Selasa, 20 Agustus 2013

Flipped: A Chicken Is Born

Peter: Why do you have to spoil everything? We have fun, don't we? I taught you to fly and to fight. What more could there be?
Wendy: There is so much more.
Peter: What? What else is there?
Wendy: I don't know. I guess it becomes clearer when you grow up. 
Peter: Well, I will not grow up. You cannot make me!

Dengan wajah serius, Peter menolak mentah-mentah ajakan Wendy untuk hidup sebagai anak-anak biasa yang akan tumbuh besar suatu saat nanti. Kalimat terakhir yang diucapkan Peter seperti dalam petikan dialog Peter Pan (2003) di atas semakin mempertegas pendirian kokoh karakter Peter bahwa ia tidak ingin tumbuh dewasa. Keinginan Peter tersebut bahkan dapat dikatakan lebih dari sekedar pendirian, melainkan idealisme dan pemahaman yang mengakar dalam diri bocah yang dikenal hidup di Neverland itu bahwa menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Ketika melihat kenyataan bahwa dunia manusia dewasa tidak seindah manisnya hidup sebagai anak-anak, Peter memilih hidup abadi sebagai manusia hijau. Sebagai seseorang yang baru saja melewati fase transisi dari remaja menjadi dewasa, saya juga percaya bahwa tidak ada satu orang pun yang dapat memaksa orang lain untuk menjadi dewasa, karena sekali lagi: menjadi dewasa adalah pilihan. Menjadi dewasa memang bukan sesuatu yang mudah dilakukan, butuh proses agar diri kita benar-benar menjadi manusia dewasa seutuhnya yang sadar akan tanggung jawab dan konsekuensi dalam setiap tindakan. Bagi sebagian orang, proses pendewasaan terkadang menjadi suatu kenangan tersendiri yang sulit dilupakan, apalagi jika kenangan itu adalah kenangan hangat yang sedap jika diingat berulang kali, seperti yang dialami oleh Bryce dan Juli dalam Flipped (2010).

Secara komersial Flipped merupakan film yang kurang beruntung, sebab saat rilis perdana di Amerika Serikat publik tidak merespon dengan baik. Pihak studio Warner Bros. bahkan terus menyusutkan jumlah bioskop dan memindahkan lokasi penayangan untuk memasarkan film coming of age ini. Namun, mandeknya pretasi Flipped secara ekonomi bukan berarti film ini sangat buruk secara kualitas. Bagi sebagian orang (termasuk saya), Flipped adalah sebuah cult, sebuah mutiara terbuang di tengah tumpukan film-film berdana besar dengan teknologi efek khusus yang ternyata tidak selamanya bisa menjadi sebuah film yang dapat dikenang.

Flipped menceritakan romansa muda dua bocah yang tinggal berseberangan, Bryce Loski (Callan McAuliffe) dan Julianna “Juli” Baker (Madeline Carroll). Well, sebenarnya mereka tidak hanya sekedar tinggal berseberangan karena pada kenyataannya keluarga mereka juga memiliki nilai-nilai berseberangan satu sama lain. Keluarga Loski adalah keluarga yang mapan secara sosial dan ekonomi namun sayangnya sangat miskin dalam hal kerendahan dan ketulusan hati. Di sisi lain, keluarga Baker adalah keluarga sederhana yang penuh dengan kehangatan dan perjuangan hidup. Sejak pertama kali bertemu dengan Juli, Bryce sudah merasa jengkel terhadap sikap sok dewasa dan periang Juli. Meskipun sebenarnya Juli hanya menunjukkan sifat aslinya, namun Bryce tetap tidak senang terhadapnya. Saat keluarga Loski baru pindah, Bryce dan ayahnya Steven (James Edward) sudah saling mengerti untuk tidak dekat-dekat dengan gadis kecil yang saat itu dengan semangat menggebu berusaha membantu mengangkat barang-barang ke dalam rumah. Sementara itu, tidak peduli bagaimana Bryce bersikap dingin dan apatis terhadapnya, Juli adalah seorang gadis yang pantang menyerah. Di sekolah, sejak kelas dua SD Juli dikenal sebagai “istri” Bryce berkat antusiasme dan obsesinya terhadap pemuda yang menurutnya memiliki pandangan mata yang sangat menawan itu.

Tetapi, fase remaja merupakan hal yang tidak terhindarkan dalam hidup setiap orang, termasuk Bryce dan Juli. Kini memasuki usia pubertas di SMP, hidup dua remaja bertetangga itu tidak lagi sesederhana saat kelas dua SD. Di tengah ketertarikan Juli kepada Bryce yang tampaknya tidak akan pernah berakhir, timbul berbagai variabel baru dalam hidup mereka: lingkaran pertemanan dengan segala persaingan di dalamnya, hubungan cinta yang kian berkembang semakin rumit, dan tentu saja keluarga! Ya, keluarga tampaknya menjadi isu sensitif dalam hubungan Bryce dan Juli karena dua keluarga mereka memang tidak akur, kecuali bagi Chet (John Mahoney) – kakek Bryce yang bersahabat dengan Juli karena ia menemukan kemiripan gadis cerdas itu dengan istrinya yang baru wafat. Semua perubahan kehidupan remaja tersebut turut mengubah peta hubungan pribadi Bryce dan Juli serta keluarga mereka. Pada fase inilah kisah dua remaja ini flipped. Berangkat dari filosofi yang diperkenalkan ayahnya Richard (Aidan Quinn) dan Chet, Juli mulai mempertanyakan perasaannya kepada Bryce. Bryce sendiri pada akhirnya mendapatkan dirinya berada pada suatu persimpangan jalan, di mana ia harus memilih menjadi dewasa dan berupaya mengejar ketertinggalannya selama ini, berusaha menggapai sesuatu yang selama ini dianggapnya tidak berharga.

Dari segi cerita, naskah yang diadaptasi Rob Reiner (Stand by Me, The Bucket List) dan Andrew Scheinman (Little Big League) dari novel remaja karangan Wendelin Van Draanen ini hanya mengandalkan cerita sederhana tentang cinta monyet dua remaja tanggung di awal era 1960-an. Ditambah lagi, dengan label PG (Parental Guidance) otomatis penonton tidak akan menemukan kata-kata kotor, kekerasan yang membangkitkan adrenalin, dan lelucon jorok yang biasa mengocok perut secara eksplisit. Sepintas saya sempat berpikir, siapa yang akan menonton film seperti ini mengingat derasnya arus film-film heroik serta komedi kasar dan vulgar yang cenderung sukses di pasaran? Tetapi kemudian saya sadar, justru di sinilah letak keunikan Flipped, sebuah film yang tidak biasa. 

Dalam Flipped, penonton disuguhkan dua karakter utama Bryce dan Juli yang pada awalnya terlihat memiliki hubungan tidak seimbang. Di antara keduanya, Juli digambarkan sebagai sosok yang lebih berani, agresif, tidak ingin terlihat rapuh, dan dewasa. Tanpa malu-malu Juli mengejar dan menunjukkan perasaannya pada Bryce sedari awal mereka berjumpa hingga beranjak remaja. Di sisi lain, Bryce adalah seorang anak yang sangat hati-hati dalam mengungkapkan perasaannya. Lihatlah bagaimana Bryce dengan susah payah berusaha setengah mati menghindari Juli dengan berbagai cara. Selanjutnya cerita mengalir layaknya nostalgia, di mana gadis yang dulu cerewet dan menyebalkan berubah menjadi pujaan hati, pemuda yang sangat dikagumi ternyata tidak lain adalah seorang brengsek yang tidak pantas mendapatkan cinta, serta bayangan bagaimana seandainya kita tidak bertindak bodoh di masa lalu. Tampak seperti sebuah kisah klasik yang lazim dialami oleh setiap orang bukan? Namun di balik kesederhanaan ceritanya, Flipped menyimpan sebuah kekuatan besar yang mungkin akan dirasakan oleh setiap penontonnya, yaitu bagaimana peristiwa-peristiwa yang diceritakan mampu memanggil kembali kenangan masa lalu. Flipped mampu membawa penontonnya merasakan kembali kelucuan, keindahan, dan kehangatan cinta pertama. Seirama dengan tagline "you never forget your first love" yang diusung film berdurasi 90 menit ini, Flipped memang berhasil membuat penonton ingin kembali menjadi “remaja ingusan” lagi.

Selain mampu membangkitkan kenangan cinta pertama pada penonton, kekuatan naskah Flipped bagi saya juga terletak pada bagaimana Bryce menemukan titik balik untuk memperbaiki hubungannya dengan Juli. Oh, bukan! Titik itu akan lebih tepat disebut sebagai titik balik kehidupan Bryce, karena selain berhasil memperbaiki hubungannya dengan Juli, Bryce juga mampu keluar dari sempitnya cangkang di mana ia hidup selama ini. Cangkang tersebut telah mengungkung cara berpikir Bryce menjadi sempit, selalu ragu dan rapuh dalam mengekspresikan pendapat dan keinginannya. Cangkang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah sifat sang ayah, Steven yang selalu membawanya ke arah yang sesat. Ingatkah Anda pada bagaimana Steven dengan nyinyir menghina Richard yang senang melukis pemandangan? Saat itu dari jendela rumahnya Steven berkata, ”Oh, there he is! The bricklayer who thinks he’s a painter.” Dan masihkah Anda ingat pada scene saat Steven menghina Daniel (Kevin Weisman), adik Richard yang memiliki keterbelakangan dengan berkata, ”Either way, it’s not our fault that their family has some chromosomal abnormality.” Masih dengan pelaku yang sama, ingatlah kembali bagaimana Steven menghina Mark (Michael Bolten) dan Matt (Shane Harper), dua kakak Juli yang memilih menunda kuliah demi mencari karier di dunia musik. Saat itu, Steven berkata pada istrinya Patsy (Rebecca De Mornay), “Don’t be so naive, Patsy. Do you know how expensive it is to record a demo? They’re probably stealing hubcaps, for chrissake.

