Friday, May 10, 2013

You Can Count on Me: A Tale of Two Siblings

Bagi Anda penggemar film, menyaksikan adegan-adegan sumpah serapah, kesalahpahaman dalam menafsirkan kata-kata, atau curhat biasanya hanya merupakan bagian kecil yang tidak memiliki makna signifikan dari keseluruhan jalinan cerita. Biasanya adegan-adegan tersebut merupakan pelengkap semata dari konsep cerita besar yang menjadi tema utama dalam sebuah film, entah itu tentang penyelamatan dunia oleh tokoh heroik, peristiwa bencana mematikan, atau kisah-kisah kriminal yang menegangkan. Jarang sekali ada film yang menampilkan kisah kehidupan sehari-hari yang mengalir begitu terbuka hingga membuat penonton merasa seperti sedang mengikuti perjalanan hidup seseorang. Harus diakui bahwa mengangkat premis cerita sederhana yang mengetengahkan kehidupan nyata merupakan pekerjaan yang susah-susah gampang. Selain terkait erat dengan minat penonton (alias laku atau tidaknya film di pasaran), sineas pembuat film di genre ini harus memiliki kemampuan dan cita rasa tersendiri dalam meracik cerita agar tidak terkesan terlalu berlebihan atau sebaliknya, terasa membosankan. Perlu disadari, penonton hanya mau menonton sebuah film yang menurutnya layak ditonton. Definisi “layak” di sini sangat luas, dapat berarti memiliki cerita yang sangat imajinatif, mengandung efek khusus yang menakjubkan, atau justru mencari film dengan cerita sederhana yang menyentuh dan mengena kehidupan personal mereka. Nah, film dengan cerita kehidupan sehari-hari umumnya ditonton oleh mereka yang mendefinisikan film layak tonton seperti yang disebutkan terakhir. Jika Anda mencari film seperti apa yang menceritakan kehidupan sehari-hari yang menyentuh, saya merekomendasikan You Can Count on Me (2000) untuk Anda.

You Can Count on Me, film besutan sutradara sekaligus penulis naskah Kenneth Lonergan (Gangs of New York, Margaret) ini merupakan tipikal film favorit siapapun yang mencari film dengan cerita penuh ironi dalam seting kehidupan nyata. Bagi Anda penggemar film-film atau drama seri tentang keluarga seperti The Kids Are All Right (2010) atau Brothers and Sisters, film ini pun tak boleh dilewatkan, sebab Anda akan mendapatkan pengalaman dan nuansa menonton yang berbeda dan unik. Dalam You Can Count on Me, sebagai penonton Anda akan diajak memperhatikan hal-hal kecil yang biasanya dilewati begitu saja di film-film lain tetapi ternyata memiliki makna yang dalam, misalnya pertengkaran antara seorang kakak dengan adiknya, kegiatan kerja sama antara paman dengan keponakannya, menertawakan perselingkuhan, dan masih banyak lagi. Sepanjang cerita, Anda akan dibawa mengarungi kehidupan pribadi seseorang, tetapi Anda tidak akan diarahkan untuk membuat suatu kesimpulan tertentu, karena di film ini semuanya terasa begitu terbuka. Anda bebas beropini apapun berdasarkan kehidupan tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita.

You Can Count on Me menceritakan kehidupan dua orang kakak-beradik Sammy (Laura Linney) dan Terry (Mark Ruffalo) yang telah ditinggalkan kedua orang tua mereka sejak masih kecil. Sammy dan Terry memiliki dua perbedaan mendasar, di mana Sammy bersifat sangat statis dan memiliki pola pikir yang pragmatis dan Terry bersifat pemberontak dan sedikit urakan, tetapi terkadang ia memiliki pemikiran positif dan jiwa yang tulus. Sifat Sammy yang statis dapat dilihat dari pilihannya untuk menetap (sepertinya untuk selamanya) di rumah peninggalan orang tuanya di sebuah kota kecil bernama Scottsville. Meski di Scottsville relatif dapat dikatakan tidak akan terjadi hal-hal besar yang mengagumkan maupun kemajuan yang berarti, namun Sammy selalu berkeras untuk tinggal dan membesarkan anak semata wayangnya Rudy (Rory Culkin) di sana. Entah mengapa ia mengambil keputusan demikian, padahal mantan suami yang sangat ia benci tinggal tak jauh dari kota kecil tersebut. Berbicara mengenai mantan suaminya, sejak dulu Sammy tidak pernah memberi tahu Rudy hal-hal yang berkaitan dengan ayahnya yang memiliki nama yang sama itu. Mungkin karena kebencian yang telah terpatri terlalu dalam di hati dan otaknya, Sammy selalu mangkir tiap kali ditanya tentang mantan suaminya itu. Untuk menghidupi anaknya, Sammy bekerja sebagai karyawan bagian peminjaman di sebuah bank lokal. Tampaknya, sama seperti sifatnya yang statis, Sammy telah bekerja di bank tersebut untuk jangka waktu yang cukup lama hingga ia mengalami pergantian atasan.

