Rusman Heriawan. Namun, untuk besaran potensi inflasi yang akan ditimbulkan, BPS belum melakukan perhitungan secara tepat. “Kita belum tahu seberapa jauh gap antara premium dan pertamax. Kalau pertamax lebih besar dari harga sekarang, itu akan menimbulkan inflasi besar,” kata Rusman.

Di lain pihak, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang PS Brojonegoro mengakui akan adanya potential lost jika memang pajak pertamax jadi dibebaskan.
Bambang menjelaskan, pihaknya membandingkan opsi mana yang lebih menguntungkan antara menghapuskan pajak tersebut dengan tetap mempertahankan kebijakan tersebut. Pasalnya jika pertamax turun maka pemakainya akan meningkat.
Bambang menyampaikan, harus ada benchmark agar tidak terjadi moral hazard jika memang pajak pertamax dibebaskan di pasaran.

Sumber:
http://www.indopos.co.id/index.php/component/content/article/66-indopos/8756-hapus-pajak-pertamax-cegah-premium-langka.html

http://ekonomi-migas.blogspot.com/2007/05/pajak-bbm.html