Bagi saya, sangat menarik melihat bagaimana pada awalnya semua pandangan Steven yang merendahkan keluarga Baker ditelan mentah-mentah oleh Bryce. Putar kembali ingatan Anda ketika Steven menyuruh Bryce menyingkirkan telur-telur pemberian Juli dari meja makan mereka. Bagi Bryce, daripada harus mengembalikan dan berhadapan secara langsung dengan Juli seperti saran bodoh ayahnya, Bryce memilih mematuhi perintah Steven dengan caranya sendiri: menutupi secara total “kebobrokan sosial” keluarganya (baca: Steven) dengan membuang semua telur itu sembunyi-sembunyi. Tidak ada white lie yang manis di dengar, permintaan maaf dengan senyum tulus, apalagi kejujuran yang memang akan terasa getir. Tidak, tidak ada satu pun di antara hal itu yang dilakukan Bryce karena ia lebih memilih menutupi semuanya, S-E-M-U-A-N-Y-A. Pada akhirnya, hal itulah yang membuat Juli berpendapat bahwa Bryce adalah seorang pengecut. Tetapi, benarkah demikian?

Well, bersyukurlah Bryce karena masih ada sedikit kebaikan tersisa pada keluarga Loski yang terwujud dalam bentuk si tua Chet. Kakek kesepian itu memiliki kebijaksanaan dalam memandang segala hal. Chet memberikan banyak petuah pada Bryce mulai dari kejujuran, kerendahan hati, dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana Chet memberikan pencerahan pada Bryce lewat kata-katanya yang sangat manis. Ada dua pelajaran dari Chet yang sangat menyentuh bagi saya, yaitu tentang kejujuran dan melihat sesuatu lebih dekat. Pada pelajaran pertama, Chet mengungkapkan keresahan atas perlakuan Bryce pada Juli melalui kata-kata yang sulit dilupakan. Dengan raut kecewa tergambar di wajahnya, Chet bertutur, “Sometimes a little discomfort in the beginning, can save a lot of pain down the road”. Pada pelajaran kedua, sambil memandang sisa batang pohon sycamore kesayangan Juli yang telah ditebang Chet berkata pada Bryce, “She’s quite a girl. Some of us get dipped in flat, some in satin, some in gloss. But every once in a while you find someone who’s iridescent. And when  you do, nothing will ever compare.” Semua kebijaksanaan Chet itu memang merupakan panacea bagi jiwa Bryce yang terkontaminasi kedengkian dari ayahnya. Ibarat anak ayam, Bryce akhirnya keluar dari cangkang yang melingkupinya selama ini. If Juli knows how Bryce changes this way, I’m sure she’d say, “A chicken is born!” 

Penokohan yang unik juga menjadi kekuatan Flipped. Ide untuk menampilkan karakter utama remaja yang berada dalam tahap pencarian jati diri bisa jadi merupakan hal biasa yang diangkat menjadi film (in fact that’s the main character ingredients for coming of age movies, right?), namun gagasan untuk menampilkan bagaimana keluarga memiliki andil signifikan dalam pembentukan karakter seseorang merupakan suatu hal yang membuat Flipped bukanlah  film omong kosong. Fakta bahwa tidak ada keluarga yang sempurna dalam segala hal menjadi landasan yang bagus untuk mengangkat kisah pencarian jati diri remaja dengan orang tua dengan “cacat sosial” ke layar lebar. Keunikan penokohan Flipped juga terletak pada karakter Chet yang merupakan sumber dari segala kebajikan dalam keluarga Loski, bukan dari kepala keluarga inti mereka, Steven. Padahal sebelum keluarga Loski pindah ke lingkungan tinggal Juli, Chet hanyalah seorang kakek yang tinggal terpisah dari anak, menantu, dan cucunya. Hal itu berarti tanpa kehadiran Chet keluarga Loski akan selamanya tertutup awan kelabu bernama kesombongan.

Mengenai dua karakter utama film ini, yaitu Bryce dan Juli, keunikan penokohan mereka terletak pada perbedaan cara pandang keduanya terhadap satu sama lain. Di paruh pertama film, Bryce digambarkan sebagai sosok yang sedikit egois dengan hanya memikirkan bagaimana dirinya dapat lolos dari jeratan Juli. Bryce tidak pernah sekalipun memenuhi permintaan Juli untuk memanjat pohon sycamore dan menatap pemandangan indah dari dahannya, tidak berada di samping Juli untuk membelanya saat pohon besar itu akan ditebang, tidak pula mau mengenal Juli sedikit saja lebih dekat bahkan ketika  ia pertama mengetahui bahwa gadis itu masuk halaman depan sebuah koran. Dengan sudut pandang demikian, sangat tepat bila karakter Bryce diperkenalkan hanya berdasarkan pemikiran-pemikirannya saja. 

Di sisi lain, Juli digambarkan sebagai gadis periang yang mendambakan ciuman pertamanya sejak usia sangat dini (terlalu dini?). Juli yakin Bryce adalah pria yang dikirim Tuhan untuk ditakdirkan menjadi cinta pertamanya, maka ia berusaha sekuat tenaga mendapatkan Bryce betapapun dinginnya reaksi sang objek ciuman itu. Juli juga sangat perhatian pada sesamanya, bahkan seolah ia merasa bertanggung jawab untuk memberikan kebaikan pada orang-orang disekitarnya (coba ingat kembali mengapa Juli memberikan telur-telur gratis pada keluarga Loski dan mengapa ia menganggap pohon sycamore dekat rumahnya sangat berharga). Sistem kerja, berpikir, dan hidup Juli yang penuh dengan impian, imajinasi, dan perasaan membuat karakter Juli sangat tepat diperkenalkan melalui hal-hal kecil seperti hobi, perilaku unik, dan ide-ide gilanya. 

Keunikan penokohan Bryce dan Juli menimbulkan daya tarik lain dari Flipped, yaitu format bercerita yang menggunakan sudut pandang dua remaja tersebut secara bergantian. Uniknya, Flipped tidak patuh pada pakem perfilman di mana biasanya sudut pandang pertama cenderung bersifat lebih bias dari kenyataan dan disanggah dengan sudut pandang kedua yang umumnya lebih mendekati kebenaran. Dalam Flipped, sudut pandang pertama diceritakan oleh Bryce yang karena karakternya cenderung bersifat egois dan tidak memiliki ilusi-ilusi tertentu menjadi lebih objektif dan realistis. Sedangkan sudut pandang kedua yang berasal dari Juli justru penuh dengan berbagai warna emosi dan angan-angan yang menjadikannya lebih subjektif.

Dari segi penyutradaan, Rob Reiner sangat pantas diberikan acungan jempol atas karyanya ini. Seperti karya pentingnya yang terdahulu, Stand By Me (1986), Reiner sekali lagi menunjukkan tajinya di area coming of age. Sama-sama berlatar waktu di akhir 1950 hingga awal 1960-an, Reiner mengulang sukses Stand By Me (secara kualitas) berkat kemampuannya memahami generasi era tersebut. Peralihan dekade 1950 ke 1960 merupakan akhir dari generasi remaja polos yang masih mematuhi nilai-nilai keluarga, sosial, dan agama dengan cukup ketat. Memasuki akhir 1960 hingga seterusnya, kita tahu bahwa masyarakat Amerika mengalami suatu transformasi sosial di berbagai aspek kehidupan yang membentuk suatu identitas budaya baru. Di dunia politik muncul perdebatan mengenai perang Vietnam, secara sosial muncul generasi baby boomers yang dengan bebas mengekspresikan pendapat, gaya hidup, dan keinginan mereka secara luas, dan secara religius agama tidak lagi dipandang sebagai suatu wadah efektif bagi kehidupan pribadi dan sosial. 

Karakter Bryce dan Juli sangat cocok dengan generasi polos tersebut. Pribadi dua remaja itu digambarkan sangat dekat dengan keluarga mereka masing-masing, tidak menentang perintah orang tua (bukan berarti tidak ada perbedaan pendapat), dan jauh dari pornografi dan hal-hal berbau seks (ingat ketika Bryce menganggap jijik tudingan kakaknya Lynetta (Cody Horn) padanya tentang majalah Playboy?). Reiner tahu betul bahwa pada masa itu semangat dan optimisme romantik sangat kental pada kehidupan masyarakat Amerika, mulai dari platonic love hingga true romantic love. Satu hal lagi yang menunjukkan Reiner adalah sutradara yang perhatian pada detail, yaitu susunan musik latar yang dimainkan di sepanjang film diatur berdasarkan tahun rilisnya (that’s a wow when I found out).

Di departemen akting, semua aktor dan aktris menunjukkan penampilan prima. Dalam keluarga Loski, Callan McAuliffe berhasil menyuntikkan pesona menawan di balik sifat awalnya yang penuh kegamangan dan kemudian menunjukkan kesungguhan, ketulusan hati, serta introspeksi diri saat ia mulai flipped. James Edward sebagai Steven juga mampu membuat karakternya terlihat super-brengsek hingga membuat penonton mengerutkan kening, menyunggingkan senyum sinis, dan berkata “what the hell he was saying?” Rebecca de Mornay dan Cody Horn yang masing-masing berperan sebagai ibu dan kakak Bryce secara efektif berhasil memainkan peran “katalis semu” dalam keluarga mereka, sebab meski keduanya sama-sama memiliki perbedaan pendapat dengan Steven namun tidak satupun di antara keduanya yang berhasil menggugah Bryce untuk mengubah pandangannya terhadap keluarga Baker. Terakhir, tentu saja keluarga Loski tidak akan berarti tanpa Chet yang diperankan dengan sangat baik oleh John Mahoney. Tanpa perlu banyak penjelasan, petuah-petuah dari Chet yang saya sebutkan sebelumnya disampaikan oleh Mahoney dengan rasa kasih sayang yang tergambar jelas. Meski terkesan sangat kolot dan menggurui (hey, it’s 60s by the way) namun kata-kata manis yang terkadang bermakna konotatif membuat setiap perkataan Chet tidak terlalu pretensius.