Berbanding terbalik dengan Sammy, Terry tidak pernah memiliki keinginan untuk menetap di Scottsville, sebuah kota kecil yang menurutnya sangat membosankan. Ia selalu pergi berkelana untuk mencari pengalaman dan tantangan baru, meskipun itu bukan berarti hidupnya bebas dari masalah. Terry justru menghadapi situasi yang sulit dalam hidupnya manakala kekasihnya memiliki masalah keuangan yang menuntut Terry untuk meminjam uang pada kakaknya. Padahal, beberapa bulan terakhir ia tak pernah memberi kabar pada Sammy kecuali beberapa kartu pos yang mengabarkan bahwa dirinya berada di Alaska, meski kenyataan sebenarnya ia tengah meringkuk di penjara. Alhasil, ketikaTerry datang menemui Sammy untuk meminjam uang dan menceritakan kejadian yang sebenarnya, Sammy pun menjadi histeris. Namun, perasaan sebagai seorang kakak tidak pernah sirna dalam diri Sammy. Meski bukan untuk pertama kalinya Terry datang hanya untuk meminjam uang, Sammy tetap menyayangi Terry dan ia pun menawarkannya untuk tinggal sementara waktu di rumahnya. Periode di mana Terry tinggal dirumahnya ternyata membuat Sammy pusing tujuh keliling dan merasa hidupnya semakin berantakan manakala prinsip untuk membesarkan Rudy tanpa harus mengenal sosok ayah kandungnya direcoki Terry yang semakin menumbuhkan rasa penasaran Rudy untuk mengenal siapa ayah kandungnya. Tidak cukup sampai di situ, Sammy pun mengalami pasang surut hubungan asmara dengan dua pria sekaligus di saat bersamaan. Pada akhirnya, semua permasalahan itu membuat Sammy semakin berusaha keras dan belajar untuk mendewasakan dirinya agar ia dapat menjadi orang yang selalu dapat diandalkan.

Hal yang paling menarik bagi saya dalam You Can Count on Me adalah cerita yang begitu mengalir terbuka dan tidak berusaha menempatkan penonton pada posisi tertentu. Dari awal hingga akhir, kehidupan Sammy dan Terry dirangkai dengan sangat baik, dan yang paling saya sukai adalah ketika tokoh-tokoh yang ada bersinggungan dengan isu benar atau salah. Misalnya adegan saat Sammy bertanya pada Bapa Ron (Kenneth Lonergan) tentang hukum perzinahan dan perselingkuhan, di mana Sammy dengan berapi-api mendukung agar pihak gereja mencela dan mengutuk perbuatan dosa tersebut. Adegan ini sangat unik sekaligus ironis. Unik karena sangat jarang kita melihat ada seorang jemaat yang sangat bersemangat menyatakan bagaimana seharusnya gereja bertindak. Ironis karena dalam cerita ini, Sammy melakukan hal sama persis dengan apa yang ia cela dan kutuk tersebut. Sammy terkesan sangat linglung, tidak mengetahui apakah perbuatannya itu benar-benar berdosa atau dapat dibenarkan dalam kasus hidupnya sebagai seorang single parent. Dalam adegan ini penonton dibiarkan menyaksikan semuanya dengan gamblang, tanpa mendikte atau memberikan petunjuk murahan menganai apa yang Sammy perbuat setelah itu, apakah ia akan mengaku bersalah pada istri atasannya atas perselingkuhan yang mereka lakukan, berhenti menjalin hubungan dengan bosnya karena dirinya merasa sangat bersalah, atau melanjutkan hubungan tersebut. Penonton bebas menilai perilaku Sammy, dan bagi saya sendiri sebagai wanita dewasa yang rasional (bukan sebagai wanita religius) Sammy tampaknya memilih untuk menunggu hingga ia dapat melihat dengan jelas pria macam apa Brian (Matthew Broderick), atasan yang menjalin perselingkuhan dengan dirinya itu. Manakala ia menemukan bahwa Brian adalah pria labil yang membutuhkan pelarian sementara waktu, Sammy pun meninggalkannya. Tetapi itu tidak membuat Sammy sebagai wanita yang lebih baik, karena menurut saya di saat bersamaan ia tega menggantungkan perasaan Bob (Jon Tenney), pria baik yang menaruh hati padanya. Seharusnya, dengan sifat yang sama sebagai wanita dewasa yang rasional, ia seharusnya segera menetapkan sikapnya pada Bob, bahwa ia sedang tidak ingin menjalin hubungan berkomitmen saat itu.

