Wednesday, May 26, 2010

Ketika Gajah Putih Unjuk Gigi

Uncle Boonmee Who

Kota Bangkok boleh saja memanas selama sepekan terakhir, membuat situasi politik di Negeri Gajah Putih tidak stabil. Ratusan demonstran Kaos Merah boleh saja “asyik” bertikai dengan militer sebagai aparat dari penguasa incumbent. Dan, mungkin pemerintah Thailand sedang kalang kabut menghitung kerugian akibat sektor pariwisata Kota Bangkok yang mati sementara kerusuhan masih terjadi. Tapi, semua itu seakan terobati dengan sebuah prestasi gemilang yang di raih Negeri Seribu Pagoda ini di perhelatan bergengsi Cannes Film Festival 2010.

Meskipun rangkaian acara Cannes Film Festival 2010 yang berlangsung selama 12 hari di Riviera, Prancis telah usai, namun malam puncak festival film bergengsi ini yang berlangsung Minggu, 23 Mei waktu setempat memberi sebuah kejutan di momen penghargaan tertingginya. Film produksi Thailand, Uncle Boonmee Who Can Recall His Pat Lives berhasil menyabet predikat paling prestisius, Palme d’Or untuk penghargaan Best Picture. Film yang disutradari Apichatpong “Joe” Weerasethakul ini bahkan mempecundangi Another Year, film arahan sutradara asal Inggris Mike Leigh, yang pada 1996 memenangkan Palme dOr lewat filmnya yang berjudul Secrets and Lies. Mike Leigh pun terpaksa harus pulang dengan tangan hampa, padahal sebelumnya Another Year banyak difavoritkan menjadi jawara.


Sutradara nyentrik asal Amerika Serikat, Tim Burton yang menjadi ketua dewan juri pada gelaran Cannes Film Festival ke 63 ini mendeskripsikan Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives sebagai a beautiful strange dream. Seperti dilansir Reuters, Burton yang merupakan teman karib Johnny Depp, mengkritik dunia perfilman saat ini yang dianggapnya semakin kebarat-baratan dan terlalu Hollywood. Namun, Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives telah memberinya angin segar, karena ia merasa benar-benar menyaksikan film dari negara lain, dengan perspektif yang berbeda.

Kisah film Uncle Boonme Who Can Recall His Past Lives yang terinspirasi dari sebuah buku karya seorang pendeta Budda berjudul A Man Who Can Recall His Past Lives ini mengangkat sosok Uncle Boonmee (Thanapat Saisaymar), seorang pria penderita gagal ginjal serius yang sedang sekarat. Ia menghabiskan sisa hidupnya dengan menetap di pelosok wilayah timur laut Thailand. Pada suatu malam, di saat ia sedang makan malam, mendiang istrinya yang telah meninggal 14 tahun yang lalu, Huay (Natthakarn Aphaiwonk) datang berkunjung. Tak hanya istrinya, anaknya yang telah lama hilang dan ternyata menjadi roh hutan berwujud makhluk berbulu juga hadir di tengah-tengah mereka. Dari momen ini, terciptalah sebuah reuni keluargayang hangat, membawa mereka pada berbagai macam perbincangan.

Dalam Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives, Joe berhasil menyuguhkan jalan cerita yang sederhana, namun ia pandai meracik kisah cerita ini dengan bumbu-bumbu mistis khas Thailand. Ia juga sukses menggambarkan tema, lansekap, dan tradisi lokal Thailand, sekaligus menciptakan gambaran reinkarnasi yang berbeda. Joe yang kelahiran Bangkok telah membuat sesuatu yang baru dari kecenderungan industri film Thailand saat ini, yang didominasi cerita-cerita horor. Namun, Joe justru tidak membuang sepenuhnya tren horor tersebut, karena ia paham betul bahwa masyarakat Thailand memang akrab dengan hal-hal mistis. Karena itu, ia juga menyisipkan hal-hal yang berbau tradisional pada Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives.

Penghargaan ini merupakan yang kedua kali untuk Joe di ajang Cannes Film Festival. Sebelumnya, film garapan sarjana S-2 Institut Kesenian Chicago ini yang berjudul Tropical Malady meraih tempat ketiga pilihan juri (Jury Prize) pada gelaran Cannes 2004.



Kemenangan Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives ini memang cukup mengejutkan. Bahkan, Joe sempat tercengang ketika Burton menyebut namanya untuk naik ke atas pentas menerima palem emas (Palm d’Or) pada malam pucak festival film Cannes. Banyak respons positif dilontarkan kritikus film dan beberapa surat kabar Eropa. Harian Telegraph dari Inggris menyebut film Joe sebagai “sesuatu yang melebihi film itu sendiri”. “ Ini bukan film. Ini lebih seperti dunia yang mengambang,” tulis Telegraph yang memberi lima bintang untuk film ini.

Indonesia sendiri turut ambil bagian sebagai peserta dalam ajang Cannes ini, meski katanya belum menargetkan apa-apa. Film-film yang diikutsertakan dalam ajang ini antara lain Taring, Ketika Cinta Bertasbih, Get Married 1 dan 2, Ruma Maida, Emak Ingin Naik Haji, Pencarian Terakhir, Pintu terlarang, Ayat-Ayat Cinta, Garuda di Dadaku, Preman in Love, Kuntilanak Beranak, Pocong Kamar Sebelah, Mereka Bilang Saya Monyet, Kuntilanak Kamar Mayat, Generasi Biru, Jamila dan Sang Presiden, serta Punk in Love.
Hayoo.. setelah melihat film-film di atas kira-kira kapan ya, Indonesia bisa berprestasi di ajang bergengsi? Ada yang punya komentar?

Diolah dari berbagai sumber.

No comments:

Post a Comment