Sementara itu, di keluarga Baker tentu saja Madeline Carroll sebagai Juli menjadi bintang yang bersinar terang. Carroll mempu memancarkan sifat-sifat kedewasaan pada gadis muda yang diperankannya. Carroll berhasil membuat Juli sebagai seorang gadis yang sadar diri ketika ia menemukan bahwa pemuda impiannya ternyata tidak sesempurna yang ia pikir. Gerak tubuh Carroll sangat pas ketika mencerminkan Juli yang berusaha mematikan perasaannya kepada Bryce. Ada satu scene favorit saya yang menggambarkan kecanggungan dan perasaan Juli yang mulai berubah, yaitu ketika ia sedang menyiram rumput halaman rumahnya dan Byce datang menghampiri. Saat itu, sambil memegang selang air Carroll dengan agak canggung dan malas menanggapi permintaan maaf Bryce dan kemudian menyatakan keherannya mengapa Bryce tidak berkata jujur padanya. Scene itu kemudian ditutup dengan Juli memperlihatkan pandangan “just go away at once!” saat menatap tanah membelakangi Bryce. Selain Juli, pemeran pendukung di keluarga Baker yaitu Aidan Quinn Penelope Ann Miller yang masing-masing berperan sebagai Richard dan Trina, ayah dan ibu Juli mampu memperlihatkan gambaran keluarga Baker secara lebih jelas, bahwa keluarga mereka bukanlah keluarga sederhana tetapi sempurna seperti yang terlihat dari luar. Dalam sebuah scene emosional, yaitu adegan di ruang makan keluarga Baker ketika Juli menyampaikan gagasannya untuk memulai proyek pembenahan halaman rumah, Richard dan Trina beradu pendapat dengan diiringi kesunyian anak-anaknya. Quinn dengan berapi-api sangat sukses menciptakan emosi dan mimik tersinggung di wajah Richard saat Trina mengatakan bahwa suaminya itu lebih memilih Daniel daripada anak-anaknya sendiri. Sebelum Richard menggebrak meja yang membuat Juli berteriak, saya merinding mendengar sepasang suami-istri yang terlihat sangat akur saling membentak satu sama lain. Well done!

Simply put, bagi saya pribadi Flipped bagaikan menu spesial dari restoran favorit yang akan membuat pengunjung ingin datang untuk kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya. Tidak banyak film dengan karakter utama anak-anak dapat memberikan insights yang begitu berharga yang tidak hanya ditujukan pada anak-anak saja, tetapi juga orang dewasa yang terkadang sulit menerima pelajaran dari orang lain, apalagi melalui film dengan karakter utama anak-anak. Bagi Anda yang memiliki buah hati, Flipped merupakan film yang sangat tepat ditonton pada akhir pekan bersama seluruh keluarga dan nikmatilah kehangatan yang sulit dilepaskan seusainya. This is real good, 4.5 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?





Watch this if you liked:


Y Tu Mamá También (2001)

Director: Alfonso Cuarón
Stars: Maribel Verdú, Gael García Bernal, Diego Luna
Genre: Drama
Runtime: 106 minutes


Dazed and Confused (1993)

Director: Richard Linklater
Stars: Jason London, Rory Cochrane, Wiley Wiggins
Genre: Comedy, Drama
Runtime: 102 minutes


















Selasa, 14 Mei 2013

Into the Wild: Don’t Leave in Anger

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel yang membahas pentingnya percaya bahwa segala sesuatu yang ada di kehidupan ini pasti terjadi karena suatu alasan (everything happens for a reason). Dalam artikel yang ditulis untuk website Oprah tersebut dijelaskan bahwa filsuf sekelas Aristoteles pun meyakini bahwa setiap pengalaman hidup yang terjadi akan mendesain “bentuk” diri seseorang, mendefinisikan siapa diri kita sebenarnya, dan bahkan dapat mencapai entelechy – istilah Aristoteles yang mengandung pengertian dorongan penting yang memotivasi dan menjadi panduan bagi seseorang untuk mencapai potensi tertinggi yang ada dalam dirinya. Karen Salmansohn, penulis artikel tersebut memberikan contoh bagaimana sebuah pohon ek dapat tumbuh menjadi besar dan kuat. Ketika terjadi badai besar yang mengancam eksistensi pohon ek, tumbuhan tersebut secara intuitif akan menguatkan setiap bagian pohon yang ada, dan setelahnya tanaman tersebut dapat memilih untuk terus menumbuhkan batang, cabang, dan ranting yang lebih kuat dan lebih kuat lagi guna menghadapi badai yang akan datang. Begitu pun dengan manusia, ia dapat memilih untuk terus menguatkan diri setelah sesuatu yang besar menimpa dirinya. Persitiwa putusnya hubungan dua orang yang berpacaran misalnya, dapat kita anggap lebih dari sekedar patah hati (breakdown), yaitu putus hubungan yang menyebabkan patah hati dan kemudian mendorong dirinya untuk melakukan suatu terobosan (breakthrough). Salmansohn menjelaskan Aristoteles pada akhirnya mencapai kesimpulan bahwa setiap pengalaman hidup manusia adalah sebuah tawaran akan keajaiban khusus yang dapat menguatkan diri seseorang dan mencapai entelechy. Legitimasi atas apa yang ditulis Salmansohn dalam artikelnya ini tampaknya dapat kita lihat dari pengalaman hidup Christopher McCandless yang difilmkan dalam Into the Wild (2007).

Into the Wild adalah proyek ambisius dari aktor yang dalam film ini duduk di kursi sutradara sekaligus penulis naskah, Sean Penn (The Indian Runner, The Pledge). Film yang merupakan biography picture atau biopic ini merupakan visualisasi dari buku non-fiksi buah pena Jon Krakauer yang mengulas pengalaman hidup Christopher “Chris” McCandless. Siapakah Christopher McCandless? Ia adalah pemuda yang kisah hidupnya telah menyentuh banyak orang (terutama setelah Krakauer menuangkannya dalam buku) karena dengan segala keberanian dan ketangguhan dirinya, ia rela meninggalkan semua urusan duniawi untuk kemudian berkelana mengarungi kehidupan liar dan merasakan hidup bersama alam. McCandless dikenal sebagai pemuda cerdas yang idealis. Perjalanannya menapaki alam yang cadas dimotivasi oleh pandangan dan prinsip hidupnya yang membenci segala bentuk penindasan, kemunafikan, dan keserakahan. Sebagian besar pandangan hidupnya itu dipengaruhi oleh beberapa sastrawan dan filsuf besar seperrti Leo Tolstoy, David Thoreau, Nikolai Gogol, dan Jack London. Namun, apakah ia benar-benar pemuda idealis yang sempurna?

Into the Wild mengisahkan pengalaman Chris – yang selama pengelanaannya memakai nama samaran Alexander Supertramp – dalam mengarungi keganasan alam liar. Dengan dipandu oleh narasi Carine McCandless (Jena Malone), adik perempuan Chris, penonton diajak mengikuti napak tilas pemuda lulusan Emory University tersebut dalam lima bab secara berturut-turut: Birth, Adolescence, Manhood, Family, dan Getting of Wisdom. Dalam Birth, dikisahkan bagaimana Chris memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarganya dengan alasan melanjutkan studi di Harvard Law School, memberikan uang senilai US$24,000 untuk amal, mengendarai dan akhirnya menghancurkan mobil Datsun tua miliknya, dan pada akhirnya mengarungi alam liar. Keluarga yang penuh dengan ketidakbahagiaan adalah motivasi terbesar Chris untuk melakukan itu semua. Lebih tepatnya lagi, Chris muak dengan sifat dan sikap kedua orangtuanya, Walt (William Hurt) dan Billie (Marcia Gay Harden). Chris menganggap kedua orangtuanya penuh dengan dusta, tipu daya, arogan, dan selalu menggunakan kekayaan mereka dalam memandang dan mengukur segala hal. Korban paling nyata dari ketidakharmonisan rumah tangga itu adalah Chris dan Carine. Pada Adolescence, Chris mulai memupuk mimpi pergi ke Alaska untuk merasakan kebahagiaan menikmati alam liar. Dalam fase ini, ia menemukan bahwa birokrasi merupakan penghambat utama dalam sistem kemasyarakatan. Selain itu, ia menyadari betapa uang merupakan penghalang bagi kebebasan manusia. Ia memutuskan dan berusaha untuk melakukan perjalanan tanpa sepeser pun uang. Dari semua pengalamannya itu, poin penting perjalanan Chris pada tahap ini adalah ia sama sekali tidak dapat membayangkan jika dirinya memiliki kehidupan yang sama seperti orang lain: menjadi pekerja kerah putih setelah lulus dari universitas ternama, bersenang-senang bersama partner kerja dan kekasih, serta menikmati gelimang harta dan kekuasaan. Dalam Manhood, plot berpindah hampir sepenuhnya memperlihatkan pengalaman berburu Chris di Alaska. Ia belajar banyak hal tentang perburuan dan menemukan salah satu bencana terbesar dalam hidupnya ketika daging hasil buruannya membusuk. Sementara itu, Family menceritakan bagaimana Chris berupaya sedapat mungkin meredam hawa nafsu untuk mengikatkan dirinya pada hubungan berkomitmen bersama Tracy (Kristen Stewart) dan melawan keinginannya untuk kembali ke tengah hangatnya keluarga setelah ia merasakan kebaikan dua pasangan pengelana Rainey (Brian H. Dierker) dan Jan (Catherine Keener). Akhirnya, dalam Getting of Wisdom, seorang Christopher McCandless baru menyadari bahwa kebahagiaan hanya akan terasa jika dinikmati dalam kebersamaan. 