Adegan-adegan lainnya pun terasa begitu nyata tanpa sentuhan dramatisasi berlebihan. Misalnya, saat Sammy mengetahui bahwa Terry telah mengajak Rudy pergi ditengah malam mengunjungi tempat permainan bilyard, ia tidak panik dan memarahi Terry habis-habisan karena tidak becus mengurus anaknya. Dalam sebuah dialog, Sammy berkata pada Terry, “I don’t give a shit if you took him out to play pool. I was mad at you ‘cause you left him at the bus stop in the rain. No, I don’t want you telling him not to squeal because I don’t want him put in that position.” Jika saja adegan paman yang mengajak keponakannya bermain bilyard di tengah malam itu bukan berada dalam You Can Count on Me, tentu kita dapat dengan mudah menebak sang ibu akan bereaksi berlebihan dan bersikap memusuhi sang paman. Tetapi itu tidak kita dapatkan di sini, karena karakter Sammy pada dasarnya adalah karakter wanita dewasa yang terkadang berpikir pendek seperti remaja labil tanpa membayangkan konsekuensi dari perbuatannya. Hal senada dapat kita lihat dari keputusannya untuk terus menyimpan rahasia mengenai ayah Rudy meski sang anak mulai memiliki imajinasi yang aneh (dan seharusnya sudah harus diluruskan) mengenai ayahnya sebagai agen rahasia. Begitu juga dengan perilaku Sammy yang dengan mudah memenuhi panggilan nafsunya untuk berselingkuh dengan Brian yang istrinya sedang mengandung. Padahal, sejak awal film pun, penonton sudah tahu bahwa Sammy termasuk wanita yang taat pada agama dan dekat dengan gereja.

Semua itu menunjukkan bahwa sebenarnya Sammy adalah orang yang tidak sempurna seperti yang terlihat dari penampilan luarnya. Ya, Sammy memang wanita karir yang cukup sukses, cantik, hidupnya relatif tenteram (walaupun ia menyimpan api dalam sekam terkait rahasia tentang mantan suaminya yang ia sembunyikan pada Rudy). Tetapi, siapa yang mengira bahwa Sammy kesepian, ia kekurangan hal-hal yang menantang dalam hidupnya dan hal itu mendorongnya untuk menjalin affair dengan Brian, ia bingung dengan sifat dan sikap Terry yang tak pernah berubah dari keserampangan dan semakin jauh dari agama, dan ia menyadari ketidakjelasan nasib Rudy ketika besar nanti apakah ia harus menjelaskan semuanya ketika Rudy dewasa? Apakah itu semua masalah itu berakar pada hidup Sammy yang membosankan di Scottsville? Akankah semua masalah itu terselesaikan jika ia meninggalkan kota kecil itu sebagaimana yang dilakukan Terry?

Di tengah permasalahan yang menumpuk dalam hidup Sammy, Terry sang adik hadir sebagai katalis. Terry adalah pria urakan yang pada dasarnya memiliki taiat yang baik, bahkan terkadang di balik penampilan dan sikapnya yang amburadul, Terry adalah sosok yang dapat diandalkan. Bayangkan bagaimana jadinya jika Rudy tidak pernah memiliki kesempatan bertemu dengan Terry. Rudy tidak akan pernah memiliki pengalaman bertemu dengan ayah kandungnya, mengetahui bahwa sang ayah tidak pernah mengingignkan dirinya, right from the beginning. Rudy tidak akan pernah mendapatkan pengalaman bekerja membantu pria dewasa, belajar melakukan hal-hal seperti memaku, memancing, dan bermain bilyard. Dalam sebuah dialog di menit-menit akhir Terry berkata pada Sammy, “We’ll have Christmas together, how’s that? We’ll all have Christmas together. Come on, Sammy. You can trust me.” Ya, Sammy tak perlu ragu karena sebenarnya, Terry selalu dapat diandalkan dalam hidupnya. 