Sebagai penulis naskah, Sean Penn telah melakukan kerja luar biasa karena di samping melaksanakan tugas-tugas pembuat film, Penn juga harus menjadi seorang penyusun biografi. Berdasarkan sumber yang saya dapatkan, Penn hampir mengikuti sepenuhnya buku karangan Krakauer. Bahkan, Penn dikatakan telah berhasil menegaskan bagian-bagian penting buku tersebut, dan mengesampingkan hal-hal yang tidak diperlukan. Oleh karena itu, pada dasarnya saya tidak meragukan kemampuan Sean Penn dalam menulis naskah Into the Wild meskipun saya tidak mengetahui seperti apa buku Krakauer yang menjadi sumber cerita utama film ini. Apalagi, secara struktur film ini dibagi ke dalam sejumlah bab yang sebenarnya telah menunjukkan betapa Penn ingin tetap dekat dan asli sesuai dengan buku yang telah menjadi best seller tersebut. 

Hanya saja, keputusan Penn untuk tetap mengikuti buku Krakauer secara ketat tampaknya berdampak kurang baik pada durasi film yang dapat membuat (maaf) bokong penonton panas di kursinya. Selama 148 menit penonton disajikan keindahan sinematografi dan kisah yang menyentuh, namun juga disisipi cukup banyak adegan pengulangan yang menurut saya membuang-buang waktu. Sebut saja misalnya adegan yang berulang-ulang saat Chris duduk termenung, berdiri dalam keheningan, memanjat bebatuan terjal, dan mencari tumpangan. Sebenarnya dengan latar tempat, waktu, dan kejadian yang berubah-ubah adegan perlu dibuat seefektif mungkin agar penonton dapat tetap mengikuti dan mengingat semua latar dalam setiap adegan. Semua pengulangan itu menunjukkan struktur cerita yang kurang efektif. Mengapa Penn tidak memotong semua adegan itu dan menghasilkan film berdurasi sekitar 100 menit namun terjamin tidak ada adegan yang diulang berkali-kali? Into the Wild semakin memperkuat anggapan dan pertanyaan saya selama ini: apakah semua film biopic harus dibuat dengan durasi yang begitu panjang? 

Selain terganggu dengan durasi yang terlalu lama, saya juga merasa tidak nyaman dengan pendekatan dan sudut pandang yang diambil Penn (dan mungkin Krakauer) dalam mencitrakan pribadi Chris. Menurut saya, Penn terlalu berani mengambil risiko untuk menampilkan sosok Chris sebagai pemuda idealis yang selalu dapat diandalkan, disenangi setiap orang, meluncurkan kata-kata yang penuh makna dari mulutnya, pahlawan yang membebaskan diri dari segala kebobrokan manusia, dan bahkan lebih jauh lagi Penn terkesan mendorong pesona Chris agar tampak seperti orang suci (saint). Dalam satu dialog Rainey bertanya pada Chris, “You’re not Jesus, are you?” Tanpa mengecilkan atau bermaksud menjelek-jelekan Christopher McCandless, bagi saya Chris adalah seorang pemuda yang berani membuat suatu keputusan besar dalam hidupnya dan ia pun berani menanggung segala konsekuensi atas keputusannya tersebut, tidak kurang dan tidak lebih. 

Jujur saja, sebenarnya saya kurang simpatik kepada Chris. Ia pergi meninggalkan keluarganya yang ia anggap tidak mampu membangun keharmonisan rumah tangga. Namun, saya menganggap hal itu sebagai tindakan yang sangat egois. Sebagai seorang anak yang selama ini diajarkan nilai-nilai moral, saya selalu percaya bahwa seburuk apapun orang tua, tidak akan ada yang dapat mengubah status mereka sebagai orang tua kita. Dalam kasus Chris, Walt dan Billie bahkan sebenarnya memenuhi semua kebutuhan materi Chris dan Carine. Meski sebagai orang tua Walt dan Billie kurang berhasil menunjukkan dan menanamkan nilai-nilai kehidupan, namun tidak seharusnya Chris mencampakkan keluarga yang saya amat yakin mencintainya sepenuh hati. Kasih sayang dua orang tua Chris terasa kentara di akhir film ketika Walt, Billie, dan Carine selangkah demi selangkah menuju keputusasaan dalam mencari Chris. Tengok adegan ketika Walt duduk tersimpuh di jalan layaknya anak kecil yang tersesat, menahan kesedihan dan kehilangan putranya serta saat Billie pulang dari pasar, mengendarai mobilnya, dan berusaha mati-matian meyakinkan dirinya bahwa Chris masih hidup dan menjadi seorang petualang backpacker di luar sana. Walt dan Billie pun akhirnya tenggelam dalam penyesalan. Melihat besarnya cinta kedua orangtua Chris pada dirinya, saya merasa kalimat yang diucapkan Jan pada Chris di malam yang mereka habiskan di pantai sangatlah menohok. Saat itu, Jan berkata, “You look like a loved kid. Be fair.” Begitu juga saat Chris ditanya oleh Ron mengenai di mana keluarganya dan Chris menjawab bahwa ia tak lagi memiliki keluarga, ekspresi Ron berubah seketika, ia diam sejenak dan kemudian berkata, “That’s a shame.” Ya, saya sangat setuju bahwa mendengar seorang manusia yang tidak lagi mengakui keluarganya adalah sebuah hal yang memalukan.

Bagi saya, tindakan Chris pergi menjauh sekaligus membuang identitas dirinya sebagai bagian dari sebuah keluarga keluarga sangatlah tidak adil, tidak menunjukan tingkat intelektual yang seharusnya mampu membimbing Chris untuk dapat membuat keputusan yang jauh lebih baik, dan justru hal itu menunjukan betapa lemahnya mental Chris. Melalui dua potong kalimat, Carine mengatakan dalam narasinya, “It was inevitable that Chris would break away. And when he did, he would do it with characteristic immoderation.” Dua kalimat itu sangat tepat menggambarkan dua hal dalam hidup Chris: pertama, Chris sebenarnya tidak kuat menghadapi permasalahan hidupnya hingga dirinya harus melakukan suatu tindakan yang dapat menyelamatkan dirinya dari permasalahan itu: break away, atau saya jauh lebih senang menyebutnya escape (melarikan diri), sebuah tindakan praktis yang seringkali menjadi katup penyelamat bagi orang-orang dengan mental yang tidak tahan banting. Kedua, ketika Chris melarikan diri, ia melakukannya bukan dengan cara yang biasa-biasa saja, karena seperti yang telah saya katakan sebelumnya, ia telah membuat keputusan besar, yang tidak hanya bersifat dinamis atau drastis, melainkan lebih tepat jika disebut suatu keputusan radikal yang sebenarnya dilandasi oleh sebuah dinamit yang dapat meledak setiap waktu: amarah (anger). Menurut saya, sebenarnya motivasi terbesar atas keputusan besarnya itu adalah amarah, sebuah emosi dan nafsu yang dapat menyesatkan. Bagi saya, tidak ada keputusan yang lebih buruk dari keputusan yang diambil atas dasar amarah. Meski pada akhirnya ia mendapatkan pemahaman bahwa kebahagiaan hidup baru akan bermakna saat dinikmati dalam kebersamaan, namun Chris terlanjur mengecewakan hati saya dan saya tidak mampu menaruh simpati yang lebih besar lagi dari sekedar pemuda yang berani mengarungi ganasnya alam liar. Sekali lagi, saya tidak bermaksud mengecilkan, menilai, atau menjelek-jelekan Christopher McCandless.

Penn terlalu sibuk berusaha melakukan pencitraan terhadap Chris hingga ia seakan-akan lupa bahwa Chris tidak pernah ingin membangun hubungan yang terlalu intim dengan orang lain. Seperti yang Chris katakan pada Ron, “But you’re wrong if you think that the joy of life comes principally from human relationships. God’s placed it all around us. It’s in everything. It’s in anything we can experience. People just need to change the way they look at those things.” Sebaliknya, Penn justru selalu berusaha menampilkan sosok Chris sebagai pemuda yang mudah berbaur dengan orang lain, hingga memberikan kesan paradoks dalam diri Chris, karena meski ia berusaha sekuat tenaga menolak setiap tawaran kasih sayang dan hubungan berkomitmen yang dating pada dirinya dan merindukan setengah mati kehidupan sebatang kara (solitary life) di alam liar, Chris pada dasarnya adalah makhluk dengan memiliki jiwa sosial yang besar. Lihatlah bagaimana Jan dan Ron tidak mampu menahan emosi mereka ketika datang waktu perpisahan dengan Chris. 