Kenneth Lonergan telah berhasil melakukan studi karakter dan sukses menciptakan penokohan yang akan sangat tidak tepat jika dikatakan sentimental atau bermoral luhur. Semua karakter yang ada dalam film ini hanya dibiarkan ada (exist), tanpa mengetahui dengan pasti nasib mereka di masa depan. Tidak ada fiksionalisasi dan dramatisasi berlebihan, bahkan dapat dikatakan You Can Count on Me adalah laboratorium bagi para aktor untuk belajar memahami peran yang sangatnatural. Semua karakter di sini menjalani kehidupan keseharian mereka seperti dalam kehidupan nyata: menghadapi masalah, terkadang lari dari masalah tersebut, mencampuri urusan orang lain, dan lain-lain. 

Naskah yang baik tersebut kemudian disambut dengan penampilan Linney, Ruffalo, maupun si kecil Rory Culkin yang sangat luar biasa. Dalam film berdurasi 111 menit ini, Linney menampilkan salah satu performa terbaik sepanjang karirnya. Linney telah sukses menjadikan karakter Sammy sebagai wanita yang terlihat religius, menarik, dan bijaksana dari luar, tetapi dalam lubuk hatinya yang terdalam, Sammy sangat haus akan pemenuhan hasrat diri, bahkan jika itu berarti untuk sedikit memainkan permainan berbahaya. Dan lebih dari itu semua, Linney berhasil menguatkan karakter Sammy sebagai wanita yang tidak sempurna, hal itu dapat dilihat dalam adegan saat Terry akan pergi meninggalkan Scottsville. Linney sebagai Sammy awalnya bersikap tegar dengan kepergian Terry, namun dengan kenyataan bahwa ia akan kembali sendirian ia tak kuat menahan itu semua, ditambah lagi membayangkan adiknya yang tidak jelas akan pegi kemana dan hidup seperti apa di luar sana, air matanya pun tumpah, berusaha meyakinkan Terry akan jangan pergi. Ruffalo pun sama luar biasanya, ia sukses menggambarkan tokoh Terry sebegai pria malang yang menderita baik dalam kehidupan ekonomi, cinta, dan hal-hal lainnya, sangat lambat dalam beberapa hal tetapi bisa sangat bijaksana dalam hal lainnya. Satu hal yang jelas mewarnai karakter Terry yang berhasil ditonjolkan Ruffalo adalah sifatnya yang hampir selalu ragu-ragu dalam membuat keputusan. Misalnya dalam adegan saat pertama kali Terry bertemu dengan Sammy, setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah basa-basi, sikapnya sangat tidak nyaman, selalu menoleh ke arah lain, sampai-sampai Sammy bertanya apakah Terry sedang menunggu orang lain. Akhirnya, setelah senyum basa-basi sirna dari wajahnya, Terry berkata, “I actually got to confess to you, Sammy.” Akhirnya, Rory Culkin pun berhasil membuktikan bahwa dalam klan Culkin tidak hanya Macauley saja yang bisa unjuk gigi di depan layar, ia pun bisa melakukannya dan terbukti ia tak kalah hebat dengan sang kakak. Adegan favorit saya yang menampilkan Rory adalah saat ia sedang mengerjakan tugas mengarangnya, ia ditanyai oleh Sammy sedang menulis tentang apa dan dengan polos dan santai ia mengaku sedang menulis cerita karangan mengenai ayahnya. 

Secara keseluruhan, You Can Count on Me adalah film yang dapat dikatakan seluruhnya mengandalkan kekuatan karakter, interaksi antarkarakter, dan cerita yang tidak munafik dan jauh dari kesan dibuat-buat. Harus diakui tidak ada sinematografi atau efek khusus yang menakjubkan, tetapi meskipun tanpa itu semua film yang salah satu eksekutif produsernya Martin Scorsese ini tetap merupakan salah satu film terbaik tahun 2000, sebuah film yang sangat langka menggambarkan hubungan kakak perempaun dengan adik laki-lakinya. Kenangan masa lalu dan kebutuihan sama lain di antara kakak- beradik itu akan selalu menguatkan ikatan persaudaraan di antara mereka. 4.5 out of 5 stars for me. Ada yang punya komentar?


Watch this if you liked:

Half Nelson (2006)

Director: Ryan Fleck
Stars: Ryan Gosling, Jeff Lima, Shareeka Epps
Genre: Drama
Runtime: 106 minutes







Fish Tank (2009)

Director: Andrea Arnold
Stars: Katie Jarvis, Michael Fassbender, Kierston Wareing
Genre: Drama
Runtime: 123 minutes















No comments:

Post a Comment