Selain tidak nyaman dengan durasi, cara Penn mempresentasikan kepribadian Chris, serta rasa kurang simpatik saya terhadap Chris (nothing personal), saya juga mendeteksi adanya semangat machismo yang berlebihan dalam visualisasi Into the Wild. Di sepanjang cerita, cobalah ingat berapa kali adegan Chris yang sedang menikmati sejuknya air saat ia mandi atau melakukan aktivitas lain seperti berenang. Di hampir semua adegan “basah” tersebut, pengambilan gambar akan dilakukan dengan gerakan lambar (slow motion), memperlihatkan Chris menyibak rambut gondrongnya (a la shampoo ads), serta mempertontonkan tubuh Chris yang tidak mengenakan baju (topless). Saya mempertanyakan apa maksud dibalik pengambilan semua adegan itu? Apakah Penn berusaha menekankan penggambaran sosok Chris yang kharismatik, seorang pria sejati? Saya rasa jika memang itu tujuannya, itu tidak perlu karena justru pengambilan gambar seperti itu terasa seperti dipaksakan dan menjurus seperti iklan Marlboro di Amerika tempo doeloe (masa kini di Indonesia). Satu hal lagi, saya juga tidak terlalu nyaman ketika hampir di sepanjang film penonton tidak pernah diberi kesempatan rehat sejenak dari riuhnya suara latar lagu-lagu Eddie Vedder. Bukan hendak mengatakan bahwa suara Eddie jelek atau hal buruk lainnya, saya hanya berpendapat bahwa terkadang dalam momen-momen dan adegan tertentu suara serangga berdengung, cicitan burung, atau bahkan keheningan total lebih cocok dibanding kocokan gitar yang menampilkan nuansa ramai di sepanjang cerita. 

Meskipun terdapat hal-hal yang saya kurang sukai atau tidak nyaman di beberapa hal lainnya, namun tentu saja Into the Wild memiliki banyak nilai positif. Pertama, deretan aktor yang sangat luar biasa. Selama penonton menapak tilas perjalanan Chris, di sepanjang cerita bertaburan tokoh-tokoh yang menyentuh yang diperankan dengan sangat apik. Mulai dari Keener yang berperan sebagai Jan, wanita pengelana yang memiliki posisi yang sama seperti Billie, yaitu ibu yang kehilangan anaknya karena ia memilih untuk mencari kebebasan di luar sana. Melalui kesedihan yang tergambar jelas di wajahnya, Jan mengharapkan Chris bersedia menetap bersamanya dan menjadi pengganti putra semata wayang yang entah berada di mana. Menemani Jan adalah Rainey, peran yang dibawakan oleh Dierker, aktor yang menjajal layar perak untuk pertama kalinya. Hebatnya, untuk ukuran sebuah debut, Dierker telah memainkan peran Rainey dengan amat baik. Sebagai pengelana paruh baya, Rainey tidak pernah mengharapkan apapun di dunia ini selain kebahagiaan bersama orang yang amat dicintainya, Jan. Meski ia menaruh harapan, namun Rainey tahu persis bahwa Jan belum dapat sepenuhnya menerima cinta dari pria lain setelah kegagalan pernikahan yang ia kira menjadi momen terindah dalam hidupnya. Rainey juga berperan sebagai sahabat sekaligus figur ayah yang ideal bagi Chris. 

Satu lagi yang tak kalah hebat tentu saja adalah Hal Holbrook yang berperan sebagai Ron Franz (sebenarnya saya lebih suka menyebutnya Mr. Fredericksen karena ia mirip dengan tokoh kakek dalam Up (2009)), seorang veteran yang merindukan indahnya kehidupan berkeluarga setelah istri dan anaknya tewas secara tragis saat ia bertugas di luar negeri. Pertemuannya dengan Chris telah mengubah sedikit banyak hidupnya karena Chris adalah seorang pemuda penuh semangat yang tak pernah menyerah dalam mengatasi permasalahan hidup, sementara di usianya yang senja Ron telah pasrah dengan kehidupannya yang penuh dengan kesendirian. Keinginan yang kuat untuk memiliki keluarga dan teman hidup dalam diri Ron tergambar jelas ketika ia menyatakan ingin mengadopsi Chris sebagai cucunya dalam adegan perpisahan antara dirinya dengan Chris. Penonton dapat dengan mudah larut dalam keharuan Ron saat mata rentanya berkaca-kaca. 

Kemudian, tentu saja yang paling menonjol adalah Emile Hirsch, si empunya peran Chris. Selama proses syuting, saya yakin Hirsch telah menerima banyak tempaan, mulai dari membawa ransel penuh dengan perlengkapan bertualang, membajak ladang gandum, berlatih mengarungi jeram sungai Colorado, memotong hasil buruan, hingga tinggal di wilayah dingin. Penampilan Hirsch semakin memukau ketika emosinya sebagai pemuda idealis meluap dalam suatu bentuk kemarahan terpendam dan ia berhasil menunjukkannya melalui permainan mimik, gaya bicara, dan gerakan pemuda yang energik sekaligus rapuh ketika ia dihadapkan pada kebaikan dan kasih sayang orang lain.  Bagi saya, Into the Wild adalah salah satu dari sedikit film yang semua aktornya menunjukkan performa prima. 

Di samping departemen akting, sinematografi tentu saja menjadi hal yang diandalkan dalam film sejenis ini. Diperkaya dengan berbagai warna seperti coklat, kunig tua, dan warna keemasan sinar matahari, Into the Wild tampil memukau dan terkesan mewah sekaligus eksotis. Eksotika sinematografi Into the Wild juga bukan hanya dari permainan warna, melainkan juga penggambaran alam (landscape) yang begitu menakjubkan mulai dari jeram sungai yang memacu adrenalin, pantai yang penuh dengan burung camar, hingga padang salju dan pegunungan bersalju yang terkesan sangat angkuh dalam keluasan dan kedinginannya. Sinematografer Eric Gautier harus mendapat acungan empol atas kerja kerasnya ini. 

Secara keseluruhan, saya ingin mengatakan bahwa Sean Penn sebenarnya telah mencapai suatu tingkat kematangan dan kedalaman di film ini. Penn telah melakukan tugas yang amat sulit sebagai sineas sekaligus penyusun biografi, dan juga ia berhasil mengarahkan serta menggambarkan hasrat dan mimpi yang beraneka ragam dari setiap karakter yang ada di sekeliling Chris dan hebatnya lagi Penn melakukan itu semua tanpa merendahkan pandangan terhadap karakter yang satu dengan karakter yang lain. Penn juga tidak memosisikan karakter-karakter tersebut sebagai tokoh yang merasa dirinya benar atau salah, semuanya kembali pada penilaian penonton. Akhirnya, saya menutup tulisan ini dengan kesimpulan bahwa Into the Wild adalah sebuah film perjalanan (road picture) yang memukau baik dari sisi penokohan maupun teknis, namun saya tidak merasa karakter utama di sini yaitu Christopher McCandless ditampilkan secara netral. All in all, it’s terrific but not extraordinary, 3.5 out of 5 stars. Sebenarnya, saya pun masih bertanya dalam hati apakah penilaian saya ini disebabkan rasa kurang simpatik saya, genre biopic yang bukan favorit saya, ataukah gabungan keduanya? Entahlah. Bagaimana menurut Anda?




Watch this if you liked:

127 Hours (2010)

Director: Danny Boyle
Stars: James Franco, Kate Mara, Amber Tamblyn
Genre: Adventure, Biography, Drama
Runtime: 94 minutes


The Motorcycle Diaries (2004)

Director: Walter Salles
Stars: Gael García Bernal, Rodrigo De la Serna, Mercedes Morán
Genre: Biography, Drama
Runtime: 126 minutes










Jumat, 10 Mei 2013

You Can Count on Me: A Tale of Two Siblings

Bagi Anda penggemar film, menyaksikan adegan-adegan sumpah serapah, kesalahpahaman dalam menafsirkan kata-kata, atau curhat biasanya hanya merupakan bagian kecil yang tidak memiliki makna signifikan dari keseluruhan jalinan cerita. Biasanya adegan-adegan tersebut merupakan pelengkap semata dari konsep cerita besar yang menjadi tema utama dalam sebuah film, entah itu tentang penyelamatan dunia oleh tokoh heroik, peristiwa bencana mematikan, atau kisah-kisah kriminal yang menegangkan. Jarang sekali ada film yang menampilkan kisah kehidupan sehari-hari yang mengalir begitu terbuka hingga membuat penonton merasa seperti sedang mengikuti perjalanan hidup seseorang. Harus diakui bahwa mengangkat premis cerita sederhana yang mengetengahkan kehidupan nyata merupakan pekerjaan yang susah-susah gampang. Selain terkait erat dengan minat penonton (alias laku atau tidaknya film di pasaran), sineas pembuat film di genre ini harus memiliki kemampuan dan cita rasa tersendiri dalam meracik cerita agar tidak terkesan terlalu berlebihan atau sebaliknya, terasa membosankan. Perlu disadari, penonton hanya mau menonton sebuah film yang menurutnya layak ditonton. Definisi “layak” di sini sangat luas, dapat berarti memiliki cerita yang sangat imajinatif, mengandung efek khusus yang menakjubkan, atau justru mencari film dengan cerita sederhana yang menyentuh dan mengena kehidupan personal mereka. Nah, film dengan cerita kehidupan sehari-hari umumnya ditonton oleh mereka yang mendefinisikan film layak tonton seperti yang disebutkan terakhir. Jika Anda mencari film seperti apa yang menceritakan kehidupan sehari-hari yang menyentuh, saya merekomendasikan You Can Count on Me (2000) untuk Anda.

You Can Count on Me, film besutan sutradara sekaligus penulis naskah Kenneth Lonergan (Gangs of New York, Margaret) ini merupakan tipikal film favorit siapapun yang mencari film dengan cerita penuh ironi dalam seting kehidupan nyata. Bagi Anda penggemar film-film atau drama seri tentang keluarga seperti The Kids Are All Right (2010) atau Brothers and Sisters, film ini pun tak boleh dilewatkan, sebab Anda akan mendapatkan pengalaman dan nuansa menonton yang berbeda dan unik. Dalam You Can Count on Me, sebagai penonton Anda akan diajak memperhatikan hal-hal kecil yang biasanya dilewati begitu saja di film-film lain tetapi ternyata memiliki makna yang dalam, misalnya pertengkaran antara seorang kakak dengan adiknya, kegiatan kerja sama antara paman dengan keponakannya, menertawakan perselingkuhan, dan masih banyak lagi. Sepanjang cerita, Anda akan dibawa mengarungi kehidupan pribadi seseorang, tetapi Anda tidak akan diarahkan untuk membuat suatu kesimpulan tertentu, karena di film ini semuanya terasa begitu terbuka. Anda bebas beropini apapun berdasarkan kehidupan tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita.

You Can Count on Me menceritakan kehidupan dua orang kakak-beradik Sammy (Laura Linney) dan Terry (Mark Ruffalo) yang telah ditinggalkan kedua orang tua mereka sejak masih kecil. Sammy dan Terry memiliki dua perbedaan mendasar, di mana Sammy bersifat sangat statis dan memiliki pola pikir yang pragmatis dan Terry bersifat pemberontak dan sedikit urakan, tetapi terkadang ia memiliki pemikiran positif dan jiwa yang tulus. Sifat Sammy yang statis dapat dilihat dari pilihannya untuk menetap (sepertinya untuk selamanya) di rumah peninggalan orang tuanya di sebuah kota kecil bernama Scottsville. Meski di Scottsville relatif dapat dikatakan tidak akan terjadi hal-hal besar yang mengagumkan maupun kemajuan yang berarti, namun Sammy selalu berkeras untuk tinggal dan membesarkan anak semata wayangnya Rudy (Rory Culkin) di sana. Entah mengapa ia mengambil keputusan demikian, padahal mantan suami yang sangat ia benci tinggal tak jauh dari kota kecil tersebut. Berbicara mengenai mantan suaminya, sejak dulu Sammy tidak pernah memberi tahu Rudy hal-hal yang berkaitan dengan ayahnya yang memiliki nama yang sama itu. Mungkin karena kebencian yang telah terpatri terlalu dalam di hati dan otaknya, Sammy selalu mangkir tiap kali ditanya tentang mantan suaminya itu. Untuk menghidupi anaknya, Sammy bekerja sebagai karyawan bagian peminjaman di sebuah bank lokal. Tampaknya, sama seperti sifatnya yang statis, Sammy telah bekerja di bank tersebut untuk jangka waktu yang cukup lama hingga ia mengalami pergantian atasan.

Berbanding terbalik dengan Sammy, Terry tidak pernah memiliki keinginan untuk menetap di Scottsville, sebuah kota kecil yang menurutnya sangat membosankan. Ia selalu pergi berkelana untuk mencari pengalaman dan tantangan baru, meskipun itu bukan berarti hidupnya bebas dari masalah. Terry justru menghadapi situasi yang sulit dalam hidupnya manakala kekasihnya memiliki masalah keuangan yang menuntut Terry untuk meminjam uang pada kakaknya. Padahal, beberapa bulan terakhir ia tak pernah memberi kabar pada Sammy kecuali beberapa kartu pos yang mengabarkan bahwa dirinya berada di Alaska, meski kenyataan sebenarnya ia tengah meringkuk di penjara. Alhasil, ketikaTerry datang menemui Sammy untuk meminjam uang dan menceritakan kejadian yang sebenarnya, Sammy pun menjadi histeris. Namun, perasaan sebagai seorang kakak tidak pernah sirna dalam diri Sammy. Meski bukan untuk pertama kalinya Terry datang hanya untuk meminjam uang, Sammy tetap menyayangi Terry dan ia pun menawarkannya untuk tinggal sementara waktu di rumahnya. Periode di mana Terry tinggal dirumahnya ternyata membuat Sammy pusing tujuh keliling dan merasa hidupnya semakin berantakan manakala prinsip untuk membesarkan Rudy tanpa harus mengenal sosok ayah kandungnya direcoki Terry yang semakin menumbuhkan rasa penasaran Rudy untuk mengenal siapa ayah kandungnya. Tidak cukup sampai di situ, Sammy pun mengalami pasang surut hubungan asmara dengan dua pria sekaligus di saat bersamaan. Pada akhirnya, semua permasalahan itu membuat Sammy semakin berusaha keras dan belajar untuk mendewasakan dirinya agar ia dapat menjadi orang yang selalu dapat diandalkan.

Hal yang paling menarik bagi saya dalam You Can Count on Me adalah cerita yang begitu mengalir terbuka dan tidak berusaha menempatkan penonton pada posisi tertentu. Dari awal hingga akhir, kehidupan Sammy dan Terry dirangkai dengan sangat baik, dan yang paling saya sukai adalah ketika tokoh-tokoh yang ada bersinggungan dengan isu benar atau salah. Misalnya adegan saat Sammy bertanya pada Bapa Ron (Kenneth Lonergan) tentang hukum perzinahan dan perselingkuhan, di mana Sammy dengan berapi-api mendukung agar pihak gereja mencela dan mengutuk perbuatan dosa tersebut. Adegan ini sangat unik sekaligus ironis. Unik karena sangat jarang kita melihat ada seorang jemaat yang sangat bersemangat menyatakan bagaimana seharusnya gereja bertindak. Ironis karena dalam cerita ini, Sammy melakukan hal sama persis dengan apa yang ia cela dan kutuk tersebut. Sammy terkesan sangat linglung, tidak mengetahui apakah perbuatannya itu benar-benar berdosa atau dapat dibenarkan dalam kasus hidupnya sebagai seorang single parent. Dalam adegan ini penonton dibiarkan menyaksikan semuanya dengan gamblang, tanpa mendikte atau memberikan petunjuk murahan menganai apa yang Sammy perbuat setelah itu, apakah ia akan mengaku bersalah pada istri atasannya atas perselingkuhan yang mereka lakukan, berhenti menjalin hubungan dengan bosnya karena dirinya merasa sangat bersalah, atau melanjutkan hubungan tersebut. Penonton bebas menilai perilaku Sammy, dan bagi saya sendiri sebagai wanita dewasa yang rasional (bukan sebagai wanita religius) Sammy tampaknya memilih untuk menunggu hingga ia dapat melihat dengan jelas pria macam apa Brian (Matthew Broderick), atasan yang menjalin perselingkuhan dengan dirinya itu. Manakala ia menemukan bahwa Brian adalah pria labil yang membutuhkan pelarian sementara waktu, Sammy pun meninggalkannya. Tetapi itu tidak membuat Sammy sebagai wanita yang lebih baik, karena menurut saya di saat bersamaan ia tega menggantungkan perasaan Bob (Jon Tenney), pria baik yang menaruh hati padanya. Seharusnya, dengan sifat yang sama sebagai wanita dewasa yang rasional, ia seharusnya segera menetapkan sikapnya pada Bob, bahwa ia sedang tidak ingin menjalin hubungan berkomitmen saat itu.

Adegan-adegan lainnya pun terasa begitu nyata tanpa sentuhan dramatisasi berlebihan. Misalnya, saat Sammy mengetahui bahwa Terry telah mengajak Rudy pergi ditengah malam mengunjungi tempat permainan bilyard, ia tidak panik dan memarahi Terry habis-habisan karena tidak becus mengurus anaknya. Dalam sebuah dialog, Sammy berkata pada Terry, “I don’t give a shit if you took him out to play pool. I was mad at you ‘cause you left him at the bus stop in the rain. No, I don’t want you telling him not to squeal because I don’t want him put in that position.” Jika saja adegan paman yang mengajak keponakannya bermain bilyard di tengah malam itu bukan berada dalam You Can Count on Me, tentu kita dapat dengan mudah menebak sang ibu akan bereaksi berlebihan dan bersikap memusuhi sang paman. Tetapi itu tidak kita dapatkan di sini, karena karakter Sammy pada dasarnya adalah karakter wanita dewasa yang terkadang berpikir pendek seperti remaja labil tanpa membayangkan konsekuensi dari perbuatannya. Hal senada dapat kita lihat dari keputusannya untuk terus menyimpan rahasia mengenai ayah Rudy meski sang anak mulai memiliki imajinasi yang aneh (dan seharusnya sudah harus diluruskan) mengenai ayahnya sebagai agen rahasia. Begitu juga dengan perilaku Sammy yang dengan mudah memenuhi panggilan nafsunya untuk berselingkuh dengan Brian yang istrinya sedang mengandung. Padahal, sejak awal film pun, penonton sudah tahu bahwa Sammy termasuk wanita yang taat pada agama dan dekat dengan gereja.

Semua itu menunjukkan bahwa sebenarnya Sammy adalah orang yang tidak sempurna seperti yang terlihat dari penampilan luarnya. Ya, Sammy memang wanita karir yang cukup sukses, cantik, hidupnya relatif tenteram (walaupun ia menyimpan api dalam sekam terkait rahasia tentang mantan suaminya yang ia sembunyikan pada Rudy). Tetapi, siapa yang mengira bahwa Sammy kesepian, ia kekurangan hal-hal yang menantang dalam hidupnya dan hal itu mendorongnya untuk menjalin affair dengan Brian, ia bingung dengan sifat dan sikap Terry yang tak pernah berubah dari keserampangan dan semakin jauh dari agama, dan ia menyadari ketidakjelasan nasib Rudy ketika besar nanti apakah ia harus menjelaskan semuanya ketika Rudy dewasa? Apakah itu semua masalah itu berakar pada hidup Sammy yang membosankan di Scottsville? Akankah semua masalah itu terselesaikan jika ia meninggalkan kota kecil itu sebagaimana yang dilakukan Terry?

Di tengah permasalahan yang menumpuk dalam hidup Sammy, Terry sang adik hadir sebagai katalis. Terry adalah pria urakan yang pada dasarnya memiliki taiat yang baik, bahkan terkadang di balik penampilan dan sikapnya yang amburadul, Terry adalah sosok yang dapat diandalkan. Bayangkan bagaimana jadinya jika Rudy tidak pernah memiliki kesempatan bertemu dengan Terry. Rudy tidak akan pernah memiliki pengalaman bertemu dengan ayah kandungnya, mengetahui bahwa sang ayah tidak pernah mengingignkan dirinya, right from the beginning. Rudy tidak akan pernah mendapatkan pengalaman bekerja membantu pria dewasa, belajar melakukan hal-hal seperti memaku, memancing, dan bermain bilyard. Dalam sebuah dialog di menit-menit akhir Terry berkata pada Sammy, “We’ll have Christmas together, how’s that? We’ll all have Christmas together. Come on, Sammy. You can trust me.” Ya, Sammy tak perlu ragu karena sebenarnya, Terry selalu dapat diandalkan dalam hidupnya. 

Kenneth Lonergan telah berhasil melakukan studi karakter dan sukses menciptakan penokohan yang akan sangat tidak tepat jika dikatakan sentimental atau bermoral luhur. Semua karakter yang ada dalam film ini hanya dibiarkan ada (exist), tanpa mengetahui dengan pasti nasib mereka di masa depan. Tidak ada fiksionalisasi dan dramatisasi berlebihan, bahkan dapat dikatakan You Can Count on Me adalah laboratorium bagi para aktor untuk belajar memahami peran yang sangatnatural. Semua karakter di sini menjalani kehidupan keseharian mereka seperti dalam kehidupan nyata: menghadapi masalah, terkadang lari dari masalah tersebut, mencampuri urusan orang lain, dan lain-lain. 

Naskah yang baik tersebut kemudian disambut dengan penampilan Linney, Ruffalo, maupun si kecil Rory Culkin yang sangat luar biasa. Dalam film berdurasi 111 menit ini, Linney menampilkan salah satu performa terbaik sepanjang karirnya. Linney telah sukses menjadikan karakter Sammy sebagai wanita yang terlihat religius, menarik, dan bijaksana dari luar, tetapi dalam lubuk hatinya yang terdalam, Sammy sangat haus akan pemenuhan hasrat diri, bahkan jika itu berarti untuk sedikit memainkan permainan berbahaya. Dan lebih dari itu semua, Linney berhasil menguatkan karakter Sammy sebagai wanita yang tidak sempurna, hal itu dapat dilihat dalam adegan saat Terry akan pergi meninggalkan Scottsville. Linney sebagai Sammy awalnya bersikap tegar dengan kepergian Terry, namun dengan kenyataan bahwa ia akan kembali sendirian ia tak kuat menahan itu semua, ditambah lagi membayangkan adiknya yang tidak jelas akan pegi kemana dan hidup seperti apa di luar sana, air matanya pun tumpah, berusaha meyakinkan Terry akan jangan pergi. Ruffalo pun sama luar biasanya, ia sukses menggambarkan tokoh Terry sebegai pria malang yang menderita baik dalam kehidupan ekonomi, cinta, dan hal-hal lainnya, sangat lambat dalam beberapa hal tetapi bisa sangat bijaksana dalam hal lainnya. Satu hal yang jelas mewarnai karakter Terry yang berhasil ditonjolkan Ruffalo adalah sifatnya yang hampir selalu ragu-ragu dalam membuat keputusan. Misalnya dalam adegan saat pertama kali Terry bertemu dengan Sammy, setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah basa-basi, sikapnya sangat tidak nyaman, selalu menoleh ke arah lain, sampai-sampai Sammy bertanya apakah Terry sedang menunggu orang lain. Akhirnya, setelah senyum basa-basi sirna dari wajahnya, Terry berkata, “I actually got to confess to you, Sammy.” Akhirnya, Rory Culkin pun berhasil membuktikan bahwa dalam klan Culkin tidak hanya Macauley saja yang bisa unjuk gigi di depan layar, ia pun bisa melakukannya dan terbukti ia tak kalah hebat dengan sang kakak. Adegan favorit saya yang menampilkan Rory adalah saat ia sedang mengerjakan tugas mengarangnya, ia ditanyai oleh Sammy sedang menulis tentang apa dan dengan polos dan santai ia mengaku sedang menulis cerita karangan mengenai ayahnya. 

Secara keseluruhan, You Can Count on Me adalah film yang dapat dikatakan seluruhnya mengandalkan kekuatan karakter, interaksi antarkarakter, dan cerita yang tidak munafik dan jauh dari kesan dibuat-buat. Harus diakui tidak ada sinematografi atau efek khusus yang menakjubkan, tetapi meskipun tanpa itu semua film yang salah satu eksekutif produsernya Martin Scorsese ini tetap merupakan salah satu film terbaik tahun 2000, sebuah film yang sangat langka menggambarkan hubungan kakak perempaun dengan adik laki-lakinya. Kenangan masa lalu dan kebutuihan sama lain di antara kakak- beradik itu akan selalu menguatkan ikatan persaudaraan di antara mereka. 4.5 out of 5 stars for me. Ada yang punya komentar?

Watch this if you liked:

Half Nelson (2006)

Director: Ryan Fleck
Stars: Ryan Gosling, Jeff Lima, Shareeka Epps
Genre: Drama
Runtime: 106 minutes







Fish Tank (2009)

Director: Andrea Arnold
Stars: Katie Jarvis, Michael Fassbender, Kierston Wareing
Genre: Drama
Runtime: 123 minutes








Selasa, 16 April 2013

Phenomenon: Gift v. Jinx

Kejutan atau surprise seringkali menjadi sesuatu yang didambakan banyak orang. Orang yang mendapatkan kejutan akan merasa kaget, terkejut, sekaligus tersanjung atas perbuatan orang yang memberikan kejutan. Perasaan-perasaan tersebut muncul sebagai reaksi dari pemaknaan yang diberikan oleh penerima kejutan pada pemberi kejutan. Pada umumnya, para penerima kejutan akan menganggap kejutan merupakan bentuk perhatian dan kasih sayang dari pemberi kejutan. Kejutan itu sendiri merupakan antitesis dari kemalangan, karena meski keduanya sama-sama relatif tidak dapat diprediksi, namun terdapat perbedaan makna yang sangat jauh. Kejutan merupakan satu hal yang sangat berkonotasi positif, di sisi lain citra negatif melekat erat pada kemalangan. Namun, bagaimana jika kita berada dalam suatu kondisi yang sangat sulit untuk membedakan antara kejutan dan kemalangan? Mungkin kita dapat bertanya bagaimana rasanya berada dalam keadaan demikian pada George Malley dalam Phenomenon (1996).

Phenomenon menceritakan sepenggal kehidupan George Malley (John Travolta), seorang pria sederhana yang tinggal di sebuah kota kecil di sekitar Califronia. Film dibuka dengan kebahagiaan George yang sedang berulang tahun. Hampir seluruh penduduk kota kecil itu mengenal George, sehingga banyak orang yang turut berbahagia di hari kelahirannya itu. Bahkan, kerabat-kerabatnya membuat suatu pesta di sebuah bar, khusus untuk momen membahagiakan tersebut. Meski hidup sederhana, namun George memang memiliki kekayaan berupa teman-teman yang sangat perhatian padanya. Sebut saja teman setianya Nate Pope (Forest Whitaker), Doc Brunder (Robert Duvall) seorang dokter kota yang menganggap George sebagai anaknya, dan Tito (Tony Genaro) bosnya yang selalu membuat George kelimpungan karena kebiasaannya berbahasa Spanyol.

Kebahagiaan George di hari jadinya terganggu sejenak dengan sebuah insiden saat ia melihat seberkas cahaya terang dari langit yang menghampiri dirinya dan membuatnya jatuh pingsaan sesaat. Setelah kejadian itu, Geroge berubah total seolah menjadi orang lain karena kebiasaan dan kemampuan intelektualnya yang tanpa diduga meningkat pesat bagaikan roket yang terbang ke angkasa. Kini, George terbiasa begadang melahap semua jenis buku, memiliki hobi baru melakukan eksperimen ilmiah, dan bahkan mampu memahami hal-hal yang sama sekali baru baginya. Satu hal lagi yang mengejutkan, George memiliki kemampuan telekinetik yang membuatnya dapat menggerakkan benda-benda di sekitarnya. Semua itu membuat George dianggap manusia sakti yang sangat unik, sebuah anggapan yang sama sekali tidak disukai George. Di luar semua perubahan signifikan itu, ada satu hal yang masih menjadikan George orang yang sama seperti sedia kala: cintanya pada Lace (Kyra Sedgwick). Meski begitu, Lace yang merupakan janda dua anak yang mencari nafkah dengan membuat kursi rotan itu tampaknya memiliki masa lalu yang kelam dalam urusan percintaan sehingga ia belum dapat menerima George di hatinya. Kehidupan George menjadi semakin rumit ketika dirinya merasa dikucilkan dari pergaulan warga setempat karena kemampuan intelektualnya yang berlebihan. Ia merasa sangat berbeda dan jauh dari standar kehidupan manusia normal seperti orang lain. Namun, akhirnya George mengetahui penyebab kehidupannya yang kacau. Bagi George, penyebab masalah dalam hidupnya itu merupakan sebuah kejutan besar, hahkan teralu mengejutkan bagi Lace yang mulai belajar mencintainya.



Bagi saya, kisah yang diungkapkan dalam Phenomenon sangat “klik” di hati karena film ini berani mengeksplorasi sisi imajinasi yang belum pernah diungkapkan sebelumnya. Saya harus mengakui penulis cerita Gerald Di Pego memiliki ruang kreativitas yang sangat luas. I mean, how on earth he got the idea to put together a cancer back-to-back with a gift?! God, that was brilliant! Ide mempersandingkan mukjizat yang datang secara mengejutkan (surprising gift) dengan kemalangan (jinx) itu sangatlah cerdas dan original. Dengan bumbu fiksi ilmiah dan romantisme, Di Pego sukses mengangkat cerita imajinatif ini menjadi satu kisah sensitif.

Sensitivitas kisah hasil kreasi Di Pego itu sendiri sebenarnya terletak pada resep lama para penulis naskah, yaitu perubahan karakter dari tokoh-tokoh yang ada. Dalam Phenomenon, perubahan karakter yang paling menarik disimak bukanlah saat George mendapatkan “durian runtuh” berupa kemampuan intelektual yang tinggi, melainkan saat ia merasa dirinya tidak lagi mendapatkan tempat di komunitas dan lingkungan ia tinggal. Ia merasa sangat aneh dan sangat takut pada tatapan dan pandangan mata orang-orang. Ia merasa dirinya sangat mencolok dan menyita perhatian orang-orang hingga ia berpikir ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Ada beberapa line yang menggambarkan kondisi demikian sangat mengena, yaitu saat George berkunjung ke rumah Nate dengan membawa dua kursi karya Lace. Saat itu, George berbicara banyak tentang bagaimana fotosintesis menjadi model dari teknologi dunia saat ini dan Nate sama sekali tak mampu mengikuti dan memahami sepatah kata pun yang dibicarakan George. Saat itu juga wajah George berubah menjadi heran dan ada sedikit rasa sedih dan menyesal tergambar di wajahnya. Kemudian keheningan menyeruak dan akhirnya George mengatakan, “I’m sorry. I can’t help it, Nate”. Nate pun membalas, “It’s ok”. Atau saat George mengajak Lace untuk menemaninya di acara kampus yang mengundangnya untuk wawancara seputar kemampuannya meramalkan gempa. Saat itu George berkata pada Lace, “I don’t know. You know since the orchard thing people are different now. I don’t like it. The funny is you probably the only one that’s mad at me for a good reason”.

Bayangkan bagaimana seseorang yang seharusnya bangga atas kemampuannya justru harus menyembunyikan kelebihannya itu karena tak ada seorang pun yang dapat mengapresiasinya. Maksud apresiasi saya di sini adalah rasa kagum dan bangga. George sama sekali tidak mendapatkan apresiasi itu, malahan yang ada adalah pandangan orang-orang yang terheran-heran dengan kemampuan George, tak ubahnya saat kaget menyaksikan pertunjukan sirkus yang mencengangkan. Hal ini menunjukkan adanya anomali di sekitar tempat tinggal George, dan anomali itu menimbulkan perubahan diri George dari semula begitu excited dengan segala kemampuannya menjadi malu atas semua itu. Di saat orang lain memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari kemampuan yang tiba-tiba dimilikinya, menjadi sombong, dan sok berkuasa, George Malley tidak bisa melakukan itu semua karena ia telah berubah menjadi George “freaking” Malley. Bagi saya, inilah sesungguhnya “fenomena” yang dimaksud dalam Phenomenon. Di samping perubahan karakter George, Di Pego juga mengimbanginya dengan perubahan karakter Lace sebagai love interest di sini. Karakter Lace yang awalnya keras menjadi lunak dan mengakui bahwa dirinya jatuh cinta pada seorang pria sederhana yang kini menjadi sorotan publik.

Di tangan sutradara Jon Turteltaub (While You Were Sleeping, Cool Runnings) , ide original Di Pego terealisasi dengan sempurna. Kesempurnaan itu tercipta berkat kemampuan Turteltaub dalam merangkai cerita menjadi satu kesatuan yang utuh. Sebenarnya jika diperhatikan secara seksama, film berdurasi 123 menit ini terdiri dari dua babak besar. Babak pertama ada di paruh pertama film yang mengisahkan bagaimana George mendapatkan kemampuan intelektualnya dan babak kedua terdapat di paruh terakhir dengan fokus untuk mengungkapkan bahwa George mengidap tumor berbahaya yang sangat misterius. Namun, dengan garapan Turteltaub, pembagian cerita menjadi dua bagian kontradiktif (kisah bahagia dan kisah sedih) menjadi tidak terlalu terlihat jelas dengn adanya gradasi cerita yang baik (saya tidak mengatakan bahwa dua babak kontradiktif yang tidak memiliki gradasi tidak bagus, karena terbukti ada beberapa film yang mampu memperlihatkan hasil yang memuaskan, seperti dalam Life is Beautiful (1993)). Di babak pertama, Turteltaub merangkai cerita George yang mendapatkan “mukjizat” berupa kecerdasan di atas rata-rata dengan beberapa sub-plot, seperti fiksi ilmiah, percintaan, bahkan political thriller. Sub-plot tersebut membuat penonton mampu mengikuti dan mencerna alur cerita dengan mudah dan terasa mengalir serta sederhana. Selain mampu menjalin cerita dengan baik, Turteltaub juga mampu memperhatikan detail cerita. Ia membuat detail tersebut dengan menciptakan adegan-adegan yang saling mendukung satu sama lain, misalnya saat George mencangkul lahan kebun di depan rumahnya dengan emosi setelah mengeluarkan unek-uneknya yang justru membuat orang-orang semakin takut padanya. Adegan itu sangat tepat untuk mendukung betapa George merasa muak, tidak hanya pada orang-orang di sekitarnya yang memperlakukannya berbeda, tetapi juga pada dirinya yang tidak mampu membuka mata dan hati orang lain untuk tidak takut dan menganggap dirinya aneh.

Dari jajaran pemeran tokoh, sayangnya saya tidak bisa mengatakan semua pemeran memberikan performa terbaiknya. John Travolta misalnya, menurut saya penampilannya di sini kurang gres, dan bahkan sepanjang film saya merasa tidak nyaman karena bagi saya Travolta bukanlah orang yang tepat memerankan karakter George. Di sisi lain, Robert Duvall dan Kyra Sedgwick bagi saya tampil memukau. Sebagai karakter yang merindukan menjadi seorang ayah, Duvall nerhasil memancarkan ciri kebapakan dari karakter Doc Brunder. Cara-cara Doc memberikan nasihat, menyatakan kesedihannya saat George divonis tumor, dan bahkan saat mereka bergurau sangat mencerminkan hubungan ayah dan anak yang dekat. Ketika berbicara dengan George, Duvall sebagai Doc Brunder selalu menatap mata George dengan tatapan teduh dan berwibawa. Ketika George mendapatkan musibah, Doc Brunder seperti kehilangan separuh hidupnya dan itu berujung pada pembelaannya pada George di bar, yang merupakan salah satu adegan favorit saya. Sementara itu, Sedgewick adalah wanita yang sangat pas memerankan Lace yang berusaha sekuat tenaga untuk menipu dirinya sendiri bahwa ia tidak lagi membutuhkan cinta. Sedgewick berhasil membawakan karakter Lace menjadi wanita yang senantiasa penuh perhitungan, waspada, sekaligus wanita yang memiliki hati selembut sutra. Saya sangat suka adegan ketika Lace mendapati bahwa selama ini yang selalu memborong kursi buatannya adalah George, Sedgwick menampilkan wajah yang kecewa berat telah ditipu oleh orang yang mengaku menyukainya. Saat itu, Sedgwick menyatakan bahwa ia hanya butuh kejujuran dari George, dan ternuyata George tak bisa memberikannya. Sedgwick kemudian berjalan tegap, berbicara dengan tegas, dan pergi dengan truknya, sebuah eksekusi yang baik dari line-line dialog.

Sisi positif Phenomenon lainnya bagi saya adalah sinematografi dan tata musik yang pas. Sepanjang film, penonton akan dimanjakan dengan suasana kota kecil yang tenang, berpenduduk sedikit dan saling mengenal satu sama lain, rumah-rumah sederhana yang cantik dan berjarak jauh satu sama lain, dan tanah-tanah yang terlihat gersang. Warna yang mendominasi di sepanjang cerita adalah warna kunig keemasan yang semakin memnuat tampilan kota kecil itu eksotis. Sementara itu, acungan jempol perlu saya berikan untuk penataan musik. Penonton sangat dimanjakan dengan lagu-lagu indah di sepanjang cerita dan latar suara yang dapat dibedakan sesuai sub-plot yang ditampilkan (penonton dapat dengan mudah menebak latar suara apa yang mucul ketika George memamerkan kemampuan telekinetiknya, saat terjadi hal-hal yang didramatisir, dan lain-lain).

Secara keseluruhan, Phenomenon adalah paket menarik yang tidak akan saya lewatkan. Dengan ide cerita original, saya sangat mendapatkan pengalaman menonton yang sangat spesifik. Meski terdapat bagian-bagian cerita yang terkesan dipaksakan (seperti ketika FBI mendatangi rumah Lace untuk mencari George dan mereka mafhum begitu saja dengan perkataan Lace yang mencoba menyembunyikan George), namun itu tidak membuat Phenomenon cacat di mata saya. Malah, sepertinya saya tidak akan bosan jika menyaksikan film ini lagi dan lagi. 4 out of 5 stars for me. Ada yang punya komentar?


Watch this if you liked:

Edward Scissorhands (1990)

Director: Tim Burton
Stars: Johnny Depp, Winona Ryder, Dianne Wiest
Genre: Fantasy, Drama, Romance
Runtime: 105 minutes













Chocolat (2000)

Director: Lasse Hallström
Stars: Johnny Depp, Alfred Molina, Juliette Binoche
Genre: Drama, Romance
Runtime: 121 minutes